cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 1,952 Documents
Model Prediksi Perilaku Pencegahan Anemia dan Kekurangan Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur di Kabupaten Serang Metty Supyanti; Vivi Silawati; Siti Syamsiah; Rukmaini Rukmaini
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.25361

Abstract

ABSTRACT Anemia and chronic energy deficiency (CED) among women of reproductive age (WRA), particularly during pregnancy, remain significant public health problems in Indonesia, including Serang Regency, where the prevalence of anemia among pregnant women reaches 72.5%. This study aimed to develop a predictive model of anemia and chronic energy deficiency prevention behavior among women of reproductive age who are married, not currently pregnant, have previously experienced pregnancy, and plan future pregnancies in Serang Regency.This study employed a mixed-methods approach using a sequential exploratory design. The qualitative phase was conducted through in-depth interviews, observations, and document reviews involving women of reproductive age, health workers, and community health volunteers to explore factors influencing anemia and chronic energy deficiency prevention behaviors. The quantitative phase was conducted using a questionnaire survey involving 308 respondents selected through stratified random sampling. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multiple linear regression analyses. The results showed significant relationships between knowledge, attitudes, family support, the role of health workers, and access to health services with anemia and chronic energy deficiency prevention behavior among women of reproductive age (p 0.05). Multivariate analysis showed that knowledge, attitudes, family support, the role of health workers, and access to health services simultaneously had a significant effect on anemia and chronic energy deficiency prevention behavior among women of reproductive age. The most dominant variable influencing prevention behavior was respondents’ attitudes. Anemia and chronic energy deficiency prevention behavior among women of reproductive age in Serang Regency is influenced by both individual and environmental factors. The developed predictive model demonstrated substantial contributions from the examined variables. Appropriate health education and adequate social support were found to be effective in promoting preventive behaviors and may serve as a basis for more effective interventions to reduce the risk of anemia and chronic energy deficiency. Keywords: Anemia, Self-efficacy, Chronic Energy Deficiency, Prevention Behavior, Women of Reproductive Age.  ABSTRAK Anemia dan kekurangan energi kronik (KEK) pada wanita usia subur (WUS), terutama selama masa kehamilan, merupakan masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Serang, di mana prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai 72,5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi perilaku pencegahan anemia dan KEK pada Wanita Usia Subur sudah menikah, tidak sedang hamil, pernah hamil dan ingin merencanakan kehamilan kembali di Kabupaten Serang. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan model sequential exploratory design. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap WUS, tenaga kesehatan, dan kader posyandu, untuk menggali faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan anemia dan KEK. Tahap kuantitatif dilanjutkan dengan survei menggunakan kuesioner kepada 308 responden, yang dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, peran tenaga kesehatan, dan akses pelayanan kesehatan dengan perilaku. Pencegahan anemia dan KEK pada Wanita Usia Subur (p0.05). Hasil analisi multivariat menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, peran tenaga Kesehatan, dan akses pelayanan kesehatan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap perilaku pencegahan anemia dan KEKpada Wanita Usia Subur, dengan variabel yang paling dominan mempengaruhi perilaku pencegahan anemia dan KEK Adalah sikap reponden. Bahwa perilaku pencegahan anemia dan KEK pada wanita usia subur di Kabupaten Serang dipengaruhi oleh faktor individu dan faktor lingkungan. Model prediksi yang dikembangkan menunjukkan kontribusi penuh dari variabel yang diuji. Edukasi yang jelas dan dukungan sosial yang memadai terbukti efektif dalam mendorong perilaku pencegahan, sehingga dapat menjadi dasar untuk intervensi yang lebih efektif dalam menurunkan risiko anemia dan KEK. Kata Kunci: Anemia, Efikasi Diri, Kekurangan Energi Kronik, Perilaku Pencegahan, Wanita Usia Subur.
Pengalaman Pasien BPJS Ketenagakerjaan pada Layanan PLKK di RS Islam Siti Hajar Mataram: Systematic Review Sapriadi Sapriadi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.25222

Abstract

ABSTRACT Patient experience is a core indicator of healthcare quality and a fundamental dimension of patient-centered care (Epstein Street, 2011). This systematic review followed PRISMA 2020 guidelines (Page, McKenzie, et al., 2021) to synthesize scientific evidence regarding patient experience in PLKK services under Indonesia’s Work Accident Insurance scheme. No eligible empirical studies were identified, indicating a substantial research gap and highlighting the need for primary research. Keywords: Patient Experience, BPJS Employment.  ABSTRAK Pengalaman pasien merupakan indikator utama mutu pelayanan kesehatan dan bagian integral dari paradigma patient-centered care (Medicine, 2001). Dalam konteks Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), layanan Pusat Layanan Kecelakaan Kerja (PLKK) memiliki peran strategis dalam menjamin akses pelayanan yang cepat, aman, dan bermutu. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis bukti ilmiah mengenai pengalaman pasien BPJS Ketenagakerjaan pada layanan PLKK. Systematic review dilakukan mengikuti pedoman PRISMA 2020 (Page, Mckenzie, et al., 2021) Pencarian literatur dilakukan pada Google Scholar, PubMed, Scopus, DOAJ, dan GARUDA periode 2018–2025. Hasil menunjukkan tidak ditemukan studi empiris yang memenuhi kriteria inklusi. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan riset signifikan sehingga diperlukan penelitian primer berbasis indikator pengalaman pasien dan keselamatan pasien. Kata Kunci: Pengalaman Pasien, Bpjs Ketenagakerjaan.
Perbandingan Outcome Bedah Minimal Invasif dan Bedah Terbuka Dalam Pengelolaan Apendisitis Akut di RSUD Waled Periode 2022- 2024 Mochamad Raihan Fahrezi; Mohamad Romdhoni; Yukke Nilla Permata
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.22458

Abstract

ABSTRACT Acute appendicitis is one of the most common emergency surgical conditions requiring prompt management. Two primary surgical techniques used are open surgery and minimally invasive surgery. Each method has its own advantages and disadvantages, but local evidence comparing the clinical outcome of both methods remains limited, particularly at RSUD Waled. To compare the outcome of minimally invasive versus open surgery in the management of acute appendicitis at RSUD Waled during the 2022–2024 period, in terms of postoperative wound infection, length of hospital stay, and postoperative pain scale. This was a cross sectional outcome study involving 107 patients with acute appendicitis who underwent surgery at RSUD Waled. Data were obtained from medical records and analyzed using the Chi-Square test to compare outcome between the two surgical techniques. The study showed that patients undergoing minimally invasive surgery had a lower incidence of postoperative wound infection (24%) compared to open surgery (46.3%) (p = 0.047). Shorter hospital stays (4 days) were more common in the minimally invasive group (84%) than in the open surgery group (56.1%) (p = 0.012). Additionally, mild postoperative pain was more frequently experienced by patients who underwent minimally invasive surgery (72%) compared to those who had open surgery (42.7%) (p = 0.010).  Minimally invasive surgery provides better clinical outcome compared to open surgery in the management of acute appendicitis at RSUD Waled, particularly in reducing postoperative wound infections, shortening hospital stays, and lowering postoperative pain levels. Keywords: Acute Appendicitis, Open Surgery, Minimally Invasive Surgery.  ABSTRAK Mengetahui perbandingan outcome antara bedah minimal invasif dan bedah terbuka dalam pengelolaan apendisitis akut di RSUD Waled periode 2022–2024, ditinjau dari aspek infeksi luka post operasi, durasi rawat inap, dan skala nyeri pascaoperasi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 107 pasien apendisitis akut yang menjalani operasi di RSUD Waled. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square untuk membandingkan outcome antara dua jenis operasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjalani bedah minimal invasif memiliki angka infeksi luka post operasi lebih rendah (24%) dibandingkan bedah terbuka (46,3%) (p=0,047). Durasi rawat inap 4 hari lebih banyak pada kelompok bedah minimal invasif (84%) dibandingkan bedah terbuka (56,1%) (p=0,012). Selain itu, nyeri ringan lebih sering terjadi pada pasien bedah minimal invasif (72%) dibandingkan dengan pasien bedah terbuka (42,7%) (p=0,010). Bedah minimal invasif memberikan hasil klinis yang lebih baik dibandingkan bedah terbuka dalam pengelolaan apendisitis akut di RSUD Waled, khususnya dalam hal penurunan risiko infeksi luka operasi, pemendekan durasi rawat inap, dan penurunan intensitas nyeri pascaoperasi. Kata Kunci: Apendisitis Akut, Bedah Terbuka, Bedah Minimal Invasif. 
Asuhan Akupunktur Pada Pasien Hipertensi di Klinik Sinshe AI SIN TCM Yogyakarta Kuryati Kuryati; Amal Prihatono; Ikhwan Abdullah; Puspo Wardoyo
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.25208

Abstract

ABSTRACT Hypertension is a condition characterized by an abnormal and persistent increase in blood pressure observed across multiple measurements, caused by one or more risk factors that fail to function properly in maintaining normal blood pressure. Acupuncture can reduce blood pressure by stimulating acupuncture points to facilitate and regulate the flow of Qi in the body, thereby restoring Yin–Yang balance. This single-case study aimed to determine the benefits of acupuncture care for a patient with hypertension at Sinshe Ai Sin TCM Clinic, Yogyakarta. The study was conducted as a single-case design over six therapy sessions involving one male participant aged 50 years who had been experiencing hypertension for the past six months. Data collection techniques included observation (Wang), interview (Wen), listening and smelling (Wen), and palpation (Qie), in accordance with the standards of Traditional Chinese Medicine. The selection of acupuncture points was based on the syndrome of Liver Yang Hyperactivity, with therapeutic principles focused on calming the Liver, suppressing excessive Liver Yang, and clearing heat. The therapeutic evaluation results demonstrated gradual and consistent improvement. The participant’s blood pressure decreased from 170/100 mmHg during the first therapy session to 130/80 mmHg by the sixth session. Complaints of headache and abdominal bloating resolved, sleep quality improved, and emotional stability was enhanced. Keywords: Hypertension, Acupuncture Therapy, Liver Yang Hyperactivity.  ABSTRAK Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara abnormal dan terus menerus pada beberapa kali pemeriksaan tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa faktor risiko yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan darah secara normal. Akupunktur dapat menurunkan tekanan darah dengan cara merangsang titik akupunktur untuk menghantarkan serta melancarkan Qi tubuh dalam upaya menyeimbangkan Yin Yang. Penelitian studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui manfaat Asuhan Aupunktur pada pasien Hipertensi di Klinik Sinshe Ai Sin TCM Yogyakarta. Penelitian dilakukan dalam bentuk studi kasus tunggal selama enam sesi terapi pada satu orang  partisipan  laki-laki  berusia  50  tahun  yang mengalami Hipertensi sejak 6 bulan yang lalu. Teknik  pengumpulan  data  meliputi  observasi (Wang),  wawancara  (Wen),  pendengaran  dan  penciuman  (Wen),  dan  perabaan (Qie)   sesuai   standar   ilmu   pengobatan   Tiongkok.   Pemilihan titik akupunktur didasarkan pada sindrom Hiperaktivitas Yang Hati dengan prinsip terapi yang diterapkan adalah Menenangkan Hati, menekan Yang Hati yang berlebih, dan membersihkan panas. Hasil evaluasi terapi menunjukkan adanya perbaikan yang bertahap dan konsisten. Tekanan darah partisipan mengalami penurunan dari 170/100 mmHg pada terapi pertama menjadi 130/80 mmHg pada terapi ke-6. Keluhan sakit kepala dan perut kembung menghilang, kualitas tidur membaik, serta kondisi emosional menjadi lebih stabil. Kata Kunci: Hipertensi, Terapi Akupunktur, Hiperaktivitas Yang Hati.
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Hipertensi Erdi Malutama; Endah Labati Silapurna; Lenie Marlinae; Zairin Noor; M. Bakhriansyah M. Bakhriansyah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.25259

Abstract

ABSTRACT Hypertension is a chronic disease that requires long-term treatment and regular medication adherence. Poor patient adherence to antihypertensive medications remains a major problem in primary healthcare and carries the risk of serious complications. This study aims to analyze factors related to medication adherence in hypertensive patients at the Tabak Kanilan Community Health Center (UPT). This study employed a quantitative analytical study using a case-control design. The study population was all patients diagnosed with hypertension and recorded in the non-communicable disease program report and medical records at the Tabak Kanilan Community Health Center (UPT). The sample was divided into two group: 43 cases and 43 controls, used a purposive sampling technique. The independent variables were education, family support, social support, and healthcare provider support, while medication adherence served as the dependent variable. Bivariate analysis used the chi-square test, and multivariate analysis used multiple logistic regression. The analysis showed a relationship between family support (p = 0.000), social support (p = 0.000), and healthcare professional support (p = 0.022) and medication adherence. There was no relationship between education (p = 0.431) and medication adherence. Logistic regression analysis revealed that the most dominant variable was social support (p = 0.000; Exp.(B) = 14.187; 95% CI 4.612–43.641). Medication adherence in hypertensive patients is influenced by individual and social environmental factors, particularly family support, social support, and healthcare professionals. Strengthening education and ongoing support is needed to improve patient adherence. Keywords: Family Support, Social Support, Healthcare Professional Support, Hypertension, Adherence.  ABSTRAK Hipertensi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang dan kepatuhan minum obat secara teratur. Rendahnya kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi masih menjadi permasalahan utama di pelayanan kesehatan primer dan berisiko menimbulkan komplikasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di UPT. Puskesmas Tabak Kanilan. Penelitian ini menggunakan studi kuantitatif analitik dengan menggunakan rancangan case control. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang terdiagnosa hipertensi dan tercatat pada laporan program penyakit tidak menular serta rekam medis di UPT. Puskesmas Tabak Kanilan. Sampel penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 43 orang kelompok kasus dan 43 orang kelompok kontrol dengan menggunakan teknik purposive sampling. Variabel bebas adalah pendidikan, dukungan keluarga, dukungan sosial, dukungan tenaga kesehatan dan kepatuhan minum obat sebagai variabel terikat. Uji analisis bivariat menggunakan chi square test dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis membuktikan bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga (p =0,000), dukungan sosial (p = 0,000) dan dukungan tenaga kesehatan (p = 0,022) dengan kepatuahn minum obat. Tidak ada hubungan pendidikan (p =0,431) dengan kepatuahn minum obat Analisis regresi logistik, didapat hasil variabel paling dominan adalah dukungan sosial (p = 0,000; Exp.(B) = 14,187; 95% CI 4,612–43,641). Kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan sosial, khususnya dukungan keluarga, dukungan sosial dan tenaga kesehatan. Penguatan edukasi dan dukungan berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Kata Kunci: Dukungan Keluarga, Dukungan Sosial, Dukungan Tenaga Kesehatan, Hipertensi, Kepatuhan.
Pengaruh Efikasi Diri, Spiritualitas dan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TB – HIV di RSUD Dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi Eli Indawati; Calista Kheisha Nabila; Dinda Nuraini; Chandra Rizky Fauzan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.25134

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis (TB) and Human Immunodeficiency Virus (HIV) are interrelated chronic infectious diseases that remain a public health problem. TB–HIV patients require long-term treatment with complex regimens, making medication adherence a key factor in successful therapy. Treatment adherence is influenced not only by clinical factors but also by psychosocial factors such as self-efficacy, spirituality, and family support. In addition to psychosocial factors such as self-efficacy, spirituality, and family support, the advancement of digital technology has increasingly been utilized to improve medication adherence among patients with tuberculosis. A scoping review by Indawati et al. (2025) reported that technology-integrated nursing interventions, including Short Message Service (SMS) reminders, Video Directly Observed Therapy (VDOT), mobile health applications, and digital adherence technologies (DATs), were effective in improving TB treatment adherence. Nurses play a crucial role in assessing patients’ needs, delivering education through digital platforms, conducting remote monitoring, and providing continuous motivation throughout the course of therapy. The integration of technology into nursing practice has been shown to reduce geographical barriers, enhance communication, and strengthen patient engagement in long-term treatment.This study aims to determine the relationship between self-efficacy, spirituality, and family support and medication adherence in TB–HIV patients at Bekasi City Hospital. This study used a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The population in this study were all TB–HIV patients undergoing treatment at Bekasi City Hospital. The sampling technique used stratified random sampling with a sample size of 30 respondents. Data collection was conducted using questionnaires on self-efficacy, spirituality, and family support, and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Data analysis was performed using univariate and bivariate methods using the chi-square test. The results showed that most respondents had high self-efficacy, good spirituality, and good family support. The level of medication adherence in TB–HIV patients was mostly compliant. Bivariate analysis showed a significant relationship between self-efficacy and medication adherence (p 0.05), spirituality and medication adherence (p 0.05), and family support and medication adherence (p 0.05).There was a significant relationship between self-efficacy, spirituality, and family support and medication adherence in TB–HIV patients. Psychosocial factors play an important role in supporting the success of TB–HIV treatment.The results of this study are expected to provide a basis for healthcare workers, particularly nurses, in developing nursing interventions that focus on increasing self-efficacy, strengthening spiritual aspects, and involving families to improve medication adherence in TB–HIV patients. Keywords: Self-Efficacy, Spirituality, Family Support, Medication Adherence, TB-HIV.  ABSTRAK Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit infeksi kronis yang saling berkaitan dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Pasien TB–HIV memerlukan pengobatan jangka panjang dengan regimen yang kompleks, sehingga kepatuhan minum obat menjadi faktor kunci dalam keberhasilan terapi. Kepatuhan pengobatan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor klinis, tetapi juga oleh faktor psikososial seperti efikasi diri, spiritualitas, dan dukungan keluarga. Selain faktor psikososial seperti efikasi diri, spiritualitas, dan dukungan keluarga, perkembangan teknologi digital juga mulai dimanfaatkan dalam meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis. Studi scoping review oleh Indawati et al. (2025) menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berbasis teknologi seperti Short Message Service (SMS) reminder, Video Directly Observed Therapy (VDOT), mobile health application, serta digital adherence technologies (DATs) efektif dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan TB. Perawat berperan penting dalam melakukan asesmen kebutuhan pasien, memberikan edukasi melalui media digital, melakukan monitoring jarak jauh, serta memberikan motivasi berkelanjutan selama proses terapi. Integrasi teknologi dalam praktik keperawatan terbukti mampu mengurangi hambatan geografis, meningkatkan komunikasi, serta memperkuat keterlibatan pasien dalam pengobatan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efikasi diri, spiritualitas, dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB–HIV di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien TB–HIV yang menjalani pengobatan di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner efikasi diri, spiritualitas, dukungan keluarga, dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki efikasi diri dalam kategori tinggi, spiritualitas dalam kategori baik, serta dukungan keluarga dalam kategori baik. Tingkat kepatuhan minum obat pada pasien TB–HIV sebagian besar berada dalam kategori patuh. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara efikasi diri dengan kepatuhan minum obat (p 0,05), spiritualitas dengan kepatuhan minum obat (p 0,05), serta dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat (p 0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara efikasi diri, spiritualitas, dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB–HIV. Faktor psikososial berperan penting dalam mendukung keberhasilan terapi pengobatan TB–HIV. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam mengembangkan intervensi keperawatan yang berfokus pada peningkatan efikasi diri, penguatan aspek spiritual, serta pelibatan keluarga guna meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien TB–HIV. Kata Kunci: Efikasi Diri, Spiritualitas, Dukungan Keluarga, Kepatuhan Minum Obat, TB-HIV.
Asuhan Akupunktur Pada Klien Tinitus di Klinik SKNC Bogor Kiki Hendrawan; Chantika Mahadini; Puspo Wardoyo; Leny Candra Kurniawan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.25207

Abstract

ABSTRACT Tinnitus is the perception of sound in the absence of an external sound source. It is a symptom that can be associated with various causes and triggering factors, most commonly occurring alongside sensorineural hearing loss, particularly bothersome tinnitus without clear otologic pathology. Acupuncture works by stimulating points around the ear and along meridians related to the ear, thereby helping to normalize cochlear function and the auditory nervous system. This case study aimed to determine the benefits of acupuncture care for clients with tinnitus at the SKNC Clinic Bogor. The study was conducted as a single case study over six therapy sessions involving one male participant aged 50 years who experienced tinnitus. Data collection techniques included observation (Wang), interviews (Wen), listening and smelling (Wen), and palpation (Qie), in accordance with the standards of Traditional Chinese Medicine. The selection of acupuncture points was based on the Kidney Yin Deficiency syndrome, with therapeutic principles focused on eliminating tinnitus and tonifying Kidney Yin. The therapy evaluation results showed gradual and consistent improvement, with the primary complaint of tinnitus no longer being perceived, additional complaints such as dizziness and sleep disturbances resolving, and the participant’s overall condition improving. Keywords: Tinnitus, Acupuncture Therapy, Kidney Yin Deficiency.  ABSTRAK Tinitus adalah persepsi suara tanpa adanya sumber suara eksternal. Tinitus merupakan gejala yang dapat dikaitkan dengan berbagai penyebab dan faktor pencetus, paling sering bersamaan dengan gangguan pendengaran sensorineural, terutama tinitus yang mengganggu tanpa patologi telinga yang jelas. Akupunktur bekerja dengan menstimulasi titik di sekitar telinga dan meridian yang berhubungan dengan telinga, sehingga membantu menormalkan fungsi koklea dan sistem saraf auditorik. Penelitian studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui manfaat Asuhan Akupunktur pada Klien Tinitus di Klinik SKNC Bogor. Penelitian dilakukan dalam bentuk studi kasus tunggal selama enam sesi terapi pada satu orang partisipan laki-laki berusia 50 tahun yang mengalami Tinitus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi (Wang), wawancara (Wen), pendengaran dan penciuman (Wen), dan perabaan (Qie) sesuai standar ilmu pengobatan Tiongkok. Pemilihan titik akupunktur didasarkan pada sindrom Yin Ginjal Defisien dengan prinsip terapi yang diterapkan adalah hilangkan Tinitus dan Tonifikasi Yin Ginjal. Hasil evaluasi terapi menunjukkan adanya perbaikan yang bertahap dan konsisten, keluhan utama berupa tinitus sudah tidak dirasakan lagi, keluhan tambahan seperti pusing dan gangguan tidur menghilang, serta kondisi umum partisipan menjadi lebih baik. Kata Kunci: Tinitus, Terapi Akupunktur, Yin Ginjal Defisien.
Seksio Sesarea Pada Kehamilan Mioma Uteri:Studi Kasus Alfaina Wahyuni; Nusaibah Binti El-Riza
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.25544

Abstract

ABSTRACT Uterine myomas are the most common benign tumors of the uterus in women of reproductive age. Fibroids that develop during pregnancy can cause complications during pregnancy and delivery. Myomectomy during cesarean section is generally avoided because increased vascularity of the uterus during pregnancy can lead to uncontrollable heavy bleeding and may require hysterectomy during cesarean delivery.  A 38-year-old woman with a history of 3 pregnancies, 1 live birth, and 1 abortion, at 37 weeks of pregnancy, with a fetus in breech presentation and an ultrasound showing giant uterine fibroids in the lower uterine segment. An elective cesarean section was planned. Intraoperative findings included large, multiple uterine fibroids in the lower segment, requiring myomectomy. The patient received a postoperative transfusion and recovered well without other complications. Multiple giant uterine fibroids located in the lower uterine segment can be treated with a myomectomy during a cesarean section. This procedure is relatively safe for experienced obstetricians, provided they anticipate bleeding during and after the operation. Keywords: Cesarean Section, Pregnancy, Uterine Myoma.  ABSTRAK Mioma uteri adalah tumor jinak paling umum pada uterus wanita usia reproduksi. Fibroid yang berkembang selama kehamilan dapat menyebabkan komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Myomektomi saat operasi caesar umumnya dihindari karena peningkatan risiko perdarahan pasca melahirkan dan kemungkinan  histerektomi saat persalinan caesar. Seorang wanita berusia 38 tahun dengan riwayat 3 kehamilan, 1 kelahiran hidup, dan 1 keguguran, pada usia kehamilan 37 minggu, dengan janin dalam presentasi sungsang dan hasil USG menunjukkan mioma uteri besar di segmen bawah uterus. Persalinan caesar elektif direncanakan. Temuan intraoperatif meliputi mioma uteri besar dan multiple di segmen bawah, yang memerlukan miomektomi sebelum melahirkan bayi. Pasien menerima transfusi pascaoperasi dan pulih dengan baik tanpa komplikasi lain. Multipel mioma uteri besar yang berlokasi di segmen bawah rahim dapat dilakukan myomektomi pada saat operasi caesar. Tindakan ini relatif aman  dilakukan oleh dokter kandungan berpengalaman dengan tetap mengantisipasi terjadinya perdarahan selama dan sesudah operasi Kata Kunci: Seksio Sesarea, Kehamilan, Mioma Uteri.
Asuhan Akupunktur pada Kasus Frozen Shoulder di Praktik Mandiri Ionetherapy Semarang Iwan Isbikhan; Ikhwan Abdullah; Leny Candra Kurniawan; Mayang Wulandari
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.25237

Abstract

ABSTRACT The upper extremities play a crucial role in almost all daily activities, and frozen shoulder is a condition characterized by restricted shoulder movement. Frozen shoulder presents with varying degrees of severity, ranging from mild to severe pain, as well as differing levels of limitation in the range of motion of the glenohumeral joint. Acupuncture has been widely used and proven effective in the management of frozen shoulder, particularly in reducing pain, decreasing stiffness, and improving patients’ quality of life. This case study aimed to determine the benefits of acupuncture care for a frozen shoulder case at the Ionetherapy Independent Practice in Semarang. The study was conducted as a single-case study over six therapy sessions involving one male participant aged 45 years who had been experiencing frozen shoulder for the past two weeks. Data collection techniques included observation (Wang), interview (Wen), listening and smelling (Wen), and palpation (Qie), in accordance with the standards of Traditional Chinese Medicine. The selection of acupuncture points was based on the syndrome of Qi and Blood Stagnation, with therapeutic principles focused on relieving pain and promoting the smooth flow of Qi and Blood. The evaluation results showed gradual and consistent improvement, including a progressive reduction in shoulder pain and stiffness until the symptoms resolved by the sixth therapy session, accompanied by an increased range of shoulder motion and improved ability to perform daily activities without limitation. Keywords: Frozen Shoulder, Acupuncture Therapy, Qi and Blood Stagnation.  ABSTRAK Anggota gerak atas memiliki keterlibatan yang sangat tinggi dalam semua aktifitas, frozen shoulder termasuk kondisi dimana gerakan bahu menjadi terbatas. Frozen Shoulder memiliki tingkatan kepararahan yang bervariasi mulai dari nyeri ringan sampai berat dan tingkatan keterbatasan seberapa besar terhadap gerakan sendi glenohumeral. Akupunktur telah banyak digunakan dan terbukti efektif dalam pananganan Frozen Shoulder, terutama dalam menurunkan nyeri, menurunkan kekakuan, dan memperbaiki kualitas hidup pendritanya. Penelitian studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui manfaat Asuhan Akupunktur pada Kasus Frozen Shoulder di Praktik Mandiri Ionetherapy Semarang. Penelitian dilakukan dalam bentuk studi kasus tunggal selama enam sesi terapi pada satu orang partisipan laki-laki berusia 45 tahun yang mengalami Frozen Shoulder sejak 2 minggu yang lalu. Teknik pengumpulan data meliputi observasi (Wang), wawancara (Wen), pendengaran dan penciuman (Wen), dan perabaan (Qie) sesuai standar ilmu pengobatan Tiongkok. Pemilihan titik akupunktur didasarkan pada sindrom Stagnasi Qi dan Darah dengan prinsip terapi yang diterapkan adalah mengilangkan nyeri, memperlancar Qi dan Darah. Hasil evaluasi terapi menunjukkan adanya perbaikan yang bertahap dan konsisten, seperti berkurangnya nyeri dan kekakuan bahu secara bertahap hingga keluhan menghilang pada terapi keenam, disertai dengan meningkatnya rentang gerak bahu dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan. Kata Kunci: Frozen Shoulder,Terapi Akupunktur, Stagnasi Qi dan Darah.
Asuhan Akupunktur Pada Pasien Nyeri Menstruasi di Rumah Terapi Medical Hacking Bekasi Fitri Yanti; Ikhwan Abdullah; Amal Prihatono; Mayang Wulandari
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.25223

Abstract

ABSTRACT Menstrual pain or dysmenorrhea is one of the most common gynecological complaints among women of reproductive age. This condition is characterized by lower abdominal pain, cramps, lower back soreness, and discomfort that can interfere with daily activities. From the perspective of Traditional Chinese Medicine (TCM), menstrual pain is often caused by Qi and Xue stagnation, Cold Stagnation, or Qi and Xue deficiency, which disrupts the smooth circulation of blood and energy in the uterus. Acupuncture offers a safe, effective, and non-pharmacological approach with minimal side effects. This study was conducted as a single-case study over six therapy sessions involving one 27-year-old female participant who had experienced menstrual pain for the past two months. Data collection techniques included observation (Wang), inquiry/interview (Wen), listening and smelling (Wen), and palpation (Qie), in accordance with Traditional Chinese Medicine diagnostic standards. The selection of acupuncture points was based on the syndrome of Qi and Blood Deficiency, with therapeutic principles focusing on tonifying Qi and Blood, strengthening the Spleen, and improving uterine function. Evaluation of the therapeutic outcomes showed that after six acupuncture sessions, menstrual pain was no longer experienced, headaches resolved, sleep quality improved, emotional stability increased, and menstrual blood returned to normal in terms of both volume and color. The prognosis of the therapy was considered good; therefore, the treatment was deemed sufficient and temporarily concluded. Keywords: Menstrual Pain, Acupuncture Therapy, Qi and Blood Deficiency.  ABSTRAK Nyeri menstruasi atau dismenore merupakan salah satu keluhan ginekologis yang paling umum di kalangan wanita usia reproduktif. Kondisi ini ditandai dengan nyeri perut bagian bawah, kram, nyeri punggung bawah, dan ketidaknyamanan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dari perspektif Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM), nyeri menstruasi sering disebabkan oleh stagnasi Qi dan Xue, stagnasi dingin, atau defisiensi Qi dan Xue, yang mengganggu kelancaran sirkulasi darah dan energi di rahim. Akupunktur menawarkan pendekatan yang aman, efektif, dan non-farmakologis dengan efek samping minimal. Studi ini dilakukan sebagai studi kasus tunggal selama enam sesi terapi yang melibatkan satu partisipan wanita berusia 27 tahun yang mengalami nyeri menstruasi selama dua bulan terakhir. Teknik pengumpulan data meliputi observasi (Wang), pertanyaan/wawancara (Wen), mendengarkan dan mencium (Wen), dan palpasi (Qie), sesuai dengan standar diagnostik Pengobatan Tradisional Tiongkok. Pemilihan titik akupunktur didasarkan pada sindrom Defisiensi Qi dan Darah, dengan prinsip terapeutik yang berfokus pada penguatan Qi dan Darah, penguatan Limpa, dan peningkatan fungsi rahim. Evaluasi hasil terapeutik menunjukkan bahwa setelah enam sesi akupunktur, nyeri menstruasi tidak lagi dialami, sakit kepala hilang, kualitas tidur membaik, stabilitas emosional meningkat, dan darah menstruasi kembali normal baik dari segi volume maupun warna. Prognosis terapi dianggap baik; oleh karena itu, pengobatan dianggap cukup dan diakhiri sementara. Kata Kunci: Nyeri Menstruasi, Terapi Akupunktur, Defisiensi Qi dan Darah.

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026) Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026) Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026) Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026) Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026) Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue