cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
Methionin Sulfoxide Reduktasi (Msr) Fungsi, Regulasi, dan Ekspresi Pada Staphylococcus aureus serta Kerentanan Staphylococcus aureus Tipe Wild dan Mutan Msr terhadap Oksidan Nunung Nurjanah; Imam Adi Wicaksana
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.104 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10857

Abstract

Metionin sulfoksida reduktase (Msr) merupakan gen yang terdapat dalam kromosom Staphylococcus aureus  terdiri dari 3 gen MsrA (A1, A2, A3) dan 1 gen MsrB. Msr memiliki fungsi yaitu sebagai enzim yang dapat mengembalikan fungsi protein yang terganggu akibat kerusakan yang disebabkan oleh ROS. Cell-wall active antibiotic dapat meningkatkan sintesis dua metionin sulfoksida reduktase (MsrA1 dan MsrB) pada S.aureus. Metode yang digunakan dalam pengambilan data-data untuk review kali ini yaitu pencarian melalui internet, menggunakan database elektronik PubMed dengan beberapa kata kunci yang berkaitan dengan Methionine Sulfoxide Reductase. Jurnal yang digunakan merupakan jurnal periode 10 tahun terakhir. Hasil dari review artikel kali ini dapat disimpulkan bahwa Msr jelas berperan penting dalam memperbaiki kerusakan protein dan memperbaiki stress oksidatif pada S. aureus yang disebabkan oleh ROS (reactive oxygen species) . Selain itu, oksasilin dengan konsentrasi tinggi dapat menginduksi lokus MsrA1/MsrB pada S. aureus. kemudain kerkurangan Msr dapat meningkatkan Sintesis MsrB juga meingkatkan kerentanan S. aureus terhadap oksidan.Kata Kunci: Metionin sulfoksida reductase, Staphylococcus aureus, ROS, Oksasilin.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI HERBAL TERHADAP SHIGELLOSIS (Shigella dysenteriae) SHEILA FRIZQIA JELITA; Yoga Windhu Wardhana; Anis Yohana Chaerunisaa
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.736 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.22028

Abstract

ABSTRAKObat tradisional dengan bahan dasar tanaman telah digunakan sejak lama secara turun temurun di berbagai negara di dunia. Berbagai penelitian telah menunjukkan aktivitas dan mekanisme kerja tanaman-tanaman tertentu dalam melawan patogen yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia Shigellosis merupakan salah satu jenis infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Shigella dysenteriae dan berlokasi di usus. Kasus resistensi terhadap antibiotik juga telah terjadi pada S. dysenteriae, sulfonamid merupakan salah satu dari antibiotik tersebut. Oleh karena itu, pengembangan dan penelitian terkait pengobatan alternatif dengan bahan dasar tanaman sebagai penghambat pertumbuhan bakteri S. dysenteriae dapat menjadi suatu solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri dari tanaman terhadap S. dysenteriae sebanding dengan antibiotik konvensional, bahkan secara sinergis dapat meningkatkan aktivitas antibiotik konvensional. Maka, penelitian terkait penggunaan bahan alam sebagai antibakteri diharapkan dapat mewujudkan pengobatan yang lebih efektif, efisien, dan aman dalam dunia farmasi.ABSTRACTTraditional medicines with plant based ingredients have been used for a long time for generations in various countries in the world. Numerous studies have shown the activity and mechanism of action of certain plants against pathogens that can cause infection in humans. Shigellosis is one type of acute infection caused by the bacterium Shigella dysenteriae and is located in the intestine. Cases of antibiotic resistance have also occurred in S. dysenteriae, sulfonamide is one of the antibiotics. Therefore, the development and research related to alternative medicine with plant based ingredients as inhibitors of S. dysenteriae's growth can be a solution to solve this problem. In addition, several studies have shown that the antibacterial activity of plants against S. dysenteriae is comparable to conventional antibiotics, even synergistically increase conventional antibiotic activity. Hence, researches related to the use of natural ingredients as an antibacterial agent is expected to be able to objectify a more effective, efficient and safe treatment in the pharmaceutical world.
Review Artikel :KANDUNGAN SENYAWA KIMIA DAN BIOAKTIVITAS Ocimum Basilicum L. Salsabila Zahra; Yoppi Iskandar
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.441 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.13770

Abstract

Ocimum basilicum L. merupakan spesies dari famili Lamiaceae yang tersebar di berbagai negara tropis salah satunya Indonesia. Secara empiris, khasiat yang dimiliki beragam. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan dan skrinning data yang memiliki kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil yang diperoleh yaitu berbagai informasi mengenai senyawa kimia yang terkandung serta bioaktivitas yang dilaporkan baik secara in silico, in vitro maupun in vivo. Aktivitas farmakologi yang ditimbulkan diantaranya analgesik, sedatif, anti-inflamasi, antioksidan, anti-aging, antimikroba, antifungi dan antivirus diakibatkan oleh senyawa eugenol, linalool, β-Caryophyllene dan senyawa minyak atsiri lainnya. Disarankan dilakukannya penelitian lebih lanjut untuk memperoleh produk fitofarmaka.Kata kunci     : Ocimum basilicum L., kemangi, minyak atsiri, bioaktivitas
REVIEW JURNAL: INTERAKSI WARFARIN DAN HERBAL UNTUK MEMINIMALKAN KEJADIAN ADVERSE DRUG REACTION (ADR) SITI UTAMI RAHMAYANTI
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.454 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17528

Abstract

Warfarin merupakan antikoagulan oral yang paling sering digunakan untuk menangani penyakit terkait tromboembolisme. Warfarin merupakan obat dengan karakteristik indeks terapeutik sempit. Obat herbal dan makanan paling banyak disebut sebagai penyebab utama kejadian Adverse drug reaction (ADR) pada terapi dengan warfarin. Review ini dilakukan untuk mengidentifikasi interaksi antara warfarin dengan beberapa herbal yang umum digunakan oleh masyarakat sebagai upaya untuk meminimalkan kejadian ADR pada terapi warfarin. Hasilnya, terdapat tujuh herbal yang diidentifikasi mengenai interaksinya dengan warfarin pada artikel ini. Terdapat satu herbal yang dikategorikan Level I (highly probable) yaitu St John’s Worth, dua herbal dalam kategori Level II (probable) yaitu Danshen dan Soya, dua herbal dalam kategori Level III (Possible) yaitu Ginseng dan Bawang putih dan dua herbal lain dalam kategori Level IV (Doubtful) yaitu Jahe dan Teh hijau. Herbal yang diidentifikasi memiliki range keparahan major hingga moderate. Sebaiknya, herbal dalam kategori level I dan II terutama yang memiliki tingkat keparahan major dan moderate dihindari penggunaanya bersama dengan warfarin sedangkan herbal pada level III dan IV sebaiknya dilakukan monitoring secara dekat terhadap nilai INR.Kata kunci: Warfarin, herbal, ADR.
PENGARUH PENAMBAHAN TWEEN 80 SEBAGAI ENHANCER DALAM SEDIAAN TRANSDERMAL BETHARY KESUMAWARDHANY; SORAYA RATNAWULAN MITA
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.397 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.9293

Abstract

Penghantaran obat secara transdermal merupakan metode efektif untuk distribusi obat secara sistemik. Peningkatan permeasi dapat dilakukan secara kimia dengan penambahan enhancer yang aman dan tidak iritatif yaitu golongan surfaktan nonionik contohnya tween 80. Tween 80 sebagai enhancer dapat meningkatkan absorpsi dengan menginduksi fluidisasi lipid pada stratum korneum sehingga permeasi obat meningkat. Permeasi obat diuji melalui uji in vitro pada membran kulit hewan uji dengan metode difusi sel menggunakan dapar fosfat dan uji konsentrasi sediaan dengan spektrofotometer atau kromatografi. Tween 80 dinyatakan sebagai enhancer yang efektif pada sediaan gel yang mengandung berbagai zat aktif, namun tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada sediaan patch.
KARAKTERISTIK MORFOLOGI TANAMAN KENCUR dan AKTIVITAS FARMAKOLOGI (Kaempferia galanga L.) Review SOLEH SOLEH SOLEH; Sandra Megantara
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2494.014 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22089

Abstract

ABSTRAKKencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu tanaman Indonesia yang memiliki khasiat obat. Bahan herbal yang memiliki khasiat obat dianggap lebih aman, lebih efektif, dan memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan bahan kimia. Terdapat senyawa yang terkandung didalam kencur hasil isolasi diantaranya Ethyl Cinnamate 65,98 %, Ethyl p-methoxycinnamate 23,65%, (+)-3-Carene 3,42%, Beta-Pinene 2,09%, Camphene 1,67%, Hexadecane 1,61%, Alpha-Pinene 0,71%, Myrcene 0,50%, 1-Limonene 0,37%. Pada beberapa penelitian menunjukan bahwa kencur memiliki aktivitas seperti Antijamur, Antiinflamasi, dan Antibakteri. Hal ini membuktikan bahwa tanaman herbal seperti kencur memiliki berbagai manfaat.  Kata Kunci : Kaempferia galanga L., Fitokimia, Aktivitas Farmakologi 
BIOMARKER miRNA-146a SEBAGAI DETEKSI DINI YANG EFEKTIF UNTUK ALZHEIMER Hidayatun Nisa; Rano Kurnia Sinuraya
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.749 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13227

Abstract

AbstrakAngka kejadian Alzheimer terus meningkat dari tahun ke tahun dan diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat setiap 20 tahun. Pemerintah Indonesia terus berusaha untuk menurunkan angka kejadian Alzheimer, salah satunya dengan melakukan pendeteksian. Akan tetapi pendeteksian alzheimer saat ini masih terbatas karena tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang rendah. Untuk itu dicari metode pendeteksian yang terbaik di berbagai literature. Deteksi dini dapat dilakukan dengan pemeriksaan serum darah menggunakan penanda biologi (biomarker). Penelitian mengenai biomarker menunjukkan efektivitas dan efisiensi yang cukup baik dalam pendeteksian dini alzheimer. Biomarker yang dapat digunakan yaitu N-acetyl aspartate acid (NAA), Serum α1 – antikimotripsin (ACT), β-Amyloid, Tau-protein, dan miRNA-146a. Biomarker miRNA-146a dinilai memiliki potensi untuk digunakan karena memiliki sensitivitas 90% dan spesifisitas 100%.Kata kunci: Alzheimer,  Deteksi Dini, Biomarker, miRNA-146a
AKTIVITAS FARMAKOLOGI EKSTRAK ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) Trie Oktaviani; Sandra Megantara
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.668 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17500

Abstract

Tumbuhan telah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai obat sejak ratusan tahun yang lalu. Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) merupakan tumbuhan keluarga Malvaceae yang telah lama digunakan sebagai sumber makanan dan pengobatan alternatif. Tujuan dilakukan review adalah untuk mengetahui aktivitas farmakologi dari tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L.) yang diharapkan dapat dijadikan pengobatan alternatif untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Beberapa aktivitas farmakologi rosella (Hibiscus sabdariffa L.) yang telah banyak diteliti adalah antioksidan, antibakteri, anti hipertensi, anti hyperlipidemia, anti diabetes, antinociceptive dan antiinflamasi.
Literature Review:Inovasi Terapi Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) Menggunakan Targeted Drug Therapy Gen CYP19 rs2414096 ELLENA MAGGYVIN; Melisa Intan Barliana
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3194.77 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.20829

Abstract

Latar belakang: Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah kelainan endokrin yang berdampak pada sistem reproduksi wanita. Wanita dengan penyakit PCOS memiliki risiko infertilitas yang tinggi. Terapi yang saat ini digunakan berupa terapi hormon, laparoscopic ovarian drilling, dan in-vitro fertilization. Akan tetapi, ketiga terapi tersebut terfokus pada terapi simptomatis dan kurang efektif dalam mengatasi infertilitas terkait PCOS.Metode: Penulisan secara literature review dengan mencari jurnal-jurnal relevan yang berkaitan dengan PCOS pada Google Scholar, Pubmed, Medline, Biomed Central, NCBI, dengan kata kunci seperti polysystic ovary syndrome, infertility,dan gene therapy untuk pengobatan PCOS berbasis gen.Hasil dan Pembahasan: Terapi yang lebih sensitif, spesifik, dan akurat dibutuhkan dalam penanganan infertilitas terkait PCOS. Targeted drug therapy gen CYP19 rs2414096 merupakan inovasi terapi yang sensitif, spesifik, dan akurat pada penderita PCOS. Gen CYP19 bertanggung jawab terhadap sintesis enzim aromatase yang berkaitan erat dengan tingkat hormon androgen. Abnormalitas pada gen CYP19 menyebabkan kegagalan sintesis enzim aromatase, berdampak pada penyakit PCOS dan infertilitas. Prinsip dari targeted drug therapy gen CYP19 rs2414096 adalah memperbaiki gen CYP19 abnormal pada rs2414096 dengan menyisipkan urutan basa normal DNA gen CYP19 dalam vektor adenovirus yang bekerja spesifik terhadap target gen CYP19 pada ovarium.Simpulan: Inovasi targeted drug therapy gen CYP19 rs2414096 diharapkan dapat menjadi terapi yang sensitif, spesifik, dan akurat dalam pengobatan PCOS serta mencegah infertilitas penderita PCOS.               Kata kunci: Infertilitas, Gen CYP19 rs2414096, PCOS, Targeted Drug Therapy
Pelayanan Informasi Obat yang Efektif dari Beberapa Negara untuk Meningkatkan Pelayanan Farmasi Klinik : Review Larasati Amaranggana
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.718 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12590

Abstract

Pelayanan informasi obat merupakan salah satu tugas pelayanan farmasi klinik yang sangat disarankan untuk dilakukan karena termasuk ke dalam standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit berdasarkan Permenkes RI No. 58 tahun 2014. Selain itu, salah satu target kebijakan stratergis (Kesra) Kementerian Kesehatan dari tahun 2010-2014 adalah terlaksananya pelayanan kefarmasian sesuai standar. Beragam strategi sudah dicanangkan oleh pemerintah guna meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit. Sayangnya, data hasil monitoring dan evaluasi tahun 2013 menunjukkan bahwa baru sekitar 14% Rumah Sakit yang dimonitoring telah melakukan Pelayanan Informasi Obat (PIO) yang sesuai, 42% Rumah Sakit yang baru sebagian menerapkan PIO, dan sekitar 44% Rumah Sakit belum menerapkan PIO. Review ini bertujuan untuk memaparkan kondisi pelayanan kefarmasian terutama dalam bidang pelayanan informasi obat di berbagai negara guna memberikan solusi PIO yang efektif untuk diterapkan di Indonesia.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue