cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017" : 12 Documents clear
PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR BERORIENTASI INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) MELALUI PENGUATAN KOORDINASI FUNGSIONAL RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) (Studi Kasus di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat) Suwarli Suwarli; Maulana Firdaus
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.438 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6285

Abstract

Pembangunan wilayah pesisir dan perbatasan memiliki banyak tantangan dan permasalahan, diantaranya adalah ketidakselarasan antara pemerintah pusat dan daerah. Rendahnya nilai akuntabilitas kinerja pembangunan yang termuat dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) adalah salah satunya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penguatan koordinasi fungsional terhadapRKPD yang berorientasi pada percepatan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – Juni 2016. Lokasi penelitian di Kabupaten Sambas yang merupakan wilayah pesisir dan perbatasan dengan potensi sumber daya perikanan yang cukup besar. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan angket sebagai alat bantu pengumpulan data. Informan dipilih secara purposive sampling sebanyak 42 orang pejabat struktural lingkup Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kabupaten Sambas. Data kualitatifdianalisis secara deskriptif dan data yang bersifat kuantitatif dianalisis dengan pendekatan statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan manusia di Kabupaten Sambas fluktuatif dalam periode 2010 – 2015, namun secara agregat mengalami peningkatan. Penurunan tingkat kesejahteraan dicerminkan oleh nilai IPM berkorelasi dengan penurunan laju pertumbuhan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Laju pertumbuhan PDRB sub sektor perikanan terus meningkat yang menandakan bahwa sub sektor perikanan lebih stabil dan dapat diandalkan sebagai sub sektor unggulan. Hasil analisis penguatan koordinasi fungsional RKPD menunjukkan bahwa koordinasi lingkup SKPD di Kabupaten Sambas sudah memiliki kinerja yang baik, yaitu dengan rata-rata nilai skor secara keseluruhan adalah 2,32 (77,21%) dan masuk ke dalam klasifikasi “kuat”. Kinerja yang baik ini dapat menjadi modal utama dalam proses perencanaan pembangunan Kabupaten Sambas sebagai wilayah pesisir dan perbatasan sehingga dapat menjadikan Kabupaten Sambas sebagai salah satu wilayahperbatasan yang berkembang.Title: Strenghtening of Coordination of Functional Work Plan of Local Government (RKPD) Through Development Coastal Areas Based on Human Development Index (A Case Study in Sambas Regency, West Kalimantan)Development of coastal areas and the border has many challenges and problems, including the lack of central and local governments policys. The low performance accountability of development policy in RKPD is one of the issues. This study aimed to analyze the level of functional coordination strengthening against RKPD oriented to accelerate the achievement of Human Development Index (HDI). This study was conducted in March-June 2016. The research location in Sambas Regency which is the border with the coastal areas and has its potential fisheries resource. Primary and secondary data were used in this study. This study uses a survey by questionnaire as a tool for data collection. purposive sampling as many as 42 people SKPD scope of structural officials in Sambas regency. Data were analyzed descriptively qualitative and quantitative data was analyzed by a statistical approach. The results showed that the human development index in Sambas regency fluctuated in the period 2010 - 2015, aggregatlye increased. Decreased levels of well-being mirrored by HDI value correlates with decreased growth rate in the value of GDP per capita. GDP growth rate fisheries sub-sector continues to increase indicating that the fisheries sub-sector is more stable and reliable as the leading sector. The results of the analysis of functional coordination enhancement RKPD show that the coordination sphere SKPD in Sambas district already has a good performance, with an average value of the overall score was 2.32 (77.21%) and can be classified as “strong”. This good performance can be a major capital in Sambas district development planning process as coastal and border regions in order to make Sambas district became one of the developing border areas.
OPTIMASI FAKTOR PRODUKSI UNTUK MAKSIMASI KEUNTUNGAN USAHA BUDI DAYA RUMPUT LAUT DI DESA SATHEAN KECAMATAN KEI KECIL Eygner Talakua
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.311 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6312

Abstract

Keterbatasan faktor produksi seperti bibit, modal, dan tenaga kerja dalam menjalankan usahabudi daya rumput laut berdampak pada keuntungan yang akan diperoleh. Kondisi ini menuntut pemilikusaha budi daya rumput laut di Desa Sathean harus mampu mengelola usahanya dengan baik, terkaitpenentuan jumlah faktor produksi yang sifatnya terbatas untuk memperoleh keuntungan usaha yangmaksimal. Untuk itu tujuan penelitian ini adalah menganalisis alokasi faktor produksi yang optimaldan mengkaji keuntungan maksimum yang dapat diperoleh pada usaha budi daya rumput laut diDesa Sathean Kecamatan Kei Kecil. Data primer dikumpulkan dari 15 responden melalui wawancarasecara langsung dengan kuesioner dan pengamatan secara langsung terhadap obyek yang diteliti.Data dianalisis menggunakan metode pemrograman linier (linear programming) dan hasil dianalisissecara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alokasi faktor produksi yang optimaluntuk tiap kegiatan produksi budi daya rumput laut adalah penggunaan luas area budi daya seluas7.058 m2 atau 0,7058 ha, penggunaan modal kerja sebesar Rp.891.907,1 penggunaan bibit sebanyak157,47 kg, dan penggunaan tenaga kerja sebanyak 1.403 HOK, sehingga dapat memaksimalkankeuntungan yang dapat diperoleh usaha budi daya rumput laut di Desa Sathean Kecamatan Kei Kecilsebesar Rp.5.010.716,- tiap kegiatan produksi budi daya rumput laut.Title: Optimizing Production Factors to Profit Maximize of Seaweed Cultivation in the Sathean Village of Kei Kecil SubdistrictLimitations of production factors such as seeds, capital, and labor in carrying seaweed cultivationimpact on profits to be earned. These conditions require the owner of seaweed cultivation in the SatheanVillage should be able to manage their business well, related to the determination of the amount ofproduction factors that are limited to gain maximum business. For the purpose of this study is to analyzethe optimal allocation of production factors and assess the maximum profit that can be obtained onseaweed cultivation in the Sathean Village of Kei Kecil Subistrict. Primary data was collected from 15respondents through direct interviews with questionnaires and direct observation of the object studied.Data were analyzed using linear programming method and the results were analyzed descriptivelyquantitative. The results showed that the optimal allocation of factors of production for each productionactivity of seaweed cultivation is the use of the area cultivated an area of 7,058 m2 or 0.7058 ha, the useof working capital of 891.907.1 IDR use as much as 157.47 kg of seeds, and the use of labor as many as1,403 HOK, so as to maximize the benefits that can be obtained seaweed cultivation in the village of KeiKecil Sathean District of 5,010,716 IDR,- per activity seaweed cultivation production.
PERBANDINGAN KEUNTUNGAN DENGAN SISTEM BAGI HASIL PADA USAHA GARAM RAKYAT DI KABUPATEN PAMEKASAN, JAWA TIMUR Campina Illa Prihantini; Yusman Syaukat; Anna Fariyanti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.059 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.3628

Abstract

Salah satu indikator ketidakefisienan usaha pertanian yang dijalankan dengan sistem bagi hasiladalah adanya perbedaan keuntungan yang diterima oleh masing-masing pihak yang diterima oleh kedua belah pihak. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis keuntungan yang diterima oleh pihak yang terlibat dalam sistem bagi hasil usaha garam rakat. Pihak-pihak yang terlibat dalam sistem bagi hasil usaha garam rakyat adalah pemilik lahan dan petani penggarap. Lokasi penelitian adalah tiga kecamatan di Kabupaten Pamekasan. Metode penelitian yang dilakukan adalah analisis keuntungan usaha tani, kemudian membandingkan tingkat keuntungan antara pemilik lahan dan petani penggarap untuk setiap pola bagi hasil. Hasil perbandingan keuntungan yang diterima oleh masing-masing pihak disebut nilai keuntungan relatif (μ). Metode penentuan responden yang digunakan adalah purposive dan snowballing sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan keutungan yang diterima oleh pemilik lahan dan petani penggarap. Nilai keuntungan relatif (μ) yang dihasilkan menunjukkan bahwa nilai tersebut masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah bahwamemang terdapat ketidakefiisienan dalam usaha garam rakyat yang dijalankan dengan sistem bagi hasil di Kabupaten Pamekasan.Title: Comparison of Profit at Different Sharecropping System in Traditional Salt Production in Pamekasan Regency, East JavaOne of inefficient indicators in agricultural busineess with sharing system is the difference of profit get by each participant. The main objective of this research is to identify profit accepted by the participants in salt production business. Stakeholders in salt production busineess with profit sharing system are landlord and salt farmer. Research location is in Pamekasan regency.This research usedprofit analysis, then the value of their profit is comparing each other for every type of sharing system in this regency. The value of comparation’s profit is called rellative profit value (μ). Respondents selected by using purposive and snowballing sampling. The result showed that there area signifficant difference of profit accepted by the landlord and the salt farmer. The result of rellative profit value (μ) does not match with this research hypothesis. The final conclusion of this research is salt production business with profit sharing system in Pamekasan regency is inefficient.
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KABUPATEN BUTON SELATAN Siti Hajar Suryawati; Mei Dwi Erlina
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.667 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6286

Abstract

Kabupaten Buton Selatan merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Buton bagianselatan. Salah satu potensi perikanan yang berkembang di Kabupaten Buton Selatan adalah rumputlaut. Rumput laut merupakan salah satu jenis komoditas unggulan budi daya perairan dengan nilaiekonomi pasar yang kompetitif baik di pasaran dalam negeri maupun ekspor. Penelitian ini bertujuanuntuk merumuskan strategi pengembangan usaha budidaya rumput laut yang belum berkembangsecara optimal. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap pelaku usaha yang terlibatserta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton Selatan. Data hasil wawancara dilengkapi hasilobservasi dan dokumentasi, selanjutnya diolah dan disajikan secara deskriptif. Selanjutnya faktorfaktorutama lingkungan internal dan eksternal diidentifikasi dengan menggunakan matriks IFE danEFE. Matriks IFE dan EFE menghasilkan 3 alternatif strategi yang dapat direkomendasikan kepadapemerintah daerah Kabupaten Buton Selatan. Tahapan terakhir adalah penentuan prioritas strategidengan menggunakan alat analisis QSPM. Prioritas strategi yang direkomendasikan untuk diterapkanpada budidaya rumput laut di Kabupaten Buton Selatan adalah memanfaatkan kualitas sumberdaya airdengan memanfaatkan peluang pasar.Title: Business Development Strategy of Seaweed in South Buton RegencyRegency of South Buton is a new regency located in south part of Buton Regency. One of thepotential developing fisheries in South Buton Regency is seaweed. Seaweed is well known as one of theleading aquaculture commodity which have a competitive markets value both in domestic and export.This study aims to formulate the business development strategy of seaweed cultivation that has not beenoptimally developed. Data were collected by interviewing involved business actors and officer of SouthButon Marine and Fisheries Agency. Observation and documentation are used as complements for theanalysis. In general data were analysed descriptively. The major factors of the internal and externalenvironment to develop the strategy are identified by the IFE and EFE matrices. Furthermore thosematrices are used to produces 3 alternatives strategy as recommendation for local government. In orderto prioritizing the strategy, QSPM analysis tool was used. Priority strategy recommended in South ButonRegency is to utilize the quality of water resources by exploiting market opportunities.
Front Matter Matter, Front
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6374

Abstract

Front Matter
PENDEKATAN VALUASI EKONOMI UNTUK MENGHITUNG DAMPAK EKONOMI AKIBAT TUMPAHAN MINYAK DI WILAYAH PESISIR DAN LAUT Andrian Ramadhan; Siti Hajar Suryawati; Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.615 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6283

Abstract

Kejadian tumpahan minyak di laut bisa terjadi sewaktu-waktu dan dimana saja khususnya yang memiliki kedekatan dengan jalur perkapalan dan aktivitas pengeboran minyak. Hal ini menuntut kewaspadaan pemerintah sekaligus kemampuan untuk menanggulangi kejadian yang terjadi secara cepat. Seiring dengan itu, pemerintah juga harus segera dapat menghitung nilai kerugian atau dampak ekonomi yang ditimbulkan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun pedoman perhitungan dampak kerugian akibat tumpahan minyak dengan pendekatan valuasi ekonomi. Penilaian dengan pendekatan ini memberi keuntungan yaitu terhitungnya seluruh manfaat barang dan jasa yang hilang baik yang bersifat ekonomi langsung, ekologi maupun sosial budaya. Secara total nilai dampak ekonomi dihitung dengan memasukkan tiga komponen yaitu biaya kerugian ekonomi yang dikompensasi, biaya rehabilitasi dan biaya administrasi penghitungan kerugian.Tittle: Economic Valuation Approach for Calculating the Economic Impact Due to Oil Spill on Coastal and MarineOil spills in the sea water can occur at anytime and anywhere especially on sites are closely associated with shipping and oil drilling activities. This issue requires government vigilance and ability in order to cope with it responsively. The government must also be able to calculate the economic loss. The purpose of this research is to compose a guidance of economic valuation for oil spill economic impact. The use of economic valuation give advantages where the loss of all benefits of goods and services, that include economic, ecological and socio-cultural value, are comprehensively counted. In total, the economic impact is calculated based on three components: the cost of compensated economic losses, rehabilitation costs and administrative costs of calculating losses.
MODEL BISNIS USAHA PAKAN IKAN MANDIRI BERBASIS MASYARAKAT DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Budi Wardono; Rikrik Rahadian; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1239.17 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6301

Abstract

Program Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI) bertujuan mengurangi ketergantungan pakanikan pabrikan melalui peningkatan pemanfaatan bahan baku lokal, yang diharapkan bisa menjadi modelbisnis pengembangan pakan ikan di Indonesia. Tujuan penelitian menyusun model bisnis usaha pakanikan mandiri berbasis masyarakat. Penelitian telah dilakukan pada bulan Januari-Desember 2016,dengan lokasi penelitian di pabrik pakan Kabupaten Sleman dan Gunungkidul, Provinsi Daerah IstimewaYogyakarta. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder terkait manajemen pabrik pakanmandiri di kedua lokasi. Analisis data eksisting pabrik pakan untuk mengetahui dan menggambarkankinerja pabrik pakan saat ini. Analisis yang digunakan untuk menyusun model bisnis yang diperbaikidengan pendekatan Bisnis Model Canvas/Business Model Canvas (BMC) dengan strategi blueocean (blue ocean strategy). Analisis SWOT dengan pendekatan Blue Ocean menghasilkan strategiberdasarkan empat elemen yaitu: menghilangkan (eliminate); mengurangi (reduce); meningkatkan(raise) dan menciptakan (create). Pendalaman informasi dilakukan dengan cara Focus Group Discusion(FGD). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa usaha pabrik pakan ikan mandiri memiliki resiko danketidakpasatian yang menyebabkan usahanya kurang menarik bagi pelaku usaha. Model Bisnis pabrikpakan ikan mandiri yang ada sekarang belum dapat mencerminkan kinerja “yang baik”. Penyebabutamanya adalah tidak terpenuhinya kontinuitas usaha dan rendahnya produktifitas pabrik pakan ikanmandiri karena tidak terjaminnya ketersediaan bahan baku secara kontinyu. Model bisnis yang diperbaikidiharapkan mampu meningkatkan kinerja pabrik pakan. Perbaikan model ini dilakukan dengan strategi:menciptakan ruang pasar yang belum ada pesaingnya; menciptakan dan menangkap peluang baru danmemadukan keseluruhan sistem untuk mengejar diferensiasi dengan biaya murah. Penerapan ModelBisnis yang diperbaiki perlu disertai dengan perbaikan identifikasi yang lebih spesifik terkait dengan:karakteristik ekosistem usaha, SDM dan manajemen pengelolaan.Title: Community Based Model for Self-sufficiency Fish Feed in Daerah Istimewa Yogyakarta ProvinceThe self-sufficient fish feed movement program (Gerakan Pakan Ikan Mandiri/GERPARI), aims atloosening the dependency toward manufactured fish feed through locally available raw material usage,hopefully could become the model of business development for Indonesian fish feed businesses. Thisresearch purpose is intending on developing a business model of a community-based, self-sufficient fishfeed business. The samples of fish feed manufacturers were observed during January-December 2016in Sleman and Gunungkidul regency, Special region of Yogyakarta. Data collected were secondary aswell as primary data related to the management and operational of the manufacturers. The analysis ofthe existing manufacturers was done to describe the current on-going performance, and the improvedbusiness model development was run using the Business Model Canvas (BMC) with the blue oceanstrategy. SWOT analysis with Blue Ocean approach obtained strategy based on four elements:eliminating; reduce; improve and create. An in-depth information collection was also conducted throughan FGD. The results showed that fish feed businesses model are heavily invested with high risks anduncertainties thus rendering them unfavorable in the investors’ perspective. Existing self-sufficientfish feed business models are considered to be inefficient, since both business continuity as well as productivity are mostly very low due to the lack of stable raw material supply. Therefore, the improvedfish feed business model would hopefully be able to enhance performance through several strategies,such as: creating market space with no competition; and creating and capturing new opportunities andmixing the whole system to seize differentiation with low cost. The application of the improved businessmodel would also require improvement in a more specific identification regarding business ecosystemcharacteristics, human resources and management.
Back Matter Matter, Back
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6375

Abstract

Back Matter
VALUASI NILAI EKONOMI TERUMBU KARANG DI BANDA NEIRA Mira Mira; Subhechanis Saptanto; Hikmah Hikmah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1203.977 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6284

Abstract

Banda Neira merupakan salah satu wilayah yang berada di Provinsi Maluku. Wilayah ini kayaakan potensi sumber daya perikanan karena memiliki ekosistem terumbu karang, pelagis dan demersal.Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji nilai ekonomi terumbu karang di Banda Neira. Penelitianini dilakukan pada tahun 2015 di Banda Neira. Nilai Ekonomi Total (TEV) terumbu karang di kawasanTNKpS dihitung dengan mengagregasi nilai pemanfaatan dan nilai non pemanfaatan. Berdasarkan hasilpenelitian, Pertama, nilai pemanfaatan tidak langsung dari terumbu karang adalah pelindung pantai,dimana panjang pantai yang dilindungi oleh karang pada wilayah Banda Neira diperkirakan mencapai10.562 meter sehingga nilai yang terbentuk adalah Rp.1.936.366.667 atau setara dengan Rp.4.588.547/ha karang. Kedua, nilai keberadaan terumbu karang adalah sebesar rata-rata Rp.113.162,-/tahun. Jikadikalikan jumlah populasi dibagi luas terumbu karang, maka WTP Rp.2.580.733,-/orang/ ha/ tahun.Ketiga, nilai pemanfaatan langsung perikanan sebesar Rp.323.071.865,- per pelaku usaha perikanan,nilai pemanfaatan langsung untuk pariwisata sebesar Rp.482.654.114,10. Jadi total, nilai total ekonomiterumbu karang di Banda Neira mencapai lebih dari 17 triliun rupiah. Sebagian besar masih disumbangdari sumber daya ikan yang telah dimanfaatkan khususnya pelagis. Nilai ekosistem secara ekologiberdasarkan parameter-parameter yang diukur hanya menyumbang kurang dari 1% dengan nilai sekitarempat miliar rupiah per tahun. Kecilnya kontribusi nilai pariwisata terhadap pemanfaatan langsung karenasulitnya aksesibilitas Banda Neira, sistem transportasi yang kurang mendukung seperti penerbanganudara hanya satu kali seminggu. Diharapkan pemerintah memperbaiki aksesibilitas ke Banda Neira,dengan memperbanyak frekuensi transportasi udara.Title: Economic Values Valuation Of Coral Reefs In Banda NeiraBanda Neira is one of the areas located in Maluku Province. This region has potential fisheriesresources because of coral reef ecosystems, pelagic and demersal. The purpose of this study wasto analyze the economic value of coral reefs in Banda Neira. The study was conducted in 2015 inBanda Neira district, Maluku Province. The Total Economic Value (TEV) of coral reefs in the TNKpSarea is calculated by aggregating the value of utilization and non utilization. Based on the results ofthe research, First, the indirect use value of coral reefs is coastal protection, where the length of coralprotected beaches in the Banda Neira region was estimated to reach 10,562 meters so that the valuewas 1,936,366,667 IDR or equivalent to 4,588,547 IDR / ha corals. Secondly, the value of coral reefswas an average of 113.162 IDR, - / year. If multiplied by the total population divided by coral reef area,then the WTP value was 2.580.733 IDR, - / person / ha / year. Third, direct fishery utilization value was323,071,865 IDR, - per fishery business actor, direct use value for tourism was 482.654.114,10 IDR.So that total economic value of coral reefs in Banda Neira reaches more than 17 trillion rupiah. Most ofit is still contributed from fish resources that have been utilized, especially pelagic. Ecological value ofecosystem based on measured parameters only contribute less than 1% with value of about 4 billionrupiah per year. The small contribution of tourism value to direct use because of difficulty of Banda Neiraaccessibility, less supportive transportation system like air flight only once a week . The government isexpected to improve accessibility to Banda Neira, by increasing the frequency of air transport.
DAMPAK HAMBATAN NON-TARIF TERHADAP KINERJA MAKROEKONOMI DARI SEKTOR PERIKANAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MODEL GTAP Subhechanis Saptanto; Rikrik Rahadian; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.797 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6302

Abstract

Aktivitas perdagangan internasional selain dapat memberikan manfaat juga dapat memberihambatan. Salah satu hambatan yang muncul adalah hambatan non tarif. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis dampak hambatan non tarif terhadap sektor perikanan dengan menggunakan pendekatanmodel GTAP. Data sekunder yaitu data GTAP (Global Trade Analysis Project) digunakan dalam kajianini. Data GTAP versi 9 yang terdiri dari 140 negara dan 57 sektor dikeluarkan oleh Purdue University,Amerika Serikat. Penelitian dilakukan di Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan padabulan Januari hingga Desember 2016. Metode analisis menggunakan runGTAP dengan 4 skenarioyakni : (a) Skenario 1; Indonesia tetap bertahan dengan Non Tariff yang sudah ditetapkan olehnegara mitra; (b) Skenario 2; Negara mitra mengurangi Non Tariff sebesar 50% dari kondisi yang ada;(c) Skenario 3; Indonesia tetap bertahan dengan Non Tariff yang sudah ditetapkan oleh negara mitra danpemerintah melakukan intervensi (peningkatan efisiensi dan produktivitas), dan; (d) Skenario 4; Negaramitra mengurangi Non Tariff sebesar 50% dari kondisi yang ada dan pemerintah melakukan intervensi(peningkatan efisiensi dan produktivitas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan hambatan nontarif dan intervensi kebijakan sangat berpengaruh baik secara makro maupun sektoral. Secara makroberpengaruh terhadap kesejahteraan, PDB, neraca perdagangan, nilai tukar (terms of trade), indeksharga konsumen dan konsumsi. Sedangkan secara sektoral berpengaruh terhadap jumlah output, hargaoutput, jumlah ekspor, harga ekspor, jumlah impor, harga impor dan neraca perdagangan komoditas.Pada umumnya simulasi 3 yakni pengurangan NTB sampai 100% dan adanya intervensi pemerintahmemberikan efek paling besar dan merupakan pilihan simulasi paling terbaik dibandingkan dengan yanglain. Secara sektoral simulasi 3 memberikan efek pada jumlah output komoditas tuna dan udang denganpertumbuhan sebesar 2,14% dan 0,91%; dampak positif harga sebesar 16,4% dan 5,67%; peningkatanvolume ekspor sebesar 47,78% dan 82,77%.Title: Impact of Non-Tariff Barriers of Macroeconomics Performance of Fisheries Sector Using Gtap Model ApproachInternational trade activities may provide benefits and trade barriers. One of the obstacles intrade is non-tariff barriers. This study aimed to analyze the impact of non-tariff barriers on the fisheriessector by using the GTAP model approach. The study using Secondary data of GTAP (Global TradeAnalysis Project). GTAP data version 9 consist of 140 countries and 57 sectors were published byPurdue University, United States. The research was conducted at Social Economic Research Centerof Marine and Fishery on January to December 2016. The analysis using four scenarios of runGTAPnamely: (a) first scenario, Indonesia has already persisted of Non Tariff by setting of partner countries; (b)second scenario, partner countries reduce Non-Tariff was 50% of existing conditions; (c) third scenario,Indonesia persisted of Non-Tariffs by setting partner countries and government doing interventions suchas increasing of efficiency and productivity, and; (d) forth scenario, partner countries reduce Non-Tariffwere 50% of existing conditions and government doing interventions such as increasing of efficiency andproductivity. The result showed that decreasing of non-tariff barriers and policy interventions effected theboth of macro and sectoral conditions significantly. The macro effected on welfare, GDP, Trade Balance, Terms of Trade, Consumer Price Index and Consumption. The sectoral effected the amount of output,output price, export amount, export price, import volume, import price and commodity trade balance. Ingeneral, third simulation were reduction of NTB up to 100% and intervention of government, gaved thegreatest effected to the performance of macro and sectoral conditions and this scenario was the bestsimulation compared to the others. By sectoral, third simulation effected the amount of output of tunaand shrimp commodity with the growth was 2,14% and 0,91%, positive impact of price was 16.4% and5.67%; increasing of export volume was 47.78% and 82.77%.

Page 1 of 2 | Total Record : 12