ABSTRACTThe Sangkulirang–Mangkalihat Karst in East Kalimantan represents one of the largest karst landscapes in Southeast Asia, characterized by complex carbonate formations, extensive cave systems, and significant ecological and archaeological values. The sustainability of this karst system is not only controlled by its carbonate lithology but also strongly influenced by the surrounding buffer landscape, which functions as a recharge area regulating hydrological processes. This study aims to analyze the spatiotemporal dynamics of forest cover within the karst buffer landscape during the period 1990–2020 and to evaluate its implications for karst management. The analysis was conducted using multitemporal Landsat imagery processed through the Google Earth Engine (GEE) platform, including cloud masking, median composite generation, and Normalized Difference Moisture Index (NDMI)–based classification. Forest cover was identified using a NDMI derived from near-infrared (NIR) and shortwave infrared (SWIR) bands, and spatial extent was calculated for each observation year. The results indicate that forest cover experienced significant fluctuations over the study period. Forest area decreased from 438,259 ha in 1990 to 419,807 ha in 1995 and reached its lowest extent of 181,608 ha in 2000, indicating a period of intensive deforestation. Subsequently, forest cover gradually recovered to 330,405 ha in 2005, remained relatively stable at 313,495 ha in 2010, and increased to 354,042 ha in 2015 and 445,208 ha in 2020, surpassing its initial condition. Spatial analysis reveals that forest loss was predominantly concentrated in non-karst areas located in the southern and southeastern parts of the study area, which are characterized by sedimentary lithology, gentler morphology, and higher accessibility. In contrast, forest cover within carbonate karst areas remained relatively stable due to steep topography, high permeability, and limited land-use suitability. These findings highlight the critical role of buffer landscapes in maintaining karst system stability, particularly in regulating infiltration processes and protecting hydrological balance. The study emphasizes that effective karst management should adopt an integrated landscape approach that includes both core karst zones and surrounding buffer areas. This is consistent with the designation of the Sangkulirang–Mangkalihat region as geological heritage under Ministerial Decree No. 187.K/GL.01/MEM.G/2024, which provides a regulatory framework for sustainable karst conservation and geopark development.Keywords: Sangkulirang Karst, forest cover change, buffer landscape, Google Earth Engine, karst management ABSTRAKKawasan Karst Sangkulirang–Mangkalihat di Kalimantan Timur merupakan salah satu bentang alam karst terbesar di Asia Tenggara yang memiliki kompleksitas geologi tinggi, sistem gua yang luas, serta nilai ekologis dan arkeologis yang penting. Keberlanjutan sistem karst tidak hanya ditentukan oleh litologi karbonat, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lanskap penyangga yang berfungsi sebagai daerah imbuhan air dan pengontrol proses hidrologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika spasial dan temporal tutupan hutan pada lanskap penyangga karst selama periode 1990–2020 serta implikasinya terhadap pengelolaan kawasan karst. Analisis dilakukan menggunakan citra Landsat multitemporal berbasis Google Earth Engine (GEE) melalui tahapan masking awan, komposit median, dan klasifikasi berbasis Normalized Difference Moisture Index (NDMI). Identifikasi tutupan hutan dilakukan menggunakan NDMI yang sensitif terhadap kandungan air berbasis kanal near-infrared (NIR) dan shortwave infrared (SWIR), kemudian luas tutupan hutan dihitung untuk setiap periode pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutupan hutan mengalami dinamika fluktuatif selama periode pengamatan. Luas hutan menurun dari 438.259 ha pada tahun 1990 menjadi 419.807 ha pada tahun 1995, dan mencapai titik terendah sebesar 181.608 ha pada tahun 2000 yang mencerminkan fase deforestasi intensif. Setelah periode tersebut, tutupan hutan mengalami pemulihan bertahap hingga mencapai 330.405 ha pada tahun 2005, relatif stabil pada 313.495 ha pada tahun 2010, dan meningkat menjadi 354.042 ha pada tahun 2015 serta 445.208 ha pada tahun 2020 melampaui kondisi awal. Analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan tutupan hutan lebih dominan terjadi pada wilayah non-karbonat di bagian selatan dan tenggara yang memiliki morfologi lebih landai dan aksesibilitas tinggi. Sebaliknya, kawasan karst berbatuan karbonat menunjukkan tutupan hutan yang relatif stabil akibat topografi terjal dan keterbatasan pemanfaatan lahan. Temuan ini menegaskan bahwa lanskap penyangga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sistem karst, terutama dalam mengontrol proses infiltrasi dan keseimbangan hidrologi. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan karst perlu dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan keterkaitan antara zona inti karst dan lanskap penyangganya. Hal ini sejalan dengan penetapan kawasan sebagai warisan geologi melalui Kepmen ESDM No. 187.K/GL.01/MEM.G/2024 yang menjadi dasar dalam pengelolaan karst secara berkelanjutan.Kata Kunci : Karst Sangkulirang, tutupan hutan, lanskap penyangga, Google Earth Engine, pengelolaan karst