cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpsikologisosial@ui.ac.id
Editorial Address
"Faculty of Psychology Universitas Indonesia Kampus Baru UI – Depok West Java 16424"
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Psikologi Sosial
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 08533997     EISSN : 26158558     DOI : 10.7454
Jurnal Psikologi Sosial (JPS) adalah sarana untuk mengembangkan psikologi sosial sebagai ilmu pengetahuan maupun sebagai ilmu terapan, melalui publikasi naskah-naskah ilmiah dalam bidang tersebut. JPS menerima naskah-naskah penelitian empiris kualitatif atau kuantitatif terkait dengan ilmu psikologi sosial. JPS dikelola oleh Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia melalui LPSP3, JPS memiliki versi cetak sejak tahun 2001 hingga 2008. Kemudian, pada tahun 2017 pengelolaannya dibantu oleh Ikatan Psikologi Sosial-Himpunan Psikologi Indonesia dengan tidak hanya menerbitkan versi cetak, tetapi juga versi online. JPS terbit sebanyak 2 kali setahun, yakni tiap Februari dan Agustus.
Arjuna Subject : -
Articles 165 Documents
Menjadi seorang berkeyakinan sekuler di Indonesia: Efek secular beliefs terhadap significance loss yang dimediasi oleh kesepian Norberta Fauko Firdiani; Joevarian Hudiyana
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.05

Abstract

Perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia diyakini menyebabkan pudarnya peran agama di dunia. Meskipun begitu, pernyataan ini menuai berbagai perdebatan. Berbagai temuan menunjukkan bahwa penurunan peran agama tidak dapat digeneralisasikan pada semua konteks. Peran agama cenderung bertahan dan terus menguat pada negara yang rentan, meskipun terdapat pengecualian pada sebagian negara maju. Pada konteks Indonesia, agama berperan besar dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara religius menolak nilai-nilai sekularisme. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus membahas tentang tren perkembangan sekularisme di berbagai budaya. Penelitian ini berusaha untuk melampaui fokus penelitian terdahulu dengan mempertimbangkan konteks penelitian yaitu dampak menjadi seorang sekuler di negara religius. Lebih spesifiknya, peneliti akan menguji secular beliefs memprediksi significance loss yang dijelaskan oleh kesepian. Terdapat 554 partisipan (perempuan = 73,3%, laki-laki = 25,6%, dan lainnya = 1,1%) yang merupakan WNI berusia 18 tahun ke atas (M = 25,62 dan SD = 8,427). Hasil analisis mediasi menunjukkan hasil yang bervariasi pada tiga dimensi secular beliefs. Pada dimensi 1 (menolak penjelasan supernatural) dan dimensi 3 (dukungan terhadap rasionalisasi manusia) secara signifikan memprediksi significance loss yang dimediasi oleh kesepian. Artinya, semakin tinggi kecenderungan orang pada dua dimensi tersebut maka semakin merasa tidak berharga yang disebabkan oleh kesepian. Mengingat Indonesia merupakan negara yang mengutamakan agama dan mengakui adanya entitas transendental maka orang sekuler dianggap menyimpang dari norma umum masyarakat dan mengalami eksklusi sosial dan penilaian negatif – yang pada gilirannya menyebabkan significance loss. Sedangkan pada dimensi 2 yaitu pemisahan agama dan negara dinilai lazim karena Indonesia bukan negara teokrasi yang bersumber dari hukum agama.
Peran fear of missing out (FOMO) dan penggunaan media sosial terhadap artikulasi identitas keislaman pada kalangan milennial muslim yang mengikuti tren hijrah di Instagram Sabiqotul Husna
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.03

Abstract

Based on study of 177 millennial Muslims in Indonesia who actively engaged in the hijrah movement through their Instagram, this study aims to reveal the relationship between FOMO and problematic use of social media, with the articulation of Islamic identity. The measuring instruments used in this research were the adaptation of the FOMO scale, the ad­aptation of social media disorder scale and the articulation of Islamic identity on Instagram scale. The results of the analysis using multiple regression showed that simultaneously FOMO and problematic use of social media predicted the articulation of Islamic identity with a simultaneous effective contribution of 40.6% (36.7% the contribution of social media use & 3.9% the contribution of FOMO). We also found that FOMO independently had no correlation with the articulation of Islamic identity, but the use of problematic social media proved to have a significant correlation with the articulation of Islamic identity. These findings may serve as a basis for further research related to the theme of religious identity articulation in social media and the formulation of interventions for excessive use of social media.
Catatan dari Editor: Peran sistem kepercayaan, internet dan tantangan post pandemic Mirra Noor Milla
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.02

Abstract

Sistem kepercayaan merupakan salah satu tema utama yang banyak dibahas dalam studi Psikologi untuk menjelaskan perilaku manusia. Dalam hal ini sistem kepercayaan dijelaskan sebagai sekumpulan nilai yang berinteraksi memengaruhi bagaimana kita menjalani hidup kita, bagaimana kita memperlakukan dan bergantung dengan orang lain (Banaj, 2018). Sekumpulan nilai tersebut dapat berbasis agama, politik, ilmiah atau pribadi. Dijelaskan oleh Brandt & Sleegers (2021) sebagai teori, sistem kepercayaan dapat mengintegrasikan sistem kepercayaan politik, konsistensi sikap, dan perbedaan ideologis dalam konsensus sikap.
Catatan dari Managing Editor: Persilangan psikologi sosial dengan bidang kesehatan mental Joevarian Hudiyana
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.01

Abstract

Dalam bukunya yang berjudul “The Social Cure: Identity, Health, and Well-Being”, Jetten dkk. (2012) menekankan pentingnya keterkaitan antara bidang kesehatan mental dan bidang psikologi sosial. Dalam permasalahan kesehatan baik itu kesehatan fisik maupun mental, faktor identitas sosial dan jejaring sosial penting untuk diperhatikan. Lebih dari sepuluh tahun sejak buku ini diterbitkan, berbagai riset telah memperkuat pandangan tersebut – terlebih di masa pandemi yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Resiliensi personal para guru dan dosen semasa COVID-19: Menelaah dampak dari kesehatan fisik, mental, dan finansial Nopriadi Saputra; Riant Nugroho; Retnowati WD Tuti
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 2 (2023): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.18

Abstract

Para pendidik merupakan aktor yang berpengaruh dalam suatu masyarakat, karena itu daya tahan atau resiliensi para pendidik semasa musibah COVID-19 adalah penting. Artikel ini berupaya untuk membahas mengenai resiliensi personal dari para guru dan dosen serta menguji secara empirik pengaruh dari kesehatan fisik, mental, dan finansial terhadap resiliensi personal tersebut. Sebanyak 538 orang pendidik yang berpartisipasi sebagai responden. Mereka terdiri dari para guru (51%) dan dosen (49%). Sebagian besar adalah perempuan (59%), berusia kurang dari 46 tahun (93%), berlatar pendidikan S1 dan S2 (68%), memiliki pengalaman kerja lebih dari lima tahun (87%), dan berdomisili di pulau Jawa (87%). Data yang diperoleh diolah dan dianalisis menggunakan PLS SEM dan aplikasi SmartPLS. Hasil analisis menjelaskan bahwa kesehatan mental memainkan peranan mediator dalam hubungan antara kesehatan finansial dan personal resiliensi. Para pendidik di Sumatra mengalami bahwa finansial tidak berpengaruh terhadap personal resiliensi dan kesehatan fisik. Untuk meningkatkan resiliensi masyarakat terhadap krisis COVID-19, dapat diawali dengan inisiatif untuk meningkatkan kesehatan mental para pendidik.
Bagaimana hobi membaca fiksi berperan terhadap empati di kehidupan nyata? Ferhani Fatimah Zahra; Setiawati Intan Savitri
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 2 (2023): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.15

Abstract

Penelitian terdahulu mengenai pengaruh fiksi terhadap empati di Indonesia umumnya dilakukan dengan desain eksperimen, yang mana terbatas hasilnya pada setting eksperimen itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hal yang serupa namun dengan desain non-eksperimen. Bersama variabel narrative empathy, penelitian ini berupaya meneliti pengaruh fiksi terhadap empati dengan menggunakan Author Recognition Test (ART) untuk keterpaparan fiksi, Interpersonal Reactivity Index (IRI) untuk empati, dan skala EDI untuk narrative empathy. Partisipan penelitian adalah 332 pembaca fiksi di Indonesia yang merupakan pengikut akun seputar sastra di media sosial Twitter. Partisipan penelitian diminta mengisi kuesioner online melalui Google Form. Data kemudian dianalisis dengan teknik regresi linear berganda menggunakan SPSS IBM versi 20. Hasil penelitian menemukan bahwa keterpaparan fiksi dan narrative empathy secara simultan berpengaruh terhadap empati pada pembaca fiksi sebesar 26,1%.
Peran dukungan sosial dan penyesuaian diri pada kesejahteraan psikologis mahasiswa tahun pertama di masa pandemi COVID-19 Lia Rossallina; Tjut Rifameutia
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 2 (2023): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.17

Abstract

Pandemi COVID-19 membuat berbagai pihak melakukan perubahan. Di dunia pendidikan, perubahan yang besar adalah bergantinya metode pembelajaran tatap muka menjadi metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Mahasiswa di tahun pertama perkuliahan, termasuk pihak yang turut terkena perubahan ini. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh penyesuaian diri dalam memediasi hubungan dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis. Pengambilan data dilakukan pada mahasiswa angkatan 2020 (N=605), dengan teknik convenience sampling. Hasil uji regresi menunjukkan penyesuaian diri secara signifikan memediasi hubungan dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis mahasiswa tahun pertama pada masa pandemi COVID-19. Semakin besar dukungan sosial yang diterima dari orang tua dan teman, maka akan membuat mahasiswa melakukan usaha-usaha penyesuaian diri yang akan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan psikologis mereka. Terdapat saran yang dapat diperhatikan oleh mahasiswa tahun pertama, saran kebijakan untuk perguruan tinggi, serta saran penelitian selanjutnya yang kami uraikan di penelitian ini.
Peran kepribadian dan lokus-kendali terhadap perilaku inovatif individual: Studi pada pegawai Ombudsman Republik Indonesia Sukma Nurmala; Thoyyibatus Sarirah
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 2 (2023): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.16

Abstract

Sebagai lembaga yang menampung pengaduan masyarakat akan administrasi dan pelayanan publik, Ombudsman Republik Indonesia (RI) menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan inovasi. Penelitian ini mengaji peran kepribadian (Big Five personality) dan lokus-kendali (locus of control) terhadap perilaku inovatif (individual innovative behavior) pada pegawai Ombudsman RI. Studi korelasional ini menunjukkan bahwa lokus-kendali internal (internal locus of control), dimensi kepribadian menyetujui (agreeableness) dan intelek (intellect) secara unik memprediksi perilaku inovatif individu. Pegawai yang memiliki tingkat lokus-internal, kecenderungan menyetujui dan intelek yang tinggi cenderung menunjukkan perilaku inovatif yang tinggi pula. Kesadaran-nurani (conscientiousness), stabilitas emosional (emotional stability), ekstraversi (extraversion), lokus kendali kuasa orang lain (power of others) dan lokus-kendali kebetulan (chance) tidak memprediksi perilaku inovatif. Kami membahas di bagian Diskusi bagaimana organisasi di Indonesia, dan Ombudsman RI secara khusus dapat meningkatkan perilaku inovatif karyawannya.
There’s no battle, coz we’ve already won! Peranan kebermaknaan aktivis pada aksi kolektif melalui identitas kelompok sebagai mediator dalam konteks aksi lingkungan Yuthika Jusfayana; Joevarian Hudiyana
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 2 (2023): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.14

Abstract

Aksi kolektif seperti demonstrasi dan protes adalah bagian dari proses demokrasi untuk menyampaikan aspirasi untuk mengubah keadaan yang lebih berkeadilan. Terdapat berbagai kerangka teoretis yang menjelaskan demonstrasi dan protes yang merupakan bagian dari aksi kolektif. Namun demikian, masih jarang yang membahas bagaimana aktivis yang terlibat dalam aksi tersebut memiliki motivasi berupa kebermaknaan dan keberhargaan. Teori quest for significance dapat menjelaskan proses kebermaknaan yang dialami aktivis melalui proses identifikasinya dengan kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan proses kebermaknaan membuat seseorang memiliki keinginan untuk melibatkan dirinya dalam suatu aksi kolektif peduli lingkungan (normatif maupun non normatif), via identifikasi kelompok. Penelitian dilakukan secara survey pada WNI berusia 18 tahun keatas, didapatkan sebanyak 308 partisipan, 71.75% perempuan dan 28.25% laki-lak). Peneliti melakukan analisis pengaruh kebermaknaan pada identifikasi kelompok menunjukkan hasil yang signifikan yaitu b= 0.278, p<0.05. Namun pengaruh langsung kebermaknaan pada aksi kolektif tidak signifikan (b= 0.074, p= 0.315; b2=0.093, p= 0.121.),. Lalu analisis mediasi membuktikan bahwa kebermaknaan via identifikasi kelompok pada aksi kolektif baik aksi damai maupun aksi radikal menunjukkan hasil yang signifikan (m1 = 0.112, p < 0,05 ; m2 = 0,073, p < 0,05) sehingga hasil analisis menunjukkan model full mediation. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat proses kebermaknaan dalam identifikasi kelompok dan juga perluasan teori quest for significance yang bisa digunakan dalam konteks aksi damai.
Catatan Managing Editor: Pulau Buru, Kesetaraan, dan Kedaulatan dalam Sains Muhammad Akhyar
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 2 (2023): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.13

Abstract

Dalam nuansa peringatan hari kemerdekaan saya teringat penggalan kalimat “Uh, Hindia, negeri yang hanya dapat menunggu-nunggu hasil kerja Eropa!” yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia, salah satu novel dari Tetralogi Pulau Buru. Dalam konteks sains seperti Psikologi (Sosial), lebih-lebih bahan ajar yang diberikan di kelas Psikologi Sosial di program studi Psikologi di tanah air, riset-riset yang dilakukan di “Barat” adalah rujukan utama. Riset yang dilakukan peneliti tanah air dengan partisipan orang Indonesia selalu berada dalam posisi minor dalam kuantitas ketika membahas suatu topik pembelajaran. Hal ini juga berlanjut dalam penulis tugas akhir, seolah-olah mensitasi publikasi peneliti Indonesia, akan menurunkan kredibilitas argumen yang dibangun, terutama jika jurnal yang dirujuk berbahasa Indonesia