cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
PENGELOLAAN RUMAH TANGGA NELAYAN DITINJAU DARI PERSEPSI JENDER (Studi Kasus di Kelurahan Pasie Nan Tigo Kota Padang) Mursidin Mursidin; Hikmah Hikmah; Zahri Nasution
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): DESEMBER (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.672 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i2.5851

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang peranan keluarga dalam pengelolaan rumah tangga nelayan ditinjau dari persepsi jender. Metode yang digunakan adalah metode survey yang bersifat deskriftip. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data di analisis menggunakan metode Harvard dan dibahas secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada analisis kesetaraan jender masih adanya ketimpangan jender yang mewarnai pola kerja masyarakat nelayan setempat yakni adanya beban kerja, dimana istri memiliki peran ganda yaitu sebagai penanggung jawab dalam urusan rumah tangga dan juga membantu suami sebagai pencari nafkah. Persepsi jender yang paling banyak dianut oleh suami dan istri dalam keluarga nelayan pada masyarakat tersebut adalah istri dan suami menyadari bahwa perbedaan jenis kelamin tidak harus dipertentangkan dalam menghidupi keluarga, tetapi justru bersifat saling mendukung dan melengkapi. Sedangkan tugas berdasarkan jender yang paling banyak dianut baik oleh suami dan istri dalam keluarga nelayan pada masyarakat tersebut adalah tugas utama istri mengurus rumah tangga; tetapi boleh membantu tugas suami dalam mencari nafkah keluarga sedangkan tanggung jawab mencari nafkah utama tetap tugas suami. Tittle: Gender Perception of Fisheries Household Management (Case Study in Village of the Pasie Nan Tigo, Padang District)This research was conducted at the village of Pasie Nan Tigo, sub district of the Koto Tangah Padang, The research was aimed to analyze the role of family's member in of fisheries household management in gender perception point of view. Survey method was used in this research to collect the Primary and secondary data. Harvard method was used to analyze the data and the results were also briefly discussed descriptively. The results of the study showed that gender equity was unbalanced between wife and husband. That wives play a double roles; as a housewife and help their husband to generate income. In the perception of gender equity, wife has to be a housewife and help husband to get money, but husband hasa main responsibility to earn money for the household.
ANALISIS EKONOMI-EKOLOGI UNTUK PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERIKANAN BUDIDAYA BERKELANJUTAN DI WILAYAH PESISIR PROVINSI BANTEN Yoga Candra Ditya; Luky Adrianto; Rokhmin Dahuri; Setyo Budi Susilo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2012): DESEMBER (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.377 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i2.5680

Abstract

Dalam perencanaan wilayah pesisir Provinsi Banten, perikanan budidaya memiliki peran penting terhadap nilai sosial dan ekonomi, terutama dalam hubungannya dengan aktivitas ekspor dari produk perikanan budidaya tersebut. Namun demikian, aktivitas perikanan budidaya juga berpotensi memberikan multiplier negatif jika dipandang dari segi efek yang ditimbulkan ke lingkungan pesisir, terutama ketika tidak ada pengelolaan yang baik pada aktivitas tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menelaahkekuatan struktur dan interaksi antar sektor dari perikanan budidaya; (2) Mengestimasi dampak ekonomi dan ekologi dari pembangunan perikanan budidaya; dan (3) Mengestimasi daya dukung lingkungan pesisir yang dapat dimanfaatkan bagi kegiatan perikanan budidaya berkelanjutan. Untuk menjawab tujuan tersebut, dibangun model ecological input-output dan pendekatan ecological footprint. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keterkaitan ke belakang (1,84) lebih tinggi daripada keterkaitan ke depan 1,02). Hal ini berarti bahwa aktivitas perikanan budidaya di Provinsi Banten lebih memiliki kemampuan dalam menarik sektor hulu dibandingkan dengan sektor hilirnya. Lebih lanjut, pembangunan perikanan budidaya juga memberikan multiplier ekonomi yang memiliki income multiplier (2,20) lebih tinggi dibandingkan employment multipliernya (1,17). Dari segi ecological multiplier, area mangrove memberikan indeks sebesar 0,005, COD (0,001), dan TDS (0,001). Penggunaan pendekatan ecological footprint, diestimasikan bahwa daya dukung dari area pesisir yang tersedia adalah pada level 48.886 ha dengan target permintaan 497.825,59 juta rupiah. Title: Ecological-Economic Analysis of Sustainable Aquaculture Development Planning in the Coastal Zone of Banten Province.In the planning of Banten coastal zone, aquaculture has important role due to its social and economic value especially related with export activities of the aquaculture products. However, aquaculture activities potentially have also a negative multiplier effect on the coastal environment, especially when there is no proper management of those activities. The aims of this research are (1) to identify the structure and interaction among sectors in aquaculture activities; (2) to estimate the economic and ecological impact of the aquaculture activities, and ;(3) to estimate carrying capacity of the coastal area enabling for sustaining aquaculture development. To achieve these objectives, ecological input-output model was developed and supported with ecological footprint approach. Results of the study reveal that backward linkages index (1.84) is higher than forward linkages one (1.02). This means that aquaculture activities in Banten Provincehas capacity to pull upstream sectors rather than downstream sectors. Furthermore, aquaculture developmant has also produced economic multiplier by which income multiplier is (2.20) higher than employment multiplier (1.17). From the ecological multiplier point of view, mangrove area producs index as of 0.005, COD (0.001), and TDS (0.001). Using ecological footprint approach, the carrying capacity of appropriated coastal area is estimated at the level of 48,886 ha with the demand target of IDR 497,825.59 million. 
ANALISIS PINJAMAN DAN BIAYA PINJAMAN DALAM POLA BAGI HASIL USAHA GARAM RAKYAT DI KABUPATEN PAMEKASAN, JAWA TIMUR Campina Illa Prihantini; Yusman Syaukat; Anna Fariyanti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.595 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3176

Abstract

Masalah keterbatasan modal sering dihadapi dalam pengembangan bisnis pertanian pedesaan.Usaha garam rakyat di Kabupaten Pamekasan juga menghadapinya. Pada umumnya, petanipenggarap memutuskan untuk berpartisipasi dalam sistem bagi hasil, yang menyediakan pinjaman,untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah : (1) mengestimasi biaya pinjaman yangditanggung petani penggarap; (2) mengidentifikasi faktor penentu besarnya pinjaman yang diperoleholeh petani penggarap, dan; (3) mengidentifikasi faktor penentu biaya pinjaman yang ditanggung olehpetani penggarap. Penelitian ini menggunakan teknik purposive dan snowballing sampling. Metodeanalisis yang digunakan adalah analisis biaya pinjaman dan analisis regresi linier berganda. Biayapinjaman yang harus ditanggung oleh petani penggarap ternyata jauh lebih besar daripada tingkatsuku bunga pinjaman formal. Biaya pinjaman berada dalam kisaran angka 6.00% hingga 93.45% perbulan. Besarnya pinjaman yang diperoleh oleh petani penggarap dipengaruhi secara signifikan olehlama pinjaman, jumlah anggota keluarga petani penggarap, biaya pinjaman, keuntungan yang diterimapetani penggarap, asal daerah petani penggarap, ketersediaan jaminan, sumber pinjaman lain, dan polabagi hasil. Biaya pinjaman dipengaruhi secara signifikan oleh lama pinjaman, harga garam, produksigaram, ketersediaan jaminan, sumber pinjaman lain, dan pola bagi hasil. Pemerintah perlu bekerjasamadengan perbankan daerah untuk memberikan pinjaman bersubsidi. Hal ini dilakukan untuk mengatasipermasalahan biaya pinjaman yang sangat tinggi.Title: Analysis of Credit and Cost of Fund in Sharecropping System of Salt Production Business in Pamekasan Regency, East JavaLimited capital problem is often faced in developing rural agricultural business. Salt production business in Pamekasan Regency also faced it. Generally, the sharecroppers choosed to join sharecropping system, providing credit, to finish that problem. The objectives of this research are : (1) to estimate cost of fund paid by the sharecropper; (2) to identify the determinants of credit accepted by the sharecropper; and (3) to identify the determinants of cost of fund paid by the sharecropper. This research use purposive and snowballing sampling technique. Analysis methods of this research are the cost offund analysis and multiple linier regression analysis. Cost of fund paid by the sharecropper is more higher than the credit formal interest rate. It was about 6.00% to 93.45% per mounth. Credit nominalaccepted by the sharecropper is affected significantly by duration, number of sharecropper’s family, cost of fund, sharecropper’s profit, sharecropper’s region, collateral, another credit, and sharecroppingsystem. Cost of fund is affected significantly by are duration, price, number of output, collateral, another credit, and sharecropping system. The government should cooperate with the regional bank to give subsidized credit. It can solve the cost of fund problem that is very high. 
PERILAKU EKONOMI RUMAH TANGGA NELAYAN SKALA KECIL DALAM MENCAPAI KETAHANAN PANGAN DI PEDESAAN PANTAI JAWA TIMUR Pudji Purwanti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): juni (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.935 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i1.5817

Abstract

Suatu rumah tangga dapat mencapai kondisi tahan pangan sangat berkaitan erat dengan perilaku ekonomi rumah tangga, dalam hal ini pengambilan keputusan rumah tangga dalam kegiatan produksi dan konsumsi, serta alokasi waktu kerja dan pendapatan rumah tangga. Penelitian ini menggambarkan perilaku rumah tangga nelayan skala kecil dalam mencapai ketahanan pangan di Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Trenggalek. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Data primer diperoleh melalui survei lapang; sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi dan kompilasi data statistik terkait topik studi. Data dianalisis secara ekonometrik melalui pendekatan ekonomi rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mencapai ketahanan pangan, rumahtangga nelayan melakukan kegiatan produksi melaut dan non perikanan sebagai sumber pendapatan dari sektor perikanan dan non perikanan. Kredit non formal lebih digunakan untuk konsumsi pangan. Pada pola konsumsi pangan seimbang, ikan menduduki peringkat kedua setelah konsumsi beras. Berdasarkan parameter Indeks Porsi Pengeluaran Pangan, Indeks AKE dan Indeks AKP, maka rumahtangga nelayan skala kecil di pedesaan pantai Jawa Timur dalam kondisi tahan pangan. Tittle: Economic Behavior and Food Security of Small-Scaled Fisher’s Household in Rural Region of East Coast of Java.A chieving food security for household will depend on the economic behavior of such the household in terms of decision making-process of the household in production and a consumption activities and work time allocation. This research illustrated behavior of small-scale fisher's household in achieving food security in Pasuruan and Trenggalek districs. Primary and secondary data were used in this study. Primary data were collected by using survey method; secondary data were collected through literature study and compilation of statistical data related to the study theme. Data were analyzed econometrically through household economic approach. Results show that in achieving food security, fisher's household do fishing and non fisheries activity. Non formal credit scheme was mostly used for food consumption. In the food consumption ballance, fish was the second level after rice. Based on Food Expending Portion Index parameter, AKE and AKP indexes, small-scale fisher's household in rural region of East Coast of Java were in the secure food condition.
ANALISIS STAKEHOLDERS PADA PERIKANAN TANGKAP KERAPU, PRELIMINARY STUDY MENUJU IMPLEMENTASI ECOSYSTEM APPROACH FOR FISHERIES MANAGEMENT DI KEPULAUAN SPERMONDE KOTA MAKASSAR Irwan Muliawan; Achmad Fahrudin; Akhmad Fauzi; Mennofatria Boer
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.011 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i2.1224

Abstract

Keberhasilan dalam pengelolaan sumber daya perikanan sangat bergantung pada pelibatan stakeholders untuk ikut berperan dan bekerja aktif mengarah tujuan yang akan dicapai. Sejak tahun 2003 pemerintah Kota Makassar menerapkan sistem manajemen pesisir dan lautan terpadu (integrated coastal zone Management) pada pantai kota dengan berorientasi revitalisasi. Dan tahun 2009, Proyek Central Point of Indonesia di Makassar membangun berbagai fasilitas di sepanjang pantai dengan berorientasi pada reklamasi pantai. Hal tersebut berdampak pada rusaknya lingkungan dan menurunnya produktifitas sumberaya ikan kerapu. Selain program yang terlalu ekspansif ke arah pesisir dan laut, pelibatan stakeholder terkait sumber daya ikan kerapu pun tidak harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi dalam pengelolaan perikanan kerapu di kawasan spermonde kota pada pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan berdasarkan pendekatan ekosistem (EAFM). Pendekatan dilakukan dengan menggunakan analisis stakeholder dan analisis hubungan entitas socio-ecological system (SES). Hasil analisis stakeholder menunjukkan kelompok stakeholder primer adalah; kelompok kelayan kerapu, kelompok pemodal, kelompok nelayan lainnya, polisi perairan, dinas kelautan dan perikanan propinsi sulawesi selatan dan dinas kelautan dan perikanan kota makassar. Berdasarkan analisis stakeholder grid, kelompok stakeholder tersebut merupakan kelompok yang harus dilibatkan secara aktif dengan berdialog dua arah menuju implementasi EAFM di Kepulauan Spermonde Kota Makassar. Rekomendasi pengelolaan perikanan, dari identifikasi dengan menggunakan analisis hubungan entitas SES seperti: Perlunya upaya pendampingan. Perlunya mengembangan diversifikasi usaha. Penegakan hukum yang kuat dan konsisten. Perlunya kerjasama membenahi infrastruktur. Perlunya meningkatkan komunikasi terpadu antar entitas. Perlunya meningkatkan komunikasi interentitas penyedia infrastruktur.
PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR BERORIENTASI INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) MELALUI PENGUATAN KOORDINASI FUNGSIONAL RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) (Studi Kasus di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat) Suwarli Suwarli; Maulana Firdaus
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.438 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6285

Abstract

Pembangunan wilayah pesisir dan perbatasan memiliki banyak tantangan dan permasalahan, diantaranya adalah ketidakselarasan antara pemerintah pusat dan daerah. Rendahnya nilai akuntabilitas kinerja pembangunan yang termuat dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) adalah salah satunya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penguatan koordinasi fungsional terhadapRKPD yang berorientasi pada percepatan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – Juni 2016. Lokasi penelitian di Kabupaten Sambas yang merupakan wilayah pesisir dan perbatasan dengan potensi sumber daya perikanan yang cukup besar. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan angket sebagai alat bantu pengumpulan data. Informan dipilih secara purposive sampling sebanyak 42 orang pejabat struktural lingkup Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kabupaten Sambas. Data kualitatifdianalisis secara deskriptif dan data yang bersifat kuantitatif dianalisis dengan pendekatan statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan manusia di Kabupaten Sambas fluktuatif dalam periode 2010 – 2015, namun secara agregat mengalami peningkatan. Penurunan tingkat kesejahteraan dicerminkan oleh nilai IPM berkorelasi dengan penurunan laju pertumbuhan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Laju pertumbuhan PDRB sub sektor perikanan terus meningkat yang menandakan bahwa sub sektor perikanan lebih stabil dan dapat diandalkan sebagai sub sektor unggulan. Hasil analisis penguatan koordinasi fungsional RKPD menunjukkan bahwa koordinasi lingkup SKPD di Kabupaten Sambas sudah memiliki kinerja yang baik, yaitu dengan rata-rata nilai skor secara keseluruhan adalah 2,32 (77,21%) dan masuk ke dalam klasifikasi “kuat”. Kinerja yang baik ini dapat menjadi modal utama dalam proses perencanaan pembangunan Kabupaten Sambas sebagai wilayah pesisir dan perbatasan sehingga dapat menjadikan Kabupaten Sambas sebagai salah satu wilayahperbatasan yang berkembang.Title: Strenghtening of Coordination of Functional Work Plan of Local Government (RKPD) Through Development Coastal Areas Based on Human Development Index (A Case Study in Sambas Regency, West Kalimantan)Development of coastal areas and the border has many challenges and problems, including the lack of central and local governments policys. The low performance accountability of development policy in RKPD is one of the issues. This study aimed to analyze the level of functional coordination strengthening against RKPD oriented to accelerate the achievement of Human Development Index (HDI). This study was conducted in March-June 2016. The research location in Sambas Regency which is the border with the coastal areas and has its potential fisheries resource. Primary and secondary data were used in this study. This study uses a survey by questionnaire as a tool for data collection. purposive sampling as many as 42 people SKPD scope of structural officials in Sambas regency. Data were analyzed descriptively qualitative and quantitative data was analyzed by a statistical approach. The results showed that the human development index in Sambas regency fluctuated in the period 2010 - 2015, aggregatlye increased. Decreased levels of well-being mirrored by HDI value correlates with decreased growth rate in the value of GDP per capita. GDP growth rate fisheries sub-sector continues to increase indicating that the fisheries sub-sector is more stable and reliable as the leading sector. The results of the analysis of functional coordination enhancement RKPD show that the coordination sphere SKPD in Sambas district already has a good performance, with an average value of the overall score was 2.32 (77.21%) and can be classified as “strong”. This good performance can be a major capital in Sambas district development planning process as coastal and border regions in order to make Sambas district became one of the developing border areas.
DAYA SAING EKSPOR PRODUK PERIKANAN INDONESIA DI LINGKUP ASEAN DAN ASEAN-CHINA Subhechanis Saptanto
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): Juni (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.507 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i1.5754

Abstract

Keunggulan komparatif dapat digunakan sebagai indikator besarnya daya saing suatu negara dalam perdagangan internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing ekspor perikanan Indonesia di tingkat ASEAN dan ASEAN-China. Kajian ini menggunakan data sekunder time series yang dikeluarkan oleh United Nation Comtrade dari tahun2000 hingga 2008. Metode analisis yang digunakan adalah dengan metode Revealed Comparative Advantage (RCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwadi tingkat ASEAN maupun ASEAN-China, produk perikanan Indonesia yang memiliki daya saing adalah produk dengan kode HS 03 (ikan, udang-udangan, hewan lunak, invertebrata perairan), HS 710110 (mutiara dari alam yang belum diolah), HS 710121 (mutiara budidaya yang belum diolah), dan HS 121220 (rumput laut dan alga lainnya). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih lemah dalam hal ekspor produk yang memiliki nilai tambah. Tittle: Comparative Advantage of Indonesian Fisheries Product in ASEAN and ASEAN-China.Comparative advantage can used as indicator of trade level in international trade. This study aim to analyze comparative advantageof Indonesian fisheries product in both of ASEAN and ASEAN-China. This study used secondary data of UN Comtrade from 2000 until 2008 and revealed comparative advantage (RCA) method. Results of this study show that in both of ASEAN and ASEAN-China, for HS 03 (Fish, crustaceans, molluscs, aquatic invertebrates), HS 710110 (Pearls natural, not permanently mounted or set), HS 710121 (pearls cultured unprocessed), and HS 121220 (seaweeds and other algae), Indonesia still vave comparative advantage in fisheries product. This results indicate that Indonesia considers a weak position in the valued added export of the fisheries product.
SUMBER-SUMBER PERTUMBUHAN OUTPUT PERIKANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA PERIODE 1990-2000: Pendekatan Analisis Input-Output Menggunakan Metoda Dekomposisi Faktor Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): JUNI (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.334 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i1.5840

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui sumber-sumber pertumbuhan output perikanan danperubahannya yang terjadi selama periode analisis. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari Tabel Input Output Tahun 1990, 1995 dan 2000 yang disusun oleh Badan Pusat Statistik. Analisis data dilakukan menggunakan kerangka model input-output dengan pendekatan dekomposisi faktor. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada periode 1990-1995, pertumbuhan output perikanan primer dan perikanan sekunder didominasi sumber perubahan permintaan akhir domestik, sedangkan pada periode 1995-2000 didominasi sumber perluasan ekspor. Sedangkan berdasarkan kontribusinya terhadap sumber pertumbuhan output total, diketahui bahwa selama periode analisis (1990-2000) belum terjadi (tengah berlangsung) perubahan struktur dari perekonomian yang didominasi kelompok perikanan primer kepada kelompok perikanan sekundernya. Untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan output perikanan primer dan perikanan sekunder terkait dengan perubahan strukturnya, diperlukan dukungan penguasaan terknologi yang lebih maju dan lebih mendorong perluasan ekspor bersamaan dengan upaya meningkatkan substitusi impor. Tittle: Sources of Fisheries Output Growth in the Indonesian Economy During 1990-2000 : An Input Output Analysis Approach using the Factor Decomposition Method.This study was primarily aimed to find out the sources of fisheries' output growth and changes happened to this sector during the analyzed period. The secondary data used in this research were derived from the 1990, 1995 and 2000 I-O tables composed by CBS (Central Bureau Statistics). The Analysis was done under I-O model framework with factor decomposition approach. The study indicated that during the 1990 – 1995 period, both primary and secondary fisheries' output were dominated by changes in the final demand, while during the 1995 – 2000 period, it was dominated by export expansion. Based on its contributions towards total output growth, during the analysis period (1990 - 2000), fisheries sector had not experienced the much-expected structural changes from a primary-fisheries-dominated economy to a secondary-fisheries-dominated economy, or perhaps it was still in process. In order to increase the output growth performance of both primary and secondary fisheries related to the structural changes, more advanced technologies, support for more export expansion balanced by the efforts to promote import substitution are needed.
KEUNGGULAN SUB SEKTOR PERIKANAN DAN PARIWISATA BAHARI DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH PULAU-PULAU KECIL Mira Mira
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2312.884 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5668

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana kinerja sub sektor perikanan dan sub sektor pariwisata bahari di wilayah yang karakteristiknya pulau-pulau kecil seperti di Kepulauan Seribu. Kinerja tersebut meliputi apakah sub sektor pariwisata bahari dan perikanan menjadi sektor unggulan/terbelakang/potensial/berkembang, apakah dua sub sektor tersebut menjadi sub sektor yang prospektif dan sub sektor yang memiliki keunggulan komparatif. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2011 di Kepulauan Seribu. Metode analisis pergeseran struktur perekonomian digunakan dalam penelitian ini.  Hasil analisis pada komponen pertumbuhan pangsa wilayah, hanya sub sektor perikanan yang memiliki  keunggulan komparatif yang berarti bahwa hanya sub sektor ini yang mampu bersaing. Pada sektor wisata bahari, pertambangan dan penggalian, industri, transportasi dan komunikasi, dan kontruksi di Kepulauan Seribu tidak memiliki keunggulan komparatif, karena masih banyaknya komponen input yang diimpor dari sektor tersebut. Selanjutnya, hasil analisis profil pertumbuhan mengindikasikan bahwa hanya sub sektor perikanan yang masuk pada kuadran pertama yang artinya sektor-sektor unggulan pada wilayah Kepulauan Seribu. Sektor pariwisata bahari dari hasil analisis profil pertumbuhan termasuk pada kuadran ketiga, dimana merupakan sub sektor yang potensial yang dikembangkan di Kepulauan Seribu. Kategori sektor potensial mengandung pengertian bahwa sektor tersebut relatif lambat pertumbuhannya, oleh karena itu masih diperlukan dorongan dari pemerintah agar`dapat menjadi sektor unggulan. Dorongan tersebut dapat berupa kebijakan dari pemerintah dan penguatan penguasaan teknologi tepat guna.Title: Performance of Fisheries and Tourism Sub Sectors in Economic Structure of Small Islands AreaThe purpose of this study was to analyze how the performance of fisheries and marine tourism sub sectors in the area characterised by small islands as in the Seribu Islands. The particular performances were included whether the marine tourism and fisheries sub sectors into leading sectors / backward/ potential / developing, whether the two sub-sectors into sub-sectors prospective and sub-sectors comparative advantages. The research was conducted in 2011 in the Seribu Islands. A shift classic  analysis method was used in this study. Results of the region share growth component analysis showed that only the fisheries sub-sector has a comparative advantage, which means the only sub-sector to compete. In the marine tourism subsector, mining and quarrying, industry, transport and communications, and construction in the Seribu Island do not have a comparative advantage, because there are many imported components inputs from that particular sectors. From the growth profile analysis results indicate that only the fisheries sub-sector was in the first quadrant, indicating that this sector was considered a superior sector in the region. Meanwhile, marine tourism sub sector was in the third quadrant, indicating that this sector was considered a potential sector to be developed in this region. In terms of growth the potential sectors indicated a relatively low growth in the region; therefore, government should push this particular sector to be a superior sector. Value added of superior sector should be improved through strengthening the locally appropriated technology.
Fronmatter Front Matter
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1200.923 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1214

Abstract

Fronmatter

Page 2 of 34 | Total Record : 337