cover
Contact Name
Kalis Stevanus
Contact Email
kalisstevanus91@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalfidei@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
ISSN : 26218151     EISSN : 26218135     DOI : https://doi.org/10.34081/fidei
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika focusing on submission of field research results, systematic Theology, and practical theology, the study of Evangelical Theology and Community Development is not only internal of STT Tawangmangu but also external intitution with ratio 40:60. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika published twice a year is the month of June (the limits of acceptance of the script in March) and December (the limits of acceptance of the script in September).
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Analisis Komparatif Konseling Pastoral dan Logoterapi Frankl: Teologis, Filosofis dan Metodologis Belay, Yosep
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i1.615

Abstract

Konseling pastoral secara umum mempertahankan gagasan konvensional dengan pendekatan yang berpusat pada Alkitab (Allah). Pola tersebut merupakan model induktif dari kebenaran Allah menuju aplikasi praktisnya. Namun pengembangan konseling pastoral cenderung berhadapan dengan kemandekan sebagai akibat dari pola yang monoton. Di lain sisi, metode konseling sekuler cenderung lebih dinamis dan beragam. Salah satunya adalah model konseling logoterapi dari Viktor Emil Frankl. Model logoterapi Frankl sepintas cukup dekat dengan model konseling religius karena menempatkan spiritualitas sebagai lokusnya. Artikel ini hendak melakukan kajian komparasi di antara kedua pendekatan kemudian menarik simpulan mengenai kemungkinan sintesis teori konseling alternatif yang dapat juga diterapkan pada konseling pastoral. Peneliti menggunakan metode analisis komparatif dan konstruktif. Data penelitian disadur dari karya-karya Frankl, konseling pastoral dan juga beberapa penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan dalam beberapa aspek model logoterapi Frankl memiliki ruang lingkup yang sama dengan konseling pastoral dan dapat dikembangkan, khususnya tekanan pada terapi makna, kebebasan dan tanggung jawab individu. Ketiga komponen eksistensial ini dapat disintesiskan pada model konseling pastoral. Tetapi pada unsur psikoterapi eksistensialisme, antropologi dan filosofinya, ada perbedaan signifikan sehingga perlu kajian yang lebih lanjut. Dengan demikian usaha sintesis pada konseling pastoral terbatas pada beberapa komponen yang sejalan dan dapat digunakan secara komplimentaris pada konseling pastoral.
Stewardship Ekologis Berbasis Alkitab: Integrasi Hermeneutika Kontekstual dan Doktrin Ineransi Manongga, John Stevie
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i1.625

Abstract

Krisis ekologis global menuntut respons teologis yang tidak sekadar bersifat etis, tetapi juga epistemologis dan praksis. Kajian ini menyusun kerangka integratif antara doktrin ineransi Alkitab, hermeneutika kontekstual, dan teologi stewardship untuk menjawab ketegangan antara otoritas Kitab Suci dan tanggung jawab ekologis gereja. Dengan pendekatan kualitatif-interpretatif berbasis studi literatur, teks-teks seperti Kejadian 1:26–28 dan 2:15 dianalisis secara historis-linguistik dan kontekstual untuk merumuskan pemahaman baru mengenai mandat manusia terhadap ciptaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa reinterpretasi konsep “menguasai” (רָדָה, rādâ), “menaklukkan” (כָּבַשׁ, kābaš), “mengusahakan” (עָבַד, ʿābad), dan “memelihara” (שָׁמַר, šāmar) memungkinkan transformasi pemahaman iman yang berakar pada otoritas Alkitab dan sekaligus relevan terhadap krisis lingkungan. Teologi stewardship diposisikan sebagai ekspresi iman yang inkarnatif, menjembatani spiritualitas, liturgi, dan advokasi ekologis dalam praksis komunitas. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan ekoteologi Kristen yang kontekstual dan performatif, serta menawarkan dasar konseptual bagi gereja untuk hadir sebagai agen transformasi ekologis melalui integrasi iman, sains, dan keadilan ciptaan.
Pengajaran Baptisan Roh Kudus Perspektif Pentakostal dan Pertumbuhan Rohani Jemaat Kontemporer: Studi Kasus pada Jemaat GBI Jalan Tapos Cibinong Willison, Hiu; Timadius, Hendrik; Romika, Romika
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i1.648

Abstract

Baptisan Roh Kudus merupakan doktrin sentral dalam teologi Pentakostal yang diyakini membawa transformasi rohani bagi jemaat, tetapi tetap menjadi perdebatan di berbagai tradisi gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengajaran Baptisan Roh Kudus dalam perspektif Pentakostal serta implikasinya terhadap pertumbuhan rohani jemaat kontemporer, dengan studi kasus di GBI Jalan Tapos Cibinong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan studi kasus, melalui wawancara semi-terstruktur dengan pemimpin gereja dan jemaat, observasi ibadah, serta analisis dokumentasi program pembinaan rohani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengajaran yang sistematis dan berbasis komunitas, seperti Kehidupan Orientasi Melayani (KOM) dan Community of Love (COOL), efektif dalam memperkuat pemahaman doktrinal dan pengalaman rohani jemaat. Selain itu, ibadah profetik dan altar call berperan dalam menciptakan ruang bagi jemaat untuk mengalami kepenuhan Roh Kudus secara personal. Namun, gereja perlu menjaga keseimbangan antara pengalaman rohani dan kedewasaan doktrinal agar tidak terjadi subjektivisme rohani yang berlebihan. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan pengajaran yang adaptif dan kontekstual diperlukan untuk memastikan relevansi doktrin Baptisan Roh Kudus dalam menghadapi tantangan gereja masa kini.
The PERANAN PELAYANAN KAUM PEREMPUAN PENTAKOSTA DALAM PENGINJILAN Chandra Saputra, Rudyanto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i1.659

Abstract

Pelayanan kaum perempuan dalam perjalanan misi Gereja merupakan sebuah pilar penting yang mendorong pertumbuhan Gereja, namun sering kali menjadi pokok pembicaraan yang diperdebatkan oleh Gereja dan bahkan sampai  menjadi perselisihan.  Hal itu disebabkan seorang pemimpin perempuan dianggap tidak memiliki potensi apa pun. Pelayanan kaum perempuan sering kali diabaikan dan kurang diapresiasi. Penelitian dengan metode penelitian deskriptif mix-method, dengan 89 responden perempuan yang melayani di berbagai bidang di gereja lokal denominasi Pentakosta/Kharismatik. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa peran kaum Perempuan pada kategori baik, dengan pemahaman sangat baik pada panggilan pribadi, kemudian baik pada antusias, dan sedang pada penginjilan kuasa dan peningkatan potensi diri. Simpulannya, kaum perempuan sudah menyadari panggilan pelayanannya dan antusias dalam melaksanakannya, namun  kurangnya pengarahan khususnya untuk pelayanan penginjilan lintas gereja dan juga pelayanan dalam hal karunia-karunia supranatural, khususnya kenabian dan kesembuhan ilahi. Kelemahan dalam hal ini tentunya memberi dampak yang kurang signifikan nya terhadap hasil penginjilan kuasa.
Hubungan Dukungan Iman Orang Tua dan Dukungan Iman Pembina Remaja Terhadap Spiritualitas Remaja Kristi, Sara Kurnia; Suhendra, Junianawaty
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.579

Abstract

Faith support plays an important role in shaping adolescent spirituality. Adolescents who receive simultaneous faith support from parents and youth mentors tend to have higher levels of spirituality. This study aims to determine the relationship between parental faith support and youth mentors' faith support on adolescent spirituality. This study uses a quantitative method with data collection techniques through distributing questionnaires. The subjects of the study consisted of 120 adolescents aged 15–25 years who were active in the Jakarta Christian Church. The sampling technique used purposive sampling, while data analysis was carried out using the Pearson Product Moment correlation test. The results of the study showed a significant relationship between parental faith support and youth mentors' faith support on adolescent spirituality. The faith support provided synergistically by both parties showed a significant positive correlation with the development of adolescent spirituality. These findings provide an important contribution to adolescent development, by emphasizing the need for collaboration between youth mentors in the church and parents in supporting optimal adolescent spiritual growth. AbstrakDukungan iman memiliki peran penting dalam membentuk spiritualitas remaja. Remaja yang menerima dukungan iman secara simultan dari orang tua dan pembina remaja cenderung memiliki tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan iman orang tua dan dukungan iman pembina remaja terhadap spiritualitas remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner. Subjek penelitian terdiri dari 120 remaja berusia 15–25 tahun yang aktif di Gereja Kristen Jakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sedangkan analisis data dilakukan dengan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan iman orang tua dan dukungan iman pembina remaja terhadap spiritualitas remaja. Dukungan iman yang diberikan secara sinergis oleh kedua pihak menunjukkan korelasi positif yang signifikan terhadap perkembangan spiritualitas remaja. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam pembinaan remaja, dengan menekankan perlunya kolaborasi antara pembina remaja di gereja dan orang tua dalam mendukung pertumbuhan spiritualitas remaja secara optimal.  
Penghakiman bagi Perusak Bumi: Tinjauan Teologi Ekologis dalam Wahyu 11:18 dan Implikasinya bagi Pendidikan Kristen Anak di Gereja Darmadi, Daud
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.616

Abstract

The escalating degradation of the earth demands early environmental stewardship, which should be instilled through Christian education for children. However, church-based Christian education curricula often lack integrated content on environmental sustainability. The decreasing engagement of children with nature contributes to a generation less concerned with the care of creation. This study aims to explore the concept of ecological theology based on Revelation 11:18 and examine its relevance to children’s Christian education. The research employs a hermeneutical approach to the biblical text and a qualitative descriptive analysis of educational practices within the church. The findings reveal three key insights. First, Revelation 11:18 highlights a sharp contrast between those who faithfully fulfill God's mandate and those who destroy the earth; in the final judgment, God rewards those who care for the earth and punishes its destroyers. Second, environmental stewardship is an expression of faithful obedience and a reflection of human nature as the imago Dei, participating in the restoration of creation. Third, children’s Christian education plays a strategic role in shaping ecological awareness through faith-based curricula and sustainable environmental projects. This study concludes that integrating ecological theological values into children’s Christian education is essential. Churches must develop curricula that instill responsibility to care for and restore creation in accordance with God’s will. Abstrak Kerusakan bumi yang semakin masif menuntut upaya pelestarian lingkungan yang ditanamkan sejak dini melalui pendidikan Kristen anak. Namun, kurikulum pendidikan Kristen di gereja masih kurang mengintegrasikan materi mengenai kelestarian lingkungan. Aktivitas anak yang semakin minim di alam turut membentuk generasi yang kurang peduli terhadap keberlanjutan ciptaan. Penelitian ini bertujuan menggali konsep teologi ekologis berdasarkan Wahyu 11:18 dan mengkaji relevansinya bagi pendidikan Kristen anak. Metode yang digunakan adalah hermeneutik terhadap teks Alkitab serta analisis deskriptif kualitatif terhadap praktik pendidikan anak di gereja. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, Wahyu 11:18 menegaskan kontras antara mereka yang setia menjalankan mandat Allah dan yang merusak bumi; Allah memberikan upah kepada yang memelihara bumi dan menghukum perusaknya pada hari penghakiman. Kedua, pemeliharaan lingkungan merupakan wujud kesetiaan iman dan refleksi natur manusia sebagai gambar Allah yang turut serta dalam pemulihan ciptaan. Ketiga, pendidikan Kristen anak berperan strategis dalam membentuk kesadaran ekologis melalui kurikulum berbasis iman dan proyek lingkungan berkelanjutan. Simpulan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai teologi ekologis dalam pendidikan Kristen anak. Gereja perlu menyusun kurikulum yang menanamkan tanggung jawab untuk menjaga dan memulihkan ciptaan sesuai kehendak Allah.
Panggilan Perempuan Perspektif Edith Stein dan Relevansinya bagi Kehidupan Gereja Katolik Masa Kini Kowe, Petrus Thomas Sama; Punda Panda, Herman; Naif, Oktovianus
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.622

Abstract

This article examines the calling of women from the perspective of Edith Stein and its relevance to contemporary church life. Despite the significant contributions women have made throughout the history of the church, they are often marginalised in leadership roles and active participation. This research aims to explore Stein's thoughts on the identity and role of women to address the challenges faced by women within the Catholic Church. Drawing on literature studies and a comprehensive analysis of Stein's works, this article demonstrates that an understanding of women's experiences and callings can enrich pastoral and theological practices. This study aims to connect Stein's philosophical insights with contemporary gender issues and provides practical recommendations for enhancing the voice and role of women in ecclesiastical life. Consequently, the article contributes to the discourse on gender justice within the contexts of theology and pastoral care, while providing a fresh perspective on the role of women in the church's mission in the modern era. The conclusion drawn is that Stein's thought remains relevant and can be applied to foster a more inclusive environment for women within church communities. AbstrakArtikel ini mengkaji panggilan perempuan dari perspektif Edith Stein dan relevansinya bagi kehidupan Gereja Katolik masa kini. Meskipun perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam sejarah gereja, mereka seringkali terpinggirkan dalam peran kepemimpinan dan partisipasi aktif. Tujuan penelitian ini adalah mendalami pemikiran Stein tentang identitas dan peran perempuan sebagai solusi untuk menjawabi tantangan yang dihadapi perempuan dalam Gereja Katolik. Dengan menerapkan metode studi pustaka, dan analisis mendalam terhadap karya-karya Stein, artikel ini menunjukkan bahwa pemahaman akan pengalaman dan panggilan perempuan dapat memperkaya praktik pastoral dan teologis. Penelitian ini berupaya menghubungkan antara pemikiran filosofis Stein dan isu-isu gender masa kini, serta memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan suara dan peran perempuan dalam kehidupan gerejawi dalam konteks Gereja Katolik. Dengan demikian, artikel ini berkontribusi bagi diskusi mengenai keadilan gender dalam konteks teologi dan pastoral, serta menawarkan perspektif baru tentang peran perempuan dalam misi gereja di era modern. Kesimpulan yang diambil adalah bahwa pemikiran Stein tetap relevan dan dapat diterapkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi perempuan dalam komunitas gereja.
Integrasi Teologi dan Psikologi Terhadap Pemulihan Penyakit Mental Pada Anak Dari Keluarga Broken Home Rotua, Dewi Magdalena; Ranting, Hermin; Pangkey, Lidya Naomi; Wohon, Frimsi; Nendissa, Julio Eleazer
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.635

Abstract

Write down Children from broken home families often face significant psychological disorders, such as anxiety, depression, and behavioral problems, which impact their emotional and social development. Therefore, this research focuses on how the integration of theology and psychology can be an effective solution to support the mental recovery of children who have been traumatized by an intact family situation. This research uses the literature study method by analyzing the main theories in psychology related to children's mental disorders and the recovery process, as well as theological concepts that emphasize spiritual healing and love. This approach aims to find the relationship and harmony between theological principles, such as forgiveness, love, and restoration through faith, and psychological methods, such as cognitive therapy and trauma-based psychotherapy. The results showed that a combination of theological and psychological approaches can have a positive effect on children's mental and spiritual well-being. Theology-based interventions, such as prayer, pastoral counseling, and church community support, help provide deep emotional strengthening. Meanwhile, psychological therapies, such as cognitive behavioral therapy (CBT) and trauma-informed psychotherapy, provide space for children to overcome their trauma and rebuild self-confidence. The integration of these two approaches not only accelerates mental recovery, but also strengthens the spiritual dimension, which is an important part of the overall healing process. Abstrak Anak-anak dari keluarga broken home sering menghadapi gangguan psikologis yang signifikan, seperti kecemasan, depresi, dan masalah perilaku, yang berdampak pada perkembangan emosional dan sosial mereka. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada bagaimana integrasi teologi dan psikologi dapat menjadi solusi efektif untuk mendukung pemulihan mental anak-anak yang mengalami trauma akibat situasi keluarga yang tidak utuh. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis teori utama dalam psikologi terkait gangguan mental anak-anak dan proses pemulihannya, serta konsep teologi yang menekankan penyembuhan rohani dan kasih. Pendekatan ini bertujuan untuk menemukan hubungan dan keselarasan antara prinsip-prinsip teologi, seperti pengampunan, kasih, dan pemulihan melalui iman, dengan metode psikologis, seperti terapi kognitif dan psikoterapi berbasis trauma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pendekatan teologis dan psikologis dapat memberikan efek positif pada kesejahteraan mental dan spiritual anak. Intervensi berbasis teologi, seperti doa, konseling pastoral, dan dukungan komunitas gereja, membantu memberikan penguatan emosional yang mendalam. Sementara itu, terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan psikoterapi berbasis trauma, menyediakan ruang bagi anak untuk mengatasi trauma mereka dan membangun kembali rasa percaya diri. Integrasi kedua pendekatan ini tidak hanya mempercepat pemulihan mental, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual, yang menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan secara keseluruhan.
Tradisi Hopong Ngae: Solidaritas Sosial dan Implikasi Teologi Kontekstual di Jemaat GMIT Sonaf Neka-Huilelot Nulik, Eritrika Adriana; Ruku, Welfrid Fini
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.640

Abstract

The Hopong Ngae tradition in the GMIT Sonaf Neka-Huilelot congregation on Semau Island plays a crucial role in strengthening the congregation's social and spiritual solidarity. This study examines the meaning of solidarity, the continuity of tradition amidst modernization, and its relationship to the actualization of Christian faith in local culture. The method used is a descriptive qualitative approach with in-depth interviews and congregation surveys, combined with simple quantitative analysis. The results show that Hopong Ngae strengthens relationships among congregation members, serves as an expression of gratitude for God's blessings before the harvest, and is also a means of cultural preservation. From Durkheim's perspective, this tradition represents mechanical solidarity that binds congregation members through shared values and goals. Theological reflection confirms that Hopong Ngae can be a medium for contextualizing Christian faith in the congregation's agrarian life. However, challenges arise from the lack of involvement of the younger generation and the influence of globalization. One solution is to empower youth through the use of digital technology to produce creative content on social media. This effort is expected to encourage the participation of the younger generation in maintaining the sustainability of the tradition in the future.AbstrakTradisi Hopong Ngae di Jemaat GMIT Sonaf Neka-Huilelot, Pulau Semau, berperan penting dalam memperkuat solidaritas sosial dan spiritual jemaat. Penelitian ini menelaah makna solidaritas, keberlangsungan tradisi di tengah modernisasi, serta kaitannya dengan aktualisasi iman Kristen dalam budaya lokal. Metode yang digunakan ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan survei jemaat, dipadukan dengan analisis kuantitatif sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hopong Ngae mempererat relasi warga jemaat, menjadi ungkapan syukur atas berkat Tuhan menjelang panen, sekaligus sarana pelestarian budaya. Dalam perspektif Durkheim, tradisi ini merepresentasikan solidaritas mekanik yang mengikat anggota jemaat melalui nilai dan tujuan bersama. Refleksi teologis menegaskan bahwa Hopong Ngae dapat menjadi medium kontekstualisasi iman Kristen dalam kehidupan agraris jemaat. Namun, tantangan muncul berupa minimnya keterlibatan generasi muda dan pengaruh globalisasi. Salah satu solusi ialah memberdayakan kaum muda melalui pemanfaatan teknologi digital untuk menghasilkan konten kreatif di media sosial. Upaya ini diharapkan mendorong partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi di masa depan.
Implementasi Nilai Moderasi Beragama melalui Pendidikan Kristen di Indonesia: Analisis atas Empat Pilar Moderasi Beragama Zalukhu, Amirrudin
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.647

Abstract

Religious moderation is a crucial issue in the context of Indonesia’s multireligious society, particularly in addressing the challenges of intolerance, violence, and social disintegration. This study aims to analyze the implementation of religious moderation values through Christian education, focusing on four fundamental pillars: national commitment, tolerance, non-violence, and acceptance of tradition. Employing a qualitative method with a literature study approach, this research examines both the theoretical and practical correlations between the principles of Christian education and the pillars of religious moderation. The findings reveal that Christian education, grounded in love, compassion, and service, provides a constructive framework for fostering mutual respect, strengthening interfaith dialogue, and cultivating collective responsibility within a pluralistic society. The integration of religious moderation values into Christian educational curricula and practices empowers individuals to act as agents of peace, justice, and social cohesion. This study concludes that Christian education plays a significant role in reinforcing religious moderation in Indonesia, while also emphasizing the importance of interfaith perspectives and cultural sensitivity in addressing the challenges of pluralism. AbstrakModerasi beragama merupakan isu krusial dalam konteks masyarakat multireligius di Indonesia, khususnya dalam menghadapi potensi intoleransi, kekerasan, dan disintegrasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai moderasi beragama melalui pendidikan Kristen dengan fokus pada empat pilar utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yang menelaah keterkaitan teoretis maupun praktis antara prinsip-prinsip pendidikan Kristen dan pilar-pilar moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristen, berlandaskan kasih, belas kasih, dan pelayanan, mampu menyediakan kerangka kerja untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, memperkuat dialog lintas iman, serta membangun tanggung jawab kolektif dalam masyarakat majemuk. Integrasi nilai moderasi beragama dalam kurikulum dan praksis pendidikan Kristen memberdayakan individu untuk menjadi agen perdamaian, keadilan, dan kohesi sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Kristen memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya perspektif lintas agama dan kepekaan budaya dalam menghadapi tantangan pluralisme.