cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 4 (2021)" : 20 Documents clear
Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin Covid-19 Siti Novy Romlah; Desy Darmayanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5498

Abstract

Background: At the end of 2019, the world was shocked by the emergence of a new respiratory disease outbreak that was first reported from Wuhan, China, and spread to countries around the world. The World Health Organization, the World Health Organization (WHO), this disease was given the name Covid 19 and was designated as a Pandemic. Given this situation, one of the most likely ways to prevent the disease from spreading further is by vaccination.Purpose:To find out the factors that cause Post Immunization Adverse Events (KIPI) for the Covid-19 vaccine in the Tapos and Pamulang Health Centers.Method:  The research design used is an analytical research type with a prospective cohort design. The study was conducted by monitoring respondents who were given the CoronaVac type of Covid-19 vaccine followed by Adverse Events after Immunization on the first day after the vaccine and the sixth day after the vaccine. The research was conducted in two places, namely Puskesmas Tapos Depok with a total of 329 respondents and Puskesmas Pamulang with a total of 491 respondents. The variables in this study were age, gender, history of infection with Covid-19, vaccine status, level of anxiety, and Post-Immunization Adverse Events (AEFI) the first day after the vaccine and the sixth day after the vaccine. The level of confidence in this is 95%.Results: This shows that by age, the majority are adults, namely 26-45 years. Most of them are female, have no history of being infected with Covid-19. Types of AEFIs such as swelling at the injection site, itching, and diarrhea. The results of the bivariate analysis showed that there was no relationship between gender, history of Covid-19, vaccination status got, and anxiety with AEFI on the first day after the vaccine and AEFI on the sixth day after the vaccine. Monitoring of AEFIs on the sixth day after vaccination showed that a small proportion of respondents, namely 26 people, had mild AEFIs with most respondents, namely 464 people without AEFIs. However, on the 6th day of monitoring of AEFI, there was still 1 respondent who had a severe AEFI.Conclusion: There is no relationship between gender, history of Covid-19 infection, vaccination status obtained with AEFI both the first day and the sixth day after the vaccine at the Tapos Health Center, Depok, West Java. However, there is a relationship between age and anxiety variables with AEFI on the sixth day after taking of the vaccine.Keywords: Age; Gender; History of being infected with Covid-19; Vaccine Status; Anxiety Level, AEFIPendahuluan: Di penghujung tahun 2019, dunia dihebohkan dengan munculnya wabah penyakit pernapasan baru yang pertama kali dilaporkan dari Wuhan, China, dan menyebar ke negara-negara di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit ini diberi nama Covid 19 dan ditetapkan sebagai Pandemi. Melihat situasi ini, salah satu cara yang paling mungkin untuk mencegah penyebaran penyakit semakin luas adalah dengan vaksinasi.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) vaksin Covid-19 di Metode : Jenis penelitian analitik dengan rancangan kohort prospektif. Penelitian dilakukan dengan melakukan pemantauan terhadap responden yang diberikan suntik vaksin Covid-19 jenis CoronaVac diikuti Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi pada hari pertama pasca vaksin dan hari ke enam pasca vaksin. Penelitian dilakukan di dua tempat yaitu Puskesmas Tapos Depok sejumlah 329 responden dan Puskesmas Pamulang sejumlah 491 responden. Variable dalam penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, riwayat terinfeksi Covid-19, status vaksin, tingkat kecemasan, dan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) hari pertama pasca vaksin dan hari ke-enam pasca vaksin. Tingkat kepercayaan dalam ini yaitu 95%.Hasil: Didapatkan berdasarkan usia, mayoritas adalah orang dewasa yaitu 26-45 tahun. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan, tidak memiliki riwayat terinfeksi Covid-19. Jenis KIPI seperti pembengkakan di tempat suntikan, gatal-gatal, dan diare. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, riwayat Covid-19, status vaksinasi yang didapat, dan kecemasan dengan KIPI hari pertama setelah vaksin dan KIPI hari keenam setelah vaksin.Pemantauan KIPI pada hari keenam setelah vaksinasi menunjukkan sebagian kecil responden yaitu 26 orang mengalami KIPI ringan dengan sebagian besar responden yaitu 464 orang tanpa KIPI. Namun pada pemantauan hari ke-6 KIPI masih terdapat 1 responden yang mengalami KIPI berat.Simpulan: Tidak ada hubungan antara jenis kelamin, riwayat infeksi covid-19, status vaksinasi yang didapat dengan KIPI baik hari pertama dan hari keenam setelah vaksin di Puskesmas Tapos Depok Jawa Barat. Namun yang ada hubungan pada variabel usia dan kecemasan dengan KIPI pada hari keenam setelah pemberian vaksin.
Efektivitas penggunaan vein viewer pada pemasangan jalur vena neonatus: Literatur review Tanty Harjati; Andi Amalia Wildani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5449

Abstract

Efficacy of vein viewer in pediatric peripheral intravenous access:  A literature reviewBackground: Peripheral venous insertion especially in neonates is a simple thing, especially the technique needed and selection of the right venous line to produce a high success rate of insertion. Other risks faced in the venous insertion in neonates include repeated stabbing, pain, and infection. A venous Viewer is a tool that can help see a clearer picture of the venous line and reduce the risk of repeated stabbing.Purpose: Determine the effectiveness of the use of veins viewed in the installation of the neonatal intravenous line.Method: The form of a literature review, database searches are carried out through Proquest, Researchgate, and scholar articles, between 2017 and 2021.Results: Based on the articles review the use of a vein viewer in neonates has great benefits in the process of inserting a venous line and makes it easier to visualize the vein before the procedure, so increasing the success of insertion at the first opportunity, the value of the pain scale is low and the length of stay of the venous catheter in the neonate’s vein increases.Keywords: Neonate; Vein viewer; Vein finder; TransluminatorPendahuluan: Pemasangan jalur vena perifer khususnya pada neonatus bukanlah suatu hal yang mudah, memerlukan teknik khusus dan pemilihan jalur vena yang tepat agar menghasilkan tingkat keberhasilan pemasangan yang tinggi. Risiko yang dihadapi dalam pemasangan jalur vena pada neonatus antara lain penusukan berulang, nyeri, dan timbulnya infeksi. Vein Viewer merupakan suatu alat yang dapat membantu melihat gambaran jalur vena menjadi lebih jelas serta menurunkan risiko penusukan berulang.Tujuan: Mengetahui efektifitas penggunaan vein viewer pada pemasangan jalur vena neonatus.Metode: Metode penelitian ini berupa literatur review, pencarian database dlakukan melalui Proquest, Researchgate dan artikel scholar antara tahun 2017 hingga tahun 2021. Terdapat 4 (empat) artikel yang sesuai kriteria pencarian.Hasil: Berdasarkan 4 (empat) artikel literatur yang sesuai kriteria pencarian, penggunaan vein viewer pada neonatus memiliki kemanfaatan yang besar dalam proses pemasangan jalur vena dan memudahkan dalam visualisasi vena sebelum tindakan sehingga meningkatkan keberhasilan pemasangan dikesempatan pertama, nilai skala nyeri yang rendah dan lama menetapnya catheter vena di dalam pembuluh darah vena neonatus meningkat.
Status gizi ibu saat hamil dengan kejadian stunting pada batita Tedi Tiar Mahendra; Setiawati Setiawati; Riska Wandini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.1617

Abstract

Background: The highest stunting incidence in Lampung Tengah regency is in Pubian sub-district, Payung Rejo health center work area, Tawang Negeri village with percentage of 38.96%, followed by terbanggi sub-district, Bandar Jaya health center work area, Adi Jaya village with 36.7%, and third place is Seputih Agung criticism, Simpang Agung Health Center Working Area, Mujirahayu village with a percentage of 34.3%.Purpose: Knowing maternal nutritional status during pregnancy and stunted growth among toddler.Method: This type of research is quantitative. The design of this study was an analytical survey with a cross sectional approach. The population and sample used were all children with stunting incidence of 39 children; sampling in the study was a total sampling and statistical test using the chi square testResults: Stunting incidence, out of 39 toddler, 21 toddler (53.8%) experienced stunting /short, out of 39 mothers, 24 mothers (61.5%) experienced SEZ. The results of the analysis using chi-square, obtained p-value = 0.018 (α < 0.05).Conclusion: There was maternal nutritional status during pregnancy and stunted growth among children under three years old. It needs to increase the activeness of health workers to carry out counseling on children's nutritional status, and if they find children with poor nutritional status, health workers can immediately make referrals for further services.Keywords: Maternal Nutrition; Stunting; ToddlerPendahuluan: Kejadian stunting di kabupaten Lampung Tengah tertinggi berada di kecamatan Pubian, Wilayah Kerja Puskesmas Payung Rejo, kampung Tawang Negeri dengan persenmtase 38,96%, selanjutnya disusul oleh kecamatan terbanggi besar, Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Jaya, kampung Adi Jaya sebesar 36,7%, dan urutan ke tiga yaitu kecamanatan Seputih Agung, Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Agung, kampung Mujirahayu dengan persentase 34.3%.Tujuan: Diketahui hubungan status gizi ibu saat hamil dengan kejadian stunting pada anak usia batita.Metode: Jenis penelitian Kuantitatif. Desain penelitian ini survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh anak dengan stunting sebanyak 39 anak, teknik pengambilan sampel dengan total sampling. Uji statistik menggunakan uji chi square.Hasil: Kejadian stunting, dari 39 anak, 21 anak (53,8%) mengalami stunting pendek dan 18 (46,8%) anak sangat pendek, dari 39 ibu, 24 ibu (61,5%) mengalami Kekurangan Energi dan Kalori (KEK) dan 15 (38,5) status gizi normal. Hasil analisa menggunakan chi-square, nilai p-value = 0.018 (<0,05).Simpulan: Terdapat hubungan status gizi ibu saat hamil dengan kejadian stunting pada anak usia batita. Diharapkan dapat meningkatkan keaktifan bagi petugas kesehatan untuk melakukan penyuluhan tentang status gizi anak, dan apabila menemukan anak dengan status gizi buruk, petugas kesehatan dapat langsung melakukan rujukan untuk mendapat pelayanan selanjutnya. 
Pengaruh mobilisasi dan massage terhadap pencegahan risiko luka tekan pada pasien tirah baring Asep Badrujamaludin; Ritha Melanie; Nenden Nurdiantini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5558

Abstract

The nursing prevention of pressure sores in hospital due to prolonged bed restBackground: A pressure wound is a localized wound in the tissue over the bone that protrudes from continuous pressure over a long period. Pressure sores increase mortality and the length of treatment days. Prevention of pressure To determine the effect of mobilization and massage as nursing prevention of pressure sores in hospital due to prolonged bed rest.Method: A quasi-experimental design with a pretest-posttest non-equivalent control group design. The number of samples was 30 participants, devised into two groups and each group contain 15 participants; group I mobilization and massage intervention and another group by only massage intervention. The measurement of pressure sores risks by using the Braden scale. Data analyzed univariate and bivariate using paired categorical comparative tests (Marginal Homogeneity Test) and unpaired (Chi Square).Results: Showed that the risk of pressure wounds before mobilization and massage in group I was 66.7% with a high risk, while 66.7% at post-intervention was a moderate risk. The risk of pressure wounds before mobilization in group II was 53.3% with a high risk, while at post-intervention was 53.3% with moderate risk. There was a difference in the risk of pressure sores before and after mobilization and massage in group I p Value 0.001 (< 0.05). There was a difference in the risk of pressure sores before and after mobilization in group II p-value 0.008 (<0.05). There was no difference in the risk of pressure sores between the groups that were given the mobilization and the message with the groups that were given the mobilization (p 0.456).Conclusion: Implementing mobilization and massage can reduce the risk of pressure sores in bed rest patients, but the risk of pressure exertion between the group that was given the mobilization and the message with the group that was given the mobilization was not different. Recommended that nurses be able to carry out preventive care for the risk of pressure sores with mobilization and massage.Keywords: Prevention; Pressure sores ; Hospital; Bed rest; Mobilization; MassagePendahuluan: Luka tekan adalah luka terlokalisir pada jaringan di atas tulang yang menonjol akibat tekanan terus menerus dalam jangka waktu lama. Luka tekan meningkatkan mortalitas dan lama hari perawatan. Pencegahan luka tekan dapat dilakukan dengan melakukan mobilisasi serta massage. Tujuan: Mengetahui pengaruh mobilisasi dan massage terhadap risiko luka tekan pada pasien tirah baringMetode: Penelitian quasi eksperimen dengan rancangan pretest posttest non-equivalent control group design. Jumlah sampel sebanyak 30 partisipan yaitu 15 sampel kelompok I yang diberikan mobilisasi dan massage serta 15 sampel kelompok II yang hanya diberikan mobilisasi, diambil dengan teknik accidental sampling. Pengukuran risiko luka tekan menggunakan skala Braden. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji komparatif kategorik berpasangan (Marginal Homogeneity Test) dan tidak berpasangan (Chi Square).Hasil: Menunjukkan risiko luka tekan sebelum dilakukan mobilisasi dan massage pada kelompok I sebesar 66,7% dengan risiko tinggi sedangkan saat posttest 66,7% dengan risiko sedang. Risiko luka tekan sebelum dilakukan mobilisasi pada kelompok II sebesar 53,3% dengan risiko tinggi sedangkan saat posttest 53,3% dengan risiko sedang. Terdapat perbedaan risiko luka tekan sebelum dan setelah dilakukan mobilisasi dan massage pada kelompok I (p 0,001).  Terdapat perbedaan risiko luka tekan sebelum dan setelah dilakukan mobilisasi pada kelompok II (p 0,008). Tidak terdapat perbedaan risiko luka tekan antara kelompok yang diberikan mobilisasi dan message dengan kelompok yang diberikan mobilisasi (p 0,456).Simpulan: Pelaksanaan mobilisasi dan massage mampu menurunkan risiko luka tekan pada pasien tirah baring, akan tetapi risiko lukan tekan antara kelompok yang diberikan mobilisasi dan message dengan kelompok yang diberikan mobilisasi tidak terdapat perbedaan. Disarankan perawat dapat melakukan perawatan pencegahan risiko luka tekan dengan mobilisasi dan massage.
Hubungan prostaglandin terhadap kejadian premenstrual syndrome (PMS) pada remaja putri Noviyani Hartuti; Asyima Asyima
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5307

Abstract

Background: Young women and middle-aged women during the luteal phase of the menstrual cycle will experience emotional and physical  problems called premenstrual syndrome (PMS).Purpose: To determine the relationship of prostaglandins to the incidence of premenstrual syndrome in young women at the Pelamonia Midwifery Academy.Method: A Cross-Sectional Study with a population was the student of nursing academy Pelamonia Makassar. The sampling technique used a total sampling technique with a sample of 50 respondents. The research instrument used a daily note sheet (LCH), questionnaire data collection which included identity and symptoms or complaints of premenstrual syndrome. Prostaglandin examination using the Prostaglandin Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay (ELISA) kitResults: Showed that of the 26 respondents with mild PMS, 23 respondents (46%) had prostaglandin F2α levels <420.6 pg / mL and 3 respondents (6%) had prostaglandin F2α levels> 420.6 pg / mL. Meanwhile, of the 24 respondents who had severe PMS, 15 respondents (30%) had prostaglandin F2α levels <420.6 pg / mL and 9 respondents (18%) had prostaglandin F2α levels> 420.6 pg / mL. The results of the Chi-Square statistical test for the relationship of prostaglandins to the incidence of premenstrual syndrome in adolescent girls at the 0.05 level indicate that p value = 0.047, so p value ≤ α so that Ha is accepted and H0 is rejected.Conclusion: The study was a prostaglandin relationship to the incidence of premenstrual syndrome at the Pelamonia Midwifery Academy in Makassar in 2020.Keywords: Adolescents; Pre Menstrual Syndrome; ProstaglandinsPendahuluan: Remaja putri dan wanita setengah baya selama fase luteal pada siklus menstruasi akan mengalami gangguan emosional dan gangguan fisik yang dinamakan dengan premenstrual syndrome (PMS).Tujuan: Diketahui hubungan prostaglandin terhadap kejadian premenstrual syndrome pada remaja putri di akademi kebidanan pelamonia.Metode: Cross Sectional Study dengan populasinya mahasiswi Akbid Pelamonia Makassar. Teknik pengambilan Sampel menggunakan teknik total sampling dengan didapatkan sampel berjumlah 50 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar catatan harian (LCH), kuisioner pengumpulan data yang meliputi identitas serta gejala ataupun keluhan dari premenstrual syndrome. Pemeriksaan prostaglandin menggunakan prostaglandin Enzim Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA) kit.Hasil: Didapatkan bahwa dari 26 responden yang PMS Ringan terdapat  23 responden (46%) memiliki kadar prostaglandin F2α <420,6 pg/mL dan 3 responden (6%) memiliki kadar prostaglandin F2α >420,6 pg/mL. Sedangkan, dari 24 responden yang PMS Berat terdapat 15 responden (30%) memiliki kadar prostaglandin F2α <420,6 pg/mL dan 9 responden (18%) memiliki kadar prostaglandin F2α >420,6 pg/mL. Hasil uji statistik Chi-Square hubungan prostaglandin terhadap kejadian premenstrual syndrome pada remaja putri pada taraf kepercayaan 0,05 menunjukkan bahwa p Value = 0,047, jadi p Value ≤ α sehingga Ha diterima dan H0 ditolak.Simpulan: Terdapat hubungan prostaglandin terhadap kejadian premenstrual syndrome di Akademi Kebidanan Pelamonia Makassar Tahun 2020.
Pengaruh reminiscence therapy terhadap tingkat stres pada lansia masa pendemi covid-19 Ikhsan Ikhsan; Septi Andrianti; Titin Aprilatutini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5616

Abstract

Reminiscence therapy interventions for Chronic stress in elderly during pandemic covid-19 Background: The level of stress in the elderly also means the level of pressure felt or experienced by the elderly. During the COVID-19 pandemic, the government recommends social distancing. In addition, self-quarantine has almost a year. Conditions of social distancing or physical distancing can trigger psychological pressure, especially for the elderly who live in orphanages and have chronic diseases. Purpose: To determine the effect of Reminiscence therapy interventions for Chronic stress in elderly during pandemic covid-19Method: This research is a pre-experimental design with a one-group pretest and posttest design. The population is 65 elderly, using purposive sampling. This research was 30 elderly, 15 elderly in the control group, and 15 elderly in the intervention group. The instrument is the DASS (stress scale) questionnaire. Data analysis used the Paired Sample t-Test statistical test. The research was done on April June 2021.Results: Finding that the average stress score before and after which in the control group the stress score was before 27.81 with a standard deviation of 4.34 and in the eighth week the stress score decreased to 24.64 with a standard deviation of 4.74. In the intervention group, the stress score before 28.31 with a standard deviation of 4.44 and after being treated for eight weeks decreased to 14.80 with a standard deviation of 5.86. Evidenced by the p-value of 0.001 (α <0.05).Conclusion: The experience of the stress by the elderly with an average standard deviation of 65-89 years. The stress score before reminiscence therapy was 28.31 with a standard deviation of 4.44, and after 8 weeks of reminiscence therapy, it decreased to 14.80 with a standard deviation of 5.86.Keywords: Reminiscence therapy; Chronic stress; Elderly;  Pandemic covid-19Pendahuluan: Tingkat stres pada lansia juga berarti tingkat tekanan yang dirasakan atau dialami oleh lansia. Selama pandemi COVID-19, pemerintah merekomendasikan jarak sosial. Selain itu, karantina mandiri telah dilakukan selama hampir satu tahun. Kondisi social distancing atau jarak fisik dapat memicu tekanan psikologis, terutama bagi lansia yang tinggal di panti asuhan dan memiliki penyakit kronis. Tujuan: Mengetahui pengaruh Terapi Reminiscence terhadap tingkat stres pada lansia pada masa pandemi Covid 19 di Panti Sosial Tresna Werdha Kota Bengkulu Tahun 2021.Metode: Penelitian pre-experimental design dengan one-group pretest and posttest design. Populasi adalah 65 partisipan, dengan menggunakan purposive sampling. Penelitian ini berjumlah 30 lansia, 15 lansia pada kelompok kontrol dan 15 lansia pada kelompok intervensi. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner DASS (skala stres). Analisis data menggunakan uji statistik Paired Sample t Test. Penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan April Juni 2021.Hasil: Didapatkan bahwa rata-rata skor stres sebelum dan sesudah pada kelompok kontrol skor stres sebelum 27,81 dengan standar deviasi 4,34 dan pada minggu kedelapan skor stres menurun menjadi 24,64 dengan standar deviasi 4,74. Pada kelompok intervensi, skor stres sebelum 28,31 dengan standar deviasi 4,44 dan setelah diberi perlakuan selama delapan minggu menurun menjadi 14,80 dengan standar deviasi 5,86. Dibuktikan dengan nilai p sebesar 0,001 (α < 0,05).Simpulan: Stress dialami oleh lansia dengan usia rata-rata standar deviasi 65-89 tahun. Skor stress sebelum reminiscence therapy adalah 28.31 dengan standar deviasi 4,44, dan setelah dilakukan reminiscence therapy  selama 8 minggu terjadi penurunan menjadi 14,80 dengan standar deviasi menjadi 5,86.
Pengaruh hypnobirthing (pemberian terapi music murottal ) dan akupresur terhadap penurunan persepsi nyeri pada proses persalinan Rahmiyani Saad; Ainun Jariyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5947

Abstract

Background: Delivery pain is a physiological process experienced during the delivery process. The pain can be overcome by non-pharmacological methods, namely hypnobirthing and acupressure methods. Where hypnobirthing can provide a sense of relaxation based on the belief that pregnant women can experience delivery through instinct and give suggestions that giving birth is enjoyable, while acupressure can stimulate the release of endorphins in the blood. Many women are overshadowed by fear and even traumatized feelings of unbearable pain during childbirth, they cannot tolerate the pain because they are heavily influenced by stress. Several research reports show that in primitive societies, delivery is longer and painful, while in more advanced societies 7-14% give birth without pain and most (90%) delivery is accompanied by pain. This creates tension or panic that causes pain. Therefore, researchers are interested in examining the effect of hypnobirthing and acupressure on decreasing pain perception during delivery.Purpose: Analyzing the effect of hypnobirthing and acupressure on decreasing pain perception in the process.Method: Quantitative quasi experiment with the pre test post test research design. with purposive sampling technique, data analysis using SPSS software with paired T Test and Wilcoxon Signed Rank Test.Results: It was found that there was an effect of acupressure and hypnobirthing therapy (murottal therapy) on decreasing pain perception in maternity with a p value of 0.000 <0.05.Conclusion: Acupressure treatment on the perception of pain in partisipants is more influential than the treatment of Hypnobirthing (Murottal Music therapy) on the perception of pain in partisipants.Keywords: Hypnobirthing; Delivery; Acupressure; PainfulPendahuluan: Nyeri persalinan merupakan proses fisiologi yang dialami selama proses persalinan. Nyeri tersebut dapat diatasi dengan metode non farmakologi, yakni dengan metode hypnobirthing dan akupresur. Dimana hypnobirthing dapat memberikan rasa relaksasi yang mendasarkan pada keyakinan bahwa ibu hamil bisa mengalami persalinan melalui insting dan memberikan sugesti bahwa melahirkan itu nikmat, sedangkan akupresur dapat merangsang pengeluaran hormon endorphin dalam darah. Banyak wanita yang dibayangi ketakutan bahkan perasaan trauma akan nyeri yang tidak tertahankan saat persalinan, mereka tidak bisa mentolelir rasa nyeri tersebut karena banyak dipengaruhi oleh stres. Beberapa laporan penelitian menunjukkan bahwa pada masyarakat primitif, mengalami persalinan lebih lama dan nyeri, sedangkan masyarakat yang lebih maju 7-14% bersalin tanpa rasa nyeri dan sebagian besar (90%) persalinan disertai rasa nyeri. Hal tersebut menimbulkan ketegangan atau kepanikan yang menyebakan rasa sakit. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh hypnobirthing dan akupresur terhadap penurunan persepsi nyeri pada proses persalinan.Tujuan: Menganalisa pengaruh hypnobirthing dan akupresur terhadap penurunan persepsi nyeri pada proses persalinan.Metode: Kuantitatif quasy experiment dengan rancangan penelitian the pre test post test. dengan tekhnik purposive sampling analisis data menggunakan software SPSS dengan uji paired T Test dan uji Wilcoxon Signed Rank Test.Hasil: Diperoleh menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian  akupresur dan terapy hypnobirhting (terapy murrotal)  terhadap penurunan persepsi nyeri pada ibu bersalin dengan nilai p 0,000<0,05.Simpulan: Perlakuan Akupressur terhadap persepsi nyeri pada partisipan lebih berpengaruh dibandingkan perlakuan Hypnobirthing (terapy Music Murottal )  terhadap persepsi rasa nyeri pada partisipan. 
Persepsi ibu hamil tentang kerentanan, keseriusan dan manfaat dengan kejadian anemia Riche Octriza Syafti; Misnaniarti Misnaniarti; Rico Januar Sitorus; Nurrobikha Nurrobikha; Ikhsan Ikhsan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5598

Abstract

Maternal anemia and attitudes concerning health behaviors during pregnancy Background: Maternal anemia during pregnancy is still a health problem, it can endanger the safety of the mother and the health of the fetus in the uterus.Purpose: To know the relationship between maternal anemia and attitudes concerning health behaviors during pregnancyMethod: Quantitative research with a cross-sectional design, the population is pregnant women at the public health center Kepahiang District. The sample of 104 pregnant women aged 18 to 20 years as respondents.Instrument attitudes concerning health behaviors during pregnancy and check laboratory maternal anemia. Data statistics used univariate, Bivariate, and multivariate analysis, data analysis chi-square.Results: The finding of 104 respondents, 79  (76%) had a high vulnerability, 71 (68.3%), had a high seriousness, 58 (55.8%) felt a high benefit, 71 (68.3%) felt a high sign, and 85 (81.7%) had anemia. The results of the bivariate analysis showed that susceptibility, seriousness, cues/signs, benefits had a significant effect on the incidence of anemia in pregnant women with a p-value <0.05. In the result of multivariate analysis, the most dominant variable influencing the incidence of anemia in pregnant women in Kepahiang Regency is the seriousness variable with a p-value = 0.000 < (0.05).Conclusion: There is a significant influence between vulnerability, seriousness, benefits, and cues that affect the incidence of anemia in pregnant women in Kepahiang Regency.Suggestion: It is necessary to improve health promotion efforts, especially for pregnant women so that the compliance of pregnant women to perform ANC increases.Keywords: Maternal anemia; Attitudes; Health behaviors; During pregnancyPendahuluan: Kejadian anemia pada ibu hamil sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan tidak terkecuali di Kabupaten Kepahiang. Kehamilan dengan anemia dapat membahayakan keselamatan ibu dan kesehatan janin didalam kandungan.Tujuan: Untuk menganalisis persepsi ibu hamil tentang  kerentanan, keseriusan dan manfaat dengan kejadian anemiaMetode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, populasinya adalah ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Kepahiang. Sampel sebanyak 104 ibu hamil berusia 18 sampai 20 tahun sebagai responden. Instrumen sikap tentang perilaku kesehatan selama kehamilan dan pemeriksaan laboratorium anemia ibu. Statistik data menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat, analisis data chi-square.Hasil: Didapatkan 104 responden, 79 (76%) memiliki kerentanan yang tinggi, 71 (68,3%), memiliki keseriusan yang tinggi, 58 (55,8%) merasakan manfaat yang tinggi, 71 (68,3%) merasakan isyarat/tanda yang tinggi, dan 85 (81,7%) mengalami anemia. Hasil analisa bivariate menunjukkan kerentanan, keseriusan, isyarat/ tanda, manfaat memiliki pengaruh yang signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil dengan p value < 0,05. Hasil akhir analisa multivarait variabel yang paling dominan berpengaruh dengan kejadian anemia pada ibu hamil  di Kabupaten Kepahiang  adalah variabel keseriusan dengan nilai p value = 0,000 < α (0,05).Simpulan: Terdapat pengaruh yang bermakna antara kerentanan, keseriusan, manfaat dan isyarat berpengaruh terhadap kejadian anemia pada ibu hamil di Kabupaten Kepahiang.Saran: Perlu ditingkatkan usaha promosi kesehatan khususnya pada ibu hamil agar kepatuhan ibu hamil untuk melakukan ANC meningkat.
Penerapan tehnik relaksasi: Nafas dalam terhadap perilaku pemenuhan nutrisi pada penderita hipertensi dalam mengontrol tekanan darah Desmon Wirawati; Teresa Teresa; Ellya Qolina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5839

Abstract

Background: Hypertension is a major cause of death. In 2013 as many as 25.8% of the Indonesian population suffered from hypertension. Pattern or lifestyle is one of the factors that causes an increase in cases of hypertension. The application of relaxation techniques with deep breathing is one form of nursing care in patients with increased blood pressure. The research was conducted in the target area of Bojong Nangka Kelapa Dua Tangerang with a population of people with hypertension in the area.Purpose: Knowing the effect of applying deep breathing relaxation techniques on the behavior of fulfilling nutrition in patients with hypertension in controlling blood pressure.Method: The research method used is cross-sectional. The sampling technique in this study used probability sampling as many as 104 respondents.Results: The results showed that the highest respondent characteristics were at the age of 46-55 years (31.7%), women were 66 people (65.5%), ethnic Sundanese 44 people (42.3%), respondents who did not work were 74 people (71.2%) , with education level not in school as many as 50 people (48.1%). There is a relationship between deep breathing relaxation techniques and blood pressure in patients with hypertension in the target area of the Bojong Nangka Public Health Center with a p value of 0.000 <0.05. Relaxation techniques are significantly effective in reducing anxiety and stress levels in hypertension patients. Keywords: Deep Breath Relaxation; Nutrition; Hypertension Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyebab kematian utama. Pada tahun 2013 sebanyak 25,8% penduduk Indonesia menderita Hipertensi. Pola atau gaya hidup menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan kasus Hipertensi. Penerapan tehnik relaksasi dengan napas dalam merupakan salah satu bentuk asuhan keperawatan pada pasien dengan peningkatan tekanan darah. Penelitiaan dilakukan di wilayah Bojong Nangka Kelapa Dua Tangerang dengan populasi penderita Hipertensi di wilayah tersebut.Tujuan: Mengetahui pengaruh penerapan tehnik relaksasi nafas dalam terhadap perilaku pemenuhan nutrisi pada penderita hipertensi dalam mengontrol tekanan darah.Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan probability sampling sebanyak 104 responden.Hasil: Hasil penelitian menunjukan, karakteristik responden tertinggi pada usia 46-55 tahun (31.7%), perempuan sejumlah 66 orang (65,5%), suku bangsa Sunda 44 orang (42.3%), responden yang tidak bekerja yaitu 74 orang (71.2%), dengan tingkat Pendidikan tidak sekolah sebanyak 50 orang (48.1%). Adanya hubungan antara tehnik relaksasi nafas dalam dengan tekanan darah pada penderita Hipertensi di wilayah binaan puskesmas Bojong Nangka dengan nilai p0.000 < 0.05. Tehnik relaksasi efektif secara signifikan dalam mengurangi tingkat cemas dan stress pada pasien Hipertensi. 
Pengaruh edukasi metode bernyanyi dan video animasi cuci tangan pakai sabun terhadap kemampuan mencuci tangan dengan benar pada siswa-siswi taman kanak -kanak Bakti Herwanti; Christin Angelina Febriani; Fitri Eka Sari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 4 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i4.5768

Abstract

Hand washing in kindergarten school students using demonstration, song, and animated video Background: Awareness to maintain personal health must be instilled from an early age. Pre-school-age children have a habit of paying less attention to the proper use of handwashing. One method of health promotion about hand washing that is interesting for children is the singing and animated video.Purpose To determine the effect of using demonstration, song, and animated video about proper handwashing among kindergarten school studentsMethod: Quantitative research with two group pre-test post-test design. The population was all students at Hidayatullah Waydadi Kindergarten, Bandar Lampung City, and the samples were total population, as many as 46 students, divided by 2 groups, demonstration, song, and animated video. Each group consists of 23 participants. Data was collected with a checklist and observation sheets. The statistical test used Wilcoxon signed-rank test.Results: The finding of 46 participants, before having intervention, all participants were improperly in handwashing (100%), and after having the intervention of demonstration, song, of 18 (78%) had a properly in handwashing  and by an animated video of 19 (83%). Wilcoxon statistical test both groups showed p-value = 0.000 < (0.05).Conclusion: There was an effect of using demonstration, song, and animated video about proper handwashing among kindergarten school students. The result by using an animated video it was more effectiveSuggestion: It is necessary to apply to learn to use demonstrations, songs, and animated videos about properly and correctly handwashing among kindergarten school students. By using, animated video learning is easier to understand to the student.Keyword: Hand washing;  Kindergarten school students; Demonstration; Song; Animated videoPendahuluan: Kesadaran untuk menjaga kesehatan diri, harus ditanamkan sejak dini. Anak usia pra sekolah mempunyai kebiasaan kurang memperhatikan perilaku mencuci tangan. Salah satu metode promosi kesehatan tentang cuci tangan yang menarik untuk anak yaitu dengan metode bernyanyi dan video animasi.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh demonstrasi, bernyanyi dan vieo animasi terhadap kemampuan cuci tangan pada siswa-siswa taman kanak-kanak (TK).Metode:Penelitian kuantitatif dengan desain two group pre-test post-test. Populasinya adalah siswa-siswa TK Hidayatullah Waydadi, dan sampel menggunakan total populasi sebanyak 46 orang. Masing-masing grup berisi 23 partisipan. Pengumpulan data dengan lembar check list dan observasi. Uji statistik menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test.Hasil: Diperoleh hasil dari 46 responden, sebelum intervensi seluruh responden tidak mampu melakukan tindakan cuci tangan dengan benar (100%), sesudah diberikan intervensi metode bernyanyi yang mampu melakukan tindakan cuci tangan dengan benar sejumlah 18 (78%) dan sejumlah 19 (83%) mampu melakukan cuci tangan engan benar melalui metode video animasi. Uji statistik Wilcoxon menunjukkan p value = 0,000 < α (0,05).Simpulan: Terdapat pengaruh edukasi metode bernyanyi dan metode video animasi cuci tangan pakai sabun terhadap kemampuan mencuci tangan pada siswa-siswa taman kanak-kanak (TK).Saran: Perlu diterapkan pembelajaran menggunakan demonstrasi, lagu, dan video animasi tentang cuci tangan yang baik dan benar di kalangan siswa sekolah TK dengan menggunakan video animasi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa.

Page 1 of 2 | Total Record : 20