cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 604 Documents
INTEGRASI SAINS DAN AGAMA DALAM PEMBELAJARAN KURIKULUM PAI (PERSPEKTIF ISLAM DAN BARAT SERTA IMPLEMENTASINYA) Adawiyah, Rabiatul
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 15, No 1 (2016)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.168 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v15i1.817

Abstract

The Islamic teachings contain various moral and ethical values which is very important in today's modern era because Islam always concerns with the balance between body and spirit, inward and outward, spiritual and the material, between world and hereafter. Islam can provide moral and ethical values in the development of science. With religion, it is expected that man does not forget himself after successfully developing science, and aware that the science he developed is an ongoing effort within the framework of worship. Therefore, through science, humans will find the ultimate truth that is God. Science is one of the strategic doors to bring people closer to God through intensive and serious effort to consider the universe to the perfection of human life, both physically and spiritually. Through the integration of science and religion developed in PAI (Islamic Education), it is expected to produce the learners who have a scientific attitude, scientific responsibility, capability of utilizing science and become ululalbab.
KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG UAN DALAM PERSPEKTIF OTONOMI DAERAH Naimah, Naimah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 7, No 1 (2008)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8017.258 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v7i1.946

Abstract

National Exam, as a government policy to incrcase the quality of graduales' education in lndonesia has been started since academic year 2002/2003. This policy produces many pros and cons in the society and results in under passing grade students. This is due to different levels educational quality in each region. ln the matter ofjuridisprudence, this national exam policy actually is not in line witl'r the Act no 22 year 1999 about regional sutonomy. The Act states that education matter is a part of regional autonomy so that a region has rights to participate in conducting its education in accordance with its regional potential. 'fo observe this government policy on National Exam, the writer in this paper ernploys two theories; constitrutional and systemic.
COMMERCIAL ACTIVITY AND BEGGARS AS IDENTITY MARKER OF COMMUNITY: THE CASE OF SACRED AURA IN PILGRIMAGE AREA Saputra, Riza
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i2.3138

Abstract

Pada tahun 1812, pembangunan kubah di atas makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari di Astambul pada dasarnya merupakan penghargaan kepada ulama tersebut sebagai salah satu pemimpin Muslim yang berpengaruh. Namun, tujuan utama telah berubah sementara jumlah pengunjung telah meningkat. Kegiatan komersial tidak dapat dipisahkan dari orang-orang yang ingin menuai manfaat dan manfaatnya. Keberadaa sejumlah pengemis di desa ini  menjadikan situs ziarah ini dikenal sebagai desa dengan banyak pengemis. Artikel ini bermaksud untuk mengidentifikasi keterlibatan sakralitas dalam objek peziarah dan peran kesakralan dalam aktivitas komersial dan pengemis di area makam Syekh Muhammad Arsyad, kota Astambul. Kajian ini dilakukan dengan observasi fenomenologis, wawancara dengan jamaah haji dan masyarakat setempat yang menunjukkan objek ziarah religius dan sisi komersialnya untuk membawa manfaat bagi pelestarian situs ziarah agama. Dalam penelitian ini, penulis melihat bahwa pelestarian makam yang disucikan telah menjadi generator ekonomi bagi masyarakat lokal dan pemerintah. Selain itu, perilaku mengemis dari penduduk desa telah meningkatkan identifikasi di antara para peziarah untuk menandai tempat ziarah ini sebagai tempat dengan banyak pengemis. In 1812, the building of the dome on the grave of Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari in Astambul city basically is a form of homage for the clergy as one of the influential Muslim. However, the main purpose changes in a row with an increasing number of visitors. Hence, commercial activities cannot be far from the people who want to gain the benefits and merits thereof. Moreover, a number of beggars in this village have made this pilgrimage site is well known as the village with a lot of beggars. This paper will focus on the shrine of Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari in Astambul city. The purpose of this paper is to identify the involvement of sacredness into the tourist object and to identify the role of government with commercial activity and beggars in the shrine of Syekh Muhammad Arsyad in Astambul city. In this respect, we carried out phenomenological observations, interviews with tourists and local people indicating religious tourist object and its commercial side to bring about benefits for the religious pilgrimage site preservation. In this study, the author sees that the preservation of sanctified tomb has become an economic generator for the local people and government. In another case, the begging behaviour of villagers has raised identification among the tourist to mark this pilgrimage place as the village with a lot of beggars.
TARIKAT SUFIYAH ISLAM DALAM PEMIKIRAN TASAWUF H. ABDUL MUIN HIDAYATULLAH Sani, Murjani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.283 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.447

Abstract

Karya ilmiah ini hanya mendeskripsikan keberadaan (asal-usul, perkembangan, mursyid, silsilah, pengikut, suluk, wirid dan praktiknya) Tarikat Sufiyah Islam (TSI) dalam pemikiran tasawuf H. Abdul Muin Hidayatullah. Hasilnya menunjukkan bahwa TSI ini dibangun oleh H. Abdul Muin sejak tahun 1955 setelah ia (menurut pengakuannya) dibawa ke alam rohani (liqa barzakhi) bertemu dengan Rasulullah, nabi Adam dan nabi Musa serta 40 orang pimpinan negara Islam. Ketika itu (menurutnya), ia dibaiat sebagai Mursyid Zahir tarikat ini, sementara Mursyid Batinnya adalah Rasulullah. Mulai saat itulah tarikat ini dikembangkannya hingga ia meninggal dunia (1995) dalam usia 87 tahun. Mursyid penggantinya adalah anaknya sendiri, K.H. Abdullah al-Mahdi dan mengembangkannya hingga sekarang.TSI ini merupakan tarikat baru dalam sejarah ketarikatan, karena tidak termasuk dalam deretan tarikat yang ada di dunia Islam. Unsur ketarikatan terpenuhi dalam tarikat ini, seperti adanya mursyid, anggota/murid, suluk/khalwat, amaliah (wirid) dan praktiknya. Kecuali itu sebagaimana dikemukakan di atas, silsilah mursyidnya yang tidak bersambung karena H. Abdul Muin selaku pimpinannya mengaku bertemu langsung dengan Rasulullah dan mendapatkan ajaran/amaliah (wirid) TSI daripadanya. Padahal dalam tataran teori sufistik disebutkan bahwa silsilah mursyid haruslah bersambung (muttasil), sehingga tidak diragukan lagi ke muktabarahannya. Konsekuensi logis dari ketidak-bersambungan silsilah mursyid ini menjadi lahan adanya pro-kontra terhadapnya, sebagaimana halnya tarikat al-Tijaniyah. Meski pun demikian, ternyata Tarikat Sufiyah Islam ini berkembang cukup pesat, sekarang anggotanya mencapai 7.000 orang, ada yang berstatus pendengar, pelajar, pengikut dan pendukung. Mereka tersebar di Kalimantan Selatan terutama di Banjarmasin, Tabunganen dan di Kabupaten Tabalong, dan aktif melaksanakan ajaran/amaliah (wirid) yang ditentukan. Karena itu keberadaannya cukup berarti (berdampak positif) bagi pembinaan keimanan dan ketakwaan anggotanya, meski pun hal ini masih perlu dilakukan penelitian.
ANALISIS DANA TALANGAN HAJI PADA BANK MEGA SYARIAH CABANG PEKANBARU MENURUT HUKUM ISLAM MAULIDIZEN, AHMAD
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.167 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.1937

Abstract

Syariah banking in Indonesia is experiencing significant developments, including assets, financial services, and the number of customers. Haj funds is a financial service using a contract of qard or ijarah given to prospective pilgrims in an effort to obtain the portion number of Hajj or Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). The implementation of this product gives a positive and negative impression, so the legitimacy of the product and the consequences of its implementation need to be reviewed. This article will explain the implementation of the Hajj Fund of Bank Mega Syariah Branch Pekanbaru and revisit the Islamic Law on the implementation of these products. The purpose of this research is to facilitate the implementation of Hajj Funds products as well as to get a legitimate status of product. The results of this study shows that the akad/contract itself has a great risk of hidden usury because in this contract there is a merger between akad qard and ijarah by requiring additional benefits as a service and the amount of the benefit  depends on the amount and the length of loan. In fiqh muamalah, it is mentioned that that any profitable loan is riba. Perbankan Syariah di Indonesia mengalami perkembangan signifikan, termasuk aset, pembiayaan yang diberikan dan jumlah pelanggan. Dana haji adalah pembiayaan dengan menggunakan kontrak qard atau ijarah yang diberikan kepada calon jemaah haji dalam upaya mendapatkan porsi jumlah Haji atau Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Penerapan produk ini memberi kesan positif dan negatif, sehingga perlu meninjau tentang legitimasi produk dan konsekuensi yang dihasilkan dalam pelaksanaannya. Karena artikel ini akan menjelaskan pelaksanaan Dana Haji Bank Mega Syariah Cabang Pekanbaru dan peninjauan kembali Hukum Islam tentang pelaksanaan produk tersebut. Tujuan penelitian ini agar pelaksanaan produk Dana Haji selain untuk memudahkan pelanggan dalam melakukan ziarah, tetapi juga mendapatkan status legitimasi produk. Hasil dari penelitian ini adalah validitas akadnya yang sangat berisiko untuk terjerembab ke riba yang tersembunyi, karena dalam kontrak ini ada penggabungan antara akad qard dan ijarah dengan membutuhkan manfaat tambahan sebagai layanan, bahkan jumlahnya tergantung pada jumlah pinjaman dan panjang pinjaman. Dalam fiqh muamalah diketahui kaedah bahwa "Setiap piutang yang untung atau lebih adalah riba"
GAGASAN PENGEMBANGAN PONDOK PESANTREN AL-FALAH MENURUT PEMIKIRAN MUHAMMAD TSANI Husin, Abdullah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3362.543 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v8i1.898

Abstract

This paper tries to map Muhammad Tsani Thought on Pondok Pesantren, with the case of Pondok Pesantren Al Falah, in facing the changing current. According to Muhammad Tsani, Pesantren must be able to play the role at least in two aspects: firstly, in closed or limited area at pondok pesantren its self, that pondok pesantren suggested to have a good quality of product. Secondly, pondok pesantren hoped to have the social role that related with the society need. Usually, both of the two aspects known with the term of ilmu and amal. Actually, this basic paradigm is the main capital of pondok pesantren to face the modernity challenges and to play its main role as the moral counter.
PANDANGAN PARA ULAMA TERHADAP IDDAH PEREMPIIAN HAMIL DI LUAR NIKAH Azhari, Fathurrahman
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 6, No 1 (2007)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2720.794 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v6i1.966

Abstract

lslamjc law impDsos a waiting penod belbre rernanl for a prcgnant wonran who is d;vorccd or because the lusban(l passcs a$ay. lhe waiting period for a prcgnani woman is ntil shc gives birth. For a wonan who is pregna.r s,ithoul gcling mnrried fi$t thc ulcrnar have rwo djtferenr viwsi a group who nill wan(s to inrpose the wailing a period. and a g.orp who docs not cons;der lhe wai(ins pcriod as an obligation. tach group has their o\!n argumenialion and law b$ic.
PSIKOLOGI SUFISTIK (STUDI ATAS PEMIKIRAN SACHIKO MURATA DALAM BUKU THE TAO OF ISLAM) Susilawati, Erni
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1291.217 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v14i1.643

Abstract

Sachiko Murata has developed many discourses of spiritual psychology asmentioned in her book The Tao of Islam. The writer found that the higheststage of Sufi which is to be united with God exists vertically betweenthe spirit, soul, mind and heart. Spirit is described as the highest innerdimension, which is connected to soul, as a part of the physical or bodystructure. The relationship between the soul and spirit raises other innerdimension that is the mind and heart. For a Sufi who has reached perfectionor sanctity of life, it also means to have a harmonious relationship betweenman's inner dimension, namely the achievement of happiness and peace ofmind which is reflected in real behavior. This is what Murata stated about ahealthy soul, a soul which is strongly influenced by the spirit or goodness.
MUSHAF QIRAAT SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI DALAM SEJARAH QIRAAT NUSANTARA Munadi, Fathullah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 9, No 1 (2010)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.916 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v9i1.917

Abstract

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang banyak dikenal sebagai seorang tokoh fiqih dengan magnum opusnya Sabl al-Muhtadn ternyata juga memiliki peran yang besar dalam kajian Alquran di Nusantara yang dibuktikan dengan mushaf Alquran yang disertai qiraat Alquran, karya yang muncul pada abad ke-18. Mushaf tersebut dalam sejarah kajian Alquran Nusantara merupakan karya yang sangat berharga karena hingga saat ini belum ditemukan karya sejenis yang kaya dengan uraian qiraat dan masih dapat dianggap karya tertua dalam bidang qiraat di Nusantara. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan posisi qiraat Syekh Arsyad, namun hanya memberikan wawasan terhadap kekayaan turats keagamaan yang ada di bumi Lambung Mangkurat dalam kajian Alquran khususnya qiraat Alquran.
LEMBAGA PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH DI KALIMANTAN SELATAN Barni, Mahyuddin
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 9, No 2 (2010)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.489 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v9i2.803

Abstract

Organisasi Muhammadiyah merupakan wadah sosial Islam tertua dan terbesar di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarkatan yang bercirikan Islam. Organisasi ini mencurahkan kegiatan pada usaha-usaha pendidikan dan kesejahteraan dan dalam program dakwah guna melawan agama Kristen dan ketakhayulan-ketakhayulan lokal. Dalam usahanya memurnikan pengamalan ajaran Islam (purifikasi) sekaligus mengangkat kehidupan umat, Muhammadiyah lebih berani menerapkan sistem modern.Di Kalimantan Selatan, Muhammadiyah berdiri secara resmi pada tahun 1925 di Alabio. Kehadiran Muhammadiyah di Alabio diikuti dengan pendirian Sekolah Muhammadiyah pada tahun 1926. Sejak itu, Sekolah Muhammadiyah bermunculan bersamaan dengan lahirnya Cabang Muhammadiyah di seluruh Kalimantan Selatan. Sampai saat ini, Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah telah berdiri di semua kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Organisasi ini di Kalimantan telah memiliki sejumlah sekolah, madrasah dan pendidikan tinggi.