cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpsikologisosial@ui.ac.id
Editorial Address
"Faculty of Psychology Universitas Indonesia Kampus Baru UI – Depok West Java 16424"
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Psikologi Sosial
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 08533997     EISSN : 26158558     DOI : 10.7454
Jurnal Psikologi Sosial (JPS) adalah sarana untuk mengembangkan psikologi sosial sebagai ilmu pengetahuan maupun sebagai ilmu terapan, melalui publikasi naskah-naskah ilmiah dalam bidang tersebut. JPS menerima naskah-naskah penelitian empiris kualitatif atau kuantitatif terkait dengan ilmu psikologi sosial. JPS dikelola oleh Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia melalui LPSP3, JPS memiliki versi cetak sejak tahun 2001 hingga 2008. Kemudian, pada tahun 2017 pengelolaannya dibantu oleh Ikatan Psikologi Sosial-Himpunan Psikologi Indonesia dengan tidak hanya menerbitkan versi cetak, tetapi juga versi online. JPS terbit sebanyak 2 kali setahun, yakni tiap Februari dan Agustus.
Arjuna Subject : -
Articles 165 Documents
Catatan editor untuk edisi khusus tren metodologi: Paradigma dan metodologi psikologi sosial dalam kebudayaan non-WEIRD Moh. Abdul Hakim; Joevarian Hudiyana
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 2 (2020): Special Issue - Methodological Trends in Social Psychology: Indonesian Context
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2020.10

Abstract

Salam sejahtera, Pada tahun 2015 silam, lebih dari 100 peneliti dari berbagai institusi di beberapa benua melakukan sebuah usaha replikasi penelitian besar-besaran. Tak kurang dari 100 eksperimen yang terbit dalam jurnal psikologi bereputasi diuji kembali untuk menemukan apakah memang betul hasil eksperimen sesuai dengan laporan asli. Ternyata, hanya 68% dari usaha replikasi itu yang berhasil menemukan bukti signifikan secara statistik (Open Science Collaboration, 2015). Masalah yang dikemukakan oleh komunitas Open Science Collaboration ini menggegerkan ilmu psikologi, tak terkecuali psikologi sosial. Sejak munculnya isu krisis replikasi ini, berbagai temuan – mulai dari yang klasik sampai yang kontemporer dalam bidang psikologi – dipertanyakan kembali keabsahannya. Beberapa tahun kemudian, pakar neurosains kognitif dan advokat sains terbuka Christopher D. Chambers dari Cardiff University mempublikasikan sebuah buku yang membahas masalah fundamental dalam praktik ilmiah di psikologi. Dalam buku yang ia beri judul “The 7 Deadly Sins of Psychology” (7 Dosa Besar Psikologi), ia memaparkan sejumlah isu dimana metodologi merupakan salah satu isu yang bermasalah dalam psikologi (Chambers, 2019). Analisis statistik dan penentuan metodologi dalam riset-riset psikologi dianggap terlalu fleksibel sehingga rentan untuk dimanipulasi oleh peneliti. Tidak kalah pentingnya dan konsisten dengan temuan Open Science Collaboration, ilmu psikologi juga dianggap tidak reliabel. Temuan-temuan penting bisa tidak konsisten ketika diuji kembali dengan metode yang sama. Masalah pada reliabilitas temuan seperti itu bisa diatribusikan ke berbagai faktor. Pertama, psikologi belum membudayakan replikasi. Padahal, disiplin ilmu alam seperti fisika senantiasa berusaha mereplikasi temuan-temuan laboratorium mereka (Franklin, 2018). Kedua, adalah masalah fraud serta pelaporan metodologi atau analisis yang terlalu fleksibel sebagaimana dikemukakan Chambers (Chambers, 2019). Selain kedua alasan tersebut, ada satu alasan lain yang nampaknya jarang dibahas – bahwa ada faktor kebudayaan atau kontekstual yang menyebabkan kondisi studi asli dan studi berikutnya mengalami perbedaan. Alasan ini dikemukakan oleh Stroebe dan Strack (2014) dalam artikel mereka yang isinya mengemukakan bahwa replikasi dengan temuan sama persis itu sangat sulit terjadi. Faktor perbedaan budaya adalah isu yang substansial dan perlu diperhatikan dalam ilmu psikologi. Ini sudah lama ditekankan oleh Henrich, Heine, dan Norenzayan (2010) dalam artikel mereka yang berjudul “The weirdest people in the world?”. Menurut mereka, banyak (jika tidak dibilang mayoritas) riset psikologi dilakukan di komunitas atau negara WEIRD (Western – kebudayaan barat, Educated – sampel mahasiswa atau kaum terdidik, Industrialized – negara industri maju, Rich – kalangan ekonomi menengah keatas, dan Democratic – negara demokratik). Dengan kata lain, teori-teori yang dihasilkan dari riset-riset psikologi hanya terfokus pada kebudayaan WEIRD seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat, namun mengabaikan konteks-konteks budaya lainnya. Sehingga, usaha generalisasi suatu teori tanpa memahami konteks lokal dari tiap kebudayaan non-WEIRD bisa menghasilkan temuan yang tidak konsisten. Menyadari betapa fundamentalnya isu kebudayaan ini, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) mengeluarkan isu khusus tentang perspektif dan isu metodologi dalam psikologi sosial. Dalam isu khusus ini, JPS mempublikasikan naskah-naskah yang mengevaluasi perspektif atau paradigma yang muncul dari kebudayaan atau masyarakat WEIRD. Dalam naskah yang berjudul “Social neuroscience: Pendekatan multi-level integratif dalam penelitian psikologi sosial”, Galang Lufityanto berusaha mengulas potensi dari perspektif neurosains kognitif untuk psikologi sosial dalam konteks manusia Indonesia. Artikel ini sangat penting karena perspektif biologis seperti neurosains kognitif perlu direplikasi di berbagai konteks masyarakat berbeda (Fischer & Poortinga, 2018) agar terhindar dari generalisasi yang terlalu cepat. Sementara dalam naskah yang berjudul “Epistemological violence, essentialization dan tantangan etik dalam penelitian psikologi sosial”, Monica Eviandaru Madyaningrum berusaha mendiskusikan isu etika dalam riset psikologi sosial. Seringkali, psikologi sosial mengadopsi pandangan etika yang muncul dari kebudayaan seperti Amerika Serikat dimana etika prosedural yang terfokus pada individu menjadi tolak ukurnya. Padahal, etika juga men-cakup kerangka berpikir dan relasi kuasa yang terjadi dalam masyarakat. Naskah ini mengajak kita untuk keluar dari isu etika individu menjadi isu etika dalam relasi antar elemen masyarakat, sehingga lebih sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia. Isu khusus ini tidak hanya terfokus pada persoalan paradigma epistemik dan etika dalam psikologi sosial. Beberapa naskah berikutnya membahas tentang potensi penggunaan metode alternatif untuk riset-riset psikologi sosial. Andrian Liem dan Brian J. Hall dalam naskah mereka yang berjudul “Respondent-driven sampling (RDS) method: Introduction and its potential use for social psychology research” membahas potensi metode pencarian sampel (sampling) yang lebih superior daripada metode non-probabilitas lain tetapi juga lebih mungkin dilakukan dibandingkan metode random sampling. Dalam metode respondent-driven sampling (RDS), peneliti merekrut partisipan berdasarkan struktur jejaring atau rasa saling percaya antar partisipan. Mengingat masyarakat Indonesia beroperasi berdasarkan struktur relasi dan rasa saling percaya (Hopner & Liu, in press), metode RDS ini sangat menjanjikan untuk diterapkan. Bukan hanya karena kemudahan dalam pengambilan data, namun juga karena potensinya untuk lebih mampu menggeneralisasi temuan ke dalam populasi yang diteliti. Tidak kalah menariknya adalah naskah yang ditulis oleh Tsana Afrani dan para koleganya dengan judul “Apakah intervensi prasangka lewat media bisa mengurangi prasangka implisit terhadap orang dengan HIV/AIDS? Eksperimen menggunakan implicit association test (IAT).” Dalam beberapa tahun terakhir, IAT atau tes asosiasi implisit menjadi alat ukur prasangka implisit yang dianggap kontroversial (Jost, 2019; Singal, 2017). Intervensi berbasis prasangka implisit juga menjadi sasaran kritik. Maka dari itu, penting untuk menguji IAT dalam konteks intervensi di berbagai konteks seperti di kebudayaan non-WEIRD. Ditemukan bahwa prasangka implisit tidak berubah setelah partisipan ikut serta dalam intervensi prasangka lewat media. Ini semakin mempertebal daftar kritik terhadap IAT. Naskah berikutnya membahas potensi metode kualitatif yang jarang digunakan dalam psikologi sosial, yaitu metode historis-komparatif. Dalam naskah yang berjudul “Menggunakan metode historis komparatif dalam penelitian psikologi”, Nugraha Arif Karyanta, Suryanto, dan Wiwin Hendriani menjelaskan bahwa data-data seperti dokumen bersejarah, catatan sejarah, bahkan dokumen sipil yang masih berlangsung bisa digunakan untuk menjelaskan proses psikologis yang terjadi pada suatu konteks masyarakat. Metode ini berpotensi untuk mengeksplorasi bagaimana temuan-temuan psiko-logi sosial yang seringkali muncul dari kebudayaan WEIRD bisa relevan atau tidak relevan dengan perkembangan sejarah, kebijakan sosial dan hukum, yang ada pada masyarakat non-WEIRD seperti masyarakat Indonesia. Sementara itu Retno Hanggarani Ninin dan kolega-koleganya menekankan pentingnya asesmen psikologi dalam situasi alamiah. Dalam naskah yang berjudul “Psikoetnografi sebagai metoda asesmen psikologi komunitas”, mereka membahas bahwa seringkali asesmen psikologis mencerabut individu dari situasi ekologis alami mereka. Padahal, individu tidak terlepas dari struktur sosial dan budaya yang ia alami sehari-hari. Dalam naskah ini, para penulis juga memberikan contoh bagaimana asesmen psikoetnografi bisa dilakukan. Membahas perbedaan dan kesetaraan antar budaya, tentu juga sulit dilepaskan dari isu kesetaraan lintas budaya dari alat ukur psikologis. Dalam isu khusus ini, JPS mempublikasikan dua naskah validasi alat ukur. Kedua alat ukur ini dinilai penting dan relevan untuk diadaptasi dan divalidasi pada konteks Indonesia. Dalam naskah “Adaptasi alat ukur Munroe Multicultural Attitude Scale Questionnaire versi Indonesia”, Intan Permatasari dan kolega-koleganya mempertanyakan validasi alat ukur sikap multikultural karena pada budaya Indonesia, sikap multikultural lebih prevalen pada relasi antar etnis sementara di budaya Amerika Serikat (budaya asal alat ukurnya), sikap multicultural lebih terfokus pada warna kulit. Sementara pada naskah “Adaptasi dan properti psikometrik skala kontrol diri ringkas versi Indonesia”, Haykal Hafizul Arifin dan Mirra Noor Milla berusaha mengadaptasi dan menemukan validitas konstruk dan validitas diskriminan dari alat ukur kontrol diri. Ada banyak struktur dimensi dari alat ukur kontrol diri dalam riset-riset sebelumnya. Para penulis menguji struktur dimensi mana yang paling cocok untuk konteks Indonesia. Akhir kata, izinkanlah kami berterima kasih kepada para reviewer yang telah memberikan masukkan kepada naskah-naskah di edisi khusus ini, mulai dari awal sampai naskah siap dipublikasikan. Kami berharap, edisi khusus ini bisa menjadi pemantik diskusi-diskusi saintifik lanjutan tentang ragam perspektif dan isu metodologi di psikologi sosial, khususnya untuk konteks kebudayaan non-WEIRD seperti Indonesia. Tidak hanya itu, kami juga berharap bahwa edisi khusus ini bisa menjadi pedoman atau acuan bagi penggunaan berbagai metode seperti sampling RDS, alat ukur IAT, asesmen psiko-etnografi, dan riset historis komparatif. Kami juga berharap edisi khusus ini menstimulasi riset lanjutan dengan paradigma social neuroscience dan paradigma etika yang lebih luas dari sekedar analisis etika prosedural.
Political trust on COVID-19 handling as predictor towards optimism on the new normal situation: Integrity and benevolence rather than competence Indro Adinugroho; Ruth Regina Simanjuntak
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 2 (2021): Special Issue COVID-19
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.12

Abstract

Covid-19 has turned into a global health issue since April 2020 where WHO finally decided the spread of the virus as a global pandemic that affected more than 200 countries. Previous works have found that trust toward the government is important in adapting to the pandemic situation. However, what type of trust is more important? This study aims to investigate the role of different domains of trust towards Covid-19 treatment conducted by the Indonesian government as a predictor for the perception of the new normal situation. The result shows that higher trust towards government will lead to optimism in facing the new normal situation, in which perceived integrity and benevolence become the significant predictors toward optimism. However, we did not find the same pattern for the competence domain of trust.
Catatan Editor: Langkah JPS dalam situasi pandemi dan pengantar Vol. 18 (3) tentang budaya, identitas, dan relasi antarkelompok Joevarian Hudiyana; Bagus Takwin
Jurnal Psikologi Sosial Vol 18 No 3 (2020): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2020.19

Abstract

Salam sejahtera, Tahun 2020 ini merupakan tahun yang menantang bagi kita semua. Awal tahun diwarnai dengan berbagai peristiwa, diantaranya politik global yang memanas serta peristiwa alam seperti darurat kebakaran di Australia dan banjir besar yang melanda ibu kota Indonesia, Jakarta. Seakan tidak cukup, pada tahun yang sama wabah virus corona (COVID-19) menyebar ke seluruh dunia; menciptakan situasi pandemi yang ber-tahan hingga naskah ini ditulis. Per tanggal 24 Agustus 2020, telah ditemukan 23.499.048 kasus infeksi COVID-19 di 214 negara dan 809.834 angka kematian akibat infeksi tersebut. Pada tanggal yang sama, di Indonesia, sudah terdapat 155.412 kasus positif COVID-19 dan tercatat 6.759 angka kematian (Petterson, Manley, & Hernandez, 24 Agustus, 2020). Ini secara langsung berdampak pula terhadap kondisi sosial kema-syarakatan dan ekonomi di seluruh dunia, tak terkecuali dampak psikologis. Dikarenakan pentingnya mengetahui bagaimana situasi pandemi ini berdampak pada dinamika psikis terutama pada masyarakat Indonesia, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) mengundang peneliti dan akademisi dari berbagai Universitas di Indonesia untuk menulis dalam edisi khusus JPS: Respons terhadap COVID-19. Dalam edisi ini, JPS menerima naskah-naskah dengan tema: (1) Respon individu maupun kolektif terhadap fenomena wabah corona virus, (2) Faktor-faktor yang memprediksi respon masyarakat terhadap corona virus, (3) Peranan leader dan authority dalam menangani wabah corona virus, (4) Psikologi politik dan penanganan corona virus, (5) Isu kebijakan terkait corona virus dan dampaknya terha-dap psikologi individual, dan (6) Dampak ekonomi dan finansial pada individu dalam wabah corona virus. Untuk edisi ini, kami juga mengundang tiga ahli psikologi sosial sebagai editor tamu. Diurutkan sesuai abjad, editor tamu pertama adalah Bapak Indra Yohanes Kiling, Ph.D dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur. Riset beliau banyak mengidentifikasi faktor sistemik atau risiko lingkungan pada kualitas hidup manusia di berbagai dimensi. Pemahaman ini penting karena situasi pandemi berdampak pada berbagai kondisi sistemik yang juga meme-ngaruhi kualitas hidup individu dalam masyarakat (Van Bavel dkk., 2020). Sementara editor tamu kedua adalah Dr. Rakhman Ardi dari Universitas Airlangga, Jawa Timur. Pemahaman akan dinamika perilaku di media sosial pada riset-riset beliau akan membantu kita juga, khususnya untuk tulisan-tulisan terkait dampak pandemi pada perilaku daring dan dalam dunia maya (Bao, 2020; Pennycook, McPhetres, Zhang, Lu, & Rand, 2020; Cinelli dkk., 2020). Last but not least, Dr. Setiawati Intan Savitri dari Unversitas Mercu Buana, DKI Jakarta yang memiliki berbagai riset tentang bagaimana individu bisa berespon dalam menghadapi situasi negatif dalam hidupnya. Kondisi pandemi ini bisa mengakibatkan dampak-dampak psikis seperti depresi dan rendahnya kesejahte-raan psikis maupun ekonomi (Rajkumar, 2020; Nguyen dkk., 2020), sehingga pemahaman beliau akan membantu terutama pada tema dampak COVID-19 terhadap psikis individu. Naskah-naskah yang terbit dalam edisi khusus “Respon terhadap COVID-19” (“Response to COVID-19”) diharapkan mampu menjadi fondasi pengetahuan untuk menghadapi wabah virus corona, khususnya berkaitan dengan isu psikologi sosial dalam konteks Indonesia. Sementara JPS memproses naskah-naskah edisi khusus tersebut, kami juga mempublikasikan edisi reguler pada bulan Agustus tahun 2020 ini (Volume 18 (3)). Terdapat delapan naskah yang dipublikasikan JPS pada edisi ini. Semua naskah ini merepresen-tasikan tema identitas dan relasi antar kelompok serta antarbudaya. Naskah-naskah ini menambah pengetahuan dalam memahami isu mendasar pada identitas sosial dan budaya serta warna-warna relasi antar kelompok identitas. Tidak hanya itu, beberapa naskah juga membantu kita memahami pengetahuan tentang intervensi pada isu hubungan antar identitas di Indonesia. Dua naskah membahas tentang isu peng-asuhan atau relasi anak dengan pengasuh dalam budaya Indonesia. Naskah Hartanti berjudul “Apakah sistem kekerabatan matrilineal di suku Minang masih membudaya? Analisis tematik pada makna pemberian dukungan sosial mamak kepada kemenakan” membahas hubungan pengasuh (‘mamak’ atau paman dari sisi ibu) dengan anak di kebudayaan Minang. Seperti yang mungkin sudah kita ketahui, suku Minang adalah salah satu suku matrilineal terbesar di dunia (Levenson, Ekman, Heider, & Friesen, 1992). Pemahaman tentang relasi ini penting untuk memberikan kita pengetahuan tentang budaya matrilineal tersebut. Sementara naskah Wiswanti, Kuntoro, Ar Rizqi, dan Halim berjudul “Pola asuh dan budaya: Studi komparatif antara masyarakat urban dan masya-rakat rural Indonesia” membantu dalam memahami perbedaan pola asuh pada masyarakat rural dan urban di Indonesia. Temuan mereka menja-wab inkonsistensi pada studi sebelumnya tentang perbedaan pola asuh di dua konteks tersebut. Naskah berikutnya yang ditulis oleh Nugraha, Samian, dan Riantoputra membahas tentang relasi bawahan-atasan dengan memeriksa anteseden dibalik dukungan bawahan terhadap atasan lewat perspektif identitas sosial. Dalam naskah yang berjudul “Anteseden leader endorsement: perspektif teori identitas sosial”, ditemukan bahwa identitas pemimpin bukanlah faktor yang menentukan dukungan bawahan terhadap pemimpin—khususnya dalam konteks perusahaan swasta. Tiga naskah berikutnya membahas me-ngenai relasi antar identitas (intergroup) seperti prasangka dan kecemasan antar kelompok. Naskah oleh Yang dan Pelupessy berjudul “Apakah saliensi mortalitas berperan dalam menjelaskan prasangka terhadap pasangan antarbudaya? Sebuah studi eksperimental” menemukan bahwa efek saliensi mortalitas dalam teori manajemen teror bisa digeneralisasi di konteks: (1) prasangka terhadap relasi romantis antar budaya, dan (2) budaya yang lebih luas yaitu konteks budaya Indonesia. Motivasi eksistensial seperti motivasi meredam kecemasan kematian dan efeknya secara sosial ternyata juga ditemukan pada masyarakat Indonesia. Pada naskah berjudul “Do intergroup threats provoke intergroup anxiety? An experimental study on Chinese ethnic group in Indonesia”, Ampuni dan Irene menemukan pola menarik terkait efek ancaman intergroup terhadap kecemasan intergrup. Ditemukan bahwa kelompok yang diberikan manipulasi ancaman intergroup cenderung lebih tinggi dalam kecemasan. Temu-an ini konsisten dengan temuan sebelumnya; akan tetapi, setelah mengontrol kontak inter-group, pola yang terjadi justru berkebalikan. Ini menunjukkan bahwa pengalaman kontak sebelumnya pada partisipan berpengaruh pada per-sepsi ancaman di situasi eksperimen. Sementara pada naskah berjudul “Mawas diri berideologi: Tantangan berpartisipasi religius online di era ujaran kebencian”, dibahas tentang peranan ideologi otoritarianisme dalam hubungan antara relijiusitas dan prasangka. Pada riset yang dilaporkan oleh Sadida dan Pratiwi ini, ditemukan bahwa keterlibatan aktivitas agama secara daring memang memprediksi tingginya prasangka. Aktivitas agama itu memicu ideologi otoritarianisme yang lebih kuat sehingga sikap negatif pun juga semakin tinggi. Menariknya, tidak semua dimensi prasangka diprediksi oleh aktivitas keagamaan itu. Dua naskah terakhir membahas tentang metode intervensi untuk mengurangi stigma dan meningkatkan sensitivitas interkultural. Pada naskah oleh Soedarmadi, dibahas tentang efek intervensi keterampilan antar budaya dengan menginkorporasikan metode sebelumnya dengan kearifan lokal seperti nilai gotong royong. Dalam naskah berjudul “Apakah pelatihan keterampilan antarbudaya pada instansi pemerintahan dapat meningkatkan sensitivitas antarbudaya? Peranan nilai lokal gotong royong” ini, para pekerja di instansi pemerintahan memiliki sensitifitas interkultural yang lebih baik setelah mengikuti intervensi yang diberikan. Pada naskah berjudul “Pelatihan Rise and Shine sebagai metode psikoedukasi: Bisakah menurunkan stigma bunuh diri?”, Febriawan mengungkap bahwa metode psikoedukasi dapat menurunkan stigma. Terdapat perbedaan metode psikoedukasi Rise and Shine dengan metode-metode sebelumnya. Jika sebelumnya lebih banyak terfokus pada kemampuan seperti literasi bunuh diri dan kesehatan mental, pada psikoedukasi Rise and Shine juga masuk materi penyangga seperti berpikir kritis, ekspresi dengan kata, serta pengetahuan tentang kebijakan negara dalam kesehatan mental. Lewat naskah-naskah ini, ditemukan berbagai pola menarik yang bisa bermanfaat untuk menambah pengetahuan pada teori besar di psikologi sosial seperti teori identitas sosial, teori manajemen teror, dan teori kontak. Juga, kontribusi pengetahuan muncul untuk menjelaskan subkultur pada konteks Indonesia khususnya dalam konteks pengasuhan. Tidak hanya itu, metode intervensi berbasis kearifan lokal dan psikoedukasi integratif bisa berguna untuk menciptakan relasi tanpa stigma atau sensitifitas kebudayaan. Kedelapan naskah ini diharapkan mampu memberikan fondasi bagi riset lanjutan dan menginspirasi peneliti lain untuk mengatasi limitasi-limitasi yang muncul.
Dukungan sosial bagi penderita lupus: Dapatkah menjadi moderator bagi efek penerimaan diri terhadap rasa syukur? Ayumi Nalikrama Dienillah; Sitti Chotidjah
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 1 (2021): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.10

Abstract

Social support contributes to Lupus patients in the process of treating their diseases. The condition of lupus sufferers who experience various physical changes can affect their psychological state. Social support sometimes does not have a positive influence, but it can also have a negative effect. This study aims to see whether social support can moderate self-acceptance and gratitude for lupus sufferers. Participants in this study were 206 lupus sufferers. The results showed that social support can moderate self-acceptance and gratitude. The results were then discussed.
Catatan Editor: Mengembangkan penelitian tentang tingkah laku prososial dan altruisme Bagus Takwin
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 1 (2021): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.02

Abstract

Selama masa pandemi COVID-19, tak jarang kita menyaksikan tampilnya karakteristik suka menolong pada manusia. Dalam komunitas luring mau-pun daring, berbagai aktivitas memberikan bantuan dan ajakan untuk memberikan bantuan ditam-pilkan, mulai dari memberikan donasi, membagi bahan-bahan makanan pokok, melibatkan diri dalam satuan tugas membantu para penderita COVID-19, hingga menjadi sukarelawan di rumah sakit. Ini menggugah para peneliti psikologi, termasuk ahli psikologi sosial, untuk mencari tahu lebih jauh mengenai gejala tingkah laku menolong, atau lebih luas lagi, tingkah laku prososial. Dalam beberapa diskusi muncul pertanyaan, “apakah perilaku prososial dapat dipertahankan atau berlanjut setelah pandemi COVID-19?” Penelitian mengenai tingkah laku proso-sial sudah cukup lama dilakukan dalam psikologi kepribadian dan sosial. Banyak peneliti sudah ber-usaha mengeksplorasi mengapa orang membantu orang lain dengan mengorbankan diri sendiri yang berguna untuk kepentingan masyarakat. Fenomena ini telah dijelaskan menggunakan berbagai kerang-ka disiplin ilmu termasuk psikologi, ekonomi, an-tropologi, biologi, dan filsafat. Proyek penelitian kepribadian skala besar yang paling awal yang dilakukan di Amerika Serikat adalah Studies in the Nature of Character oleh Hartshorne dan May pada 1928 yang diikuti oleh volume berikutnya pada tahun 1929 dan 1930. Hartshorne dan May (1928) berusaha untuk menentukan apakah kecenderung-an anak-anak untuk terlibat dalam perilaku proso-sial, seperti suka menolong, jujur, dan pengendali-an diri disebabkan oleh karakteristik pribadi yang bertahan atau merupakan hasil dari batasan dan tuntutan situasional tertentu. Studi itu melaporkan korelasi sederhana di berbagai ukuran perilaku prososial mereka dan menyimpulkan bahwa tin-dakan prososial sebagian besar ditentukan secara situasional (Hartshorne dan May, 1928). Ada banyak bantahan terhadap kesimpulan itu (di antaranya, Rushton, 1981). Namun, perspektif "situasionist" mendominasi penelitian tentang penyebab tindakan prososial setidaknya sampai tahun 1970-an. Di dekade 1970-an, biolog Edward O. Wilson memulai bidang baru, sosiobiologi, untuk mempelajari tingkah laku sosial hewan dan manusia (Wilson, 1975). Dalam bukunya itu, dikemukakan ada bukti bahwa tindakan sukarela yang menguntungkan orang lain berakar pada tingkah laku manusia dan hewan. Sejak itu, banyak studi dilakukan dan hasilnya diterbitkan dalam bentuk buku dan artikel yang intinya menyatakan bahwa tingkah laku membantu, bahkan menyelamatkan, adalah bawaan dari primata, lebah penolong, semut, anjing liar, dan spesies lainnya. Beberapa ahli psikologi perkembangan, juga ilmuwan sosial lainnya, mencermati dunia hewan dan menunjuk berbagai gejala di sana sebagai bukti bahwa tingkah laku prososial adalah fungsi biologis manusia yang telah terprogram dan bukan hanya tindakan yang dipupuk atau dipelajari. Pendekatan Wilson sejalan dengan pendekatan J.P. Rushton tentang altruisme dan tingkah laku prososial. Selama 40 tahun terakhir masa hidupnya, Rushton meneliti gejala itu. Ia mengubah pendekatan teoritisnya dari teori pembelajaran sosial menjadi teori sifat, lalu menjadi sosiobiologi. Pada akhirnya, ia menyatakan ada pengaruh fondasi genetik dari tingkah laku prososial dan altruisme (Rushton, 1980, 1989, 1991, 2004, 2009). Studinya tentang tingkah laku prososial anak kembar menggunakan kelompok usia yang berbeda dari sampel barat dan Asia memberi kesimpulan bahwa sekitar 50% variasi dalam tingkah laku prososial dapat diwariskan (Rushton dkk., 1986; Rushton & Bons, 2005). Rushton juga menyatakan bahwa altruisme adalah bagian dari faktor umum kepribadian, sebagai puncak dari hierarki kepribadian (Rushton, 1985, 1995; Rushton, Bons, & Hur, 2008; Rushton & Irwing, 2011). Dalam kenyataan sehari-hari, dapat disaksikan tingkah prososial memiliki banyak “wajah” dan bentuk. Dapat disaksikan juga bahwa setiap orang memiliki repertoar sendiri-sendiri dari tingkah laku prosial, serta menampilkannya dengan beragam cara yang khusus. Namun, semua itu dapat dikategorikan sebagai tingkah prososial, yaitu "tindakan sukarela yang dimaksudkan untuk membantu atau menguntungkan individu atau kelompok individu lain" (Eisenberg & Mussen 1989:3). Dari pengertian ini, dapat dipahami bahwa tindakan sosial lebih dikenali dari konsekuensi tindakan pelaku daripada motivasi di balik tindakan tersebut. Cakupan tingkah prososial luas, meliputi, di antaranya, tindakan berbagi, menghibur, menyelamatkan, dan membantu. Konteksnya juga beragam, di antaranya, konteks yang melibatkan keluarga, teman, rekan kerja, dan orang asing. Singkatnya, tingkah laku prososial adalah konstruksi yang luas dan multidimensi (Padilla-Walker & Carlo, 2014). Meskipun ada yang menyatakan bahwa perilaku prososial berbeda dengan altruisme, tetapi banyak yang memandang bahwa keduanya dapat disamakan. Perbedaan antara keduanya umumnya dalam hal aspek yang diberi penekanan. Perilaku prososial mengacu pada pola aktivitas, sedangkan altruisme adalah motivasi untuk membantu orang lain karena perhatian murni terhadap kebutuhan mereka daripada bagaimana tindakan itu akan menguntungkan diri sendiri. Terleepas dari aspek aktivitas dan motifnya, keduanya memiliki kesamaan ketika ditampilkan dalam bentuk tingkah laku. Altruisme dapat digolongkan sebagai tingkah laku prososial. Secara khusus, altruisme adalah tingkah laku prososial yang dimotivasi oleh keinginan membantu orang lain karena perhatian murni terhadap kebutuhan mereka. Dengan demikian, tingkah laku prososial dapat dipahami sebagai payung dari altruisme atau kategori tingkah laku yang mencakup altruisme. Belakangan ini studi mengenai tingkah laku prososial semakin banyak dilakukan. Kita bisa temukan di antaranya studi tentang altruisme (Farrelly 2019), kerja sama (Bhogal, 2019), heroisme (Margana dkk., 2019), fairness (Bhogal dkk., 2016, 2017), dan trustworthiness (Ehlebracht dkk., 2018). Semakin banyaknya studi mengenai tingkah laku prososial mengindikasikan pentingnya pemahaman dan pengetahuan mengenai tingkah laku prososial, sekaligus menonjolnya fenomena itu sehingga penting untuk dieksplorasi secara empirik. Tingkah laku yang dapat digambarkan sebagai prososial termasuk kecenderungan simpati dan kekhawatiran terhadap orang lain dan bertindak dalam pendekatan untuk membantu atau menguntungkan orang yang berbeda. Ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari, beberapa orang lebih prososial daripada yang lain. Anak-anak dan orang dewasa yang prososial memiliki kecenderungan untuk cenderung berperasaan terhadap orang lain. Tampaknya ada beberapa kesinambungan dalam tanggapan prososial sejak usia yang cukup dini. Di studi-studi lainnya, tingkah laku prososial dijelaskan dalam kaitannya dengan emosi dan well-being individu lain dan juga untuk diri sendiri. Beberapa studi menunjukkan bahwa tingkah laku prososial sebagian besar didasarkan pada keadaan dan situasi orang yang menampilkannya juga pengalaman masa lalunya. Ditemukan bahwa pengalaman juga menentukan perilaku prososial seseorang. Meski sudah banyak penelitian terhadap tingkah laku prososial dilakukan sejak Hartshorne dan rekan-rekannya meneliti gejala ini, masih banyak celah yang tersisa dalam pemahaman kita tentangnya. Kita ditantang untuk melakukan penelitian lebih jauh lagi mengenai prososialitas. Situasi dunia saat ini yang sangat membutuhkan sifat dan tingkah laku prososial menegaskan adanya keperluan pengetahuan lebih dalam tentang bagaimana sifat dan tingkah itu dapat dikembangkan dan lebih banyak muncul. Untuk itu, kita perlu memikirkan arah masa depan penelitian terhadap tingkah laku prososial dan faktor-faktornya. Mengingat sifatnya yang multidimensional, pemahaman mengenai tingkah laku prososial membutuhkan kajian yang lebih rinci dan menyeluruh. Diperlukan ide konseptual yang dapat menggerakkan karya ilmiah di bidang tingkah laku prososial secara substansial agar dapat memberikan arahan untuk jalan baru bagi penelitian masa depan terhadap tingkah laku prososial, beserta perkembangan dan faktor-faktornya. Dari sudut dan aspek mana saja tingkah laku prososial dapat diteliti di Indonesia? Penelitian mengenai faktor-faktor apa yang memprediksi perilaku prososial masih bisa dan perlu diperdalam. Hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan model kecerdasan emosional atau dari sudut karakteristik tingkah laku prososial yang bersifat multidimensi. Penelitian juga dapat dilakukan dengan melihat pada aspek perkembangan, seperti mengeksplorasi kemurahan hati pada anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lanjut usia. Terkait dengan pengenalan dan pengukuran tingkah laku prososial, studi mengenai pengukuran gejala ini juga perlu dikembangkan, mencakup validitas dan adaptasi instrumen yang sudah ada, atau konstruksi alat ukur baru. Usaha-usaha komprehensif masih diperlukan untuk menemukan sifat psikometrik yang kuat dari alat ukur tingkah laku sosial dalam berbagai wajah dan bentuknya. Belakangan, pendekatan evolusioner untuk banyak digunakan memahami perilaku prososial. Hal ini juga perlu dikembangkan di Indonesia. Dalam ranah Psikologi Evolusioner, perdebatan masih berlangsung, sebagian besar berkaitan dengan usaha menemukan bukti bahwa tingkah laku prososial merupakan instrumen untuk adaptasi yang terkait dengan pemilihan pasangan, perkawinan, reproduksi, dan usaha mempertahankan spesies. Dukungan lebih lanjut bagi pendapat yang menyatakan bahwa faktor-faktor seperti daya tarik fisik mempengaruhi tingkah laku prososial dalam berbagai konteks masih diperlukan. Dari aspek fisiologis dan neurologis, ada pandangan mengenai pengaruh pemberian hadiah dan mendapatkan jasa baik dari orang lain terhadap konektivitas antarsaraf di otak. Hal ini memberi pemahaman baru mengenai hubungan sistem saraf dan tingkah laku prososial, juga memberi pemahaman mengenai dasar neurologis antara pemberi dan penerima dalam situasi saling menolong. Studi tentang bagaimana perilaku prososial memoderasi atau memediasi perilaku dalam kelompok dan antarkelompok, serta kaitannya dengan interaksi antara kelompok sosial yang berbeda dan kehidupan bersama yang damai juga masih perlu dilakukan. Sekali lagi, saat ini, kebutuhan studi mengenai tingkah laku prososial sangat tinggi. Dalam keseharian, tak jarang terdengar orang-orang menyatakan bahwa sepertinya saat ini kita hidup dalam masyarakat yang kurang memiliki tingkah laku prososial. Barangkali pernyataan semacam itu tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan, tetapi itu mengindikasikan adanya kebutuhan yang tinggi akan tingkah laku prososial, atau dapat dikatakan juga, ada deprivasi tingkah laku prososial. Jika kita menerima pandangan Rushton dkk. (2008), bahwa sifat prososial dan altruisme adalah bagian dari faktor umum kepribadian yang merupakan puncak dari hierarki kepribadian, maka mengembangkan sifat dan tingkah laku prosial, terutama altruisme, merupakan upaya mengembangkan kualitas kemanusiaan yang lebih baik. Tingkah laku prososial dan altruisme yang didasari oleh empati sangat vital untuk berfungsinya masyarakat dan menghasilkan perubahan-perubahan positif yang memajukan kehidupan manusia. Psikologi sosial sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku dan proses mental dalam konteks sosial, punya potensi untuk membantu, melakukan penelitian yang hasilnya dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku baik, menggugah, dan memperbanyak tampilnya tingkah laku prososial dan altruisme. Hasil-hasil penelitian psikologi sosial atas fenomena ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk memfasilitasi dan meningkatkan interaksi sosial yang positif, meningkatkan mutu hubungan sosial dan budaya yang mengedepankan kerja sama untuk kesejahteraan bersama. Salah satu harapan terdekat yang ingin dijaga: setelah berhasil melewati pandemi covid-19, tingkah laku prososial dan altruisme bertahan, bahkan meningkat.
Catatan dari Managing Editor: Pengantar Vol. 19 (1) tentang kerja sama, dukungan sosial, dan altruisme Joevarian Hudiyana
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 1 (2021): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.01

Abstract

“All the memories of your facesSeem like days of yoreAnd if the walls are closing inWe'll find a window deep within”(Lin & Sun, 2020) Lirik lagu di atas berasal dari lagu Stay With You, yang dinyanyikan J. J. Lin dan Stefanie Sun. Lagu ini menggambarkan situasi pandemi di mana kita semua menjaga jarak sosial dengan tembok-tembok yang memisahkan kita semua. Secara khusus, lagu ini dipersembahkan untuk tenaga kesehatan yang setiap hari berjuang di garda terdepan untuk melawan wabah COVID-19. Hampir satu tahun telah berlalu sejak kasus pertama virus corona diumumkan di Indonesia. Dalam waktu hampir satu tahun itu pula, kita menyaksikan berbagai dinamika sosial yang terjadi sebagai konsekuensi dari wabah yang melanda seluruh dunia itu. Wabah ini telah menunjukkan aspek-aspek terburuk manusia seperti diskriminasi terhadap pasien COVID-19 (Devakumar, Shannon, Bhopal, & Abubakar, 2020), skeptisisme terhadap sains (Brzezinski, Kecht, Van Dijcke, & Wright, 2020; Latkin, Dayton, Moran, Strickland, & Collins, 2021), teori konspirasi(Imhoff & Lamberty, 2020; Uscinski, dkk., 2020), ketidakpatuhan dalam menjalankan pembatasan sosial (Van Lissa dkk., 2020), dan ditambah lagi dengan respon buruk oleh para pemimpin negara di berbagai belahan dunia (Norrlöf, 2020). Meski demikian, situasi krisis ini juga memunculkan sisi terbaik yang dimiliki oleh manusia. Lagu yang dipersembahkan untuk tenaga kesehatan di awal tulisan ini menunjukkan betapa heroiknya mereka yang rela berkorban demi keselamatan kita semua. Di samping itu, tim peneliti psikologi sosial dari seluruh dunia juga bekerja sama untuk menyelidiki pola perilaku dari reaksi COVID-19 (lihat psycorona.org). Tim PsyCorona ini terdiri atas ratusan peneliti dari berbagai negara. Di Indonesia, PsyCorona diwakili oleh Dr. Mirra Noor Milla, Prof. Dr. Hamdi Muluk, dan saya sendiri (Universitas Indonesia) serta dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ (Universitas Udayana). Kerja sama ini melahirkan berbagai artikel yang sudah terbit dan sedang dalam proses penilaian di jurnal. Dari situ, bisa kita lihat bahwa krisis seperti pandemi COVID-19 ini juga memicu altruisme, perilaku menolong, dan perilaku bekerja sama. Situasi krisis memang telah didemonstrasikan secara empiris bisa memicu kerja sama dan perilaku bahu-membahu memberikan dukungan sosial (Cheng, Lam, & Leung, 2020; Hu &Zhou, 2020; Rodriguez, Trainor, & Quarantelli, 2006). Namun, bagaimanakah proses dan dinamika yang timbul agar bisa memunculkan altruisme? Riset terkait altruisme masih dibutuhkan dalam berbagai konteks, tak terkecuali di konteks Indonesia. Dalam Volume 19 edisi pertama di tahun 2021 ini, Jurnal Psikologi Sosial mempublikasikan delapan naskah empiris dengan tema kerja sama, dukungan sosial, dan altruisme. Naskah pertama ditulis oleh Nugroho, Sajuthi, Mansjoer, Iskandar, dan Darusman yang membahas bagaimana kerja sama bisa muncul pada spesies Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang. Riset ini berkontribusi untuk memahami dalam konteks apa perilaku kooperatif dan kerja sama muncul pada primata. Pengetahuan ini membantu kita untuk memahami hasil perkembangan evolusi manusia dan primata-primata lainnya. Naskah kedua ditulis oleh Permatasari, Agustiani, dan Bachtiar. Mereka menunjukkan secara empiris bahwa anak prasekolah masih kesulitan untuk memahami emosi yang diekspresikan orang lain. Sehingga, empati dan altruism lebih sulit terjadi. Ini berbeda dengan asumsi dari teori sebelumnya tentang tahapan perkembangan anak. Sementara itu, naskah ketiga ditulis oleh Rhodes, Andiyasari, dan Riantoputra. Mereka menemukan bahwa peran pimpinan atau manajer penting untuk merangkul karyawan yang tidak berani bersuara karena nilai power distance. Pimpinan yang lebih terbuka dapat membantu karyawan-karyawan ini untuk lebih berani berpendapat atau menunjukkan voice behavior. Naskah keempat ditulis oleh Rozi dan Prasasti. Mereka menemukan bahwa resiliensi adalah produk dari kesabaran sebagai nilai kebajikan. Nilai kesabaran sebagai salah satu nilai kebajikan ditransimisikan secara intens dalam kebudayaan Indonesia dan dianggap sebagai nilai yang luhur. Nilai ini merupakan mekanisme adaptasi yang unik, dan menjadi simbol dari perilaku prososial di masyarakat (Lestari, 2016). Sementara itu naskah kelima ditulis oleh Firmansyah, Faturochman, dan Minza. Mereka menemukan bahwa rasa saling percaya antar teman bisa diprediksi oleh adanya dukungan sosial dan adanya resiprositas. Namun menariknya, kedekatan interpersonal bukan prediktor yang signifikan jika dibandingkan dengan dua prediktor lain. Ini berimplikasi pada pertanyaan tentang seberapa penting kelekatan interpersonal dalam hubungan pertemanan di Indonesia. Apakah penting? Ataukah lebih penting aspek dukungan sosial dan hubungan timbal balik yang ditunjukkan seorang teman? Naskah keenam oleh Pratiwi dan Afiatin menunjukkan bahwa peranan orang tua sangat penting dalam memprediksi kecanduan internet pada remaja. Ini karena mediasi oleh orangtua bisa menciptakan rasa keberhargaan diri pada remaja. Sementara itu naskah ketujuh merupakan riset yang ditulis oleh Luliyarti, Yahya, dan Ridha menggunakan teknik door in the face dan foot in the door untuk mencoba membuktikan intervensi seperti apa yang bisa meningkatkan perilaku prososial. Terakhir, naskah oleh Dienillah dan Chotidjah menemukan bahwa adanya dukungan sosial sangat penting untuk memoderasi apakah penerimaan diri mampu menciptakan rasa syukur pada penderita lupus. Kami selaku tim editor JPS berharap naskah-naskah yang dipublikasikan pada edisi ini bisa berdampak bagi perkembangan ilmu di Indonesia, khususnya terkait topik perilaku prososial dan perilaku kerja sama.
Kalkulasi Vote Buying-Short Form (VB-S) dalam pemilihan umum Muhammad Arief Sumantri
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 3 (2021): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.25

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan satu alat ukur guna menakar persepsi maupun sikap dari para wajib pilih terhadap penerimaan praktik vote buying, yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara praktis, ataupun dikembangkan lebih jauh oleh pihak-pihak terkait. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, melibatkan partisipan sebanyak 348 mahasiswa, dengan menyebarkan skala yang telah disusun dalam bentuk kuesioner. Teknik analisis menggunakan uji Exploratory Factor Analysis (EFA) dan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Hasil seleksi aitem EFA dan CFA menghasilkan 7 butir aitem yang valid secara konstruk dan juga reliabel (α= 0.838) untuk mengukur persepsi/sikap pemilih terhadap penerimaan praktik vote buying. Hasil dari uji hipotesis juga menunjukkan bahwa Vote Buying secara signifikan berpengaruh terhadap kepercayaan politik. Mempertimbangkan bahwa aitem-aitem yang dihasilkan secara keseluruhan berjumlah 7 aitem (4 aitem favorable, 2 aitem unfavorable), dan bersifat unidimensional; maka peneliti memutuskan penamaan skala vote buying dengan sebutan VB-S (Vote Buying-Short Form).
Karena faktor agama atau gaya berpikir? Peran fundamentalisme agama dan need for closure dalam memprediksi toleransi politik Adeline Dinda Caesara; Whinda Yustisia
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 3 (2021): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.20

Abstract

Beberapa penelitian terdahulu telah menemukan bahwa adanya hubungan yang signifikan dan positif yang kuat antara fundamentalisme agama dan toleransi politik. Meskipun demikian, ada juga penelitian yang menunjukan bahwa hubungan fundamentalisme agama dengan toleransi politik tidak terlalu kuat karena perbedaan individual. Penelitian ini berupaya untuk menguji kembali hubungan antara fundamentalisme agama dan toleransi politik di konteks Indonesia serta melihat efek moderasi need for closure terhadap hubungan dua variabel tersebut. Fundamentalisme agama diprediksi memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan toleransi politik di mana need for closure dapat memperkuat hubungan keduanya. Untuk menguji hipotesis tersebut, penelitian korelasional dilakukan dengan merekrut 211 responden yang beragama Islam dan dijaring secara daring. Sebanyak 64,9% partisipan adalah perempuan. Rata-rata usia responden adalah 27,52 tahun (SD=11,309). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fundamentalisme agama berkorelasi negatif dan signifikan dengan toleransi politik. Need for closure memiliki kontribusi sebagai moderator terhadap hubungan fundamentalisme agama dan toleransi politik, khususnya ketika need for closure tinggi. Namun, tidak ditemukan peranan individual need for closure yang signifikan dalam menjelaskan toleransi politik. Temuan ini menunjukkan pentingnya peran faktor kognitif dalam melemahkan peranan negatif fundamentalisme agama terhadap toleransi politik.
Basic human values and political participation on the internet: Different basic motives for male and female groups Indro Adinugroho; Maya Trisyanti
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 3 (2021): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.22

Abstract

Even though participation through the internet has been popular in Indonesia, gender inequality between males and females often affecting the degree of participation. Thereby, identification of basic values that may contribute toward PPI is fundamental to be examined. This study aims to examine the correlation between political participation on the internet and basic values as the predictor in two gender groups, male and female. The result of this study revealed that males and females have different motives for participating in politics through the internet. Female tends to utilize their basic values to support their passive participation while the male is concentrated more on active participation. In conclusion, different basic values as psychological motives in PPI convey different meanings of politics in females and males that should be addressed through different actions.
Efek mediasi totalisme Islam pada hubungan antara Social Dominance Orientation dan Right-Wing Authoritarianism terhadap sikap politik konservatisme Islam Istiqomah Istiqomah; Muhammad Abdan Shadiqi; Bagus Takwin; Hamdi Muluk
Jurnal Psikologi Sosial Vol 19 No 3 (2021): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2021.21

Abstract

Islam di Indonesia tidak hanya menjadi dasar aktivitas ritual agama, tetapi mulai menjadi dasar untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Studi ini berusaha menunjukkan peran dari totalisme Islam sebagai mediator dari hubungan antara Social Dominance Orientation (SDO) dan Right Wing Authoritarianism (RWA) terhadap sikap politik konservatif Muslim. Studi ini menggunakan pendekatan cross-sectional melalui survei non-eksperimental terhadap 528 mahasiswa Muslim di Jabodetabek (Mean Usia= 21,4 tahun, SD = 3,36). Kami menggunakan 4 alat ukur self-reported dengan skala likert 1-7. Teknik analisis yang digunakan adalah melalui regresi model mediasi PROCESS Macro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SDO dan RWA tidak dapat memprediksi sikap politik konservatif Muslim secara langsung (direct effect). Kami menemukan totalisme Islam secara signifikan memediasi secara penuh (fully mediation) hubungan antara SDO dan RWA terhadap sikap politik. Hasil ini menggambarkan bahwa pada mahasiswa Muslim Indonesia, sikap politik mereka cenderung dipengaruhi oleh faktor terkait agama. Dengan kata lain, agama tidak dapat dipisahkan dari ideologi politik konservatif Muslim Indonesia.

Page 9 of 17 | Total Record : 165