cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
Analisis Persepsi Masyarakat Pesisir terhadap Sampah Plastik saat Pandemi Covid-19 di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar Oktaviana, Lusi; Anna, Zuzy; Maulina, Ine; Suryana, Asep Handaka
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v18i2.12434

Abstract

Berdasarkan data TPA Tembokrejo, jumlah sampah plastik meningkat sebesar 20% selama masa pandemi Covid-19 sehingga sampah plastik sering ditemukan di daerah pesisir, seperti di Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi dan mengganggu berlabuhnya kapal. Penelitian yang dimulai pada Maret 2022 hingga Agustus 2022 ini bertujuan untuk melihat hubungan persepsi masyarakat pesisir terhadap sampah plastik saat pandemi Covid-19. Metode penelitian dilakukan dengan teknik survei terhadap 100 responden yakni masyarakat rumah tangga daerah pesisir Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar,  yang kemudian dianalisis secara kuantitatif dan disajikan secara deskriptif untuk mengukur pengetahuan, pengalaman, dan persepsi.   Data primer yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari persepsi dan partisipasi masyarakat pesisir, sedangkan data sekunder bersumber dari literatur. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif sebagai bentuk penjabarannya. Hasil penelitian ini adalah tingkat persepsi masyarakat pesisir terhadap isu sampah plastik saat pandemi Covid-19 di wilayah Kecamatan Muncar sebesar 60%.   Hal tersebut menunjukkan bentuk perhatian terhadap kondisi sampah plastik di sekitar mereka karena sampah plastik adalah masalah yang bisa dibilang krusial dan harus segera diatasi. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya korelasi nyata  pada faktor internal serta eksternal terhadap persepsi masyarakat pesisir mengenai sampah  plastik di Kabupaten Banyuwangi. Hasil tersebut juga berhubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi dalam penanganan sampah plastik, yakni sebesar 42 persen. Title: Perceptions Analysis of Coastal Communities on Plastic Waste During the Covid-19 Pandemic in  The Tembokrejo Village, Muncar DistrictBased on data from Tembokrejo landfill, the amount of plastic waste increased by 20% during the Covid-19 pandemic, which resulted that plastic waste often found in coastal areas such as in Muncar Subdistrict, Banyuwangi Regency, disrupting the anchoring of ships. The research which began in March 2022 until August 2022, aims to see the relationship between the perceptions of coastal communities on plastic waste during the Covid-19 pandemic. The research method was carried out using a survey technique of 100 respondents, namely householdsin the coastal area of Tembokrejo Village, Muncar District, which were then analyzed quantitatively and presented descriptively to measure knowledge, experience and perception. The primary data used in this study came from the perceptions and participation of coastal communities, while the secondary data sourced from the literature. This study uses a quantitative descriptive analysis method as a form of elaboration. The results of this study obtained that the level of perception of coastal communities on the issue of plastic waste during the Covid-19 pandemic in the Muncar sub-district area was 60%. This shows a form of attention to the condition of plastic waste around them, and makes that plastic waste is a problem that can be considered crucial and must be addressed immediately. Then the results of the correlation test show a real correlation in internal and external factors on the perception of coastal communities regarding plastic waste in Banyuwangi district. These results are also related to the high level of community participation in handling plastic waste, which is 42 percent.
Analisis Strategi Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan Masyarakat Nelayan di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran Najib, Maulana Asyrofi; Suryana, Asep Agus Handaka; Iskandar, Iskandar; Nurhayati, Atikah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v19i1.13563

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengembangan penghidupan berkelanjutan yang bertujuan untuk mengetahui modal penghidupan, faktor yang mempengaruhi, perubahan struktur dan proses, serta pengidentifikasian strategi pada pengembangan penghidupan berkelanjutan dalam meningkatkan kesejahteraan dan keberlangsungan hidup nelayan di Desa Pananjung. Pelaksanaan penelitian dimulai dari tanggal 17 Juli 2023 hingga 26 Oktober 2023. Metode yang digunakan adalah Mixed Method (kualitatif dan kuantitatif) dengan melakukan pengisian kuesioner, wawancara (expert judgement), dan observasi. Penelitian ini menggunakan purposive sampling diikuti beberapa kriteria dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif dibantu dengan penggunaan skala likert dalam mengukur sikap, pendapat, dan persepsi secara individu ataupun kelompok nelayan. Terdapat dua data utama pada penelitian ini, yaitu aspek kerentanan dan modal penghidupan. Konteks kerentanan berpengaruh terhadap penghidupan masyarakat. Konteks kerentanan nelayan Desa Pananjung memiliki persentase rata-rata sebesar 62,25% yang dikategorikan sangat berpengaruh. Modal penghidupan tertinggi masyarakat nelayan adalah Modal Alam (84,40%) dan dikategorikan sangat baik, namun terdapat ketimpangan pada Modal Finansial (56,67%) yang dikategorikan cukup baik dan dipengaruhi oleh pengelolaan keuangan yang kurang baik. Strategi penghidupan yang dilakukan masyarakat nelayan Desa Pananjung berdasarkan hasil analisis adalah Diversifikasi dengan melakukan pekerjaan sambilan berbasis SDA dan non SDA.Title: Strategy Analysis of Sustainable Livelihood Development Among Fishermen Community in Pananjung Village, Pangandaran Subdistrict, Pangandaran DistrictThis study analyzes the development of sustainable livelihoods in order to determine livelihood capital, influencing factors, changes in structures and processes, as well as identifying strategies for developing sustainable livelihoods in improving the welfare and survival of fishermen in Pananjung Village. The research will start from July 17, 2023 to October 26, 2023. The method used is the Mixed Method (qualitative and quantitative) by filling out questionnaires, interviews (expert judgment), and observation. This study used purposive sampling followed by several criteria with the number of respondents as many as 30 peoples. The data analysis method uses quantitative and qualitative descriptive analysis assisted     by the use of likert scale in measuring attitudes, opinions, and perceptions of individuals or groups of fishermen. There are two main data in this study, namely vulnerability aspects and livelihood capital. The context of vulnerability affects people's livelihoods. The context of fishermen's vulnerability Pananjung Village has an average percentage of 62.25% which is categorized as very influential. In fishing communities, the highest livelihood capital is Natural Capital (84.40%) and is categorized as very good, however, there is inequality in Financial Capital (56.67%) which is categorized as quite good and             influenced by poor financial management. The livelihood strategy carried out by the fishing community of Pananjung Village based on the results of the analysis is diversification by doing part-time work based on natural and non-natural resources.
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Buoyancy PNBP Sektor Perikanan Subsektor SDA Rahmawati, Nur Alifah; Purwanti, Evi Yulia
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v19i1.12220

Abstract

Indonesia memiliki wilayah perairan yang luas dengan sumber daya perikanan melimpah yang dapat meningkatkan penerimaan negara khususnya dari penerimaan bukan pajak subsektor sumber daya alam (SDA). Dengan daya apung PNBP, responsivitas PNBP sektor perikanan subsektor SDA terhadap perubahan PDB dapat diukur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi daya apung PNBP sektor perikanan subsektor SDA pada tahun 2002—2021. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Kementerian Keuangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan BPS dengan metode analisis regresi Error Correction Model (ECM). Hasil penelitian menunjukkan dalam jangka pendek, nilai produksi perikanan dan reformasi PNBP sektor perikanan berpengaruh positif dan signifikan, illegal fishing berpengaruh negatif dan signifikan. Akan tetapi realisasi belanja KKP tidak berpengaruh signifikan terhadap daya apung PNBP sektor perikanan subsektor SDA. Dalam jangka panjang nilai produksi perikanan, realisasi belanja KKP, illegal fishing, dan reformasi PNBP sektor perikanan tidak berpengaruh signifikan terhadap daya apung PNBP sektor perikanan subsektor SDA. Sebagai rekomendasi, perlu adanya kebijakan yang terukur dan konsisten dilakukan dalam mendukung optimalisasi pemanfaatan SDA perikanan sebagai sumber penerimaan negara.Title: Analysis of Factors Affecting Buoyancy of PNBP in the Fisheries Sector of Natural Resources SubsectorIndonesia has vast territorial waters with abundant fishery resources which can increase state revenues, especially from PNBP of the natural resources. With the buoyancy of PNBP, the responsiveness of PNBP in the fisheries sector of natural resources can be measured against changes in GDP. This research aims to analyze the buoyancy of PNBP in the fisheries sector of natural resources from 2002 – 2021. This research used secondary data obtained from the Ministry of Finance, the Ministry of Marine Affairs and Fisheries, and the Central Statistics Agency, using the Error Correction Model (ECM) regression analysis method. The results showed that in the short term, the fishery production value and PNBP reform in the fisheries sector have a positive and significant effect, and illegal fishing has a negative and significant effect. However, the realization of KKP spending does not have a significant effect on the buoyancy of PNBP in the fisheries sector of the natural resources subsector. In the long term, the fishery production value, the realization of KKP spending, illegal fishing, and PNBP reform in the fisheries sector do not significantly affect the buoyancy of PNBP in the fisheries sector of the natural resources subsector. As a recommendation, there needs to be a measurable and consistent policy carried out in supporting the optimization of the use of fishery resources as a source of state revenue.
Transformasi Model Bisnis Berbasis Business Model Canvas Pada PT Bintang Megah Jaya Perkasa Untuk Meningkatkan Daya Saing Ekspor Perikanan Widyananda, Cepryana Sathalica; Shamad, Zulfaini; Purdiyanto, Joko; Pradianti, Oryssa S; Anggraini, Dwi Aprilia
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.14943

Abstract

Penurunan pendapatan yang dialami oleh PT Bintang Megah Jaya Perkasa (PT BMJP) sebagai konsekuensi dari implementasi regulasi ekspor baru mencerminkan urgensi untuk melakukan restrukturisasi model bisnis secara strategis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelemahan struktural serta merancang transformasi model bisnis berbasis kerangka Business Model Canvas (BMC) yang lebih adaptif dan berdaya saing. Pendekatan BMC digunakan untuk menganalisis sembilan komponen utama model bisnis: mitra kunci, aktivitas kunci, proposisi nilai, hubungan pelanggan, segmen pelanggan, sumber daya kunci, saluran distribusi, struktur biaya, dan aliran pendapatan. Data dikumpulkan melalui metode kualitatif, mencakup wawancara mendalam, observasi langsung, diskusi kelompok terfokus (FGD), serta telaah dokumentasi internal perusahaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyesuaian  perlu difokuskan pada dimensi proposisi nilai, segmentasi pelanggan, dan strategi kemitraan. Perumusan strategi perbaikan mencakup penguatan hubungan pasokan dengan nelayan lokal, ekspansi pasar ke wilayah dengan permintaan tinggi seperti Jepang dan Malaysia, serta optimalisasi saluran digital. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan resiliensi dan daya saing PT BMJP, serta menawarkan pelajaran berharga yang dapat diadaptasi oleh pelaku usaha perikanan lainnya dalam merancang model bisnis yang tangguh dan responsif terhadap tantangan dinamis di pasar ekspor global. Title: Business Model Transformation  Using the Business Model Canvas at PT Bintang Megah Jaya Perkasa to Enhance Export Competitiveness in the Fisheries SectorThe revenue decline experienced by PT Bintang Megah Jaya Perkasa (PT BMJP) following the enactment  of new export  regulations underscores the necessity for a strategic restructuring  of its business model. This study aims to identify structural  weaknesses and develop a more adaptive and competitive business model using the Business Model Canvas (BMC) framework. The BMC approach analyzes nine core components of business models: key partners, key activities, value propositions,  customer  relationships,  customer  segments,  key resources, channels,  cost structure,   and revenue streams. A qualitative  methodology was employed, incorporating in-depth  interviews, direct observations, focus group discussions (FGDs), and internal document reviews. The analysis indicates that improvements are particularly needed in value propositions, customer segmentation,  and partnership  strategies. The proposed restructuring  strategy includes strengthening  supply partnerships with local fishers, expanding  into high-demand  markets such as Japan and Malaysia, and optimizing  digital distribution channels. The findings contribute to enhancing the resilience and competitiveness of PT BMJP and  offer valuable  lessons that can be adopted  by other fisheries enterprises in designing resilient and adaptive business models capable of addressing the evolving challenges of global export  markets.
Analisis Faktor Penentu Implementasi Sistem Ketertelusuran pada Produk Perikanan: Sebuah Kajian Literatur Pratama, Andri
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.15083

Abstract

Permasalahan utama dalam distribusi produk perikanan adalah tingginya tingkat kerusakan, yang tidak hanya menurunkan nilai jual tetapi juga menyebabkan penolakan di lokasi bongkar dan berisiko terhadap kesehatan konsumen. Kerusakan ini umumnya terjadi karena lemahnya pengawasan dalam rantai pasok yang belum sepenuhnya terdokumentasi dan terintegrasi. Untuk mengatasi hal tersebut, penerapan sistem ketertelusuran berbasis teknologi  seperti  Internet of   Things  (IoT)  dan  blockchain  menjadi sangat  penting.  Sistem  ini memungkinkan pelacakan produk secara real time, mencakup informasi mengenai asal-usul, proses penanganan, hingga kondisi pengiriman produk.  Penelitian ini  bertujuan  untuk  mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mendorong implementasi sistem ketertelusuran pada produk perikanan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur terhadap publikasi ilmiah terakreditasi dengan fokus pada topik sistem ketertelusuran dalam sektor perikanan. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi sistem ini sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis  kepulauan, kebutuhan untuk  memenuhi permintaan konsumen secara tepat waktu, serta urgensi menghindari ketidaksesuaian produk yang berisiko menurunkan kualitas dan kepercayaan pasar. Integrasi sistem ketertelusuran dengan teknologi digital terbukti mampu meningkatkan  efisiensi pengawasan mutu dalam rantai pasok perikanan, serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas antar aktor yang terlibat. Title: Analysis of Determining Factors in The Implementation of Traceability Systems For Fishery Products: A Literature ReviewThe primary issue in the distribution   of fishery products is the high rate of product  damage,  which not only reduces market value but also leads to rejection at unloading points and poses health  risks to consumers. This damage typically results from weak oversight within the supply chain, which remains poorly documented  and lacks full integration. To address this, implementing a traceability  system based on technologies such as the Internet  of Things (IoT) and blockchain has become increasingly important. These systems enable real-time  product tracking,  including information  on origin, handling   processes, and shipping conditions. This study aims to identify the key factors driving the implementation  of traceability  systems in fishery products.  The method employed is a literature  review of accredited scientific publications focusing on traceability  systems within  the fisheries sector. The findings reveal that implementation  is strongly influenced by Indonesia’s  archipelagic geography,  the need to meet consumer demand in a timely manner, and the urgency to prevent  product  inconsistencies that can undermine quality and market trust. Integrating  traceability  systems with digital technologies has proven effective in improving  quality  control efficiency within  the fishery supply chain, while also enhancing transparency and accountability among the actors involved.
Freshwater Fish and Challenge of Supply Chain for Production Enhancement: West Southern Region of Aceh Province, Indonesia Zuriat, Zuriat; Amarullah, T; gazali, mohamad; Ali, M; Irham, Muhammad
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.13653

Abstract

This research aims to analyze the supply chain and marketing chain of freshwater fish in the West-Southern Region of Aceh Province, Indonesia. The research activities took place from May to July 2022, with data collection continuing in 2023. The determination of data collection locations used purposive methods, and data collection was conducted through survey methods. Data were obtained from fish traders in four  markets: Ujong Baroh Meulaboh Fish Market, Blang Pidie Market, Nagan Raya Market, and Krueng Sabe Fish Market. Data analysis was conducted descriptively. The research results indicate that the supply chain includes fish farmers, partner traders, collector traders, retailers, and consumers, and there are two supply chains based on regions: inter-insular and intra-region. The dominant types of freshwater fish supply are catfish and tilapia. Tilapia has a higher price compared to catfish. Tilapia is dominant in the Ujong Baroh market, while catfish is dominant in the Blang Pidie  market. It has become a substitute when sea fish are scarce or expensive in the market. Based on the value chain analysis, a margin ranging from 10% to 30% was obtained. Partner traders play a significant role in production activities and the supply chain due to cooperation in input-output factors. Challenges in the freshwater fish supply consist of seeds and feed, with seeds mostly supplied from outside West-South, accounting for more than 80%.. Addressing freshwater fish supply challenges in Southwest Aceh requires an integrated supply chain approach enhancing hatchery systems and fry distribution upstream, improving aquaculture infrastructure and feed subsidies at the production level, and establishing collection centers, cold storage, and modern markets in key districts to strengthen distribution, stabilize prices, and improve food security.
Analisis Faktor-Faktor Produksi Usaha Budi Daya Ikan Lele (Clarias Batrachus) di Kota Padang Sumatera Barat Imtihan, Imtihan; Mayasari, Lisa; Aryzegovina, Reffi; Eqim, Ash Shadiq
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.13844

Abstract

Budi daya Ikan lele merupakan salah satu usaha yang memiliki permintaan pasar yang tinggi sehingga mampu memberikan tingkat keuntungan yang cukup tinggi bagi masyarakat. Dilihat dari segi kesehatan ikan lele merupakan salah satu komoditis unggulan air tawar yang memiliki kandungan gizi yang tinggi dan baik untuk kesehatan. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh faktor-faktor produksi, yaitu Tenaga Kerja (X1), Luas Lahan (X2), Benih (X3) dan Pakan (X4) terhadap jumlah produksi ikan lele di Kota Padang Sumatera Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan dilakukan dari bulan Juni-Oktober 2023. Pengumpulan data dilakukan melalui penggunaan data primer dan data sekunder dengan menggunakan teknik Purposive Sampling dan berjumlah 50 responden. Teknik analisis data menggunakan Regresi Linear Berganda melalui uji t dan uji F. Hasil penelitian menunjukkan; (1) secara parsial tenaga kerja, benih dan pakan berpengaruh signifikan terhadap jumlah produksi ikan lele; luas lahan tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah produksi ikan lele (2) secara simultan tenaga kerja, luas lahan, benih dan pakan secara bersamaan berpengaruh signifikan terhadap jumlah produksi ikan lele. Rekomendasi yang diberikan adalah agar para pembudidaya ikan lele lebih memperhatikan hubungan antara input dengan output dalam usaha budi daya ikan lele sehingga hasil produksi ikan lele selalu mengalami peningkatan baik dari segi kuantitas dan kualitas.Tittle: Analysis of Production Factors for Catfish Farming (Clarias Batrachus) in the City of Padang, West SumatraCatfish cultivation is one of the businesses that has a high market demand, so it can provide a fairly high level of profit for the community. In terms of health, catfish is one of the leading freshwater commodities that has a high nutritional content and is good for health. The purpose of this study was to analyze the influence of production factors: labor (X1), land area (X2), seed (X3), and feed (X4) on the amount of catfish production in Padang City, West Sumatra. The method used in this research is a quantitative descriptive approach, which was conducted from June to October 2023. Data collection was carried out through the use of primary data and secondary data using the Purposive Sampling technique and totaled 50 respondents. The data analysis technique uses multiple linear regression through the t test and the F test. The results showed: (1) partially labor, seeds, and feed have a significant effect on the amount of catfish production; land area has no significant effect on the amount of catfish production. (2) Simultaneously, labor, land area, seeds, and feed have a significant effect on the amount of catfish production. The recommendation given is that catfish farmers pay more attention to the relationship between inputs and outputs in catfish farming so that catfish production always increases in terms of quantity and quality.
Prioritas Pengelolaan Taman Wisata Alam Pulau Pombo Terhadap Keberlanjutan Ekosistem Terumbu Karang Rumasoreng, Samsul Bahri; Yulianda, Fredinan; Yulianto, Gatot
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.17525

Abstract

Penetapan skala prioritas dalam pengelolaan memiliki peran krusial sebagai pedoman bagi pengelola kawasan dalam mengoptimalkan pengelolaan Taman Wisata Alam Pulau Pombo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prioritas pengelolaan kawasan Taman Wisata Alam Pulau Pombo bagi keberlanjutan ekosistem terumbu karang dengan menggunakan metode jejaring Analitik (Analytic Network Process). Permasalahan dan solusi dalam menentukan prioritas pengelolaan dikategorikan ke dalam empat cluster utama, yaitu: ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan. Masing-masing cluster terdiri dari sub-cluster yang disusun berdasarkan hasil wawancara dengan para ahli dan pemangku kepentingan, menggunakan metode purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa masalah prioritas utama pengelolaan adalah cluster ekologi dengan nilai normalized sebesar 0.3659, nilai Kendall’s (W) yakni W=0,904, yang berarti 90,4% responden sepakat bahwa prioritas masalah pengelolaan adalah cluster ekologi, sedangkan prioritas solusi dari setiap cluster menunjukkan cluster ekologi menjadi prioritas utama dengan nilai normalized sebesar 0.3606, nilai Kendall’s (W) yakni W=1, yang berarti 100% responden sepakat fokus utama yang paling relevan dalam mengatasi pengelolaan Taman Wisata Alam Pulau Pombo bagi keberlanjutan ekosistem terumbu karang adalah prioritas cluster ekologi. Prioritas pengelolaan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, sosial dan kelembagaan yang dapat dilakukan melalui: (i) rehabilitasi ekosistem terumbu karang; (ii) tingkatkan infrastruktur penunjang pengelolaan kawasan; (iii) program edukasi konservasi; dan (iv) pengadaan peralatan penunjang fasilitas pengawasan.Title: Priority Management of Pombo Island Natural Tourism Park on the Sustainability of Coral Reef EcosystemsThe determination of priority scales in management has a crucial role as a guideline for area managers in optimizing the management of Pombo Island Natural Tourism Parks. This study aims to analyze the management priorities of the Pombo Island Nature Tourism Park area for the sustainability of coral reef ecosystems using the Analytic Network Process method. Problems and solutions in determining management priorities are categorized into four  main clusters, namely: ecological, economic, social, and institutional. Each cluster consists of sub-clusters that are compiled based on the results of interviews with experts and stakeholders, using the purposive sampling method. The results of the analysis showed that the main priority problem of management was the ecological cluster  with a normalized value  of 0.3659, the Kendall's value (W) was W = 0.904, which means that 90.4% of respondents agreed that the priority of the management problem was the ecological cluster, while the priority of the solution of each cluster showed  the cluster Ecology is the top priority with  a normalized value  of 0.3606, Kendall's value (W) is W=1, which means that 100% of respondents agree that the most relevant main focus in overcoming the management of the Pombo Island Nature Tourism Park for the sustainability of coral reef ecosystems is the cluster priority ecology. Management priorities by considering ecological, economic, social and institutional aspects that can be carried out through: (i) coral reef ecosystem rehabilitation; (ii) improve infrastructure to support regional management; (iii) conservation education programs; and (iv) procurement of supporting equipment for surveillance facilities.
Analisis Kelayakan Usaha dan Efisiensi Faktor Produksi Budi Daya Udang Vaname (Litopennaeus Vannamei) di Kabupaten Barru Rusdi, Rismawaty; Kasri, Kasri; Kodiran, Taryono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.16095

Abstract

Perbedaan sistem budi daya dan kebiasan lokal petambak tanpa perhitungan input-output yang rasional berpotensi menurunkan efisiensi dan kelayakan usaha udang vaname. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan usaha dan efisiensi faktor produksi budi daya udang vaname di Kabupaten Barru pada dua Desa Sentra, yaitu Desa Corawali (tradisional) dan Desa Lawallu (semi-intensif). Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif melalui analisis kelayakan finansial serta analisis efisiensi faktor produksi menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas yang dilanjutkan dengan perhitungan efisiensi alokatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha budi daya di kedua desa layak diusahakan (R/C > 1), namun Desa Lawallu memiliki Net Profit lebih besar dan Payback Period lebih cepat dibandingkan Desa Corawali. Luas lahan dan jumlah benih merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap produksi. Analisis efisiensi alokatif menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan di kedua desa cenderung berlebihan, sementara jumlah benih di Desa Lawallu masih perlu dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan kembali skala lahan dan padat tebar sesuai daya dukung tambak, serta dukungan pemerintah melalui perbaikan fasilitas irigasi di Desa Corawali dan pelatihan pengelolaan pakan serta teknologi budi daya ramah lingkungan untuk mendukung produksi yang berkelanjutan.Title: Analysis of Business Feasibility and Optimization of Production Factors of Vaname Shrimp Cultivation in Barru RegencyDifferences in cultivation systems and local practices of farmers without rational input-output calculations have the potential to reduce the efficiency and feasibility of vannamei shrimp farming. This study aims to analyze the feasibility of the business and the efficiency of production factors of vannamei shrimp farming in Barru Regency in two central villages, namely Corawali Village (traditional) and Lawallu Village (semi-intensive). The method used is a quantitative method through financial feasibility analysis and production factor efficiency analysis using the Cobb-Douglas production function followed by allocative efficiency calculations. The results show that the cultivation business in both villages is feasible (R/C > 1), but Lawallu Village has a greater Net Profit and a faster Payback Period than Corawali Village. Land area and number of seeds are the most influential factors on production. The allocative efficiency analysis shows that land utilization in both villages tends to be excessive, while the number of seeds in Lawallu Village still needs to be utilized optimally. Therefore, it is necessary to rearrange the land scale and stocking density according to the carrying capacity of the pond, as well as government support through improving irrigation facilities in Corawali Village and training in feed management and environmentally friendly cultivation technologies to support sustainable production.
Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove di Desa Kayu Arang Kabupaten Bangka Barat Herdianingsih, Ajeng; Akhrianti, Irma; Wahidin, La Ode
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.16125

Abstract

Ekosistem mangrove di Desa Kayu Arang berada dalam kondisi yang masih terjaga dan memiliki peran penting baik dari aspek ekologi maupun ekonomi. Sejumlah penelitian sebelumnya telah menelaah kondisi dan fungsi ekosistem, namun data mengenai nilai ekonominya masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung besaran nilai guna, nilai non-guna, dan nilai ekonomi total (NET) ekosistem mangrove di Desa Kayu Arang Kabupaten Bangka Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2024 dengan melibatkan 50 orang responden yang dipilih menggunakan pendekatan snowball sampling, stratified sampling dan purposive sampling. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder bersifat deskriptif kuantitatif. Data primer dikumpulkan secara langsung melalui wawancara, kuesioner, dan observasi lapangan. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait, studi pustaka, dan data citra Sentinel-2A. Analisis data dilakukan dengan pendekatan market price, benefit transfer, contingent valuation method (CVM), serta 10% dari nilai guna langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ekonomi total (NET) ekosistem mangrove di Desa Kayu Arang diestimasikan sebesar Rp46.283.106.017/tahun dengan luas mangrove mencapai 600 hektar, terdiri atas nilai guna sebesar Rp46.062.971.843/tahun dan nilai non-guna sebesar Rp220.134.174/tahun. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa ekosistem mangrove memiliki kontribusi ekonomi yang signifikan dan menyediakan informasi penting bagi perencanaan pengelolaan kawasan yang berkelanjutan.Title: Economic Valuation ff Mangrove Ecosystem In Kayu Arang Village, West Bangka Regency    The mangrove ecosystem in Kayu Arang Village remains relatively well-preserved and plays an important role both ecologically and economically. Although several previous studies have examined the condition and functions of this ecosystem, data on its economic value is relatively limited. This study aims to calculate the magnitude of use value, non-use value, and total economic value (TEV) of the mangrove ecosystem in Kayu Arang Village, West Bangka Regency. The study was conducted in July 2024, involving 50 respondents selected using snowball sampling, stratified sampling, and purposive sampling approaches. The data consisted of primary and secondary data analyzed using a quantitative descriptive approach. Primary data were collected directly through interviews, questionnaires, and field observations. Secondary data were obtained from relevant agencies, literature review, and Sentinel-2A imagery. Data analysis was conducted using the market price approach, benefit transfer, contingent valuation method (CVM), and 10% of direct use value. The results show that the total economic value (NET) of the mangrove ecosystem in Kayu Arang Village is estimated at IDR 46,283,106,017 per year, covering an area of approximately 600 hectares, with a use value of IDR 46,062,971,843 per year and a non-use value of IDR 220,134,174 per year. This value indicates that the mangrove ecosystem provides a significant economic contribution and offers essential information for sustainable ecosystem management planning.