cover
Contact Name
Jurnal Arsitektur Zonasi
Contact Email
jurnal_zonasi@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
yudi.permana@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ZONASI
ISSN : 26211610     EISSN : 26209934     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Journal of Architectural ZONASI is an online open access journal. It features articles on a wide range of issues in architecture, including architectural history and theory, dwelling culture, building technology and material science, architectural design, interior design, landscape architecture, heritage and conservation, and urbanism. Published three annually, in February, June, and October, the journal welcomes contributions from all over the world
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
Faktor-Faktor Preferensi Hunian Vertikal untuk Kaum Dewasa Muda: Studi Kasus di Kota Bandung Kunthi Herma Dwidayati; Ana Ramdani Sari; Lucy Yosita
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 1 (2022): Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i1.40245

Abstract

Hunian merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Hunian pun beragam mulai dari hunian tapak sampai dengan hunian vertikal berbagai tipe. Hunian vertikal merupakan salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di kota besar sekaligus untuk mencegah urban sprawl dan memaksimalkan efisiensi lahan. Hunian vertikal bukan tipe hunian baru di Indonesia, namun sebagian besar masyarakat belum banyak yang tinggal di hunian tipe ini termasuk kaum milenial atau dewasa muda. Kaum dewasa muda sebagian besar berada di usia produktif (26-44 tahun) dimana usia ini adalah usia dominan dan rata-rata sudah bekerja serta mulai berkeluarga. Kelompok usia ini adalah kelompok yang paling dominan di beberapa kota besar, salah satunya adalah Kota Bandung. Selain itu, kondisi pandemi dalam 2 tahun ini dialami juga diindikasi mempengaruhi preferensi mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi preferensi kaum milenial atau dewasa muda dalam memilih hunian vertikal di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat kaum dewasa muda terhadap hunian vertikal cukup tinggi dan faktor yang paling dominan adalah kualitas bangunan diikuti dengan faktor ekonomi dan aksesibilitas.
KAJIAN FUNGSI EKOLOGIS DAN ESTETIS RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN RAWAN BANJIR : Studi Kasus RTH Kawasan Pasar Segiri, Sub DAS Karang Mumus, Kota Samarinda Dharwati P. Sari
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 2 (2022): Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i2.41707

Abstract

The Karang Mumus sub-watershed around the Segiri market in Samarinda, east Kalimantan is a startegic area in city. Not only having economic value but also this area has an important role to maintain environmental quality. Frequent flooding in Samarinda is caused by many factors, such as the lack of availability of infiltartion. The Green Open Space (RTH) in Karang Mumus sub-watershed around the Segiri Market is very useful for cathed the rain water. Environmental engineering in green open space can be an alternative to flood control facility. Some of the engineering carried out in the Karang Mumus sub-watershed has an impact on visual quality and benefits for community social activities.This research is hoped this environmentak engineering will also provide ecological benefits, especially reducing the risk of flooding.Keywords: Green open space; watershed, Flood
KAJIAN PRINSIP ARSITEKTUR BERKELANJUTAN PADA BANGUNAN PERKANTORAN (STUDI KASUS: GEDUNG UTAMA KEMENTRIAN PUPR) Syarif Hidayatulloh; Anisa Anisa
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 3 (2022): Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i3.31467

Abstract

Abstract: The development, which has become increasingly prevalent in the last few years, has had a negative impact on the environment, plus the human population, which is increasingly fast, requires a balanced supply of energy and natural resources. Sustainable Architecture is one of the solutions to answer the problems. This concept has a pattern in which humans in carrying out their activities try to use the least possible use of resources to improve the quality of life now and for future generations so that the resources on this earth can be enjoyed in the long term, of course, this requires a response and cooperation from various parties so that the concept of Sustainable Development can run according to plan. This research is important to do to make a picture of the future plan that after all humans will always live side by side with nature. Therefore, building by applying the principles in the concept of Sustainable Development can make a balance in terms of environmental, social and economic aspects, of course with the conditions of priority areas such as urban areas which are the benchmarks for the number of developments, especially in office buildings.Keywords: Sustainable Architecture, Office Building. Abstrak: Pembangunan yang semakin hari semakin marak dalam beberapa tahun terakhir ternyata membawa dampak buruk bagi lingkungan ditambahnya populasi manusia yang semakin pesat membutuhkan ketersedian energi dan sumber daya alam yang seimbang. Arsitektur Berkelanjutan menjadi salah satu solusi untuk menjawab permasalahan. Konsep ini memiliki pola dimana manusia dalam melakukan aktivitasnya mengusahakan untuk memakai seminimal mungkin dalam penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kualitas hidup sekarang maupun generasi yang akan datang agar sumber daya di bumi ini dapat dinikmati dalam jangka waktu yang panjang, tentunya untuk hal ini perlu adanya respon dan kerjasama dari berbagai pihak agar konsep Pembangunan Berkelanjutan ini dapat berjalan dengan sesuai rencana. Penelitian ini penting untuk dilakukan untuk membuat gambaran rencana yang akan datang bahwa bagaimanapun manusia akan hidup selalu berdampingan dengan alam. Oleh sebab itu membangun dengan cara menerapkan prinsip prinsip dalam konsep Pembangunan Berkelanjutan dapat membuat keseimbangan dalam segi aspek lingkungan, sosial dan ekonomi tentunya dengan kondisi wilayah yang menjadi prioritas seperti wilayah perkotaan yang menjadi tolak ukur banyaknya sebuah pembangunan terutama pada bangunan bangunan perkantoran.Kata Kunci: Arsitektur Berkelanjutan, Bangunan Perkantoran.
HIRARKI SPASIAL SUKU SASAK DI DUSUN LIMBUNGAN KABUPATEN LOMBOK TIMUR Dendi Sigit Wahyudi; Antariksa Antariksa; Sri Utami
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 3 (2022): Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i3.49191

Abstract

Abstract: This Sasak tribe is a tribe located on the island of Lombok that has traditional buildings that are still occupied by the common people (to sama).One type of Sasak village that has traditional buildings is bale tani in Dusun Limbungan. One type of Sasak village that has two traditional buildings is bale tani in Dusun Limbungan. The purpose of this study is to determine the spatial hierarchy of Sasak tribe in Dusun Limbungan. The method used is a qualitative method of descriptive analysis. The results of the study can show that the spatial hierarchy can be made into two parts, namely the middle horizontal hierarchy (Dalem bale). While The Vertical horizontal is divided into the lower part (profane), the middle part (profane + sacral), and the upper part (profane). In a horizontal hierarchy which is divided into three parts front (sesangkok), middle (bale dalam) where the front (sesangkok) serves to receive guests or family who come to visit, while the middle (bale dalam) in which there is a bedroom where the bedroom function to store bodies that have not been buried and in bale dalam there pawon (kitchen) and semparu where semparu function where to store kitchen utensils. The function of horizontal and vertical spatial hierarchy of both traditional buildings shows the same results, but in terms of layout and spatial magnitude there are some differences. The spatial hierarchy that is influenced by the elements of belief that can be contained in the Sasak tribe can be in the form of knowledge that can be inherited from ancient times or hereditary.Keywords:  Spatial Hierarchy; Sasak Tribe; Lombok Traditional BuildingAbstrak: Suku Sasak merupakan Suku yang berada di Pulau Lombok yang memiliki bangunan tradisional yang masih di tempati oleh golongan rakyat biasa (to sama). Salah satu jenis perkampungan Suku Sasak yang terdapat bangunan tradisional yaitu bale tani di Dusun Limbungan.Salah satu jenis perkampungan Suku Sasak yang terdapat dua bangunan tradisional yaitu bale tani di Dusun Limbungan. Terdapat tujuan studi ini adalah untuk mengetahui hirarki spasial Suku Sasak di Dusun Limbungan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif analisis deskriftif. Hasil studi dapat menunjukkan bahwa secara hirarki spasial dapat dijadikan jadi dua bagian yaitu hirarki horizontal bagian tengah (dalem bale). Sedangkan horizontal vertikal dibagi menjadi bagian bawah (profan), bagian tengah (profan + sakral), dan bagian atas (profan). Pada sebuah hirarki horizontal yang dibagi menjadi tiga bagian depan (sesangkok), tengah (bale dalam) yang dimana bagian depan (sesangkok) berfungsi untuk menerima tamu atau keluarga yang datang berkunjung, sedangkan bagian tengah (bale dalam) yang di dalamnya terdapat kamar tidur yang dimana fungsi kamar tidur untuk menyimpan mayat yang belum di kebumikan dan di bale dalam terdapat pawon (dapur) dan semparu yang dimana fungsi semparu tempat menyimpan peralatan dapur. Secara fungsi hirarki horizontal dan spasial vertikal dari kedua bangunan tradisional menunjukkan bentukan hasil yang sama, namun dari segi tata letak serta besaran spasialnya ada beberapa perbedaan. Adapun hirarki spasial yang dipengaruhi dengan adanya unsur kepercayaan yang dapat terkandung di dalam Suku Sasak dapat berupa pengetahuan yang dapat diwariskan dari zaman dahulu atau secara turun temurun.Kata Kunci: Hirarki Spasial; Suku Sasak; Bangunan Tradisional Lombok
EVALUASI RANCANG BANGUN TERKAIT PENGADAAN FASILITAS LINGKUNGAN PADA RUMAH SUSUN LOKBIN RAWA BUAYA, JAKARTA BARAT Asri Ardiati Sunoto
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 2 (2022): Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i2.45643

Abstract

Abstract: To support the implementation of housing development for middle to lower economic class people and structuring slum areas, the Government of DKI Jakarta has built many flats, including the Lokbin Rawa Buaya Flat located in Cengkareng, West Jakarta. The provision of flat facilities generally does not accommodate the physical, social and psychological needs of the occupants. Therefore, this study aims to evaluate the Lokbin Rawa Buaya Flats' design regarding their facilities. The indicators used as a reference for evaluation based on SNI 03-1733-2004 (Indonesia standard) as well as the design criteria for public and social facilities based on user characteristics (intended primary to disable and women). The post-occupancy evaluation was also carried out in this study. In general, this research concludes that there are facilities based on SNI 03-1733-2004 that are not met, but there are also facilities that are available beyond the standard. While the evaluation refers to the design criteria of facilities based on the user characteristics concludes that several design criteria are met and there are also design criteria that are not met with the facilities provided. Meanwhile, based on post-occupancy evaluation some activities are carried out not in the space provided. The cause is beside the capacity of the space provided is not enough but also because facilities are not available. These findings indicate that in the procurement of facilities, reference to space standards alone is not enough, there needs adaptation and adjustment process for the users and building authority in managing the Flats.Keywords: Flats; Design evaluation; FacilitiesAbstrak: Dalam rangka mendukung pelaksanaan pembangunan perumahan bagi masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah dan penataan kawasan kumuh, Pemerintah DKI Jakarta membangun banyak rumah susun, diantaranya Rumah Susun Lokbin Rawa Buaya di Cengkareng, Jakarta Barat. Penyediaan fasilitas rumah susun umumnya kurang mengakomodir kebutuhan fisik sosial maupun psikologis penghuninya. Oleh karena itu dalam penelitian ini diadakan evaluasi desain Rumah Susun Lokbin Rawa Buaya dari segi pengadaan sarana lingkungan. Indikator yang digunakan sebagai acuan adalah dari SNI 03-1733-2004 dan kriteria rancangan fasilitas umum dan sosial berdasarkan karakteristik pengguna serta evaluasi pasca huni. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa ada sarana lingkungan berdasarkan standar SNI 03-1733-2004 tidak terpenuhi, namun ada juga sarana lingkungan yang melampaui standar. Sedangkan evaluasi berdasarkan kriteria rancangan sarana lingkungan berdasarkan karakteristik pengguna disimpulkan ada beberapa kriteria rancangan yang terpenuhi dan ada pula yang tidak terpenuhi. Sementara berdasarkan evaluasi pasca huni terdapat kegiatan yang dilakukan tidak pada ruang yang disediakan. Penyebabnya adalah selain karena kapasitas ruang yang disediakan kurang namun juga karena sarana lingkungan tidak tersedia. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam pengadaan sarana lingkungan, acuan standar ruang saja tidak cukup, perlu pengaturan dan proses adaptasi dari pihak pengguna dan pengelola bangunan dalam mengelola bangunan rusun.Kata kunci: Evaluasi Rancang Bangun, Rumah susun, Sarana Lingkungan
METAFORA TARIAN DALAM ARSITEKTUR: KASUS INTERPRETASI TARI SAMAN GAYO KE DALAM RANCANGAN BANDARA Agus Suharjono Ekomadyo; Iwan Sudradjat; Qisthi Shabrina; Syifa Nur Awanda
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 3 (2022): Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i3.50327

Abstract

Merefleksikan tarian tradisional ke dalam wujud arsitektur merupakan salah satu bentuk kreativitas dalam mengapresiasi budaya sebagai identitas bangsa. Untuk mengolaborasikan tari dan arsitektur, metode yang digunakan adalah metafora. Metode metafora merupakan sebuah konsep transfer makna untuk dapat melihat tarian dalam wujud arsitektur melalui penguraian unsur-unsur tangible dan intangible tari ke dalam strategi desain. Tulisan ini membahas metafora tari tradisional Aceh, Saman Gayo ke dalam perancangan arsitektur Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Tari Saman Gayo dimetaforakan secara sequence mulai dari Persalaman, Ulu Ni Lagu, Lagu-lagu, Uak Ni Keuemeuh dan Penutup ke dalam ruang-ruang tematik. Hasil dari metode ini adalah suasana tarian dapat dinikmati secara utuh sehingga dapat memberikan kesan dan pengalaman bagi pengunjung bandara mengenai tari Saman Gayo dan pesan-pesan yang dibawakan.
JALUR PEDESTRIAN RAMAH ANAK DI KORIDOR PANEMBAHAN SENOPATI, GONDOMANAN, YOGYAKARTA Dea Viviani; Diananta Pramitasari
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 3 (2022): Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i3.49522

Abstract

Abstract: Creating a child-friendly environment is one of the key targets of the Sustainable Development Goals (SDG's) program by 2030. This target is also supported by child-friendly city policies that have strategic issues in the form of lack availability of public space for children. Pedestrian ways are a form of public space that should be able to meet the needs of all users, including children. This research was conducted on a pedestrian ways in the corridor of Panembahan Senopati Street. Apart from being part of the tourist area and the fins of Malioboro street, this corridor also has urgency and potential to become a child-friendly corridor because this pedestrian ways is often passed by children. This is shown by the potential of child-friendly tourism objects, namely Taman Pintar and Benteng Vredeburg Museum and this corridor has several educational functions located around it. The purpose of this study is to assess the suitability of the existing physical elements of the pedestrian ways in the Senopati corridor, based on six criteria of child-friendly pedestrian ways that are connectedness, convenience, safety, security, comfort and health. The results of this study are the pedestrian paths in the Senopati corridor are still not friendly to children, especially in segments two, three and four. In addition, the most influential criteria to make the pedestrian path child-friendly is comfort and the most influential aspect is the availability of street furniture.Keywords: Physical Elements, Pedestrian Paths, Child-Friendly, Public Spaces. Abstrak: Menciptakan lingkungan yang ramah terhadap anak merupakan salah satu target utama dari program Sustainable Development Goals (SDG’s) pada tahun 2030. Target tersebut juga didukung dengan adanya kebijakan kabupaten/kota layak anak yang memiliki isu strategis berupa minimnya ketersediaan ruang publik bagi anak/masyarakat. Jalur pedestrian merupakan salah satu bentuk ruang publik yang sewajarnya mampu memenuhi kebutuhan semua penggunanya, termasuk anak-anak. Penelitian ini dilakukan pada jalur pedestrian di koridor Jalan Panembahan Senopati Yogyakarta. Koridor ini selain menjadi bagian dari kawasan wisata dan sirip-sirip Jalan Malioboro, juga memiliki urgensi dan potensi untuk menjadi koridor yang ramah anak karena jalur pedestrian ini sering dilewati oleh anak-anak. Hal ini ditunjukkan dengan adanya potensi objek daya tarik wisata ramah anak yaitu Taman Pintar dan Museum Benteng Vredeburg serta adanya beberapa fungsi pendidikan yang terletak di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kesesuaian kondisi eksisting elemen fisik jalur pedestrian di koridor Senopati berdasarkan enam kriteria jalur pedestrian yang ramah terhadap anak-anak yaitu keterhubungan, kemudahan, keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kesehatan. Hasil penelitian ini adalah bahwa jalur pedestrian pada koridor Senopati ini masih kurang ramah terhadap anak-anak terutama pada segmen 2, 3 dan empat. Selain itu, kriteria yang paling berpengaruh untuk menjadikan jalur pedestrian ramah anak adalah kenyamanan dan aspek yang  paling berpengaruh adalah ketersediaan street furniturenya. Kata Kunci: Elemen Fisik, Jalur Pedestrian, Ramah Anak, Ruang Publik
POLA AKTIVITAS PENGUNJUNG DALAM PENGGUNAAN RUANG PUBLIK DI STASIUN TAWANG, KOTA SEMARANG SAAT PANDEMI COVID-19 Ayla Mahrensha
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 2 (2022): Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i2.38943

Abstract

Public space is a social place where people can carry out various activities in it. In the public space, it will be seen how behavior forms space, and vice versa, space can shape behavior. People's behavior will adjust to conditions during the COVID-19 pandemic. People are required to maintain physical distance and minimize touch. Tawang Station is one of the public spaces that continues to run normally during the pandemic, so that visitors have high mobility and have a high risk of Covid-19 transmission. This study aims to see the behavior of visitors to Tawang Station using behavior mapping analysis techniques. It was found that the movement and activities of visitors at the time of train departure tend to be process activities, where the spaces that accommodate process activities are the lobby, the left waiting room, and the inner waiting room. Meanwhile, the movement and activity upon arrival of the train is a process activity that is accommodated by the right waiting room. So it is found that each space will be crowded with visitors only at certain hours and certain activities. So the policy that can be done by the manager is to limit the number of visitors to Tawang Station and make technological innovations so that activities can be carried out touchless. Keywords: Public Space, Rail Station, Visitor Activities, Beaviour Mapping
HIDUP HARMONIS: KAWASAN WISATA ALAM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PENGALAMAN BUDAYA SUNDA Wandi Krisdian; Asep Yudi Permana; Mokhammad Syaom Barliana
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 3 (2022): Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i3.47965

Abstract

Abstract: In their culture, Sundanese people recognize the concept of 3 certainty of life as a philosophy of life, which is known as "Tritangtu". The concept of life is interrelated and cannot be separated to achieve a harmonious life between humans and their natural surroundings. This study was conducted using a qualitative descriptive method with a literative study technique and a direct survey. The purpose of this study is to produce a design for a mountainous tourist area as a medium for teaching and developing the noble values of Sundanese culture. The phenomenon of the Indonesian nation today tends to lose its character and sociality, so that the development and teaching of cultural values is very much needed. Teaching with experiential learning methods in a tourist area as a medium, will facilitate understanding of these noble values. Just as the ancestors passed on Sundanese culture to their next generation through direct experience in the form of art, pupuh, pikukuh etc. Only by re-adhering to one's own culture, a harmonious life and character of a nation will be achieved. Keywords: Tritangtu, Culture, Sundanese, Ecotourism Abstrak: Dalam kebudayaannya, orang sunda mengenal konsep 3 kepastian hidup sebagai falsafah hidupnya, yang dikenal dengan nama “Tritangtu”. Konsep hidup yang saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan untuk mencapai kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam sekitarnya. Kajian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan teknik kajiannya secara literatif dan survey langsung. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menghasilkan suatu rancangan kawasan wisata pegunungan sebagai media pengajaran dan pengembangan nilai-nilai luhur budaya sunda. Fenomena bangsa Indonesia saat ini cenderung kehilangan karakter dan kesosialannya, sehingga pengembangan dan pengajaran nilai budaya sangat diperlukan. Pengajaran dengan metode pembelajaran pengalaman pada suatu kawasan wisata sebagai medianya, akan mempermudah pemahaman akan nilai luhur tersebut. Seperti halnya para leluhur mewariskan budaya sunda ke generasi penerusnya lewat pe-ngalaman langsung berupa kesenian, pupuh, pikukuh dsb. Hanya dengan kembali berpegang pada budaya sendiri, maka kehidupan harmonis dan berkarakter suatu bangsa akan tercapai. Kata Kunci :  Tritangtu, Budaya, Sunda, Ekowisata
Pengembangan Kawasan Pariwisata Pesisir Dalam Menghadapi Abrasi (Studi Kasus Pantai Muaro Lasak, Kawasan Purus, Kota Padang) Farisan Hawali Mayendri
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 2 (2022): Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i2.44313

Abstract

Pariwisata pesisir merupakan sektor penggerak perekonomian di Indonesia khususnya Kota Padang. Pantai Muaro Lasak merupakan salah satu pantai yang potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata pesisir Kota Padang. Pantai ini memiliki potensi kerentanan yang tinggi terhadap ancaman abrasi. Potensi tersebut berdampak buruk pada kerusakan fasilitas objek wisata dan aktivitas pengunjung dalam berwisata, sehingga pengembangan sektor pariwisata menjadi terancam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya-upaya pengembangan dan pengembangan pesisir dalam menghadapi abrasi di Pantai Muaro Lasak. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode campuran, dengan menggunakan dua kombinasi, metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif yang digunakan untuk sasaran pertama menghasilkan daya tarik atraksi, aksesibilitas dan sarana prasarana pariwisata di Pantai Muaro Lasak, kemudian menggunakan metode kuantitatif untuk tujuan menvalidasi data. Kemudian dianalisis menggunakan teknik pengolahan triangulasi data, analisis skala likert dan deskriptif. Metode kuantitatif digunakan untuk sasaran kedua, kemudian dianalisis dengan teknik analisis GIS dan deskripsi, menghasilkan temuan peta kerentanan fisik, ekonomi dan sosial dengan didukung oleh peta perubahan garis pantai. Metode kualitatif digunakan untuk sasaran ketiga dengan mengolah data dari sasaran pertama dan kedua, menghasilkan temuan desain siteplan pembangunan pemecah gelombang, sabuk hijau dan fasilitas pariwisata dalam menghadapi abrasi. Hasil yang diperoleh yaitu perlu dilakukan pengembangan terhadap penambahan fasilitas pariwisata.