cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta utara,
Dki jakarta
INDONESIA
PRoMEDIA
ISSN : -     EISSN : 24609633     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL TENTANG PERMASALAHAN DAN ISU TERKINI DALAM PERKEMBANGAN KEHUMASAN SERTA MEDIA KOMUNIKASI. DITERBITKAN OLEH PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
PERENCANAAN STRATEGIS KAMPANYE BANDUNG ECO TRANSPORT OLEH GERAKAN BUDAYA DISIPLIN BANDUNG muhammad Al fata ramadhan; Hanny Hafiar; Ari Agung Prastowo
PRoMEDIA Vol 5, No 1 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.729 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i1.1620

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan strategis kampanye Bandung Eco Transport, untuk mengetahui mengetahui formatif riset, perencanaan tindakan strategis, pelaksanaan komunikasi, dan evaluasi dari kampanye Bandung Eco Transport oleh Gerakan Budaya Disiplin Bandung tentang ketertiban dan keadaan kota bebas macet. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep kampanye Humas oleh Shannon A. Bowen. Metodologi yang digunakan yaitu pendekatan deskriptif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara, penelusuran online, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah proses perencanaan strategis yang dilakukan Gerakan Budaya Disiplin Bandung untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Bandung tentang ketertiban lalu lintas dan keadaan kota bebas macet. Hasil dari perencanaan strategis ini tidak sesuai antara perencanaan dan pelaksanaannya.Kata Kunci: Kampanye, Perencanaan Strategis, Gerakan Budaya Disiplin Bandung. ABSTRACTThis study aims to find out the strategic planning of Bandung Eco Transport campaign, to determine the formative research, the strategic planning process, the implementation, and the evaluation of Bandung Eco Transport Campaign by Gerakan Budaya Disiplin Bandung in traffic order. The concept used in this study is the concept of the Public Relations campaign by Shannon A. Bowen. The methodology used is descriptive approach. The research data was collected by observation, interview, online search, and literature study. The results of this research, the strategic planning process of the campaign by Gerakan Budaya Disiplin Bandung is to increase Bandung's public awareness about traffic order and traffic jams. The results of this strategic planning is, the implementation don’t match the planning of the campaign. Keywords: Campaign, Strategic Planning, Gerakan Budaya Disiplin Bandung
Kebebasan Berekspresi dan Hoaks bambang mudjiyanto
PRoMEDIA Vol 5, No 1 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.642 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i1.1613

Abstract

Kebebasan berekspresi merupakan hak asasi mendasar yang dijamin dan memiliki makna esensial dalam demokrasi. Kebebasan berekspresi menjadi jembatan bagi pemenuhan hak asasi lainnya seperti hak-hak ekonomi, sosial, budaya, informasi, sipil, politik sering dimulai dari kritik-kritik terhadap lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif lewat berbagai ekspresi dengan menggunakan sarana-sarana yang ada. Meski demikian diakui juga kebebasan berekspresi bukanlah hak absolut dan bisa dilimitasi.Berita hoaks biasa sering muncul dalam suatu momen tertentu dan peristiwa tertentu seperti masa kampanye Pemilihan Presiden, Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Anggota Legislatif, Pemilihan Dewan Pimpinan Daerah atau pun peristiwa-peristiwa yang dianggap tidak biasa seperti fenomena alam dan kejadian-kejadian lainnya. Derasnya arus informasi dan kemudahan akses informasi melalui sarana teknologi informasi dan komunikasi membuat masyarakat dengan mudah mencari, membuat, dan menerima informasi/berita yang belum tentu kebenarannya tanpa menyaring dari mana sumbernya. Berita hoaks merupakan usaha untuk menipu mempercayai sesuatu, padahal sang pembuat tahu bahwa berita tersebut palsu adanya.    Kata-kata Kunci: Hoaks, Kebebasan, Berekspresi 
MAKNA LOGO BARU INDONESIA TOURISM DEVELOPMENT CORPORATION (ITDC) SEBAGAI CORPORATE REBRANDING (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce mengenai Makna Logo Baru Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai Corporate Rebranding) Rinintha Mazaya; Iriana Bakti; Heru Ryanto Budiana
PRoMEDIA Vol 5, No 1 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.389 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i1.1621

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simbol-simbol yang terdapat pada logo baru Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), mengetahui makna dari simbol-simbol yang terdapat pada logo baru ITDC, dan mengetahui kaitan makna logo baru ITDC dengan corporate Rebranding. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Hasil penelitian menunjukkan logo baru ITDC terdiri dari tiga simbol, yaitu simbol logogram burung garuda, simbol logotype ITDC, dan simbol logotype tagline. Simbol logogram burung garuda memiliki makna sifat nasionalisme negara Indonesia, simbol logotype ITDC memiliki makna perubahan ITDC yang lebih modern, dan simbol logotype tagline memiliki makna misi ITDC sebagai pencipta destinasi-destinasi wisata baru di Indonesia. Makna dari masing-masing simbol memiliki kaitan dengan tahapan proses Rebranding yang meliputi faktor Rebranding, proses Rebranding, dan hasil Rebranding. Saran dalam penelitian ini sebaiknya menggunakan nama perusahaan yang lengkap pada simbol logotype ITDC, menggunakan gambar burung garuda yang lebih jelas dan nyata (real) pada simbol logogram burung garuda, dan melakukan pengkajian terhadap makna dari simbol-simbol yang terdapat pada logo baru ITDC dan mengaitkannya dengan tahapan proses Rebranding.Kata kunci: Semiotika, Charles Sanders Peirce, Logo, ITDC  ABSTRACT The purposes of this study are to determine the symbols contained in ITDC new logo, the meaning contained within the symbols, and the relations between the meaning of ITDC new logo with corporate Rebranding. This study uses qualitative methods with semiotics analysis from Charles Sanders Peirce. The results of this study showed ITDC new logo consists of three symbols, which are symbol of eagle logogram, symbol of ITDC logotype, and symbol of tagline logotype. The meaning of eagle logogram is the nature of Indonesian nationalism, the meaning of ITDC logotype is more modern change of ITDC, and the meaning of tagline logotype is ITDC mission as the creator of new tourist destinations in Indonesia. The meaning of each symbol related to the stages of Rebranding process which includes the Rebranding factors, Rebranding process, and Rebranding results. Researcher suggested that ITDC should use the complete company name in the symbol of ITDC logotype, use a more vivid and more real eagle image to be used in the symbol of eagle logogram, and to conduct an assessment of the meaning contained within the symbols of ITDC new logo and relate it to the stages of Rebranding process.Keywords: Semiotics, Charles Sanders Peirce, Logo, ITDC
BODY SHAMING DI DUNIA MAYA: STUDI NETNOGRAFI PADA AKUN YOUTUBE RAHMAWATI KEKEYI PUTRI CANTIKA Sri Wahyuning Astuti; Yenny Yenny
PRoMEDIA Vol 5, No 1 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.507 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i1.1624

Abstract

Body shaming atau mencela orang lain atas penampilan fisik hingga saat ini masih banyak ditemui baik didunia nyata maupun dunia maya. Memberikan komentar baik positif maupun negatif, menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari penggunaan media sosial. Beragam komentar diberikan pelaku body shaming mulai dari penampilan fisik, fat shaming, wajah, kulit tubuh, hidung dan semua yang melekat pada anggota tubuh. Korban body shaming tidak hanya artis terkenal, namun juga influencer maupun pengguna media sosial lain tidak lepas dari komentar netizen. Seperti yang dialami oleh Rahmawati kekeyi putri. Beauty blogger yang mengupload tutorial make up yang “anti mainstream” ini juga mendapatkan body shaming. Penelitian ini, mencoba memetakan jenis dan pola body shaming yang diterima oleh Rahmawati Kekeyi Putri, dengan menggunakan pendekatan netnografi dari youtube milik Rahmawati Kekeyi Putri. Hasil kajian menunjukkan, bahwa masih banyak netizen yang melakukan body shaming, dengan komentar yang beragam. Kata kunci: Body shaming, youtube, beauty vlogger, netnografi Body shaming or denouncing others for their physical appearance is still widely found in both the real world and cyberspace. Giving comments, both positive and negative, becomes a part that is not separated from the use of social media. Various comments were given by the body shaming actors starting from physical appearance, fat shaming, face, skin, nose and all that are attached to the limbs. Body shaming victims are not only famous artists but also influencers and other social media users cannot be separated from netizens' comments. As experienced by Rahmawati kekeyi putri. Beauty bloggers who upload makeup tutorials that are "anti-mainstream" also get body shaming. This research, trying to map the type and pattern of body shaming received by Rahmawati Kekeyi Putri, by using a netnographic approach from youtube owned by Rahmawati Kekeyi Putri. The results of the study show that there are still many netizens who do body shaming, with various comments. Keywords: Body shaming, youtube, beauty vlogger, netnography
VICTIM BLAMING KASUS PELECEHAN SEKSUAL: STUDI NETNOGRAFI PELECEHAN SEKSUALTERHADAP VIA VALEN DI INSTAGRAM Sri Wahyuning Astuti; Dyah Pradoto; Gustina Romaria
PRoMEDIA Vol 5, No 1 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.779 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i1.1625

Abstract

Kasus pelecehan seksual di dunia maya dari tahun ke tahun jumlahnya semakin bertambah. Pelecehan daring paling banyak berasal dari aplikasi sosial media yakni sebanyak 66%, sedangkan 22% berasal dari kolom komentar. Seperti yang dialami oleh Via vallen, yang mendapatkan pelecehan seksual yang berupa seduction, yakni rayuan seksual, sensual yang diucapkan secara senonoh.  Keberanian Via vallen yang mengungkap kasus yang dialaminya di media sosial, justru menuai victim blaming. Sebagai korban Via justru banyak disalahkan oleh netizen. Penelitian ini mencoba memetakan Victim Blaming yang dialami oleh Via Vallen atas kasus pelecehan seksual yang menimpanya, berdasarkan komentar netizen dari instagram yang dimuat oleh akun gosip @lambeturah. Penelitian dengan menggunakan pendekatan netnografi, yakni mencoba memahami tipe dari relasi sosial pada instagram. Hasil kajian menunjukkan, bahwa masih banyak netizen yang melakukan victim blaming atas kasus pelecehan seksual yang menimpa Via Valen. Kata kunci: victim blaming, via vallen, netnografi, pelecehan seksual AbstractCases of sexual abuse in cyberspace are increasing from year to year. Most online harassment comes from social media applications, namely as much as 66%, while 22% comes from the comments column. As experienced by Via vallen, who get sexual harassment in the form of seduction, namely sexual, sensual seduction spoken profusely. Courage Via vallen which revealed her case on social media, it even resulted in victim blaming. As a Via victim, many are blamed by netizens. This research tries to map Victim Blaming experienced by Via Vallen over sexual abuse cases that happened to him, based on comments from netizens from Instagram that were loaded by gossip accounts @ lambeturah. Research using a netnographic approach, namely trying to understand the type of social relations on Instagram. The results of the study show that there are still many netizens who victimize blaming over cases of sexual abuse that afflict Via Valen. Keywords: victim blaming, via vallen, netnography, sexual abuse
MEMAHAMI JURNALISME PADA ERA DIGITAL Djoko Waluyo
PRoMEDIA Vol 5, No 1 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.28 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i1.1614

Abstract

Artikel ini mengulas tentang  memahami jurnalisme pada era digital , dimana pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah makna dan pemahaman orang mengenai jurnalisme. Kehadiran Internet yang dimanfaatkan dalam aktivitas jurnalisme telah mampu menyajikan penyebaran informasi dengan cepat. Serta wartawan dalam mencari,mengolah dan distribusi informasi berupa berita dan gambar, telah mampu sampai ke pelosok daerah dengan cepat,tepat dan seketika.Media konvensional makin ditinggalkan,namun masih tetap diperlukan kehadirannya. Sedangkan media baru dan media siber menjadi komplementer bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan informasinya.Cara kerja wartawan juga berubah dalam era digital. Dengan demikian,pengguna atau pembaca berita dapat dengan mudah mengakses informasi dari seperangkat alat komputer atau smartphone yang canggih.  Kata-kata kunci : jurnalisme, internet, era digital.    
Ekonomi Politik Media Dalam New Media (Studi Deskriptif Praktik Spasialisasi pada Channel Youtube Atta Halilintar) Khairanisa Rabbani; Danang Trijayanto
PRoMEDIA Vol 5, No 1 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.085 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i1.1697

Abstract

Penelitian ini mendalami mengenai ekonomi politik media yang terfokus dengan spasialisasi. Peneliti menjadi tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Ekonomi Politik Media Dalam new media dengan metode Studi Deskriptif yang fokus pada Praktik Spasialisasi pada Channel Youtube Atta Halilintar. Praktik Spasialisasi yang ditemukan adalah: Media youtube Atta Halilintar diintegrasikan dengan media sosial, integrasi dengan lini corporation dan kolaborasi dengan youtuber Indonesia lainnya.Kata Kunci: Spasialisasi, Media baru, New media, YoutubeAbstractThis study explores the political economy of media that is focused on spatialization. Researchers become interested in conducting research on the Political Economy of Media in the new media with the Descriptive Study method that focuses on the practice of Spatialization on Atta Halilintar's Youtube Channel. Spatialization practices found are: Atta Halilintar's youtube media is integrated with social media, integration with corporation lines and collaboration with other Indonesian YouTubers.Keywords: Spatialalization , New media, Youtube
Corporate Social Responsibility renandha adhi nugraha
PRoMEDIA Vol 2, No 1 (2016): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.885 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v2i1.341

Abstract

ABSTRAK Tanggung jawab sosial menjadi sangat penting menurut penulis, karena merupakan itikad baik dari perusahaan untuk melakukan perbaikan di dalam masyarakat dan lingkungan. Ada tujuh subyek inti yang harus diperhatikan dalam tanggung jawab social, antara lain otoritas perusahaan, hak asasi manusia, praktek tenaga kerja, lingkungan, praktek operasi yang adil, masalah konsumen, keterlibatan dan pembangunan komunitas sekita. . Tanggung jawab sosial yang harus dilakukan oleh perusahaan pun harus melakukan  hal yang sama, yaitu berbuat baik kepada karyawannya, masyarakat dan lingkungan sekitar. Menghindari konflik lebih baik daripada menciptakan konflik, berbuat sesuai dengan nilai-nilai, etika, dan penghargaan kepada sesama manusia..  
DEEPFAKE, TANTANGAN BARU UNTUK NETIZEN (DEEPFAKE, A NEW CHALLENGE FOR NETIZEN) Itsna Hidayatul Khusna, M.A; Sri Pangestuti
PRoMEDIA Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.868 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i2.2300

Abstract

AbstractDeepfake is a technique for human image synthesis based on artificial intelligence. It is used to combine and superimpose existing images and videos onto source images or videos using a machine learning technique known as generative adversarial network (GAN). This article explained why deepfake can become a new challenge for netizen. The purpose in this research is understanding the new challenge for netizen, and the transition of information and communication technology become everybody awareness, so that they can respond wisely. For answering the question in this article, researcher use literature study that use articles from several source. This research resulted some issues (1) deepfake can be a challenge for netizen because deepfake can spread hatred, (2) deepfake become propaganda tool, and (3) become political tool. Because of those issues, netizen should have good emotional quotient (EQ) when they became internet user.Key word: Deepfake, Netizen, Emotional Quotient AbstrakDeepfake merupakan teknik sintetis citra manusia yang berdasarkan pada kecerdasan buatan/AI. Ini digunakan untuk menggabungkan serta menempatkan gambar dan video yang ada ke sumber gambar atau video menggunakan teknik mesin belajar yang dikenal sebagai jaringan generatif adversarial (GAN). Dalam tulisan ini akan dijelaskan mengapa depfake bisa menjadi tantangan baru bagi netizen. Tujuannya adalah untuk mengetahui tantangan baru netizen, serta agar kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi menjadi perhatian khusus bagi semua kalangan, sehingga semua bisa menyikapinya dengan bijaksana. Untuk menjawab pertanyaan dalam penelitian, penulis menggunakan metode literatur yang bersumber dari beberapa sumber tulisan artikel. Dari studi literatur tersebut didapatkan hasil bahwa (1) deepfake bisa menjadi tantangan bagi netizen karena deepfake bisa menyebarluaskan kebencian, (2) menjadi alat propaganda, dan (3) alat politik. Karena itu netizen dituntut untuk mempunyai kecerdasan emosional (EQ) yang baik saat menjadi pengguna internet.Kata kunci: Deepfake, Netizen, Kecerdasan Emosional
Pengalaman YouTuber Kota Bandung Dalam Membentuk Identitas Diri Virtual Dalam Media YouTube Achwan Noorlistyo Adi; Jenny Ratna Suminar; Nuryah Asri Sjafirah
PRoMEDIA Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.207 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i2.2337

Abstract

In the realm of the virtual world, social media has become a place or means to try everything related to the process of forming self-identity. A person's self identity in this virtual world can be created differently from his real identity in the real world, or it can also be the same as one's self identity in the real world or real everyday life.The purpose of this study is to find out how the Bandung YouTuber experience shapes its virtual identity. This study uses constructivist paradigms, qualitative approaches and phenomenological methods. Data collection techniques used in-depth interviews with 4 Bandung YouTubers, namely Royan, Kery, Hisqie and Minyo.The results of this study revealed that the YouTubers had pride and felt themselves worthy after being actively involved in the YouTube world. The pride arises because they can be more productive, known to many people, and able to make people's views of themselves become positive. YouTuber Bandung City also has a unique virtual identity, some create a new identity that is not the same as the original identity, some are still the same as their daily lives. Keyword: Virtual Identity, Self Image, Self Esteem, YouTuberABSTRAKDalam ranah dunia virtual, media sosial telah menjadi tempat atau sarana untuk mencoba segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pembentukan identitas diri.  Identitas diri seseorang dalam dunia virtual ini bisa diciptakan berbeda dengan identitas aslinya di dunia nyata, ataupun bisa juga sama dengan identitas diri seseorang tersebut di dunia nyata atau kehidupan sehari-hari yang sesungguhnya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengalaman YouTuber Kota Bandung membentuk identitas virtualnya. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam kepada 4 orang YouTuber Kota Bandung, yaitu Royan, Kery, Hisqie dan Minyo.Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa para YouTuber memiliki kebanggaan dan merasa dirinya berharga setelah berkecimpung aktif di dunia YouTube. Rasa bangga tersebut muncul karena mereka bisa lebih produktif, dikenal banyak orang, serta mampu membuat pandangan orang terhadap diri mereka menjadi positif. YouTuber Kota Bandung juga memiliki identitas virtual yang unik, ada yang membuat identitas baru yang tidak sama dnegan identitas aslinya, ada pula yang tetap sama dengan kesehariannya.Keyword: Identitas Virtual, Self Image, Self Esteem, YouTuber

Page 6 of 16 | Total Record : 158