cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 409 Documents
Evaluasi Mutu Fisikokimia dan Viskoamilografi Lima Varietas Padi dengan Pupuk Organik Diperkaya Mikroba Adwiyani, Pustika; Sugiyanta, Sugiyanta; Melati, Maya; Sunarti, Titi Candra; Herwitarahman, Alifiya; Wahyudin, Cecep Ijang
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.66292

Abstract

Meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan dan keamanan pangan telah mendorong peningkatan permintaan beras organik. Salah satu pendekatan untuk menghasilkan beras organik yaitu manajemen budidaya salah satunya penggunaan pupuk organik diperkaya mikroba. Sebagian besar evaluasi hanya sampai tahap hasil pertumbuhan namun evaluasi terkait mutu beras, karakter pemasakan, dan profil viskoamilografi dari penggunaan pupuk organik diperkaya mikroba masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu fisikokimia, sifat pemasakan, dan profil viskoamilografi pada lima varietas padi, yaitu IPB 3S, Inpari 24, Hipa 18, Inpari 32, dan Tarabas yang dibudidayakan dengan aplikasi pupuk organik diperkaya mikroba pada dosis 0, 10, 20, dan 30 ton/ha. Variabel yang diamati meliputi rendemen beras, mutu fisik beras, kadar air beras, kadar amilosa, konsistensi gel, nisbah penyerapan air, dan profil viskositas pati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik diperkaya mikroba tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap rendemen, bentuk beras, densitas, dan porositas. Variasi karakteristik mutu lebih banyak ditentukan oleh faktor genetik masing-masing varietas. Temuan ini menegaskan bahwa karakter varietas berperan dominan dalam menentukan mutu beras, terlepas dari perlakuan pemupukan organik yang diberikan. Secara keseluruhan, kelima varietas yang diuji belum sepenuhnya memenuhi standar SNI 6128:2020 untuk parameter mutu beras yang diamati setelah perlakuan pupuk organik diperkaya mikroba.
Karakteristik Fisika Tanah Ultisol di Lahan Karet: Studi Perbandingan Pengaruh Tanaman Penutup Terhadap Sifat-Sifat Tanah di Kecamatan Bengkayang, Kalimantan Barat Ririn, Ririn; Nusantara, Rossie Wiedya; Harzriani, Rini
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.62473

Abstract

Karakteristik fisika tanah secara tidak langsung memengaruhi ketersediaan unsur hara, dan kualitas fisik tanah yang optimal untuk pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh sistem pengelolaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisika tanah Ultisol pada lahan karet dengan tanaman penutup tanah (Axonopus compressus dan Nephrolepis biserrate) dan tanpa tanaman penutup tanah. Penelitian ini dilakukan di Desa Sabalo, Kecamatan Bengkayang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat dan di Laboratorium Fisika dan Konservasi Tanah serta Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat dari bulan Juni sampai Agustus 2024. Sampel tanah dari setiap lokasi penelitian diambil pada lima titik pengamatan dengan kedalaman 0-30 cm. Sifat fisik tanah yang dianalisis termasuk kerapatan isi, porositas total, kapasitas udara lapangan, permeabilitas, tekstur tanah, dan stabilitas agregat, sementara sifat kimia yaitu C-organik, pH tanah, serta N-total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan permeabilitas tanah dan stabilitas agregat pada lahan karet dengan tanaman penutup tanah daripada tanpa tanaman penutup tanah. Permeabilitas tanah lahan karet dengan tanaman penutup tanah A. compressus dan N. biserrate masing-masing adalah 1,14 cm/jam dan 1,15 cm/jam. Stabilitas agregat lahan karet dengan tanaman penutup tanah A. compressus dan N. biserrate masing-masing adalah 92,55% (sangat stabil) dan 98,27% (sangat stabil). Sebaliknya, lahan karet tanpa tanaman penutup tanah memiliki permeabilitas tanah 1,01 cm/jam dan stabilitas agregat 78,91% (stabil). Penelitian ini menekankan pengaruh tanaman penutup tanah pada sifat fisik tanah, khususnya pada permeabilitas tanah dan stabilitas agregat tanah.
Parasitoid Larva yang Berasosiasi dengan Ulat Penggulung Daun Pisang Erionota thrax Linnaeus (Lepidoptera: Hesperiidae) di Lombok Timur Mursyidin, Abdul Halim; Jihadi, Amrul; S, Muhammad Qudsiah; Pandya, Lalu Wahyu Ardis; Islami, Mustika
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.66903

Abstract

Hama penggulung daun pisang Erionota thrax Linnaeus merupakan salah satu hama utama tanaman pisang. Salah satu upaya pengendalian yang berkelanjutan adalah melalui pemanfaatan parasitoid sebagai musuh alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi parasitoid yang berasosiasi dengan larva E. thrax, menghitung nilai indeks keanekaragaman, kemerataan, dominansi, dan kekayaan jenis, serta menentukan kelimpahan relatif dan tingkat parasitisasinya pada agroekosistem pisang di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Penelitian menggunakan metode survei lapangan dan pengamatan laboratorium. Sebanyak 135 sampel larva berhasil dikoleksi dari 10 titik pengamatan menggunakan metode transek pada Mei-Agustus 2025. Hasil penelitian menemukan delapan spesies parasitoid, yaitu Cotesia erionotae, Meteorus sp., Brachymeria thracis, Brachymeria lasus, Pediobius sp. nr. elasmi, Tetrastichus sp., Tachinidae sp.1, dan Tachinidae sp.2. Kelimpahan relatif tertinggi diperoleh pada Tetrastichus sp. (25,45%) dan terendah pada Pediobius sp. nr. elasmi (1,06%). Indeks keanekaragaman (1,80) dan kemerataan (0,86) tergolong sedang, sedangkan dominansi (0,18) dan kekayaan jenis (1,23) tergolong rendah. Tingkat parasitisasi total mencapai 42,96% dengan tertinggi pada Tachinidae sp.1 (22,96%) dan terendah pada Pediobius sp. nr. elasmi (0,74%). Temuan Pediobius sp. nr. elasmi, Tetrastichus sp., dan Meteorus sp. merupakan catatan baru (new record) parasitoid E. thrax di Indonesia, sehingga dapat memperkaya data keanekaragaman musuh alami serta menjadi dasar strategi pengendalian hayati hama penggulung daun pisang di Lombok Timur.
Sinergi Biochar Arang Sekam dan Kompos Kotoran Ayam dalam Remediasi Lahan Bekas Tambang Emas Citra, Yuliya; Setiawan, Beny; Hermanto, Sarwendah Ratnawati
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.63991

Abstract

Degradasi lahan wilayah pertambangan dapat menjadi permasalahan besar jika tidak dikelola dengan baik dan bisa menyebabkan perubahan kondisi alam, fisik, kimia, dan biologi tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh, dosis kombinasi terbaik serta interaksi pemberian biochar sekam padi dan kompos kotoran ayam terhadap sifat kimia tanah bekas tambang emas dalam percobaan inkubasi. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah biochar sekam padi (B), yang terdiri dari 3 taraf (B0: 0, B1: 300, B2: 400 g/polybag) dan faktor kedua adalah kompos kotoran ayam (K), yang terdiri dari 3 taraf (K0: 0, K1: 300, K2: 400 g/polybag). Apabila data yang didapat berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan biochar sekam padi berpengaruh nyata terhadap parameter pH tanah, N, P, K, C-organik dan Pb. Dosis terbaik perlakuan biochar sekam padi yakni 400 g/polybag. Perlakuan kompos kotoran ayam berpengaruh nyata dalam menaikkan nilai pH tanah, N, P, dan K serta berpengaruh tidak nyata terhadap parameter C-organik. Dosis terbaik perlakuan kompos kotoran ayam yakni 400 g/polybag. Terjadi interaksi yang berpengaruh nyata perlakuan biochar sekam padi dan dosis kompos kotoran ayam terhadap parameter pH tanah, N, P, K, dan Pb. Tidak terjadi interaksi perlakuan biochar sekam padi dan kompos kotoran ayam terhadap parameter C-organik. Dosis terbaik yakni 400 g/polybag biochar sekam padi + 400 g/polybag kompos kotoran ayam atau setara dengan 900 ton/ha.
Pemenuhan Kebutuhan Hara Nitrogen pada Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Melalui Pemberian Berbagai Jenis Pupuk Organik dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) Taufikurrahman, Taufikurrahman; Tyasmoro, Setyono Yudo; Karyawati, Anna Satyana
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.64303

Abstract

Padi merupakan komoditas yang sangat penting, beras yang dihasilkan dari padi merupakan makanan pokok bagi penduduk Indonesia. Namun produksi beras nasional semakin turun, disebabkan penggunaan pupuk anorganik berlebihan yang menyebabkan penurunan kualitas tanah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pemenuhan kebutuhan hara padi melalui pemberian berbagai pupuk organik dan (PGPR) Plant Growth Promoting Rhizobacteria sebagai alternatif. Penelitian dilakukan dari Juni - Oktober 2024 di Kebun Percobaan Jatimulyo, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) yang terdiri dari anak petak (Urea + NPK dosis petani), (Urea + NPK rekomendasi), limbah jamur, Azolla microphylla, Sesbania sesban dan Azolla microphylla + Sesbania sesban dan petak utama tanpa PGPR dan 15 ml/l PGPR. Data dianalisis menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) taraf 5%. Uji lanjut menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pupuk organik A. microphylla memberikan hasil terbaik pada parameter tinggi tanaman umur 74 hst, jumlah daun dan jumlah anakan umur 42 hst dan produktivitas dengan hasil 6,76 ton/ha. Kombinasi pupuk organik A. microphylla + PGPR mampu meningkatkan serapan hara N, P dan K tanaman padi setara dengan pupuk kimia (Urea 500 kg/ha+ NPK 500 kg/ha) dan mampu menyediakan unsur hara N 72,59 kg, P 101 kgdan K 7,71 kg per hektar tanaman padi. Hal ini menunjukkan bahwa pupuk A. microphylla berpotensi digunakan sebagai pupuk sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Inovasi Mesin Pengupas Kulit Ari Kelapa untuk Meningkatkan Kualitas dan Produktivitas Pengolahan Kelapa Massaguni, Massriyady; Sulfiana, Enni; Dahlan, Masbin
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.63401

Abstract

Pengupasan kulit ari kelapa secara manual yang lambat (38,2 detik/buah) dan kualitas pengupasan tidak konsisten mendorong perlunya pengembangan mesin pengupas kulit ari kelapa  dengan desain pisau optimal. Penelitian ini merancang bangun mesin pengupas menggunakan pisau stainless steel (ketebalan 1, 1,5, dan 2 mm) berkecepatan 3406 RPM dengan sudut potong 55°, kemudian menguji performanya terhadap 100 sampel kelapa. Hasil menunjukkan pisau 1,5 mm memberikan keseimbangan terbaik antara kecepatan (16,6 detik/buah) dan kualitas (100% TKA/tanpa sisa kulit ari), mengungguli pisau 2 mm yang lebih cepat (14,8 detik) namun berisiko meninggalkan residu (MKA), serta jauh lebih efisien dibanding metode manual (38,2 detik/buah). Dengan kapasitas 225 buah/jam (15 kali lebih cepat dari manual), temuan ini tidak hanya menyelesaikan masalah produktivitas industri pengolahan kelapa tetapi juga menjamin kualitas produk akhir, sekaligus berpotensi diaplikasikan untuk komoditas lain yang memerlukan presisi pengupasan. Penelitian ini memberikan terobosan teknis signifikan dalam mekanisasi proses pengolahan kelapa yang berkelanjutan.
Pengaruh Padat Tebar Terhadap Performa Ikan Koi (Cyprinus rubrofuscus) dan Produktivitas Tanaman Kangkung (Ipomoea reptans) pada Sistem Akuaponik dengan Aplikasi Fine Bubbles (FBs) Andriani, Yuli; Zidni, Irfan; Subhan, Ujang; Iskandar, Iskandar; Darmawan, Reza; Nugraha, Zidan Fachriza Adya
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.67880

Abstract

Peningkatan produksi ikan koi menuntut sistem produksi yang efisien, ramah lingkungan, serta mampu menjaga kualitas air. Sistem akuaponik yang dikombinasikan teknologi Fine Bubbles (FBs) berpotensi meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut dan menekan akumulasi limbah nitrogen, serta dapat meningkatkan produktivitas tanaman, khususnya pada kondisi padat tebar tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kepadatan optimum ikan yang dapat meningkatkan performa pertumbuhan dan produktivitas tanaman kangkung pada sistem akuaponik menggunakan teknologi FBs. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2024 di greenhouse Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan padat tebar, yaitu 25, 50, 75, dan 100 ekor/200 L air dengan tiga ulangan selama 42 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar 75 ekor/200 L air menghasilkan performa terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 90,67±5,81%, laju pertumbuhan spesifik 1,54% g/hari, efisiensi pemanfaatan pakan 49,68%, rasio efisiensi protein 1,12±0,13%, serta kondisi hematologi yang relatif optimal. Produktivitas tanaman kangkung tertinggi ditunjukkan oleh tinggi tanaman mencapai 38,7±1,7 cm dan bobot tanaman 11,5±1,0 g. Kualitas air selama penelitian berada pada kisaran yang masih mendukung pertumbuhan ikan dan tanaman. Dengan demikian, perbedaan padat tebar ikan koi pada sistem akuaponik dengan aplikasi FBs berpengaruh nyata terhadap performa pertumbuhan ikan koi, kesehatan ikan koi, dan produktivitas kangkung, dengan padat tebar optimum pada 75 ekor/200 L air.
Karakterisasi Molekuler dan Keragaman Genetik Populasi Padi Generasi F4 Hasil Piramidisasi pada Beberapa Karakter Agronomi Prayitno, Prayitno; Ibrahim, Muhammad Yasser; Anas, Anas; Sari, Santika; Carsono, Nono
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.60592

Abstract

Piramidisasi gen adalah salah satu teknik pemuliaan yang dapat digunakan untuk menggabungkan beberapa gen yang menguntungkan dari banyak tetua ke dalam satu genotipe tanaman. Daya hasil tinggi, tahan terhadap wereng coklat, kandungan amilosa sedang, umur genjah dan aromatik adalah beberapa karakter yang diharapkan untuk digabungkan untuk memenuhi keinginan petani dan konsumen. Penelitian bertujuan memperoleh genotipe yang memiliki marka molekuler yang terkait dengan karakter agronomis, mendapatkan informasi keragaman genetik dan mengetahui hubungan kekerabatan 115 genotipe padi generasi F4 hasil piramidisasi. Penelitian dilaksanakan pada bulan September – November 2021 di Kebun Percobaan Ciparanje dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Analisis molekuler dilakukan dengan menggunakan marka Simple Sequence Repeats (SSR) yaitu IFAP/ESP terpaut gen (fgr/fragrance), SSIIa (waxy), RM586 (Bph3 dan bph4), RM8213 (Qbph4 dan bph17(t)), RM259 (qPN1), RM7601 (Hd2/heading date), RM19414 (Hd3/heading), RM3701 (SP1/short panicle), RM3600 (LP1/long panicle), dan RM282 (GW3/grain weight). Data dianalisis dengan menggunakan analisis varians molekuler (AMOVA), sedangkan untuk analisis klaster dilakukan menggunakan Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Averages (UPGMA). Diperoleh sebanyak enam puluh genotipe yang teridentifikasi memiliki marka molekuler terkait beberapa karakter agronomis. Keragaman genetik secara molekuler genotipe hasil piramidisasi didapatkan variasi genetik sebesar 36% di dalam genotipe, 63% antar genotipe dan 1% antar populasi. Berdasarkan analisis cluster dengan 10 marka molekuler menunjukkan 64%  ketidakmiripan antar tetua dan genotipe hasil piramidisasi dan mengelompok dalam dua kelompok. Jauhnya jarak genetik menunjukkan bukti keberhasilan piramidisasi gen, yang ditunjukkan dengan besarnya variasi alel yang berasal dari tetua yang beragam. Genotipe-genotipe yang terpilih akan dievaluasi lebih lanjut karakter agronominya  untuk mengkonfirmasi potensi galur-galur tersebut sebagai galur unggul pada beberapa karakter.
Volatile Compound Detection of Banana Anthracnose Caused by Colletotrichum musae using Electronic Nose Maksum, Muhammad; Putra, Yogi Kurnia; Chairuddin, Chairuddin; Gunawan, Hendra
Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.63320

Abstract

Food rotting is one of the many research topics that electronic nose technology can be used to target. This study examined the electronic nose capacity to detect the presence of Colletotrichum musae, the causative agent of anthracnose fruit rots on bananas using gas sensors by detecting the concentration of volatile compound. C. musae was identified visually and microscopically. Detached-fruit assay method was used in this experiment. A conidial fungal suspension at a concentration of 2.5 × 106 conidia/ml was injected into nine replication of homogenous banana samples, while nine other samples were injected with sterile aquadest served as negative controls. The information obtained from the electronic nose was analyzed using principal component analysis (PCA). The results showed that from six gas sensors used in the electronic nose, MQ-4, MQ-5, and MQ-8 were the gas sensors that have detected significant difference between the infected banana and the control with a concentration value of 166.83, 173.02, and 87.40 ppm in banana infected with C. musae and 20.90, 0.01, and 44.97 ppm in controls. Therefore, this three sensor can be used as a reference for detecting anthracnose disease in bananas.