cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 420 Documents
Fekunditas ikan gelodok, Boleophthalmus boddarti (Pallas 1770) di Pantai Brebes [Fecundity of Boddart's goggle-eyed goby, Boleophthalmus boddarti (Pallas 1770) in Brebes Coast] Djumanto Djumanto; Eko Setyobudi; Rudiansyah Rudiansyah
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i1.130

Abstract

Boddart's goggle-eyed goby (Boleopthalmus boddarti) is often found in mudflats of estuary and coastal areas, has ability to walk on land and spawn inside the mud pits of hiding hole. The aim of this research was to study the fecundity and reproductive potential of mudskipper. Sampling was conducted in Losari, Tanjung and Bulakamba sub districts of Brebes regency from February to March 2012. Fish were caught using trap nets of 100 units for each station, then was repeated three times every two weeks. All fish samples were collected and preserved in 10% formaldehyde, then transported to the laboratory for measurement of length, weight, gonad weight, and counting the number and diameter of eggs. The results showed that the smallest size of brood stock was 15.0 cm in length and 30 g in weight. The ratio of male and female showed a balance of 1:1. Fish condition factor tended to decrease when the levels of gonadal maturity increase. The gonad maturity index of the spawned brood stock ranged from 0.8 to 7.9%. The fecundity for each female brood stock ranged from 4,874 to 28,028 eggs with a mean of 14,520 eggs. Relative fecundity ranged from 108 to 577 with a mean of 303 eggs/g body weight. Gonad of mature female consisted of one size group, and egg diameter ranged from 0.38 to 0.55 mm with a mean of 0.47 mm. AbstrakIkan gelodok (Boleopthalmus boddarti) merupakan jenis ikan yang banyak dijumpai di daerah muara dan pantai berlumpur, ikan yang mampu berjalan di darat dan memijah di dalam lubang lumpur tempat persembunyian. Tujuan pe-nelitian adalah untuk menentukan fekunditas ikan gelodok dan mengkaji potensi reproduksinya. Penangkapan ikan di-lakukan di Kecamatan Losari, Tanjung dan Bulakamba, Kabupaten Brebes di antara bulan Februari dan Maret 2012. Penangkapan ikan menggunakan jaring perangkap sebanyak 100 unit tiap stasiun, kemudian diulang sebanyak tiga kali dengan jarak antarwaktu sampling dua minggu. Semua ikan yang terperangkap dikumpulkan kemudian diawetkan dalam formalin 10% dan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pengukuran panjang total dan bobot tubuh, bobot gonad, penghitungan jumlah serta diameter telur. Hasil pengamatan menunjukkan ukuran ikan gelodok matang gonad ter-kecil adalah 15,0 cm dan bobot 30 g. Nisbah kelamin jantan dan betina menunjukkan jumlah yang seimbang 1:1. Faktor kondisi ikan cenderung menurun seiring meningkatnya tingkat kematangan gonad. Indek kematangan gonad pada induk siap pijah berkisar 0,8-7,9%. Fekunditas telur dalam gonad berkisar 4.874-28.028 dengan rerata 14.520 butir. Fekunditas relatif berkisar 108-577 dengan rerata 303 butir butir/g berat induk. Pada induk matang gonad terdapat satu kelom-pok ukuran, dan diameter telur berkisar 0,38-0,55 mm dengan rerata 0,47 mm.
Aplikasi pemberian taurin pada rotifer untuk pakan larva ikan kerapu bebek Cromileptes altivelis [The application of rotifers enriched with taurine for larvae of humpback grouper Cromileptes altivelis] Dedi Jusadi; Achmad Noerkhaerin Putra; Muhammad Agus Suprayudi; Deddy Yaniharto; Yutaka Haga
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i1.131

Abstract

This experiment was performed to evaluate the effect of rotifers enriched with taurine on the growth and survival rate of larval humpback grouper Cromileptes altivelis. A duplicate feeding experiment was conducted in 1000 L rectangular fiberglass tanks supplied with seawater. Hatched-larvae were stocked into the tanks at a density of 10 ind. L-1 and cultured for 16 days. Larvae were fed on rotifers either from mass culture (control), or enriched with 0 and 0.5 g taurine in 10 L culture medium, respectively. Results shows that larvae fed on rotifers enriched with 0.5 g taurine significantly had the highest survival rate (58.4%), ratio of RNA/DNA (0.2), and total length (5.86 mm). The survival rate, ratio of RNA/DNA, and total length for fish in control and 0 taurine treatments were 17.6% and 33.6%; 0.1 and 0.15; 5.43 mm and 5.70 mm, respectively. It was also found that larvae consumed more rotifers when enriched with 0.5 taurine. These results suggest that the larval growth of humpback grouper was significantly improved by the feeding of rotifers enriched with taurine. AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh rotifera yang diperkaya dengan taurin terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan kerapu bebek Cromileptes altivelis. Percobaan pemberian pakan secara duplikasi dilakukan pada tangki fiber persegi panjang dengan kapasitas 1000 L air laut. Larva ikan yang baru menetas ditebar ke dalam tangki dengan kepadatan 10 ekor.L-1 dan dipelihara selama 16 hari. Selama masa pemeliharaan, ikan diberi pakan tiga jenis rotifera, yakni rotifera yang diambil dari kultur massal (kontrol), serta rotifera yang diperkaya dengan 0 atau 0,5 g taurin per 10 L media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva ikan yang diberi rotifera yang diperkaya dengan 0,5 g taurin secara signifikan memiliki nilai kelangsungan hidup (58,4%), nisbah RNA/DNA (0,2), serta panjang total (5,86 mm) tertinggi. Nilai kelangsungan hidup, nisbah RNA/DNA, serta panjang total ikan pada perlakuan kontrol dan 0 g taurin masing-masing sebesar 17,6% dan 33,6%; 0,1 dan 0,15; 5,43 mm dan 5,70 mm. Ditemukan pula bahwa larva ikan lebih banyak mengkonsumsi rotifera yang diperkaya dengan 0,5 g taurin dibanding perlakuan lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan larva ikan kerapu bebek secara signifikan meningkat dengan mengkonsumsi rotifer yang diperkaya dengan taurin.
Iktiofauna perairan lahan gambut pada musim penghujan di Kalimantan Tengah [Fish fauna of Central Kalimantan peatland waters in rainy season] Haryono Haryono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i1.132

Abstract

The activities of one million hectares of peatland project in Central Kalimantan have changed the swamp forest to the rice fields and disturb fish community in this area. The purposes of the current study were to determine fish diversity, abundance, distribution, species status, potency, and fish culture aspect. Survey method was conducted at six stations. Throughout the study, 39 fish species belonging to 16 families were collected and Cyprinidae was the dominant family with 13 species. The range number of species among the stations were 8 to 16 species; the highest number of species found in St. 6, whereas the lowest in St. 3. Osteochilus spilurus was the most abundant species with the mean number of 21 individuals per station; while Rasbora cephalotaenia, Pristolepis fasciata, and Belontia hasseltii have the widest distribution in study area (83.33%). According to the fish potency, edible fish were dominant among the fishes (46.15%); while based on species status, two endemic species and one new record species were collected. AbstrakKegiatan proyek lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan Tengah telah mengubah hutan rawa gambut menjadi persawahan sehingga mengganggu komunitas ikan di lokasi tersebut. Penelitian ini bertujuan mengungkap keragaman jenis ikan, kelimpahan, distribusi, status jenis, potensi, dan aspek budidayanya. Penelitian ini menggunakan metode survei di enam stasiun pengambilan contoh. Ditemukan sebanyak 39 jenis ikan dari 16 famili. Cyprinidae merupakan famili yang paling dominan dengan 13 jenis. Jumlah jenis ikan pada setiap stasiun berkisar antara 8-16 jenis; St.1, St.2, dan St.6 memiliki jumlah jenis ikan tertinggi masing-masing sebanyak 16 jenis; sedangkan yang paling rendah ditemukan pada St.3 dengan jumlah 8 jenis. Jenis ikan yang paling melimpah adalah Osteochilus spilurus sebesar 21 ind. st-1, dan jenis yang tersebar luas adalah Rasbora cephalotaenia, Pristolepis fasciata, dan Belontia hasseltii masing-masing sebesar 83,33%. Berdasarkan potensi ikan, ikan yang terkoleksi umumnya adalah ikan konsumsi (46,15%); sementara ditinjau dari status jenis, ada dua jenis ikan endemik dan satu jenis sebagai catatan baru yang terkoleksi.
Makanan ikan bilis (Thryssa hamiltonii, Gray 1835) di perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat [Diet of Hamilton’s anchovy (Thryssa Hamiltonii, Gray 1835) in the Mayangan Coast, Subang, West Java] Indah Mustika Putri
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i1.133

Abstract

The research was conducted during six months in order to examine the diet composition of Hamilton’s anchovy and dietary shift relating with the fish body length. Samplings were done once in a month, using gillnet, minitrawl, and trammel net. Total samples were 795 individuals and the range of total length was between 107-364 mm. The Hamilton’s anchovy was crustacivore and the main food was shrimps. The main food was changed relatAlong with the increasing of the fish size, there was a change of the main foods AbstrakPenelitian yang berlangsung selama enam bulan bertujuan untuk mengkaji komposisi ikan terkait dengan perubahan ukuran panjang tubuh ikan bilis. Pengambilan contoh dilakukan setiap bulan dengan menggunakan jaring rampus, jaring arad, dan jaring berlapis. Sebanyak 573 ekor ikan tertangkap dengan kisaran panjang 74-205. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan utama T. hamiltonii adalah udang, sehingga dapat digolongkan sebagai krustasivora. Ikan ini melakukan perubahan makanan terkait pertambahan ukuran tubuh.
Daya tahan dan kecepatan renang ikan selais (Kryptopterus sp.) [Swimming endurance and speed of catfish (Kryptopterus sp.)] Nofrizal Nofrizal; Muchtar Ahmad; Irwandy Syofyan
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v11i2.134

Abstract

Swimming speed and endurance of catfish, Kryptopterus sp. (FL=14.8±1.4 cm) observed in swimming channel. Swimming speed has negative correlation to endurance time. The endurance time was decreased when the swimming speed increased. Sustained swimming speed was less than 2.9 FLs-1, corresponded to 42.9 cm s-1 and burst swimming speed was up to 8.0 FL s-1, corresponded to 118.4 cm s-1 prolonged swimming speed was 2.9-8.0 FL s-1 (42.9-118.4 cm s-1). Sustained swimming speed is recommended for fish-farming in aquaculture cage. Burst swimming speed was illustrated swimming speed of fish to escape and avoid the gear in capture process. AbstrakKecepatan dan daya tahan renang ikan selais (Kryptopterussp.) (FL=14,8±1,4 cm) diamati dan diuji dalam saluran renang dari sebuah tangki berarus. Kecepatan renang memiliki hubungan korelasi negatif terhadap daya tahan renang ikan selais. Daya tahan renang ikan selais menurun ketika kecepatannya meningkat. Kisaran kecepatan renang sustained kurang dari 2,9 FL det-1, atau sama dengan 42,9 cm det-1. Kecepatan maksimum diatas 8,0 FL det-1, atau sama dengan 118,4 cm det-1, sedangkan kisaran kecepatan renang prolonged berkisar 2,9-8,0 FL det-1, atau sama dengan 42,9-118,4 cm det-1. Kecepatan renang sustained merupakan kecepatan renang yang dianjurkan untuk budi daya keramba air deras. Sementara itu, kecepatan renang maksimum dapat memberikan gambaran kemampuan ikan untuk menghindari dan meloloskan diri dari alat tangkap selama proses penangkapan berlangsung.
Iktiodiversitas di Perairan Teluk Bintuni, Papua Barat [Ichthyodiversity in Bintuni Bay, West Papua] Charles P.H. Simanjuntak; Sulistiono Sulistiono; M. F. Rahardjo; Ahmad Zahid
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v11i2.135

Abstract

Research on ichythyodiversity was conducted in June and December 2007 in order to reveal fish diversity in Bintuni Bay, West Papua. A total of 106 fish species belonging to 46 families and 12 orders were captured by beam trawl, fyke-net, and trap in wet and dry seasons. Perciformes was dominant and all of niche habitat inhabited by fish. The diversity of fishes was related with mangrove ecosystem around the Bintuni Bay. Fish communities divided into seven groups according to bioecological category and the group of marine-estuarine species was dominant. Spatial and temporal distributions of fish were varying related to aquatic environmental heterogeneity. A hypothetical trophic web was built based upon the different types of food resources used by each group of fish. Complexity of food web shows that estuary of Bintuni Bay is the feeding ground for many fish species. AbstrakPenelitian iktiodiversitas di perairan Teluk Bintuni, Papua Barat dilakukan pada Juni dan Desember 2007 dengan tujuan menggungkap kekayaan spesies ikan di perairan tersebut. Total spesimen ikan yang tertangkap pada dua musim yang berbeda dengan alat tangkap jaring tarik, pukat tepi, dan perangkap adalah 106 spesies dari 46 famili dan 12 ordo. Spesies ikan ordo Perciformes mendominasi komunitas ikan. Semua relung habitat yang tersedia diisi oleh beragam jenis ikan. Besarnya keragaman ikan yang ditemukan tidak terlepas dari keberadaan ekosistem mangrove di sekitar teluk. Komunitas ikan dibagi dalam tujuh kelompok berdasarkan kategori biolekologik dan kelompok spesies yang dominan adalah spesies estuari-bahari (marine-estuarine species). Distribusi spasio-temporal ikan beragam terkait heterogenitas lingkungan perairan. Jaring trofik hipotetik yang dikembangkan berdasarkan jenis ikan yang ditemukan beserta kebiasaan makanannya memperlihatkan bahwa komunitas ikan memanfaatkan semua relung makanan yang tersedia. Kompleksitas jaring makanan ikan memperkuat hipotesis bahwa daerah estuari Teluk Bintuni bervegetasi mangrove merupakan lumbung makanan bagi banyak spesies ikan.
Deskripsi ikan pantau janggut, Esomus metallicus Ahl 1924 (Cyprinidae) dari anak Sungai Siak dan kanal-kanal di Provinsi Riau [Description of pantau janggut fish, Esomus metallicus Ahl 1924 (Cyprinidae) from tributaries of Siak River and canals in Riau Province] Chaidir P. Pulungan; Indra Junaidi Zakaria; Sukendi Sukendi; Mansyurdin Mansyurdin
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v11i2.136

Abstract

Striped flying barb (Esomus metallicus) is a freshwater fish that is belonged to family Cyprinidae and genus Esomus. This fish commonly occur in the tributaries of the Siak River branches, namely Tenayan River (Tenayan Raya District, Pekanbaru Regency) and Tapung Mati River (Bencah Kelubi Village, Tapung District, Kampar Regency), and also inhabit canals along the H.R. Subrantas street in Pekanbaru. E. metallicus is small sized fish (maximum 7.3 cm TL) and characterized by oblong and compressed body; mouth opening small, oblique and directed upward; having two pair barbels, rostral barbell reach the area behind the eye, while the maxillary barbel reach anal fin. In the lateral side of the body, there is a black band that is elongated from the upper operculum to the base of caudal fin. Dorsal and anal fins are short, they are located in the opposite side of the body, but first ray of the dorsal fin is slightly frontal than the first ray of the anal fin. Linea lateralis is incomplete. AbstrakPantau janggut (Esomus metallicus) adalah ikan air tawar yang tergolong ke dalam famili Cyprinidae dan genus Esomus. Ikan ini dijumpai di anaksungai-anaksungai Siak, yaitu: Sungai Tenayan (berada di wilayah Kecamatan, Tenayan Raya, Kota Pekanbaru) dan Sungai Tapung Mati (berada di wilayah Desa Bencah Kelubi, Kecamatan Tapung, Kabupa-ten Kampar) serta di parit-parit Kota Pekanbaru sekitar Jalan H.R. Soebrantas. Ikan pantau merupakan ikan berukuran kecil (panjang tubuh maksimum 7,3 cm), tubuhnya pipih memanjang, bukaan mulut kecil dengan posisi mulut menga-rah ke atas, memiliki dua pasang sungut (sungut rostral mencapai belakang bola mata dan sungut rahang atas mencapai permulaan dasar sirip anal), pada sisi lateral tubuh terdapat pola warna hitam berbentuk seperti pita memanjang mulai dari bagian atas tutup insang hingga ke pangkal sirip ekor. Sirip dorsal dan analnya berukuran pendek dengan posisi ke-dua sirip pada tubuh saling bertolak belakang, akan tetapi permulaan sirip dorsal sedikit di depan awal dasar sirip anal. Ikan ini memiliki gurat sisi tetapi tidak lengkap.
Pemijahan ikan sepat siam, Trichogasterpectoralis Regan 1910 di Danau Taliwang, Sumbawa [Spawning aspects of snake-skin gouramy, Trichogaster pectoralis, Regan 1910 in Lake Taliwang, West Nusa Tenggara] Prawira A.R.P. Tampubolon; M. F. Rahardjo
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v11i2.137

Abstract

The aim of this research was to describe several aspects related to snake-skin gouramy (Trichogaster pectoralis, Regan 1910) reproduction. The research was conducted in May-July 2010 using gillnet with various mesh size. Total fish caught during the research were 110 fishes comprising 59 males and 51 females. The range of total length and total weight of fish sample was 125-196 mm and 26.79-141.76 g. Sex ratio of mature fish was balanced. The first size gonad maturation for male and female was 134 mm and 136 mm. Most of the mature fish commonly found in July. Total fecundity ranged from 1,140-7,986 eggs. The weight of fish was more precise to predict the fecundity than the body length. Snake-skin gouramy was partial spawner. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa aspek yang bertalian dengan pemijahan ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis, Regan 1910). Penelitian dilakukan pada Mei-Juli 2010 menggunakan alat tangkap jaring insang. Total ikan contoh yang tertangkap selama penelitian berjumlah 110 ekor ikan yang terdiri atas 59 ekor ikan jantan dan 51 ekor ikan betina. Kisaran panjang total dan bobot total ikan yang tertangkap adalah 125-196 mm dan 26,79-141,76 g. Nisbah kelamin ikan yang matang gonad adalah seimbang. Ukuran ikan jantan dan betina pertama kali matang gonad adalah 134 mm dan 136 mm. Ikan yang matang gonad paling banyak ditemukan pada bulan Juli. Fekunditas total berkisar 1.140-7.986 butir. Bobot ikan merupakan penduga fekunditas yang lebih tepat daripada panjang tubuh. Sepat siam merupakan ikan pemijah serempak.
Diversitas dan kehilangan jenis ikan di danau-danau aliran Sungai Cisadane [Diversity and the fish species lost at the lakes of Cisadane river basin] Renny Kurnia Hadiaty
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v11i2.138

Abstract

The study of diversity and the fish species lost was conducted at the lakes of the Cisadane river drainage in 2010. The aim of this study was to describe the recent fish diversity in the lakes of Cisadane river basin, then make the comparison with the number of species recorded based on the references data. The differences between the two data show the number of species lost. The result of the study showed a total of 32 species of 19 families and 5 order, those species were collected from 34 sites. Twenty four of the 32 species or 75% are native species; while the other 8 species or about 25% are introduce species. Total of the number of collected specimens about 1812 exs. There were 86 species live in the lakes of Cisadane river basin, since there is only 24 left, so the fish diversity lost in the lakes is about 72.1%. AbstrakPenelitian diversitas dan kehilangan spesies ikan di danau-danau dari daerah aliran Sungai Cisadane dilakukan pada tahun 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran keragaman jenis ikan di danau-danau pada daerah aliran Sungai Cisadane saat ini. Hasil ini kemudian dibandingkan dengan jumlah spesies ikan yang pernah hidup di wilayah perairan ini berdasarkan data pustaka. Selisih jumlah antara kedua data tersebut menunjukkan kehilangan spesies. Hasil penelitian di 34 stasiun mendapatkan 32 spesies ikan dari 19 famili dan lima ordo. Dua puluh empat jenis atau 75% diantaranya merupakan spesies asli, sedangkan delapan jenis atau 25% merupakan ikan introduksi. Studi pustaka menunjukkan ada 86 spesies ikan yang dulu hidup di danau-danau daerah aliran Sungai Cisadane, namun saat ini hanya dijumpai 24 spesies, dengan demikian laju kehilangan spesiesnya sekitar 72,1%.
Variasi makanan ikan seriding, Ambassis nalua (Hammilton, 1822) di ekosistem estuari Segara Menyan, Jawa Barat [Diet variation of scalloped perchlet (Ambassis nalua) in Segara Menyan Lagoon, West Java] Ahmad Zahid; M. F. Rahardjo; Subhat Nurhakim; Sulistiono Sulistiono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v11i2.139

Abstract

This study describes feeding habit and strategy of scalloped perchlet (Ambassis nalua) according to ontogenetic shift and seasonal period. The fish samples were collected monthly from December 2010 to November 2011 in Segara Me-nyan Lagoon, West Java. Trammel net and gill net was used to catch the fish sample. We analyzed stomach contents of 380 individuals. Food items of the scalloped perchlet were composed of four categories, namely microcrustaceans, polychaetes, amphipods, and gastropods. According to ontogenetic shift and seasonal period, microcrustaceans used as main food by scalloped perchlet. Conversely, niche breadth of food influenced by ontogenetic shift and seasonal period, whereas percentage of stomach fullness significantly affected by seasonal period. Feeding strategy of the scalloped perchlet was mixed strategies (specialization-generalization). Information about of the diet of the scalloped perchlet shows dependence on estuarine ecosystems that provide of food resources. AbstrakPenelitian ini menggambarkan kebiasaan dan strategi pola makanan ikan seriding berdasarkan perubahan ontogenetik dan musim.Contoh ikan dikoleksi setiap bulan dari Desember 2010 hingga November 2011 di Segara Menyan, Jawa Barat. Penangkapan ikan menggunakan jaring berlapis dan jaring insang. Pengamatan isi saluran pencernaan dilakukan terhadap 380 ekor ikan seriding. Menu makanan terdiri atas empat kategori, yaitu mikrokrustase, polikaeta, amfipoda, dan gastropoda. Berdasarkan perubahan ontogenetik dan musim, ikan seriding menunjukkan menu makanan utama yang sama yaitu mikrokrustase. Kondisi yang berbeda terlihat pada luas relung makanan yang dipengaruhi oleh perubahan ontogenetik dan musim, sementara persentase kepenuhan lambung yang secara nyata dipengaruhi oleh perubahan musim. Strategi pola makanan ikan seriding adalah strategi gabungan (spesialis-generalis). Informasi mengenai menu makanan ikan seriding menunjukkan ketergantungannya terhadap ekosistem estuari yang menjamin ketersediaan makanan.

Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue