cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ornamen@isi-ska.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ornamen Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya
ISSN : 16937724     EISSN : 2685614X     DOI : 10.33153
Core Subject : Humanities, Art,
Art craft journal contains scientific articles on the results of research on the art of craft and the creation of craft art within the scope of Indonesian culture. The substance presented is in the form of a mission to preserve the cultural values of the archipelago as well as the development of concepts and aesthetics, along with the development of the complexity and dynamics of people's lives. The critical approach method in an interdisciplinary scientific perspective can open the widest possible opportunity for scholars, researchers, and stakeholders to work together in advancing a dignified national culture in the midst of global competition. ORNAMENTS art craft journals are published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
Paduan Teknik Batik dan Tie Dye Untuk Motif Pada Busana Wanita Rahmawati, Dwi; Sarwono, Sarwono
Ornamen Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v20i2.5606

Abstract

Perancangan motif pada busana wanita dengan memadukan teknik batik dan tie dye dilatarbelakangi dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis di Pasar Klewer, Solo. Observasi juga dilakukan melalui media sosial dan marketplace dan belum ada produk busana wanita dengan motif teknik batik dan tie dye. Perancangan produk fesyen ini menerapkan metode pendekatan perancangan seni menurut SP. Gustami yang mengemukakan 3 tahap 6 langkah dalam proses berkarya. Ketiga tahap tersebut adalah tahap eksplorasi (perancangan ide, konsep, dan landasan penciptaan), perancangan (rancangan desain karya), dan perwujudan (pembuatan karya). Hasil akhir dari artikel ini adalah dua buah busana wanita dengan motif yang menggabungkan teknik batik dan tie dye. Busana wanita tersebut untuk acara formal pada wanita umur 20 - 30 tahun. Perancangan ini sebagai salah satu partisipasi penulis dalam melestarikan batik yakni dengan mengembangkan ide dari motif klasik.
Perancangan Motif dengan Sumber Ide Tumbuhan Paku Menggunakan Teknik Batik Tulis dan Hapazome untuk Busana Tiyara Suci, Fadiyas; Endah Santoso , Ratna
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.6002

Abstract

Industri tekstil terus berkembang dan produk tekstil telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat dunia. Fenomena ini mendorong keberadaan produk tekstil yang kompetitif untuk dapat terus memenuhi kebutuhan konsumen. Perancangan ini menawarkan inovasi desain yang unik dengan mengkombinasikan teknik batik tulis dan hapazome yang dapat menghasilkan produk tekstil yang kompetitif. Metode perancangan yang digunakan yaitu pendekatan seni kriya oleh S.P Gustami. Metode ini terdiri dari 3 tahapan yaitu eksplorasi, perancangan dan perwujudan karya. Tujuan perancangan ini adalah untuk menghasilkan produk bermotif tumbuhan paku menggunakan teknik batik tulis dan hapazome, yang menggunakan bahan dasar kain sutra dengan mengelola karakter visual tumbuhan paku yang diwujudkan menggunakan teknik batik tulis dan hapazome untuk dijadikan bahan busana.
Menganalisis Bentuk Desain Ornamen pada Kostum Tari Remo Gaya Surabayan dengan Estetika Objektif Prameswari Intan Ningrum, Dewi Lintang
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.6005

Abstract

Tari Remo merupakan salah satu kebudayaan tari yang tidak asing di telinga orang Indonesia termasuk pada Kota Surabaya, Jombang, dan seterusnya. Tari tersebut memiliki keterikatan sejarah dengan ludruk. Kostum tari remo tersebut pada zaman dulu hanya menggunakan hem panjang berwarna putih dan celana hitam saja, namun semakin berkembang dari masa ke masa kostum tari remo menjadi terlihat menarik dengan adanya ornamen yang ada pada busana kostum tari remo. Jenis – jenis kostum tari remo yaitu: Kostum Gaya Surabayan, Gaya Sawunggalingan, Gaya Malangan, dan Gaya Jombangan. Peneliti tertarik pada penelitian Kostum Tari Remo Gaya Surabayan. Hingga penelitian ini lebih memfokuskan kepada “Menganalisis Bentuk Desain Ornamen pada Kostum Tari Remo Gaya Surabayan dengan Estetika Objektif” meliputi pendekatan kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis reduksi data, analisis naratif, dan analisis konten. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan materi audio visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain ornamen kostum Tari Remo Gaya Surabayan memiliki `berbagai motif kembangan yang memiliki makna tersendiri. Makna pada motif Kembangan tersebut yaitu sebagai sumber kehidupan, simbol daya hidup manusia, dan sebagai simbol bumi untuk kehidupan Maka, pada makna bentuk ornamen kostum tersebut yang mendorong peneliti untuk penelitian tentang “Kostum Tari Remo Gaya Surabayaan”, sebelum pemaknaan tradisi semakin hilang dan tidak dikenali lagi oleh generasi penerus.
Integrasi Teknik Tradisional dan Modern dalam Desain Souvenir Tokoh Wayang Orang Surakarta Ahmadi, Agus; Sayekti, Devi Nirmala Muthia
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.6023

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian terapan yang bertujuan untuk menghasilkan karya souvenir kreatif dengan dasar ide dan desain dari patung wayang orang di Kota Surakarta. Sejumlah patung wayang diseleksi dari bahan batu atau beton yang tergolong unik, keberadaannya sudah lama, dan berlokasi di jalan raya yang dikenal luas oleh masyarakat. Hasil seleksi tersebut selanjutnya diwujudkan menjadi karya souvenir berbahan utama kulit dan kain.  Teknik yang digunakan adalah teknik tatah, sungging, dan turunannya seperti menggunakan teknik fotografi maupun desain digital. Selanjutnya produk souvenir baru ini dicetak menggunakan teknik printing modern. Metode penelitian terapan ini menggunakan pendekatan hermeunitik, yang menganalisis seni dengan cara mengobservasi seni itu sebagai fenomena yang berkembang dalam konteks sosial budaya, menguraiakan proses berkarya seni secara tekstual dan kontekstual. Target khusus dari penelitian terapan ini adalah peningkatan kualitas dan keberagaman produk souvenir, selanjutnya akan dilakukan uji coba pemasaran souvenir di lokasi wisata yang berada di Surakarta.
Burung Enggang Badak Sebagai Motif Hias pada Bilah Keris Tinatah Soleh , Moh. Qhoerudin; Darmojo, Kuntadi Wasi
Ornamen Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v21i1.6061

Abstract

Burung Enggang merupakan burung yang sangat penting dalam kehidupan suku Dayak. Unsur terpenting dalam organisasi suku Dayak adalah hutan yang diperlambangkan dengan Burung Enggang yang lebih lanjut melambangkan sesuatu yang “lebih tinggi”. Jenis enggang yang dihormati yaitu enggang badak dikarenakan satwa itu berhubungan dengan simbol ritual Dayak Iban, yaitu gawai kenyalang. Burung Enggang Badak dalam artikel ini dijadikan sumber ide penciptaan dhapur keris baru yang diterapkan pada bentuk keris lurus dengan menerapkan motif tinatah Burung Enggang pada bilahnya. Dipilihnya Burung Enggang ini sebagai ide dasar penulis, dikarenakan burung ini mempunyai keunikan yaitu paruhnya yang besar serta bercula. Terdapat landasan tiga komponen menurut Dharsono Sony Kartika yaitu tema (subject matter), bentuk (form) dan isi (makna). Proses penciptaan karya ini melakukan 3 tahapan penciptaan yang meliputi tahap eksplorasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. Pada karya ini terdapat dua karya bilah keris. Karya pertama yaitu keris dhapur Wira Kukila, karya ke dua yaitu keris dhapur Kukila Wana.
Kajian Visual Wayang Beber Koleksi Museum Wayang Banyumas Rahmawati, Junende; Priyono , Rohmad Eko
Ornamen Vol. 22 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayang beber merupakan salah satu jenis wayang yang dikenal di Indonesia. Terkenal memiliki dua gaya dari dua tempat yang diyakini sebagai tempat tersimpannya wayang beber asli yaitu Pacitan dan Wonosari selanjutnya disebut wayang beber Gaya Pacitan dan Gaya Wonosari. Wayang beber sendiri memiliki arti wayang yang dibeber (Jw) atau di bentangkan pada saat pertunjukan. Wayang beber yang berada di museum wayang Banyumas merupakan salah satu cerita dari wayang beber gaya Pacitan. Dimana ciri khas wayang beber Pacitan menceritakan kisah Jaka Kembang Kuning dengan Dewi Sekartaji dengan latar belakang yang dipenuhi ornamen. Wayang beber koleksi museum wayang Banyumas hanya memiliki satu gulung, yaitu gulungan ke dua. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tokoh-tokoh yang tergambar melalui pendekatan visual pada wayang beber koleksi museum wayang Banyumas guna memberikan edukasi dan sebagai referensi wawasan dan pengetahuan.
Cerita Malin Kundang Untuk Busana Ready to Wear Maknun, Luluk Khoironi; Sarwanto
Ornamen Vol. 22 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul “Cerita Rakyat Malin Kundang Untuk Busana Ready to Wear” difokuskan pada proses cipta busana dengan ide perangkat cerita rakyat Malin Kundang. Ketertarikan pada nilai budaya dan moral yang terkandung dalam cerita rakyat. Di dalam cerita rakyat Malin Kundang terdapat filosofi masyarakat Minangkabau yang melepas anak lelakinya untuk merantau dan mencari penghidupan yang lebih baik, serta kita sebagai anak tidak boleh durhaka terhadap orang tua yang dari kecil sudah banting tulang membesarkan kita. Tujuan penciptaan adalah menciptakan karya desain motif bersumber ide cerita rakyat Malin Kundang diaplikasikan ke busana ready to wear. Konsep seni yang digunakan adalah konsep ekspresi simbolik dengan konsep tata susun yang menekankan penciptaan komponen motif penyusun pola terdiri dari motif utama, pendukung. Analisis data yang digunakan menggunakan metode interpretasi dengan melalui pendekatan estetika. Langkah-langkah penciptaan meliputi 1) riset dengan memanfaatkan sumber data etik dan observasi, 2) eksperimen menekankan pada eksperimen bahan kain dan teknik skets motif utama, 3) perenungan tahap menemukan simbol/metafora, dan 4) pembentukan melakukan penyusunan menjadi sebuah pola desain (purwa rupa). Karya yang diciptakan berupa empat buah karya motif desain dan sembilan desain busana.
Penciptaan Panel Resin Berbasis Pembuatan Kain Tenun Goyor Pemalang dalam Wayang Beber Erlangga, Elang; Yustana, Prima
Ornamen Vol. 22 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengangkat tema aktivitas pembuatan kain tenun ATBM di Pemalang, ATBM merupakan alat produksi tenun yang dikerjakan oleh manusia, kain tenun di Pemalang yang proses produksinya menggunakan ATBM dinamakan Goyor, dan kain ini merupakan produk unggulan dari Kabupaten Pemalang. Proses pembuatan kain tenun Goyor ini kurang lebih melewati lima belas tahapan. Akan tetapi banyak masyarakat yang tidak tahu mengenai proses pembuatan kain ini, hanya mengetahui hasil jadinya saja. Penulis merespon hal tersebut dengan menggambar lima belas proses tahapan pembuatan kain tenun Goyor ke dalam bentuk wayang beber yang diterapkan pada panel resin. Penulis menerapkan metode penciptaan seni SP Gustami yang melalui tiga tahap utama, yaitu Eksplorasi (pencarian sumber ide, konsep, landasan penciptaan), Perancangan (rancangan desain karya) dan Perwujudan (pembuatan karya). Selain itu, terdapat unsur-unsur estetika dari Monroe Beardsley dalam penciptaan karya ini di antaranya kesatuan (unity) meliputi pemilihan warna adegan, kerumitan (complexity) meliputi teknik pewarnaan, sampai teknik pembuatan, dan kesungguhan (intensity) meliputi pengumpulan data yang dikumpulkan harus bisa dipertanggungjawabkan. Hasil karya ini terbagi menjadi 5 panel resin, berjudul Miwiti, Nlateni, Ngedumi, Nyawiji dan Ngeringkesi. Masing-masing panel menggambarkan 3 proses pembuatan kain tenun Goyor yang saling bersambung dari awal hingga akhir.
Pengembangan Keramik Batik Sebagai Diversifikasi Produk Bagi Pembatik di Kampung Surtanan Klaten Izza, Mohammad Ubaidul; Prabowo , Rahayu Adi; Sutriyanto; Martsidaun, Cerly Sudarta
Ornamen Vol. 22 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Surtanan di Desa Serenan, Kabupaten Klaten, memiliki sumber daya manusia pembatik yang selama ini memproduksi batik berdasarkan pesanan dari pengusaha di Solo dan Yogyakarta. Namun, pola produksi yang bergantung pada adanya pesanan menghambat motivasi untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi produk kerajinan yang sejalan dengan perkembangan industri kerajinan. Kelompok pembatik yang dipimpin oleh Sri Suyamti ini juga menghadapi kendala dalam pengetahuan mengenai diversifikasi produk dan strategi produksinya. Menyikapi permasalahan tersebut, Tim instruktur ISI Surakarta memberikan solusi melalui pelatihan diversifikasi produk dengan teknik cetak motif batik pada media keramik. Pelatihan ini melibatkan para pembatik dan perajin ukir yang masih memiliki ikatan kekerabatan, guna menciptakan kolaborasi berkelanjutan dalam kerajinan. Selain memperkaya teknik dan variasi produk, pelatihan ini juga memperkuat manajemen produksi melalui tradisi rewang serta peran kerabat pembatik dalam mengembangkan cetakan keramik. Pendampingan intensif dari Tim instruktur ISI Surakarta kepada 25 orang pembatik diharapkan dapat menguatkan potensi kreativitas dan kolaborasi yang berdampak berkelanjutan.
Perancangan Scarf dengan Pewarna Lidah Buaya dan Perintang Warna Gutta Tamarind Wahyuningrum, Anggita; Sulistyati, Apika Nurani
Ornamen Vol. 22 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perajin batik di Indonesia belum banyak mengeksplorasi pewarna alami jenis baru akibat kurangnya keilmuan mengenai tata cara pembuatan pewarna alami dan faktor ketersediaan jenis tanaman. Lidah buaya merupakan tanaman yang memiliki kandungan tanin alami. Lidah Buaya potensial untuk menjadi pewarna alami. Untuk menghasilkan pewarna alami, diperlukan proses ekstraksi dengan metode maserasi panas menggunakan pelarut ganatex. Hasil ekstraksi lidah buaya efektif sebagai pewarna alami dengan uji laboratorium ketahanan luntur terhadap pencucian 40℃. Hasil pengujian terhadap teknik pewarnaan colet dan celup menunjukkan nilai 4-5 dalam standar grey scale diklasifikasikan sebagai "Baik". Metode perancangan yang digunakan yaitu metode tiga tahap enam langkah oleh Gustami. Proses penggalian ide dimulai dengan studi literatur jenis tanaman yang mengandung zat tanin dan tanaman yang memiliki koagulan alami. Pada tahap perancangan, lidah buaya dan bubuk biji asam jawa digunakan sebagai pewarna dan perintang warna alami pada scarf. Bahan pelarut yang digunakan adalah ganatex sebagai zat pengikat dan pembangkit warna. Bubuk biji asam jawa diolah menjadi gutta tamarind dengan campuran lemak nabati yang diaplikasikan untuk membentuk motif. Bunga Wijaya Kusuma dipilih sebagai sumber ide pengembangan motif scarf sebagai upaya untuk pengenalan bunga khas Keraton Surakarta. Hasil akhir produk berupa scarf dengan variasi warna coklat muda hingga coklat tua. Scarf dapat digunakan oleh wanita usia remaja hingga dewasa.