cover
Contact Name
iqbal
Contact Email
khazanah@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
iqbalassyauqi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora
ISSN : 0215837X     EISSN : 24607606     DOI : -
Khazanah : Jurnal Studi Islam dan Humaniora ISSN 0215-837X and E-ISSN 2460-7606 is peer-reviewed national journal published biannually by the State Islamic University (UIN) of Antasari Banjarmasin. The journal is published biannually in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
KONSEP SHIDQ DALAM PERSPEKTIF TASAWUF Basrian, Basrian
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v7i2.3040

Abstract

Dalamkajiantasawuf,istilah"shidq"(kejujuran,kebenaran) tidak difahamisecarasempitsebagaisalahsatu sifat (karakter) seorangmuslimyang baik,melainkanmendapatluasan-luasan maknayang mendalam.Shidq merupakan salah satu bentuk pendakianparas?lik(sufi) yanginginmendekatkandirikepada Allah untuk selanjutnyasecaraberjenjang menujumaqam makrifah,suatu maqamyang menjadidambaan kaumsufi. Bagiorang-orang sufi,shidq(kejujuran,kebenaran)adalah pilar semuaperkara,karenanyashidqmemilikisuatukekuatan sehingga DzunNun al-Mishrimengatakan bahwa, shidq (kebenaran)adalahpedang Allah;tidak adasesuatupunyang ditempatinyamelainkan diputusnya. Dalam memberikanrumusanhakekatshidq(kebenaran, kejujuran) ini,diantaraparasufisendiricukupbervarisi.Meski demikian, beberapa ungkapan sufi yang menerangkannya terdapat hal yang menarik, yaitu bahwa di dalam shidq (kebenaran)ituterdapat jiwakeberanianyangdidasarkanatas kebenaran tersebut serta tidak merasa ketergantungan dengan yanglain, selain Allah.tidak difahamisecarasempitsebagaisalahsatu sifat (karakter) seorangmuslimyang baik,melainkanmendapatluasan-luasan maknayang mendalam.Shidq merupakan salah satu bentuk pendakianparas?lik(sufi) yanginginmendekatkandirikepada Allah untuk selanjutnyasecaraberjenjang menujumaqam makrifah,suatu maqamyang menjadidambaan kaumsufi. Bagiorang-orang sufi,shidq(kejujuran,kebenaran)adalah pilar semuaperkara,karenanyashidqmemilikisuatukekuatan sehingga DzunNun al-Mishrimengatakan bahwa, shidq (kebenaran)adalahpedang Allah;tidak adasesuatupunyang ditempatinyamelainkan diputusnya. Dalam memberikanrumusanhakekatshidq(kebenaran, kejujuran) ini,diantaraparasufisendiricukupbervarisi.Meski demikian, beberapa ungkapan sufi yang menerangkannya terdapat hal yang menarik, yaitu bahwa di dalam shidq (kebenaran)ituterdapat jiwakeberanianyangdidasarkanatas kebenaran tersebut serta tidak merasa ketergantungan dengan yanglain, selain Allah.
POSISI MADRASAH DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DI ERA OTONOMI DAERAH Yahya, M. Daud
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.835 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v12i1.303

Abstract

Madrasah is an Islamic educational institutions that have a long history, and finally recognized part of the National Education System . Madrasas are already managed by Depag / Kemenag with the religious sector is a problem when faced with the UU regions autonomy which necessitates the education sector be transferred to the government. At the end of the progress the school is not located in the under Depag and Kemenag but on the creativity the schools own.
MUKTAZILAH: KEKUATAN DAN KELEMAHANNYA Sahriansyah, Sahriansyah
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v6i1.3067

Abstract

Secara metodologis maupun materi aliran Muktazilah mempunyai kekuatan dan kelemahan. Adapun kekuatan yang dimiliki Muktazilah terletak pada pemberdayaan aka! secara maksimal untuk mempelajari teologi kalam dan memberikan kebebasan manusia untuk berbuat secara liberal, sehingga manusia menjadi kreatif dan dinamis. Sedangkan kelemahan yang terdapat pada Muktazilah ada dua, yaitu: Pertama, metode rasional dan dialektik yang digunakan Muktazilah membawa implikasi negatif dan tidak bisa diterima kalangan awam. Kedua, materi? materi tauhid yang menjadi trade mark Muktazilah sudah dianggap ketinggalan zaman karena bersifat spekulatif
EKSISTENSI ADVOKAT SEBAGAI PROFESI TERHORMAT (OFFICIUM NOBILE) DALAM SISTEM NEGARA HUKUM DI INDONESIA Hafidzi, Anwar
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.206 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v13i1.517

Abstract

As mentioned in 1945 Constitution of the Republic of Indonesia article 1(3), Indonesia is a country of law. Reformation era has changed law system in Indonesia and given a big opportunity for law enforcement, espe- cially for advocate profession other than judicial power. As we know, advo- cate profession has been regulated in Laws No. 18 Year 2003 about advocate. According to that provision, advocate is in position as law enforcement, free and Independent which is guaranteed by laws and regulations, so that the exist- ence has the logical consequence that the advocate is aofficium nobille and have the same or equal position with other law enforcement authorities whom au- thorities also been determined by the laws and regulations in Indonesia, such as judges, prosecutors, and police. Sometimes ago , there were problems in regu- lating professional advocate which had caused heated debate among legal ex- perts, legislators and legal practitioners. It is because a submission of a draft of Law to amend the provisions of Law No. 18 year 2003 about the advocate.Kata Kunci : Advokat, Profesi Terhormat (Officium Nobile), Sistem Negara Hukum Indonesia.
MEMBANGUN JEJARING PENGETAHUAN (MENGUPAYAKAN PTAI MENJADI LEARNING ORGANIZATION (LO)) Cahyadi, Ani
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v8i1.3017

Abstract

PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) adalah lembaga pendidikan Islam yang telah lama berdiri dengan berbagai dinamikanya. Upaya lembaga ini untuk terus berbenah diri menjadi yang terbaik adalah dambaan orang. Mengupayakan PTAI untuk terus belajar dan menjadi organisasi belajar terus diupayakan berbagai kalangan intern dan ekstern organisasi ini. Dengan memadukan people (siapa lagi yang belajar selain manusia), process (belajar sebelum, selagi, dan setelah), dan technology (sebuah mesin penghimpun otomatis yang mudah diakses). Pada akhirnya keseluruhan praktik berbagi dapat dilakukan dengan menjangkarkan kegiatan pada orang-orang yang bersemangat menyelesaikan tugas. Juga terbentuk mental model pada setiap individu pada organisasi ini dapat men-shared ilmu pengetahuan dan perubahan.
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN INTEGRATIF (STUDI DI LEMBAGA PENGABDIAN MASYARAKAT STAIN MALANG JAWA TIMUR) Yuseran, Muhammad
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v3i1.3157

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan fenomena dan peristiwa yang berkaitan dengan pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI) di STAIN Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipan dan studi dokumentasi. Sumber data yang ditetapkan adalah Ketua STAIN Malang sebagai penggagas ide PKLI, Ketua dan Sekretaris serta staf LPM, ketua jurusan, dosen pembimbing lapangan, mahasiswa dan informan tambahan. Pelaksanaan PKLI di STAIN Malang cukup baik dilihat dari segi pelaksanaan program secara institusional, kebijakan pimpinan, persepsi, sikap dan partisipasi mahasiswa dan dosen dalam program PKLI tetapi masih harus ditingkatkan lagi. Faktor penunjangnya adalah dukungan dari lembaga (STAIN), lembaga penerima, mahasiswa peserta, dan pengalaman pelaksanaan PKLI. Sedangkan faktor penghambatnya adalah kurangnya koordinasi, kurangnya tanggung jawab orang tertentu dalam organisasi pelaksana dan waktu yang sangat terbatas serta lebih terfokus pada bidang pembinaan profesi.
NAFS IN SUFISM PSYCHOLOGY: ROBERT FRAGER’S PERSPECTIVE Wulandari, Asty
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.058 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v15i1.1155

Abstract

Objek utama kajian psikologi ialah manusia yang terdiri dari jiwa dan raga. Dalam psikologi, raga manusia dapat berfungsi atau beraktifitas ketika jiwa mampu menggerakkannya dalam bentuk motif. Secara garis besar, jiwa bergerak yang berpadu dengan raga membentuk sebuah nama ?diri/aku (self)? atau dalam satu konsep ?kepribadian?. Hal senada juga menjadi bagian dalam kajian Islam (tasawuf/sufisme), kepribdian (akhlak) melibatkan dua substansi yaitu jasad dan ruh. Dua substansi yang saling berlawanan ini pada prinsipnya saling membutuhkan. Dalam hal ini tentu saja term ?nafs? merupakan jembatan untuk memadukan keduanya. Berawal dari ulasan komparatif atau bahkan menyamakan antara Psikologi Barat dan Tasawuf, Robert Frager (seorang psikolog sekaligus syekh) dalam dalam bukunya juga membicarakan term yang sama (nafs). Dalam buku Psikologi sufi yang ia tulis, ia mengaskan bahwa tasawuf adalah pendekatan yang sangat holisik (mengintegasikan antara fisik, psikis dan spirit) dan memahamkan bahwa tasawuf adalah disiplin spiritual bagi semua orang tanpa kelas dan kasta. Dengan demikian, rumusan masalah dalam tulisan ini ialah apa dan bagaimana definisi nafs, posisi dan karakteristik nafs dalam Psikologi Sufi dan tingkatan nafs dalam Psikologi Sufi perspektif Robert Frager. Dalam bagian kesimpulan, penulis menilik pada dua sudut pandang, yaitu sudut perkembangan nafs secara tasawuf dan mengkritisi aspek psikologis yang digunakan Robert Frager. Dalam sudut pandang sufisme, Robert Frager telah melakukan pengembangan dari konsep nafs yang telah dirumuskan al-Ghazali maupun al-Hifni. Namun demikian dalam tulisannya Robert Frager belum menyinggung hirarki kebutuhan yang diprakarsai Abraham Maslow ,terutama tingkat aktualisasi diri.The main object of psychology study is the human being as a wealth of body and soul. In psychology, the human body can function or act when the soul is able to move it in the form of motive. Broadly speaking, the moving soul that blends with the body forms a name called "self / I" or in a "personality" concept. The same thing is also a part of Islamic studies of tasawuf or sufism, personality (akhlak) involves two substances namely the body and spirit. These two opposing substances in principle need each other. In this case, of course the term "nafs" acts as a bridge to combine the two. Starting from a comparative review or even equating between Western Psychology and Sufism, Robert Frager, a psychologist as well as a sheikh, in his book also speaks of the same term (nafs). In his book of Sufi Psychology, he asserts that Sufism is a very holistic approach for it integrates physical, psychic and spirit and underlines that Sufism is a spiritual discipline for all people without class and caste. Thus, the formulation of the problem in this paper is what and how the definition of nafs, positions and characteristics of the nafs in Sufi Psychology and the level of nafs in the Sufi Psychology perspective of Robert Frager. In the conclusion part, the writer looks at two points of view, i.e. the nafs development in tasawuf and critiques the psychological aspects used by Robert Frager. In the view of Sufism, Robert Frager has been developing the concept of the nafs that al-Ghazali and al-Hifni have formulated. However, in his writings Robert Frager has not touched upon the hierarchy of needs initiated by Abraham Maslow, especially the level of self-actualization. 
ISLAM, BUDAYA INDONESIA, DAN POSISI KAJIAN ISLAM DI PERGURUAN TINGGI ISLAM HS, Mastuki
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.977 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v12i1.298

Abstract

This article discusses the integration of Islamic values into Indonesians culture. Seen from the point of view of religion, Indonesia is the largest Muslim nation in the world ( the biggest Muslim country in the world). But in the religion - political and ideological, Indonesia is not an Islamic State .However, it does not mean Islam is Indonesia not original . Difficult to deny that the teachings and values of Islam has contributed much to the formation of Indonesian national culture. On the other hand, the institutionalization of Islamic values is also very powerful form of knowledge and intellectual system of the people, customs and belief systems, national culture, economic systems, up to the formation of Mus- lim behavior in Indonesia. In short, Islamic values has been fused with the culture of Indonesia. Islamic values have been institutionalized and becomes tradition in Indonesia then experience the dynamics and endless adjustments to this day.
REPRESENTASI LIQUID RELIGION KELAS MENENGAH MUSLIM DALAM FILM ISLAMI PASCA ORDE BARU Supriansyah, Supriansyah
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.01 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v17i1.2689

Abstract

The main focus of this article is the construction of the middle class Muslims through representation and images in the form of Islamic films. Representations and simulations are used to maintain and strengthen the position of the middle class in Muslim societies. In the era of liberal capitalism, spectacle media is the most popular medium of society. The image is the main value in the media, which disturbs the society of capitalism to smooth the agenda of capitalism and consumerism. The main question in this article is how the representation and simulation of Islam is from the middle class Muslims in Indonesian Islamic films in post-new Order era? This article reveals the position of Islamic films as a medium of preservation of the religious values of the middle class that are displayed through film framing such as economic ability, education qualifications and political choice. The identity of the middle class is a value that is not only illustrated without ideological battles and the struggle for space in films, but at the same time becomes a religious ideological medium, especially the closed middle class Muslims ideology.
ETIKA SAINS DALAM PERSPEKTIF SPIRITUALITAS ISLAM Takdir, Mohammad
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.525 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v15i2.1635

Abstract

This paper aims to explore the idea of the importance science ethics in the Islamic spirituality perspectives. This study used library research to determine the ethical dimension of Islamic science which is more concerned with the benefit of the people rather than the negative impact of the development of science and technology. By using the view of Islamic spirituality, the development of modern science should be guided by ethics and morals that represent esoteric wisdom as the heart of religion.This study shows that the ethics of science in the view of Islamic spirituality always emphasizes the dimensions of wisdom as reflected in the use of science without neglecting the most basic human values. The ethics of science contained in Islamic spirituality is a reflection of the esoteric dimension that encourages its people to be more sensitive to the future of nature which becomes the most beautiful representation of God's face. The ethical-esoteric dimension inherent in Islamic science is expected to be implemented by religious people to better appreciate the universe as God's creation.