cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
Evaluasi Sensitivitas Colletotrichum sp. Penyebab Penyakit Antraknosa pada Cabai di Lampung terhadap beberapa Fungisida Maryono, Tri; Nurzi, Rosma; Ginting, Cipta; Dirmawati, Suskandini Ratih
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.64165

Abstract

Anthracnose is a major disease of chili peppers caused by complex of Colletotrichum species. Intensive application of fungicides is the main choice for control anthracnose. This study aimed to evaluate the sensitivity of Colletotrichum spp. to fungicides and determine the effective concentration to control Colletotrichum spp. This study was conducted from March to July 2024 at the Plant Disease Laboratory, Faculty of Agriculture, Lampung University. Anthracnose pathogens were isolated from Tegineneng District, Pesawaran Regency, Lampung Province. Sensitivity tests were conducted using the recommended concentration with poisoned food techniques. The effective concentration determination test was carried out only on fungicides that showed a resistance response using the poisoned food technique. The fungicides tested were those used by farmers in the location where the samples were taken. The sensitivity test results showed that the fungus Colletotrichum spp. from Tegineneng District was highly resistant to propineb. Colletotrichum spp. from locations 3 and 4 are still sensitive to carbendazim, but from locations 1 and 2 are resistant. Colletotrichum spp. from locations 2, 3, and 4 were still very sensitive to mankozeb, while those from location 1 were moderately resistant. The effective concentration of propineb for locations 1, 3, and 4 was 5x the recommended concentration, and for location 2 was 4x the recommended concentration. The effective concentration of carbendazim for location 1 was 5x the recommended concentration, and for location 2 was 2x the recommended concentration. The effective concentration of mancozeb fungicide at location 1 was 2x the recommended concentration.
Sustainable Palm Oil (Elaeis guineensis Jacq.) Agribusiness Development in Indonesia: An Integrated Model Suardi, Tennisya Febriyanti; Sulistyowati, Lies; Noor, Trisna Insan; Setiawan, Iwan; Nainggolan, Mai Fernando
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.65446

Abstract

The sustainability of palm oil agribusiness was a strategic issue that connected economic, social, and environmental aspects in its management. Plantation practices and the palm oil industry contributed significantly to national economic growth and farmer welfare, but in reality, this activity was often associated with deforestation, land degradation, and social conflict. The importance of integrating various aspects of sustainability with agribusiness as a system from farmer perceptions produced priority elements that needed to be prioritized. The purpose of this study was to analyze the determinants of sustainable palm oil agribusiness development. This study was designed using a quantitative method with a survey approach. The sampling technique used proportionate stratified random sampling with a total of 249 smallholder palm oil farmers as respondents. Data processing was carried out using the Partial Least Square (PLS) analysis tool approach. The results of the study showed that the evaluation of modeling findings highlighted a significant influence of farmer rationality on the performance of the agribusiness system and sustainable palm oil agribusiness, as well as a significant influence of the performance of the palm oil agribusiness system on sustainable palm oil agribusiness. Meanwhile, in reality, the test results showed that farmer characteristics did not have a significant influence on any variable. Furthermore, the level of sustainability of palm oil agribusiness was perceived by farmers as more important in order from the social, environmental, technological, and economic dimensions. There was a need for cooperation and support from various parties to achieve and improve the sustainability of palm oil agribusiness, both from the fulfillment of input, production, handling of results, marketing, and supporting services to ensure its sustainability.
Pertumbuhan Porang (Amorphophalus muelleri Blume) sebagai Tanaman Sela di Antara Pohon Karet Nurshanti, Dora Fatma; Lakitan, Benyamin; Ria, Rofiqoh Purnama; Muda, Strayker Ali; Fadhilah, Lya Nailatul; Diana, Susanti; Gustiar, Fitra
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.57918

Abstract

Tantangan utama dalam budidaya porang adalah meningkatkan kemampuan adaptasi tanaman terhadap naungan, sehingga porang dapat tumbuh dengan baik di bawah kanopi pohon perkebunan. Percobaan ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan siklus hidup pertama tanaman porang yang berasal dari ukuran bulbil yang berbeda pada tanaman sela di antara pohon karet. Percobaan ini dilaksanakan di kebun karet rakyat yang telah berumur 20 tahun, pada bulan Agustus 2021 - Januari 2022, di Desa Lubuk Batang Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Spilt-Split Plot dengan 3 faktor. Petak utama terdiri atas perlakuan naungan yaitu tanpa naungan (N0) dan ditanam di antara pohon karet (N1), dan anak petak  yang terdiri dari perlakuan berat bulbil yaitu bulbil  2 g - 3,9 g (B1), bulbil 4 g - 5,9 g (B2), dan bulbil 10 g -15,9 g (B3); anak-anak petak terdiri atas  morfologi bulbil yaitu tanpa turberkel (D0) dan tuberkel menonjol (D1). Hasil percobaan menunjukkan porang yang ditanam di antara tanaman karet lebih cepat muncul tunas dan mempercepat pecah selubung pertiole 33 HST dan 43,94 HST. Selain itu, tuberkel yang menonjol juga mempersingkat waktu kemunculan tunas selama 45,52 hari. Selanjutnya berat bulbil yang lebih tinggi yakni 10 g – 15,9 g  juga memengaruhi morfologi tanaman porang di antara panjang midrib 14,17 cm, lebar anak daun 5,61 cm,  serta luas daun 212,81 cm. Naungan menjaga kelembapan substrat namun sedikit memperlambat kemunculan tunas dan membuat tunas lebih pendek, namun memperpanjang tangkai daun, meningkatkan luas daun, serta mengurangi ketebalan daun. Selain itu, semakin besar bobot bulbil, semakin cepat pertumbuhan tunas dan tanaman porang. Kondisi bulbil dengan tuberkel menonjol mempercepat kemunculan tunas di atas permukaan tanah dibandingkan dengan bulbil yang masih dalam kondisi tanpa turberkel.
Daya Saing dan Potensi Pengembangan Ekspor Kakao Indonesia di Negara Importir Utama Dunia Aliyah, Nuris Shokhifatul; Suprehatin, Suprehatin; Muflikh, Yanti Nuraeni
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.67071

Abstract

Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomiannya melalui pengembangan ekspor produk kakao. Namun, ekspor kakao Indonesia masih terkonsentrasi pada beberapa negara tujuan utama, sementara peluang untuk memperluas pasar ke negara-negara importir terbesar dunia belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja daya saing dan potensi pengembangan pasar ekspor produk kakao Indonesia menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA), market share, Export Product Dynamic (EPD), dan X-Model Potential Export Products (X-Model). Penelitian ini menggunakan data sekunder periode 2014–2023 dan data primer dari tujuh informan kunci yang mewakili pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya saing dan pangsa pasar kakao Indonesia bervariasi antar negara tujuan, dengan produk antara berupa pasta, mentega, dan bubuk kakao memiliki kinerja lebih baik dibandingkan biji kakao dan cokelat olahan. Kanada, Amerika Serikat, Belgia, dan Belanda teridentifikasi sebagai negara potensial untuk pengembangan ekspor. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris melalui pemetaan daya saing dan potensi pasar ekspor kakao Indonesia di negara importir utama dunia, serta menjadi dasar perumusan kebijakan diversifikasi pasar dan penguatan hilirisasi kakao berbasis produk bernilai tambah.
Respon Pertumbuhan Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) dengan Penambahan Ekstrak Buah Sukun (Artocarpus altilis) pada Media Tumbuhnya Amalia, Lida; Ningrum, Icha Aisa; Hernawati, Dewi; Rusmawan, Chevi Ardiana
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.65428

Abstract

Sukun mengandung karbohidrat yang tinggi dan berpotensi sebagai bahan tambahan dalam media pertumbuhan jamur tiram putih untuk meningkatkan pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon pertumbuhan jamur tiram putih Pleurotus ostreatus pada berbagai konsentrasi ekstrak sukun dalam media dan mengidentifikasi konsentrasi yang paling efektif. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Limbangan, Garut, mulai bulan April sampai Mei 2024, menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan enam perlakuan (0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%) dan empat kali ulangan. Parameter yang diukur meliputi waktu munculnya pinhead, jumlah badan buah, dan berat segar jamur. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa ekstrak sukun berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan jamur, dengan konsentrasi optimal sebesar 40%. Temuan ini menunjukkan ekstrak sukun dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan budidaya jamur tiram.
Potensi Aktinobakteria Filosfer Indigenos sebagai Agens Biokontrol Bakteri Pantoea ananatis dan Biofertilizer Tanaman Bawang Merah Iskandar, Mhd. Fiqry; Yanti, Yulmira; Khairul, Ujang
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.64298

Abstract

Bakteri Pantoea ananatis merupakan salah satu patogen penting penyebab penyakit hawar daun bakteri pada tanaman bawang merah. Salah satu alternatif pengendalian bakteri P. ananatis yang ramah lingkungan yaitu memanfaatkan aktinobakteria filosfer indigenos. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat aktinobakteria filosfer indigenos bawang merah yang mampu menekan pertumbuhan bakteri P. ananatis secara in vitro dengan menghasilkan senyawa biokontrol, dan yang mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman, serta produksi bawang merah dengan menghasilkan senyawa biofertilizer. Penelitian dilakukan secara eksperimen terdiri atas 20 isolat aktinobakteria filosfer indigenos yang diulang 4 kali, disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap, Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Proteksi Tanaman dan kebun percobaan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang pada Januari-April 2025. Percobaan terdiri atas dua tahap yaitu: 1) pengujian kemampuan aktinobakteria filosfer indigenos dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produksi bawang merah, dan 2) pengujian kemampuan aktinobakteria filosfer indigenos terseleksi sebagai agens biokontrol dan biofertilizer. Variabel yang diamati yaitu hari muncul tunas, tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar, dan bobot kering umbi, serta produksi senyawa biokontrol dan biofertilizer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelas isolat aktinobakteria filosfer indigenos mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produksi bawang merah. Terdapat sebelas isolat aktinobakteria filosfer indigenos mampu menghambat pertumbuhan bakteri P. ananatis secara in vitro, delapan isolat menghasilkan enzim protease, sepuluh isolat menghasilkan enzim amilase, satu isolat menghasilkan hidrogen sianida, dan delapan isolat menghasilkan siderofor. Aktinobakteria filosfer indigenos sebagai biofertilizer, sebanyak 18 isolat mampu memfiksasi nitrogen dan menghasilkan IAA, dan lima isolat mampu melarutkan fosfat. Isolat yang berpotensi sebagai agens biokontrol dan biofertilizer adalah NLLP2H, NBSP3A, NLLA3F, NBSP2H, dan NBSP3F.
Analisis Dampak Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier Terhadap Produktivitas Padi: Pendekatan Generalized Propensity Score Matching Sandria, Danan Perri; Riyanto, Riyanto
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.67689

Abstract

Peningkatan efisiensi irigasi merupakan bagian penting dari strategi Indonesia untuk mencapai swasembada beras yang berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional. Namun, dampak nyata dari rehabilitasi jaringan irigasi tersier (JIT) belum banyak terkuantifikasi secara empiris. Penelitian ini mengevaluasi program tersebut pada tingkat provinsi dengan menggunakan data panel selama satu dekade (2013–2023) dan kerangka metodologi yang mengintegrasikan Fixed Effects Model (FEM) dengan Generalized Propensity Score Matching (GPSM) untuk mengatasi bias seleksi pada perlakuan kontinu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rehabilitasi JIT berpengaruh positif secara signifikan terhadap produktivitas padi. Meskipun demikian, efektivitas program rehabilitasi JIT bervariasi antarwilayah. Provinsi dengan dukungan input pelengkap yang lebih kuat, ketersediaan tenaga kerja yang memadai, tingkat mekanisasi yang lebih baik, pembangunan embung, serta akses terhadap kredit pertanian mengalami peningkatan produktivitas yang lebih besar, sedangkan wilayah dengan keterbatasan sumber daya menunjukkan dampak yang lebih terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa rehabilitasi JIT bukan merupakan instrumen kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan upaya yang memberikan hasil tertinggi ketika diintegrasikan dengan program pembangunan pertanian yang lain. Penelitian ini memberikan bukti empiris untuk memandu prioritas investasi rehabilitasi, menyesuaikannya dengan kesiapan regional, serta merancang intervensi adaptif dan kontekstual yang dapat mempercepat kemajuan Indonesia menuju sistem produksi padi yang tangguh serta mendukung visi nasional sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045.
Respon Ketahanan Sebelas Varietas Pepaya terhadap Isolat Papaya ringspot virus Asal Rejang Lebong, Bengkulu Aulia, Ewa; Sutrawati, Mimi; Simarmata, Marulak
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.68714

Abstract

Gejala mosaik kuning ditemukan pada berbagai jenis tanaman pepaya di Rejang Lebong, Bengkulu namun, gejala terbanyak ditemukan pada pepaya varietas Calina. Gejala mosaik kuning pada tanaman pepaya dapat disebabkan oleh infeksi Papaya ringspot virus (PRSV). Untuk mengurangi  penyebaran penyakit di lapangan perlu dilakukan upaya pengendalian berupa penggunaan varietas tahan. Untuk mendapatkan  varietas tahan, perlu dilakukan pengujian respon ketahanan tanaman. Dalam penelitian ini, respon ketahanan 11 varietas pepaya yang telah tersedia di pasaran diuji terhadap isolat PRSV asal Rejang Lebong dengan tujuan untuk mendapatkan tanaman pepaya yang tahan terhadap infeksi PRSV asal Rejang Lebong. Dengan demikan,  dapat direkomendasikan kepada petani sebagai upaya pengendalian penyakit di lapangan. Varietas pepaya yang diuji adalah varietas Calina, Bangkok, Merah Delima, Sunrise, Orange Lady, Red Lady, Taiwan, Arum, Miba, Golden, dan Lokal yang diulang 5 kali dengan 3 tanaman per ulangan dan 3 tanaman tanpa inokulasi PRSV sebagai kontrol negatif. Inokulasi dilakukan secara mekanis menggunakan cairan perasan tanaman yang terkonfirmasi positif PRSV berdasarkan hasil deteksi virus secara serologi dengan metode Dot Immunobinding Assay (DIBA). Berdasarkan hasil matriks penilaian untuk masa inkubasi, insidensi penyakit, dan keparahan penyakit pada 11 varietas pepaya, ketahanan tanaman pepaya dibagi menjadi 3 kategori: tahan, moderat, dan rentan. Tanaman tahan terdiri dari pepaya varietas Orange Lady, Red Lady, Taiwan, dan Miba. Tanaman moderat terdiri dari pepaya varietas Sunrise, Arum, Golden, dan Lokal. Tanaman rentan terdiri dari pepaya varietas Calina, Bangkok, dan Merah Delima. Oleh karena itu, penggunaan varietas tahan menjadi solusi untuk pengendalian PRSV pada tanaman papaya di Kabupaten Rejang Lebong.
Respons Fisiologis Tanaman Secang (Caesalpinia sappan L.) terhadap Variasi Jarak Tanam dan Aplikasi Metil Jasmonat serta Asam Salisilat Rachman, Annisa Lugina; Rosniawaty, Santi; Mubarok, Syariful; Ariyanti, Mira
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.67820

Abstract

Secang adalah tanaman berguna dalam bidang farmakologis, namun budidayanya belum banyak dilakukan. Teknik budidaya yang dapat dilakukan yaitu dengan pengaturan jarak tanam dan aplikasi fitohormon berupa asam salisilat (SA) dan metil jasmonat (MeJA). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui interaksi antara jarak tanam dengan fitohormon SA dan MeJA terhadap respons fisiologis tanaman secang. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Pangan dan Perkebunan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran pada bulan Juli hingga Desember 2024. Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi, dengan jarak tanam (J) sebagai petak utama dan aplikasi hormon eksogen (H) sebagai anak petak. Penelitian ini dilakukan dengan 3 ulangan. Petak terdiri dari tiga taraf, yaitu jarak tanam: j1 = 1 m x 1 m, j2 = 2 m x 2 m, dan j3 = 3 m x 3 m. Adapun anak petak, yaitu aplikasi hormon eksogen (H) yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: h0 = tanpa aplikasi hormon eksogen, h1 = SA 200 ppm, dan h2 = MeJA 100 ppm. Pengamatan fisiologis yang dilakukan meliputi indeks klorofil daun, nilai konduktansi stomata, dan kerapatan stomata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks klorofil daun dipengaruhi secara mandiri oleh h1, dengan interaksi terbaik pada j2 × h2. Konduktansi stomata tertinggi diperoleh pada jarak tanam lebar (j3), baik secara mandiri maupun dalam interaksi dengan AS. Sementara itu, kerapatan stomata dipengaruhi secara mandiri oleh jarak tanam sempit (j1) serta MeJA yang tidak berbeda nyata dengan kontrol, dan interaksi terbaik ditunjukkan oleh j1 × h2. Secara keseluruhan, pengaturan jarak tanam dan aplikasi fitohormon SA serta MeJA berpotensi dioptimalkan sebagai strategi budidaya untuk meningkatkan respons fisiologis tanaman secang secara lebih efektif.
Potensi Carbon dots Kulit Nanas dan Belimbing Wuluh untuk Mengendalikan Infeksi Tobacco mosaic virus dan Kutu Daun Huriyah, Zahrotul; Damayanti, Tri Asmira; Santoso, Sugeng; Maddu, Akhiruddin
Agrikultura Vol 37, No 1 (2026): April, 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v37i1.69467

Abstract

Tobacco mosaic virus (TMV) dan kutu daun merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang penting dalam bidang pertanian. TMV mudah ditularkan secara mekanis, virusnya sangat stabil, tular benih dan memiliki kisaran inang luas. Sementara itu, kutu daun merupakan hama kosmopolit dan sebagian besar berperan sebagai vektor virus. Saat ini tren pengelolaan OPT mengarah pada metode ramah lingkungan. Pemanfaatan Carbon dots (CDs), dalam pengelolaan OPT sebagai salah satu agens yang menjanjikan untuk pengelolaan OPT yang berkelanjutan, namun kajiannya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menyintesis CDs dari kulit nanas dan belimbing wuluh serta menguji potensinya dalam mengendalikan TMV dan kutu daun. CDs dikarakterisasi berdasarkan sifat optik, gugus fungsi, dan morfologi. Aktivitas antivirus diuji terhadap infeksi mekanis TMV pada tanaman indikator Chenopodium amaranticolor dengan penyemprotan daun sebelum dan sesudah inokulasi virus. Aktivitas insektisida CDs diuji terhadap Aphis gossypii melalui penyemprotan langsung pada kutu daun pada konsentrasi 100–400 ppm. Kedua jenis CDs berhasil disintesis dengan ukuran 5.5-9.8 nm dengan bentuk amorf dan kristal, serta memiliki karakter optik dan gugus fungsi yang khas sebagai CDs. Perlakuan CDs secara nyata memperpanjang periode inkubasi TMV dibandingkan kontrol. Aplikasi penyemprotan sebelum inokulasi virus lebih efektif dibandingkan setelah inokulasi, dengan tingkat penghambatan gejala lesio lokal nekrotik berkisar 31%–91% bergantung pada konsentrasi. Pada konsentrasi 400 ppm, CDs berpotensi sebagai bioinsektisida menyebabkan mortalitas kutu daun hingga 55%. Hal ini mengindikasikan bahwa CDs dari kedua bahan alami berpotensi sebagai penginduksi ketahanan tanaman, memiliki aktivitas antivirus, dan aktivitas insektisida.