cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ornamen@isi-ska.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ornamen Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya
ISSN : 16937724     EISSN : 2685614X     DOI : 10.33153
Core Subject : Humanities, Art,
Art craft journal contains scientific articles on the results of research on the art of craft and the creation of craft art within the scope of Indonesian culture. The substance presented is in the form of a mission to preserve the cultural values of the archipelago as well as the development of concepts and aesthetics, along with the development of the complexity and dynamics of people's lives. The critical approach method in an interdisciplinary scientific perspective can open the widest possible opportunity for scholars, researchers, and stakeholders to work together in advancing a dignified national culture in the midst of global competition. ORNAMENTS art craft journals are published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 235 Documents
Perancangan Batik Tulis Inspirasi Keindahan Hutan Rimba Kalimantan Untuk Tekstil Pakaian Aisyi, Dalal Hibatul; Santoso, Ratna Endah
Ornamen Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v20i2.5460

Abstract

Batik dikenal sebagai salah satu warisan budaya yang melambangkan kekayaan tradisi Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Batik merujuk pada kerajinan tangan sebagai hasil pewarnaan, secara perintangan menggunakan lilin batik panas sebagai perintang warna, dengan alat utama pelekat lilin batik berupa canting tulis dan atau canting cap untuk membentuk motif tertentu. Pada perancangan ini, penulis ingin merancang motif batik dengan inspirasi Hutan Kalimantan. Hutan merupakan paru-paru dunia, banyak flora yang harus banyak dikenal serta dilestarikan, karena banyak pohon menjadi salah satu sumber oksigen. Kerusakan yang terjadi pada hutan kita adalah berkurangnya luasan area hutan karena kerusakan ekosistem ditambah juga penggundulan dan alih fungsi lahan. Melestarikan hutan berarti kita melestarikan lingkungan hidup, karena dengan menyelamatkan hutan kita juga menyelamatkan semua komponen kehidupan. Batik tulis dengan corak Hutan Kalimantan adalah perancangan baru yang akan berbeda dari jenis motif yang ada dipasaran. Batik tulis dipilih dalam pembuatan karya ini karena memiliki nilai seni tinggi dengan tujuan agar tetap dapat melestarika budaya Indonesia. sesuai dengan pendekatan desain teori Gustami mengenai penciptaan karya ini mempertimbangkan dengan baik aspek nilai seni berupa material, keamanan, estetik, dan proses yang di visualisasikan di atas kain sutra viscose.
Melati Sebagai Sumber Ide Penciptaan Motif Batik Pada Kain Panjang Utami, Nanda Putri; Prabowo, Rahayu Adi
Ornamen Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v20i2.5486

Abstract

Melati Sebagai Sumber Ide Penciptaan Motif Batik Pada Kain Panjang, merupakan sebuah karya yang terinspirasi dari bunga melati sebagai motif pada kain panjang dengan teknik batik. Tujuan dari kekaryaan ini yaitu, menciptakan motif melati pada kain panjang menggunakan teknik batik. Penciptaan karya ini dilakukan menggunakan teori SP Gustami yaitu metode “tiga tahap enam langkah penciptaan karya seni kriya”. Proses penciptaan karya dimulai dari tahap eksplorasi yaitu dengan melakukan pengamatan pada bunga melati, dilanjutkan pada tahap perancangan alternatif desain untuk dipilih sebagai motif hias yang diaplikasikan pada kain panjang. Berikutnya merupakan teknik perwujudan dalam penciptaan karya ini menggunakan teknik batik. Proses perwujudan karya diawali dengan proses nyorek (memindahkan motif pada kain), proses mencanting, proses pewarnaan, dan proses melorod (menghilangkan malam). Karya ini menghasilkan lima karya kain panjang dengan judul; Ranti, Lituhayu, Padma, Menur, dan Rukmasara. Penciptaan karya ini menghasilkan karya kain panjang dengan motif bunga melati. Dengan terciptanya karya kain panjang yang mengangkat keindahan batik motif bunga melati diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat mengenai penggunaan bahan alami pada pembuatan sebuah karya dapat juga menjadi sebuah karya yang menarik.
Motif Wayang Beber Gaya Pacitan Pada Tas Wanita Berbahan Kulit Dan Tapestry Sabina, Nisma Inas; Ahmadi, Agus
Ornamen Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v20i2.5487

Abstract

Motif Wayang Beber Gaya Pacitan Pada Tas Wanita Berbahan Kulit dan Tapestry, merupakan sebuah karya yang terispirasi dari motif Wayang Beber pada karya Wayang Beber dan pertunjukannya. Tujuan dari kekaryaan ini yaitu mensosialisasikan visual Wayang Beber Pacitan dengan cara menerapkan motif Wayang Beber Pacitan ke dalam karya tas. Landasan penciptaan karya ini mengacu pada 3 unsur estetika modern milik Monroe Beardsley yaitu; kesatuan, kerumitan, dan kesungguhan. Penciptaan karya ini dilakukan menggunakan teori SP Gustami yaitu metode “tiga tahap enam langkah penciptaan karya seni kriya”. Proses penciptaan karya dimulai dari tahap eksplorasi yaitu dengan melakukan pengamatan pada Wayang Beber, dilanjutkan tahap perancangan alternatif desain untuk dipilih sebagai motif hias yang diaplikasikan pada tas wanita dengan tapestry. Berikutnya merupakan teknik perwujudan penciptaan karya ini menggunakan teknik tatah sungging. Proses perwujudan karya diawali dengan proses pembuatan pola tas, pemotongan bahan, pemindahan motif hias pada pola tas, memahat kulit sesuai dengan motif, penyunggingan, proses pembuatan tapestry, menipiskan kulit, merakit pola tas, menjahit pola, pewarnaan tas, dan finishing. Penciptaan karya ini menghasilkan 2 tas wanita dengan judul; Sekartaji dan Naladerma. Dengan terciptanya karya tas wanita yang mengangkat Wayang Beber diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat mengenai Wayang Beber pada sebuah karya dapat juga diaplikasikan menjadi sebuah karya fungsional yang menarik.
Paduan Teknik Batik dan Tie Dye Untuk Motif Pada Busana Wanita Rahmawati, Dwi; Sarwono, Sarwono
Ornamen Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v20i2.5606

Abstract

Perancangan motif pada busana wanita dengan memadukan teknik batik dan tie dye dilatarbelakangi dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis di Pasar Klewer, Solo. Observasi juga dilakukan melalui media sosial dan marketplace dan belum ada produk busana wanita dengan motif teknik batik dan tie dye. Perancangan produk fesyen ini menerapkan metode pendekatan perancangan seni menurut SP. Gustami yang mengemukakan 3 tahap 6 langkah dalam proses berkarya. Ketiga tahap tersebut adalah tahap eksplorasi (perancangan ide, konsep, dan landasan penciptaan), perancangan (rancangan desain karya), dan perwujudan (pembuatan karya). Hasil akhir dari artikel ini adalah dua buah busana wanita dengan motif yang menggabungkan teknik batik dan tie dye. Busana wanita tersebut untuk acara formal pada wanita umur 20 - 30 tahun. Perancangan ini sebagai salah satu partisipasi penulis dalam melestarikan batik yakni dengan mengembangkan ide dari motif klasik.
Penciptaan Tas Wanita dengan Elemen Hias Sumber Ide Legenda Bledug Kuwu Maharani, Dwi Shinta Fitri; Sutriyanto
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.4983

Abstract

Penciptaan karya tas wanita ini mengangkat cerita dari legenda Bledug Kuwu. Legenda Bledug Kuwu ini kemudian divisualisasikan menjadi elemen hias pada tas kulit wanita menggunakan figur wayang beber. Figur wayang beber yang digunakan sebagai elemen hiasnya diubah sedemikian rupa agar sesuai dengan tokoh-tokoh yang diceritakan di dalam legenda Bledug Kuwu. Dalam pembuatan karya tas wanita ini penulis menggunakan bahan berupa kulit lembu yang telah disamak nabati. Teknik pembuatan karya tas kulit wanita ini, menggunakan teknik pyrography untuk membuat outline elemen hias dan isen-isen, teknik pewarnaan sungging, serta jahit mesin untuk menyambungkan tiap bagiannya menjadi sebuah tas. Metode pendekatan karya ini mengacu pada teori practice based research Husen Hendriyana dari bukunya yang berjudul, “Metodelogi Penciptaan Karya”. Practice based research merupakan riset yang berpautan dengan hal-hal yang berkaitan dengan teori pengembangan kreativitas visualisasi, nilai, fungsi, dan makna perwujudan karya. Selain itu menggunakan metode tiga tahap enam langkah yang dirumuskan oleh S.P Gustami dalam bukunya yang berjudul, “Butir-Butir Mutiara Estetika Timur” yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Hasil dari pendekatan tersebut menghasilkan 5 karya tas wanita dengan judul 1. Perlawanan Aji Saka (hand bag), 2. Raja Baru (shoulder bag), 3. Pertemuan (sling bag/cross body bag), 4. Pertarungan (hobo bag), 5. Terbentuknya Bledug Kuwu (bucket bag). Karya tas kulit wanita ini diharapkan dapat memperkenalkan wayang beber dan legenda Bledug Kuwu kepada masyarakat.  
Penciptaan Jarik dengan Sumber Ide Padu Muka Bale Rata Anjungan Keraton Kasunanan Surakarta Adi Wipaka, Satria Raga; Indrayana , Bagus
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.5269

Abstract

Artikel ini mengangkat judul Penciptaan Jarik dengan Sumber Ide Padu Muka Bale Rata Anjungan Keraton Kasunanan Surakarta. Padu muka bale rata merupakan motif yang ada di Anjungan Keraton Kasunanan Surakarta, lebih tepatnya motif ini berada di kompleks Kori Kamandungan. Bentuk visual dan struktur motifyang indah dan filosofi yang mendalam menambah ciri khas dan keunikan dari ragam hias tersebut. Penciptaan karya ini menggunakan unsur-unsur yang terdapat pada motif padu muka bale rata seperti motif utama yaitu motif kala dan motif makara kemudian motif pendukung yaitu motif simbar. Metode penciptaan yang digunakan adalah metode tiga tahap penciptaan yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. seperti penggalian ide, tema, konsep, bentuk, bahan, sketsa, desain, persiapan alat, bahan, warna dan teknik perwujudan karya, yang terakhir adalah finishing. Proses pembuatan karya diawali dari mempertimbangkan ukuran, bentuk motif, elemen motif, sketsa alternatif, sketsa terpilih, proses pembuatan karya sampai selesai. Karya yang diciptakan berjumlah lima buah kain batik atau jarik, masing-masing memiliki judul yaitu sebagai berikut. Karya 1 memiliki judul Motif Batik Mustaka Nagamara Mungkuri, Karya 2 Motif Batik Kala Sekar Ageng, Karya 3 Motif Batik Kala Rondhong Ngembyong, Karya 4 Motif Batik Nagamara Semembyar, Karya 5 Motif Batik Naga Marakala Pepeling.
Anggrek Bulan Sebagai Sumber Ide Penciptaan Ayunan Tapestri Bukhori, Wahyu Ajeng Nurhidayati; Supriyanto, Ari
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.5278

Abstract

Karya ini merupakan inovasi karya dengan teknik tapestri yang diterapkan pada produk mebel yaitu ayunan. Berdasarkan pengamatan penulis, terdapat banyak karya tapestri yang diterapkan pada karya seni dua dimensi, akan tetapi tidak pada karya tiga dimensi terutama pada karya ayunan. Adanya permasalahan tersebut mendorong penulis menciptakan karya ayunan dengan mengangkat  tema anggrek bulan sebagai sumber inspirasi. Penciptaan karya ini merupakan ayunan yang memiliki 3 bagian yaitu tempat duduk gantung, penghubung, dan penyangga. Penulis merealisasikan bentuk anggrek bulan sebagai bentuk utama pada tempat dudukan,dan sebagai motif hias serta pada bagian  penyangga ayunan dibuat menyerupai tangkai bunga anggrek bulan. Bahan utama pada karya ini adalah rotan,benang, dan besi. Penciptaan karya ini menggunakan pendekatan fungsional yaitu the function complex, menurut Victor Papanek dalam bukunya design for the real world yang menjelaskan 6 aspek tata kelola desain yang meliputi: metode (method), kegunaan (use), kebutuhan (need), telesis (telesis), asosiasi (association), dan estetika (aesthetics). Metode penciptaan karya ayunan tapestri menggunakan pendapat SP. Gustami yaitu tiga tahap enam langkah, tahapan tersebut meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Hasil karya ini ada dua karya dengan judul Abyakta dan Upeksha.
Buah Pace Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Mebel Ruang Kerja Tenaga Medis Fikriansyah, Dona; Prabowo , Rahayu Adi
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.5385

Abstract

Penciptaan tugas akhir karya seni yang berjudul “Buah Pace Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Mebel Ruang Tenaga Medis” menggunakan kayu mahoni sebagai media utama dan menggunakan batu bali green sebagai bahan pendukung yang bertujuan untuk menciptakan desain-desain mebel pada ruang tenaga kerja kesehatan dan penerapan buah pace sebagai bentuk dasar dan stilasi pohon pace sebagai motif/ornamen hias. Pendekatan estetika karya merujuk teori Dewit H. Parker dalam teori bentuk estetika membagi menjadi enam asas yaitu: 1. The principle of organic unity (asas kesatuan organis). 2. The principle of theme (asas tema). 3. The principle of thematic variation (asas variasi menurut tema). 4. The principle of balance (asas keseimbangan). 5. The principle of evolution (asas perkembangan. 6. The principle of hierarchy (asas tata jenjang). Metodologi penciptaan menggunakan teori SP. Gustami meliputi tahapan: Eksplorasi, Perancangan, dan Perwujudan. Proses pengerjaan karya dimulai dari persiapan bahan dan alat, pembentukan karya yang meliputi pemotongan, perataan dan penghalusan kayu, proses pola, proses konstruksi dan dilanjutkan proses mengukir. Teknik yang digunakan dalam proses pengerjaan karya adalah teknik kerja bangku, teknik mesin, teknik scroll, dan teknik ukir. Bahan finishing yang digunakan adalah melamine wood stain dan clear gloss transparan sebagai pelapis akhir. Penciptaan karya seni mebel pada ruang tenaga medis ini berjumlah 3 karya. Karya tersebut adalah almari sebagai tempat obat dan alat, meja kerja dan kursi duduk sebagai tempat konsultasi.
Perancangan Motif dengan Sumber Ide Tumbuhan Paku Menggunakan Teknik Batik Tulis dan Hapazome untuk Busana Tiyara Suci, Fadiyas; Endah Santoso , Ratna
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.6002

Abstract

Industri tekstil terus berkembang dan produk tekstil telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat dunia. Fenomena ini mendorong keberadaan produk tekstil yang kompetitif untuk dapat terus memenuhi kebutuhan konsumen. Perancangan ini menawarkan inovasi desain yang unik dengan mengkombinasikan teknik batik tulis dan hapazome yang dapat menghasilkan produk tekstil yang kompetitif. Metode perancangan yang digunakan yaitu pendekatan seni kriya oleh S.P Gustami. Metode ini terdiri dari 3 tahapan yaitu eksplorasi, perancangan dan perwujudan karya. Tujuan perancangan ini adalah untuk menghasilkan produk bermotif tumbuhan paku menggunakan teknik batik tulis dan hapazome, yang menggunakan bahan dasar kain sutra dengan mengelola karakter visual tumbuhan paku yang diwujudkan menggunakan teknik batik tulis dan hapazome untuk dijadikan bahan busana.
Menganalisis Bentuk Desain Ornamen pada Kostum Tari Remo Gaya Surabayan dengan Estetika Objektif Prameswari Intan Ningrum, Dewi Lintang
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.6005

Abstract

Tari Remo merupakan salah satu kebudayaan tari yang tidak asing di telinga orang Indonesia termasuk pada Kota Surabaya, Jombang, dan seterusnya. Tari tersebut memiliki keterikatan sejarah dengan ludruk. Kostum tari remo tersebut pada zaman dulu hanya menggunakan hem panjang berwarna putih dan celana hitam saja, namun semakin berkembang dari masa ke masa kostum tari remo menjadi terlihat menarik dengan adanya ornamen yang ada pada busana kostum tari remo. Jenis – jenis kostum tari remo yaitu: Kostum Gaya Surabayan, Gaya Sawunggalingan, Gaya Malangan, dan Gaya Jombangan. Peneliti tertarik pada penelitian Kostum Tari Remo Gaya Surabayan. Hingga penelitian ini lebih memfokuskan kepada “Menganalisis Bentuk Desain Ornamen pada Kostum Tari Remo Gaya Surabayan dengan Estetika Objektif” meliputi pendekatan kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis reduksi data, analisis naratif, dan analisis konten. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan materi audio visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain ornamen kostum Tari Remo Gaya Surabayan memiliki `berbagai motif kembangan yang memiliki makna tersendiri. Makna pada motif Kembangan tersebut yaitu sebagai sumber kehidupan, simbol daya hidup manusia, dan sebagai simbol bumi untuk kehidupan Maka, pada makna bentuk ornamen kostum tersebut yang mendorong peneliti untuk penelitian tentang “Kostum Tari Remo Gaya Surabayaan”, sebelum pemaknaan tradisi semakin hilang dan tidak dikenali lagi oleh generasi penerus.