cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
Studi Kekerabatan Padi Hasil Piramidisasi Berbasis Marka Molekuler dan Fenotipik Reisyi Rinola Tambunan; Santika Sari; Yoana Saragih; Nono Carsono; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.853 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.23882

Abstract

Piramidisasi gen adalah upaya untuk menggabungkan beberapa gen yang menguntungkan dari banyak tetua menjadi satu genotipe tunggal. Hasil tinggi, tahan terhadap wereng cokelat, kandungan amilosa sedang, umur genjah dan aromatik adalah beberapa sifat yang diharapkan untuk digabungkan. Melalui teknik piramidsasi, telah diperoleh 28 genotip, namun analisis kekerabatan genetik, sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan pada tahapan pemuliaan selanjutnya, belum dilakukan. Kombinasi gen ini dicapai dengan persilangan banyak genotipe tetua dengan karakter unggul yaitu Sintanur (aromatik), Pandan Wangi (aromatik), IR64 (kandungan amilosa sedang), PTB33 (tahan wereng coklat), Ciapus (hasil tinggi) dan KA (umur genjah). Tujuan percobaan ini adalah untuk memperoleh hubungan genetik genotip dalam sifat-sifat agro-morfologi dan marka molekuler. Analisis hubungan kekerabatan antara tetua dan 28 genotip piramidisasi dilakukan menggunakan software XLSTAT2016 untuk membentuk matrik similarity shared allele distance dengan koefisien Jaccard sebagai pembentuk jarak genetik untuk marka molekuler dan koefisien korelasi pearson untuk marka fenotipik. Kemudian dilakukan pengelompokan atau clustering dengan metode Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Averages (UPGMA). Hasil pengelompokan berdasarkan marka molekuler dengan menggunakan 11 marka yang terkait erat dengan tujuh karakter target, diperoleh koefisien kemiripan sebesar 41,3% dan terbentuk dua kelompok, sedangkan hasil pengelompokan berdasarkan marka fenotipik dengan 14 karakter agro-morfologi terbentuk tiga kelompok dengan tingkat kemiripan 22,2%. Genotipe SPxCAKA1B, SPxPP3B dan PPxIP4B   dapat dimanfaatkan sebagai tetua atau genotipe harapan karena memiliki jarak kekerabatan yang paling jauh diantara genotip lainnya.
Uji Ketahanan Klon Kentang Hasil Pesilangan Atlantic x Repita terhadap Penyakit Hawar Daun Phytophthora infestans Helmi Kurniawan; Ineu Sulastrini; Tarkus Suganda
Agrikultura Vol 29, No 2 (2018): Agustus, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.327 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i2.20806

Abstract

ABSTRACTResistance Test of Potato Clones Derived from Crossing of Atlantic x Repita to Late Blight (Phytophthora infestans)Late blight, incited by Phytophthora infestans is the most destructive disease of potato. The management that is effective and environmentally-friendly is the use of resistant variety. The objective of this study was to test the resistance of the six potato clones (AR 04, AR 05, AR 06, AR 07, AR 08 and AR 09) derived from crossing var. Atlantic x var. Repita to late blight caused by P. infestans. Var. Atlantic, Repita and Granola were used as susceptible, resistant and susceptible but the most-grown variety, respectively. Field test was located in Ciwidey, one of the potato growing center where late blight is endemic since potatoes are continuously grown. The treatments were arranged in a randomized block design with 3 replicates. The result showed that clones AR 07 and AR 08 were more resistant than the other potato clones, but it still below the resistance level var. Repita. However, based on statistical test on the diseases development (AUDPC), clone AR 08 could be categorized as resistant, equal with of the resistance level of var. Repita.Keywords: Potato clones, Rsistance, P. infestansABSTRAKPenyakit hawar daun yang disebabkan Phytopthora infestans merupakan penyakit utama pada tanaman kentang. Pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan adalah dengan penanaman varietas tahan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ketahanan 6 klon kentang (AR 4, AR5, AR6, AR7, AR 8, dan AR9) yang merupakan hasil persilangan antara var. Atlantic (produksi tinggi tetapi rentan) dengan var. Repita, sebagai tetua tahan terhadap penyakit hawar daun yang disebabkan oleh P. infestans. Varietas Atlantic, Repita dan Granola digunakan sebagai pembanding. Pengujian ketahanan dilakukan di Ciwidey, yang merupakan salah satu sentra produksi kentang di Jawa Barat dan endemik penyakit hawar daun. Perlakuan ditata menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon AR 07 dan Klon AR 08 memiliki ketahanan yang lebih baik dibanding klon-klon kentang lainnya, namun tingkat ketahanannya masih di bawah cv Repita. Namun, berdasarkan uji statistik terhadap nilai perkembangan penyakit (AUDPC) klon AR 08 dapat dikategorikan tahan, sama dengan derajat tahan var. Repita.Kata Kunci: Klon kentang, Ketahanan, P. infestans
Fluktuasi Populasi Lalat Buah (Bactrocera dorsalis Kompleks.) (Diptera: Tephritidae) pada Pertanaman Pepaya di Desa Margaluyu, Kabupaten Garut Agus Susanto; Faisal Fathoni; N. I. Nur Atami; Tohidin Tohidin
Agrikultura Vol 28, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.472 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i1.12297

Abstract

ABSTRACTPopulation fluctuations fruit fly (Bactrocera dorsalis Complex) (Diptera: Tephritidae) on a papaya plantation at the Margaluyu Village, Garut RegencyFruit fly (Bactrocera dorsalis Complex.) is the main pest that attacks papaya plants and responsible for losses outcome attaining 100%. The purpose of this research was to understand the effects of abiotic factors (rainfalls and rainy days) and biotic factor (the availability of fruits) against the fruit fly population in papaya plantation. This research was conducted using a survey method to set traps on papaya plantation as many as 10 pieces on the edge of the garden and another 10 inside at Margaluyu Village, Leles District, Garut Regency. The results showed that abiotic factors such us rainfall and rainy days did not show a significant correlation to the increasing population of fruit flies. The biotic factor which was the availability of fruits showed a positive correlation to increasing fruit fly population. The result of T-test analysis at the 5% level showed that the average catches of fruit flies with the egde of trap and the inside of trap giving a real difference.Keywords: Bactrocera dorsalis Complex, Fruit fly, Papaya, Population fluctuationABSTRAKLalat buah (Bactrocera dorsalis Complex.) merupakan hama penting yang menyerang tanaman pepaya dan dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor abiotik (curah hujan dan jumlah hari hujan) serta faktor biotik (ketersediaan buah) terhadap fluktuasi populasi lalat buah pada pertanaman pepaya. Penelitian ini dilakukan di Desa Margaluyu, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei dengan memasang perangkap pada pertanaman pepaya sebanyak 10 buah di bagian tepi kebun dan 10 buah pada bagian dalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor abiotik berupa curah hujan dan jumlah hari hujan tidak menunjukkan korelasi yang signifikan terhadap peningkatan populasi lalat buah. Faktor biotik yaitu ketersediaan buah menunjukkan korelasi positif terhadap peningkatan populasi lalat buah. Hasil analisis T-test pada taraf 5% menunjukkan bahwa rata-rata hasil tangkapan lalat buah pada perangkap tepi dan perangkap dalam memberikan perbedaan yang nyata.Kata kunci: Bactrocera dorsalis Kompleks, Fluktuasi populasi, Lalat buah, Pepaya.
Kandungan C-Organik, N-Total Tanah serta Hasil Padi Gogo (Oryza sativa L.) Akibat Perlakuan Pupuk Organik pada Ultisols Asal Desa Kentrong, Provinsi Banten Rimma Rakhmalia; Randy Gema R.; Anni Yuniarti
Agrikultura Vol 26, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.13 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i2.8467

Abstract

ABSTRACTEffect of Organic Fertilizers on C-organic, total-N soil and Yield of Upland Rice (Oryza sativa L.) onUltisols Collected from Kentrong Area, Banten ProvinceThis experiment was aimed to study the effect of various kinds and dosages of organic fertilizers onC-organic, total-N soil and yield of upland rice (Oryza sativa L.) in Ultisols collected from Kentrongarea, Banten Province. The experiment was arranged in a randomized block design with tentreatments and three replications. The treatments were control (without organic ferlitizer), poultrymanure 37.5 g/polibag, poultry manure 75 g/polybag, poultry manure 112.5 g/polybag,vermicomposting 37.5 g/polybag, vermicomposting 75 g/polybag, vermicomposting 112.5g/polybag, compost of straw 37.5 g/polybag, compost of straw 75 g/polybag and compost of straw112.5 g/polybag. The result showed that there was an effect of various kinds and dosages of organikfertilizers on C-Organic, but there was no effect on N-Uptake. For the yield of upland rice, dosageof 112.5 g/polybag of poultry manure gave the best result which was 21.08 g/polybag.Keywords: C-organic, total-N, organic fertilizersABSTRAKPercobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian macam dan dosis pupuk organikterhadap C-organik, N-total dan hasil padi gogo (Oryza sativa L.) pada Ultisols asal Desa Kentrong,Provinsi Banten. Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK),dengan sepuluh perlakuan dan diulang tiga kali. Sepuluh taraf tersebut terdiri dari perlakuankontrol (tanpa pupuk organik), pupuk kandang ayam 37,5 g/polibeg, pupuk kandang ayam 75g/polibeg, pupuk kandang ayam 112,5 g/polibeg, pupuk kascing 37,5 g/polibeg, pupuk kascing 75g/polibeg, pupuk kascing 112,5 g/polibeg, pupuk kompos jerami 37,5 g/polibeg, pupuk komposjerami 75 g/polibeg, dan pupuk kompos jerami 112,5 g/polibeg. Hasil percobaan menunjukkanterdapat pengaruh pemberian macam dan dosis pupuk organik terhadap C-Organik tanah tetapitidak berpengaruh terhadap N-Total. Untuk hasil panen padi gogo, dosis 112,5 g/polibeg pupukkandang ayam memberikan hasil panen padi gogo terbaik yaitu 21,08 g/polibeg.Kata kunci: C-organik, N-total, pupuk organik
Formulasi Lengkap Larutan Pengawet Bunga Potong Anyelir (Dyanthus caryophillus) Farida Iriani
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009): Desember, 2009
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.038 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v20i3.965

Abstract

Pemanfaatan larutan pengawet berfomula bahan dasar sukrosa, asam sitrat, dan lisol adalah efektif mempertahankan kualitas bunga potong anyelir. Pemanfaatan larutan pengawet berformula bahan dasar yang ditambahkan senyawa pengatur tumbuh sitokinin atau senyawa anti etilen telah dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji keefektifannya dalam meningkatkan kualitas bunga potong itu. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri atas lima faktor yang diulang tiga kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan kinetin atau perak tiosulfat ke dalam formula dasar memberi efek yang lebih baik terhadap kualitas bunga potong anyelir dibandingkan dengan perendaman dalam larutan pengawet berformula dasar saja, sebagaimana terukur melalui umur peragaan, jumlah koloni mikroba, perkembangan bobot segar relatif 2-harian, etilen yang disintesis dan respirasi.
Populasi Hama dan Musuh Alami pada Tiga Cara Budidaya Padi Sawah di Sukamandi N. Usyati; Nia Kurniawati; Ade Ruskandar; Oco Rumasa
Agrikultura Vol 29, No 1 (2018): April, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.922 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i1.16924

Abstract

ABSTRACTPest and natural enemy population in three different rice cultivation in Sukamandi RegionSome on limiting factors in rice production include the cultivation system and pest damage. To suppress the damage, several control techniques have been applied, such as technical culture. The aim of this study was to gain information on population and pest damage, as well as natural enemy population in three different rice cultivation systems. The study was arranged in Randomized Block Design with three treatment and 9 replications. The treatments were: 1) organic rice cultivation, 2) semi organic, and 3) farmer technique. The used rice variety was Inpari 30. The plot size was 6 m x 90 m. The variables observed included population and pest damage, natural enemy population, and rice yields. Thirthy two rice hills were observed randomly in diagonal direction, with 2 weeks interval from two weeks after transplanting until harvest. The data were analyzed by analysis of variance (Anova) and the difference among the treatments was evaluated with Duncan multiple area test at 5% level. The results showed that brown plant hoppers population on organic rice cultivation is lower than semi-organic rice cultivation and farmer technique, but there were no difference of natural enemy population among treatments. The lowest yield was obtained from the organic rice cultivation (2.67 t/ha).Keywords: Rice cultivation, Pests, Natural enemiesABSTRAKBeberapa faktor pembatas produksi padi diantaranya adalah cara budidaya dan adanya serangan hama. Untuk menekan serangan hama, beberapa teknik pengendalian telah diterapkan diantaranya adalah pengendalian secara kultur teknis (cara budidaya). Pada MT-2 tahun 2016, penelitian dengan tujuan mendapatkan informasi mengenai populasi dan serangan hama, serta populasi musuh alami pada tiga cara budidaya padi telah dilakukan di lahan kebun percobaan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga cara budidaya dan diulang sebanyak sembilan kali. Adapun cara budidaya yang digunakan terdiri atas:1) budidaya padi organik; 2) semi organik; 3) cara petani. Varietas yang digunakan adalah Inpari 30. Ukuran plot 6 m x 90 m. Variabel yang diamati meliputi populasi dan tingkat serangan hama, populasi musuh alami, dan hasil panen. Pengamatan dilakukan secara langsung di pertanaman pada 32 rumpun sampel secara acak diagonal dengan interval dua minggu sekali mulai umur tanaman dua minggu setelah tanam sampai menjelang panen. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam (Anova) dan perbedaan antar perlakuan dievaluasi dengan uji wilayah berganda Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi hama wereng coklat pada cara budidaya padi organik lebih rendah dibandingkan cara budidaya padi semi organik dan budidaya padi cara petani, tetapi tidak ada perbedaan populasi musuh alami pada cara budidaya padi organik, cara budidaya padi semi organik dan budidaya padi cara petani. Hasil panen terendah (2,67 t/ha) terlihat pada perlakuan budidaya padi organik.Kata Kunci: Budidaya padi, Hama, Musuh alami
Intensitas Penyakit Blas (Pyricularia oryzae Cav.) pada Padi Varietas Ciherang di Lokasi Endemik dan Pengaruhnya terhadap Kehilangan Hasil Tarkus Suganda; Endah Yulia; Fitri Widiantini; Hersanti Hersanti
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.457 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10878

Abstract

ABSTRACTDisease intensity of blast disease (Pyricularia oryzae Cav.) of Ciherang rice variety at the endemic location and its effect on yield lossBlast is one of the most important diseases of rice worldwide. Many countries have developed data on the intensity and yield loss due to blast disease, whereas Indonesia has no such data resulted from trial specifically designed to estimate blast intensity at the endemic location and its potential yield loss. Such data are needed for various purposes, such as for disease management policy and research background. A trial has been carried out at Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, a location where blast was endemic for years, using var. Ciherang that is known as susceptible and widely grown by farmers. Eight concentrations of fungicide of single as well as mix active ingredients were used to see the effects in suppressing blast diseases compared with of control. Trial used a Randomized Block Design with 5 replicates. The parameters observed were the intensity of leaf blast, neck blast and yield. The results showed that the disease intensity of var. Ciherang at the endemic location was 55.60% of leaf blast and 37.75% of neck blast. The potency of yield loss calculated was 3.65 ton/ha or equal with 61% of the average yield of var. Ciherang as described in its variety description. This number justifies the important of control measures of rice blast diseases.Keywords: Blast disease intensity, var. Ciherang, Potency of yield lossABSTRAKPenyakit blas merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman padi di seluruh dunia. Berbagai negara sudah memiliki data tentang intensitas dan kehilangan hasil padi oleh penyakit blas, sementara di Indonesia belum ada hasil pengujian yang khusus dirancang untuk melihat tingkat intensitas penyakit blas di daerah endemik dan potensi kehilangan hasil yang diakibatkannya. Data sejenis ini penting untuk berbagai keperluan antara lain untuk kebijakan pengendalian dan dasar pentingnya penelitian. Suatu percobaan telah dilakukan di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi yang merupakan daerah endemik penyakit blas selama bertahun-tahun, menggunakan var Ciherang yang merupakan varietas rentan namun populer ditanam petani. Delapan bahan aktif fungisida berbahan aktif tunggal dan majemuk digunakan untuk melihat pengaruh penekanannya dibandingkan kontrol. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima ulangan. Parameter yang diamati adalah intensitas penyakit blas daun dan blas leher malai serta hasil padi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa intensitas penyakit blas pada tanaman padi var. Ciherang di daerah endemik adalah 55,60% untuk blas daun, dan 37,75% untuk blas leher malai. Potensi kehilangan hasil oleh gabungan penyakit blas pada var. Ciherang adalah 3,65 ton/ha atau setara dengan 61% kehilangan hasil jika dibandingkan terhadap rata-rata produksi var. Ciherang menurut spesifikasi varietas. Data ini menjustifikasi perlunya pengambilan tindakan pengendalian penyakit blas pada tanaman padi.Kata Kunci: Intensitas penyakit blas, var. Ciherang, Potensi kehilangan hasil
Bioaktivitas Campuran Ekstrak Biji Barringtonia asiatica L. (Kurz.) (Lecythidaceae) dan Getah Azadirachta indica A. Juss. (Meliaceae) terhadap Larva Spodoptera litura F. (Lepidoptera: Noctuidae) Indah Meutia Arisanti; Danar Dono
Agrikultura Vol 26, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.826 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i1.8458

Abstract

ABSTRACTBioactivity of mixed seed extract of Barringtonia asiatica l. (kurz.) (lecythidaceae) and sap of Azadirachtaindica A. Juss. (meliaceae) against larvae of Spodoptera litura f. (lepidoptera: noctuidae)Barringtonia asiatica and Azadirachta indica are known to have variety of chemical compounds that haspotency to be developed as botanical pesticides. The study aimed to determine insecticidal toxicity of B.asiatica seed extract and A. indica sap and their mixture. The experiment was carried out in the Laboratoryof Pesticides and Application Technology, Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture,Universitas Padjadjaran. The experiments were conducted either on toxicity test of the seed extract of B.asiatica and the sap of A. indica singly or their mixture based on the comparison of LC95. Toxicity testing wasperformed using a leaf-residue feeding method on the instar I of Spodoptera litura larvae. The resultsshowed that seed extractof B.asiatica has a moderate toxicity to S.liturawith the LC50 value of 0.491% andaffected body weight of the larvae. The sap of A.indicahas had slightly low toxicity with the LC50 value of1.310%. The mixture of B. asiatica seed extract and A. Indica sap (based on ratio of 4.1%of B. asiaticacompare to 4.9% of A. Indica) has LC50 value of 0.970% (slightly low toxicity) and the LC95 value of 15.99%that was antagonistic on the LC95 level with Cotoxicity Ratio value of 0.23% on 12 days after treatment.Keywords: Cotoxicity ratio, independent joint action, Barringtonia asiatica, Azadirachta indica, SpodopteralituraABSTRAKBarringtonia asiatica dan Azadirachta indica diketahui memiliki berbagai senyawa kimia yang berpotensidikembangkan sebagai pestisida nabati. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui toksisitas ekstrak biji B.asiatica dan getah A. indica serta campurannya telah dilakukan di Laboraturium Pestisida dan TeknikAplikasi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran.Penelitian meliputi uji toksisitas ekstrak biji B. asiatica dan getah A.indica secara tunggal, dan pengujiancampuran ekstrak biji B. asiatica dan getah A.indica berdasarkan pada perbandingan LC95. Pengujiantoksisitas dilakukan dengan metode celup pakan pada larva instar I Spodoptera litura. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ekstrak biji B. asiatica bersifat toksik sedang terhadap S. litura dengan nilai LC50sebesar 0,491% dan berpengaruh terhadap bobot basah larva. Getah A. indica bersifat toksik ringan dengannilai LC50 1,310%. Campuran ekstrak biji B. asiatica dan getah A. indica berdasarkan rasio 4,1% B. asiaticaberbanding 4,9% A. indica memiliki LC50 sebesar 0,970% (toksisitas ringan) dengan LC95 sebesar 15,99% dandinyatakan bersifat antagonis pada LC95 dengan nilai Nisbah Kotoksisitas 0,23% pada 12 hari setelahaplikasi.Kata kunci: Nisbah Kotoksisitas, Kerja bersama bebas, Barringtonia asiatica, Azadirachta indica, Spodopteralitura
Akar Penyebab Kemiskinan Petani Hortikultura di Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung Tubagus Hasanuddin; Dame G. g; Teguh Endaryanto
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009): Desember, 2009
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.745 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v20i3.947

Abstract

Isu kemiskinan merupakan masalah penting dalam pembangunan di Indonesia. Beberapa program  pemerintah  belum mampu mengatasi kemiskinan sehingga perlu dirumuskan model pemberdayaan masyarakat miskin yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengindentifikasi tingkat dan penyebab kemiskinan  petani hortikultura serta pola perilaku ekonomi petani dalam menghadapi kemiskinan, 2) mengkaji kinerja usaha ekonomi,  lembaga keuangan dan lembaga sosial  petani hortikultura, dan 3) merumuskan model pemberdayaan petani hortikultura. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja di sentra produksi hortikultura di Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung. Responden dan jumlah responden ditentukan dengan teknik snowball sampling sampai pada taraf redudancy. Metode penelitian adalah metode pengamatan berpartisipasi dengan wawancara mendalam dan diskusi kelompok fokus sebagai teknik pengumpulan data. Analisis data menggunakan analisis kualitatif  serta  SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani hortikultura masih miskin dan sangat miskin karena lahan sempit dan keterbatasan modal. Sumberdaya manusia petani hortikultura masih rendah dan pola hidup petani hortikultura bersifat konsumtif. Petani hortikultura mengantisipasi kemiskinan dengan diversifikasi pekerjaan dan menjalin hubungan baik dengan sesama.  Lembaga ekonomi dan keuangan masih dikuasai oleh pihak luar petani, sedangkan lembaga sosial petani masih belum banyak berfungsi.  Model pemberdayaan yang dianjurkan untuk petani hortikultura adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani, kemudahan permodalan, pembentukan lembaga pemasaran yang ditentukan oleh pemerintah, pendampingan dan perubahan pola  hidup dan sikap petani.
Penampilan 15 Genotipe Kedelai Hitam (Glycine soja (L.) Merr) pada Pertanaman Tumpangsari 2:1 dengan Jagung M. Khais Prayoga; Meddy Rachmadi; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.403 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.9988

Abstract

ABSTRAKPeningkatan minat petani untuk menanam kedelai dapat dilakukan melalui sistem tanam tumpangsari kedelai dengan jagung untuk mengurangi kemungkinan kerugian akibat gagal panen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagimana penampilan karakter daya hasil 15 genotipe kedelai hitam pada pertanaman tumpangsari pola 2:1 dengan jagung. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 15 genotip kedelai hitam sebagai perlakuan yang diulang sebanyak dua kali. Percobaan disusun dalam pertanaman 2:1 (dua baris kedelai dan satu baris jagung). Pengamatan dilakukan terhadap karakter daya hasil yaitu jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot 100 biji, bobot biji per tanaman, dan bobot biji per baris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe-genotipe yang lebih unggul dibandingkan dengan kultivar Cikuray dan Malika adalah BTN 1, BTN 2, BTN 5, dan CK 5 pada karakter jumlah biji per tanaman, genotipe CK 15 pada karakter jumlah polong per tanaman, genotipe SM 2 pada karakter jumlah polong per tanaman dan jumlah biji per tanaman, serta genotipe CK 0, KA 6, dan KA 7 pada karakter jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman dan bobot biji per baris.Kata Kunci: Kedelai hitam, Tumpangsari, Daya hasil

Page 2 of 40 | Total Record : 395