cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 420 Documents
Freshwater fish of Enggano Island, Indonesia Renny Kurnia Hadiaty; Sopian Sauri
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 17 No 3 (2017): October 2017
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v17i3.365

Abstract

Enggano is an outer island of the archipelago country, Indonesia. A field survey of freshwater fish fauna conducted in Enggano island to get the information of the ichthyofauna of this island. The fish collected in 11 freshwaters. We got 457 fish specimens of 28 species in 11 families and three orders. One species, Stiphodon sp. suspected to be new to science and five species require further study to clarify their taxonomical status. All of the fish collected specimens deposited in 77 catalog numbers of Museum Zoologicum Bogoriense (MZB). The ichthyofauna of this island could be use as the basic data for the resource management of the Enggano island. Abstrak Pulau Enggano merupakan satu pulau terluar dari negara kepulauan, Indonesia. Survei ikan air tawar dilakukan di Pulau Enggano dengan tujuan untuk mendapatkan informasi iktiofauna yang ada di pulau ini. Koleksi sampel ikan dilakukan di 11 perairan tawar. Kami memperoleh 457 spesimen dari 28 spesies yang termasuk dalam 11 famili dan 3 ordo. Satu jenis diantaranya, Stiphodon sp. diduga merupakan jenis baru dan lima jenis lainnya perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui status taksonominya. Semua spesimen hasil koleksi dideposit di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dalam 77 nomor MZB. Diharapkan data iktiofauna pulau ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya P. Enggano.
Improvement of reproductive performance comet fish (Carassius auratus auratus Linnaeus 1758) through the provision of meal cow’s brain as a natural GnRH Ujang Subhan; Yuli Andriani; Kiki Haetami; Rosidah Rosidah; Abi Muhamad Abdillah
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 17 No 3 (2017): October 2017
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v17i3.366

Abstract

This study aimed to determine the effect of brain flour cow’s on feed in the performance of eggs and fecundity in fish comet. The research was conducted at the Faculty of Fisheries and Marine Sciences, University of Padjadjaran at November 2014 until January 2015. Freeze-drying of bovine brains was conducted at the Inter Research Center Uni-versity(PAU), Bandung Institute of Technology. The research was using Completely Randomized Design con-sisting of four treatments and three replications. The treatment were 20 mg kg-1, 35 mg kg-1, 50 mg kg-1 and control. Parameters observed were the distribution of the eggs, egg diameter and fecundity using gravimetric methods. Data were analyzed using analysis of variance. If there are differences among the treatments then continued with Duncan's multiple range test at 5% level. Addition of bovine brain meal in feed with dose of 50 mg kg-1 was give a dominant influence on the size distribution of eggs by 60% from 1.01 to 1.5 mm, egg diameter 0.90 mm, and fecundity of 67 grains g-1. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis tepung otak sapi pada pakan yang berpengaruh terhadap performa telur dan fekunditas ikan komet. Penelitian dilaksanakan di panti benih Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univer-sitas Padjadjaran pada bulan November 2014 sampai dengan Januari 2015. Pengeringan beku otak sapi dilakukan di Pusat Penelitian AntarUniversitas Institut Teknologi Bandung. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental de-ngan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu 20 mg kg-1 induk, 35 mg kg-1 induk, 50 mg kg-1 induk dan perlakuan kontrol. Parameter yang diamati yaitu sebaran telur, diameter telur, dan fekunditas relatif menggunakan metode gravimetrik. Data dianalisis menggunakan analisis keragaman dengan uji F untuk mengetahui pengaruh dari setiap perlakuan. Apabila terdapat perbedaan antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf 5%. Penambahan tepung otak sapi pada pakan sebanyak 50 mg kg-1 induk memberikan pengaruh dominan sebaran telur pada ukuran 1,01-1,5 mm sebesar 60%, diameter telur 0,90 mm, dan fe-kunditas relatif sebesar 67 butir g-1.
Feeding effectivity of the arfak rainbowfish, Melanotaenia arfakensis, Allen 1990 on difference of water turbidity level: a laboratory approach Emmanuel Manangkalangi; M. F. Rahardjo; Renny K. Hadiaty; Sigid Hariyadi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 17 No 3 (2017): October 2017
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v17i3.367

Abstract

The research on feeding effectivity of arfak rainbowfish conducted at Fisheries Laboratory, Faculty of Fishes and Marine Scince, University of Papua in July to December 2016. The purpose of this research is to describe feeding effectivity of the fish at several levels of water turbidity. The fish samples used in the treatment, collected from Nimbai Stream, Prafi River system, Manokwari were acclimatized for a month in the laboratory. The fish were selected based on the body length and categorized into six size classes. Each individual of the fish was treated with 200 individuals of mosquito larvae (instar IV stage) at seven turbidity levels (2.54, 25.07, 50.52, 100.20, 500.60, and 800.40 Nephelome-tric Turbidity Unit, NTU) using particles with size of <63um. Feeding effectivity was indicated by the level of preda-tion in a period of 15 minutes. The results of the research showed that average level of predation did not differ among size classes at the low level of turbidity (<50,52 NTU). The significant decrease in the average level of predation occurred at the higher level of turbidity (<100,12 NTU) with the values range from 23.2% to 65.9%. This indicated a decrease in the feeding effectivity as the turbidity levels increase. Abstrak Penelitian efektivitas ikan pelangi arfak dalam mencari makan dilaksanakan di Laboratorium Perikanan FPIK Univer-sitas Papua pada bulan Juli sampai Desember 2016. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan efektivitas ikan pela-ngi arfak mencari makan pada beberapa tingkat kekeruhan air. Contoh ikan yang digunakan dalam perlakuan dikoleksi dari Sungai Nimbai, sistem Sungai Prafi, Manokwari yang diaklimatisasi selama satu bulan di laboratorium. Individu ikan yang digunakan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan panjang tubuh dan dikelompokkan ke dalam enam kelas ukuran. Setiap individu ikan diberi perlakuan pakan berupa larva nyamuk (tahap instar IV) sebanyak 200 individu pada tujuh tingkat kekeruhan yang berbeda (2,54; 25,07; 50,52; 100,20; 200,20; 500,60 dan 800,40 Nephelometric Turbidity Unit, NTU) dengan menggunakan partikel berukuran <63um. Efektivitas mencari makan akan ditunjukkan berdasarkan tingkat pemangsaan dalam periode 15 menit. Tingkat pemangsaan rata-rata tidak berbeda pada tingkat kekeruhan yang rendah (<50,52 NTU) dalam setiap kelas ukuran. Penurunan tingkat pemangsaan rata-rata secara nyata mulai berlang-sung pada tingkat kekeruhan yang lebih tinggi (<100,12 NTU) dengan nilai sebesar 23,2%-65,9%. Kondisi ini menun-jukkan penurunan efektivitas mencari makan seiring dengan semakin meningkatnya tingkat kekeruhan air.
Length-weight relationship and condition factor of common ponyfish, Leiognathus equulus (Forsskål, 1775) in Pabean Bay, Indramayu, West Java Reiza Maulana Aditriawan; Nico Runtuboy
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 17 No 3 (2017): October 2017
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v17i3.368

Abstract

This study is aimed to determine length-weight relationship and condition factor of common ponyfish in Pabean Bay, Indramayu. The study was carried out for one year, from April 2016 to March 2017. Fish collection were caught using gillnet and set net. total of 154 individual fishes were caught, the fish samples ranged from 18 - 141 mm in length and 0.05 – 41.35 g in weight. The length-weight relationship of ponyfish throughout a year was W = 7x10-06 L3,1983. The result indicated that the growth pattern of fish was positive allometric. The relative condition factor of ponyfish was varied from 0,67 – 1,42 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan panjang bobot dan faktor kondisi ikan petek yang ada di Teluk Pabean, Indramayu. Penelitian dilaksanakan selama satu tahun dari bulan April 2016 hingga bulan Maret 2017. Ikan contoh ditangkap dengan menggunakan alat tangkap yaitu jaring insang dan sero. Jumlah ikan yang tertangkap seba-nyak 154 ekor dengan kisaran panjang total 18 - 141 mm dan bobot 0,05 – 41,35 g. Hubungan panjang-bobot ikan petek sepanjang tahun 2016 adalah W = 7x10-06 L3,1983. Hasil ini menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan bersifat alome-trik positif. Faktor kondisi ikan petek berfluktuasi berkisar antara 0,67 – 1,42.
Phylogenetic of tuna fish (Thunnus spp.) in North Mollucas Sea, Indonesia Nebuchadnezzar Akbar; Muhammad Aris; Muhammad Irfan; Abdurrachman Baksir; Surahman Surahman; Hawis H. Madduppa; Raismin Kotta
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 1 (2018): February 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i1.370

Abstract

The tuna fish (Thunnus spp.) is highly migratory and commercial tuna fishery. The fish tuna abudance supported ocea-nography and geography condition in North Mallucas Sea. The fishery targets catch increase on fish tuna provided a view of the need for assessment of phylogenetic tuna. The study was conducted to infer the phylogenetic in North Mollucas Sea. The research method was PCR-Sequensing. Moleculer analysis included extraction, Polymerase Chain Reaction (PCR), electrophoresis and DNA sequencing in control region mtDNA locus. Phylogenetic reconstructed with Neigbor joining with Kimura 2-parameter model using MEGA5. The result showed that four clade (bigeye, yellowfin, alalunga and skipjack). Genetic distance between bigeye with yellowfin was (0.084), bigeye with alalunga (0.163), ye-llowfin with alalunga (0.174), bigeye with skipjack (0.294), skipjack with alalunga (0.312) and yellowfin with skipjack (0.297). The overall result showed significant genetic different. That information explain about one populations species tuna. The tuna phylogeography unlimitedin geographic distributions. Abstrak Ikan tuna (Thunnus spp.) adalah ikan pelagis yang memiliki kemampuan ruaya dan nilai komersial. Kondisi oseanogra-fis dan letak geografis mendukung kelimpahan stok sumber daya ikan tuna di Perairan Maluku Utara. Aktifitas penang-kapan yang meningkat memberikan pandangan perlu adanya pengkajian filogenetik ikan tuna. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi filogenetik ikan tuna di perairan Maluku Utara. Metode yang digunakan adalah metode PCR-Sekuensing pada lokus mtDNA control region. Analisis molekuler meliputi ekstraksi, Polymerase Chain Reaction (PCR), elektroforesis dan sekuensing DNA. Rekonstruksi pohon filogenetik dengan metode Neighbor joining dengan model evolusi Kimura 2-parameter dilakukan menggunakan aplikasi MEGA5. Hasil penelitian menemukan empat clade spesies ikan tuna yang berbeda (tuna mata besar, sirip kuning, alalunga, dan cakalang). Jarak genetik tuna mata besar (Thunnus obesus) dengan sirip kuning (Thunnus albacares) adalah 0,084; tuna mata besar dengan tuna alalunga (Thunnus albacore) adalah 0,163; tuna sirip kuning dengan tuna alalunga sebesar 0,174; tuna mata besar dengan caka-lang (Katsuwonus pelamis) adalah 0,294; cakalang dengan tuna alalunga adalah 0,312; dan tuna sirip kuning dengan cakalang adalah 0,297. Semua hasil menunjukkan perbedaan genetik signifikan. Namun dapat dijelaskan bahwa spesies tuna berasal dari satu keturunan. Filogeografi tuna tidak memiliki batas distribusi yang nyata spesies.
Growth pattern and condition factor of yellowfin tuna Thunnus albacares (Bonnaterre, 1788) in Eastern Indian Ocean Suciadi Catur Nugroho; Irwan Jatmiko; Arief Wujdi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 1 (2018): February 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i1.371

Abstract

Yellowfin tuna, Thunnus albacares (Bonnaterre, 1788) is one of the important economically for tuna species that spread in Indonesian waters, including in WPP 572 (Indian Ocean west coast of Sumatra). One important aspect relating to sustainable utilization is the growth pattern and the condition factor. This study aims to examine growth patterns and factor conditions of yellowfin tuna in the Eastern Indian Ocean. The number of fish samples measured in length and weight is 7,550 with length range from 76-176 cm (average: 129.03 cm) and mode at 150 cm. The length weight relationship of the species is W=4x10-5L2.842 (R2 0,957). In general the growth pattern of yellowfin tuna is negative allometric which means that the length increase is faster than the weight. The average relative condition factor of yellowfin tuna is 0.975 with a tendency to decrease along with the increasing of its length. The highest relative condition factor occurred at the length class of 80 cm with 1,061 and the lowest occurred at length 170 cm with 0.918. The monthly relative condition factor generally increased twice in one year from February to June and from July to December. Abstrak Tuna madidihang, Thunnus albacares (Bonnaterre,1788), merupakan salah satu spesies tuna ekonomis penting dan ter-sebar di perairan Indonesia, termasuk di WPP 572 (Samudra Hindia bagian barat Sumatera). Salah satu aspek penting yang berkaitan dengan upaya pemanfaatan berkelanjutan adalah pola pertumbuhan dan faktor kondisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan madidihang di Samudra Hindia Bagian Timur. Jumlah ikan contoh yang diukur panjang dan bobotnya adalah 7.550 ekor yang mempunyai sebaran panjang 76-176 cm (rata-rata 129,03 cm) dan modus 150 cm. Hubungan panjang bobot ikan tersebut adalah W = 4x10-5L2,842 (R2 0,957). Secara umum pola pertumbuhan madidihang bersifat allometrik negatif yang berarti bahwa pertambahan panjang lebih cepat daripada bobotnya. Faktor kondisi relatif rata-rata madidihang adalah 0,975 dengan kecenderungan menurun seiring bertambahnya ukuran panjang. Faktor kondisi relatif tertinggi terjadi pada kelas panjang 80 cm sebesar 1,061 dan terendah terjadi pada kelas panjang 170 cm sebesar 0,918. Faktor kondisi relatif bulanan secara umum mengalami dua kali peningkatan dalam satu tahun yaitu dari bulan Februari hingga Juni dan dari Bulan Juli hingga Desember.
Food and feeding strategy of sunrise goatfish Upeneus sulphureus, Cuvier (1829] in Kendari Bay, Southeast Sulawesi Asriyana Asriyana; Nur Irawati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 1 (2018): February 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i1.372

Abstract

Knowledge of food and feeding strategies are essential to understand the ecological role and productive capacity of fish populations. This information is critical for development of conservation and management plans of fishery resources. This study aimed to analyze the food and feeding strategy of sunrise goatfish in Kendari bay. Sampling was done monthly from May to November 2016, with bottom experimental gillnets with mesh size ¾, 1, 1 ¼, and 1 ½ inches. The food habits was analyzed using index of preponderance; while feeding strategy was determined by Amundsen modified Costello method. There were 386 fish with total length and weight ranged from 46.0-176.0 mm and 3.0-67.1 g, res-pectively. The fish were categorized into 3 groups based on the length sizes. The length sizes were classified into small size (45.0-69.7 mm), medium size (69.8-94.3 mm) and large size (94.4-119.0 mm). Twenty eight species of organisms were found in the digestive system of the sunrise goatfish dominated by the phytoplankton genus Thallasiothrix. The sunrise goatfish has significant dietary changes with increasing total length and time. The sunrise goatfish developed mix feeding strategies; specialist and generalist. Generalist strategy developed for all prey, except Thallasiothrix obtained by spesialist strategy. Abstrak Pengetahuan tentang makanan dan strategi pola makan adalah penting untuk memahami peran ekologi dan kapasitas produktif populasi ikan. Informasi tersebut sangat penting untuk pengembangan rencana konservasi dan pengelolaan sumber daya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makanan dan strategi pola makan ikan kuniran di per-airan Teluk Kendari. Pengambilan contoh dilakukan sekali sebulan dari bulan bulan Mei sampai November 2016, de-ngan jaring insang eksperimental berukuran mata jaring ¾, 1, 1 ¼, dan 1 ½ inci. Kebiasaan makanan dianalisis meng-gunakan metode indeks bagian terbesar, sedangkan strategi pola makan ditentukan melalui metode Costello yang dim-odifikasi oleh Amundsen. Jumlah ikan yang terkumpul sebanyak 386 ekor dengan kisaran panjang total 46,0–176,0 mm dan kisaran bobot 3,0–67,1 g. Ikan dikelompokkan kedalam tiga kelompok ukuran yaitu ukuran kecil (46,0–90,0 mm), sedang (91,0–134,0 mm), dan ukuran besar (135,0–176,0 mm). Ditemukan 28 jenis organisme makanan dalam saluran pencernaan ikan kuniran. Menu makanan didominasi oleh kelompok fitoplankton genus Thallasiothrix. Ikan kuniran mengalami perubahan makanan yang signifikan sejalan dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh dan waktu. Dalam memanfaatkan makanan di perairan, kuniran umumnya mengembangkan strategi pola makan campuran antara generalis dan spesialis. Strategi pola makan generalis dikembangkan untuk memperoleh semua jenis mangsa, kecuali mangsa Thallasiothrix diperoleh dengan strategi pola makan spesialis.
Diet composition and niche breadth of mullet Chelon subviridis (Valenciennes, 1836) and Moolgarda engeli (Bleeker, 1858) in Pabean Bay, Indramayu Subdistrict, West Java Province Gusti Abi Abi Dzar Al Ghiffary; M. F. Rahardjo; Ahmad Zahid; Charles P. H. Simanjuntak; Aries Asriansyah; Reiza Maulana Aditriawan
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 1 (2018): February 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i1.373

Abstract

The aims of this research was to identify the diet and composition item as well as niche breadth and niche overlap of mullet in Pabean Bay. Fish sampling was carried out from July to December 2016 using trap nets and gill nets. Data analysis including preponderance index, niche breadth, and niche overlap. Chelon subviridis and Moolgarda engeli are two species of mullet that much found in Pabean Bay. The size of body length C. subviridis observed on ranged of 73,34-185,72 mm with a weight of 8,23-115,50 g and M. engeli ranged of 67,51-160,00 mm with a weight of 6,91-96,70 g. Food menu of mullet consists of three groups, namely perifiton, larvae of marine organism, and detritus. Perifiton from Bacillariophyceae was a main diet, particularly Pleurosigma (35,81) in C. subviridis and Nitzschia (27,89) in M. engeli. Changed in composition of each item of diet occurred on any length size group during the observation. C. subviridis and M. engeli have a wide niche breadth with the value were 5,995 and 5,780. Niche breadth of each length group was different. Information on niche breadth indicated the adaptation of mullet to against the availability of diet in the water. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan komposisi serta luas dan tumpang tindih relung makanan ikan belanak di Teluk Pabean. Pengambilan contoh ikan dilakukan pada Juli hingga Desember 2016 dengan menggu-nakan alat tangkap sero dan jaring insang. Analisis data meliputi indeks bagian terbesar serta luas dan tumpang tindih relung makanan. Dua jenis ikan belanak, Chelon subviridis dan Moolgarda engeli, merupakan spesies yang banyak ditemukan di Teluk Pabean. Ukuran panjang tubuh C. subviridis yang diamati berkisar 73,34-185,72 mm dengan bobot 8,23-115,50 g dan panjang tubuh M. engeli berkisar 67,51-160,00 mm dengan bobot 6,91-96,70 g. Menu ma-kanan ikan belanak terdiri atas tiga kelompok besar, yaitu perifiton, larva organisme, dan detritus. Perifiton dari kelas Bacillariophyceae menjadi kelompok makanan yang banyak dimanfaatkan, khususnya Pleurosigma (35,81) oleh C. subviridis dan Nitzschia (27,89) oleh M. engeli. Perubahan komposisi jenis makanan terjadi pada setiap kelompok ukuran ikan. C. subviridis dan M. engeli memiliki relung makanan yang luas dengan nilai luas relung berturut-turut 5,995 dan 5,780. Luas relung makanan pada setiap kelompok ukuran ikan berbeda. Informasi mengenai luas relung makanan dapat menunjukkan adaptasi ikan belanak terhadap ketersediaan makanan di perairan.
Hormone profile of FSH, LH and estradiol with glucose blood level of Indonesian short-finned eel (Anguilla bicolor bicolor Mc Clelland, 1844) stimulated by HCG, MT, E2 and dopamine inhibitory Abdul Zahri; Agus Oman Sudrajat; Muhammad Zairin Junior
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 1 (2018): February 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i1.374

Abstract

This study aims to analyze the hormone profile of FSH, LH and E2 to the eel after exogenous hormone stimulation and blood glucose levels. Six formulated treatment applied with combination of dopamine antagonize 10 mg.mL–1 (A), estradiol (E2) 3 mg.mL–1 + A (EA), metyltestosteron (MT) 3 mg.mL–1 + A (MTA), hCG 2 mg.mL–1 + EA (hEA) and hCG 2 mg.mL–1 + MTA (hMTA), with (F) physiologis 0.9% NaCl to control. Six group eel (200±15g) reared in a concrete tank with a capacity of 3,400 liters and filled with sea water of 35 mg L–1 as much as 2000 liters. Eels injected 1 mL.kg–1 hormone by intramusculary, were feed to apparent satiation daily for 10 weeks. The study used Completely Randomized Design with one treatment factor, namely hormonal factor and its combination. Fish blood that ware directly concentration to FSH, LH and E2, the enhanced significantly high in the blood plasma on treatment hMTA and hEA P<0.05. Glucose concentration in the blood palsma is high enough in a row on a formula hMTA 67.33 mg.dL–1 and significantly different to P<0.05. The result indicates that induction of exogenous hormone (hMTA) improve FSH, LH and E2. FSH and LH profiles show permutation patterns during the development of eel gonad, beginning with the increase of FSH in the early phases of gonadal development. LH profile moves in line with the increase in E2 during gonadal maturation process eels (A. bicolor bicolor), with blood glucose levels in the normal range. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis profil hormon FSH, LH dan E2 ikan sidat yang dirangsang dengan hormon ekso-genous serta kadar glukosa darah. Enam perlakuan diterapkan dengan kombinasi anti dopamin 10 mg.mL–1 (A), estra-diol (E2) 3 mg.mL–1 + A (EA), metyltestosteron (MT) 3 mg.mL–1 + A (MTA), hormon hCG 2 mg.mL–1 + EA (hEA) dan hCG 2 mg.mL–1 + MTA (hMTA), dengan kontrol (F) fisiologis 0,9% NaCl. Enam kelompok sidat uji (200±15 g) dipelihara pada bak beton berkapasitas 3.400 liter dan di isi dengan air laut bersalinitas 35 mg L–1 sebanyak 2000 liter. Sidat diinjeksi dengan dosis hormon 1 mL.kg–1 secara intramuskular, hewan uji diberi pakan secara at satiation sekali sehari selama 10 minggu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor perlakuan, yaitu faktor hormon dan kombinasinya. Darah sidat terbukti mengandung FSH, LH, E2, peningkatannya terlihat nyata terjadi mela-lui plasma darah pada perlakuan hMTA dan hEA pada tingkat P<0,05. Konsentrasi glukosa tertinggi pada formula hMTA 67,33 mg.dL–1 dan berbeda nyata pada taraf P<0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan hormon ekso-genous perlakuan hMTA meningkatkan konsentrasi FSH, LH, dan E2. Profil FSH dan LH menunjukkan pola permutasi selama proses perkembangan gonad sidat, di mulai dengan meningkatnya FSH di fase awal perkembangan gonad. Profil LH bergerak seiring dengan peningkatan E2 selama proses pematangan gonad sidat (A. bicolor bicolor), dengan kadar glukosa darah pada kisaran normal.
Polychromatic, sexual dimorphism and redescription species of red devil Amphilophus Amarillo [Stauffer & McKaye, 2002] in Sermo Reservoir, Yogyakarta Sitty Ainsyah Habibie; Djumanto Djumanto; Murwantoko Murwantoko
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 1 (2018): February 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i1.375

Abstract

Red devil has been extensively researched due to extremely high morphometric and chromatophore variations, including the phenomena of polychromatic and trophic polymorphism. The purpose of this study was to identify and observe the phenomenon of sex dimorphism that occurs in polychromatic red devil species which caught in Sermo Reservoir. Fish sample as much as 240 individual was collected from fishermen catch during November 2016-September 2017 by using gill nets, cest nets, and fishing rods. Subsequently, the fish sample was grouped based on color and sex, the namely group of red devil red, red devil black, and red devil reddish black. The morphometric character data of 21 units were measured in each fish sample, whereas the DNA samples were taken from the gill tissue on each species of two individuals. The morphometric character data was analyzed for discriminant distance, while DNA was analyzed by BLAST (Basic Local Allignment Search Tools) from NCBI. The result of the principal component analysis and discriminant function showed the three group of fish can be distinguished by the characters around the head. The T-test of male and female morphometric characters in each fish group showed the phenomenon of sex dimorphism. Canonical and dendrogram diagrams consistently classify the three group of fish as the same species but are segregated by sex so that significantly dimorphism occurs. The mitochondrial sequencing results of the DNA control region show that among the red devil fish group found in the Sermo Reservoir is a species of A. amarillo. Abstrak Red devil telah banyak diteliti karena variasi morfometrik dan kromatofora yang sangat tinggi, termasuk di dalamnya fenomena polikromatisme dan trofik polimorfisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati polikromatik dan dimor-fisme seksual serta mengidentifikasi spesies red devil di perairan Waduk Sermo Yogyakarta. Contoh ikan sebanyak 240 ekor diambil dari hasil tangkapan nelayan selama bulan November 2016-September 2017 dengan menggunakan jaring insang, jala dan pancing. Selanjutnya contoh ikan dikelompokkan berdasarkan warna dan jenis kelamin, yaitu kelompok red devil merah, red devil hitam, dan red devil merah kehitaman. Data karakter morfometrik sebanyak 21 unit diukur pada setiap contoh ikan, sedangkan contoh DNA diambil dari jaringan insang pada masing-masing kelompok ikan seba-nyak dua ekor. Data karakter morfometrik dianalisis pembedanya, sedangkan DNA dianalisis dengan BLAST (Basic Local Allignment Search Tools) dari NCBI. Hasil analisis komponen utama dan fungsi diskriminan menunjukkan ketiga kelompok ikan dapat dibedakan berdasarkan karakter yang berada di sekitar kepala. Uji t terhadap karakter morfome-trik jantan dan betina pada masing-masing kelompok ikan menunjukkan fenomena dimorfisme seksual. Diagram kanonikal dan dendrogram konsisten mengelompokkan ketiga kelompok ikan tersebut sebagai spesies yang sama, namun terpisah berdasarkan jenis kelamin sehingga sangat nyata terjadi dimorfisme. Hasil sekuensing mitokondria DNA control region menunjukkan seluruh kelompok ikan red devil yang ditemukan di Waduk Sermo merupakan spesies Amphilophus amarillo.

Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue