cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
ISSN : 14103680     EISSN : 25411233     DOI : -
Core Subject : Engineering,
MIPI, Majalah ilmiah Pengkajian Industri adalah wadah informasi bidang pengkajian Industri berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait dalam bidang industri teknologi proses rekayasa manufaktur, industri teknologi transportasi dan kelautan, serta industri teknologi hankam dan material. Terbit pertama kali pada tahun 1996 frekuensi terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. MIPI diterbitkan oleh Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa-BPPT
Arjuna Subject : -
Articles 601 Documents
Metode Perhitungan Satuan Unit Produksi (SUP) dan Indeks Konversi -, Yulianta
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 2 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : Deputi TIRBR-BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2604.531 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v8i2.3648

Abstract

Kebijakan tarif jasa angkutan Angkutan Sungai, Danau dan Penyebrangan (ASDP) harus diterapkan secara proporsional dan seadil-adilnya kepada setiap muatan berupa penumpang maupun kendaraan dan barang yang ada di atasnya. Prinsipnya adalah semakin banyak sebuah muatan menggunakan sumberdaya maka akan semakin tinggi charge yang dikenakan. Indeks konversi yang dijadikan dasar perhitungan tarif perlu dikaji ulang setelah berlangsung lebih dari 10 tahun. Hal ini dilakukan karena adanya perubahan dimensi kendaraan yang berpengaruh terhadap penerapan tarif. Selain itu sistem tarif dan satuan yang dipakai di ASDP berbeda dari moda angkutan lain yang berlaku di dunia jasa angkutan. Untuk itu agar selaras perlu dilakukan dasar perhitungan dengan metode yang baru. Penyusunan indeks konversi untuk perhitungan tarif ini dilakukan dengan menganalisis hasil pengumpulan data pengukuran fisik langsung terhadap dimensi/ukuran kapal dan fasilitas untuk penumpang serta muatan berupa penumpang dan kendaraan didukung dengan data sekunder terkait. Dari analisis data dihasilkan perhitungan Satuan Unit Poduksi (SUP) penumpang dewasa kelas ekonomi sebagai SUP ‘dasar’ yang bernilai indeks 1 (satu) dalam satuan kubik (m3). Muatan berupa kendaraan berdasar dimensi/ukuran masing-masing diformulasikan kemudian dikonversikan terhadap SUP ‘dasar’ tersebut guna memperoleh besaran SUP masing-masing. Hasilnya dari kendaraan terkecil golongan I besaran SUPnya = 2,36 hingga kendaraan golongan IX dengan besaran SUP = 171,68 (kosong) dan 289,77 (isi). Indeks konversi dengan metode ini bisa mengurangi sisi lemah dari metode sebelumnya sekaligus bisa selaras dengan sistem tarif yang lazim diterapkan pada dunia jasa pengangkutan oleh perusahaan- perusahaan multinasional.Kata kunci : Satuan Unit Produksi (SUP), Indeks Konversi, TarifAbstractASDP freight tariff policy should be applied proportionately and fairly as possible to each passenger and a cargo vehicle and the items on it . The principle is that the more a resource loads using the higher charge will apply. The conversion Index that is used as the basis for calculating tarifhas to be reviewed the last more than 10 years. This is because of vehicle dimension charge that effects tarif. In addition to the tariff system and the unit used in ASDP different from other transport modes prevailing in world freight services. For that to be done in harmony with the basic calculation that the new method. Indexing the conversion rate for the calculation is done by analyzing the results of a direct physical measurement data collection on dimensions/sizes of ships and facilities for passengers and cargo in the form of passengers and vehicles powered by the relevant secondary data . From the analysis of the data calculation generated production Unit (SUP), adult passengers in economy class as SUP 'base' value- index 1 (one) in a cubic unit (m3). A charge based on vehicle dimensions/size of each of them later converted to SUP 'base' in order to obtain the magnitude of SUP, respectively. The results of the smallest vehicle class I have SUP of 2.36 to vehicle classes IX to scale SUP of 171.68(empty) and 289.77 (loaded) . Conversion index with this method can reduce the weak side of the previous methods could well aligned with a common tariff system applied to the world's transportation services by multinational corporationsKey Words : Production Unit, conversion index, Tariff
FENOMENA TERJADINYA KERUSAKAN PADA MATERIAL BATANG PISTON nusa, setia
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.188 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v10i3.1636

Abstract

Fenomena terjadinya kerusakan pada material batang piston, tulisan ini membahas tentang batang piston atau connecting rod sebagai batang penyambung berfungsi untuk memindahkan gaya yang mendorong piston, pada mesin yang mengubah gerak vertikal/horizontal dari piston menjadi gerak rotasi (putaran). Terjadi kerusakan dan pecah pada area bushing dan patah pada batang connecting rod. Dilakukan penelitian untuk mengetahui penyebab kerusakan tersebut dengan metode fractography, metalography, uji kekerasan dan uji komposisi kimia dan secara visual. Ditemukan indikasi kerusakan berawal pada dearah bushing dengan awal retak (initial crack) dan penjalaran retak (crack propagation) juga beberapa retak rambut, ini bentuk patah fatik dan menyebabkan patah pada batang connecting rod dengan ciri patah ulet (ductile fracture). Patah fatik akibat dari benturan halus yang berlangsung beberapa lama akibat dari rongga bushing yang longgar karena kurangnya pelumasan atau pelumasan yang kurang sempurna. Kata kunci : Connecting Rod ? Pelumasan ? Longgar ? Retak ? Pecah
PEMANFAATAN PURE PLANT OIL (PPO) DARI KELAPA SAWIT UNTUK MENGURANGI KONSUMSI BAHAN BAKAR SOLAR DI PLTD TALANG PADANG Priyanto, Unggul; Prasetyo, Dwi Husodo; Rosyadi, Erlan; Murti, Galuh Wirama; Hastuti, Zulaicha Dwi; Syaftika, Novi
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 3 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.646 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v13i3.3746

Abstract

Minyak nabati murni (Pure Plant Oil / PPO) dari kelapa sawit dapat digunakan sebagai subtitusi bahan bakar solar pada mesin diesel. PPO dapat digunakan dengan mencampurkannya dengan solar, sehingga mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan. Akan tetapi, bahan bakar campuran PPO juga memiliki sisi negatif seperti Specific Fuel Consumption (SFC) yang tinggi, viskositas tinggi, nilai kalor yang rendah, dan emisi NOx yang cenderung sedikit lebih tinggi. Dalam studi ini berbagai campuran PPO dan solar diuji di PLTD. Hasilnya menunjukkan bahwa PPO sebaiknya digunakan dengan campuran solar dan proses pre-heating dilakukan sebelum masuk ke mesin. Penggunaan PPO juga teruji sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan, kandungan sulfur yang rendah, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca yang rendah. Agar PPO dapat digunakan pada mesin diesel, maka perlu beberapa perubahan seperti modifikasi mesin seperti pre-heating PPO, modifikasi sistem injektor, dual fuelling, dan blending PPO dengan solar. Kata kunci : biofuel, PPO, kelapa sawit, PLTD, performa mesin diesel
ANALYSIS OF DENICKELIFICATION PHENOMENON ON HEAT EXCHANGER TUBE Suhadi, Amin; Febriyanti, Eka; Sari, Laili Novita
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1266.83 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v12i2.2955

Abstract

DeNickelification is common phenomenon which occurs for alloy metal containing sufficient amounts of Nickel when it is exposed at high temperature in long time periode. One of component which is made of alloy metal containing Nickel is heat exchangers tube.  Heat exchanger is a part of processing unit that use for transfering heat from hot fluid to colder fluid through the combined mechanisms of conduction and convection.  When the heat exchanger leaks, all of the processing system could be affected.  In this research a leakage heat exchanger tube is investigated by failure analysis methods to find the root cause of failure.  Several tests and examinations such as fractography, metallography examinations, SEM and EDS, hardnes as well as chemical compositions test are carried out to this tube to obtain detailed information for further analysis.Result of this reseach shows that some Cu residue, Ni, aggressive/corrosive ion such as Cl- and S2- at the leak area of heat exchanger tube is found.  These evidences indicated that denickelification was occurred on inner surface of heat exchanger tube caused by potential difference between Ni2+ion and Cu2+ ion to form a galvanic cell.  Furthermore, since the tube is flown by fluid material which contains aggressive / corrosive ions such as Cl- ion and S2- then pitting corrosion on inner surface of tube is formed. This mechanism had been taken place continuously during operation of heat exchanger and pitting corrosion keep growing until the tube leaks.
KAJIAN TEKNOLOGI PROSES PEMBUATAN GAS SINTETIK DARI BATUBARA DAN PROSPEK PEMANFAATAN PADA INDUSTRI HILIRNYA = TECHNOLOGY REVIEW PROCESS OF SYNTHETIC GAS FROM COAL UTILIZATION AND PROSPECT IN DOWNSTREAM INDUSTRIES Harahap, Muslim Efendi; Tjahjono, Endro Wahju
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.203 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v10i1.104

Abstract

AbstractPotential coal reserves in Indonesia are very abundant, but which became the key issue is the utilization in Indonesia is still not optimal. One alternative to use the coal is by converting it into synthetic gas (syngas), containing primarily hydrogen (H2) and Carbon Monoxide (CO). To create synthetic gas from coal there are 4 kinds of process technology known in the world, i.e. Fixed-bed gasifier, Fluidized-bed gasifier, Entrained-bed gasifier and Molten bath gasifier. There are 3 types of chemical industry to take advantage of this synthetic gas as an alternative of their raw materials i.e., methanol, formic acid and ammonia industry. Currently they use natural gas as raw material. The more widespread use of natural gas for a variety of needs can disrupt the natural gas supply for these industries in the future. Therefore, this synthetic gas can be used as an alternative of raw material supply for these three types of chemical industry in the future. AbstrakPotensi cadangan batubara di Indonesia sangat melimpah, namun yang menjadi isu utama adalah pemanfaatannya di Indonesia masih belum optimal. Salah satu alternatif pemanfaatan batubara tersebut adalah dengan mengkonversi batubara tersebut menjadi gas sintetik (syngas) yang kandungan utamanya adalah Hidrogen (H2) dan Karbon Monoksida (CO). Untuk membuat gas sintetik dari batubara ini ada 4 macam teknologi proses yang telah dikenal di dunia yaitu Fixed-bed gasifier, Fluidized-bed gasifier, Entrained-bed gasifier dan Molten bath gasifier. Ada 3 jenis industri kimia yang dapat memanfaatkan gas sintetik ini sebagai alternatif bahan bakunya yaitu industri metanol, industri asam formiat dan industri amonia. Saat ini mereka menggunakan gas alam sebagai bahan bakunya. Semakin meluasnya penggunaan gas alam untuk berbagai macam kebutuhan dapat menyebabkan pasokan gas alam untuk ketiga jenis industri ini terganggu di kemudian hari. Oleh karena itu gas sintetik ini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pasokan bahan baku untuk ketiga jenis industri kimia tersebut kedepannya.
Peluang Energi terbarukan di Industri Pemanfaatan Termal Surya Pada Proses Pengeringan Kayu Silaban, Mawardi
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 7 No. 1 (2013): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : Deputi TIRBR-BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.553 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v7i1.3639

Abstract

Konsep perpindahan Massa dan panas dalam suatu sistem memberikan pendekatan mendasar untuk memperkirakan efisiensi termal sistem pengeringan kayu energi surya. Efisiensi termal sendiri didefinisikan sebagai rasio panas teoritis dan aktual yang diperlukan selama proses pengeringan. Perhitungan panas didasarkan pada jumlah energi yang diserap oleh sistem. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa efisiensi termal yang dapat dicapai dengan sistem pengeringan kayu energi surya pada kondisi ini dijelaskan dalam makalah ini adalah 17,1% dengan rasio 25,2%.Kata kunci : Pengeringan Kayu, Efisiensi Termal, Energi Surya, KolektorAbstractMass and heat transfer concept in a system provide a fundamental approach for estimating thermal efficiency of solar energy wood drying system. The thermal efficiency itself is defined as ratio of theoretical and actual heat required during drying process. Heat calculation was based on amount of energy absorbed by the system. The calculation result showed that the thermal efficiency that could be achieved by this solar energy wood drying system at this condition described in this paper is 17.1% with the ratio of 25.2%.Keywords : Wood Dryer, Thermal Efficiency, Solar Energy, Collector
PROSES PINTAS PENGOLAHAN KAKAO SKALA UKM STUDI KASUS DI LUWU SUL-SEL Tri Yoga Wibawa, Himawan Adinegoro, Lamhot P. Manalu, M. Yusuf Djafar,
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.37 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v11i1.2093

Abstract

UKM pengolahan kakao yang ada di Indonesia umumnya mempunyaipermasalahan yang sama antara lain peralatan yang kapasitasnya rendah,permodalan, bahan baku (biji kakao) yang sedikit serta akses informasi daninovasi. Kapasitas peralatan pengolahan produk antara kakao yang menghasilkanlemak dan bubuk kakao sangat kecil sehingga tidak efisien dan sulit untukmendapatkan keuntungan. Oleh karena itu kajian ini dilakukan untuk mempelajarikinerja peralatan pengolahan kakao agar proses pengolahan dapat dioptimalkandan lebih efisien. Kajian ini dilakukan di sebuah UKM di Kabupaten Luwu SulawesiSelatan dengan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan sentra kakao danperalatan pengolahan yang digunakan sama atau sejenis dengan lokasi lain diIndonesia. Hasil studi ini menyimpulkan antara lain bahwa dengan kapasitaspengolahan saat ini produk maksimal yang dapat dicapai adalah sekitar 5 kg bubukdan 3 kg lemak kakao per hari atau sekitar 100 kg bubuk dan 60 kg lemak dalamsatu bulan, dimana 95% dari tenaga yang dibutuhkan dihabiskan untuk alatkoncing atau proses pembubukan. Untuk mengoptimalkan kapasitas produksi danmeminimalkan penggunaan energi maka disarankan bahwa pengolahan kakaodibatasi hanya sampai pada produk pasta dimana dapat dihasilkan 200 kg pastaper hari atau 4 ton per bulan.
PEMODELAN RUAS JALAN TUNGGAL DENGAN DIAGRAM FUNDAMENTAL TRIANGULAR EQUILIBRIUM Harjono, Mulyadi Sinung; Utomo, Djoko Prijo
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1044.352 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v13i2.3472

Abstract

Paper ini memodelkan ruas jalan tunggal untuk kondisi lalu lintas kendaraan makroskopik pada ruas jalan tunggal berdasarkan diagram-fundamental-triangular-equilibrium (DFTe) dengan hybrid ? Petri nets. Integrasi DFTe ke dalam model HPN dilakukan dengan memodelkan 1). infrastruktur ruas jalan menggunakan struktur dinamis jaringan HPN, 2). dinamika jumlah kendaraan pada titik keluar ruas jalan saat steady-state dengan parameter kecepatan firing internal ?. Kondisi lalu lintas kendaraan pada ruas jalan tunggal ditunjukkan oleh evolusi aliran arus dan evolusi token saat steady-state. DFTe diperoleh dari kumpulan berbagai kondisi lalu lintas kendaraan steady-state pada ruas jalan tertentu. Non-linearitas DFTe dimodelkan dengan sinkronisasi transition HPN menggunakan minimum-operator. Paper ini menghasilkan pemodelan baru DFTe menggunakan timed HPN dengan infinite-server-semantics untuk diterapkan pada ruas jalan tunggal. Pemodelan baru DFTe untuk ruas jalan tunggal terbukti lebih baik, karena dapat menunjukkan kondisi lalu lintas arus bebas, arus stabil dan arus tertahan.
ANODA PB DAN GEL ELEKTROLIT UNTUK PROPULSI KAPAL SELAM Saputra, Hens; Rosjidi, Mochamad; Ghofar, Abdul; Tandirerung, Murbantan; Ismail, Mochammad; Islam Nurwantoro, Dorit Bayu
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v11i2.946

Abstract

Battery is the most important component in the sub marine energy system. Up to now, majority of the sub marine are still using lead acid battery as the power source or propulsion, due to more safe in application as very high capacity of single cell (i.e. 10.000 ? 15.000 Ah). The drawbacks of aqueous based battery, which utilize liquid electrolyte, are because of having produced the hydrogen gas during charging process, in which it caused the electrolyte solution to become  dry and reduced the performance of battery. In addition that the hydrogen gas generated in the sub marine was dangerous. Therefore, the aim of  this research is how to reduce or eliminate of those drawbacks by modifying kind of the liquid electrolyte by using gel electrolyte. The gel electrolyte was synthesized to reduce the evaporation of electrolyte and to avoid the leaking when submarine maneuver.  The gel electrolyte  was made by using inorganic nanoporous MCM-41. It was synthesized by hydrothermal method, using Tetraethylortosilicate (TEOS) as silica sources, Cethyltrimethylammonium bromide (CTAB) as organic template and H2SO4 as catalyst. The MCM-41 lead acid battery gave a result of  OCV ca. 2,1 V.
OPTIMASI PROSES EPOKSIDASI ASAM OLEAT PADA SCALING UP SINTESIS ASAM 9,10-DIHIDROKSI STEARAT (DHSA) BENCH SCALE Maisaroh, Maisaroh
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.641 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v12i1.2616

Abstract

Sintesis asam 9,10-dihidroksi stearat (DHSA) dari asam oleat terepoksidasi merupakan salah satu upaya yang akan meningkatkan penggunaan, diversifikasi dan nilai tambah minyak kelapa sawit. Scaling up proses epoksidasi asam oleat dari skala laboratorium ke bench scale (kapasitas 5 L) terjadi perubahan volume dan geometri dari peralatan yang akan mempengaruhi proses epoksidasi itu sendiri sehingga perlu dilakukan observasi terhadap parameter-parameter yang akan digunakan dalam basic dan engineering design. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan scaling up proses konsistensi dari skala laboratorium ke bench scale (kap. 5 L) epoksidasi asam oleat sebagai produk antara sintesis DHSA dalam pengembangan produk turunan kelapa sawit yang akan digunakan sebagai bahan kosmetik. Scaling Up epoksidasi asam oleat dengan asam performat yang dibentuk secara in situ dilakukan menggunakan reaktor 5 liter dengan perbandingan mol asam oleat : asam format : hidrogen peroksida 50% = 1 : 1,25 : 6. Produk epoksidasi ini akan dilanjutkan untuk dihidroksilasi pada sintesis DHSA sebagai bahan kosmetik.

Filter by Year

2013 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 3 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajain Industri Vol. 16 No. 2 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajain Industri Vol. 16 No. 1 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 15 No. 2 (2021): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 15 No. 1 (2021): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 3 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 2 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 14, No 1 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 1 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 13 No. 3 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 3 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 13 No. 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 13 No. 1 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 1 (2019): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol 12, No 3 (2018): VOL 12, NO 3 (2018): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 12 No. 3 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 3 (2018): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol 12, No 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 12 No. 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 12 No. 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 11 No. 3 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 3 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 3 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 11 No. 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 11 No. 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 10 No. 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 2 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 2 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 10 No. 2 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 10 No. 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 9 No. 2 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 3 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 3 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 9 No. 3 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 2 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 2 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 9 No. 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 3 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 3 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol 8, No 2 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 8 No. 2 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 1 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 1 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol 7, No 1 (2013): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 7 No. 1 (2013): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri More Issue