cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
Efektivitas Asam Humat dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao pada Media Tanam Subsoil Sari, Resti Puspa Kartika; Utoyo, Bambang; Permatasari, Nindy; Airlangga, Tandaditya Ariefandra; Nurmayanti, Sri; Lesmana, Adit Indra
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.68757

Abstract

Media tanam topsoil untuk pembibitan kakao semakin terbatas dan sebagai alternatif dapat digunakan tanah subsoil, tetapi kesuburannya ditingkatkan dengan penambahan asam humat. Selain itu, untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik pada tahap pembibitan dapat digunakan pupuk hayati Plant Growth Promoting Rizhobacteria (PGPR). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi asam humat dan PGPR terbaik, serta interaksi keduanya dalam mengoptimalkan pertumbuhan bibit kakao di media tanam subsoil. Penelitian dilaksanakan di lahan kebun bibit tanaman perkebunan, Laboratorium Pengelolaan Tanaman Perkebunan, Politeknik Negeri Lampung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial  dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi asam humat (tiga taraf: 0; 5; dan 7,5 g/L). Faktor kedua adalah konsentrasi PGPR (empat taraf: 0; 25; 50; dan 75 mL/L). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, dan dilanjutkan dengan uji lanjut jarak berganda Duncan (DMRT) pada taraf nyata 5%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara asam humat dengan PGPR pada tingkat kehijauan daun dan bobot kering tajuk, dengan konsentrasi paling optimum pada perlakuan 0 g/L asam humat + 25 mL/L PGPR dan 5 g/L asam humat + 50 mL/L PGPR.  Pemberian asam humat secara mandiri berpengaruh pada bobot kering akar dengan perlakuan terbaik pada konsentrasi 0 g/L dan  5 g/L asam humat, dan pada luas daun untuk konsentrasi 0 g/L asam humat. Pemberian PGPR secara mandiri berpengaruh pada bobot kering akar, luas daun, dan jumlah daun 30 HSA. Konsentrasi aplikasi PGPR terbaik untuk bobot kering akar dan luas daun adalah 75 mL/L, sedangkan untuk jumlah daun 30 HSA adalah 50 mL/L.
Karakterisasi Morfologis Sembilan Galur Padi Harapan Berdasarkan Simulasi Uji BUSS Carsono, Nono; Rofiuddin, Muhammad M. A.; Kadapi, Muhamad; Sari, Santika
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.62340

Abstract

Pengujian kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan (BUSS) merupakan tahapan penting dalam proses perolehan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) sesuai dengan regulasi yang ditetapkan oleh Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP), Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Penelitian ini menggunakan sembilan genotipe padi generasi F8 hasil persilangan antara ‘Sintanur’ dan ‘PTB33’ yang telah diperoleh melalui seleksi berbasis molekuler dan fenotipik. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi karakter morfologi genotipe padi melalui simulasi uji BUSS guna mengidentifikasi tingkat kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilannya berdasarkan panduan pelaksanaan uji BUSS tanaman padi. Percobaan dilaksanakan di lahan petani di Cilamaya, Kabupaten Karawang, pada ketinggian ±15 mdpl, dari bulan Juni hingga November 2023. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas sembilan genotipe uji (SP 46-4-1-44-25, SP 46-4-1-44-29, SP 101-3-1-5-9, SP 87-1-1-76, SP 87-1-1-7-10, SP 87-1-1-7-12, SP 101-3-1-19-23, SP 101-3-1-19-24, dan SP 101-3-1-19-30) dan tujuh varietas pembanding (‘Sintanur’, ‘PTB33’, ‘Inpari 48’, ‘Inpari 42’, ‘Cilamaya Muncul’, ‘Inpari 32’, dan ‘Fatmawati’), dengan tiga ulangan. Analisis dilakukan menggunakan uji Least Significant Increase (LSI) dan penghitungan varians fenotipe.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 44 karakter yang diamati, sebanyak 29 karakter menunjukkan variasi antara genotipe uji dan varietas pembanding, sehingga memenuhi kriteria keunikan. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh genotipe uji memenuhi kriteria keseragaman dan kestabilan berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini. Kesembilan genotipe padi yang diuji telah memenuhi seluruh kriteria BUSS dan direkomendasikan untuk diajukan dalam proses perolehan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
Sustainability of Smallholder Oil Palm Plantations: A Multidimensional Scaling (MDS) Approach in North Konawe Regency, Indonesia Yusuf, La Ode Muhammad Iksan; Nabila, Asma; Rahim, Abd; Erwin, Erwin; Hastuti, Diah Retno Dwi
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.67736

Abstract

Smallholder oil palm plantations play a strategic role in supporting local livelihoods and the national supply chain. In North Konawe Regency, this sector is a cornerstone of the regional economy, making its sustainability critical amid environmental challenges and market fluctuations. Current palm oil studies are predominantly focused on large-scale industries and often lack an integrated, multidimensional approach encompassing economic, ecological, institutional, and socio-cultural dimensions, particularly in the context of Southeast Sulawesi. This study aims to assess the multidimensional sustainability status and identify sensitive attributes influencing the resilience of smallholder plantations. Research was conducted from April to July 2025, involving 124 farmers and nine farmer groups. Data were analyzed using the Rapid Appraisal for Palm Oil (RAPPO) method based on Multidimensional Scaling (MDS) and leverage analysis. The results reveal a sustainability index of 66.01%, categorized as fairly sustainable. The institutional dimension achieved the highest score (70.00%), followed by ecology (67.80%), economy (67.72%), and socio-cultural (58.48%). Leverage analysis identified key sensitive attributes: flora and fauna diversity (ecology), economic benefits for local communities (economy), certification implementation (institutional), and the frequency of inter-farmer conflicts (socio-cultural). This study contributes to the literature by providing an integrated sustainability profile of smallholder plantations in North Konawe. The implications underscore the need to strengthen farmer institutions and synchronize input subsidy policies to ensure the economic stability of smallholders while maintaining environmental integrity.
Perkembangan Populasi Hama Utama pada Tanaman Padi di Kabupaten Merauke Papua Selatan Sembiring, Jefri; Mendes, Johana; Kusumah, Rangga; Anwar, Anwar; Yusuf, Mani; Susanti, Diana Sri
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.67859

Abstract

Perkembangan populasi hama padi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama suhu, kelembapan, dan ketersediaan tanaman inang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika populasi hama utama tanaman padi berdasarkan umur tanaman dan musim tanam di Kabupaten Merauke. Penelitian dilaksanakan pada lahan sawah dataran rendah di Distrik Merauke, Semangga, Tanah Miring, dan Kurik yang secara geografis berada pada 7°–8° LS dan 140°–141° BT dengan ketinggian 0–10 m dpl. Penelitian dilakukan pada bulan Februari–September 2023 yang mencakup dua musim tanam. Metode yang digunakan adalah survei dengan pendekatan observasi lapangan menggunakan desain longitudinal (repeated measures). Pengambilan sampel dilakukan secara purposive dengan pendekatan cluster sampling pada empat Distrik. Pada setiap Distrik ditetapkan dua kampung, dan pada setiap kampung dipilih lima petak sawah (20 × 20 m) yang menggunakan varietas padi yang sama. Setiap petak dibagi menjadi lima subplot (2 × 2 m) secara diagonal sebagai unit pengamatan, sehingga total unit pengamatan sebanyak 200 subplot pada setiap waktu pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi hama berbeda nyata antar musim tanam dan umur tanaman, dengan populasi lebih tinggi pada musim tanam kedua. Hama dominan pada fase vegetatif adalah wereng batang coklat dan penggulung daun (28–42 HST), sedangkan pada fase generatif didominasi oleh penggerek batang dan walang sangit (56–70 HST). Wereng punggung putih Sogatella furcifera menunjukkan peningkatan populasi secara bertahap dari fase awal hingga generatif, dengan populasi tertinggi pada umur 56–70 HST dan lebih tinggi pada musim tanam kedua. Populasi wereng hijau cenderung menurun seiring bertambahnya umur tanaman, sedangkan populasi wereng batang coklat menunjukkan pola fluktuatif. Fase kritis tanaman terjadi pada umur 28–42 HST dan 56–70 HST pada setiap musim tanam.
Prioritas Pengembangan Jaringan Irigasi dengan Multi-Attribute Decision Making (MADM) pada UPT Curah Malang di Bedadung Kabupaten Jember Ristiyana, Suci; Hidayat, Naufal Akbar Alfatih; Wijayanto, Yagus; Saputra, Tri Wahyu; Purnamasari, Ika; Prasojo, Sri Irawan Laras
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.70031

Abstract

Air merupakan sumber daya vital dalam mendukung kegiatan pertanian, terutama di tengah perubahan iklim dan meningkatnya variabilitas cuaca. Ketersediaan air yang memadai dan berkelanjutan sangat dipengaruhi oleh kinerja sistem irigasi. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan evaluasi melalui pendekatan yang sistematis dan berbasis data untuk menentukan prioritas perbaikan saluran irigasi secara efektif. Penelitian ini dilaksanakan di UPT Curah Malang, Daerah Irigasi Bedadung, Kabupaten Jember, pada bulan Juni hingga Agustus 2025. Penelitian menggunakan pendekatan Multi-Attribute Decision Making (MADM) untuk menentukan prioritas rehabilitasi saluran irigasi. Metode MADM yang diterapkan meliputi Simple Additive Weighting (SAW), Weighted Product (WP), dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Penilaian dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, yaitu tingkat kerusakan saluran primer dan tersier, luas wilayah layanan, ketersediaan air, serta dampak terhadap hasil panen. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga metode menghasilkan peringkat yang relatif konsisten dalam menentukan prioritas perbaikan saluran irigasi. Daerah irigasi Sukorejo secara konsisten menempati peringkat pertama pada seluruh metode, diikuti oleh Gumelar pada peringkat kedua. Adapun daerah irigasi Keting berada pada peringkat terakhir pada semua metode, yang menunjukkan tingkat prioritas penanganan yang lebih rendah. Perbedaan hanya ditemukan pada urutan daerah irigasi Paleran dan Gambirono antara metode TOPSIS dan metode lainnya, namun tidak memengaruhi penentuan prioritas utama secara keseluruhan. Konsistensi hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan MADM dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam penyusunan rencana rehabilitasi infrastruktur irigasi yang lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.
Pengaruh Slow-Release Organic Fertilizer Berbasis Kotoran Ayam terhadap Sifat Kimia Tanah Aluvial Masam dan Pertumbuhan Selada (Lactuca sativa L.) Rahayu, Sri; Astar, Ismail; Setiawan, Setiawan; Suyanto, Agus
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.69919

Abstract

Tanah aluvial masam dicirikan oleh pH rendah, kapasitas tukar kation yang terbatas, serta kandungan aluminium dapat ditukar yang tinggi, yang membatasi ketersediaan hara dan pertumbuhan tanaman hortikultura. Keterbatasan ini menuntut strategi pengelolaan tanah yang tidak hanya mampu menyediakan hara, tetapi juga meningkatkan sifat kimia tanah secara berkelanjutan. Pupuk lepas lambat (slow-release organic fertilizers/SROF) merupakan pendekatan yang menjanjikan karena mampu melepaskan hara secara bertahap sekaligus memperbaiki kondisi tanah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pupuk organik lepas lambat yang diformulasikan dari kotoran ayam, abu sekam padi, dan pati singkong dalam memperbaiki sifat tanah dan pertumbuhan selada (Lactuca sativa L.). Percobaan dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Panca Bhakti Pontianak pada bulan Januari - Maret 2025, menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima taraf dosis SROF (0; 2,5; 5,0; 7,5; 10,0; dan 12,5 g/tanaman), masing-masing dengan empat ulangan. Parameter yang diamati meliputi pola pelepasan hara (N, P, dan K), sifat kimia tanah, pertumbuhan dan biomassa tanaman. Analisis data dilakukan menggunakan analisis varians (ANOVA) taraf nyata 1% dan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) taraf nyata 5%. Pupuk menunjukkan pola pelepasan hara yang terkendali hingga 60 hari. Aplikasi SROF secara signifikan meningkatkan pH tanah (dari 3,57 menjadi 5,20), menurunkan Al dapat ditukar (dari 0,79 menjadi 0,30 cmol(+) kg-1), serta meningkatkan kandungan karbon organik, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, dan ketersediaan hara. Perbaikan tersebut secara signifikan meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar dan biomassa, dengan hasil optimal pada dosis 10–12,5 g/tanaman. Penelitian ini menunjukkan bahwa SROF berbasis kotoran ayam efektif sebagai amelioran tanah sekaligus sumber hara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas tanah aluvial dan produktivitas selada pada tanah masam.
Karakterisasi Bakteri Endosimbion pada Saluran Pencernaan Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferrari) dari Buah Kopi Arabika dan Robusta di Jawa Barat Saraswati, Indriana; Maharani, Yani; Meliansyah, Rika; Hidayat, Purnama
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.68766

Abstract

Penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei) merupakan hama paling merusak pada tanaman kopi di dunia. Kemampuannya untuk beradaptasi di dalam buah kopi dan mendegradasi kafein diduga dipengaruhi oleh keberadaan bakteri endosimbion, khususnya yang menghuni saluran pencernaan. Namun, informasi dasar mengenai bakteri endosimbion usus pada berbagai jenis kopi di Indonesia masih terbatas, terutama kajian komparatif fenotipik antara populasi yang berasosiasi dengan kopi arabika dan robusta. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi secara fenotipik dan menentukan kelompok awal bakteri endosimbion usus H. hampei yang dikoleksi dari perkebunan kopi arabika di Garut dan Sumedang serta kopi robusta di Bogor dan Pangandaran. Isolasi bakteri dilakukan menggunakan media selektif pektin agar dan diperoleh delapan isolat. Seluruh isolat menunjukkan morfologi koloni yang serupa, yaitu berbentuk bulat, bertepi rata, berwarna putih hingga putih susu, dengan elevasi datar hingga cembung. Karakterisasi mikroskopis menunjukkan bahwa seluruh isolat merupakan bakteri Gram-negatif berbentuk batang pendek; tujuh isolat bersifat motil dan satu isolat tidak motil. Uji biokimia menunjukkan hasil positif pada uji fermentasi karbohidrat, Uji Simmons sitrat, dan uji aktivitas katalase. Karakteristik fenotipik tersebut menunjukkan bahwa isolat mengarah pada kelompok Enterobacteriaceae yang umum dilaporkan sebagai endosimbion serangga. Isolat yang berasal dari inang arabika dan robusta menunjukkan profil fenotipik dan metabolik yang konsisten, yang mengindikasikan adanya struktur komunitas bakteri usus yang relatif konservatif pada H. hampei sebagai hasil tekanan seleksi dari lingkungan internal saluran pencernaan. Penelitian ini memberikan dasar awal secara fenotipik untuk memahami peran endosimbion dalam adaptasi penggerek buah kopi serta menegaskan pentingnya kajian lanjutan, khususnya terkait interaksi dengan senyawa pertahanan tanaman kopi dan serangga inangnya.
Kelimpahan Populasi Serangga di Habitat Kebun Raya Cibinong, Badan Riset dan Inovasi Nasional Wahjono, Tri Eko; Keim, Ary Prihardhyanto; Sukarta, Daden; Darmawan, Darmawan
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.60424

Abstract

Kebun Raya Cibinong merupakan sebuah kawasan yang berfungsi konservasi ex-situ mengingat sebagian koleksinya adalah jenis-jenis tumbuhan langka, termasuk jenis-jenis yang endemik Indonesia. Kegiatan eksplorasi ini menggunakan perangkap serangga yaitu “malaise trap” yang umum dilakukan dalam kegiatan eksplorasi serangga, perangkap berbentuk tenda yang terbuat dari bahan jaring halus dan terutama digunakan untuk mengumpulkan lalat (Diptera) dan tawon (Hymenoptera). Penelitian ini mencatat 30 spesies serangga yang terbagi dalam beberapa ordo seperti Diptera, Hymenoptera, Lepidoptera, Hemiptera, Coleoptera, Trichoptera, dan Psocoptera. Total jumlah individu yang teridentifikasi sebanyak 967 ekor. Hasil perhitungan RAI menunjukkan bahwa spesies Psychodidae sp. Memiliki RAI tertinggi dengan 70,73%, yang menjadikannya spesies dominan di lokasi penelitian ini. Sebagian besar spesies lain memiliki RAI di bawah 2,5%, menunjukkan bahwa mereka berkontribusi dalam jumlah kecil terhadap komunitas serangga secara keseluruhan. Nilai H’ sebesar 1,419 menunjukkan faktor keanekaragaman spesies yang sedang. Nilai ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat variasi spesies, distribusi individu antar spesies tidak merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelimpahan populasi serangga di Kebun Raya Cibinong serta memahami faktor-faktor yang mempengaruhi distribusinya. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa meski ekosistem serangga di Kebun Raya Cibinong dalam stabilitas yang baik, namun  rentan terhadap perubahan lingkungan, terutama jika jenis yang dominan mengalami penurunan populasi.
Potensi Konsorsium Rizobakteri untuk Pengendalian Penyakit Bercak Daun Bersudut (Pseudomonas syringae pv. lachrymans) serta Peningkatan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Sufia, Yolanda; Rahma, Haliatur; Resti, Zurai
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.67560

Abstract

Pseudomonas syringae pv. lachrymans (Psl) merupakan bakteri patogen penyebab penyakit bercak daun bersudut pada mentimun (Cucumis sativus L.) yang dapat menurunkan produksi secara signifikan. Salah satu alternatif pengendalian ramah lingkungan adalah melalui penggunaan konsorsium rizobakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsorsium rizobakteri terbaik dalam menekan perkembangan penyakit bercak daun bersudut serta meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan, terdiri atas enam perlakuan konsorsium rizobakteri dan  kontrol. Kontrol digunakan sebagai pembanding baik untuk parameter penyakit (tanpa konsorsium, diinokulasi patogen) maupun pertumbuhan tanaman (tanpa konsorsium dan tanpa inokulasi patogen), masing-masing dengan tiga ulangan dan tiga unit percobaan. Perlakuan terdiri atas konsorsium (RKKL 1.2 + RKKL 1.3), (RKKL 1.2 + RKPAL 1.2), (RKKL 1.2 + RPKKL 1.1), (RKKL 1.3 + RPKKL 1.1), (RKPAL 1.2 + RPKKL 1.1), serta (RKKL 1.2 + RKPAL 1.2 + RPKKL 1.1). Benih mentimun direndam dalam suspensi konsorsium rizobakteri berkepadatan 10⁸ sel/ml selama 15 menit sebelum tanam. Inokulasi patogen Psl dilakukan pada tanaman berumur 15 hari setelah tanam dengan kepadatan 10⁸ sel/ml. Parameter yang diamati meliputi perkembangan penyakit (masa inkubasi, kejadian, dan keparahan penyakit), pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, dan waktu muncul bunga pertama), serta hasil tanaman (bobot buah). Hasil penelitian menunjukkan seluruh konsorsium rizobakteri mampu menekan perkembangan penyakit dan meningkatkan pertumbuhan serta hasil mentimun. Konsorsium RKKL 1.2 + RKPAL 1.2 + RPKKL 1.1 merupakan perlakuan terbaik dengan keparahan penyakit 3,15% dengan tingkat hambat relatif penyakit 71,95%, tinggi tanaman 157,22 cm (peningkatan 15,69%), dan bobot buah 411,55 g (peningkatan 164,95%).
Efektivitas Gelombang Ultrasonik dalam Eliminasi Nematoda Daun Aphelenchoides pada Umbi Bawang Merah Kurniawati, Fitrianingrum; Supramana, Supramana; Hidayat, Sri Hendrastuti; Tondok, Efi Toding; Syafutra, Heriyanto; Damayanti, Tri Asmira; Mubin, Nadzirum
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.68192

Abstract

Nematoda daun Aphelenchoides merupakan salah satu patogen tanaman yang memiliki kisaran inang yang luas dan menyebabkan kehilangan hasil panen. Metode konvensional telah sering digunakan dalam pengendalian nematoda termasuk nematisida kimia, perawatan air panas, dan nematisida hayati tetapi memiliki keterbatasan. Hal ini memerlukan eksplorasi metode alternatif yang ramah lingkungan dan efektif, seperti teknologi gelombang ultrasonik. Penelitian bertujuan mengetahui efektivitas gelombang ultrasonik dalam eliminasi nematoda daun Aphelenchoides pada umbi bawang serta pengaruh pada pertumbuhan umbi bawang. Ekstraksi nematoda menggunakan metode pengabutan (mist chamber) dan perendaman air dingin. Nematoda diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi. Umbi bawang merah yang telah diinfestasikan Aphelenchoides diberi perlakuan ultrasonik dengan lama perlakuan selama 26, 30, 37, 44, 60 menit dan kontrol. Umbi bawang yang telah diberi perlakuan ultrasonik ditanam di pot dan diamati parameter pertumbuhannya sampai panen. Data ditabulasikan di Microsoft Excel dan diolah menggunakan SAS JMP. Perlakuan ultrasonik dengan durasi yang lebih dari 37 menit menghasilkan tingkat mortalitas yang tinggi (≥84,00%).  Waktu papar yang berbeda menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata dengan kontrol pada tinggi tanaman dan panjang akar. Lebih lanjut, perlakuan ultrasonik dengan durasi yang lebih lama (≥ 37 menit) sangat efektif dalam menekan populasi nematoda Aphelenchoides tanpa memengaruhi pertumbuhan tanaman bawang merah.