cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpsikologisosial@ui.ac.id
Editorial Address
"Faculty of Psychology Universitas Indonesia Kampus Baru UI – Depok West Java 16424"
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Psikologi Sosial
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 08533997     EISSN : 26158558     DOI : 10.7454
Jurnal Psikologi Sosial (JPS) adalah sarana untuk mengembangkan psikologi sosial sebagai ilmu pengetahuan maupun sebagai ilmu terapan, melalui publikasi naskah-naskah ilmiah dalam bidang tersebut. JPS menerima naskah-naskah penelitian empiris kualitatif atau kuantitatif terkait dengan ilmu psikologi sosial. JPS dikelola oleh Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia melalui LPSP3, JPS memiliki versi cetak sejak tahun 2001 hingga 2008. Kemudian, pada tahun 2017 pengelolaannya dibantu oleh Ikatan Psikologi Sosial-Himpunan Psikologi Indonesia dengan tidak hanya menerbitkan versi cetak, tetapi juga versi online. JPS terbit sebanyak 2 kali setahun, yakni tiap Februari dan Agustus.
Arjuna Subject : -
Articles 165 Documents
Pesan dari Editor-in-Chief: Tantangan Psikologi Siber Bagus Takwin
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 1 (2020): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.511 KB) | DOI: 10.7454/jps.2020.02

Abstract

Penelitian psikologi tentang tingkah laku di dunia siber (cyber), termasuk di situs jejaring sosial (seperti Facebook dan Instagram yang popularitas-nya sangat tinggi), masih sedikit—apalagi di Indonesia. Begitu pun penelitian terkait fenomena tersebut di bidang psikologi sosial juga masih kurang. Padahal, banyak isu penting yang perlu dikaji di dunia siber, seperti bagaimana tingkah laku orang berubah di dunia daring (online), mengapa orang bertingkah laku berbeda ketika berada di dunia maya, mengapa mereka bertingkah laku seperti yang mereka tampilkan di internet dan media sosial, perilaku jual-beli daring, kecanduan di dunia maya, keadaan orang menghadapi risiko pengungkapan intim secara daring, hubungan intim dan persahabatan daring, hubungan antara individu dan institusi, bagaimana orang membina jejaring di dunia maya, kejahatan siber, sikap dan kecenderungan lainnya dalam menjaga data dan kerahasiaan pribadi serta antisipasi terhadap bocornya rahasia pribadi, juga pengawasan pemerintah yang semakin mengikis kepercayaan akan integritas dan privasi komunikasi daring. Dunia siber, atau dunia maya, mengacu pada lingkungan daring tempat banyak individu terlibat dalam interaksi sosial dan memiliki kemampuan untuk saling menggugah dan mempengaruhi. Belakangan himpunan kajian fenomena itu disebut Psikologi Siber (cyberpsychology), yang didefinisikan sebagai studi tentang pikiran manusia dan tingkah lakunya dalam konteks interaksi manusia serta komunikasi manusia dan mesin. Batas psikologi siber kini semakin meluas seiring dengan berkembangnya budaya komputer dan realitas virtual yang berlangsung di internet. Dewasa ini, internet digunakan secara luas di kehidupan masyarakat. Populasi manusia di dunia maya sangatlah besar. Pada 2020, diperkira-kan akan ada hampir 4,1 miliar pengguna internet. Artinya sejumlah orang menggunakan internet untuk berbagai kepentingan, seperti memecahkan masalah, menghasilkan uang, berinteraksi dengan orang lain, berpolitik, mencari hiburan, juga menyerang dan menjelekkan orang lain. Dunia siber menjadi ajang dan wahana aktivitas banyak sekali manusia. Dengan kondisi demikian, psikologi siber akan memainkan peran kunci dalam memahami tingkah laku dan tindakan orang-orang di ruang siber. Kini di banyak negara, bandwidth yang besar sudah dapat diakses oleh para pengguna internet, dengan rata-rata bandwidth lalu lintas 44,1 GB per bulan. Kondisi itu mendorong manusia untuk menciptakan dunia virtual yang sama sekali baru untuk bertingkah laku dan berinteraksi. Untuk dapat memahami dan menjelaskannya diperlukan banyak penelitian. Psikologi siber merupakan sub-bidang psikologi yang berkaitan dengan efek psikologis serta implikasi komputer dan teknologi daring seperti internet dan realitas virtual. Ruang lingkupnya mencakup juga tingkah laku di media sosial, kecanduan internet, masalah dengan situs kencan daring, cyberbullying, dan aspek-aspek lain tentang bagaimana orang berperilaku daring. Di dalamnya tercakup juga penelitian terhadap interaksi manusia-komputer, atau penyajian psiko-terapi daring. Psikologi siber sudah dimulai pada pertengahan 1990-an (Suler, 1996-2007; Whittle, 1997; Wallace, 1998; Gordo-López & Parker, 1999), tetapi bisa dibilang baru mulai mencuat pada dekade terakhir ini. Belakangan ini, meski belum banyak dibandingkan bidang psikologi terdahulu, hasil penelitian psikologi siber menawarkan wawasan untuk memperbaiki gaya hidup dan meningkatkan kesejahteraan di era digital. Prinsip-prinsip dasarnya dapat digunakan untuk penelitian berbagai topik, termasuk manajemen identitas daring, disinhibisi, komunikasi melalui teks dan foto, keintiman dan kesalahpahaman dalam hubungan daring, sikap yang saling bertentangan terhadap media sosial, kecanduan, perilaku menyimpang, realitas virtual, kecerdasan buatan, serta overload media (Suler, 2015). Sudah ada kerangka kerja yang dapat digunakan dalam meneliti fenomena dunia siber, seperti yang dikemukakan Suler (2015), yaitu 'Delapan Dimensi Arsitektur Psikologi Siber’ ('Eight Dimensions of Cyberpsychology Architecture') yang dapat diterapkan oleh para peneliti dan mahasiswa sebagai alat yang berharga untuk membuat dan memahami berbagai fenomena dunia digital. Psikologi siber bisa disebut juga sebagai “Psikologi Zaman Digital” yang berfokus pada manusia sebagai individu dengan berbagai sepak-terjangnya di dunia siber. Kerangka kerja itu dapat memberikan cahaya baru pada reaksi sadar dan juga bawah-sadar kita terhadap pengalaman daring dan kebutuhan intrinsik manusia untuk mengaktualisasikan diri. Kini, dunia telah sangat berubah dalam banyak cara bagi banyak orang. Itu terutama disebabkan oleh institusi sosial dan individu telah menyaksikan dan berpartisipasi dalam revolusi sosial lain: revolusi teknologi informasi melalui internet. Bukan saja ketersediaan dan aksesibilitas informasi dalam segala jenis dan inovasi dramatis dalam komunikasi antarpribadi, melainkan juga ketersediaan ruang dan masyarakat baru yang memungkinkan munculnya berbagai interaksi baru dan aktivitas baru lainnya, bahkan tatanan sosial baru. Banyak orang dan perusahaan di seluruh dunia mengakui bahwa dengan menggunakan internet secara optimal, mereka mengalami peningkatan signifikan dalam beragam kegiatan pribadi dan bisnis, baik itu di bidang pekerjaan, sosial, bisnis, maupun yang terkait dengan pemerintah. Kita bisa saksikan juga banyak orang dan perusahaan yang ikut dalam “perlombaan kompetitif” di bisnis teknologi informasi dan internet, disertai dengan kreativitas dan potensi tinggi. Mereka berkembang maju dan memperkuat penggunaan komputer yang lebih intensif dalam berbagai kegiatan. Perkembangan teknologi yang luar biasa telah mengubah tatanan dunia orang dan kehidupan dalam banyak cara, mulai dari mencari dan menggunakan informasi tentang topik apa pun hingga ke banyak aktivitas di ranah lain. Kita saksikan sekarang sudah umum internet digunakan untuk kegiatan belanja dan perdagangan, komunikasi dengan kenalan dan orang asing, kencan virtual dan membina kehidupan cinta, belajar dan mengajar, penelitian, membantu dan dibantu orang lain, meningkatkan penggunaan obat-obatan dan aspek perawatan kesehatan lainnya, memperoleh hiburan dan rekreasi, serta ekspresi diri. Dunia siber kini merupakan tatanan masyarakat tersendiri dengan segala aktivitas manusia-manusianya. Sekali lagi, untuk dapat memahami dan menjelaskannya diperlukan kajian dan penelian baru. Ini adalah tantangan bagi para peneliti psikologi sosial di Indonesia untuk melakukan penelitian terhadap fenomena itu. Lahan yang masih belum banyak digarap menanti mereka agar menghasilkan pemikiran dan penjelasan terbaik untuk dibagikan ke seluruh dunia.
Mawas diri berideologi: Tantangan berpartisipasi religius online di era ujaran kebencian Nuri Sadida
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 3 (2020): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2020.25

Abstract

Ujaran kebencian di dunia maya merupakan perilaku yang dimotivasi untuk mengekspresikan prasangka. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perilaku religius merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong ekspresi prasangka. Namun, penelitian sebelumnya saling bertolak belakang dalam mengungkap peran religiusitas dan prasangka, serta ditemukan bahwa kepribadian otoritarianisme seringkali memediasi hubungan tersebut. Penelitian ini berupaya untuk melihat hubungan perilaku religius di dunia maya dengan motivasi ekspresi prasangka, khususnya di media sosial. Lebih lanjut, penelitian ini berupaya untuk memahami faktor yang bisa menjelaskan hubungan antara perilaku religius di dunia maya dan motivasi ekspresi prasangka dengan melihat peran mediasi ideologi otoritarianisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah partisipan 152 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas religius secara online berhubungan langsung dengan motivasi eksternal ekspresi prasangka, dan tidak memiliki hubungan secara langsung dengan motivasi internal ekspresi prasangka. Namun demikian, ditemukan adanya efek tidak langsung pada motivasi internal ekspresi prasangka, melalui ideologi otoritarianisme.
Pemberian teknik Door in the Face dan Foot in the Door untuk meningkatkan perilaku prososial Luly Luliyarti; Widyastuti Widyastuti; Kurniati Zainuddin; Nurul Fajriah Yahya
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 1 (2021): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.09

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas teknik door in the face dan foot in the door dalam meningkatkan perilaku prososial serta mengetahui perbedaan efektivitas pemberian teknik kesepakatan dalam meningkatkan perilaku prososial. Partisipan penelitian ini melibatkan 161 siswa SMA X (Kota) dan SMA Y (Desa) berusia 16-19 tahun. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain multiple treatments and controls with pretest. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, ada perbedaan efektivitas pemberian teknik door in the face dan foot in the door dalam membentuk kesepakatan terhadap perilaku prososial. Teknik foot in the door lebih efektif dalam membentuk kesepakatan terhadap perilaku prososial dibandingkan teknik door in the face. Kedua, ada perbedaan efektivitas pemberian teknik kesepakatan (door in the face dan foot in the door) dalam meningkatkan perilaku prososial di SMA X dan SMA Y. Pemberian teknik door in the face dan foot in the door lebih efektif dalam meningkatkan perilaku prososial di SMA Y dibandingkan SMA X. Penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian untuk mengetahui penyebab dibalik perbedaan perilaku prososial yang ditampilkan meskipun mendapatkan perlakuan yang sama.
Adaptasi alat ukur Munroe Multicultural Attitude Scale Questionnaire versi Indonesia Intan Permatasari; Mirra Noor Milla; Selfiyani Lestari; Nudzran Yusya; Nesya Adira; Boma Baswara
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 2 (2020): Special Issue - Methodological Trends in Social Psychology: Indonesian Context
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.123 KB) | DOI: 10.7454/jps.2020.17

Abstract

Usaha adaptasi alat ukur multikulturalisme menjadi penting karena terdapat perbedaan dalam persepsi multikulturalisme di negara-negara barat dan Indonesia. Jika multikulturalisme di negara-negara barat lebih merujuk pada perbedaan warna kulit, di Indonesia multikulturalisme dapat dikatakan lebih dinamis, yaitu merujuk pada perbedaan suku. Oleh karena itu, diperlukan adanya alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur konstruk multikulturalisme. Penelitian ini dilakukan demi tujuan tersebut, dengan cara mengadaptasi alat ukur Munroe Multicultural Attitude Scale Questionnaire (MASQUE). Pemilihan MASQUE sebagai alat ukur yang diadaptasi karena MASQUE dapat mengukur sikap terhadap multikulturalisme pada sampel yang lebih luas. Adaptasi MASQUE dilakukan melalui tahap penerjemahan, penerjemahan ulang, pengujian validitas, serta pengujian reliabilitas. Pengujian validitas alat ukur MASQUE versi Indonesia dilakukan menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA), sedangkan pengujian reliabilitas alat ukur dilakukan dengan menggunakan Cronbach-Alpha. Hasil adaptasi alat ukur yang diuji pada 1393 responden menunjukkan bahwa tiga dimensi (pengetahuan, tindakan, dan kepedulian) dalam kuesioner ini reliabel, tetapi memiliki validitas konstruk yang kurang baik. Kesimpulannya, alat ukur ini dapat digunakan untuk mengukur multikulturalisme di Indonesia, dengan catatan menghapus beberapa item alat ukur asli yang sulit dipahami dalam konteks Indonesia.
Adaptasi dan properti psikometrik skala kontrol diri ringkas versi Indonesia Haykal Hafizul Arifin; Mirra Noor Milla
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 2 (2020): Special Issue - Methodological Trends in Social Psychology: Indonesian Context
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.765 KB) | DOI: 10.7454/jps.2020.18

Abstract

Studi adaptasi alat ukur ini terdiri dari dua studi yang memiliki tujuan untuk mengadaptasi skala kontrol diri, mengeksplorasi struktur konstruk, dan menguji validitas skala. Dalam studi 1 (N = 411), kami melakukan adaptasi lintas budaya dan pengujian struktur faktor skala kontrol diri. Ditunjukkan bahwa konseptualisasi 10 item skala kontrol diri De Ridder dkk. (2012) yang terdiri dari dua dimensi (inihibisi dan inisiasi) adalah model pengukuran yang cenderung lebih stabil dibandingkan tiga model pengukuran alternatif. Dalam studi 2 (N = 144) kami menguji validitas operasionalisasi skala kontrol diri dengan mengkorelasikannya dengan konstruk-konstruk lain yang sesuai dengan kerangka teoretis. Kami mendemonstrasikan bahwa 10 item skala kontrol diri versi Indonesia memiliki properti psikometrik yang baik (reliabel dan valid). Skala kontrol diri berhasil memprediksi gaya hidup tertib – dapat memprediksi seberapa individual dapat memenuhi fungsi hidupnya sehari-hari. Skala kontrol diri juga memiliki validitas diskriminan, kontrol diri yang diukur dengan skala ini berbeda dengan trait conscientiousness. Skala kontrol diri tidak terkontaminasi dengan kecenderungan responden menunjukkan impresi baik. Studi kami menunjukkan bahwa skala kontrol diri dapat membedakan mereka yang merokok aktif dan non-perokok. Adaptasi skala kontrol diri ringkas versi Indonesia memiliki konsistensi internal yang baik, teruji antar antar studi, dan telah teruji valid.
Anteseden leader endorsement: Perspektif teori identitas sosial Yoga Aji Nugraha; Samian Samian; Corina D Riantoputra
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 3 (2020): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2020.22

Abstract

Salah satu kunci dari efektivitas kepemimpinan adalah bagaimana seorang pemimpin diterima dan didukung oleh bawahannya (leader endorsement). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi dukungan bawahan terhadap pemimpin berdasarkan teori identitas sosial. Artikel ini memiliki hipotesis bahwa prototipikalitas pemimpin (leader prototypicality) dan personal bases of power dari pemimpin (expert power dan referent power) memengaruhi dukungan bawahan terhadap pemimpinnya. Menggunakan online surveys kami berhasil mendapatkan partisipan sebanyak 135 karyawan dari berbagai perusahaan swasta di Indonesia. Reliabilitas masing-masing alat ukur yang digunakan berkisar antara 0,80 – 0,90. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) leader prototypicality tidak signifikan memengaruhi leader endorsement (β = .124; p < .05); (2) leaders’ expert power (β = .767; p < .01) dan leaders’ referent power (β = .363; p < .01) signifikan memengaruhi leader endorsement. Faktor tersebut mampu memprediksi varian leader endorsement sebesar 78,3%, F(3.94) = 56.706, p < .01. Temuan penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan teori identitas sosial bahwa pada konteks perusahaan swasta, identitas sosial pemimpin bukan menjadi faktor yang menentukan terbentuknya dukungan terhadap pemimpin.
Pilihan rasional ataukah pilihan yang terikat secara sosial? Studi kasus pengambilan keputusan pada remaja perempuan yang terlibat prostitusi Santy Yanuar Pranawati; Adriana Soekandar Ginanjar; Rudolf Woodrow Matindas
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 3 (2021): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.24

Abstract

Walau telah banyak penelitian yang membahas mengenai berbagai faktor dibalik keputusan remaja terlibat dalam prostitusi, tetapi masih sedikit yang menjelaskan rangkaian proses yang terjadi. Penelitian studi kasus ini dilakukan untuk memahami secara mendalam tentang proses pengambilan keputusan remaja perempuan yang terlibat dalam prostitusi tanpa adanya ancaman atau tekanan dari orang lain. Dalam menjelaskan proses yang terjadi, disoroti peranan rasionalitas terbatas pada remaja. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi non partisipan. Wawancara dilakukan terhadap 8 (delapan) partisipan yang terlibat prostitusi sejak sebelum berusia 18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan pada remaja perempuan untuk terlibat prostitusi terdiri dari tujuh tahap, yaitu: (1) mengalami permasalahan di dalam keluarga; (2) mencari dukungan sosial dari teman; (3) terpapar kenakalan remaja; (4) kebutuhan uang; (5) terpapar dunia prostitusi; (6) terlibat prostitusi; dan (7) keinginan dan usaha untuk keluar dari prostitusi.
Social neuroscience: Pendekatan multi-level integratif dalam penelitian psikologi sosial Galang Lufityanto
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 2 (2020): Special Issue - Methodological Trends in Social Psychology: Indonesian Context
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.314 KB) | DOI: 10.7454/jps.2020.11

Abstract

Manusia sebagai makhluk biologis yang hidup dalam lingkungan sosial menciptakan kompleksitas dalam kehidupannya. Pendekatan biologis atau sosial yang berdiri sendiri-sendiri sering menyisakan pertanyaan yang belum terjawab. Social Neuroscience merupakan pendekatan mutakhir yang meneliti aspek biologis dalam konteks perilaku sosial manusia. Dengan menggabungkan antara kelebihan pendekatan biologis dan pendekatan sosial, Social Neuroscience berpotensi menjadi suatu metode multi-level integratif yang mampu memahami kompleksitas perilaku manusia secara lebih komprehensif. Artikel ini akan secara lebih lanjut membahas filosofi pendekatan tersebut, beserta ruang lingkup, desain penelitian, teknik pengukuran, validasi, serta aplikasinya di Indonesia. Harapannya, berbekal kemajemukan manusia di Indonesia dan penguasaan metode Social Neuroscience, Indonesia ke depannya akan bisa menjadi salah satu pemain utama dalam perkembangan ilmu Psikologi global.
Respondent-driven sampling (RDS) method: Introduction and its potential use for social psychology research Andrian Liem; Brian J. Hall
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 2 (2020): Special Issue - Methodological Trends in Social Psychology: Indonesian Context
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1690.458 KB) | DOI: 10.7454/jps.2020.13

Abstract

Contrary to other non-probability sampling methods in which researchers actively recruit potential participants, respondent-driven sampling (RDS) relies on connection and trust within social networks to access hidden or hard-to-reach populations through a peer-to-peer recruitment process. These interdependency relations aligned with Indonesian communal culture. Personal network size calculation in the RDS method makes this innovative sampling method approximate random sampling methods, where findings from the sample could be generalized to the target population. Considering its superiority, the RDS method could be applied in social psychology research in Indonesia to explore current sensitive social issues among hidden or hard-to-reach Indonesian sub-populations, for instance, radical religious groups. The current article aimed to concisely describe the RDS method; discuss ethical considerations, strengths, and weaknesses of the RDS method; and outline the potential use of the RDS method in improving the contribution of social psychology research in Indonesia, for example, by advancing strategies for social intervention programs. It is followed by a brief step-by-step process to conduct a study using the RDS method.
Epistemological violence, essentialization, dan tantangan etik dalam penelitian psikologi sosial Monica Eviandaru Madyaningrum
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 2 (2020): Special Issue - Methodological Trends in Social Psychology: Indonesian Context
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.618 KB) | DOI: 10.7454/jps.2020.12

Abstract

Tulisan ini hendak membahas persoalan etik dalam penelitian psikologi sosial di Indonesia, yang sejauh ini masih jarang dikaji. Secara khusus, tulisan ini dibangun dengan mengacu pada konsep epistemological violence. Merujuk pada konsep tersebut, penulis berargumen bahwa penelitian psikologi sosial di Indonesia memiliki risiko etis untuk mereproduksi kekerasan epistemologis melalui penggunaan cara pandang yang bersifat essentializing. Mengacu pada argumen ini, penulis mengajukan dua rekomendasi. Pertama, pada tataran personal, penulis memandang pentingnya mengembangkan refleksivitas sebagai sarana untuk mengasah kepekaan etis peneliti. Kedua, terkait dengan peran asosisasi psikologi sosial, penulis berpendapat tentang perlunya asosiasi untuk mendorong diskursus yang lebih kritis tentang etik penelitian dalam studi-studi psikologi sosial di Indonesia.

Page 6 of 17 | Total Record : 165