cover
Contact Name
Trias Mahmudiono, SKM., MPH (Nutr), GCAS., PhD
Contact Email
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Amerta Nutrition
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 25801163     EISSN : 25809776     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Amerta Nutrition (p-ISSN:2580-1163; e-ISSN: 2580-9776) is a peer reviewed open access scientific journal published by Universitas Airlangga. The scope for Amerta Nutrition include: public health nutrition, community nutrition, clinical nutrition, dietetics, food science and food service management. Each volume of Amerta Nutrition is counted in each calendar year that consist of 4 issues. Amerta Nutrition is published four times per year every March, June, September, and December.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
Pengaruh Pemberian Diet Isokalori Tinggi Serat terhadap Tingkat Satiety pada Kelompok Usia Dewasa Awal Maura Tirta Nabila; A. Fahmy Arif Tsani; Ayu Rahadiyanti; Fillah Fithra Dieny
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i3.2021.237-244

Abstract

Latar Belakang: Belum banyak penelitian yang membandingkan pengaruh diet tinggi serat larut air dan diet tinggi serat tidak larut air terhadap tingkat satiety.Tujuan:Menganalisis pengaruh pemberian diet isokalori tinggi serat terhadap tingkat satiety pada kelompok usia dewasa awal status gizi normal.Metode: Penelitian eksperimentaldengan rancangan pre-post group design. Subjek penelitian adalah 16 orang dewasa awal usia 20-23 tahun (10 perempuan dan 6 laki-laki) yang diambil secara consecutive sampling. Semua subjek diberikan 2 jenis diet isokalori dengan rasio serat larut air : serat tidak larut air sebesar 3:2 dan 1:3 dengan masing-masing wash out period selama 1 hari. Energi yang diberikan sebesar 20% dari total kebutuhan masing-masing subjek. Variabel yang diukur adalah tingkat satiety yang terdiri dari tingkat desire to eat, hunger, fullness dan prospective food consumption/PFC menggunakan kuesioner Visual Analogue Scale. Analisis statistik menggunakan paired t-test, wilcoxon, mann-whitney dan independent t-test.Hasil: Diet tinggi serat larut air memiliki efek lebih lama 1 jam dalam menekan hunger dan desire to eat dan memiliki efek lebih lama 30 menit dalam menekan PFC dibandingkan diet tinggi serat tidak larut air, namun kedua diet tersebut sama-sama baik dalam meningkatkan fullness hingga 3 jam setelah intervensi.Kesimpulan: Pemberian diet tinggi serat dapat menekan tingkat desire to eat, hunger, PFC dan meningkatkan fullness. Diet tinggi serat larut air mempunyai efek lebih lama terhadap tingkat satiety dibandingkan diet tinggi serat tidak larut air.
The Effect of Sucrose and Fructose Diet on Obesity in Test Animals: A Review Alvia Anggreini; Deandrya Ardya R. Sutoyo; Dominikus Raditya Atmaka
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i2.2021.173-179

Abstract

Latar belakang: Obesitas merupakan masalah kesehatan yang disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya dari faktor diet. Diet tinggi sukrosa dan fruktosa dapat memicu terjadinya masalah gizi lebih yaitu overweight dan obesitas. Diet tinggi sukrosa dan fruktosa jika dilakukan seseorang yang mengalami obesitas akan menyebabkan masalah kesehatan seperti penyakit metabolik.Tujuan: Tujuan penulisan artikel ini adalah adalah membahas pengaruh diet tinggi sukrosa dan fruktosa terhadap obesitas.Metode: Penelusuran artikel berdasarkan literatur dalam 10 tahun terakhir (2010-2020) menggunakan database elektronik seperti Google Scholar, Scopus, Science Direct, dan PubMed/Medline yang menganalisis pengaruh diet tinggi sukrosa dan fruktosa terhadap obesitasUlasan: Hasil penelusuran penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi sukrosa dan fruktosa dapat menyebabkan kenaikan berat badan, overweight, obesitas, meningkatkan lingkar pinggang, meningkatkan lemak dalam tubuh dan inflamasi pada jaringan adiposa. Dampak penyakit penyerta dari diet tinggi sukrosa dan fruktosa yaitu Nonalcoholic Fatty Liver Disease, kerusakan hati, penurunan energy expenditure dan stress oksidatif pada ginjal.Kesimpulan: Diet tinggi sukrosa dan fruktosa menyebabkan  kenaikan berat badan hingga masalah gizi lebih yaitu overweight dan obesitas. Dampak diet tinggi sukrosa dan fruktosa dengan penyakit akibat obesitas yakni menyebabkan NAFLD (Nonalcoholic Fatty Liver Disease). Penelitian terkait diet tinggi sukrosa dan fruktosa banyak dilakukan pada hewan coba. Penelitian selanjutnya diharapkan banyak dilakukan pada manusia juga, agar nantinya bisa dibandingkan dengan hasil penelitian dengan hewan coba, hasil tersebut sesuai dengan teori atau tidak.
Factors Influence on Dietary Intake and Practices of Adolescent Girls Aged 15-19 in Rural Area Central Java Zahroh Shaluhiyah; Ratih Indraswari; Aditya Kusumawati
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i2.2021.105-114

Abstract

Background: Dietary habits formed during adolescence have been shown to track into adulthood. Establishing healthy eating behaviours among adolescents, therefore, has both short- and long-term health benefits..Objectives: This study aims to identify dietary habits among adolescent girls aged 15-19 in rural area and its influence factorsMethod: This is a quantitative study with cross-sectional approach, involved 93 adolescent girls aged 15-19 in Jatipurwo village who were selected randomly. Data was collected by enumerators using structure questionnaires that has been validated in other village before.  Univariate, bivariate using Chi-Square and multivariate (logistic regression) were employed to analyze data.Results: The eating behavior of adolescent girls were categorized as unhealthy and unbalanced diet. It was shown with insufficient level of energy including low adequacy of carbohydrate, protein and fat. The average height of adolescents was 155 cm. Most adolescents have LILA less than 23.5cm. As Low socioeconomic family income tends to have eating habits with low nutritional value both in quantity and quality as well as food variations. Lack of food availability at the family level makes teens have poor diet. It is recommended that the need for increased food security at the family level and provide awareness to adolescents about healthy eating. 
Determinan Pemberian ASI Eksklusif: Analisis Data Sekunder Survei Demografi dan Kesehatan 2017 Adilah Anindito Difa Putri; Salsabila Naim
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i3.2021.284-291

Abstract

Latar Belakang: Angka Kematian Bayi merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Pemberian ASI eksklusif kepada bayi merupakan salah satu cara efektif agar dapat menurunkan Angka Kematian Bayi di Indonesia. Cakupan ASI eksklusif pada tahun 2017 sebesar 52%, hal tersebut telah memenuhi minimal 50% dari target nasional namun cakupan ASI eksklusif menurun seiring dengan pertambahan usia anak.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif di Indonesia.Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 1.435 yang terdiri dari ibu yang memiliki anak berusia 0-5 bulan terakhir yang masih hidup, tidak memiliki anak kembar, tinggal bersama anaknya dan masih menyusui. Analisis data menggunakan analisis bivariabel metode chi-square dan analisis multivariabel metode regresi logistik berganda.Hasil: Ibu yang memiliki anak yang berusia 0 – 1 bulan berpeluang 22,835 kali lebih tinggi untuk ASI eksklusif dibanding anak usia 4 – 5 bulan (OR 22,835; CI 95% 11, 033 – 47,261), begitu pula pada ibu  yang memiliki anak yang berusia 2 – 3 bulan berpeluang tinggi untuk ASI eksklusif juga. Ibu dengan pendidikan tinggi 3,383 kali berpeluang lebih tinggi untuk ASI eksklusif dibanding ibu yang tidak sekolah (OR 3,383; CI 95% 0,999 – 11,461), hal yang sama berlaku pada ibu dengan pendidikan menengah dan pendidikan dasar yang memiliki peluang tinggi untuk ASI eksklusif juga. Ibu dengan tingkat status ekonomi atas berpeluang 1,670 kali lebih tinggi untuk ASI eksklusif dibanding ibu dengan tingkat status ekonomi bawah (OR 1,670; CI 95% 1,102 – 2,529), hal yang sama berlaku pada ibu dengan tingkat status ekonomi menengah yang memiliki peluang tinggi untuk ASI eksklusif juga.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif antara lain: usia anak, tingkat pendidikan ibu dan status ekonomi.
Peranan Pilar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Terhadap Penanganan Gizi Kurang di Provinsi Jawa Barat (The Role Of Pillar Sustainable Development Goals Relate to Tackling Undernutrition in West Java Province) Ummi Khuzaimah; Yayuk Farida Baliwati; Ikeu Tanziha
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i3.2021.196-210

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Penghapusan malnutrisi dalam segala bentuknya, khususnya gizi kurang (stunting dan underweight) adalah suatu keharusan untuk alasan kesehatan, etika, politik, sosial dan ekonomi. Komitmen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dipertimbangkan untuk dapat diarahkan kepada tindakan dan akuntabilitas untuk dapat menangani  penyebab langsung dan tidak langsung dari segala bentuk malnutrisi.Tujuan: Menganalisis peranan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terhadap penanganan gizi kurang (stunting dan underweight) dan menyusun pemodelan hubungan keduanya.Metode: Penelitian menggunakan data sekunder. Unit analisis 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat selama tahun 2016-2017, dengan total 54 unit. Variabel dependen penelitian ini adalah gizi kurang (stunting dan underweight) pada anak usia 0-59 bulan, sedangkan variabel independennya yaitu pilar sosial, pilar ekonomi dan pilar lingkungan. Data penelitian diolah menggunakan pendekatan Partial Least Square-Structural Equation Model (PLS-SEM)Hasil: Pencapaian pilar lingkungan dapat mendorong peningkatan capaian pilar sosial dan ekonomi sehingga secara langsung dan tidak lansung mampu menurunkan prevalensi gizi kurang dengan total 5,09%. Pencapaian pilar sosial dapat secara langsung meningkatkan pencapaian pilar ekonomi sehingga secara langsung maupun tidak langsung dapat menurunkan prevalensi gizi kurang dengan total 3,65%. Peningkatan pencapaian pilar ekonomi dapat secara langsung menurukan prevalensi gizi kurang sebesar 3.86%. Semua hubungan signifikan dengan t-statistik > 1,96 (α=0,05).Kesimpulan: Penurunan masalah gizi kurang (stunting (TB/U) dan underweight (BB/U)) pada anak usia 0-59 bulan dapat dipengaruhi oleh pencapaian indikator di masing-masing pilar TPB. Kombinasi pilar sosial, lingkungan dan ekonomi dalam penanganan masalah gizi secara bersama-sama menunjukkan penurunan prevalensi gizi kurang yang cenderung lebih tinggi dibandingkan hanya melalui pencapaian indikator pada satu/dua pilar TPB. ABSTRACTBackground: Tackling malnutrition in all its forms, especially undernutrition (stunting, underweight) is a necessity related to health, ethical, political, social and economic reasons. Commitment to the post-2015 framework, Sustainable Development Goals (SDGs) is considered to be directed towards action and accountability to be able to address the direct and indirect causes of all forms of malnutrition.Objectives: To analyze the role of SDGs indicators in tackling undernutrition (stunting dan underweight) and to determine the undernutrition and SDGs modelling in West Java province.Methods: This study used secondary data. The unit analysis was 27 districts of West Java Province during 2016-2017, with a total 54 units. The dependent variable was undernutrition (stunting nd underweight) in children aged 0-59 months. The independent variables were the pillars of social development, the pillars of environmental development and the pillars of economic development. The data were analyzed using Partial Least-square-structural Equation Modeling (PLS-SEM).Results: The achievement of environmental pillars can encourage increased achievement of social and economic pillars so it can direct and directly decrease the prevalence of undernutrition with a total of 5.09%. The improvement of social pillar can directly increase the achievement of economic pillars so that directly and indirectly can decrease the prevalence of undernutrition with total by 3.65%. The achievement of economic pillars can directly decrease the prevalence of undernutrition 3.86%. All the results were significant with t-statistic > 1.96 (α = 0.05).Conclusion: Reduced undernutrition (stunting and underweight) in children aged 0-59 months can be influenced by the achievement of indicators in each pillars of SDGs. The combination of social, environmental and economic pillars in tackling malnutrition shows a higher decrease in undernutrition’s prevalence than only through the achievement of indicators in one or two pillars of SDGs.
Diet Quality, Nutritional Status, and Haemoglobin Level of Female Adolescent Athletes in Endurance and Non Endurance Sports Nisa Nur Isnaini Andari; Fillah Fithra Dieny; A.Fahmy Arif Tsani; Deny Yudi Fitranti; Nurmasari Widyastuti
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i2.2021.140-148

Abstract

Background: Based on the duration and intensity of the exercise, sports can b classified into two types: endurance and non endurance (strength and power). Endurance sports is a high risk sport with low diet quality, nutritional status (body mass index (BMI) and body fat percentage), and haemoglobin level. Objectives: The aimed of this study is to analyze the differences of diet quality, nutritionl status, and haemoglobin level of female adolescent athletes in endurance  and non endurance sports. Methods: An observational study with a cross-sectional design was conducted on 23 endurance athletes and 21 non endurance athletes in BBLOP Central Java, UNNES swimming and athletic sports club, and Salatiga atlhetic sports club. Subjects were selected by purposive sampling. BMI and body was measured by Bioelectrical Impedance Analysis (Tanita DC-360). Haemoglobin level was assessed by cyanmethemoglobin method. Diet quality was measured by semi quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ) and diet quality index-international (DQI-I) form. Data was analyzed by independent t-test and Mann-Whitney. Results: The majority of nutritional status based on BMI and perventage body fat in endurance and non endurance athlete were normal. About 9,5% of non endurance athlete had anemia. There were significant difference in diet quality (p=0,029) and variety of protein source, iron, vitamin C, and empty calorie foods intake (p<0,001; p=0,028; p=0,045; p<0,001) of endurance and non endurance athletes, but no significant difference in body fat percentage (p=0,573) and haemoglobin level (p=0,714).  Conclusion: There were significant difference on diet quality, variety of protein source, iron, vitamin C, and empty calorie foods intake between endurance and non endurance athletes.   
Gambaran Penerapan Prinsip Higiene Sanitasi Makanan di Kantin PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk Pabrik Tuban, Jawa Timur Grace Bella K Nussy
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i3.2021.245-250

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Pada usia yang produktif dan sanggup untuk bekerja memerlukan asupan makanan yang bergizi dan aman. Pentingnya penyediaan asupan gizi di lingkungan kerja, PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Pabrik Tuban menyediakan layanan makanan dan fasilitas kantin bagi pekerja maupun pengunjung yang datang. Berdasarkan laporan tahunan BPOM tahun 2016 dan 2017, dilihat dari lokasi terjadinya KLB keracunan pangan terbesar ketiga terjadi di area kantor/ pabrik. Mencegah kejadian serupa salah satunya dengan menerapkan prinsip higiene sanitasi makanan pada kegiatan pengolahan makanan.Tujuan: Tujuan dari penulisan artikel adalah untuk mengetahui dan mempelajari penerapan higiene sanitasi makanan mulai dari pemilihan bahan makanan sampai penyajian makanan yang telah dilaksanakan di kantin PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Pabrik Tuban.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif berupa observasi dan wawancara.Hasil: Kegiatan pengolahan makanan terutama di lingkungan kerja penting untuk memperhatikan dan menerapkan higiene sanitasi makanan. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya permasalahan kesehatan serta bahaya lainnya yang diakibatkan oleh makanan dan kerugian lainnya. Berdasarkan Permenkes Nomor 1096 Tahun 2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga, higiene sanitasi adalah upaya untuk mengendalikan faktor risiko terjadinya kontaminasi terhadap makanan, baik yang berasal dari makanan, orang, tempat dan peralatan agar makanan aman untuk di konsumsi. Terdapat enam prinsip dalam penerapan higiene sanitasi makanan, yaitu 1) Pemilihan bahan makanan, 2) Penyimpanan bahan makanan, 3) Pengolahan makanan, 4) Penyimpanan makanan jadi/ masak, 5) Pengangkutan makanan dan 6) Penyajian makanan.Kesimpulan: Kegiatan pengolahan makanan sebagian besar telah memenuhi dan beberapa aspek ada yang belum memenuhi. Kegiatan pengolahan makanan yang belum memenuhi prinsip higiene sanitasi makanan adalah penyimpanan bahan baku, pengolahan makanan dan penyajian makanan. Kata Kunci: higiene sanitasi, pengolahan makanan, kantin pabrik
The Effects of Vitamin D Supplementation on Serum Levels of 25 (OH) D, Serum Calcium, and Bone Density in Adolescent: A Literature Review Nurnashriana Jufri; Nurmaladewi Nurmaladewi; Fifi Nirmala
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i2.2021.180-195

Abstract

Latar Belakang: Stunting dan penurunan densitas tulang merupakan salah satu masalah gizi yang umum diderita oleh remaja. Hal ini terjadi akibat kurangnya asupan zat gizi yang adekuat terutama vitamin D yang berfungsi untuk pertumbuhan tulang dan mineralisasi jaringan. Jumlah yang terbatas dari makanan dan faktor pigmentasi kulit menjadi penyebab terjadinya defisiensi vitamin D sehingga dibutuhkan upaya suplementasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.Tujuan: Untuk menganalisis efek suplementasi vitamin D terhadap pertumbuhan linier remaja.Metode: Penelusuran artikel pada tinjauan pustaka ini dilakukan menggunakan mesin pencarian melalui Medline, PubMed, EBSCO, ELSEVIER, Cambridge Core, dan WILEY. Artikel memuat teks penuh, berbahasa inggris dan tahun terbit mulai dari 2010 hingga 2020. Kata kunci pencarian yang dimasukkan adalah vitamin D supplementation, adolescent or teenagers, linear growth, dan Bone Mass Density (BMD).Hasil: Hasil skrining menemukan 12 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan diklasifikasikan berdasarkan luaran penelitian yaitu kadar serum 25(OH)D merupakan parameter biokimia yang merupakan luaran yang terdapat pada 10 artikel penelitian. Parameter biokimia serum kalsium sebanyak 6 artikel, densitas tulang sebanyak 8 artikel, dan tinggi badan 2 artikel.Kesimpulan: Suplementasi vitamin D yang diberikan pada remaja yang sehat maupun tidak sehat terbukti meningkatkan kadar serum 25(OH)D.Kata kunci: Suplementasi vitamin D, serum 25(OH)D, densitas massa tulang, pertumbuhan linier remaja. ABSTRACT Background: Stunting and decreased bone density are some of the common nutritional problems that remain by adolescents. This occurs due to lack of adequate nutrition, especially vitamin D which functions for bone growth and tissue mineralization. A limited amount of food and skin pigmentation factors cause vitamin D deficiency so supplementation efforts are needed to meet those needs.Objective: To analyze the effect of vitamin D supplementation on the linear growth of adolescents.Method: Searching for articles in this literature review was done using a search engine through Medline, PubMed, EBSCO, ELSEVIER, Cambridge Core, and WILEY. The article contains the full text, English language, and year of publication from 2010 to 2020. The search keywords entered are vitamin D supplementation, adolescent or teenagers, linear growth, and Bone Mass Density (BMD).Results: The screening results found 12 articles that met the inclusion criteria and were classified based on research outcomes, namely serum 25 (OH) D levels were biochemical parameters which were the results contained in 10 research articles. Biochemical parameters of serum calcium were 6 articles, bone density were 8 articles, and height were 2 articles.Conclusion: Vitamin D supplementation given to healthy and unhealthy adolescents has been shown to increase serum 25 (OH) D levels.Keywords: Vitamin D supplementation, serum 25 (OH) D, bone mass density, adolescent linear growth. 
The Relationship Habits of Through Breakfast and Physical Activity with Abdominal Obesity in Nutrition Students Wijayanti, Martha Ria; Adiningsih, Sri; Rachmah, Qonita
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i2.2021.115-120

Abstract

Background : Abdominal obesity is obesity characterized by the accumulation of excess fat in the abdominal area. The risk of metabolic and cardiovascular disease may increase due to abdominal obesity. One of the factors associated with abdominal obesity is imbalance between energy intake and physical activity. Several studies have stated that skipping breakfast is associated with an increased risk of obesity with the tendency to consume high calorie foods to provide energy for activities.Objectives : The purpose of this study is to analyze the relationship between skipping breakfast, level of physical activity and obesity in nutrition students at Public Health Faculty, Airlangga University.Methods : This research is observational analytic with cross sectional design. The population in this study were nutrition students at Public Health Faculty, Airlangga University. The number of samples was 60 people which selected by proportional random sampling method. Data were collected include the measurements of waist circumference, interviews using respondent's identity questionnaire and physical activity recall 3 x 24 hours. Data were analyze with Spearman correlation test.Results : Based on the results, it was found that 33.3% of the respondents were obese. The results of statistical tests shows a negative correlation between skipping breakfast and abdominal obesity (p = 0.000). The results of this study also showed that there is no significant correlation between the level of physical activity and obesity (p = 0.618).Conclusions : Skipping breakfast was significantly associated with abdominal obesity in the young adult students group. Therefore, it is better if the habits of skipping breakfast can be replaced with breakfast habits to prevent abdominal obesity. 
Hubungan antara Asupan Asam Lemak Tidak Jenuh Ganda pada Ibu Menyusui, Kandungannya dalam ASI dan Lingkar Kepala Bayi: Studi pada Periode Awal Postpartum Muti'ah Mustaqimatusy Syahadah; Mira Dewi; Rimbawan Rimbawan
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i3.2021.292-302

Abstract

Latar Belakang: Tercukupinya kebutuhan asupan asam lemak tidak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acids, PUFA) ibu menyusui diketahui memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan otakbayi. Peran asupan PUFA ibu menyusui dalam mendukung tumbuh kembang bayi adalah melalui perantara ASI. ASI merupakan sumber utama zat gizi bayi baru lahir, salah satunya adalah PUFA. Studi menunjukkan bahwa asupan PUFA ibu menyusui di Kota Bogor masih sangat rendah terutama EPA dan DHA. Rendahnya asupan PUFA ibu menyusui  diduga berpengaruh terhadap pertumbuhan otak bayi yang dalam penelitian ini diestimasi dengan ukuran lingkar kepala.Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan asupan PUFA ibu menyusui dengan kandungan PUFA ASI dan lingkar kepala bayi baru lahir.Metode: Analisis data sekunder menggunakan data hasil penelitian hibah BASF South East Asia yang telah dilakukan pada bulan April-Oktober tahun 2018 di Kota Bogor oleh tim SEAFAST CENTER IPB. Subyek merupakan ibu ibu menyusui berusia 18-45 tahun yang melahirkan bayi tunggal . Total terdapat 79 data ibu dan bayinya yang meliputi data asupan PUFA saat menyusui , kandungan PUFA ASI, lingkar kepala bayi, karakteristik ibu dan bayinya, kondisi sosial-ekonomi ibu, dan IMT pra-hamil. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil: Rata-rata asupan PUFA ibu saat menyusui  tergolong rendah (< 80% tingkat kecukupan) serta belum memenuhi rekomendasi asupan PUFA. Asupan LA ibu berhubungan signifikan positif dengan kandungan LA ASI (p = 0,012), sedangkan asupan ALA ibu memiliki hubungan signifikan negatif dengan kandungan ALA ASI (p = 0,027). Lingkar kepala bayi tidak berhubungan signifikan dengan asupan ibu saat menyusui dan kandungan PUFA ASI (p > 0,05).Kesimpulan: Asupan PUFA ibu menyusui tidak berhubungan dengan kandungan PUFA ASI dan lingkar kepala bayi. 

Filter by Year

2017 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 1 (2026): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 1SP (2025): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 5th Amerta Nutrition Conferenc Vol. 9 No. 4 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 3 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 2 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 1 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 4th Amerta Nutrition Conferenc Vol. 8 No. 4 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 2SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 8 No. 2 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 1 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 1SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 7 No. 2SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 3rd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 7 No. 4 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 3 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 3SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 7 No. 2 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 1SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Big Data Seminar Vol. 7 No. 1 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 6 No. 1SP (2022): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 2nd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 6 No. 4 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 3 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 2 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 1 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 4 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 2SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 1SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 5 No. 1 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 4 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 3 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 2 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 1SP (2020): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 4 No. 1 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 4 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 2 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 1 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 4 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 2 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 1 (2017): AMERTA NUTRITION More Issue