cover
Contact Name
Andy Sapta
Contact Email
saptaandy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
lppm_stmik@royal.ac.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH
Published by Smart Education
ISSN : 26154307     EISSN : 26153262     DOI : -
Journal of Science and Social Research is accepts research works from academicians in their respective expertise of studies. Journal of Science and Social Research is platform to disclose the research abilities and promote quality and excellence of young researchers and experienced thoughts towards Change for Development. The journal releases on February and July.
Arjuna Subject : -
Articles 3,645 Documents
EVALUASI KURIKULUM TVET BERBASIS INDUSTRI: PENGUATAN LINK AND MATCH MELALUI INOVASI TEKNOLOGI DAN KETERLIBATAN STRATEGIS INDUSTRI Fajar Maulana; Meiyaldi Eka Putra; Jimmi Zamora; Muhammad Anwar; Wakhinuddin
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6656

Abstract

Abstract: This study aims to evaluate the effectiveness of an industry based Technical Vocational Education and Training (TVET) curriculum through the enhancement of link-and-match programs, technological innovation, and strategic industry engagement. A Systematic Literature Review (SLR) approach was employed following the PRISMA 2020 guidelines. Data were collected from reputable databases, including Scopus, Web of Science (WoS), Google Scholar, and Crossref, covering publications from the last ten years. An initial search identified approximately 500 articles, which were subsequently screened through the stages of identification, screening, eligibility, and inclusion, resulting in 20 high-quality and relevant studies. The selected articles served as the foundation for developing a conceptual evaluation model and operationalizing the research variables. Furthermore, Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) was utilized to examine the relationships among strategic industry engagement, technological innovation, link-and-match programs, and TVET curriculum effectiveness. The findings reveal that strategic industry engagement contributes 42.1%, technological innovation 35.6%, and link-and-match programs 39.4% to curriculum effectiveness, with a coefficient of determination (R²) of 74.2%, indicating strong explanatory power. These results highlight that sustained industry collaboration, adaptive technological integration, and systematic implementation of link-and-match initiatives are critical factors in enhancing curriculum relevance and graduate employability. This study provides both theoretical and practical insights for developing responsive, sustainable, and industry-aligned TVET curricula capable of addressing the evolving demands of the modern workforce. Keywords: TVET Curriculum Evaluation, Industry Engagement, Technological Innovation Link and Match Program, Curriculum Effectiveness.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kurikulum Technical Vocational Education and Training (TVET) berbasis industri melalui penguatan program link and match, inovasi teknologi, dan keterlibatan strategis industri. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Data diperoleh dari basis data Scopus, Web of Science (WoS), Google Scholar, dan Crossref dengan rentang publikasi sepuluh tahun terakhir. Dari sekitar 500 artikel yang teridentifikasi, proses seleksi melalui tahapan identifikasi, penyaringan, kelayakan, dan inklusi menghasilkan 20 artikel utama yang relevan dan berkualitas. Temuan kajian literatur digunakan untuk membangun model konseptual evaluasi kurikulum TVET berbasis industri serta operasionalisasi variabel penelitian. Analisis dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji pengaruh keterlibatan strategis industri, inovasi teknologi, dan program link and match terhadap efektivitas kurikulum TVET. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan strategis industri memberikan kontribusi sebesar 42,1%, inovasi teknologi sebesar 35,6%, dan program link and match sebesar 39,4%, dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 74,2%. Temuan ini menegaskan bahwa kolaborasi industri yang berkelanjutan, integrasi teknologi yang adaptif, dan implementasi link and match yang sistematis merupakan faktor utama dalam meningkatkan relevansi kurikulum serta kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan industri modern. Kata kunci: Evaluasi Kurikulum TVET Berbasis Industri, Penguatan Link and Match Inovasi Teknologi, Keterlibatan Strategi Industri.
ANALISI DETERMINAN KEBERLANJUTAN BUDIDAYA IKAN HIAS GUPPY (Poecilia reticulata) DALAM MANAJEMEN REPRODUKSI AKUAKULTUR M. Amin Haitami; Kasful Anwar; Muslim
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6657

Abstract

Abstract: The sustainability of guppy fish (Poecilia reticulata) aquaculture is an important aspect in supporting environmentally friendly and economically viable aquaculture development. This study aimed to analyze the determinants of sustainability in guppy fish farming based on social, economic, ecological, production technology, and reproductive management dimensions using the Multi Dimensional Scaling (MDS) approach with the RAPFISH method. Data were collected through field observations, interviews, and questionnaires, and subsequently analyzed to obtain sustainability indices, leverage values, and model reliability through Monte Carlo analysis. The results showed that all assessed dimensions were classified as moderately sustainable. The sustainability index values were 68.84 for the social dimension, 61.50 for the economic dimension, 62.60 for the ecological dimension, 59.01 for production technology, and 61.55 for reproductive management. Monte Carlo analysis indicated stable results, with small differences between rapscore and simulation values ranging from 0.06 to 1.74. The coefficient of determination (R²) ranged from 0.93 to 0.96, and stress values were low (0.13–0.16), indicating that the MDS model was reliable and had good accuracy. Among all dimensions, production technology showed the lowest sustainability index, suggesting the need for improvement in technology application, production efficiency, and environmental management. Overall, the results indicate that the sustainability of guppy aquaculture can be enhanced through integrated management focusing on technological improvement, environmental control, and optimized reproductive management supported by social and economic considerations. Keywords: sustainability, guppy aquaculture, MDS, RAPFISH, reproductive management, aquaculture. Abstrak: Keberlanjutan budidaya ikan hias guppy (Poecilia reticulata) merupakan aspek penting dalam mendukung pengembangan akuakultur yang ramah lingkungan dan berdaya saing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis factor determinan keberlanjutan budidaya ikan guppy berdasarkan dimensi sosial, ekonomi, ekologi, teknologi produksi, dan manajemen reproduksi menggunakan metode RAPFISH. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dan kuesioner, kemudian dianalisis untuk menghasilkan indeks keberlanjutan, nilai leverage, serta uji keandalan model melalui analisis Monte Carlo. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh dimensi berada pada kategori cukup berkelanjutan, dengan nilai indeks keberlanjutan masing-masing sebesar 68,84 pada dimensi sosial, 61,50 pada dimensi ekonomi, 62,60 pada dimensi ekologi, 59,01 pada dimensi teknologi produksi, dan 61,55 pada dimensi manajemen reproduksi. Hasil analisis Monte Carlo menunjukkan nilai yang relatif mendekati rapscore, dengan selisih berkisar antara 0,06–1,74, yang menandakan kestabilan hasil analisis. Nilai koefisien determinasi (R²) yang tinggi, yaitu antara 0,93–0,96, serta nilai stress yang rendah (0,13–0,16), menunjukkan bahwa model MDS yang digunakan memiliki tingkat keandalan dan ketepatan yang baik. Dimensi teknologi produksi memiliki nilai indeks terendah, mengindikasikan perlunya peningkatan dalam penerapan teknologi budidaya, efisiensi produksi, serta pengelolaan kualitas lingkungan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan budidaya ikan guppy dapat ditingkatkan melalui penguatan teknologi. produksi, pengelolaan lingkungan yang lebih baik, serta optimalisasi manajemen reproduksi yang terintegrasi dengan aspek sosial dan ekonomi. Kata kunci: keberlanjutan, budidaya ikan guppy, MDS, RAPFISH, manajemen reproduksi, akuakultur.
CHATGPT AS A LEARNING COMPANION: NURSING STUDENTS' PERCEPTIONS OF GENERATIVE AI IN ENGLISH FOR NURSING PURPOSES USING PHENOMENOLOGICAL APPROACH Grace Fresania Kaparang; Stephanie Tauran; Shapely Ambalao
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6658

Abstract

Abstract: This study explored nursing students’ perceptions of using ChatGPT in learning English for Nursing Purposes at Universitas Klabat. As English proficiency is essential for understanding medical terminology, academic nursing literature, clinical documentation, and patient communication, nursing students need language support that is relevant to their professional field. This study employed a qualitative research design using a phenomenological approach to understand students’ lived experiences with ChatGPT as an AI-assisted learning tool. Data were collected through semi-structured interviews with nursing students who had experience using ChatGPT for English learning activities. The data were analyzed using thematic analysis following Braun and Clarke’s six-step framework. The findings revealed four major themes from 8 informants interview. First, students experienced ChatGPT as an accessible learning companion that supported their understanding of nursing vocabulary, medical terminology, English articles, grammar, academic writing, and patient communication. Second, ChatGPT provided efficiency and empowerment by helping students access information quickly, complete academic tasks more easily, and increase their confidence in using English. Third, students recognized limitations and risks, including inaccurate responses, inappropriate translations, fabricated references, technical constraints, and possible dependence on AI. Fourth, students developed a more critical and responsible approach by verifying AI-generated information, using trusted references, improving prompt quality, and avoiding direct copy-paste practices. Overall, the study concludes that ChatGPT can be a useful supplementary tool for learning English in nursing education when used critically, ethically, and in combination with reliable academic sources. Keywords: ChatGPT, English for Nursing Purposes, nursing students, artificial intelligence, phenomenology, English language learning Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi mahasiswa keperawatan terhadap penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran English for Nursing Purposes di Universitas Klabat. Kemampuan berbahasa Inggris sangat penting bagi mahasiswa keperawatan karena berkaitan dengan pemahaman istilah medis, literatur akademik keperawatan, dokumentasi klinis, serta komunikasi dengan pasien. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman hidup mahasiswa dalam menggunakan ChatGPT sebagai alat bantu pembelajaran berbasis kecerdasan buatan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan mahasiswa keperawatan yang memiliki pengalaman menggunakan ChatGPT dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris. Data dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan enam tahapan Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan empat tema utama. Pertama, mahasiswa memandang ChatGPT sebagai pendamping belajar yang mudah diakses, terutama dalam memahami kosakata keperawatan, istilah medis, artikel berbahasa Inggris, tata bahasa, penulisan akademik, dan persiapan komunikasi dengan pasien. Kedua, ChatGPT memberikan efisiensi dan pemberdayaan karena membantu mahasiswa memperoleh informasi dengan cepat, menyelesaikan tugas akademik dengan lebih mudah, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris. Ketiga, mahasiswa menyadari adanya keterbatasan dan risiko, seperti jawaban yang kurang akurat, terjemahan yang tidak sesuai, referensi yang tidak dapat ditemukan, kendala teknis, serta kemungkinan ketergantungan pada AI. Keempat, mahasiswa mengembangkan penggunaan ChatGPT yang lebih kritis dan bertanggung jawab melalui verifikasi informasi, penggunaan sumber terpercaya, penyusunan prompt yang lebih jelas, dan menghindari praktik menyalin jawaban secara langsung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ChatGPT dapat menjadi alat bantu tambahan yang bermanfaat dalam pembelajaran bahasa Inggris keperawatan apabila digunakan secara kritis, etis, dan dikombinasikan dengan sumber akademik yang terpercaya. Kata kunci: ChatGPT, English for Nursing Purposes, mahasiswa keperawatan, kecerdasan buatan, fenomenologi, pembelajaran bahasa Inggris
MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN ANGSANA DAN SUNGAI LOBAN BERBASIS SOSIO-EKOLOGIS DI KABUPATEN TANAH BUMBU, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Eko Prio Raharjo; Kasful Anwar; Sherly Ridhowati Nata Imam
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6659

Abstract

Abstract: This study aims to develop an effective and sustainable management model for Marine Protected Areas (MPAs) based on a socio-ecological system by positioning coastal community participation as a mediating variable. The research was conducted in the Angsana and Sungai Loban coastal areas, Tanah Bumbu Regency, South Kalimantan, Indonesia. A quantitative approach was employed using Structural Equation Modeling based on Partial Least Squares (SEM-PLS). The variables analyzed include institutional management, anthropogenic pressure, community participation, ecological conditions, and sustainable economy. The results indicate that institutional management has a positive and significant effect on ecological conditions (β = 0.438; p < 0.001), while anthropogenic pressure exerts a dominant influence on the system, particularly on social performance (β > 1.00; p < 0.001) and sustainable economy (β = 0.388; p < 0.001). Coastal community participation was not found to be significant as a mediating variable, whereas ecological conditions act as a significant primary mediator in the relationship between exogenous variables and sustainable economy. The R-square values demonstrate strong explanatory power of the model for endogenous variables, reaching 0.952 (Y1), 1.000 (Y2), and 0.568 (Z). This study produces an integrated, adaptive, and sustainable MPA management model, positioning institutional management as the driving force, anthropogenic pressure as the main stressor, ecological conditions as the key variable, and sustainable economy as the ultimate goal. The model emphasizes that coastal economic sustainability is highly dependent on ecosystem quality, which must be effectively managed through strong governance and control of human-induced pressures. The findings highlight the importance of strengthening institutional capacity, controlling anthropogenic pressures, and protecting ecosystems to ensure successful MPA management. The proposed model can serve as a reference for policy formulation in socio-ecological-based marine conservation management at both regional and national levels. Keywords: Marine Protected Areas, socio-ecological system, SEM-PLS, anthropogenic pressure, institutional management, sustainable economy. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang efektif dan berkelanjutan berbasis sistem sosio-ekologis dengan menempatkan partisipasi masyarakat pesisir sebagai variabel mediasi. Penelitian dilakukan di wilayah Kawasan perairan Angsana dan Sungai Loban  Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS). Variabel yang dianalisis meliputi manajemen kelembagaan, tekanan antropogenik, partisipasi masyarakat, kondisi ekologis, dan ekonomi berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kelembagaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kondisi ekologis (β = 0,438; p < 0,001), sementara tekanan antropogenik memiliki pengaruh dominan terhadap sistem, khususnya terhadap kinerja sosial (β > 1,00; p < 0,001) dan ekonomi berkelanjutan (β = 0,388; p < 0,001). Partisipasi masyarakat pesisir tidak terbukti signifikan sebagai variabel mediasi, sedangkan kondisi ekologis berperan sebagai mediator utama yang signifikan dalam hubungan antara variabel eksogen dan ekonomi berkelanjutan. Nilai R-square menunjukkan kemampuan model yang tinggi dalam menjelaskan variabel endogen, yaitu sebesar 0,952 (Y1), 1,000 (Y2), dan 0,568 (Z). Penelitian ini menghasilkan model pengelolaan KKP yang terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan dengan menempatkan manajemen kelembagaan sebagai pengarah, tekanan antropogenik sebagai faktor tekanan utama, kondisi ekologis sebagai variabel kunci, dan ekonomi berkelanjutan sebagai tujuan akhir. Model ini menegaskan bahwa keberlanjutan ekonomi pesisir sangat bergantung pada kualitas ekosistem yang dikelola secara efektif melalui tata kelola yang kuat dan pengendalian tekanan manusia. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya penguatan kelembagaan, pengendalian tekanan antropogenik, serta perlindungan ekosistem dalam mendukung keberhasilan pengelolaan system konservasi perairan. Model yang dihasilkan dapat menjadi acuan dalam perumusan kebijakan pengelolaan KKP berbasis system sosial-ekologis di tingkat daerah maupun nasional. Kata kunci: Kawasan konservasi perairan, system sosio-ekologis, SEM-PLS, tekanan antropogenik, kelembagaan, ekonomi berkelanjutan.
GREEN HUMAN RESOURCE MANAGEMENT, GREEN INNOVATION, DAN SUSTAINABLE PERFORMANCE DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN BERKELANJUTAN: SEBUAH LITERATURE REVIEW Sarida Sirait; Mutia Nurhalizah; Abdul Rahim Siregar; Jufrizen; Siti Mujiatun
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6660

Abstract

Abstract: The development of sustainability issues has encouraged organizations to integrate economic, social, and environmental aspects into their business strategies. Green Human Resource Management (GHRM) has emerged as a strategic approach that integrates human resource management practices with an organization's environmental goals. Green Innovation, on the other hand, has become a crucial tool in producing more environmentally friendly products and processes, while Sustainable Performance is an indicator of an organization's success in achieving long-term sustainability. This article aims to conduct a literature review on the relationship between Green Human Resource Management, Green Innovation, and Sustainable Performance from a sustainable management perspective. The study's findings indicate that GHRM practices play a role in building employee green competencies and behaviors, which in turn drive Green Innovation. Green Innovation has been shown to be a mediating mechanism that strengthens the influence of GHRM on Sustainable Performance. Therefore, the integration of GHRM and Green Innovation is a crucial strategy for enhancing organizational competitiveness and sustainability. Keywords: Green Human Resource Management, Green Innovation, Sustainable Performance, Sustainability, Sustainable Management.   Abstrak: Perkembangan isu keberlanjutan telah mendorong organisasi untuk mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan ke dalam strategi bisnis. Green Human Resource Management (GHRM) muncul sebagai pendekatan strategis yang mengintegrasikan praktik manajemen sumber daya manusia dengan tujuan lingkungan organisasi. Di sisi lain, Green Innovation menjadi instrumen penting dalam menghasilkan produk dan proses yang lebih ramah lingkungan, sedangkan Sustainable Performance merupakan indikator keberhasilan organisasi dalam mencapai keberlanjutan jangka panjang. Artikel ini bertujuan melakukan kajian literatur mengenai hubungan antara Green Human Resource Management, Green Innovation, dan Sustainable Performance dalam perspektif manajemen berkelanjutan. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik GHRM berperan dalam membangun kompetensi dan perilaku hijau karyawan yang selanjutnya mendorong Green Innovation. Green Innovation terbukti menjadi mekanisme mediasi yang memperkuat pengaruh GHRM terhadap Sustainable Performance. Dengan demikian, integrasi GHRM dan Green Innovation menjadi strategi penting dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan organisasi. Kata Kunci: Green Human Resource Management, Green Innovation, Sustainable Performance, Sustainability, Manajemen Berkelanjutan
DAMPAK PENERAPAN IFRS TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN: BUKTI EMPIRIS CROSS-COUNTRY PADA NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG Olivia Gabriella Gunawan; Khairina; Azror Anwar Nasution; Junita Putri Rajana Harahap
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6662

Abstract

Abstract: IFRS as a global financial reporting standard is expected to enhance the transparency, relevance, and comparability of accounting information across countries. However, its implementation shows varying outcomes depending on each country’s institutional environment. This study employs a qualitative approach using a library research method by analyzing various international scientific literature, IFRS Foundation reports, and relevant previous studies. The findings indicate that the adoption of IFRS generally reduces earnings management practices by increasing disclosure levels and limiting flexibility in financial reporting. In addition, IFRS contributes to improving financial reporting quality, as reflected by increased relevance and comparability of accounting information. Nevertheless, these effects are not uniform across countries, as they are influenced by institutional factors such as legal system quality, regulatory enforcement effectiveness, and corporate governance practices. Developed countries tend to gain greater benefits from IFRS implementation compared to developing countries. In conclusion, IFRS plays an important role in enhancing global financial reporting quality; however, its effectiveness largely depends on the institutional environment of each country. Therefore, international accounting harmonization should be accompanied by strong regulatory and institutional support to achieve optimal outcomes. Keywords: Earnings Management, Financial Reporting Quality, International   Accounting   Abstrak: IFRS sebagai standar pelaporan keuangan global diharapkan mampu meningkatkan transparansi, relevansi, dan keterbandingan informasi akuntansi di berbagai negara. Namun, implementasinya menunjukkan hasil yang bervariasi tergantung pada kondisi institusional masing-masing negara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui analisis berbagai literatur ilmiah internasional, laporan IFRS Foundation, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan IFRS secara umum mampu menurunkan praktik manajemen laba melalui peningkatan tingkat pengungkapan dan pengurangan fleksibilitas dalam pelaporan keuangan. Selain itu, IFRS juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelaporan keuangan yang ditandai dengan meningkatnya relevansi dan keterbandingan informasi akuntansi. Namun demikian, dampak tersebut tidak bersifat seragam di semua negara, karena dipengaruhi oleh faktor institusional seperti kualitas sistem hukum, efektivitas pengawasan, dan tata kelola perusahaan. Negara maju cenderung memperoleh manfaat yang lebih besar dibandingkan negara berkembang dalam implementasi IFRS. Kata Kunci: Manajemen Laba, Kualitas Pelaporan Keuangan, Akuntansi Internasional
IMPLEMENTASI METODE SAW SEBAGAI PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PENENTUAN TENAGA PENGAJAR TERBAIK Masitah Handayani; Amalia; Anggi Wulandari
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6663

Abstract

Abstract: Teaching staff are a key component in determining the quality of education in a course institution. Optimal teaching staff performance will directly impact the quality of learning. However, the process of determining the best teaching staff in many courses is still done subjectively and does not use a measurable and transparent computerized system. Problems that often arise include the many assessment criteria that must be considered, the time-consuming evaluation process, the lack of objectivity in decision-making, and the absence of an integrated system to assist management. To overcome these problems, a Decision Support System (DSS) is needed that can process various criteria systematically. One suitable method is Simple Additive Weighting (SAW), because this method is able to weight and rank alternatives based on predetermined criteria. The SAW method is known as a simple and effective method in assessing alternatives based on predetermined criteria. With clear weights and criteria values, this method is able to provide more objective results in the process of determining the best teaching staff. Fifteen teaching staff were assessed using the SAW Method with five assessment criteria: Length of Service, Discipline, Innovation, Loyalty, and Teaching Methods. Based on these calculations, the alternative that is entitled to receive a reward is A14 with the highest Vi value of 0,92. Keywords: SAW Method, Decision Support System, Instructor   Abstrak:  Tenaga pengajar merupakan komponen utama dalam menentukan kualitas pendidikan di suatu lembaga kursus. Kinerja tenaga pengajar yang optimal akan berdampak langsung pada mutu pembelajaran. Namun, proses penentuan tenaga pengajar terbaik di banyak kursus masih dilakukan secara subjektif dan belum menggunakan sistem terkomputerisasi yang terukur dan transparan. Permasalahan yang sering muncul antara lain antara lain banyaknya kriteria penilaian yang harus dipertimbangkan, proses evaluasi yang memakan waktu, kurangnya objektivitas dalam pengambilan keputusan, serta tidak adanya sistem yang terintegrasi untuk membantu manajemen.Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang mampu mengolah berbagai kriteria secara sistematis. Salah satu metode yang sesuai adalah Simple Additive Weighting (SAW), karena metode ini mampu melakukan pembobotan dan perangkingan alternatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Metode SAW dikenal sebagai metode yang sederhana dan efektif dalam menilai alternatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Dengan bobot dan nilai kriteria yang jelas, metode ini mampu memberikan hasil yang lebih objektif dalam proses penentuan tenaga pengajar terbaik. Ada lima belas orang tenaga pengajar yang dinilai menggunakan Metode SAW dengan lima kriteria penilaian yaitu Lama Bekerja, Kedisiplinan, Inovasi, Loyalitas dan Metode Pengajaran. Berdasarkan perhitungan tersebut alternatif yang berhak mendapatkan reward adalah adalah A14 dengan nilai Vi tertinggi adalah 0,92. Kata Kunci: Metode SAW, Sistem Pendukung Keputusan, Tenaga Pengajar
ANALISIS KONVERGENSI DAN EFEKTIVITAS ALGORITMA K-MEANS PADA KLASTERISASI DATA KRIMINALITAS DAN PARTISIPASI KEAMANAN MASYARAKAT DI INDONESIA Katrin Jenny Sirait; Cora Angelyna Hermanto
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6664

Abstract

Abstract: This study aims to cluster provinces in Indonesia based on crime rates and community participation in security in 2024. The objective is to determine how effective the K-Means Clustering method is in analyzing this data. This study uses six crime indicators and five indicators of community participation at the provincial level. Before analysis, the data were cleaned and standardized using the Z-Score method. The clustering process employed the K-Means method with Euclidean distance. Cluster quality was evaluated using SSE and the Silhouette Score. The results show that the K-Means algorithm achieved convergence with a stable SSE value. However, determining the optimal number of clusters yielded different results between the Elbow method and the Silhouette Score. After considering stability and interpretability, three clusters were determined to be the optimal result. The clustering results indicate variations in characteristics across provinces regarding crime and community participation. The study also shows that cluster separation is better for crime data than for participation data. Thus, the K-Means Clustering method can be used as an initial mapping of regional security conditions in Indonesia. However, these results are also influenced by data characteristics and the sensitivity of centroid initialization. Keywords: K-Means Clustering, Crime, Community Participation, Elbow Method, Silhouette Score.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan provinsi di Indonesia berdasarkan tingkat kriminalitas dan partisipasi masyarakat dalam keamanan pada tahun 2024. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa efektif metode K-Means Clustering dalam menganalisis data ini. Penelitian ini menggunakan enam indikator kriminalitas dan lima indikator partisipasi masyarakat di tingkat provinsi. Sebelum dianalisis, data tersebut dibersihkan dan distandardisasi menggunakan metode Z-Score. Proses pengelompokan menggunakan metode K-Means dengan jarak Euclidean. Kualitas cluster dievaluasi menggunakan SSE dan Silhouette Score. Dari hasil penelitian, algoritma K-Means dapat mencapai konvergensi dengan nilai SSE yang stabil. Namun, penentuan jumlah cluster optimal menunjukkan hasil yang berbeda antara metode Elbow dan Silhouette Score. Setelah mempertimbangkan stabilitas dan interpretasi, ditetapkan bahwa tiga cluster adalah hasil yang optimal. Hasil klasterisasi menunjukkan adanya variasi karakteristik antarprovinsi pada aspek kriminalitas dan partisipasi masyarakat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemisahan cluster pada data kriminalitas lebih baik dibandingkan data partisipasi. Dengan demikian, metode K-Means Clustering dapat digunakan sebagai pemetaan awal kondisi keamanan wilayah di Indonesia. Namun, hasil ini juga dipengaruhi oleh karakteristik data dan sensitivitas inisialisasi centroid. Kata kunci: K-Means Clustering, Kriminalitas, Partisipasi Masyarakat, Elbow Method, Silhouette Score.
STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BAWANG MERAH BERKELANJUTAN MELALUI PENGUATAN KEUNGGULAN KOMPETITIF DI KABUPATEN SOLOK Walmadri; Fastabiqul Khairad; Fadli Akbar Lubis; Merdian Khairad; Amri Syahardi
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6665

Abstract

Abstract: The development of shallot agribusiness is a strategic effort to enhance the competitiveness and sustainability of the horticultural sector in Solok Regency. This study aimed to identify the internal and external factors affecting shallot agribusiness development and to formulate appropriate development strategies using the SWOT approach. The research employed a survey method with a quantitative descriptive approach. Primary data were collected through interviews with 228 shallot farmers and 25 traders selected purposively. Data were analyzed using the Internal Factor Analysis Summary IFAS, EFAS, Internal-External (IE) Matrix, and SWOT Matrix. The results showed that the main strengths of shallot agribusiness include favorable agroclimatic conditions, high product quality, farmers’ experience, and its status as a regional flagship commodity. The major opportunities arise from increasing market demand, government support, agro-industry development, and advances in information technology. The IFAS and EFAS analyses generated scores of 2.90 and 2.92, respectively, placing shallot agribusiness in Cell V of the IE Matrix (Hold and Maintain). Based on the SWOT analysis, the priority strategy identified was the SO (Strengths-Opportunities) strategy, which includes increasing production, developing shallot-based agro-industries, utilizing information technology for marketing, and strengthening the branding of Solok shallots as a regional flagship commodity. These strategies are expected to improve competitiveness and support the sustainable development of shallot agribusiness in Solok Regency. Keywords: Shallot; Agribusiness; SWOT; Competitive Advantage; Sustainability.   Abstrak: Pengembangan agribisnis bawang merah merupakan upaya strategis untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor hortikultura di Kabupaten Solok. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan agribisnis bawang merah serta merumuskan strategi pengembangannya melalui pendekatan SWOT. Penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap 228 petani dan 25 pedagang bawang merah yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan menggunakan Matriks IFAS, EFAS, Matriks Internal-Eksternal (IE), dan Matriks SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama agribisnis bawang merah meliputi kondisi agroklimat yang sesuai, kualitas produk yang baik, pengalaman petani, serta status bawang merah sebagai komoditas unggulan daerah. Peluang utama berasal dari meningkatnya permintaan pasar, dukungan pemerintah, pengembangan agroindustri, dan perkembangan teknologi informasi. Hasil analisis IFAS dan EFAS menghasilkan skor masing-masing sebesar 2,90 dan 2,92 yang menempatkan agribisnis bawang merah pada Sel V Matriks IE (Hold and Maintain). Berdasarkan analisis SWOT, strategi prioritas yang direkomendasikan adalah strategi SO (Strengths-Opportunities), yaitu meningkatkan produksi, mengembangkan agroindustri bawang merah, memanfaatkan teknologi informasi dalam pemasaran, serta memperkuat branding Bawang Merah Solok sebagai komoditas unggulan daerah. Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan mendukung keberlanjutan agribisnis bawang merah di Kabupaten Solok. Kata kunci: Bawang Merah; Agribisnis; SWOT; Keunggulan Kompetitif; Keberlanjutan.
Analisis Perbandingan Linkage Agglomerative Hierarchical Clustering Peningkatan Strategi Pemasaran Galeri Ulos Sianipar Anusa Anjani; Novriadi Antonius Siagian; Masdiana Sagala; Romunas Damanik
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 4 (2026): August 2026 (1)
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i4.6666

Abstract

Keragaman harga, volume penjualan, frekuensi transaksi, dan persediaan produk Ulos menimbulkan kebutuhan akan strategi pemasaran yang berbeda sesuai karakteristik setiap produk. Analisis difokuskan pada perbandingan Single Linkage, Complete Linkage, Average Linkage, dan Ward.D2 dalam Agglomerative Hierarchical Clustering sebagai dasar segmentasi produk di Galeri Ulos Sianipar Medan. Sebanyak 161 produk dianalisis menggunakan atribut harga jual, jumlah terjual, frekuensi transaksi, dan stok akhir. Perbedaan skala atribut ditangani melalui standardisasi Z-score, sedangkan kedekatan antarproduk dihitung menggunakan Euclidean Distance. Keempat metode linkage diterapkan untuk membentuk tiga klaster dan dievaluasi berdasarkan Silhouette Score, Davies-Bouldin Index, distribusi anggota, serta kemudahan interpretasi bisnis. Single Linkage menghasilkan Silhouette Score sebesar 0,556650 dan Davies-Bouldin Index sebesar 0,286346, tetapi membentuk distribusi yang sangat timpang, yaitu 1-2-158. Average Linkage dan Complete Linkage juga menghasilkan satu klaster dominan dengan distribusi masing-masing 1-147-13 dan 21-119-21. Ward.D2 memperoleh Silhouette Score sebesar 0,401513 dan Davies-Bouldin Index sebesar 0,799404, tetapi menghasilkan distribusi yang lebih proporsional, yaitu 21, 82, dan 58 produk. Dengan mempertimbangkan keseimbangan anggota, kejelasan centroid, dan relevansi hasil bagi pengambilan keputusan, Ward.D2 ditetapkan sebagai model operasional yang paling sesuai. Klaster yang terbentuk merepresentasikan produk ekonomis berperputaran cepat, produk reguler potensial, dan produk premium dengan penjualan selektif. Segmentasi tersebut mendukung pengendalian persediaan dan bundling, penguatan promosi digital dan edukasi produk, serta pemasaran premium melalui personal selling dan sistem pre-order.