cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta utara,
Dki jakarta
INDONESIA
PRoMEDIA
ISSN : -     EISSN : 24609633     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL TENTANG PERMASALAHAN DAN ISU TERKINI DALAM PERKEMBANGAN KEHUMASAN SERTA MEDIA KOMUNIKASI. DITERBITKAN OLEH PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Representasi Perempuan Dalam Pemberitaan KDRT di Media Massa Pada Masyarakat di Wilayah Jakarta (Studi Pemberitaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Merdeka.com dan Kompas.com) fauziah fauziah; armis tamampil
PRoMEDIA Vol 1, No 1 (2015): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.996 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v1i1.101

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisa bagaimana teks pemberitaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap perempuan dihadirkan di media massa online khususnya Merdeka dan Kompas online edisi April sampai Agustus 2013. Karena itu suatu analisis isi yang lebih mendalam dan detail untuk memahami produk isi media dan mampu menghubungkanya dengan konteks sosial atau realitas yang terjadi sewaktu pesan dibuat. Karena semua pesan (teks, simbol, gambar dan sebagainya adalah produk sosial dan budaya masyarakat).  Sesuai dengan rumusan permasalahan pada penelitian, metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan analisis isi kualitatif terlebih dahulu terhadap pemberitaan di  Merdeka dan Kompas online, kemudian baru dilakukan analisis wacana kritis dari Sara Mills untuk mengetahui perspektif pembaca dan penulis yang ditampilkan dalam teks pemberitaan tersebut. Berdasarkan analisis terhadap berita KDRT pada kedua mediaterse but dapat disimpulkan, antara lain. Penulis memposisikan dirinya sebagai laki-laki, sehingga teks berita yang ditampilkan pun mengarahkan pembaca untuk menafsirkan teks berita dalam artikel tersebut dari sudut pandang laki-laki. Dalam berita yang terkait dengan KDRT merepresentasikan perempuan (istri) sebagai objek. Teks berita tersebut menjadi bias dalam merepresentasikan perempuan karena dalam teks berita tersebut suara perempuan (istri) tidak benar-benar ditunjukkan. Perempuan hanya digambarkan sebagai pemicu tindakan kekerasan dan akhirnya menjadi korban KDRT yang dilakukan oleh laki-laki (suami)
Penyebaran Hoax dan Hate Speech sebagai Representasi Kebebasan Berpendapat dewi maria herawati
PRoMEDIA Vol 2, No 2 (2016): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.566 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v2i2.793

Abstract

Perkembangan teknologi internet merubah pola komunikasi dan tatanan masyrakat sehingga menjadi wadah baru bagi masyarakat dalam mengemukakan pendapat dan ekspresinya. Kebebasan bersuara dan berekspresi ini dimungkinkan dengan adanya perundang-undangan yang menyatakan setiap orang bebas untuk berpendapat dan merupakan sebuah hak asasi manusia yang mendasar. Netizen juga beranggapan bahwa internet dianggap sebagai saluran yang menawarkan kebebasan demokrasi yang hampir tak terbatas untuk melacak informasi, untuk berkorespondensi dengan ribuan individu lain, dan secara spontan membentuk komunitas virtual yang tidak mungkin dibentuk dengan jalan lain secara tradisional. Karena itulah masyarakat menganggap dunia maya (dalam hal ini sosial media) menjadi wadah terbaik dalam menyuarakan pendapat dan ekspresi terhadap permasalahan yang dihadapi. Kebebasan dalam dunia maya itu menimbulkan permasalahan baru, yaitu hoax dan hate speech. Masyarakat sangat mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya dan menyampaikan ujaran-ujaran kebencian. Semuanya itu didasari dengan alasan yang sama, yaitu hak untuk bebas berpendapat. Namun dengan adanya perundang-undangan dan regulasi yang dibuat pemerintah dalam penyebaran informasi ITE, diharapkan hak kebebasan berpendapat bagi seluruh masyarakat dilindungi oleh pemerintah, namun masyarakat juga harus lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menulis dan menyampaikan sesuatu di dunia maya.   Kata kunci: hoax, hate speech, kebebasan berpendapat
Makna Tari Bajidor Kahot Ditinjau Dari Teori Semiotika Roland Barthes ratih kurnia hidayati
PRoMEDIA Vol 2, No 2 (2016): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.214 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v2i2.542

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai makna simbolik dari tari Bajidor Kahot. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotika, teori komunikasi nonverbal, dan tari.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna yang terkandung dalam busana dan aksesoris yang digunakan, lirik lagu, dan makna dari setiap gerakan Bajidor Kahot, sehingga tidak memiliki pandangan negative ketika menonton tarian ini.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan interpretif dengan kajian analisa semiotika Roland Barthes. Peneliti mengumpulkan data berupa observasi foto dan data sekunder berupa jurnal, artikel di internet yang mendukung penelitian ini.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Bajidor Kahot mempunyai makna erotis. Hal ini tergambar pada busana yang digunakan memperlihatkan lekuk tubuh, membentuk dada, serta terlihat area ketiak dari tubuh penari. Selain itu tergambar erotis pada lirik lagu yakni Bajidor yang terkenal dengan pandai menari dan memberikan uang ke para penari hanya untuk mendapatkan perhatian dan dapat menari di atas panggung bersama para penari. Gerakan tari juga menimbulkan erotis dikarenakan terdapat beberapa gerakan yang membusungkan dada, menggoyangkan pinggul dan juga memainkan kipas serta selendang.   Keyword:  Semiotics, Makna, Tari
NILAI HUMANISME VIDEO KLIP COLDPLAY “PARADISE” Hernita Jibril; Dewi Maria Herawati
PRoMEDIA Vol 4, No 1 (2018): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.817 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v4i1.1137

Abstract

Isu kemanusiaan seringkali dikaitkan dengan suatu peristiwa, hal ataupun objek-objek yang dapat tertangkap oleh indera penglihatan. Banyak juga pandangan yang menilai bahwa di tengah kemajuan teknologi maka nilai kemanusiaan sudah mulai luntur. Hal ini salah satunya terlihat karena perkembangan teknologi yang semakin pesat dimana semakin mudahnya manusia mencapai suatu tujuan sehingga melupakan peran sesama manusia lainnya. Sisi humanisme dapat ditelaah dari objek audio visual diantaranya yaitu video klip. Musik melalui video klip dimana didalamnya terdapat pesan mengenai realitas, ideologi atau bahkan kritik sosial berdasarkan latar belakang musisi itu sendiri atau keadaan lingkungan sekitar. lagu “Paradise” menceritakan tentang seorang gadis yang tersesat di dunia dan mencoba mencari jalan keluar melalui fantasi. Dengan karakter gajah sebagai subjek utama, Coldplay ingin menunjukkan pesan kemanusiaan yang tertuang dalam video klip dari lagu “Paradise” tersebut. Melalui video klip ini, diharapkan masyarakat khususnya penikmat musik Coldplay dapat tergugah mengenai pesan positif yang dimaksudkan juga oleh musisi tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan teori humanisme dan semiotika. Ketujuh nilai humanisme yang tergambar dalam 12 scene pada video klip “Paradise” ini adalah sarana untuk mengembangkan diri dan memenuhi kebutuhan eksistensi manusia dalam usahanya menjadi paripurna sehingga tercipta rasa kebahagiaan, persamaan, persaudaraan antar sesama makhluk hidup dan lingkungan. Menjadi paripurna yaitu merasa bahagia karena telah mendapatkan apa yang menjadi impiannya.Kata Kunci: Humanisme, Video Klip, Semiotika
Regulasi Media di Indonesia (Kajian pada Keterbukaan Informasi Publik dan Penyiaran) itsna Khusna; nuning susilowati
PRoMEDIA Vol 1, No 2 (2015): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.987 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v1i2.111

Abstract

Regulasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengaturan. Regulasi di Indonesia diartikan sebagai sumber hukum formil berupa peraturan perundang-undangan yang memiliki beberapa unsur, yaitu merupakan suatu keputusan yang tertulis, dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang, dan mengikat umum. Regulasi juga merupakan segala yang mengatur kehidupan bersama selain itu regulasi juga mengatur etika. Regulasi Media adalah aturan-aturan dan kebijakan yang berkaitan dengan yang mengatur hubungan dan operasional media massa dan teknologi media. Regulasi sangat penting bagi keteraturan dan keseimbangan hubungan media dengan pemerintah, masyarakat, sesama industri media dan global media. Regulasi media diperlukan untuk membatasi pemberitaan dan penggunaan tekologi media akan terjadinya celah pelanggaran hukum saat regulasi tersebut tidak dibuat. Regulasi dibentuk oleh negara  yaitu oleh lembaga legislatif dan eksekutif sedangkan pengujiannya dilakukan oleh lembaga yudikatif. Kata Kunci: Regulasi, Media, Pemerintah, Masyarakat
Motif Eksistensi melalui Penggunaan Hashtag (#OOTD) di Media Sosial Instagram nofi permatasari; danang trijayanto
PRoMEDIA Vol 3, No 2 (2017): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.864 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v3i2.952

Abstract

Perkembangan teknologi saat ini berkembang semakin pesat. Salah satu aplikasi media sosial yang sangat menyita perhatian masyarakat adalah Instagram. Dalam media sosial tersebut kita dapat memposting photo dan video serta memberikan caption dan hastag didalamnya. Hastag dalam Instagram biasanya digunakan untuk pengelompokan dan juga pembuat trending topic. Banyak pengguna Instagram menggunakan aplikasi tersebut sebagai ajang eksistensi diri mereka. Eksistensi sendiri merupakan bentuk dari dari sebuah keberadaan atau suatu bentuk dari pengakuan bahwa kita ada. Sementara OOTD sendiri merupakan sebuah singkatan dari Outfit Of The Day yang merupakan bentuk dari suatu konsep fashion atau style yang dipakai pada hari itu. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui tetang hastag yang saat ini sedang banyak digunakan di Instagram yaitu #OOTD yangdikatakan sebagai symbol dari eksistensi.   Kata Kunci: Instagram, Hastag, Eksistensi.
Implikasi Konvergensi Media Terhadap Industri “Premateur Industri Penyiaran Televisi Digital pada Teknologi Layanan Mobile Television di Indonesia” danang trijayanto
PRoMEDIA Vol 1, No 1 (2015): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.825 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v1i1.97

Abstract

Media lahir dan berpengaruh pada aspek kehidupan masyarakat.  Media baru telah menembus industri, berkembang dengan konvergensi media. Ada konvergensi teknologi dan konvergensi industri. Ponsel Televisi (Mobile TV) adalah layanan televise dengan perangkat mobile. Makalah ini menjelaskan dinamisisasi mobile TV di dunia, khususnya di Indonesia. Industri penyiaran televisi dan industry telekomunikasi yang terintegrasi dalam sebuah konvergensi industri pada layanan mobile TV. Akhirnya, industri mobile TV tergantung pada penerimaan publik.   Kata kunci: Mobile TV, Penyiaran, Industri,Telekomunikasi, konvergensi Media.
PROPAGANDA DALAM MARS PERINDO (SEBUAH KAJIAN SEMIOTIKA IKLAN POLITIK) ike florina; Oemi Hartati
PRoMEDIA Vol 3, No 1 (2017): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.506 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v3i1.691

Abstract

Di era komunikasi saat ini penyebaran pesan-pesan politik tidak hanya dilakukan secara konvesnional melainkan juga melalui media komunikasi massa modern, seperti media elektronik, audio visual maupun media digital atau new media. Sedangkan pesan politik melalui komunikasi massa modern disampaikan dalam bentuk iklan politik atau melalui internet. Di Indonesia, kemunculan iklan politik biasanya bersifat momentum yakni jelang event-event politik seperti pemilihan umum legislatif, pemilihan umum presiden dan wakil presiden, atau pemilihan kepala daerah. Iklan yang memenuhi setiap sudut ruang privat maupun ruang public dengan berbagai narasi teks verbal maupun visual, digunakan sebagai alat politik memanipulasi kesadaran publik untuk mencapai tujuan atau kepentingan politik tertentu. Iklan politik yang sedang marak adalah pemutaran sebuah lagu identitas (mars) dari Partai Politik Partai Persatuan Indonesia (Perindo) di televisi-televisi swasta dibawah naungan media massa MNC Media (RCTI, MNC, Global TV dan i-News). Ialah Hary Tanoesoedibjo, yang merupakan Ketua Umum Partai Perindo yang juga merupakan CEO dari MNC Media. Melalui kekuasaan atas kepemilikan media, Mars Perindo dengan enam versinya mulai muncul di group media massanya pada pemilihan presiden 2014 lalu. Menurut pengamatan peneliti, iklan Mars Perindo diputar atau ditayangkan disela-sela prime time atau program acara unggulan. Sebuah pesan iklan disampaikan melalui tanda dan symbol baik berupa teks, audio dan visual. Melalui Semiotika, penelitian ini mencoba melakukan proses memahami bagaimana pesan dan makna propaganda hadir dalam iklan politik Mars Perindo. Semiotika akan menanamkan (encoding) pemahaman sebuah kenyataan yang pada awalnya tidak disadari namun pada akhirnya tidak dapat dipungkiri oleh pembaca iklan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, melalui pemaknaan atas tujuh tema yang telah ditentukan diperoleh hasil terdapat penekanan isu tertentu yang ingin disampaikan Partai Perindo melalui iklan Mars Perindo. Isu itu antara lain : pengukuhan posisi partai, propaganda atas visi misi partai, pembangunan ekonomi, kesejahteraan, pemberdayaan wanita, dukungan terhadap generasi muda dan anak-anak, serta penokohan Hary Tanoesoedibjo sebagai Ikon Partai Perindo. Sedangkan bentuk propaganda yang terdapat dalam iklan Mars Perindo adalah propaganda putih dimana Partai Perindo menyebarkan informasi berupa ideologiy, nilai, visi misi bahkan tujuannya dengan menyebutkan sumbernya, yaitu melalui Mars Perindo yang diputar berulang dalam bentuk iklan di televisi. Sedangkan teknik propaganda yang berkali-kali ditemukan adalah teknik propaganda Flain Folks, dimana sosok Hary Tanoesoedibjo  maupun Liliana Tanoesoedibjo adalah sosok yang merakyat, pelindung dan pembimbing masyarakat sehingga terlihat lebih bersahaja dan berwibawa. Bahkan secara tidak langsung Partai Perindo juga menggunakan teknik propaganda Card Stacking dalam iklan Mars Perindo dimana partai mengungkapkan fakta berupa program unggulan yang sudah dijalankan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, sehingga tujuan akhirnya adalah meyakinkan masyarakat dan merebut simpati masyarakat yang bermuara pada dukungan suara pada pemilihan umum. Kata Kunci : Iklan Politik, Mars Perindo, Semiotika
Opini Publik Cerminan dari Pemerintah dan Kebijakannya itsna h husna
PRoMEDIA Vol 2, No 1 (2016): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.397 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v2i1.313

Abstract

Opini publik mengacu pada sikap masyarakat terhadap suatu masalah ketika mereka adalah anggota dari kelompok sosial yang sama. Opini publik pada dasarnya tidak rasional tetapi didasarkan pada sikap yang pada gilirannya didasarkan pada emosi, prasangka, stereotip, dan sebagainya yang merupakan ada dalam budaya asal. Opini publik tidak ada begitu saja tetapi dibentuk, bahwa suatu opini itu bisa dikatakan sebagai opini publik saat ada kesepakatan bahwa permasalahan tersebut adalah permasalahan bersama
PERAN PPID DALAM MEWUJUDKAN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK isna hidayatul khusna; Unggul Sugiharto
PRoMEDIA Vol 4, No 1 (2018): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.697 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v4i1.1114

Abstract

Tujuan dibuatnya UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) salah satunya adalah mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan badan publik yang baik, yang nantinya dapat mewujudkan masyarakat informasi. Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) salah satu regulator yang melaksanakan amanat undang-undang ini di daerah. Penelitian yang berlokasi di Kabupaten Tegal ini hendak menjawab permasalahan penelitian mengenai bagaimana kinerja PPID Kabupaten Tegal dalam melaksanakan UU KIP demi mewujudkan keterbukaan informasi publik. Dengan menggunakan metode studi kasus, didapat hasil bahwa PPID Kabupaten Tegal sudah melaksanakan tugas, wewenang, dan tanggungjawabnya melaksanakan UU KIP, adapun kendala yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman masyarakat akan UU KIP, dan belum maksimalnya sumber daya manusia di lingkungan PPID itu sendiri yang berakibat pada kurangnya pemahaman tugas, wewenang, dan tanggungjawab sebagai PPID. Dari hasil tersebut diharapkan PPID lebih meningkatkan kinerjanya sehingga makin banyak informasi publik yang bisa diakses oleh masyarakat, dan juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka bisa berperan aktif dalam proses pengambilan kebijakan publik, serta mengetahui informasi apa saja yang boleh diberikan kepada masyarakat atau informasi-informasi apa saja yang dikecualikan.Kata kunci: Keterbukaan Informasi Publik, Masyarakat Informasi, Kinerja

Page 4 of 18 | Total Record : 172