cover
Contact Name
iqbal
Contact Email
khazanah@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
iqbalassyauqi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora
ISSN : 0215837X     EISSN : 24607606     DOI : -
Khazanah : Jurnal Studi Islam dan Humaniora ISSN 0215-837X and E-ISSN 2460-7606 is peer-reviewed national journal published biannually by the State Islamic University (UIN) of Antasari Banjarmasin. The journal is published biannually in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
MADIHIN: KESENIAN TRADISIONAL MASYARAKAT BANJAR SEBAGAI MEDIA DAKWAH ISLAM Jamalie, Zulfa
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 2, No 1 (2003)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.885 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v2i1.322

Abstract

Penggarapan madihin sebagai media dakwah Islam, terutama bersifat lokal masih minim sekali. Oleh karena itu yang mendalam dan modifikasi terhadap pemanfaatn madihin sebagai media rakyat (folk media) dibidang dakwah urgent sebagaimana halnya ludruk dari Jawa Timur. Dengan demikian, madihin tidak hanya sebagai penyampai pesan-pesan keagamaan sekaligus berfungsi sebagai media hiburan dan pendidikan.
ULAMA-DIFABEL: MENARASIKAN EKSPRESI KULTURAL MASYARAKAT BANJAR DALAM LENSA STUDI DISABILITAS Amin, Barkatullah
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.067 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v17i2.3215

Abstract

Ulama in Banjar society take place as religious elite whose roles are very important. They used to be treated specially in practice, like being honored and respected. However, what if there is Ulama who is physically and mentally different (difabel). Do people treat differently? How do people then perceive it? This paper aims to see how the attitudes and views of people in the Banjar community towards the ?Ulama-Difabel? ? Islamic scholars with disabilities who participate in religious and community activities. This is a qualitative research with ethnography approach. It uses social model of disability theory. the results of this study explain that although the government has ratified the Law of the Republic of Indonesia No. 19 of 2011 concerning the Ratification of the CRPD, however, it cannot be called as the sole reason for the establishment of an inclusive paradigm that develops in society in a dominant way. In spite of that, the Banjar people interpret the existence of diffable scholars as a transcendent phenomenon because of the normative influence, metaphysical, and theological (Islam Banjar) views which both encourage each other to form social constructs with a paradigm of the Social Model of Disability in Banjar society. This phenomenon is also affected by some factors like people?s understanding toward diffabled condition, culture, education, and religious doctrine accepted. Ulama dalam masyarakat Banjar menempati posisi sebagai elit keagamaan yang perannya sangat penting. Sehingga pada praktiknya ulama sering mendapatkan perlakuan spesial, seperti dimuliakan dan dihormati. Namun, bagaimana jika ada ulama yang memiliki perbedaan pada fisik ataupun mentalnya (difabel), apakah perlakuan masyarakat menjadi berbeda? Bagaimana kemudian masyarakat mempersepsikannya? Paper ini bertujuan untuk melihat bagaimana sikap dan pandangan masyarakat Banjar terhadap Ulama-Difabel yang turut serta dalam kegiatan keagamaan maupun kemasyarakatan. Kajian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pisau analisisnya menggunakan teori Social Model of Disability. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah telah meratifikasi Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan CRPD, tetapi hal itu tidak bisa disebut sebagai satu-satunya alasan terbentuknya paradigma inklusif yang berkembang dalam masyarakat, yang  kemudian mempengaruhi cara pandang masyarakat secara dominan, tetapi lebih dari itu, masyarakat Banjar memaknai keberadaan Ulama-Difabel sebagai fenomena transenden, karena dipengaruhi oleh pandangan-pandangan normatif, metafisik dan teologis (Islam Banjar) yang kemudian keduanya saling mendorong terbangunnya konstruksi sosial berparadigma Social Model of Disability pada masyarakat Banjar. Fenomena ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti; pemahaman masyarakat terhadap kondisi difabel itu sendiri, budaya, pendidikan, dan doktrin keagamaan yang diterima.
KEKERABATAN DAN INTERAKSI SIMBOLIK BIDAN KAMPUNG DENGAN URANG HALUS DALAM MASYARAKAT BANJAR Daily, Arni
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.944 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v16i2.2199

Abstract

This article is an important part of the exploration of the development of local treasures related to the beliefs and behavior of traditional village midwives towards supernatural beings. The midwives in East Banjarmasin have a belief that there are supernatural creatures called supernatural beings, besides genies and angels. Their relationship with this supernatural person is very close, because supernatural people are part of their kinship. This supernatural person is believed to have taught them to massage through dreams. This creature can become an animal. Unseen people are people or humans who are God-idolized, can the time in the womb disappear by itself, or after birth disappear. The behavior of traditional village midwives towards these occult people is that they always establish kinship, by giving offerings in the form of bitter coffee, sweet coffee, water, sticky rice, eggs, bananas, red and white porridge. In Islam it is not explicitly talked about this supernatural person, there are only supernatural beings (genies and angels). It could be that in Islam the occult is grouped into genie, because genie means hidden, and the occult is also hidden. But according to the author, if there is a magic person other than the genie, then there is an Al-Quran verse that supports implicitly, namely in the Surah An-Nâs verses 4-6. That is the whisper of evil hidden into the chest (heart), not ears, and which whispers it from the genie and human.Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menggambarkan khazanah lokal yang berhubungan dengan kepercayaan serta perilaku bidan kampung terhadap makhluk supernatural. Menggunakan metode penelitian studi kasus dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi, peneliti mendeskripsikan pendapat dan persepsi Bidan Kampung di Kota Banjarmasin  yang memiliki  kepercayaan adanya makhluk supernatural yang disebut orang gaib, selain jin dan malaikat. Dari hasil penelitian diketahui bahwa hubungan mereka dengan orang gaib ini sangat dekat, karena orang gaib bagian dari kekerabatan mereka. Orang gaib inilah yang diyakini telah   mengajari  mereka memijat melalui mimpi. Makhluk ini bisa menjelma menjadi binatang.  Orang gaib menurut pemahaman luas berupa orang atau manusia yang digaibkan Allah, bisa waktu dalam kandungan hilang dengan sendirinya, atau setelah lahir menghilang. Perilaku bidan kampung terhadap orang gaib diketahui selalu menjalin hubungan kekerabatan,  dengan cara memberi sesajen berupa kopi pahit,  kopi manis,  air putih,  nasi ketan, telor, pisang, bubur merah dan putih. Dalam  Islam tidak  secara tegas dibicarakan tentang orang gaib ini, yang ada hanya makhluk gaib ( jin  dan malaikat). Bisa saja dalam  Islam orang gaib itu dikelompokkan kepada jin, sebab jin artinya tersembunyi, dan orang gaib itu juga tersembunyi adanya. Namun menurut penulis,  apabila orang gaib itu benar ada selain jin, maka ada saja ayat Al-Quran yang mendukung  secara tersirat, yaitu pada surah An-Nâs ayat 4-6. Yaitu bisikan kejahatan tersembunyi ke dalam dada (hati), bukan ke telinga, dan yang membisikan itu dari golongan jin dan manusia.       
PEROMBAKAN HUKUM WARIS ISLAM (SEBUAH PENDEKATAN PEMBARUAN DALAM ISLAM) Rahman, Jalaluddin
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v9i2.3152

Abstract

Ayat-ayat mengenai hukum waris Islam tergolong amat rinci dan tegas. Dalam istilah lain, ayat-ayat tersebut dikategorikan dalam kelompok muhkamat dan qath?i yang oleh kebanyakan ulama dipandang sebagai aturan yang tidak dapat diotak-atik melalui ijtihad. Namun, kalangan modernis mengajukan pandangan yang berbeda dengan berpedoman pada apa yang telah dicontohkan oleh Umar bin al-Khaththab, Khalifah II yang berani meninggalkan harfiah ayat dengan pertimbangan kondisi dan kemaslahatan. Berkait dengan itu, berbagai teori yang dapat digunakan dalam melihat soal waris (hukum faraidh) seperti tinjauan dari segi pelaksanaan (tanfizh-tathbiq), takwil dari harfiah ke metaforis, rasionalisasi-sekularisasi-desakralisasi, nasakh dengan adat-kemaslahatan, hukum kausalitas, dan pengelompokannya ke dalam ibadah non-mahdhah (tidak murni)
HERMENEUTIKA HADIS ABŪ SYUQQAH Monady, Hanief
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.707 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v14i1.1130

Abstract

Dalam studi pemikiran Islam zaman modern ini, hermeneutika merupakan trend baru yang sebelumnya tidak mendapat cukup banyak perhatian dari sarjanawan dan cendikiawan muslim. Hermeneutika mulai banyak digemari setelah informasi dan pengetahuan tentangnya banyak menggeliat setelah banyak tulisan dan karya yang muncul dari penulis dan cendikiawan Arab kontemporer. Adapun kata hadis, yakni adalah segala sesuatu yang diambil dari Rasulullah SAW, baik berupa sabda, perbuatan, taqr?r, atau sifat-sifat beliau baik di masa sebelum beliau diangkat menjadi rasul, ataupun sesudahnya. Beberapa sarjana Muslim yang to some extent menerima Hermeneutika, tentang bagaimana memahami ayat-ayat Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW antara lain Fazlur Rahman, Mohammed Talbi, Nasr Hamid Ab? Zaid, Muhammad Abid Al Jabiri, Aminah Wadud, Muhammad Sabesthari, Muhammad Syahrur, Abdullah Saeed, dan masih banyak lagi. Salah satu tokoh Muslim yang melakukan upaya tersebut, ialah Ab? Syuqqah.
PEMBELAJARAN KONTEKTUAL PADA PELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN BANJARMASIN UTARA Gandhi, Mahutma
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 8, No 2 (2010)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v8i2.3031

Abstract

Keberhasilan pembelajaran IPS di sekolah dasar akan terwujud bila siswa berada dalam posisi membangun pengetahuan mereka lewat keikutsertaan secara aktif dalam proses pembelajaran. Keikutsertaan siswa dapat berbentuk pembelajaran berbasis kegiatan. Pembelajaran kooperatif dan penemuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi tentang pembelajaran kontekstual dalam mengajarkan IPS di Kelas III Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kelas dengan pendekatan kualitatif naturalistik. Latar situasi sosial adalah tempat yakni 4 (empat) SDN yang ada di Kecamatan Banjarmasin Utara, pelaku adalah Guru dan kegiatannya adalah proses pembelajaran IPS SD di Kelas III. Sedangkan subjek penelitian ini adalah peristiwa, manusia dan situasi yang diamati dalam hal ini pembelajaran kontekstual dalam proses pembelajaran IPS di sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat berlangsung baik di luar maupun di dalam kelas sesuai dengan tingkat kemampuan siswa memahami apa yang telah dimiliki atau pengalaman yang telah dimilikinya.
EPISTEMOLOGY: ARGUMENTS AGAINST PHENOMENALISM Fikri, Z.
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 4, No 1 (2006)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v4i1.3173

Abstract

In this essay 1 examine one model of critical episternologies, namely the phenomenalism. It ts a form of anti-realism; the phenomenalist denies the existence of a physical world when it is unperceived. I argue that the phenomenalist does not provide us with a meaningful and useful advancement in our understanding of experience and the world surroundings us. Against them i say that the appearances of physical objects are dependent on the nature of the object it-self, the condinons of perceiver and the light falls into the object, The notion of standard conditions put forward by the phenomenalist lead them into favouritism and committed to representationalism
IMPLEMENTASI HITUNG BINI PADA PEMBELAJARAN BERHITUNG DI KALANGAN WARGA KEAKSARAAN FUNGSIONAL BUDI MULIA DI DESA BAKAPAS KECAMATAN BARABAI Baidha, Wardatul
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.476 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v14i2.1669

Abstract

Dalam mengembangkan kemajuan warga belajar, pendidikan kekasaraan fungsional sangat penting. Pendidikan keaksaraan fungsional adalah program pengembangan kemampuan seseorang dalam menguasai dan menggunakan keterampilan membaca, menulis dan menghitung. Salah satu kemampuan yang ingin dicapai dalam pendidikan keaksaraan fungsional adalah kemampuan berhitung dan dalam masyarakat Banjar ada salah satu cara berhitung cepat yang dinamakan Hitung Bini. Cara ini bisa diterapkan pada operasi hitung matematika seperti, penjumlahan, pegurangan, perkalian dan pembagian. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif  Subyek dalam penelitian ini adalah 1 tutor berhitung dan 20 warga belajar, sedangkan obyeknya adalah implementasi pendidikan keaksaraan fungsional Budi Mulia, implementasi Hitung Bini dan kendala-kendala dalam pengimplementasian Hitung Bini pada Pembelajaran berhitung di kalangan warga keaksaraan fungsional di Desa Bakapas Kecamatan Barabai. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari penelitian ini ditemukan  bahwa proses pembelajaran berhitung di PKF Budi Mulia menggunakan hitungan tradisional yang dikenal dengan istilah Hitung Bini yang merupakan hitung kira-kira atau perkiraan. Kendala dalam pengimplementasiaan Hitung Bini, pertama kemampuan tutor dalam melaksanakan pembelajaran. Kedua, faktor usia dari warga belajar. Ketiga, daya pikir dan daya ingat dari para warga belajar yang berbeda-beda. Keempat, latar belakang sosial (pekerjaan) dari para warga belajar.
PERANAN GURU AGAMA ISLAM DALAM MENAMKAN NILAI ANTI KORUPSI PADA SISWA SMA DI KOTA BANJARMASIN Mizani, Hilmi
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v7i2.3049

Abstract

Fenomena korupsi yang terjadi di Indonesia sudah menjadi penyakit yang kronis dan sulit disembuhkan. Walaupun begitu banyak usaha yang dilakukan pemerintah hasilnya belum begitu maksimal. Salah satu lembaga yang cukup signifikan dalam rangka membentuk watak dan kepribadian adalah lembaga pendidikan. Institusi pendidikan diyakini sebagai tempat terbaik untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Murid yang akan menjadi tulang punggung bangsa di masa mendatang sejak dini harus diajar dan dididik untuk membenci serta menjauhi praktek korupsi. Bahkan lebih dari itu, diharapkan dapat turut aktif memeranginya. Masalahnya adalah apakah penanaman nilai-nilai anti korupsi sudah dilakukan di sekolah, khususnya oleh guru Pendidikan Agama Islam. Untuk itulah melalui penelitian ini diharapkan dapat mengungkap peran Guru Agama Islam dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada siswanya.
FIQH AL-AQALLIYYAT AS AN AMERICAN VERSION OF LOCAL WISDOM Mujiburohman, Abas
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.19 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v16i1.2091

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas suatu bentuk kearifan lokal dalam kajian budaya hukum Islam yang berkembang di kalangan Muslim di Amerika Serikat, negara di mana mereka menjadi warga minoritas. Mengikuti Clifford Geertz dan ahli-ahli lain yang memahami hukum sebagai bagian dari kebudayaan, artikel ini berpendapat bahwa tradisi keagamaan sebuah komunitas pada akhirnya akan tumbuh dari konvergensi bermacam-macam tradisi yang dibawa oleh para individu Muslim dari kebudayaan asal mereka masing-masing. Malalui sebuah proses yang disebut dengan teritorialisasi, berbagai interaksi budaya dalam sebuah komunitas akan mengarah pada pengelompokan tiga macam tradisi: tradisi yang terus berlangsung, tradisi yang disesuaikan, dan tradisi yang disimpan. Praktek lokal sebagaimana yang disaksikan oleh penulis dalam penelitian lapangannya di kalangan Muslim kota Lansing, Michigan dapat dikategorikan sebagai tradisi kelompok kedua. Lebih jauh, kearifan lokal semacam ini telah ditemukan juga oleh para sarjana Muslim yang lain di Amerika. Di antara sarjana dimaksud, adalah Taha Jabir Al-Alwani yang mengajukan tawaran fiqh al-aqalliyyat, yang berisi himpunan praktek-praktek ajaran Islam yang mengalami penyesuaian terkait dengan status warga Muslim yang merupakan minoritas di negara tersebut.Abstract: This article discusses a type of local wisdom in the field of Islamic legal culture that is developing among Muslims of the United States as they are minority in the country. Using Clifford Geertz? and others? understanding of law as part of culture, this article is arguing that the eventual religious tradition of a local community will grow from the convergence of varied traditions brought by individual Muslims from their cultures of origin. Following a process called territorialization, cultural interactions within a local community will result in the production of three religious traditions: the continuing, the improvised, and the suppressed traditions. Local practice as witnessed by the writer in his field research among Muslims of Lansing, Michigan is categorized as part of the second tradition. Further, this kind of local wisdom has been observed among American Muslim scholars. Among them is Taha Jabir Al-Alwani who has proposed the term fiqh al-aqalliyyat for the collections of new practices of Islamic teachings that are related to the status of Muslims being minority in the country.