cover
Contact Name
Kalis Stevanus
Contact Email
kalisstevanus91@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalfidei@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
ISSN : 26218151     EISSN : 26218135     DOI : https://doi.org/10.34081/fidei
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika focusing on submission of field research results, systematic Theology, and practical theology, the study of Evangelical Theology and Community Development is not only internal of STT Tawangmangu but also external intitution with ratio 40:60. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika published twice a year is the month of June (the limits of acceptance of the script in March) and December (the limits of acceptance of the script in September).
Arjuna Subject : -
Articles 165 Documents
Persahabatan Dengan Dunia sebagai Krisis Loyalitas Iman dan Relevansinya bagi Gereja Kontemporer: Yakobus 4:1–10 Agung Simangunsong; Raulina Raulina
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.808

Abstract

James 4:1–10 focuses on the theme of friendship with the world as a form of hostility toward God through a historical-critical interpretation. James emphasizes faith in concrete practice through deeds within the life of the Christian community. This study highlights conflict rooted in hēdonē (lust), contrasted with loyalty and the priority of faith in the early Christian community and related to the present social context. The method used is qualitative, based on literature study with historical-critical analysis of the social, cultural, and theological background of the text. The findings show that conflict and communal unfaithfulness stem from desires that do not prioritize God in life. The term moichalides as a metaphor for “spiritual adultery” (James 4:4) refers to the Old Testament prophetic tradition describing the breakdown of the covenant relationship due to worldly orientation. James affirms that this issue is not merely ethical, but a theological crisis of loyalty that affects both vertical and horizontal relationships. Therefore, this text remains relevant in a contemporary context marked by materialism and individualism, emphasizing that Christian faith must be active, ethical, and oriented toward the restoration of relationships with God and others. AbstrakYakobus 4:1–10 berfokus pada tema persahabatan dengan dunia sebagai bentuk permusuhan kepada Allah melalui tafsiran historis-kritis. Yakobus menekankan iman dalam praktik nyata melalui perbuatan dan kehidupan komunitas Kristen. Penelitian ini menyoroti konflik yang berakar pada hawa nafsu (hēdonē), diperhadapkan dengan loyalitas dan prioritas iman dalam komunitas Kristen mula-mula serta dikaitkan dengan konteks sosial masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui studi literatur dengan analisis historis-kritis terhadap latar sosial, budaya, dan teologi teks. Kajian menunjukkan bahwa konflik dan ketidaksetiaan komunitas bersumber dari hawa nafsu yang tidak memprioritaskan Allah. Istilah moichalides sebagai metafora “perzinahan rohani” (Yak. 4:4) merujuk pada tradisi profetik Perjanjian Lama tentang rusaknya relasi perjanjian akibat orientasi duniawi.Yakobus menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar etika, melainkan krisis loyalitas teologis yang berdampak pada relasi vertikal dan horizontal. Karena itu, teks ini relevan bagi konteks kini yang ditandai materialisme dan individualisme serta menegaskan bahwa iman Kristen harus aktif, etis, dan berorientasi pada pemulihan relasi dengan Allah dan sesama.
Teologi Feminis dan Dinamika Kesetaraan Gender dalam Pelayanan Gereja di Tengah Globalisasi Yohana Fajar Rahayu; Elisa Nimbo Sumual; Yonatan Alex Arifianto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.816

Abstract

Modern globalisation has brought significant changes to various aspects of life, including social dynamics and religious practices in the church, which demand new theological reflection on gender roles. Gender inequality remains a major issue, with women often experiencing limitations in their access to leadership positions and full participation in church ministry. On the other hand, traditional theology tends to maintain a patriarchal paradigm that limits perspectives on gender equality and influences pastoral practices. This study aims to analyse the contribution of feminist theology in shaping the dynamics of gender equality in church ministry amid modern globalisation. Using a qualitative research method with a literature review approach, it can be concluded that feminist theology serves as a critical framework that challenges patriarchal paradigms in theology and church practice. Through a biblical reinterpretation that is sensitive to women's experiences, feminist theology opens up a space for a more just and equal understanding of gender relations. The dynamics of gender equality in church structures and ministry require institutional and cultural transformation. AbstrakGlobalisasi modern telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dinamika sosial dan praktik keagamaan di gereja, yang menuntut refleksi teologis baru terkait peran gender. Ketimpangan gender masih menjadi isu utama, di mana perempuan seringkali mengalami keterbatasan dalam akses terhadap posisi kepemimpinan dan partisipasi penuh dalam pelayanan gereja. Di sisi lain, teologi tradisional cenderung mempertahankan paradigma patriarkal yang membatasi perspektif kesetaraan gender dan mempengaruhi praktik pastoral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi teologi feminis dalam membentuk dinamika kesetaraan gender dalam pelayanan gereja di tengah globalisasi modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dapat disimpulkan bahwa teologi feminis berfungsi sebagai kerangka kritis yang menantang paradigma patriarkal dalam teologi dan praktik gereja. Melalui reinterpretasi biblika yang sensitif terhadap pengalaman perempuan, teologi feminis membuka ruang pemahaman yang lebih adil dan setara terhadap relasi gender. Dinamika kesetaraan gender dalam struktur dan pelayanan gereja menuntut transformasi institusional dan kultural.
Konsep Ciptaan Baru Sebagai Dasar Teologis untuk Menjawab Krisis Identitas Manusia Modern Herman Suwito; Ayub Sugiharto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.820

Abstract

This article examines the theological concept of new creation in 2 Corinthians 5:17 as a foundation for addressing the contemporary crisis of human identity, characterized by individualism, relativism, and moral disorientation. This crisis reveals the inadequacy of identity constructions based on subjective values detached from transcendent truth. This study employs a qualitative approach through library research, utilizing a biblical-exegetical method grounded in the historical-grammatical approach. The analysis focuses on the literary context of 2 Corinthians 5:14–21, a lexical study of en Christō and kainē ktisis, and a theological synthesis within Paul’s framework of reconciliation and renewed identity. The findings demonstrate that new creation signifies an ontological transformation encompassing theological, soteriological, ethical, and ecclesiological dimensions. This renewed identity is rooted in God’s reconciling work in Christ and is expressed in both personal and communal life. In conclusion, the concept of new creation offers a comprehensive theological framework for responding to the modern identity crisis by affirming that true identity is found in relationship with Christ. This study highlights its doctrinal, existential, and missional implications for contemporary Christian life. AbstrakArtikel ini mengkaji konsep teologis ciptaan baru dalam 2 Korintus 5:17 sebagai dasar untuk merespons krisis identitas manusia modern yang ditandai oleh individualisme, relativisme, dan disorientasi moral. Krisis ini menunjukkan ketidakcukupan konstruksi identitas yang bertumpu pada nilai subjektif yang terlepas dari kebenaran transenden. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna teologis ciptaan baru serta relevansinya dalam menjawab krisis identitas kontemporer.  Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dengan metode eksegesis biblika berbasis pendekatan historis gramatikal. Analisis difokuskan pada konteks literer 2 Korintus 5:14–21, kajian leksikal terhadap istilah en Christō dan kainē ktisis, serta sintesis teologis dalam kerangka rekonsiliasi dan identitas baru menurut Paulus.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciptaan baru merupakan transformasi ontologis yang mencakup dimensi teologis, soteriologis, etis, dan eklesiologis. Identitas baru ini berakar pada karya rekonsiliasi Allah di dalam Kristus dan terwujud dalam kehidupan personal maupun komunal.  Kesimpulannya, konsep ciptaan baru menyediakan kerangka teologis yang komprehensif untuk menjawab krisis identitas modern dengan menegaskan bahwa identitas sejati hanya ditemukan dalam relasi dengan Kristus. Implikasinya bersifat doktrinal, eksistensial, dan misioner bagi kehidupan Kristen kontemporer.
Kajian Etika Biblis terhadap Praktik Judi dan Konsumerisme Bofry Wahyu Samosir; Bobby Steven Octavianus Timmerman
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.826

Abstract

This article discusses the study of biblical ethics of gambling practices and modern consumerism. Biblical ethics is an academic discipline that integrates exegesis, historical context, and philosophical-theological reflection to address contemporary moral challenges. In this study, exegesis is integrated with contemporary contexts to examine the phenomenon of gambling and consumerism in the light of biblical ethics. Using a biblical ethical approach to wisdom texts such as Proverbs and Psalms, the Gospels, and some of Paul's letters, this article seeks to trace the spiritual roots of believers' economic behavior. The method used is qualitative-descriptive with literature review and theological analysis of biblical texts and moral theology. The results of the study show that both gambling and consumerism are not just moral and social problems, but also anthropological symptoms of the human heart that misplace the source of meaning and security in daily life. Biblical ethics affirms that human dignity lies in its existence as imago Dei. Thus, Christian repentance means changing the orientation of life from the worship of mammon to the true worship of God in Christ. The ethical implication is that it leads people to work to accumulate money and wealth in a positive way, and, as stewards of God's creation, Christians are called to use these resources wisely, responsibly, and for the common good. AbstrakArtikel ini membahas kajian etika biblis terhadap praktik judi dan konsumerisme modern. Etika biblis merupakan disiplin akademik yang mengintegrasikan eksegesis, konteks historis, dan refleksi filosofis-teologis untuk menjawab tantangan moral kontemporer. Dalam penelitian ini, eksegesis diintegrasikan dengan konteks kontemporer untuk menelaah fenomena judi dan konsumerisme dalam terang etika biblis. Dengan menggunakan pendekatan etika biblis terhadap teks hikmat seperti Amsal dan Mazmur, Injil, maupun beberapa surat Paulus, artikel ini hendak menelusuri akar spiritual dari perilaku ekonomi manusia beriman. Metode yang digunakan bersifat kualitatif-deskriptif dengan kajian pustaka dan analisis teologis terhadap teks Alkitab serta teologi moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik judi maupun konsumerisme bukan sekadar persoalan moral dan sosial, tetapi juga merupakan gejala antropologis dari hati manusia yang salah menempatkan sumber makna dan keamanan dalam hidup sehari-hari. Etika biblis menegaskan bahwa martabat manusia terletak pada keberadaannya sebagai imago Dei. Dengan demikian, pertobatan kristiani berarti mengubah orientasi hidup dari penyembahan kepada mamon menuju penyembahan sejati kepada Allah di dalam Kristus. Implikasi etisnya adalah menuntun manusia bekerja guna mengumpulkan uang maupun harta dengan cara yang positif, dan sebagai pengelola ciptaan Allah, umat Kristen dipanggil untuk menggunakan sumber daya tersebut secara bijaksana, penuh tanggung jawab, dan demi kesejahteraan bersama.
Ratu Adil sebagai Jembatan Kontekstual: Membaca Konsep Mesias Perjanjian Baru melalui Narasi Damarwulan Arif Wicaksono; David Eko Setiawan
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.827

Abstract

The concept of the Messiah in the New Testament is often understood within a Jewish theological framework that may be unfamiliar to Indonesian audiences. Therefore, a contextual approach is needed to bridge this understanding through local cultural symbols and narratives. This research aims to interpret the concept of the Messiah in the New Testament through the Javanese cultural narrative of the Ratu Adil, particularly in the story of Damarwulan. The research employs a qualitative method using contextual theology and narrative analysis of biblical texts alongside Javanese literary traditions. The findings indicate that the figure of Ratu Adil in the Damarwulan narrative shares thematic parallels with the concept of the Messiah, especially in aspects of liberation, restoration of justice, and victory over evil. However, there are fundamental theological differences, particularly regarding the universal salvation and divine nature of the Messiah in Christian faith. This study concludes that the narrative of Ratu Adil can function as a hermeneutical bridge for explaining the Messiah concept to Javanese communities without losing the uniqueness of New Testament theology. AbstrakKonsep Mesias dalam Perjanjian Baru sering dipahami dalam kerangka teologis Yahudi yang kurang akrab bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu diperlukan pendekatan kontekstual yang mampu menjembatani pemahaman tersebut melalui simbol dan narasi budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk membaca konsep Mesias dalam Perjanjian Baru melalui narasi budaya Jawa tentang Ratu Adil, khususnya dalam kisah Damarwulan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis teologi kontekstual dan kajian naratif terhadap teks Alkitab serta tradisi sastra Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa figur Ratu Adil dalam narasi Damarwulan memiliki kesamaan tematik dengan konsep Mesias, terutama dalam aspek pembebasan, pemulihan keadilan, dan kemenangan atas kejahatan. Namun demikian terdapat perbedaan teologis yang mendasar, khususnya dalam dimensi keselamatan universal dan natur ilahi Mesias dalam iman Kristen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa narasi Ratu Adil dapat berfungsi sebagai jembatan hermeneutis untuk menjelaskan konsep Mesias kepada masyarakat Jawa tanpa menghilangkan keunikan teologi Perjanjian Baru.