cover
Contact Name
aqlania
Contact Email
aqlania@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqlania@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Aqlania
ISSN : 20878613     EISSN : -     DOI : -
The Aqlania Journal is a scientific journal that focuses on the publication of research results in religious philosophy, humanitarian and environmental studies. This journal is published periodically twice a year in June and December. The Aqlania journal is open to researchers, practitioners and observers of religious, human and environmental philosophy studies. This journal is managed by the Department of Aqeedah and Islamic Philosophy Philosophy Faculty of Ushuluddin and Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Articles 80 Documents
Keistimewaan Etika Islam dari Etika yang Berkembang di Barat Yunita Kurniati
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2543

Abstract

Tulisan ini bermaksud untuk mengkaji bagaimana karakter dari etika Islam yang membedakannya dengan etika yang berkembang di Barat guna mengetahui keistimewaan dari etika Islam itu sendiri. Dari tulisan ini ditemukan bahwa terdapat banyak perbedaan yang mendasar antara etika Islam dengan etika yeng berkembang di Barat, mulai dari urusan yang kecil sampai urusan yang besar, baik itu urusan dengan sesama, Tuhan dan alam semesta. Etika yang berkembang di Barat, dalam urusan mengenai tindakan yang dilakukan manusia awalnya didasarkan dengan wahyu, kemudian seiring dengan berkembangnya zaman hal tersebut mengalami perubahan, sehingga etika yang tadinya didasarkan pada wahyu dalam ukuran kebenaran kini hanya didasarkan pada akal saja. Yang menjadi latar belakang perubahan tersebut adalah kekhawatiran orang-orang Barat akan otoriter gereja yang terlalu mengekang masyarakat, dan karena orang Barat ingin merdeka dari kekangan tersebut, maka etika yang tadinya didasarkan pada wahyu kini hanya didasarkan pada akal saja. Dampaknya segala apa yang dilakukan manusia dalam kesehariannya selalu atas kepentingan manusia itu sendiri, tanpa ada pertimbangan yang lain. Sementara etika Islam dalam urusan tentang tindakan manusia selalu dikaitkan dengan agama dengan berlandaskan pada alquran dan hadis, mempertimbangkan kebenaran dari argumentasi yang lain dengan syarat tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam. Dan dalam prakteknya, menganjurkan manusia untuk berbuat baik tidak hanya dalam hubungannya dengan Allah SWT., saja tapi juga dengan sesama dan alam semesta, termasuk di dalamnya hewan dan tumbuhan.
Posisi Agama dalam Perbincangan Gender Heru Syahputra
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2620

Abstract

Gender merupakan konsep kultural yang berusaha membuat pembedaan dalam hal peran dan tanggung jawab serta pelaku yang akan membentuk karakteristik emosional antara perempuan dan juga laki-laki. Pandangan inidiwarisi dari pandangan masa lalu dimana terdapat pembedaan yang sangat mencolok antara perempuan dan laki-laki, baik dari segi pendidikan, pekerjaan maupun status dalam masyarakat tersebut. Tetapi seiring berjalannya waktu muncul kesadaran yang berbuah pada muncul dan meluasnya gerakan kesetaraan gender. Gerakan ini selain mendapat dukungan, juga mendapat tantangan yang tidak kecil. Penolakan dari sisi pro-budaya dapat dimaklumi, sebab gerakan ini dapat menggugat status laki-laki atau setidaknya mengurangi superioritas laki-laki, sehingga gerakan ini berjalan demikian lambat. Tetapi di sisi lain, para penggugat gerakan kesetaraan gender adalah juga orang beragama. Dengan demikian muncul pertanyaan, yakni bagaimana pandangan agama terhadap kesetaraan gender. Tulisan ini menelusuri konsep agama-agama besar mengenai gender, yang ditelusuri dalam teks-teks suci masing-masing agama. Hasil yang ditemukan adalah bahwa sesungguhnya semua agama mendorong kesetaraan gender. Bahkan Islam memiliki konsep yang sangat jelas dan transparan mengenai hal itu melalui persamaan hak antara manusia baik laki-laki dan perempuan.
Prosesi Hajad Dalem Labuhan Keraton Yogyakarta dalam Perspektif Semiotika C.S., Peirce Andika Setiawan
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2446

Abstract

Abstract Besides being referred to as a student city, Yogyakarta is also referred to as a city of culture. One culture that still exists today is Hajad Dalem Labuhan or sea alms. According to some people and the Yogyakarta palace, Hajad Dalem Labuhan is only a means of fostering safety, peace, and well-being as well as a tourist attraction that brings rupiah coffers to the surrounding community. This research uses a descriptive qualitative method with Charles Sanders Peirce's semiotic analysis knife. The destruction of the Hajad Dalem Labuhan ceremony due to differences in viewpoints regarding the meaning of the signs and symbols in it made the action unfortunate by some people of Yogyakarta and included the regent of Bantul. Hajad Dalem Labuhan according to KRT Djatiningrat information is just a manifestation of piety to God Almighty. Good relations are not only done with God, and humans, but also nature. Uborampe is only a means to God, asking for anything to remain with Him. Unlike the case with groups that interpret the signs and symbols in the Hajad Dalem Labuhan ceremony with another view, that the ceremony will only lead to shirk and such needs to be reviewed. These differences in meaning will be reconciled with the perspective of Charles Sanders Peirce's semiotics. By applying the theory of semiotics, what is obtained in the triangle sign is the concept of Rahmatan Lil Alamin. So, both must have an attitude of tolerance which is the implementation of Rahmatan Lil Alamin itself. Keywords: Hajad Dalem Labuhan, Differences In Meaning, Charles Sanders Peirce's Semiotics, Applying The Theory, Rahmatan Lil Alamin. Abstrak Selain disebut sebagai Kota pelajar, Yogyakarta juga disebut sebagai Kota budaya. Salah satu budaya yang tetap eksis sampai sekarang ialah Hajad Dalem Labuhan atau sedekah laut. Menurut sebagian masyarakat dan kalangan keraton Yogyakarta, Hajad Dalem Labuhan hanyalah sebagai sarana membina keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan serta sebagai obyek wisata yang mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pisau analisa semiotika Charles Sanders Peirce. Pengerusakan upacara Hajad Dalem Labuhan karena perbedaan sudut pandang tentang memaknai tanda dan simbol yang ada di dalamnya, membuat aksinya disayangkan oleh sebagian masyarakat Yogyakarta dan termasuk bupati Bantul. Hajad Dalem Labuhan menurut keterangan KRT. Djatiningrat, hanyalah sebuah manifestasi ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Hubungan baik tidak hanya dilakukan kepada Allah, dan manusia saja tetapi alam pun juga. Uborampe hanyalah sarana menuju Tuhan, meminta apapun tetap kepada-Nya. Berbeda halnya dengan kelompok yang memaknai tanda dan simbol daalm upacara Hajad Dalem Labuhan dengan pandangan lain, bahwa upacara tersebut hanya akan menjurus pada kesyirikan dan yang demikian perlu dikaji ulang. Perbedaan-perbedaan makna inilah akan didamaikan dengan perspektif semiotika Charles Sanders Peirce. Dengan mengaplikasikan teori semiotikanya, yang didapat dalam segitiga tanda ialah konsep Rahmatan Lil Alamin. Jadi, keduanya harus memiliki sikap toleransi yang merupakan implementasi dari Rahmatan Lil Alamin itu sendiri. Kata Kunci: Hajad Dalem Labuhan, Perbedaan-Perbedaan Makna, Semiotika Charles Sanders Pierce, Mengaplikasikan Teori, Rahmatan Lil Alamin.
Teologi Islam dan Hak Asasi Manusia Aniq Fahmi
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2589

Abstract

Tulisan ini berupaya mengeksplorasi hubungan teologi Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam pemikiran Abdullahi Ahmed An-Na’im. Hubungan antara Islam dan HAM hingga saat ini masih menjadi topik yang selalu hangat untuk diperdebatkan bahkan dipertentangkan, baik dari historisitas maupun segi filosofis-teologisnya. An-Na’im dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki komitmen kuat terhadap Islam sekaligus mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap HAM. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) yang bersifat kualitatif. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap pemikiran Abdullahi Ahmed An-Na’im yang memiliki pandangan berbeda dengan tokoh lain terhadap teologi Islam dan HAM. Dalam pandangan An-Na’im, untuk dapat membaca HAM dalam konteks Islam secara jernih perlu adanya reformasi dalam internal umat Islam yang didalamnya melibatkan unsus-unsur teologis dan didasarkan dengan asas kemanusiaan serta disesuaikan dengan konteks kekinian.
Analisis Kritis Terhadap Paradigma Prinsip Verifikasi A.J Ayer Amilatu Sholihah; Muhammad Anwar Idris
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.3632

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemikiran Alferd Jules Ayer, khususnya pemikirannya tentang positivisme logis. Jenis penelitian ini yaitu kepustakaan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis, yaitu mendeskripsikan sejarah intelektual Alferd Jules Ayer, sejarah munculnya positivisme logis serta pemikiran Alferd Jules Ayer tentang positivisme logis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Alferd Jules Ayer merupakan salah satu tokoh filosof yang mengkaji postivisme logis khusunya di Inggris. Positivisme logis merupakan lanjutan pemikiran dari positivisme klasik (Auguste Comte) yang berpusat pada pemikiran empiris yang bersifat sebagai sains (ilmu pasti). Perbedaan positivisme dengan positivisme logis terletak pada pusat kajiannya. Positivisme pusat kajiannya adalah sosial, sedangkan positivisme logis pusat kajiannya adalah bahasa. Positivisme logis berbicara tentang bermakna atau tidaknya suatu pernyataan/proposisi bukan benar atau tidaknya suatu proposisi. Oleh karenanya Ayer membagi proposisi itu dengan meaning full dan meaning less. Proposisi yang digunakan dalam kajian Ayer hanya proposisi yang bersifat meaning full karena proposisi tersebut dapat diverifikasi.
Konsep Utilitarianisme John Stuart Mill Asep Saepullah
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 2 (2020): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i2.2961

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana konsep etika utilitarianisme John Stuart Mill guna mengetahui relevansinya terhadap ilmu-ilmu atau pemikiran keislaman. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan pada dua tindakan, yaitu tindakan baik dan tindakan buruk yang biasa disebut sebagai sistem ethics. Ethics atau etika sendiri memiliki banyak ajaran atau pun teori, salah satunya adalah teori teleological yang membahas secara mendalam perihal baik-buruknya perbuatan manusia didasarkan pada tujuan akhir. Teleological ethics kemudian melahirkan aliran yang disebut utilitarianisme, yaitu paham tentang baiknya suatu perbuatan apabila membawa kebahagiaan terbesar bagi banyak orang. Persoalan lain pun muncul, ketika utilitarianisme dianggap ingin menyamakan kebaikan dengan manfaat, yakni adanya tindakan yang lebih mementingkan pada egoisme sendiri dibanding kepentingan kelompok. Maka muncullah John Stuart Mill yang menyempurnakan sekaligus memperhalus ajaran utilitarianisme. Walaupun etika yang dianut Mill itu hedonistik, namun Mill tetap memegang nilai-nilai kebenaran untuk bertindak egois, demi mendapatkan lebih banyak kebahagiaan untuk kepentingan orang banyak. Olehsebab itu, penulis berupaya menjelaskan bagaimana relevansinya terhadap ilmu-ilmu atau pemikiran keislaman melalui pendekatan historis-filosofis. Melalui pendekatan ini penulis menyimpulkan bahwa perbuatan atau tingkah laku yang bertujuan untuk membahagiakan banyak orang, seperti yang ada dalam utilitarianisme John Stuart Mill mampu menghadirkan nilai-nilai ajaran agama yang humanis, tidak terkecuali dalam ilmu-ilmu atau pemikiran keislaman, seperti teologi, kalam, fiqh, tasawuf, filsafat, tafsir, hadits, dan lain sebagainya.
Reconsidering Manifestation and Significances of Islamic Philosophy Abdullah Muslich Rizal Maulana; Muhammad Faqih Nidzom; Achmad Reza Hutama Al Faruqi; Choirul Ahmad
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.3633

Abstract

Islamic Philosophy should be observed as the worth treasure that manifested during the history of Islamic Intellectual Tradition. Quite different from the Philosophical traditions breed in Western Civilization, Islamic Philosophy affirmed its construction based on Revelation, Intuition, and demonstration. This paper will enquire several arguments reconsidering an influential position of Philosophy in Islamic Intellectual Tradition; ranged from an elaboration regarding the unity of Reason (Ratio-Intellectus), unity of existence, and the unity or relation between the Knower and the known object. Consequently, there are at least five significances of Islamic Philosophy to be studied by present-day Muslims by order: Islamic Philosophy acquired the whole competencies to seek the truth and wisdom; it is required as a systematic thought to face challenges confronted by Western Civilization; especially their destructive ideas; Islamic Philosophy also encourage mankind to find an answer an eternal question concerning the nature of their world; and finally, Islamic Philosophy counteracts the bias framework of Orientalists.
Konsep Epistemologi Keilmuan Islam Muhammad Abid Al-Jabiri Ahmad Syahid
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.3950

Abstract

Kondisi nalar Arab mengalami stagnasi yang cukup akut. Akibatnya, dunia Arab mengalami ketertinggalan dibanding dengan nalar modern yang semakin berkembang. Problem mendasar tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi M. Abid al-Jabiri untuk membangkitkan nalar Arab dari tidur panjang. Al-Jabiri berpendapat bahwa dunia Arab dan Islam tidak harus menutup mata dari perkembangan dunia Barat, justru harus terjadi dialog kritis dan dialog peradaban. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif analisis. Dilihat dari jenisnya penelitian ini termasuk riset kepustakaan (library research). Sumber pengambilan data yang digunakan adalah beberapa pustaka dari buku dan jurnal yang memaparkan tentang “Epistemologi Keilmuan Islam al-Jabiri”. Hasil dari tulisan ini menjelaskan bahwa al-Jabiri sangat menekankan epistemologi pemikiran Arab kontemporer sebagai jalan untuk menghadapi modernitas. Dalam upaya merekostruksi nalar Arab kontemporer, al-Jabiri membagi tiga nalar epistemologi yaitu bayani, burhani dan irfani. Apabila sinergitas ketiga paradigma epistemologi tersebut dilakukan maka teks atau naṣ keagamaan tidak lagi gamang berdialog dengan isu-isu kontemporer, karena teks tersebut sebenarnya sudah membawa pesan universal tentang kemanusiaan (humanity), keadilan (justice), dan kesetaraan (equality).
Kritik Al-Ghazali Terhadap Para Filsuf Azis Arifin; Jaipuri Harahap
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 12 No 1 (2021): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v12i1.4375

Abstract

Artikel ini hendak mengungkapkan ketidaksenadaan al-Ghazali terhadap para filsuf dalam tiga persoalan pokok, yaitu perihal kekadiman alam, keilmuan Tuhan dan kebangkitan jasmani. Sebagai seorang pemikir Sunni, al-Ghazali tertantang untuk mengkritisi bangunan argumen para filsuf lainnya yang ia klaim sebagai mu’tazili, seperti al-Kindi (w. 870 M), al-Farabi (w. 950 M) dan al-Razi (w. 925 M). Mereka yang terpengaruh oleh pemikiran filsuf Yunani baik secara langsung maupun tidak, menurut al-Ghazali telah menuntun umat pada jurang kekufuran dalam tiga persoalan utama tersebut sehingga mereka harus bertanggung jawab karenanya. Menurutnya, ketiga masalah tersebut merupakan dasar umat dalam berakidah, sehingga titel “kafir” merupakan hal wajar untuk disematkan. Metodologi yang digunakan dalam tulisan ini adalah analisis interpretatif. Adapun hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu bahwa metodologi yang digunakan al-Ghazali memiliki karakteristik tersendiri yang khas, yang tidak sama dengan para filsuf pada umumnya. Jika mereka membebankan kerja rasionalnya hanya pada logika, al-Ghazali lebih membebankan kerja rasionalnya secara berimbang pada dua hal, yaitu aspek tasawuf dan logika transenden.
Relativisme Determinatif Widia Febriana; Tayo Sandono
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 2 (2020): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i2.3550

Abstract

Manusia hadir di dunia dilengkapi dengan akal, naluri, dan wahyu. Meski begitu, belum dirumuskan bagaimana hubungan antara dua dari ketiga modal tersebut bagi manusia dalam mencapai tujuan hidup yang optimal. Tujuan artikel ini adalah mengembangkan kerangka kerja untuk mengoptimalkan peran akal dan wahyu dalam membimbing kehidupan manusia di dunia. Metode intuisi linguistik dari filsafat analitik digunakan untuk mengeksplorasi pengetahuan peneliti dalam mengembangkan kerangka kerja. Intuisi linguistik peneliti menghasilkan tiga komponen: akal, sistem, dan waktu. Akal berasal dari manusia sendiri untuk memahami Al Qur’an dan alam semesta. Sistem tersebut bersumber dari hubungan antara Al Qur’an dan alam semesta sedemikian rupa sehingga masing-masing bekerja untuk menciptakan pemahaman yang komprehensif dan muncul. Al Qur’an kemudian memberikan ilmu sehingga ilmu itu sendiri menjadi bagian dari Al Qur’an. Kami menunjukkan contoh bagaimana hubungan ini dapat memecahkan permasalahan jabariyah dan qadariyah dan antara permasalahan empirisme dan rasionalisme lebih baik daripada saat ini. Elemen waktu menjadi elemen ketiga yang memungkinkan terjadinya pergeseran paradigma dalam sistem. Seiring berjalannya waktu, dinamika manusia, sains, dan interpretasi dapat mendukung optimalisasi kehidupan di segala zaman. Kami menyebut model ini relativisme determinatif. Model ini memberikan solusi bagi permasalahan jabariyah dan qadariyah dan antara permasalahan empirisme dan rasionalisme.