cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 7 (2022)" : 12 Documents clear
ASSESMENT QUALITY OF LIFE (QOL) DENGAN KETERPAPARAN COVID-19 Suarnianti Tawil; Emilia Emilia; Nur Khalid
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8221

Abstract

Latar Belakang: Covid-19 menjadi salah satu masalah kesehatan dunia yang meningkat dari beberapa bulan yang lalu. Peningkatan ini diikuti oleh berbagai masalah termasuk kualitas hidup. Pencegahan merupakan langkah awal untuk meningkatkan jumlah kasus Covid-19.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai hubungan kualitas hidup dengan pajanan covid-19 di Puskesmas Paccerakg.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Instrumen yang digunakan adalah pertanyaan berupa pertanyaan tentang kualitas hidup yang dianalisis dengan chi square (p<0,05). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 93 responden dengan paparan Covid-19 di wilayah kerja Puskesmas Paccerakg Kota Makassar dengan metode non probability sampling menggunakan teknik purposive sampling.Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara kualitas hidup dengan paparan COVID-19 (p = 0,02).Kesimpulan: COVID-19 dapat meningkatkan kesadaran untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, seperti mematuhi protokol kesehatan, menjaga asupan energi dalam tubuh, hingga mencegah terjadinya Covid-19. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kualitas hidup dengan pajanan Covid-19 di Puskesmas Paccerakkang, dimana kualitas hidup merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan pajanan COVID-19.
PENGARUH RESISTANCE TRAINING TERHADAP BODY MASS INDEKS (BMI) PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Yusran Haskas; M. Rudi Ariya Wijaya; Erna Kadrianti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8227

Abstract

Pendahuluan: Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein akibat dari kekurangan fungsi insulin. Penyakit diabetes melitus adalah penyakit tidak dapat disembuhkan, akan tetapi penderita diabetes melitus dapat hidup sehat apabila dapat mengontrol gula darah dengan baik. Salah satu penyebab penderita diabetes kesulitan dalam mengontrol kadar gula darah agar tetap stabil yaitu kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga serta pola makan yang tidak dijaga.Tujuan: Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh resistance training terhadap Body Mass Index (BMI) pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Puskesmas Tamalanrea Jaya Kota Makassar.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian Pre-experimental Design dengan rancangan One Group Pretest-Postest Design. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 pasien. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan dianalisa menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh resistance training terhadap Body Mass Index (BMI) pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 dengan nilai Z sebesar -3,204 dan nilai ρ=0,001.Kesimpulan: Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh resistance training terhadap Body Mass Index (BMI) pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Puskesmas Tamalanrea Jaya Kota Makassar.
Pengetahuan tentang pencegahan covid-19 dan kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan pada penderita diabetes melitus Eva Listiyo Putri; Rika Yulendasari; Eka Trismiyana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8155

Abstract

Background:  Covid-19 is a new beta-coronavirus that has a single-stranded positive sense RNA genome with a diameter of 65-125 nm. The spread of the corona virus can occur through droplets, transmission of aerosols released from the nose or mouth of an infected person when talking, coughing, or sneezing. Covid-19 is more likely to infect older people and people who have underlying chronic diseases such as diabetes. The current handling of COVID-19 is done by changing people's behavior to comply with the Covid-19 prevention protocol.Purpose:  Knowing the relationship between knowledge about Covid-19 prevention and protocol compliance among patients people with diabetes mellitusMethod: Quantitative with analytic cross-sectional design. The population was patients with diabetes mellitus, the sample size was 73 people, the sampling technique used was purposive sampling. Analysis using chi square test.Results: Finding that 67.1% of people with diabetes mellitus had good knowledge and 57.5% were obedient in carrying out the covid-19 prevention protocol. The results of the analysis obtained p-value 0.030 (p<0.05).Conclusion: There is a relationship between knowledge and adherence to diabetes mellitus patients in carrying out the Covid-19 prevention protocol. Patients with diabetes mellitus should be able to apply the Covid-19 prevention protocol in accordance with the standards set by the government so that the risk of being exposed to the Covid-19 virus can be avoided.Keywords: Knowledge; Compliance; Covid-19; Health protocolPendahuluan: Covid-19 merupakan beta-corona virus baru yang memiliki genom RNA sense positif beruntai tunggal dengan diameter 65-125 nm. Penyebaran virus corona dapat terjadi melalui percikan droplet, transmisi aerosol yang dikeluarkan dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi saat berbicara, batuk, atau bersin. Covid-19 lebih mudah menginfeksi orang yang berusia lanjut dan orang yang memiliki penyakit kronis yang mendasari seperti diabetes. Penanganan covid-19 saat ini dilakukan dengan mengubah perilaku masyarakat agar mematuhi protocol pencegahan covid-19.Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang pencegahan Covid-19 dengan kepatuhan protokol pada pasien penderita diabetes melitus.Metode: Penelitian kuantitatif, dengan desain analitik rancangan cross sectional. Populasinya penderita diabetes mellitus dengan besar sampel yang diambil sebanyak 73 orang, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis menggunakan uji chi square.Hasil: Didapatkan bahwa bahwa 67,1% penderita diabetes mellitus memiliki pengetahuan baik dan 57,5%  patuh  dalam  menjalankan  protocol  pencegahan  covid-19.  Hasil  analisis  didapatkan  p-value  0,030 (p<0,05).Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap kepatuhan penderita diabetes mellitus dalam menjalankan  protocol  pencegahan  covid-19.  Bagi  penderita  penderita  diabetes  mellitus  hendaknya  dapat menerapkan protocol  pencegahan covid-19 sesuai  dengan standar  yang  telah  ditetapkan oleh  pemerintah sehingga resiko terpapar virus covid-19 dapat dihindari.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar magnesium darah pada lansia Lendawati Lendawati; Giri Udani; Mimi Sugiarti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8271

Abstract

Background: When a person ages to the level of old age which is a period of life marked by a change or decrease in bodily functions. Health problems in the elderly, one of which is often found, include digestive disorders which result in a deficiency of several nutrients such as protein, lack of vitamins, and a lack of some electrolytes so this can cause disease in the elderly, both acute and chronic. Magnesium is the fourth most abundant cation in the body and plays an important physiological role in many of its functions. Magnesium balance is maintained by the regulation of magnesium reabsorption by the kidney. Magnesium deficiency is a common problem in hospital patients, with a prevalence of around 10 percent.Purpose: Identify the factors correlated with serum magnesium levels among elderlyMethod: A descriptive study with a cross-sectional design. The sample in this study amounted to 50 elderly who were taken using the total sampling method based on inclusion criteria.Results: The analysis showed that 50 samples had an average magnesium level of 1,615 mg/dl which was low with a standard error of 0.175, where the lowest magnesium level was 0.030 and the highest magnesium level was 5,400. The median also has a value of 1,490 which is also below the normal magnesium level.Conclusion: There is no significant effect between food intake and physical activity on blood magnesium levels with a p-value > 0.05. There is a significant effect between drugs, disease, and gastrointestinal factors with blood magnesium levels with a p-value <0.05.Keywords: Serum magnesium; Food intake; Physical activity; ElderlyPendahuluan: Ketika seseorang bertambah umur ke tingkat usia lanjut yang merupakan suatu periode kehidupan dengan ditandai adanya perubahan atau penurunan fungsi tubuh. Masalah kesehatan pada usia lanjut, salah satunya yang sering dijumpai diantaranya gangguan pencernaan yang mengakibatkan kekurangan beberapa zat nutrisi seperti protein, kekurangan vitamin dan kekurangan beberapa elektrolit, sehingga hal ini dapat menimbulkan penyakit pada usia lanjut baik akut maupun kronis. Magnesium adalah kation paling melimpah keempat di tubuh dan memainkan peran fisiologis penting dalam banyak fungsinya. Keseimbangan magnesium dipertahankan oleh regulasi reabsorpsi magnesium oleh ginjal. Kekurangan magnesium merupakan masalah umum pada pasien rumah sakit, dengan prevalensi sekitar 10 persen.Tujuan: Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh pada kadar serum magnesium pada lanjut usiaMetode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Sampelnya berjumlah 50 orang yang diambil menggunakan metode total sampling berdasarkan kriteria inklusi.Hasil: Analisis menunjukkan dari 50 sampel memiliki rata-rata kadar magnesium lansia 1.615 mg/dl yang tergolong rendah dengan standar error nya 0.175, dimana kadar magnesium paling rendah adalah 0.030 dan kadar magnesium tertinggi 5.400. Median juga mempunyai nilai 1.490 yang juga dibawah nilai kadar magnesium normal.Simpulan: Tidak ada pengaruh secara signifikan antara asupan makanan dan aktivitas fisik terhadap kadar magnesium darah dengan hasil p-value > 0.05. Ada pengaruh yang signifikan antara obat, penyakit dan faktor gastrointestinal dengan kadar magnesium darah dengan hasil p-value < 0.05.
Pengaruh metode brainstorming dan audiovisual terhadap perilaku ibu balita terhadap pencegahan stunting Sitti Hasriani; Ariyana Ariyana; Wilda Rezki Pratiwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.7608

Abstract

Background: Stunting is a problem of malnutrition that is still experienced by toddlers throughout the world, including in Indonesia. Stunting is a condition of failure to grow to achieve normal growth caused by poor nutritional status for a long period of time. Prevention and handling of stunting can be done by increasing the mother's knowledge so that children avoid stunting. Providing education to mothers can be done using brainstorming and audiovisual methods on stunting preventionPurpose: Analyzing the effect of the brainstorming and audiovisual methods on the behavior of mothers under five in stunting preventionMethod: Quantitative research with a Quasi-Experimental design method using the pretest-posttest two-group design research design, was done in June-August 2022 in Belawae village. The population in this study were all mothers of children under five with a sample of 40 participants, namely 20 participants for the intervention group and 20 participants for the control group taken by purposive sampling technique with inclusion and exclusion criteria. Univariate data analysis uses frequency distribution and bivariate using Pearson Chi-Square and bivariate analysis uses the Wilcoxon test and independent using Mann-Whitney.Results: Showed a significant value in the intervention group before and after education with the Brainstorming Method, p-value = 0.001 (ρ <0.05) there were differences in behavior before and after education. In the control group who was educated by the audiovisual method, it showed a significant value with p-value = 0.000 (ρ <0.05), and there were differences in behavior before and after education. The results of the Mann-Whitney Test in both groups, namely the intervention group and the control group, did not show a significant value after education, namely the p-value = 0.739 (ρ> 0.05), there was no difference in behavior after education with Brainstorming and audiovisual methods in the group intervention and control groupConclusion: There is a significant difference in the behavior of mothers of children under five before and after being given education on stunting prevention. There is no significant difference between changes in the behavior of mothers of toddlers who are given education using the brainstorming method and mothers who are given education using the audiovisual method.Keywords: Brainstorming; Audiovisual; Behavior; Toddler; Stunting.Pendahuluan: Stunting merupakan masalah kekurangan gizi yang masih dialami balita di seluruh dunia, termasuk Indonesia  stunting adalah kondisi gagal tumbuh untuk mencapai pertumbuhan normal yang diakibatkan oleh status gizi kurang dalam periode waktu lama. Pencegahan serta penanganan stunting dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan ibu agar anak terhindar dari stunting. Pemberian edukasi pada ibu dapat dilakukan menggunakan metode brainstorming dan audiovisual tentang pencegahan stunting.Tujuan: Menganalisis pengaruh metode brainstorming dan audiovisual terhadap perilaku ibu balita terhadap pencegahan stunting.Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode desain quasi experiment dengan menggunakan rancangan penelitian the pretest-posttest two group design, dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2022 di desa Belawa Kabupaten Sidrap. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu balita dengan sampel sebanyak 40 partisipan yaitu 20 partisipan untuk kelompok intervensi dan 20 partisipan kelompok kontrol diambil dengan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan untuk bivariate menggunakan Pearson Chi Square dan analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon dan untuk independent menggunakan Mann-Whitney.Hasil: Menunjukkan nilai signifikan pada kelompok intervensi sebelum dan setelah dilakukan edukasi dengan metode brainstorming yakni nilai p=0,001 (ρ<0,05) ada perbedaan perilaku sebelum dan setelah dilakukan edukasi. Pada kelompok kontrol yang dilakukan edukasi dengan metode audiovisual menunjukkan nilai signifikan dengan nilai p=0,000 (ρ<0,05), ada perbedaan perilaku sebelum dan setelah dilakukan edukasi. Hasil uji Mann-Whitney Test pada kedua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak menunjukkan nilai yang signifikan setelah dilakukan edukasi yakni nilai p=0,739 (ρ>0,05), tidak ada perbedaan perilaku setelah dilakukan edukasi dengan Metode Brainstorming dan audiovisual pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol.Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap perilaku ibu balita sebelum dan sesudah diberikan edukasi terhadap pencegahan stunting. Tidak ada perbedaan bermakna antara perubahan perilaku ibu balita yang diberikan edukasi dengan metode brainstorming  dan ibu yang diberikan edukasi dengan metode audiovisual.
Hubungan pengetahuan tentang Covid-19 dengan perilaku protokol kesehatan di perkantoran Imelda Ritunga; Hanna Tabita Hasianna Silitonga; Wira Widjaya Lindarto; Siusanto Hadi; Etha Rambung; I Made Irham Muhammad; Agnes Atmajaya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8757

Abstract

Background: A possible office Covid cluster could result from office activity during a pandemic. Implementing health protocols is essential to help protect oneself from the transmission of Covid-19 knowledge of Covid-19 decisions to behave according to health protocols.Purpose: To analyze the relationship between knowledge about Covid-19 and the behavior of implementing health protocols in the office environment.Method: Analytical observation was carried out by collecting data cross-sectional. The population consisted of school teachers, samples were taken based on voluntary sampling with online questionnaires, and 114 respondents participated. Questionnaires were made by the research team and tested for validity and reliability. The results of the data were processed statistically with the Spearman correlation test.Results: There is a relationship between knowledge and behavior of health protocols in the office environment: hand washing steps (r=0.255, p=0.006), minimum distance for interaction (r=0.231, p=0.013), and the type of mask used to go to the office (r=0.312, p=0.001).Conclusion: There is a significant relationship between knowledge of Covid-19 and behavior of health protocols in the office environment, so increased knowledge about Covid-19 needs to be continuously pursued to improve health protocol behavior.Keywords: Covid-19; Behavior; Knowledge; RegulationPendahuluan: Kegiatan perkantoran di masa pandemic dapat berpotensi menjadi klaster perkantoran. Perilaku menerapkan protokol kesehatan menjadi hal penting dilakukan untuk membantu memproteksi diri dari penularan COVID-19. Pengetahuan akan Covid-19 menginformasikan keputusan untuk berperilaku sesuai protokol kesehatan.Tujuan: Menganalisis hubungan antara pengetahuan tentang Covid-19 dengan perilaku menerapkan protokol kesehatan di lingkungan kantor. Metode: Dilakukan analitik observational dengan pengambilan data secara cross sectional. Populasi berupa guru-guru sekolah, sampel diambil berdasarkan voluntary sampling dengan kuesioner online, sejumlah 114 responden berpartisipasi. Kuesioner dibuat oleh tim peneliti, dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil data diolah statistik dengan uji korelasi Spearman.Hasil:  Terdapat hubungan antara pengetahuan dan  perilaku protokol kesehatan di lingkungan perkantoran, yaitu langkah cuci tangan (r=0.255, p=0.006), jarak minimal berinteraksi (r=0.231, p=0.013), dan jenis masker yang digunakan ke kantor (r=0.312, p=0.001).Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan akan Covid-19 dengan perilaku protokol kesehatan di lingkungan perkantoran sehingga peningkatan pengetahuan tentang Covid-19 perlu terus diupayakan agar perilaku protokol kesehatan semakin baik.
Depresi, kecemasan, stress dan beban perawatan pengasuh utama (caregiver) pasien dengan stroke Desi Risnarita; Teguh Pribadi; Prima Dian Furqoni; Rahma Elliya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8843

Abstract

Background:  A caregiver is someone who provides assistance to people who are disabled and need help due to illness or limitations such as spouses, children, in-laws, grandchildren, relatives, neighbors, friends, or other kinship relationships. Caregivers have the task of assisting in mobility, communication, self-care, and emotional and psychological changes so caregivers must balance the dual responsibility role of caring for stroke patients and adjusting their lifestyle. The weaker and more chronic the patient's illness, the higher the burden experienced by the caregiver.Purpose: To determine the relationship variables depression, anxiety, and stress with the burden of care among caregivers of patients with stroke.Method: Quantitative, analytic cross-sectional design. The population in this study were caregivers with  80 respondents, the sampling technique used was accidental sampling. Analysis using chi-square testResults: On average, respondents experienced the most dominant mild depression 45 (56.25%), mild anxiety 35 (43.75%), stress 35 (43.75%), the burden of care for the main caregiver was mild-moderate 38 (47.5%)Conclusion: There is a relationship between the burden of primary caregiver care (caregiver) in stroke patients with depression (p-value 0.03), anxiety (p-value 0.02), and stress (p-value 0.04).Keywords: Depression; Anxiety; Stress; Burden of Primary; Caregiver; Patients; Stroke.Pendahuluan: Caregiver adalah seseorang yang memberikan bantuan pada orang yang mengalami ketidakmampuan dan memerlukan bantuan karena penyakit atau keterbatasannya seperti pasangan, anak, menantu, cucu, saudara, tetangga, teman maupun hubungan kekerabatan lainnya. Caregiver memiliki tugas membantu dalam mobilitas, komunikasi, perawatan diri, perubahan emosional dan psikologis sehingga caregiver harus menyeimbangkan peran tanggung jawab ganda merawat pasien stroke serta menyesuaikan gaya hidupnya. Semakin lemah dan kronis penyakit pasien maka semakin tinggi beban yang dialami caregiver.Tujuan: Diketahui hubungan depresi, kecemasan, stress dengan beban perawatan pengasuh utama pada pasien stroke.Metode: Penelitian kuantitatif, desain analitik rancangan cross sectional. Populasinya caregiver/pengasuh pasien stroke dan besar sampel yang diambil sebanyak 80 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Analisis menggunakan uji chi square.Hasil: Rata-rata responden mengalami yang paling dominan depresi ringan 45 (56.25%), kecemasan ringan 35 (43.75%), stress 35 (43.75%), beban perawatan pengasuh utama beban ringan-sedang 38 (47.5%).Simpulan: Ada hubungan antara beban perawatan pengasuh utama (caregiver) pada pasien stroke dengan depresi (p-value 0.03), kecemasan (p-value 0.02), stress (p-value 0.04).
Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup penderita hipertensi Nurul Atika; Samino Samino; Nurhalina Sari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8329

Abstract

Background: The prevalence of hypertension in Lampung Province was 15.10 percent and the majority affects the pre-elderly and the elderly. The prevalence of hypertension in Pesisir Barat was 12.22 percent and at Puskesmas Krui was 21.19 percent. Treatment and care services for hypertension aim to improve the quality of life of patients. The purpose of this study was to analyze factors related to the quality of life of patients with hypertension in the posyandu for the elderly in the working area of the Puskesmas Krui Pesisir Barat.Purpose: To determine the factors related to the quality of life of hypertensive patients in the Elderly Posyandu in the working area of the Krui Pesisir Barat Health Center.Method: Quantitative with a cross-sectional design, a population of 998 people and a sample of 514 people with purposive sampling, then analyzed by chi square and logistic regression.Results: Showed that there was a relationship between adherence to antihypertensive medication (p value <0.001 OR=2.0), physical activity (p-value <0.001 OR=5.5), comorbid disease (p-value <0.001 OR=4.2), stress level (p value <0.001 OR=2.6) with quality of life. The variable of physical activity became the variable with the most dominant influence on the quality of life with an OR of 4.4, followed by a comorbid variable with an OR of 2.9. Conclusion: physical activity is the most influential variable with the quality of life of hypertensive patients at the Elderly Posyandu with an OR of 4,4.Suggestion: The management of the Pesisir Barat District Health Office to facilitate the elderly with hypertension in sports facilities such as green open spaces for the elderly for elderly gymnastics activities, conducting healthy walking competitions for the elderly and complete equipment such as sound systems for the continuity of the activities of the elderly posyandu, especially to improve the quality of life.Conclusion: There is a relationship between the quality of life of patients with hypertension at the Posyandu for the elderly at the Krui Pesisisr Barat Public Health Center.Keywords: Integrated Service for the Elderly; Hypertension; Quality of Life.Pendahuluan: Prevalensi hipertensi di Provinsi Lampung 15,10 persen dan mayoritas diderita pra lansia dan lansia. Prevalensi hipertensi di Pesisir Barat sebesar 12,22 persen dan di Puskesmas Krui sebesar 21,19 persen. Pelayanan pengobatan dan perawatan hipertensi bertujuan meningkatkan kualitas hidup penderita. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis factor yang berhubungan dengan kualitas hidup penderita hipertensi di posyandu lansia wilayah kerja Puskesmas Krui Pesisir Barat.Tujuan: Untuk menganalisa faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup penderita hipertensi di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Krui Pesisir Barat.Metode: Jenis penelitian kuantatif dengan rancangan potong lintang, populasi 998 orang dan sampel 514 orang dengan purposive sampling, lalu dianalisis dengan chi square dan regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian mendapatkan ada hubungan kepatuhan minum obat anti hipertensi (p value <0,001 OR=2,0), aktivitas fisik (p value <0,001 OR=5,5), adanya penyakit komorbid (p value <0,001 OR=4,2), tingkat stress (p value <0,001 OR=2,6) dengan kualitas hidup. Variabel  aktivitas fisik menjadi variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap kualitas hidup dengan OR 4,4 disusul oleh variable komorbid dengan OR 2,9. Kesimpulan: aktivitas fisik merupakan variable yang paling berpengaruh dengan kualitas hidup penderita hipertensi di Posyandu Lansia dengan OR 4,4.Saran: Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Barat agar memfasilitasi lansia penderita hipertensi akan fasilitas olahraga seperti ruang terbuka hijau untuk lansia beraktivitas senam lansia, melakukan lomba jalan sehat bagi lansia serta peralatan kelengkapan alat seperti sound sistem untuk keberlangsungan kegiatan aktivitas posyandu lansia khususnya untuk meningkatkan kualitas hidup.Simpulan: Terdapat hubungan Kualitas hidup penderita hipertensi di posyandu lansia Puskesmas Krui Pesisisr Barat.
Pengembangan volunteer palliative training module untuk mengoptimalkan perawatan paliatif berbasis komunitas di Indonesia Syarifah Lubbna; M Firman Ismana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8489

Abstract

Background: The number of cases of chronic diseases or non-communicable diseases (NCD) is increasing every year, both globally and locally.  The trend of the biggest cause of death shifts from communicable diseases to NCDs. However, this increase has not been accompanied by a better understanding and awareness of the community about the importance of palliative care for patients with chronic and terminal illnesses, and how they can support the physical, psychosocial, and spiritual aspects in order to improve the quality of life of patients and their families.Purpose: To produce a palliative volunteer training module to optimize community-based palliative care.Method: Research and Development (R&D) with three phases of study. Phase I data collection and problem identification; phase II design and module development; and phase III evaluation. Participants in this study were the general public, namely health cadres and families of patients with chronic diseases as many as 90 people. The module was validated by material experts, also instructional design and language experts. Then, the field trial was undergone. The research was conducted in Tengah Tani District, Cirebon Regency, West Java.Results: The validation results from material experts, instructional design, and linguistic experts stated that the modules that had been developed were rated very well. Nine training topics have been developed in three sessions. The results of the field trial show that the module is feasible to use (score 3.58 out of 4). Based on the comparison of pre-test and post-test results, the t-test measure resulted in 2.178 (> t-table 1.662) with a significance level of 0.05.Conclusion: this module is effective for improving the learning outcomes of palliative trainees.Suggestion: It is recommended that a wider-scale trial be conducted to assess the effectiveness of this module in larger regions of Indonesia. Keywords: Developing; Volunteer; Palliative; Training; Module; Care; Community.Pendahuluan: Meningkatnya jumlah kasus penyakit kronis atau Penyakit Tidak Menular (PTM) setiap tahun, baik di dunia maupun di Indonesia menunjukkan adanya pergeseran tren penyakit penyebab kematian terbesar, dari penyakit menular ke PTM. Namun, peningkatan ini belum dibarengi dengan pemahaman dan awareness masyarakat yang baik pula tentang pentingnya perawatan paliatif bagi pasien dengan penyakit kronis dan terminal, serta bagaimana dukungan fisik, psikososial, dan spiritual dapat diberikan di lingkup komunitas untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya.Tujuan: Menghasilkan modul pelatihan relawan paliatif untuk mengoptimalkan perawatan paliatif berbasis komunitas.Metode: Research and Development (R&D) dengan tiga tahapan penelitian, yaitu tahap I pengumpulan data dan identifikasi masalah; tahap II desain dan pengembangan modul; dan tahap III evaluasi. Partisipan dalam penelitian adalah masyarakat awam yaitu kader-kader kesehatan dan keluarga pasien dengan penyakit kronis sebanyak 90 orang. Untuk melihat kelayakan modul, dilakukan validasi/ telaah dari ahli materi, ahli desain instruksional dan ahli Bahasa; dan uji coba lapangan field trials. Penelitian dilakukan di Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.Hasil: Hasil validasi dari ahli materi, ahli desain instruksional, dan ahli bahasa menyatakan bahwa modul yang telah dikembangkan dinilai sangat baik. Telah dikembangkan 9 topik pelatihan yang diberikan dalam tiga sesi. Hasil uji coba field trials menunjukkan bahwa modul layak digunakan (skor 3,58 dari 4). Berdasarkan perbandingan pre-test dan post-test, hasil t hitung diperoleh angka 2,178 (> t table 1,662) dengan taraf signifikansi 0,05.Simpulan: Modul ini efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta pelatihan paliatif dalam lingkup komunitas.Saran: Direkomendasikan agar dilakukan uji coba dalam skala yang lebih luas untuk menilai efektivitas dari modul ini di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. 
Pengetahuan, dukungan suami dan pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim sebagai upaya mengatasi angka kelahiran Irmawati Sadullah; Rosdianah Rosdianah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8576

Abstract

Background: The long-term contraceptive method is one of the government's programs in overcoming the growth rate and birth rate in Indonesia.Purpose: To analyze the relationship of knowledge and support of the husband with the selection of contraceptives in utero.Method: A cross-sectional design with the population was all couples of childbearing age who became acceptors of family planning. The number of samples in this study was 120 respondents. The sampling technique used is simple random sampling. The instrument used is a questionnaire. The statistical test used is chi-square.Results: Finding that most mothers chose to use contraceptives in the womb (59.2 percent), had good knowledge (54.2 percent), and received support from their husbands (58.3 percent).  There is a relationship between maternal knowledge and the selection of contraceptives in utero (p=0.024). There is a relationship between the support of the husband and the selection of contraceptives in the womb (p=0.001).Conclusion: There is a relationship between maternal knowledge and husband support in the selection of contraceptives in the womb.Suggestion: Health workers, especially midwives, to be more active in socializing and health education to women of childbearing age-related to utilizing the use of contraceptives in utero.Keywords: Intrauterine; Contraception; Knowledge; Husband supportPendahuluan: Metode kontrasepsi jangka panjang merupakan salah satu program pemerintah dalam mengatasi laju pertumbuhan dan angka kelahiran di Indonesia.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim.Metode: Penelitian dengan desain cross sectional dan populasinya seluruh pasangan usia subur yang menjadi akseptor keluarga berencana. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 120 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Instumen yang digunakan adalah kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah chi square.Hasil: Didapatkan sebagian besar ibu memilih penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (59,2 persen), pengetahuan baik (54,2 persen), dan mendapatkan dukungan dari suami (58,3 persen).  Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim (p=0,024). Ada hubungan antara dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim (p=0,001).Simpulan: Didapatkan hubungan pengetahuan ibu dan dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim.Saran: Tenaga kesehatan khususnya bidan untuk lebih giat dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan kesehatan kepada Wanita usia subur terkait menfaat dari menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim.

Page 1 of 2 | Total Record : 12