cover
Contact Name
Kalis Stevanus
Contact Email
kalisstevanus91@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalfidei@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
ISSN : 26218151     EISSN : 26218135     DOI : https://doi.org/10.34081/fidei
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika focusing on submission of field research results, systematic Theology, and practical theology, the study of Evangelical Theology and Community Development is not only internal of STT Tawangmangu but also external intitution with ratio 40:60. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika published twice a year is the month of June (the limits of acceptance of the script in March) and December (the limits of acceptance of the script in September).
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Providensia Allah dalam Tantangan Judi Online: Respons Teologis terhadap Krisis Iman Kristen Sianipar, Joice Engie Wella
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.652

Abstract

The increasingly widespread phenomenon of online gambling in the digital age presents a serious challenge to the understanding of Christian faith, particularly regarding the doctrines of providence and God's sovereignty. Using qualitative methods through literature study and theological analysis, this study raises the claim that winning in gambling is part of God's sovereignty and critiques the narrow view that separates winning and losing within the framework of providence. This study aims to theologically examine how online gambling practices contradict Christian work ethics and deny the fundamental principle of God's providence. The findings indicate that online gambling is not simply a moral issue, but a theological deviation that undermines the meaning of divine calling and human responsibility. Gambling makes money and wealth the center of life's hopes, replacing hard work and discipline, and leading to dependency and financial ruin, especially for the younger generation. This study affirms that God's providence is relational, not fatalistic. God remains sovereign, but His involvement in history respects human freedom and demands moral accountability. Choices remain within the scope of providence, but they carry ethical consequences that cannot be ignored. AbstrakFenomena judi online yang kian marak di era digital menghadirkan tantangan serius terhadap pemahaman iman Kristen, khususnya terkait doktrin providensia dan kedaulatan Allah. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur dan analisis teologis, penelitian ini mengevaluasi klaim bahwa kemenangan dalam perjudian adalah bagian dari kedaulatan Allah, serta mengkritisi pandangan sempit yang memisahkan antara kemenangan dan kekalahan dalam kerangka providensia. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara teologis bagaimana praktik judi online bertentangan dengan etika kerja Kristen dan mengingkari prinsip dasar providensia Allah. Hasil temuan menunjukkan bahwa judi online bukan sekadar persoalan moral, melainkan penyimpangan teologis yang mengaburkan makna panggilan ilahi dan tanggung jawab manusia. Judi menjadikan uang dan keberuntungan sebagai pusat harapan hidup, menggantikan kerja keras dan disiplin, serta menyebabkan ketergantungan dan kehancuran finansial, khususnya bagi generasi muda. Penelitian ini menegaskan bahwa providensia Allah bersifat relasional, bukan fatalistik. Allah tetap berdaulat, namun keterlibatan-Nya dalam sejarah menghargai kebebasan manusia dan menuntut akuntabilitas moral. Pilihan berjudi tetap berada dalam cakupan providensia, tetapi membawa konsekuensi etis yang tidak bisa diabaikan.
Tafsir Ekoteologis atas Ritual Manuan Raja ni Duhutduhut dalam Adat Kematian Batak Toba Sihombing, Liner Mersia
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.664

Abstract

The global ecological crisis not only causes physical environmental damage but also reflects humanity's spiritual disconnection from the earth as a sacred home. This article explores the traditional rite of manuan raja ni duhutduhut from the Toba Batak saur matua death tradition as a form of ecological liturgy that unites body, land, and spirituality. This research uses a symbolic hermeneutics approach with a literature review of traditional texts and ecotheological theories from Ronald L. Grimes, Sallie McFague, Leonardo Boff, and Thomas Laqueur. The analysis shows that the act of planting trees in this rite is not merely a symbol of respect for ancestors but also a form of spiritual participation in ecological regeneration. This article proposes a reinterpretation of the rite as a liturgical practice of planting memories that is inclusive and contextual. The implication is that local Toba Batak spirituality has the potential to contribute to the restoration of the relationship between humans and the earth, while also being an expression of ecological faith in response to the global ecological crisis. AbstrakKrisis ekologis global tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan fisik, tetapi juga mencerminkan keterputusan spiritual manusia dari bumi sebagai rumah yang sakral. Artikel ini menelusuri ritus adat manuan raja ni duhutduhut dari tradisi kematian saur matua Batak Toba sebagai bentuk liturgi ekologis yang menyatukan tubuh, tanah, dan spiritualitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika simbolik dengan studi pustaka terhadap teks adat dan teori ekoteologi dari Ronald L. Grimes, Sallie McFague, Leonardo Boff, dan Thomas Laqueur. Hasil analisis menunjukkan bahwa tindakan menanam pohon dalam ritus ini bukan sekadar simbol penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga bentuk partisipasi spiritual dalam regenerasi ekologis. Artikel ini mengusulkan reinterpretasi ritus tersebut sebagai praktik liturgi tanam kenangan yang bersifat inklusif dan kontekstual. Implikasinya, spiritualitas lokal Batak Toba memiliki potensi kontribusi terhadap pemulihan relasi manusia dan bumi, sekaligus menjadi ekspresi iman ekologis dalam merespons krisis ekologi global.
A Desain Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Untuk ABK Tunagrahita dalam Kelas Inklusif: Sebuah Usulan di SD Kristen Bukit Pengharapan Kota Balai Karangan Harita, Novi Saria; Halawa, Angilata K.; Kase, Adelsi; Duryadi, Marthinus; Simanjuntak, Junihot M.
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.665

Abstract

This study aims to design an innovative curriculum for students with intellectual disabilities at Bukit Pengharapan Christian Elementary School by considering their characteristics. This study uses a qualitative method with a library approach. Observation is one of the methods used to obtain data. The urgency of this research lies in the urgent need to design an innovative curriculum specifically for Christian Religious Education subjects for students with intellectual disabilities in inclusive classes. The results of the study indicate the importance of an adaptive curriculum design that is able to accommodate the needs of students with intellectual disabilities through learning strategies, digital-based approaches, and individual assessments. The resulting innovative PAK curriculum design includes individual assessments, adaptive learning strategies, adapted learning media, a dynamic assessment system, and ongoing mentoring. AbstrakPenelitian ini bertujuan merancang kurikulum inovatif bagi peserta didik tunagrahita di SD Kristen Bukit Pengharapan denan memperhatikan karakteristik peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Observasi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memperoleh data. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk merancang kurikulum inovatif khusus mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen bagi peserta didik tunagrahita di dalam kelas inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pentingnya desain kurikulum yang adapatif yang mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik tunagrahita melalui metode strategi pembelajaran, pendekatan berbasis digital, dan penilaian individual. Desain kurikulum inovatif PAK yang dihasilan mencakup, asesmen indivdual, strategi pembelajaran adaptif, media pembelajaran disesuaikan, sistem penilaian dinamis dan pendampingan berkelanjutan.
Antara “Penderitaan yang Tersisa” dan “Rengkuhan yang Terbuka”: Analisis Teologis atas Trauma Sosial Pascakonflik Ambon: Antara “Penderitaan yang Tersisa” dan “Rengkuhan yang Terbuka”: Analisis Teologis atas Trauma Sosial Pascakonflik Ambon Patty, Lidya
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.666

Abstract

This article examines the collective trauma of the 1999–2002 Ambon post-conflict, which still leaves traces in the violent events of 2011 and early 2025. These social wounds indicate that the community's collective memory has not fully recovered and remains a source of vulnerability in interfaith relations. This paper aims to develop a trauma-healing-based reconciliation model in the Ambon context. Using qualitative methods based on literature studies, data are analyzed conceptually and thematically through three main approaches: Jeffrey C. Alexander's theory of collective trauma, Shelly Rambo's theology of trauma, and Miroslav Volf's theology of reconciliation. This article puts forward two arguments. First, post-conflict trauma in Ambon is still alive and is indicated by repeated conflicts in 2011 and early 2025 that reactivated the memory of the 1999 violence. Second, formal reconciliation such as the Malino II Agreement has not yet addressed the dimensions of deep trauma recognition and healing. Therefore, this article proposes the formation of a transformative space as a space between "remaining suffering" and "open embrace." This space allows wounds to be heard, narrated, and collectively reinterpreted through the reinterpretation of conflict sites (e.g., Silo Church and the Trikora Monument), interfaith forums, liturgical confessions, and public rituals. Thus, reconciliation does not stop at a formal agreement, but fosters interfaith solidarity and hope for sustainable peace.AbstrakArtikel ini membahas trauma kolektif pascakonflik Ambon tahun 1999–2002 yang masih meninggalkan jejak dalam peristiwa kekerasan tahun 2011 dan awal 2025. Luka sosial tersebut menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat belum sepenuhnya pulih dan masih menjadi sumber kerentanan relasi lintas iman. Tulisan ini bertujuan mengembangkan model rekonsiliasi berbasis pemulihan trauma dalam konteks Ambon. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, data dianalisis secara konseptual dan tematik melalui tiga pendekatan utama: teori trauma kolektif Jeffrey C. Alexander, teologi trauma Shelly Rambo, dan teologi rekonsiliasi Miroslav Volf. Artikel ini mengajukan dua argumen. Pertama, trauma pascakonflik di Ambon masih hidup dan terindikasi dari konflik berulang pada 2011 dan awal 2025 yang mengaktifkan kembali memori kekerasan 1999. Kedua, rekonsiliasi formal seperti Perjanjian Malino II belum menyentuh dimensi pengakuan dan pemulihan trauma yang mendalam. Karena itu, artikel ini mengusulkan pembentukan ruang transformatif sebagai ruang antara “penderitaan yang tersisa” dan “rengkuhan yang terbuka.” Ruang ini memungkinkan luka didengar, dinarasikan, dan dimaknai ulang secara kolektif melalui pemaknaan ulang situs konflik (misalnya Gereja Silo dan Tugu Trikora), forum lintas iman, liturgi pengakuan luka, dan ritus publik. Dengan demikian, rekonsiliasi tidak berhenti pada kesepakatan formal, tetapi menumbuhkan solidaritas lintas iman dan harapan akan damai berkelanjutan.
Munus Triplex Transformatif: Reinterpretasi Jabatan Kristus Menjawab Usulan Ekspansi Sahabat-Pelayan dari Moltmann dan Nugent Siagian, Janrio Fernando
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.668

Abstract

The concept of the triplex munus, Christ as prophet, priest, and king, has been a dominant paradigm since the Reformation through the thought of John Calvin. The changing landscape of the church has prompted a reconsideration of its relevance. Jürgen Moltmann and John C. Nugent have suggested expanding it to a quadruplex munus by adding friend and servant, but this article critiques this approach for its tendency to reinforce the framework of tradition and shift attention from spiritual depth to a purely social orientation. Based on qualitative methods and an intertheological synthesis of classical and contemporary sources, this study proposes a transformative triplex munus that maintains the classical structure while enriching its meaning through two inter-office dimensions: relational (friend) and actional (servant). The results show that the transformative triplex munus maintains doctrinal continuity while encouraging participatory, egalitarian, and context-sensitive church praxis without the addition of a fourth office. The relational dimension guides liberating proclamation, while the actional dimension directs priesthood and kingship as concrete services to many. This framework provides operational guidelines for contemporary church proclamation, reconciliation, and leadership. AbstrakKonsep munus triplex, yakni Kristus sebagai nabi, imam, dan raja, telah menjadi paradigma dominan sejak Reformasi melalui pemikiran Yohanes Calvin. Perubahan lanskap gereja mendorong peninjauan ulang relevansinya. Jürgen Moltmann dan John C. Nugent mengusulkan perluasan menjadi munus quadruplex dengan menambahkan sahabat dan pelayan, namun artikel ini mengkritisi pendekatan tersebut karena berisiko mengaburkan kerangka tradisi dan menggeser perhatian dari kedalaman spiritual ke orientasi sosial semata. Berbasis metode kualitatif melalui sintesis interteologis atas sumber klasik dan kontemporer, penelitian ini menawarkan munus triplex transformatif yang mempertahankan struktur klasik sekaligus memperkaya makna melalui dua dimensi lintas jabatan: relasional (sahabat) dan aksional (pelayan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa munus triplex transformatif mampu menjaga kesinambungan doktrinal sambil mendorong praksis gereja yang partisipatif, egaliter, dan peka konteks tanpa penambahan jabatan keempat. Dimensi relasional menuntun pewartaan yang membebaskan, sedangkan dimensi aksional mengarahkan keimaman dan kerajaan sebagai pelayanan yang nyata bagi banyak orang. Kerangka ini memberi pedoman operasional bagi pewartaan, pendamaian, dan kepemimpinan gereja kontemporer.
Gambaran Religiusitas Mahasiswa Kristen Protestan di Universitas Kristen X Dewi, Natasya Kemala; Garey, Evans
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.688

Abstract

This study aims to describe the religiosity of Protestant Christian students at Christian University X with a descriptive quantitative approach, using the Duke University Religion Index (DUREL) scale. Participants were 339 students with an age range of 18-25 years. The results of the study indicate that the majority of students have a high level of religiosity. A total of 80.8% of students are active in religious activities in groups/organizations (Organizational Religious Activity), as many as 58.4% of students are active in personal religious activities (Non-Organizational Religious Activity). And as many as 85% of students have high intrinsic motivation (Intrinsic Religiosity). Based on these findings, it shows that students are not only involved in religious activities in organizations or personally, but also have strong religious motivation and commitment that comes from within themselves. This study has implications for the development of literature on the religiosity of Protestant Christian students using the DUREL scale in Indonesia. In addition, the results of the study can be used as input for universities and spiritual institutions to strengthen faith development programs, not only emphasizing group activities but also personal and deepening internal motivation in religion. AbstrakPenelitian ini bertujuan menggambarkan religiusitas mahasiswa Kristen Protestan di Universitas Kristen X dengan pendekatan kuantitatif deskriptif, menggunakan skala Duke University Religion Index (DUREL). Partisipan berjumlah 339 mahasiswa dengan rentang usia 18-25 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Sebanyak 80,8% mahasiswa aktif dalam aktivitas keagamaan secara berkelompok/organisasi (Organizational Religious Activity), sebanyak 58,4% mahasiswa aktif dalam aktivitas keagamaan pribadi (Non-Organizational Religious Activity). Dan sebanyak 85% mahasiswa memiliki motivasi intrinsik yang tinggi (Intrinsic Religiosity). Berdasarkan temuan ini, menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya terlibat dalam kegiatan keagamaan secara organisasi maupun secara personal, tetapi juga memiliki motivasi dan komitmen beragama yang kuat yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Penelitian ini berimplikasi pada pengembangan literatur mengenai religiusitas mahasiswa Kristen Protestan dengan menggunakan skala DUREL di Indonesia. Selain itu juga, hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan bagi Universitas dan lembaga kerohanian untuk memperkuat program pembinaan iman, bukan hanya menekankan pada kegiatan secara berkelompok tetapi juga secara personal dan pendalaman motivasi internal dalam beragama.
Keselamatan Tanpa Sekat (Studi Hermeneutis Mengenai Konsep Keselamatan Universal Menurut Markus 7:24-30) Raulina; Panjaitan, Geri Gabriel
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.693

Abstract

This study examines the narrative of the Syro-Phoenician woman in Mark 7:24-30 to understand the concept of universal salvation revealed by Jesus Christ in the context of His mission. This topic is important considering the tension between Jesus’ mission initially aimed at the people of Israel and the evidence that salvation is also intended for Gentiles without ethnic or social discrimination. The purpose of the study is to analyze how the dialogue between Jesus and the Syro-Phoenician woman affirms the universality of the gift of salvation that transcends social and ethnic boundaries. The method used is a historical-critical approach and textual exegesis by examining the historical, cultural context, and theological message of the narrative in depth. The research results show that the faith of the Syro-Phoenician woman serves as an indicator of the acceptance of the universality of salvation, affirming that God’s salvation is not limited by ethnic or social identity but depends on a sincere response of faith. These findings contribute to the understanding of inclusivity in church ministry in spreading the grace of salvation to all humanity with full conviction and hope. AbstrakPenelitian ini mengkaji narasi perempuan Siro-Fenisia dalam Markus 7:24-30 untuk memahami konsep keselamatan universal yang diungkapkan oleh Yesus Kristus dalam konteks misi-Nya. Topik ini penting mengingat adanya ketegangan antara misi Yesus yang awalnya ditujukan kepada bangsa Israel dengan bukti bahwa keselamatan juga diperuntukkan bagi orang non-Yahudi tanpa diskriminasi etnis maupun sosial. Tujuan penelitian adalah menganalisis bagaimana dialog antara Yesus dan perempuan Siro-Fenisia menegaskan universalitas anugerah keselamatan yang melampaui batas-batas sosial dan etnis. Metode yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis dan eksegesis teks dengan menelaah konteks historis, budaya, serta pesan teologis narasi tersebut secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iman perempuan Siro-Fenisia menjadi indikator penerimaan universalitas keselamatan, yang menegaskan bahwa keselamatan Allah tidak terbatas oleh identitas etnis atau sosial, melainkan bergantung pada respons iman yang sungguh-sungguh. Temuan ini memberikan kontribusi pada pemahaman inklusivitas pelayanan gereja dalam menyebarkan kasih karunia keselamatan kepada seluruh umat manusia dengan penuh keyakinan dan harapan.
Rekonstruksi Partisipasi Anggota Gereja Dalam Perencanaan Pelayanan di Gereja Dengan Sistem Presbiterial-Sinodal Natu Taku Bessi, Leomardus
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.695

Abstract

Church members are the largest component of the church's ministry and should be involved in ministry. In most churches with a presbyterial-synodal system, their involvement in the ministry planning process is very limited. The presence of presbyters as representatives of church members has an impact on the involvement of church members in the ministry planning process, which in turn impacts church member participation in ministry planning. This article uses a qualitative method in the form of content analysis of several theologians such as Neil Cole, Keith Elford, and Moltmann who discuss church member participation. This research aims to help churches see the urgency of the role of church members in ministry planning and how churches should involve church members in the process. Churches are expected to expand the participatory space for church members in the ministry planning process. The results of this study indicate that participatory ministry planning in churches with a presbyterial-synodal system can be reconstructed through the formation of small groups, the use of digital technology, and the optimization of planning teams. The conclusion at the end of this article demonstrates the importance of providing participatory space for church members to be involved in ministry planning by utilizing technological facilities, empowering small and large groups, and increasing the capacity of planning teams within the church. AbstrakAnggota gereja merupakan komponen pelayanan terbesar dalam gereja yang patut dilibatkan dalam pelayanan. Pada sebagian besar gereja dengan sistem presbiterial-sinodal terlihat bahwa keterlibatan mereka dalam proses perencanaan pelayanan sangat terbatas. Kehadiran para presbiter sebagai perwakilan anggota gereja ternyata berimbas pada keterlibatan anggota gereja dalam proses perencanaan pelayanan yang berdampak pada partisipasi anggota gereja dalam perencanaan pelayanan. Artikel ini menggunakan metode kualitatif berupa analisis konten terhadap beberapa teolog seperti Neil Cole, Keith Elford dan Moltmann yang membahas tentang partisipasi anggota gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menolong gereja untuk melihat urgensi peran anggota gereja dalam perencanaan pelayanan dan bagaimana seharusnya gereja melibatkan anggota gereja dalam proses tersebut. Gereja diharapkan dapat meluaskan ruang partisipatif anggota gereja dalam proses perencanaan pelayanan. Hasil kajian itu menunjukkan bahwa perencanaan pelayanan secara partisipatif pada gereja dengan sistem presbiterial-sinodal dapat direkonstruksi melalui pembentukan kelompok kecil, penggunaan teknologi digital dan optimalisasi tim perencanaan. Kesimpulan pada bagian akhir artikel ini menunjukkan pentingnya memberi ruang partisipasi bangi anggota gereja untuk terlibat dalam perencanaan pelayanan dengan menggunakan fasilitas teknologi, memberdayakan kelompok kecil dan besar dan meningkatkan kapasitas dari tim perencanaan dalam gereja.
TRANSGENDER: GEREJA YANG MENCARI DAN MEMULIHKAN Hutabarat, Samuel; Silalahi, Frans
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.708

Abstract

Transgender is an individual who is interested in living as the opposite gender, regardless of whether they want to take do it as far as dressing in the opposite gender in daily life or undergoing gender reassignment surgery. Transgender is a lifestyle that demands recognition and acceptance from society, including the church. The church must focus on God's teaching that everyone, including transgender, must be served and saved. The research uses qualitative research, focusing on a descriptive approach to outline and explain the issues clearly, and in-depth analysis through critical interpretation of the literature. The analysis of the literature materials is conducted by selecting relevant materials related to the researched topic to delve into the subjects associated with transgender, the church, trauma, and Harvest Theology. This research aims to: (1) examine the Biblical view on transgender; (2) how the church can holistically serve transgender individuals; (3) what evangelistic methods are suitable for reaching out to transgender people; (4) how the church can foster strong and healthy families under God's authority. The results of the study indicate that the Bible clearly states that being transgender is wrong, Harvest Theology helps the church grow by encouraging evangelism towards transgender individuals, the church must assist transgender individuals and congregants in healing from trauma, and work on family restoration as a reflection of God's perfect love. AbstrakTransgender adalah individu yang tertarik hidup sebagai lawan jenis, terlepas dari apakah dijalankan hanya sebatas berpakaian lawan jenis dalam kehidupan sehari atau melakukan operasi ganti kelamin. Transgender adalah suatu gaya hidup yang menuntut pengakuan dan penerimaan dari masyarakat, termasuk gereja. Gereja harus fokus pada pengajaran Tuhan bahwa semua orang, termasuk transgender, harus dilayani dan diselamatkan. Penelitian menggunakan penelitian kualitatif (qualitative research), dengan fokus pada pendekatan deskriptif untuk menguraikan dan menjelaskan masalah sehingga menjadi jelas dan pendekatan analisis mendalam melalui interpretasi kritis terhadap literatur. Analisa terhadap materi literatur dilakukan dengan memilih bahan-bahan yang relevan dengan topik yang diteliti untuk mendalami materi yang terkait dengan transgender, gereja, trauma, dan Harvest Theology. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mengkaji pandangan Alkitab terhadap transgender; (2) bagaimana gereja melayani transgender secara holistik; (3) metode penginjilan apa yang cocok untuk menginjil transgender; (4) bagaimana gereja membentuk keluarga yang kuat dan sehat dibawah otoritas Tuhan. Hasil penelitian adalah Alkitab tegas menyatakan transgender adalah salah, Harvest Theology membantu gereja bertumbuh dengan mendorong penginjilan terhadap transgender, gereja harus membantu transgender dan jemaat untuk sembuh dari trauma, dan pemulihan keluarga sebagai citra kasih Allah yang sempurna.
Misi sebagai Rencana Allah: Kesatuan Injil Matius dan Kisah Para Rasul dalam Sejarah Keselamatan Stefani, Stefani; Stevanus, Kalis
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.718

Abstract

This study aims to demonstrate the theological unity between the evangelistic mission referred to as the Great Commission in Matthew 28:18–20 and the practice of evangelism in the book of Acts as an integral part of the realization of God's mission of salvation. The Great Commission is not a human initiative, but a divine command originating from the authority of Christ and carried out under the guidance of the Holy Spirit. The methods used are narrative-theological and literature study. The results of the study are to show the integral continuity of the narrative of Matthew 28:18–20 serves as the theological foundation of the church's mission, while the Acts of the Apostles shows the concrete realization of the mandate in evangelistic actions. Thus, the two texts demonstrate the unity of the narrative of Matthew and the Acts of the Apostles so that the church today has a complete theological basis in carrying out its mission and the Holy Spirit as its main agent or as a link between the Christological proclamation (Matthew) and the ecclesiological realization (Acts of the Apostles) which confirms the mission as an integral part of the work of the Trinity. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menunjukkan kesatuan teologis antara misi penginjilan yang disebut Amanat Agung dalam Matius 28:18–20 dan praktik penginjilan dalam kitab Kisah Para Rasul sebagai bagian integral dari realisasi misi keselamatan Allah. Amanat Agung bukanlah inisiatif manusia, melainkan perintah ilahi yang bersumber dari otoritas Kristus dan dilaksanakan di bawah tuntunan Roh Kudus. Metode yang digunakan adalah naratif-teologis dan studi kepustakaan. Hasil penelitian adalah menunjukkan kesinambungan integral narasi Matius 28:18–20 berfungsi sebagai landasan teologis misi gereja, sedangkan Kisah Para Rasul memperlihatkan realisasi konkret mandat tersebut dalam tindakan penginjilan. Dengan demikian, kedua teks tersebut memerlihatkan kesatuan narasi Matius dan Kisah Para Rasul agar gereja masa kini memiliki dasar teologis yang utuh dalam melaksanakan misi dan Roh Kudus sebagai agen utamanya atau sebagai penghubung antara proklamasi Kristologis (Matius) dan realisasi ekklesiologis (Kisah Para Rasul) yang menegaskan misi sebagai bagian integral dari karya Trinitas.