cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Perikanan Kelautan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
HUBUNGAN LIMBAH ORGANIK DENGAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS DI SUNGAI MUSI BAGIAN HILIR Ghina Ilmia Hafshah; Henhen Suherman; Yuniar Mulyani
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 3 (2012): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara limbah organik yang dihasilkan dari berbagai kegiatan masyarakat dengan struktur komunitas makrozoobenthos. Metode yang digunakan adalah metode survey. Stasiun pengamatan yang dipilih sebanyak tujuh stasiun dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kelas yang diperoleh sebanyak 7 kelas yang terdiri dari kelas Gastropoda, Bivalvia, Oligochaeta, Clitellata, Polychaeta, Insecta, dan Turbellaria. Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 3 sebanyak 240 individu/m2. Nilai indeks keanekaragaman Shanon−Wiener dari semua stasiun berkisar antara 0 − 1,58 nilai ini termasuk kedalam kategori sedang hingga rendah. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian stasiun 4 yang merupakan lokasi pembuangan limbah industri pupuk urea memiliki kandungan bahan organik tertinggi. Hal ini dilihat dari nilai rata-rata BOD5 dan COD pada stasiun 4 merupakan nilai rata-rata tertinggi dari stasiun lainnya yaitu sebesar 12,62 mg/L dan 15,34 mg/L namun hasil analisis regresi antara limbah organik yang diwakili oleh BOD5 dan COD dengan kelimpahan makrozoobenthos dan keanekaragaman makrozoobenthos menunjukkan tidak ada hubungan yang linier, sedangkan hasil analisis regresi linier dengan salah satu parameter fisik perairan yaitu kedalaman dengan keanekaragaman makrozoobenthos menunjukkan adanya hubungan linier yang nyata dengan persamaan Y = 1,319 – 0,838 X dan koefisien korelasi Pearson (R) sebesar 0,447.   Kata kunci : Hilir, Sungai, Analisis Regresi, Limbah Organik, Makrozoobenthos
Kondisi Arus dan Variabilitas Suhu Permukaan Laut pada Musim Barat dan Kaitannya dengan Distribusi Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacores) Di Perairan Selatan Jawa Barat Febrry A. Putra; Zahidah Hasan; Noir Primadona Purba
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kondisi arus dan variabilitas suhu terhadap hasil tangkapan ikan Tuna sirip kuning di daerah selatan Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan dengan melihat kondisi arus dan variabilitas suhu di perairan selatan Jawa Barat pada musim barat selama tahun 2009-2013. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data arus dan suhu selama masa penelitian disertakan dengan data hasil tangkapan pada waktu yang sama. Data arus dan suhu permukaan laut didapatkan dari website opensource. Data kemudian diolah menggunakan software berbasis informasi geografis untuk melihat pola sebaran arus dan suhu. Data yang sudah diolah kemudian digunakan untuk perhitungan korelasi menggunakan persamaan korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan antara kondisi arus dan suhu permukaan laut memiliki hubungan yang lemah terhadap hasil tangkapan ikan Tuna Sirip Kuning dengan nilai korelasi sebesar 0,04552.
Penambahan Surimi Lele Terhadap Tingkat Kesukaan Permen Jelly Rumput Laut Rahmi Amanah; Junianto -; Iis Rostini
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 6, No 2(1) (2015): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase penambahan surimi lele pada permen jelly rumput laut yang  paling  disukai  panelis.  Penelitian ini  telah  dilaksanakan pada  bulan Mei  sampai  Juli  2015  di  Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan, serta Laboratorium Jasa Uji Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan lima perlakuan penambahan surimi lele yaitu 0%, 10%, 20%, 30%, dan 40% berdasarkan berat rumput laut. Parameter yang diamati dalam penelitian ini yaitu karakteristik organoleptik dan karakteristik kimia meliputi kenampakan, aroma, rasa, tekstur, kadar air, kadar protein dan kadar serat. Pengujian kadar air dilakukan pada semua perlakuan. Sementara itu, pengujian kadar protein dan kadar serat dilakukan pada permen jelly rumput laut tanpa penambahan surimi lele sebagai kontrol dan permen jelly rumput laut yang paling disukai panelis. Hasil penelitian menunjukan, bahwa penambahan surimi lele sebanyak 30% menghasilkan permen jelly rumput laut yang paling disukai panelis dengan kadar protein 10%, kadar serat0,35% dan kadar air 16,92%. Kata Kunci : penambahan surimi, surimi lele, permen jelly, rumput laut, tingkat kesukaan
EFEKTIVITAS TEPUNG HIPOTALAMUS SAPI DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminckii) Ryan Adhitia Muslim; Iskandar -; Ujang Subhan
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas tepung hipotalamus sapi terhadap laju pertumbuhan benih ikan tambakan. Metoda penelitian adalah eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah penggunaan tepung hipotalamus sapi 0% atau tanpa penambahan tepung hipotalamus sapi sebagai kontrol, penggunaan tepung hipotalamus sapi dengan dosis 0,05%, 0,10%, 0,15% dan 0,20% dari total pakan yang diberikan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung hipotalamus sapi dengan dosis yang berbeda meningkatkan laju pertumbuhan ikan tambakan. Pemberian tepung hipotalamus sebesar 0,10% memberikan laju pertumbuhan lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya dengan rata-rata 2,32% perhari.
ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN BURUH PENGOLAH KERUPUK KULIT IKAN PADA SKALA INDUSTRI RUMAH TANGGA DI DESA KENANGA, KABUPATEN INDRAMAYU Christopher Radyputra Moelyosusant; Iwang Gumilar; Achmad Rizal
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan Unpad
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengenai analisis kesejahteraan buruh pengolah kerupuk kulit ikan skala industri rumah tangga di Desa Kenanga Kabupaten Indramayu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga buruh pengolah kerupuk kulit ikan di Desa Kenanga Kabupaten Indramayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik wawancara menggunakan kuisioner, jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pemilihan responden dilakukan dengan metode sensus, responden yang diwawancarai adalah pengolah kerupuk kulit ikan yang bertempat tingal di Desa Kenanga dan sudah memiliki keluarga. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pendapatan buruh pengolah kerupuk kulit ikan berasal dari upah yang diterima sebesar Rp. 40.000 – Rp. 70.000 per hari. Total pendapatan rata-rata keluarga per bulan yaitu sebesar Rp.2.705.625 sedangkan pendapatan per tahun rumah tangga buruh pengolah kerupuk kulit ikan sebesar Rp.32.467.500 dengan  rata-rata pendapatan per kapita keluarga yaitu sebesar Rp.8.046.167 dengan rata-rata per perkapita per bulan keluarga yaitu Rp.901.141. Dibandingkan dengan UMK Kabupaten Indramayu sebesar Rp.1.803.239,00. Maka rumah tangga pengolah kerupuk kulit ikan di Desa Kenanga Kabupaten Indamayu dikategorikan miskin, karena tingkat pendapatan per perkapita per bulan lebih kecil dari upah minimum Kabupaten Indramayu. Kesejahteraan rumah tangga pengolah kerupuk kulit ikan di indikasikan berpedoman pada 10 indikator tingkat kesejahteraan rumah tangga menurut Badan Pusat Statistik 2015 tingkat kesejahteraannya tergolong kategori kesejahteraan sedang (skor 2,19 / 32 responden).
Kontribusi Wanita Nelayan Dalam Upaya Pemenuhan Kebutuhan Ekonomi Keluarga Nelayan Di Muara Angke Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara Krishna Listiyandra; Zuzy Anna; Yayat Dhahiyat
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

          Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi wanita nelayan terhadap pendapatan di Muara Angke serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi wanita nelayan bekerja dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan wanita nelayan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan satuan kasusnya adalah kontribusi wanita nelayan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode triangulasi (observasi, wawancara, dan dokumentasi). Untuk penentuan sampel digunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel adalah 30 sampel. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan rata-rata kontribusi wanita nelayan terhadap pendapatan di Muara Angke sebesar 30,25%. Faktor yang mempengaruhi wanita nelayan bekerja diantaranya pendidikan dan motivasi bekerja. Faktor usia tidak mempengaruhi wanita nelayan bekerja. Adapun faktor yang mempengaruhi pendapatan wanita nelayan diantaranya curahan waktu kerja dan jenis pekerjaan. Rata-rata curahan waktu kerja wanita nelayan untuk kegiatan produktif adalah 148,63 jam per bulan atau sekitar 5,72 jam per hari. Curahan waktu kerja dan jenis pekerjaan berpengaruh positif terhadap pendapatan wanita nelayan masing-masing sebesar 16,3% dan 13,5%. Faktor pengalaman bekerja tidak berpengaruh terhadap pendapatan wanita nelayan. 
KERAGAMAN GENETIK RUMPUT LAUT Eucheuma spp. DARI SUKABUMI, JAWA BARAT BERDASARKAN METODE RAPD PCR Putri Indah Ayuningrum; Eddy Afrianto; Yuniar Mulyani
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Informasi tentang keragaman genetik plasma nutfah sangat diperlukan untuk mendukung program pemuliaan dan upaya konservasi. Metode RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) telah digunakan untuk mengetahui keragaman genetik rumput laut Eucheuma spp di Sukabumi, Jawa Barat. DNA dari sampel rumput laut jenis Eucheuma spp diisolasi menggunakan metode CTAB dan diamplifikasi dengan PCR-RAPD menggunakan dua primer acak yaitu OPA-02 (5’- TGCGGAGCTG -3’) dan OPA-03 (5’- AGTCAGCCAC -3’). Aplikasi penggunaan primer OPA-03 lebih banyak menghasilkan larik polimorfik sehingga lebih sensitif. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan analisis deskriptif kualitatif di laboratorium. Hasil visualisasi DNA dari kedua primer menunjukkan 119 pola larik yang terdiri dari 15 pola larik polimorfik dan 104 pola larik monomorfik. Pola larik tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk data numerik (1/0). Program NTSYS-pc digunakan untuk membangun pohon filogenetik.Hasil pohon filogenik secara umum dari kedua primer diperoleh 2 kelompok besar. Kelompok pertama terdiri dari Eucheuma cottonii dan Eucheuma serra. Di kelompok kedua terdiri dari  Eucheuma denticulatum. Secara umum keragaman genetik dari 9 sampel rumput laut Eucheuma spp dari Sukabumi, Jawa Barat memperlihatkan hubungan kekerabatan yang rendah. Populasi-populasi yang berdekatan mempunyai kecenderungan untuk membentuk satu sub-kelompok.
Kajian Produktivitas Primer Fitoplankton di Waduk Saguling, Desa Bongas dalam Kaitannya dengan Kegiatan Perikanan Rizky Hardiyanto; Henhen Suherman; Rusky Intan Pratama
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas primer fitoplankton yang menghasilkan oksigen bersih serta kualitas fisika, kimiawi dan biologis perairan di Waduk Saguling, Desa Bongas, Kecamatan Cililin, Bandung, Jawa Barat dalam kaitannya dengan kegiatan perikanan budidaya. Metode yang digunakan yaitu metode survey dengan menetapkan satu stasiun pengamatan, enam kali pengambilan sampel dengan selang waktu tujuh hari yang telah dilaksanakan pada bulan Mei 2012 sampai dengan Juni 2012. Sampel dianalisis untuk mengetahui nilai produktivitas primer bersih (Net Primary Productivity/NPP) dengan parameter penunjang yaitu suhu, kecerahan, pH, DO, BOD, dan CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai NPP permukaan sampai kedalaman 1,5 meter  adalah 2,39 mgO2/L dan pada kedalaman 1,5 meter sampai 3 meter  adalah 1,42 mgO2/L. Estimasi penebaran ikan mas dengan ukuran 100 gram per m3 pada permukaan sampai kedalaman 1,5 meter yang dapat ditebar adalah 8,03 kg/m3, sedangkan penebaran ikan nila dengan ukuran 100 gram per m3 pada kedalaman         1,5 meter sampai 3 meter yang dapat ditebar adalah 6,4 kg/m3.
Struktur Komunitas Plankton Di Situ Patengan Kabupaten Bandung, Jawa Barat Rinaldy Amanta; Zahidah Hasan; Rosidah -
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 3 (2012): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai struktur komunitas plankton di Situ Patengan Kabupaten Bandung Jawa Barat dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai Februari 2012. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dengan menetapkan empat stasiun dan enam kali waktu sampling secara time series setiap 7 hari sekali. Data yang dihitung meliputi kelimpahan plankton, indeks keanekaragaman Simpson, biomassa fitoplankton dan analisis saluran pencernaan ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas plankton di Situ Patengan terdiri dari 32 genus fitoplankton dan 11 genus zooplankton. Kelimpahan rata-rata terbesar fitoplankton adalah kelas Chlorophyceae (97 ind/L) dengan genus paling banyak ditemukan adalah Spyrogira, sedangkan zooplankton kelimpahan rata-rata terbesar adalah kelas Crustaceae (32 ind/L) dengan genus paling banyak ditemukan adalah Cyclops. Indeks Keanekaragaman rata-rata fitoplankton adalah 0,872 dan zooplankton 0,649. Biomassa fitoplankton tertinggi berasal dari kelas Bacilariophyceae (7681,8 µg/L) sedangkan biomassa terkecil berasal dari kelas Pyrrophyceae (306,7 µg/L). Komunitas plankton dari kelas Chlorophyceae merupakan fitoplankton yang paling banyak terdapat dalam alat pencernaan ikan yang tertangkap di Situ Patengan sedangkan yang jumlahnya sedikit yaitu kelas Cyanophyceae. Kelimpahan pakan alami berdasarkan kelimpahan plankton yang ditemukan di air cukup tinggi sedangkan ikan yang memanfaatkannya rendah sehingga sumberdaya pakan yang tersedia belum dimanfaatkan dengan optimal dalam pengelolaan sumberdaya ikan secara ekstensif.   Kata Kunci, Situ Patengan,  Plankton, Struktur Komunitas
Penggunaan Ekstrak Daun Belimbing Wuluh Terhadap Masa Simpan Filet Patin Berdasarkan Karakteristik Organoleptik Mutiara Insani; Evi Liviawaty; Iis Rostini
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak daun belimbing wuluh dengan masa simpan filet patin yang paling lama pada penyimpanan suhu rendah berdasarkan karakteristik organoleptik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Filet patin dengan perlakuan perendaman Ekstrak Daun Belimbing Wuluh terdiri atas konsentrasi 5%, 10%, 15% (v/v) selama 30 menit perendaman, kemudian disimpan pada suhu rendah (5-10˚). Untuk filet dengan perlakuan perendaman, pengamatan dilakukan pada penyimpanan hari ke-1, 4, 7, 8, 9, 10, 11 sedangkan untuk filet patin tanpa perendaman ekstrak daun belimbing wuluh pengamatan dilakukan pada hari ke-1, 3, 5, 6, 7, dan 8. Parameter yang diamati meliputi pengukuran nilai derajat keasaman (pH), susut bobot, tingkat kekerasan, dan karakteristik organoleptik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun belimbing wuluh berpengaruh terhadap masa simpan filet patin yang dilihat dari karakteristik organoleptik. Pengaruh konsentrasi ekstrak daun beolimbing wuluh dengan perbandingan 10% memberikan pengaruh terbaik terhadap masa simpan filet patin pada penyimpanan suhu rendah dengan batas penerimaan hingga hari ke-9.