cover
Contact Name
Kalis Stevanus
Contact Email
kalisstevanus91@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalfidei@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
ISSN : 26218151     EISSN : 26218135     DOI : https://doi.org/10.34081/fidei
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika focusing on submission of field research results, systematic Theology, and practical theology, the study of Evangelical Theology and Community Development is not only internal of STT Tawangmangu but also external intitution with ratio 40:60. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika published twice a year is the month of June (the limits of acceptance of the script in March) and December (the limits of acceptance of the script in September).
Arjuna Subject : -
Articles 165 Documents
Kontekstualisasi Nilai Kekristenan dalam Upacara Hajat Sasih di Kampung Naga Hotmantri Simbolon; Ferry Irwanto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.653

Abstract

The Hajat Sasih ceremony in Kampung Naga, Tasikmalaya, represents a traditional ritual rich in local wisdom and spirituality. This study aims to analyze how Christian values can be contextualized within this ritual without compromising the integrity of Christian faith. Using a qualitative approach through literature study, this research employs the framework of critical contextualization as proposed by Paul G. Hiebert. The findings indicate that several elements such as gratitude, communal life, ecological awareness, humility, and social solidarity can be contextually integrated, while elements conflicting with biblical teachings require transformation. This study contributes to the discourse of contextual theology by offering a balanced model between faithfulness to the Gospel and cultural relevance. AbstrakUpacara Hajat Sasih di Kampung Naga merupakan ritual adat yang mencerminkan kearifan lokal dan spiritualitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana nilai-nilai kekristenan dapat dikontekstualisasikan dalam upacara tersebut tanpa menghilangkan identitas iman Kristen. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Penelitian ini menggunakan kerangka kontekstualisasi kritis dari Paul G. Hiebert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai seperti syukur, kebersamaan, ekoteologi, dan kerendahan hati dapat diintegrasikan, sementara unsur yang bertentangan dengan Alkitab perlu ditransformasi. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan teologi kontekstual yang seimbang antara kesetiaan pada Injil dan relevansi budaya.
Teologi Sapaan: Pelayanan Non-Verbal sebagai Pewartaan Firman Tuhan di Gereja Kontemporer Tiopan Aruan
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.671

Abstract

This research is motivated by the tendency of the contemporary church to identify ministry primarily with pulpit activities and verbal proclamation, thus neglecting non-verbal expressions such as greetings, smiles, and interpersonal presence. Several studies on Christian hospitality have emphasized ethical and communal aspects, but have not specifically examined non-verbal ministry as a form of evangelism within a practical theological framework. The method used is a qualitative-descriptive approach through literature studies, with practical theology as an interpretive framework for understanding church practices as a locus of theological reflection. This research aims to build a theological understanding of non-verbal ministry as an integral part of evangelism in the contemporary church. The results show that non-verbal ministry, such as friendly greetings and church hospitality, is not merely a form of social ethics, but a theological action that concretely communicates God's love in interpersonal relationships. Furthermore, this form of ministry serves as the starting point for faith encounters, where individuals first experience the presence of the church and the Gospel message, even before hearing the verbal proclamation.AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan gereja kontemporer yang mengidentikkan pelayanan terutama dengan aktivitas mimbar dan pewartaan verbal, sehingga mengabaikan ekspresi non-verbal seperti sapaan, senyuman, dan kehadiran interpersonal. Sejumlah studi mengenai hospitalitas Kristen telah menekankan aspek etis dan komunal, namun belum secara khusus mengkaji pelayanan non-verbal sebagai bentuk pewartaan Injil dalam kerangka teologi praktis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, dengan teologi praktis sebagai kerangka interpretatif untuk memahami praktik gerejawi sebagai lokus refleksi teologis. Penelitian ini bertujuan untuk membangun pemahaman teologis mengenai pelayanan non-verbal sebagai bagian integral dari pewartaan Injil dalam gereja kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan non-verbal, seperti sapaan yang ramah dan hospitalitas gerejawi, bukan sekadar bentuk etika sosial, melainkan tindakan teologis yang secara konkret mengomunikasikan kasih Allah dalam relasi antarpribadi. Lebih lanjut, bentuk pelayanan ini berfungsi sebagai titik awal perjumpaan iman, di mana individu pertama kali mengalami kehadiran gereja dan pesan Injil, bahkan sebelum mendengar pewartaan verbal.
Pemanfaatan AI Sebagai Upaya Mengembangkan Motivasi Bersaksi di Cyberspace Harnum Easteria; Santosa; Guntur Firman Apri Yanto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.686

Abstract

Entering the digital era, various forms of technology have emerged, accompanied by the rise of the homo digitalis generation, which brings new opportunities for the practice of evangelism. Adolescents are the most active and dominant users of digital technology, and therefore can be categorized as the largest segment of homo digitalis. This study aims to analyze the use of AI to creatively and contextually motivate the youth of GKJTU Sinai Senden to carry out evangelism in cyberspace. Training in the use of AI can significantly increase adolescents’ motivation to engage in evangelism in the digital space, making the process of witnessing easier, more engaging, and more efficient. AI assists in creating various types of content such as images, videos, and songs that can be shared in cyberspace. This increase in motivation occurs because AI simplifies the creative process, enhances creativity, saves time, and aligns with the digital culture of adolescents, thereby boosting their confidence in witnessing. AbstrakMemasuki era digital, berbagai bentuk teknologi bermunculan, disertai hadirnya generasi homo digitalis yang membawa peluang baru dalam pelaksanaan penginjilan. Remaja merupakan pengguna teknologi digital yang paling aktif dan dominan, sehingga dapat dikategorikan sebagai bagian terbesar dari homo digitalis. Tujuan penelitian ini menganalisis pemanfaatan AI untuk memotivasi remaja GKJTU Sinai Senden secara kreatif dan kontekstual melakukan penginjilan di cyberspace. Pelatihan pemanfaatan AI secara signifikan bisa meningkatkan motivasi remaja dalam melakukan penginjilan di ruang digital, proses bersaksi menjadi lebih mudah, menarik, dan efisien. AI membantu dalam membuat berbagai konten seperti gambar, video, dan lagu yang dapat dibagikan di cyberspace. Peningkatan motivasi ini terjadi karena AI memudahkan proses berkarya, meningkatkan kreativitas, menghemat waktu, serta sesuai dengan budaya digital remaja, sehingga lebih percaya diri dalam bersaksi.
Kedai Kopi Gereja sebagai Ruang Penginjilan dan Pemberdayaan Jemaat Parlaungan Christoffel Simanjuntak
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.692

Abstract

Social and cultural transformations in the contemporary era require the Church to formulate mission strategies that are contextual without neglecting its core teachings. This study explores the integration of the practice of fellowship (hospitality), as a sacramental and communal expression, with the functions of modern public spaces such as coffee shops as a means of evangelism. In this context, fellowship is not an official liturgy as in formal worship services, but a form of communion that manifests contextually in informal spaces like coffee shops, where evangelistic and pastoral values can grow organically. This research aims to examine the potential of coffee shops as meeting spaces that support contextual evangelism and church ministry. The study employs a qualitative method with a literature review approach, analyzing books and journal articles related to church mission, contextual evangelism, and the presence of the church in social spaces. The findings indicate that coffee shops have the potential to serve as inclusive, dialogical, and strategic mission spaces for the contemporary Church in carrying out its evangelistic task. AbstrakTransformasi sosial dan budaya di era kontemporer menuntut Gereja untuk merumuskan strategi misi yang kontekstual tanpa mengabaikan ajaran intinya. Penelitian ini mengeksplorasi integrasi praktik persekutuan (hospitality) sebagai ekspresi sakramental dan komunal dengan fungsi ruang publik modern seperti coffee shop sebagai sarana penginjilan. Dalam konteks ini, persekutuan bukanlah liturgi resmi seperti dalam ibadah formal, melainkan bentuk kebersamaan yang hadir secara kontekstual dalam ruang informal seperti coffee shop, di mana nilai-nilai evangelistik dan pastoral dapat bertumbuh secara organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi coffee shop sebagai ruang perjumpaan yang mendukung penginjilan kontekstual dan pelayanan gereja. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, melalui analisis buku dan artikel jurnal yang berkaitan dengan misi gereja, penginjilan kontekstual, dan kehadiran gereja dalam ruang sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa coffee shop memiliki potensi sebagai ruang misi yang inklusif, dialogis, dan strategis bagi Gereja masa kini dalam menjalankan tugas penginjilannya.
Komunitas yang Dikasihi sebagai Obat Rasisme: Membedah Teologi Publik Martin Luther King, Jr. Frederick Ray Popo; Barry Ekaputra; Wahyu Santoso
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.716

Abstract

Racism remains a persistent social problem, rendering the thought and praxis of Martin Luther King, Jr. continually relevant. This article examines King’s role as a public theologian in his struggle against racial discrimination in the United States, particularly within the context of systemic oppression institutionalized through Jim Crow laws. Employing a literature-based research method, this study analyzes King’s sermons, speeches, writings, and relevant secondary sources. The findings indicate that King’s public theology is grounded in biblical inspiration and an ethical understanding of agape love, which is embodied in a strategy of nonviolent resistance. On this foundation, King articulated the vision of the beloved community, a social order characterized by equality, justice, peace, and freedom. This article concludes that King’s thought possesses trans-contextual transformative potential and, through critical reflection, can be creatively appropriated within the Indonesian context to address various forms of discrimination and structural injustice. AbstrakRasisme merupakan persoalan sosial yang terus aktual, sehingga pemikiran dan praksis Martin Luther King, Jr. tetap relevan untuk dikaji. Artikel ini bertujuan menelaah peran King sebagai teolog publik dalam perjuangannya melawan diskriminasi rasial di Amerika Serikat, khususnya dalam konteks penindasan sistemik yang dilembagakan melalui peraturan Jim Crow. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan menganalisis khotbah, pidato, tulisan King, serta literatur sekunder yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa teologi publik King berakar pada inspirasi Kitab Suci dan pemaknaan etis atas cinta agape, yang diwujudkan melalui strategi perjuangan non-kekerasan. Dari landasan ini, King merumuskan visi the beloved community, yakni tatanan sosial yang ditandai oleh kesetaraan, keadilan, perdamaian, dan kebebasan. Artikel ini menyimpulkan bahwa gagasan King memiliki daya transformatif lintas konteks dan, melalui refleksi kritis, dapat diapropriasi secara kreatif dalam konteks Indonesia untuk menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dan ketidakadilan struktural.
Spiritualitas Keadilan Sosial dalam Kehidupan Komunitas: Perspektif Pentakostal atas Kisah Para Rasul 2:41-47 Durman Sihombing; Tutur Parade Tua Panjaitan
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.737

Abstract

Acts 2:41-47 emphasizes the pivotal role of spirituality in fostering social justice within communal life. The rationale for this research is the prevailing reality of social inequality within contemporary communities. Consequently, this study aims to explore how Acts 2:41-47 serves as a model for communal living grounded in social justice from a Pentecostal perspective. The research methodology employs both theological and historical approaches to examine how the early church implemented principles of social justice. Authentic Pentecostal spirituality, which emphasizes the work of the Holy Spirit, is inseparable from a commitment to social action. A profound exegetical analysis of Acts 2:41-47 reveals that genuine Pentecostal spirituality, empowered by the Holy Spirit, is inherently linked to a commitment to social justice. In conclusion, the spirituality of social justice within communal life encompasses communal solidarity, the principle of shared resources, and social harmony. AbstrakKisah Para Rasul 2:41-47 menekankan peran spiritualitas dalam membangun keadilan sosial di kehidupan komunitas. Latar belakang penelitian ini adanya realitas kesenjangan sosial dalam komunitas. Adapun tujuan penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Kisah Para Rasul 2:41-47 menjadi model kehidupan komunitas yang berlandaskan keadilan sosial dalam perspektif Pentakostal. Metode penelitian  menggunakan pendekatan teologis dan historis untuk memahami bagaimana gereja mula-mula menerapkan prinsip keadilan sosial. Spiritualitas Pentakostal yang otentik pada penekanan karya Roh Kudus, tidak dapat dipisahkan dari komitmen terhadap aksi sosial. Analisis mendalam dengan eksegese Kisah Para Rasul 2:41-47 mengungkapkan bahwa spiritualitas Pentakostal yang sejati, yang dihidupkan oleh Roh Kudus, tidak dapat dipisahkan dari komitmen terhadap keadilan sosial. Kesimpulannya, spiritualitas keadilan sosial dalam kehidupan komunitas mencakup solidaritas dalam komunitas, prinsip berbagi milik, dan harmoni sosial.
Iman Kristen dan Problem Mengemis Online: Tanggung Jawab Gereja terhadap Kemiskinan Nelpi Lampita Br Munte; Andreas Eko Nugroho; Philip Suciadi Chia
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.774

Abstract

Online begging is a phenomenon that has emerged and been considered controversial in the digital space. This practice is not only carried out by people who are physically and economically disadvantaged, but also by those who are physically and economically capable. However, the root cause of the phenomenon of online begging is widespread poverty. That is why the purpose of this study is to explore the phenomenon of online begging as an act of exploitation of poverty and the responsibility of the church in alleviating poverty from the perspective of Christian faith and Kuyper's social problem theory. This qualitative study uses the library research method. The results of this study show that in the midst of modernity and technological advances, poverty is exploited and commercialized for profit. In line with Kuyper's speech, the church needs to educate its congregation and provide opportunities for skills training. The church also needs to foster solidarity among its members so that the rich help the poor and those who do not have decent jobs. AbstrakMengemis online merupakan fenomena yang sempat muncul dan dinilai kontroversial di ruang digital. Praktik ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang mengalami kekurangan secara fisik dan ekonomi, tapi juga dilakukan orang-orang yang mampu. Meski demikian, akar dari fenomena mengemis online adalah kemiskinan yang meluas. Itu sebabnya tujuan dari penelitian ini adalah menggali fenomena mengemis online sebagai tindakan eksploitasi kemiskinan dan tanggung jawab gereja dalam mengentaskan kemiskinan dari teori iman Kristen dan problem sosial Kuyper. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode library research. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa di tengah modernitas dan kemajuan teknologi, kemiskinan justru di eksploitasi dan dikomersialkan untuk mendapatkan benefit. Sesuai dengan pidato yang disampaikan Kuyper, maka gereja perlu melakukan edukasi kepada warga jemaat serta membuka ruang-ruang pelatihan keterampilan. Gereja juga perlu menggalang solidaritas warganya agar mereka yang mampu dan kaya secara finansial dapat membantu yang miskin dan tidak memiliki pekerjaan yang layak.
Transformasi Manajemen dan Kepemimpinan Gereja: Dari Model Tradisional dan Tantangan Postmodern Menuju Kerangka Implementasi Society 5.0 Krisda Mahdalena Sinaga; Arif Surpi Sitompul; Jon Roi Tua Purba
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.778

Abstract

Church leadership and management are faced with a dual disruption: the challenges of traditional and postmodern church leadership and management. Therefore, tension or clash occurs between the hierarchical structure of the traditional church and the demands of the postmodern church. Furthermore, the church is unprepared to face the era of Society 5.0. This study uses descriptive qualitative methods and a systematic literature review. The study aims to describe the basic concepts of traditional, postmodern, and Society 5.0, then conduct a comparative study between traditional church management and leadership and postmodern demands, and then formulate a strategic implementation framework in the era of Society 5.0. The results show that traditional churches tend to be slow and manual, thus hindering leadership flexibility and progress. Therefore, structural-managerial and leadership transformation, as well as integrative digital transformation, are needed. The results also show that postmodern adoption requires not only technology, but also structural and spiritual reform to ensure the integrity and relevance of service amidst the crisis of truth. These findings contribute to church leaders in traditional and postmodern church situations and prepare the church to face the era of Society 5.0. AbstrakKepemimpinan dan manajemen gereja diperhadapkan pada disrupsi ganda yaitu tantangan kepemimpinan dan manajemen gereja tradisional dan gereja postmodern. Oleh sebab itu, terjadi ketengangan atau benturan antara struktur hierarkis gereja tradisional dan tuntutan gereja di postmodern. Selain itu, ketidaksiapan gereja menghadapi era society 5.0. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan tinjauan literatur sistematis. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan konsep dasar tradisional, postmodern dan society 5.0, kemudian melakukan studi komparatif antara manajemen dan kepemimpinan gereja tradisional dan tuntutan postmodern, selanjutnya merumuskan kerangka implementasi strategis di era society 5.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja tradisional memiliki kecenderungan lambat dan manual sehingga menghambat fleksibilitas dan kemajuan kepemimpinan. Oleh sebab itu, dibutuhkan transformatif struktural-manajerial dan kepemimpinan, serta digital secara integratif. Hasil menunjukkan juga bahwa adopsi postmodern tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi reformasi struktural dan spiritual untuk memastikan integritas dan relevansi pelayanan di tengah krisis kebenaran. Temuan ini memberikan kontribusi kepada para pimpinan gereja dalam situasi gereja tradisional dan postmodern serta mempersiapkan gereja dalam menghadapi era society 5.0.
Refleksi Teologis Hukum Taurat Ke-5 Dalam Relasi Orang Tua Toxic dan Anak Menurut Perspektif Susan Forward Bedty Lastri Fransisca; Hikman Sirait; Tju Lie Lie
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.786

Abstract

The phenomenon of destructive parenting by "toxic parents" creates a relational dynamic that frequently leads to deep-seated conflict, placing children in moral, psychological, and social dilemmas. This study aims to analyze Susan Forward’s "toxic parents" theory through a biblical lens to foster parenting transformation and relational healing between children and parents. This objective is pursued through a theological reflection on the Fifth Commandment. Employing a qualitative method based on literature study and a hermeneutical approach to the Decalogue, the research identifies three pivotal aspects for transforming toxic parenting patterns. Furthermore, the study outlines three primary strategies children can implement to restore parental relationships and break the cycle of intergenerational trauma. These findings offer a theological framework for pastoral counseling and family restoration in the face of dysfunctional parenting dynamics. AbstrakFenomena pola asuh destruktif oleh toxic parents menyebabkan relasi orang tua dan anak mengalami dinamika yang seringkali berujung pada konflik. Toxic parents menempatkan anak dalam situasi dilematis secara moral, psikologis dan sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis teori toxic parents Susan Forward melalui lensa biblik dalam rangka transformasi pola asuh dan pemulihan relasi anak dan orang tua melalui refleksi teologis hukum Taurat kelima. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dan hermeneutika terhadap Taurat kelima. Hasil penelitian menemukan tiga aspek penting dalam transformasi pola asuh oleh toxic parents. Selain itu ada tiga aspek utama yang dapat diterapkan anak dalam pemulihan relasi dengan orang tua untuk memutus siklus traumatis.
GKJ-KG Konsep Diri Majelis dan Idealisme Moral dalam Kepemimpinan Kristen-Jawa: Kajian Sosiologi Agama Adhitya Chris Nugroho; Suwarto Adi; Agus Supratikno
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.801

Abstract

Church leadership within local cultural contexts represents an intersection between theological values and social constructions that shape the practice of faith. In the Javaness tradition, leadership is inseparable from cultural ethics that emphasize harmony, social balance, and refined relational conduct. This study aims to analyze the self-concept of church elders and moral idealism in Javanese-Christian leadership at GKJ Kotagede Yogyakarta, particularly in relation to the low level of congregational participation in church ministry. This research employs a qualitative approach using an ethnographic method to explore subjective experiences, symbolic meanings, and social practices in the relationship between church leaders and congregants. The findings indicate that leadership at GKJ Kotagede is shaped by a dialectic between Christian theology of service and Javanese ethical values that are paternalistic and subtle in nature. This construction positions church elders as the center of moral and spiritual authority, leading congregants to perceive themselves primarily as recipients rather than active subjects of ministry. Consequently, this hierarchical symbolic relationship contributes to the low level of congregational participation. This study recommends the development of a more participatory, dialogical, and emancipatory model of church leadership while remaining rooted in Christian theological values and Javanese cultural traditions. AbstrakKepemimpinan gereja dalam konteks budaya lokal merupakan ruang perjumpaan antara nilai-nilai teologis dan konstruksi sosial yang membentuk praktik hidup beriman. Dalam tradisi Jawa, kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari etika budaya yang menekankan harmoni, keselarasan, dan relasi sosial yang halus. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep diri majelis dan idealisme moral dalam kepemimpinan Kristen-Jawa di GKJ Kotagede Yogyakarta, khususnya kaitannya dengan rendahnya partisipasi jemaat dalam pelayanan kemajelisan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi untuk memahami pengalaman subjektif, makna simbolik, dan praktik sosial dalam relasi antara majelis dan jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan di GKJ Kotagede dibentuk oleh dialektika antara teologi pelayanan Kristen dan etika budaya Jawa yang bersifat paternalistik dan halus. Konstruksi ini melahirkan figur majelis sebagai pusat otoritas moral dan spiritual, sehingga jemaat cenderung memposisikan diri sebagai penerima pelayanan, bukan sebagai subjek aktif. Akibatnya, relasi simbolik yang hierarkis ini berkontribusi pada rendahnya partisipasi jemaat. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan model kepemimpinan gereja yang lebih partisipatoris, dialogis, dan emansipatoris tanpa melepaskan akar teologis dan kultural Jawa.