cover
Contact Name
Andy Sapta
Contact Email
saptaandy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
lppm_stmik@royal.ac.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH
Published by Smart Education
ISSN : 26154307     EISSN : 26153262     DOI : -
Journal of Science and Social Research is accepts research works from academicians in their respective expertise of studies. Journal of Science and Social Research is platform to disclose the research abilities and promote quality and excellence of young researchers and experienced thoughts towards Change for Development. The journal releases on February and July.
Arjuna Subject : -
Articles 3,645 Documents
PENGGUNAAN MYSQL DALAM PERANCANGAN DATABASE REKAM MEDIS ELEKTRONIK: STUDI LITERATUR Anastasia Cyntia Dewi Kurniawati; Angel Septiana Uli
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4648

Abstract

Abstract: The amendment to the Minister of Health Regulation on medical records requires all healthcare facilities in Indonesia to implement Electronic Medical Records (EMR) no later than December 31, 2023. Many clinics, as part of these facilities, still rely on a file-based approach, resulting in scattered data that are difficult to retrieve, prone to duplication, and often inaccurate. This study aims to analyze the use of MySQL in designing a web-based EMR database. The method employed is a Systematic Literature Review (SLR), selecting articles based on inclusion and exclusion criteria, yielding 20 relevant journals. MySQL was chosen because it is an open-source database management system (DBMS) licensed under GPL, supports multi-user access, offers fast query performance, and provides adequate security features. Its advantages include easy distribution, compliance with standard SQL, and reliable performance for managing medical data. However, limitations such as inefficient decentralized configuration and longer execution times with large-scale data must be considered. The database design process follows five stages: Requirement, Design, Implementation, Verification, and Maintenance. The findings indicate that MySQL is suitable for EMR database design due to its functional strengths and flexibility, although large-scale optimization remains a challenge. Keywords: Electronic Medical Records, MySQL, Database Abstrak: Perubahan Peraturan Menteri Kesehatan tentang rekam medis mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Indonesia menyelenggarakan Rekam Medis Elektronik (RME) paling lambat 31 Desember 2023. Klinik sebagai salah satu fasyankes masih banyak yang mengandalkan pendekatan file-based, sehingga data tersebar, sulit dicari, rawan duplikasi, dan sering tidak akurat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan MySQL dalam perancangan database RME berbasis web. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan menyeleksi artikel sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, dan diperoleh 20 jurnal relevan. MySQL dipilih karena merupakan sistem manajemen database (DBMS) open source berlisensi GPL, mendukung multiuser, memiliki kecepatan query yang baik, serta fitur keamanan yang memadai. Kelebihan MySQL meliputi kemudahan distribusi, dukungan standar SQL, dan performa yang andal untuk pengelolaan data medis. Namun, kelemahan seperti konfigurasi desentralisasi yang kurang efisien dan peningkatan waktu eksekusi pada data berskala besar perlu diperhatikan. Proses perancangan database mengikuti lima tahap: Requirement, Design, Implementation, Verification, dan Maintenance. Hasil kajian menunjukkan MySQL layak digunakan untuk perancangan database RME karena keunggulan fungsional dan fleksibilitasnya, meskipun optimalisasi skala besar tetap menjadi tantangan. Kata kunci: Rekam Medis Elektronik, MySQL, Database 
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PERUNDUNGAN ANAK DI SATUAN PENDIDIKAN DI KOTA MEDAN (STUDI KASUS DI MAN 1 KOTA MEDAN, SMAN 11 KOTA MEDAN, DAN SMAS UTAMA KOTA MEDAN) Habibullah Harahap; Edy Ikhsan; Marlina Marlina
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4655

Abstract

Abstract: Bullying in educational settings is a serious problem that has psychological, social, and academic impacts on children. Although various regulations governing child protection exist, their implementation in Medan City has not been fully effective. This study aims to analyze the applicable legal policies related to child bullying in schools, assess the implementation of legal protection for child victims, and identify obstacles and efforts taken by schools and related parties. The study used a juridical-normative method supported by empirical data, and data analysis was conducted qualitatively. The results show that legal policies regarding child bullying are basically regulated in Law Number 35 of 2014 concerning Child Protection, Regulation of the Minister of Education, Culture, Research, and Technology Number 46 of 2023, and several supporting regulations, but there are no specific rules that are consistently applied in madrasas. The implementation of legal protection at MAN 1 Medan City, SMAN 11 Medan City, and SMAS Utama Medan City is still not optimal, partly because the Violence Prevention and Handling Team (TPPK) has not been formed as required by the regulation. The main obstacles faced include low legal awareness among school residents, a weak reporting culture, and the predominance of family-based approaches to case resolution. Efforts, such as counseling, mediation, and outreach, remain fragmented and not systematically integrated. This study recommends strengthening sectoral regulations, establishing a protective implementation structure in schools, and developing a legal culture that favors children. These steps are expected to create a safe, inclusive, and violence-free educational environment. Keyword: Legal Protection, Child Bullying, Educational Units, Medan City Abstrak: Perundungan (bullying) di lingkungan satuan pendidikan merupakan persoalan serius yang menimbulkan dampak psikologis, sosial, dan akademik bagi anak. Meskipun telah terdapat berbagai regulasi yang mengatur perlindungan anak, pelaksanaannya di Kota Medan belum sepenuhnya efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan hukum yang berlaku terkait perundungan anak di sekolah, menilai pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak korban, serta mengidentifikasi hambatan dan upaya yang ditempuh oleh sekolah dan pihak terkait. Penelitian menggunakan metode yuridis-normatif dengan dukungan data empiris, dan analisis data dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan hukum mengenai perundungan anak pada dasarnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023, serta beberapa regulasi pendukung, namun belum terdapat aturan khusus yang diterapkan secara konsisten di madrasah. Pelaksanaan perlindungan hukum di MAN 1 Kota Medan, SMAN 11 Kota Medan, dan SMAS Utama Kota Medan masih belum maksimal, antara lain karena belum terbentuknya Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) sebagaimana diwajibkan regulasi. Hambatan utama yang dihadapi mencakup rendahnya kesadaran hukum warga sekolah, lemahnya budaya pelaporan, serta dominannya penyelesaian kasus melalui pendekatan kekeluargaan. Adapun upaya yang dilakukan, seperti konseling, mediasi, dan sosialisasi, masih bersifat parsial dan belum terintegrasi secara sistematis. Penelitian ini merekomendasikan penguatan regulasi sektoral, pembentukan struktur pelaksana perlindungan di sekolah, serta pembangunan budaya hukum yang berpihak pada anak. Dengan langkah tersebut, diharapkan tercipta lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Perundungan Anak, Satuan Pendidikan, Kota Medan
SENGKETA MEREK KANDUI DALAM PERSPEKTIF PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT Hanafi Zuhri; Saidin Saidin; Jelly Leviza
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4656

Abstract

Abstract: The problem in this study stems from the existence of unfair business competition arising from trademark registration applications in bad faith. The element of good faith has an important role in the trademark legal system in Indonesia to prevent disputes in the future. This study specifically analyzes the trademark dispute in the Medan District Court Decision Number 4 / Pdt.Sus-HKI / Merek / 2019 / PN Niaga Medan, which involves the registration of the KANDUI and KANDUI VILLAS trademarks by the defendant, even though the trademark has been previously used by the plaintiff, even the defendant himself is a manager at the plaintiff's lodging business. This study uses a normative juridical method with a statutory approach and a case approach. The issues studied include: (1) legal protection of trademarks according to the principle of good faith to prevent unfair business competition; (2) indications of unfair business competition practices in the KANDUI trademark dispute; and (3) the suitability of the judge's considerations in the decision with Law Number 20 of 2016 concerning Trademarks and Geographical Indications. The results of the study indicate that the judge in the decision only emphasized the first to file principle as regulated in Article 3 of Law Number 20 of 2016, but was inconsistent with his considerations which had acknowledged the relevance of the first to use principle. In addition, the judge did not thoroughly examine the defendant's bad faith as stated in the plaintiff's petitum. Thus, although the judge's decision was formally in accordance with regulations, there were still weaknesses in upholding the principle of good faith which is an important instrument to prevent unfair business competition in the trademark legal regime.Keyword: Business competition, Brand, Bad faith Abstrak: Permasalahan dalam penelitian ini berangkat dari adanya persaingan usaha tidak sehat yang timbul akibat permohonan pendaftaran merek dengan iktikad tidak baik. Unsur iktikad baik memiliki peran penting dalam sistem hukum merek di Indonesia agar tidak menimbulkan sengketa di kemudian hari. Penelitian ini secara khusus menganalisis sengketa merek pada Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 4/Pdt.Sus-HKI/Merek/2019/PN Niaga Medan, yang melibatkan pendaftaran merekKANDUIdanKANDUI VILLASoleh tergugat, padahal merek tersebut telah lebih dahulu digunakan oleh penggugat, bahkan tergugat sendiri merupakan pengurus pada usaha penginapan milik penggugat. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Permasalahan yang dikaji meliputi: (1) perlindungan hukum terhadap merek menurut prinsip iktikad baik untuk mencegah persaingan usaha tidak sehat; (2) indikasi praktik persaingan usaha tidak sehat dalam sengketa merekKANDUI; serta (3) kesesuaian pertimbangan hakim dalam putusan tersebut dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim dalam putusan tersebut hanya menekankan asasfirst to filesebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016, namun tidak konsisten dengan pertimbangannya yang sempat mengakui relevansi asasfirst to use. Selain itu, hakim tidak secara mendalam mengkaji iktikad tidak baik tergugat sebagaimana petitum penggugat. Dengan demikian, meskipun putusan hakim secara formil sesuai dengan regulasi, namun masih terdapat kelemahan dalam menegakkan prinsip iktikad baik yang menjadi instrumen penting untuk mencegah persaingan usaha tidak sehat dalam rezim hukum merekKata Kunci : Persaingan usaha, Merek, Iktikad tidak baik
PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA NAKHODA KAPAL YANG BERLAYAR TANPA MEMILIKI SURAT IZIN BERLAYAR YANG MENGAKIBATKAN KEMATIAN (STUDI PUTUSANNOMOR 228/PID.SUS/2022/PN.TTE) Windi Syahfitri Br. Sembiring; Edi Yunara; Mirza Nasution
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4657

Abstract

Abstract: Criminal liability is the existence of an unlawful act, there is no word of forgiveness, capable of being competent in law, there is an error, there is no justification. An unlawful act is an act carried out by a person or group that is contrary to applicable regulations, an error is an act carried out either intentionally or unintentionally, a violation is an act that violates legal provisions (administrative in nature). In this study aims to answer the problem of How is the legal regulation for ship captains who sail without having a sailing license in Indonesia, How is the criminal liability for ship captains who sail without having a sailing license and result in death, How is the judge's consideration in applying criminal sanctions to the defendant in decision number: 228 / Pid.Sus / 2022 / PN.TTE. The regulation of shipping crimes is regulated in the Criminal Code and Law Number 17 of 2008 concerning Shipping which confirms the criminal liability of the captain as the party with full authority over the ship. In Decision Number 228/Pid.Sus/2022/PN.TTE regarding the sinking of the KM Cahaya Arafah, the judge sentenced the passenger to 4 years and 8 months in prison and a fine of Rp 500,000,000, a lighter sentence than the legal penalty due to consideration of extreme weather as a force majeure factor and the defendant's efforts to rescue passengers. This decision reflects the application of Gustav Radbruch's theory, namely balancing legal certainty, justice, and expediency, thus demonstrating the judge's role not merely as a mouthpiece for the law but also as an assessment of the humanitarian aspects and the law's benefits to society. Keyword: Criminal Liability, Ship Captain, Ship Accident Abstrak: Pertanggung jawaban pidana itu adalah adanya perbuatan melawan hukum, tidak ada kata pemaaf, mampu cakap dalam hukum, adanya kesalahan, tidak ada alasan pembenar. perbuatan melawan hukum adalah tindakan yang dilakukans eseorang atau kelompok yang bertentangan dengan peraturan yang berlaku kesalahan adalah tindakan yang dilakukan baik sengaja maupun tidak sengaja pelanggaran adalah tindakan yang melanggar ketentua hukum (bersifat administratif). Dalam penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan Bagaimana pengaturan hukum terhadap nakhoda kapal yang berlayar tanpa memiliki surat ijin berlayar di Indonesia, Bagaimana pertanggung jawaban pidana terhadap nakhodah kapal yang berlayar tanpa memiliki surat ijin berlayar dan mengakibatkan kematian,Bagaimana pertimbangan hakim dalam menerapkan sanksi pidana terhadap terdakwa dalam putusan nomor: 228/Pid.Sus/2022/PN.TTE. Pengaturan tindak pidana pelayaran diatur dalam KUHP dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yang menegaskan pertanggungjawaban pidana nakhoda sebagai pihak yang berwenang penuh atas kapal. Dalam Putusan Nomor 228/Pid.Sus/2022/PN.TTE terkait tenggelamnya KM Cahaya Arafah, hakim menjatuhkan pidana 4 tahun 8 bulan penjara dan denda Rp500.000.000, lebih ringan dari ancaman undang-undang karena mempertimbangkan faktor cuaca ekstrem sebagai force majeure serta adanya upaya terdakwa menyelamatkan penumpang. Putusan ini mencerminkan penerapan teori Gustav Radbruch, yakni menyeimbangkan kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan, sehingga menunjukkan peran hakim tidak sekadar menjadi corong undang-undang tetapi juga menilai aspek kemanusiaan dan kemanfaatan hukum bagi masyarakat.Kata Kunci: PertanggungJawaban Pidana, Nakhoda Kapal, Kecelakaan Kapal
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DALAM PROSES PENYIDIKAN DI POLRESTABES MEDAN Amalia Syamsyah Pasaribu; Wessy Trisna; Rosmalinda Rosmalinda
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4658

Abstract

Abstract: Legal protection for children is all activities to guarantee and protect children and their rights so that they can live, grow, develop, participate optimally in accordance with human dignity and receive protection from violence and discrimination. This study aims to answer the problems of How is legal protection for children as perpetrators of criminal acts of abuse in the Indonesian Child Criminal Justice System, How is the implementation of legal protection for children as perpetrators of criminal acts of abuse in the Medan Police Headquarters Jurisdiction, and What are the obstacles encountered by investigators at the Medan Police Headquarters in providing legal protection for children as perpetrators of criminal acts of abuse. The method used in this thesis research is an empirical research method, namely legal research that obtains its data from primary data or data obtained directly from the community. This research is descriptive, and the data analysis method used is descriptive qualitative. The results of the research on legal protection for children as perpetrators of crimes in the Juvenile Criminal Justice System can be seen from the legal process, starting from the investigation stage, arrest and detention, prosecution, trial, and guidance. In the implementation of providing protection, the concept of diversion is prioritized to achieve restorative justice that applies to children under 12 (twelve) years old and does not commit repeat crimes (recidivism). In this case, the obstacles encountered by investigators in providing protection are law enforcement who are not equipped with an understanding of child cases, legal factors that have not provided alternatives regarding mechanisms in implementing diversion and factors of facilities and infrastructure that are inadequate. Keyword: Legal Protection, Children as Perpetrators, Abuse, Investigation Abstrak: Perlindungan hukum terhadap anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dapat berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan Bagaimana perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana penganiayaan dalam Sistem Peradilan Pidana anak di Indonesia, Bagaimana pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana penganiayaan di Wilayah Hukum Polrestabes Medan, dan Apa saja hambatan-hambatan yang ditemui oleh Penyidik di Polrestabes Medan dalam memberikan perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana penganiayaan. Metode yang digunakan di dalam penelitian tesis ini adalah metode penelitian empiris yaitu penelitian hukum yang memperoleh datanya dari data primer atau data yang diperoleh langsung dari masyarakat. Penelitian ini bersifat deskriptif, dan metode analisa data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana dalam Sistem Peradilan Pidana Anak dapat dilihat dari proses hukum, mulai dari tahap penyidikan, penangkapan dan penahanan, penuntutan, persidangan, dan pembinaan. Pada pelaksaanaan dalam memberikan perlindungan lebih mengutamakan konsep diversi untuk tercapainya keadilan restoratif (restorative justic) yang berlaku pada anak umur dibawah 12 (dua belas) tahun dan tidak melakukan pengulangan kejahatan (residivis). Dalam hal ini hambatan yang didapat pihak penyidik dalam memberikan perlindungan yaitu penegak hukum yang kurang dibekali pemahaman tentang kasus anak, faktor hukum yang belum memberikan alternatif mengenai mekanisme dalam penerapan diversi dan faktor sarana dan prasana yang belum memadai. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Anak Sebagai Pelaku, Penganiayaan, Penyidikan
PENGARUH DIGITAL MARKETING KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KOPI KASAN Kelvien Yonata; Ngajudin Nugroho
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4659

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the influence of digital marketing and service quality on coffee purchasing decisions at Kopi Kasan. The research method used is a quantitative method with a descriptive research design and simple linear regression analysis. Data were collected through questionnaires distributed to 99 respondents selected using saturated sampling techniques. The results of the f test show that digital marketing and service quality simultaneously influence purchasing decisions with a calculated F value (6.863) > F table (3.15) and a significance of 0.002 < 0.05. The coefficient of determination (R²) value of 0.191 indicates that 19.1% of purchasing decisions can be explained by product attributes. Keyword: Digital Marketing, Service Quality, Purchasing Decisions Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh digital marketing, dan kualitas layanan terhadap keputusan pembelian kopi pada kopi kasan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif dan analisis regresi linear sederhana.Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 99 responden yang dipilih dengan teknik sampling jenuh. Hasil uji f menunjukkan bahwa digital marketing dan kualitas layanan berpengarug secara simultan terhadap keputusan pembelian dengan nilai Fhitung (6,863) > Ftabel (3,15) dan signifikansi 0,002 < 0,05. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,191 mengindikasikan bahwa 19,1% keputusan pembelian dapat dijelaskan oleh atribut produk. Kata kunci: Digital Marketing, Kualitas Layanan, Keputusan Pembelian
ANALISIS SPASIAL KEMISKINAN DENGAN K-MEANS DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI DESA PONDOK BUNGUR Akmal Nasution; Mohd. Siddik; Endra Saputra
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4660

Abstract

Abstract: Poverty is a complex social problem and requires a more in-depth analytical approach. To determine the level of poverty in a community, variables such as education, employment, income, ownership, housing conditions, and access to clean water and electricity are needed. Pondok Bungur is a village in Asahan Regency consisting of 10 hamlets, the majority of whose residents have low incomes, do not own secondary necessities, use water other than from the Regional Water Company (PDAM), and have limited access to electricity. Due to the lack of a clear classification of welfare, social assistance is often not well-targeted. As a solution, data science techniques with the k-means algorithm are applied to classify the level of poverty in the village. This study aims to identify which hamlets have the highest, medium, and low levels of poverty while analyzing the spatial distribution of poverty in Pondok Bungur village by integrating the k-means method and a geographic information system. The targeted outputs of this study are publications in Sinta 3-accredited journals and ready-to-use systems/applications. The results of this study are expected to provide an overview of the spatial distribution of poverty and become a basis for decision-making for the local government. The Technology Readiness Level (TKT) of this research is at level 5, where the K-Means method has been tested on real-world datasets and can be applied to spatial analysis in a broader context. The developed geographic information system will be tested for its validity in visualizing poverty data to support data-driven policymaking. Keyword: Poverty; K-Means; GIS; Clustering; Spatial Analysis. Abstrak: Kemiskinan merupakan permasalahan sosial yang kompleks dan memerlukan pendekatan analitis yang lebih mendalam. Untuk menentukan tingkat kemiskinan dalam masyarakat, diperlukan variabel-variabel seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan, kepemilikan, kondisi tempat tinggal, serta akses terhadap air bersih dan listrik. Pondok bungur merupakan sebuah desa di Kabupaten Asahan yang terdiri dari 10 dusun, mayoritas penduduknya berpenghasilan rendah, tidak memiliki barang kebutuhan sekunder, menggunakan air yang bukan dari PDAM, dan memiliki akses listrik yang terbatas. Karena tidak adanya klasifikasi yang jelas mengenai kesejahteraan ini akibatnya bantuan sosial sering kali tidak tepat sasaran. Sebagai solusinya, teknik data science dengan algoritma k-means diterapkan untuk mengklasifikasikan tingkat kemiskinan di desa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dusun mana yang memiliki tingkat kemiskinan tertinggi, menengah, dan rendah sekaligus menganalisis distribusi spasial kemiskinan di desa pondok bungur ini dengan mengintegrasikan metode k-means dan sistem informasi geografis. Luaran yang ditargetkan dari penelitian ini berupa publikasi jurnal terakreditasi sinta 3 dan sistem/aplikasi yang siap pakai. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran distribusi spasial kemiskinan dan menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pemerintah daerah. Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) penelitian ini berada pada level 5, di mana metode K- Means telah diuji dengan dataset nyata dan dapat diterapkan untuk analisis spasial dalam lingkungan yang lebih luas. Sistem informasi geografis yang dikembangkan akan diuji validitasnya dalam memvisualisasikan data kemiskinan guna mendukung pengambilan kebijakan berbasis data.  Kata kunci: Kemiskinan; K-Means; SIG; Clustering; Analisis Spasial.
MODEL PENDIDIKAN BAHASA BERBASIS LITERASI DIGITAL HUMANISTIK UNTUK PENGUATAN KARAKTER DAN IDENTITAS NASIONAL DI ERA KECERDASAN BUATAN Zulkarnain Sirait; Akmal Akmal; Suparmadi Suparmadi; Friska Anggraini Barus
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4661

Abstract

Abstract: The rapid advancement of digital technology and Artificial Intelligence (AI) has profoundly transformed the paradigm of language education. Language learning today is not only focused on linguistic competence but also serves as a medium for character formation and the strengthening of national identity. This study aims to develop a digital humanistic literacy–based language education model that integrates technological competence with humanistic values, digital ethics, and national awareness in the era of AI. Using a descriptive qualitative approach with a conceptual model development design (qualitative-based R&D), the research was conducted at MAS Bahrul Uluum Al-Kamal Asahan. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, documentation, and Focus Group Discussions (FGD). The findings produced the Digital-Humanistic Literacy Model (DHLM), which combines three main components: critical digital literacy, humanistic values (empathy, politeness, and responsibility), and national identity reinforcement. Implementation of the model demonstrated increased student participation, awareness of ethical digital communication, and a stronger sense of pride in the Indonesian language. Teachers transformed from information transmitters into digital-humanistic facilitators who nurture reflection and moral responsibility. Conceptually, this model extends the Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) framework into TPACK-H (Humanistic) by incorporating ethical and humanistic dimensions. The model contributes significantly to strengthening the Profil Pelajar Pancasila and supporting the Merdeka Belajar policy in shaping a smart, ethical, and civilized generation within the global digital landscape. Keyword: language education, digital humanistic literacy, character development, national identity, artificial intelligence. Abstrak: Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah paradigma pembelajaran bahasa secara fundamental. Pembelajaran tidak lagi hanya berorientasi pada penguasaan linguistik, tetapi juga harus menjadi sarana pembentukan karakter dan identitas nasional. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pendidikan bahasa berbasis literasi digital humanistik yang mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan, etika digital, dan semangat kebangsaan di era kecerdasan buatan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan pengembangan model konseptual (research and development berbasis kualitatif). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan Focus Group Discussion (FGD) di MAS Bahrul Uluum Al-Kamal Asahan. Hasil penelitian menghasilkan Digital-Humanistic Literacy Model (DHLM) yang memadukan tiga komponen utama, yaitu: literasi digital kritis, nilai-nilai humanistik (empati, kesantunan, tanggung jawab), dan penguatan identitas nasional. Implementasi model menunjukkan peningkatan partisipasi belajar, kesadaran etika berbahasa digital, serta rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Guru bertransformasi dari pengajar informasi menjadi fasilitator kemanusiaan digital yang menumbuhkan refleksi dan tanggung jawab peserta didik. Secara konseptual, model ini memperluas kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) menjadi TPACK-H (Humanistic) dengan menambahkan dimensi etika dan kemanusiaan. Model ini berkontribusi pada penguatan Profil Pelajar Pancasila dan implementasi kebijakan Merdeka Belajar dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan beradab di tengah arus globalisasi digital. Kata kunci: pendidikan bahasa, literasi digital humanistik, karakter, identitas nasional, kecerdasan buatan.
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN IPAS DI KELAS V SD MUHAMMADIYAH SIJABUT Dwi Baniati; Rudi Hermansyah Sitorus; Nur Wahyuni
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4662

Abstract

Abstract: Differentiated learning is an approach that accommodates students' learning needs by considering the differences in their individual characteristics. This study aims to determine the effect of differentiated learning on student learning outcomes in the subject of science in grade V of Muhammadiyah Sijabut Elementary School. The research method used is quantitative with an experimental design of Nonequivalent Control Group Design (pretest–posttest). The research subjects consisted of 30 students, who were divided into 15 students in the experimental class and 15 students in the control class. Data collection techniques used tests in the form of pretests and posttests, while data analysis was carried out through instrument testing, prerequisite testing, and hypothesis testing using the Independent Sample T-Test. The results showed that there was no significant difference in the pretest scores between the experimental and control classes with a significance value of 0.091. However, the posttest results showed a significant difference with a significance value of 0.007 (p<0.05). This proves that differentiated learning has a positive influence on improving student learning outcomes in science. Keyword: differentiated learning; learning outcomes; social studies learning. Abstrak: Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan yang mengakomodasi kebutuhan belajar siswa dengan memperhatikan perbedaan karakteristik masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran berdiferensiasi terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS kelas V SD Muhammadiyah Sijabut. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain eksperimen Nonequivalent Control Group Design (pretest–posttest). Subjek penelitian terdiri atas 30 siswa, yang dibagi menjadi 15 siswa kelas eksperimen dan 15 siswa kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan tes berupa pretest dan posttest, sementara analisis data dilakukan melalui uji instrumen, uji prasyarat, dan uji hipotesis menggunakan Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada nilai pretest antara kelas eksperimen dan kontrol dengan nilai signifikansi 0.091. Namun, hasil posttest menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan nilai signifikansi 0.007 (p<0.05). Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran berdiferensiasi memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS. Kata kunci: pembelajaran berdiferensiasi; hasil belajar; pembelajaran IPS.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DENGAN RETARDASI MENTAL Sofian Sofian; Abdul Azis Manurung; Ari Dermawan; Annisa Suryani Putri
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4663

Abstract

Abstract: Mental retardation is categorized as People with Mental Problems (ODMK) as referred to in Article 1 number 2 of Law Number 18 of 2014 concerning Mental Health, namely people who have physical, mental, social, developmental, and/or quality of life problems who are at risk of experiencing mental disorders. This thesis aims to analyze how criminal liability is applied to perpetrators of criminal acts of abuse who suffer from mental retardation, as well as to re-analyze the basis for the judge's considerations in issuing a verdict against the perpetrator, by referring to Decision Number 817/Pid.B/2024/PN.Kis. This study uses a normative juridical approach method with a descriptive research type. Data were obtained through literature studies by reviewing statutory regulations, legal literature, and court decision documents. The analysis was carried out qualitatively-descriptively against relevant legal norms and concrete case studies. The results of the study indicate that perpetrators of criminal acts of abuse who suffer from mental retardation cannot be fully held criminally responsible if it is proven that their mental condition affects their ability to understand or control their actions as regulated in Article 44 of the Criminal Code. In Case Number 817/Pid.B/2024/PN.Kis, although the defendant was proven to have committed assault according to Article 351 paragraph (1) of the Criminal Code, ideally the medical evidence process related to the defendant's mental condition would be the main basis in the judge's considerations, as well as trial facts to determine the appropriateness of criminal responsibility for the defendant in accordance with the principles of criminal law and protection for people with mental retardation. Keywords: Criminal Responsibility, People with Mental Retardation, Law No. 18 of 2014 Abstrak: Retardasi mental dikategorikan sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, yaitu orang yang memiliki masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan, dan/atau kualitas hidup yang berisiko mengalami gangguan jiwa. Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pertanggungjawaban pidana diterapkan terhadap pelaku tindak pidana penganiayaan yang mengalami retardasi mental, serta menganalisis kembali dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap pelaku tersebut, dengan merujuk pada Putusan Nomor 817/Pid.B/2024  /PN.Kis. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dengan mengkaji peraturan Perundang-Undangan, literatur hukum, serta dokumen putusan pengadilan. Analisis dilakukan secara kualitatif-deskriptif terhadap norma hukum yang relevan serta studi kasus konkret. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku tindak pidana penganiayaan yang menderita retardasi mental tidak dapat sepenuhnya dimintai pertanggungjawaban pidana apabila terbukti bahwa kondisi kejiwaannya memengaruhi kemampuannya memahami atau mengendalikan perbuatannya sebagaimana diatur dalam Pasal 44 KUHP. Dalam Perkara Nomor 817/Pid.B/  2024/PN.Kis, meskipun terdakwa terbukti melakukan penganiayaan sesuai Pasal 351 ayat (1) KUHP, idealnya proses pembuktian medis terkait kondisi kejiwaan terdakwa akan menjadi landasan utama dalam pertimbangan hakim. serta fakta persidangan untuk menentukan kelayakan pertanggungjawaban pidana terhadap terdakwa sesuai prinsip-prinsip hukum pidana dan perlindungan terhadap ODMK. Kata Kunci: Pertanggungjawaban Pidana, Orang Dalam Masalah Kejiwaan Retardasi mental, Undang- Undang No. 18 tahun 2014