cover
Contact Name
aqlania
Contact Email
aqlania@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqlania@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Aqlania
ISSN : 20878613     EISSN : -     DOI : -
The Aqlania Journal is a scientific journal that focuses on the publication of research results in religious philosophy, humanitarian and environmental studies. This journal is published periodically twice a year in June and December. The Aqlania journal is open to researchers, practitioners and observers of religious, human and environmental philosophy studies. This journal is managed by the Department of Aqeedah and Islamic Philosophy Philosophy Faculty of Ushuluddin and Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Articles 80 Documents
Dialektika Dasein Dan Semesta Bahasa salim rosyadi
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 2 (2019): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.469 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v10i2.2300

Abstract

Hermeneutika Fenomenologi hadir sebagai uapaya kritik atas hermeneutika yang metodis yang menjadikan realitas dipahami dengan kekakuan dan bersifat hitam-putih. Percangkokan Hermeneutika dengan Fenomenologi itu dimulai ketika Hedegger membawa dirinya langsung kepada sebuah tataran ontologi mengenai jumlah tertentu untuk memulihkan pemahaman, yang tidak lagi menjadi model pengetahuan, melainkan lebih sebagai model ada. Dalam pemahaman Heidegger lingkaran hermeneutika fenomenologi itu ketika terjadinya dialog anatara dasein dengan dunia kebahasaan, yang mana asal mula tempat segala bentuk pikiran lainnya dapat muncul melalui kesatuan yang saling memuat secara timbal balik dari manusia (sebagai pengguna bahasa) dengan dunia. Suatu lingkaran Hermeneutika. Sehingga bagi Heidegger bahasa mengacu kepada pikiran kemudian dasein, di mana keduanya erat berdialektika.
Jihad Berantas Korupsi Dalam Perspektif Kitab Suci Agama Di Indonesia Syafiin Mansur
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 2 (2019): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.531 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v10i2.2301

Abstract

Artikel ini hendak mengeksplorasi perspektif kitab suci terhadap perbuatan korupsi. Kitab suci agama yang dimaksud adalah kitab suci yang dimiliki oleh agama yang resmi diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Kitab Suci Agama pun dengan tegas harus dihukum, baik dengan hukuman mati, hukuman potong tangan maupun dengan hukuman penjara dan ganti rugi sesuai dengan kadar yang dikorupsinya. Semua Kitab Suci Agama itu, memberikan solusi yang terbaik dan terindah supaya pemerintah dan penegak hukum dalam melakukan hukuman dengan sebenarnya dan Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan landasan dan langkah untuk menyelesaikan korupsi atau pencuri, perampas dan perampog agar tidak terjadi di bangsa Indonesia yang Berketuhan Maha Esa.
Studi Pemikiran Hasan Al-Banna Tentang Negara Islam Hani Ammariah
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 2 (2018): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.539 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i02.2065

Abstract

Diskusi pemikiran mengenai hubungan Islam dan politik (baca negara) di kalangan pemikir muslim bukan merupakan hal yang asing. Dalam mengungkapkan pemikirannya, para pemikir muslim mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Produk pemikiran para sarjana muslim sudah pasti berbeda antara yang satu dan yang lain. Corak pemikiran mereka banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial politik yang terjadi. Ini tidak hanya terjadi pada para pemikir muslim pada masa klasik tetapi juga kontemporer. para pemikir muslim pada masa kontemporer hidup dalamkondisi sosial politik yang ditandai dengan runtuhnya Kesultanan Turki Utsmani. Keruntuhan Turki Utsmani menjadi puncak kemerosotan politik Islam dan hilangnya identitas Islam dalam sebuah negara. dari situ muncullah para tokoh Islam yang ingin mengembalikan identitas Islam dalam sebuah negara diantaranya adalah Hasan Al-Banna.Tulisan ini fokus untuk menjawab pertanyaan tentang sejarah terbentuknya Negara Islam pertama, hubungan agama dan negara serta bentuk Negara Islam menurut Hasan Al-Banna. Sejalan dengan itu maka tulisan ini diharapkan dapat menjelaskan sejarah terbentuknya Negara Islam pertama, hubungan agama dan Negara serta bentuk Negara Islam menurut Hasan Al-Banna. Untuk tujuan itu penelusuran atas masalah tersebut di atas dilakukan deskripsitf kualitatif melalui penelitian.Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa peran Rasulullah dalam mendirikan negara di Madinah menjadi sejarah terbentuknya Negara Islam pertama di dunia. Islam adalah ajaran yang komprehensif, universal dan kosmopolit. Karenanya agama dan negara yang ideal menurut Hasan Al-Banna adalah entitas laksana dua sisi mata uang. Bentuk Negara Islam, dengan demikian, mestilah sebuah negara yang merdeka dan berdiri di atas pondasi Islam daulah Islamiah, atau jika ada yang menghendaki nama lain semisal Khilafah, Imarah, Kesultanan, ataupun Mamlakah.
Sekularisme dan Deprivatisasi Agama di Era Kontemporer Mohamad Hudaeri
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.57 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2060

Abstract

Tulisan ini hendak mengeksplorasi pemikiran Jose Casanova tentang sekulerisme dan deprivatisasi Agama. Casanova menegaskan bahwa sekularisasi pada masyarakat modern tidak menyebabkan agama mengalami kemunduran (secularization as religious decline) atau mengalami privatisasi (secularization as privation). selain itu, menurut Casanova agama mesti dipisahkan dari kehidupan ruang publik sebagai negara. Sekularisasi sebagai diferensiasi menegaskan pembedaan suatu ruang sosial yang menyebabkan agama tidak lagi mendefenisikan “semua realitas” yang mencakup di dalamnya ranah sekular. kemunduran agama lebih merupakan opsi sejarah, dari pada suatu kepastian. Agama akan mengalami kemunduran apabila ia menolak proses diferensiasi modernitas. Kemudian, Apa yang membedakan Protestan di Amerika dan Eropa Barat, menurut Casanova, adalah bahwa di Amerika “tidak pernah ada negara absolut dan kekuasaan gerejawi yang bergabung (caesaropapist state church).
Gülen on Nature of Knowledge Zenno Noeralamsyah
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 2 (2019): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.895 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v10i2.2302

Abstract

P This article aim to explore perspective of Fethulleh Gülen about knowledge. The idea that science and religion coalesce in the structure of the universe has been expressed by Western philosophers, that contributed to the almost complete separation of intellectual and scientific activities from religion. In this view of dualism, science and religion both find their apotheosis and its keeping religion and science separating by an unbridgeable chasm. The ontological argument of the idea of giving birth to materialism, which supposes that the nature of existence based on matter. Associated with this, Fethullah Gülen offers a new typical scientific approach that will fuse scientific knowledge and religious beliefs closely associated with spirituality, reconfigures modern understandings of science and faith to relieve the dichotomous presumption of the reason-revelation divide. He is deeply interested in the problematic of the relationship between religion and science, while he does not reject the modern scientific approach, neither does it deify it. The essence of the philosophical thought of Fethullah Gülen (who was otherwise known simply as Hoca Effendi) is that understanding the religious texts and the creeds of Islam should be performed using sufi interpretation and commentary by transmission, without denying current context. In Gülen’s view, religious belief and scientifical reason should be combined, for they are a single truth with two expressions. Therefore, the unification of physics and metaphysics in the nature of knowledge, fundamental concept of bridging science and spirituality, both traditional and modern influences in Gülen's treatment of science will be analyzed in this article, to examine what nature of knowledge is in accordance with Gülen's worldview.
Kebangkitan Manusia di Akhirat Menurut Al-Ghazali Dan Ibnu Rusyd Ruyatul Fauziah
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 2 (2018): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.656 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i02.2066

Abstract

The dogma of resurrection after death is a very interesting subject to discuses since it contains controversy among Moslem schoolers. It hase being by philosophers since medieval era. Al-Ghazali outlined rejection against the philosophers about bodily resurrection in his book entitled Tahafut al-Falasifah (Confusions of the Philosophers), precisely in the last issue of the twenty issuesdiscussing the absence of a physical generation. Responding to the attack, Ibnu Rushd appeared to defend the philosophers of the attack and pagan. It is in this context Ibnu Rushd wrote is book Tahafut al-Tahafut (The Ambiguity of the Book Ambiguity).Departing from this background the author proposes research questions as follows : 1). How the thought of Al-Ghazali and Ibnu Rushd about human resurrection in the afterlife. 2). What are the causes and implications of about Al-Ghazali, as and Ibnu Rushd different talk about human resurrection in the afterlife. Goals to a achiev from the study are : 1). to comprehend the thought ofAl-Ghazali and Ibn Rushd about human resurrection in the afterlife. 2). to determine the causes and implications of Al-Ghazali and Ibnu Rushd thoughts on the respective issue.In terms of methodology, the author follows several steps : Determinain data sources, collecting data, and arrange data, and analyzing data. Primary data is retrieved from Al-Ghazali’s book Tahafut al-Falasifah especially on the twenty issues and that of Ibnu Rushd Tahafut al-Tahafut. Secondary data is retrieved from books related to Al-Ghazali and Ibnu Rusyd. The collected datais analyzed by comparative method.Conclusions of this study are as follow: First, Al-Ghazali holds that the surrection will occur in body and soul. On the other hand, Ibnu Rushd and other philosophers maintain that the revival will occur only in soul. Secondly, the cause of this disagreement is the difference in interpreting the Qur’anic verses of resurrection. As for Ibnu Rushd, philosophers’ exegesis does not mean toreduce sense of primacy of the hearafter. Therefore, this implies that the philosophers should not be the subject of infidel accuse just because of their thoughts. Nevertheless, their exegesis to the verses should not be exposed publicly to general.
Kebebasan Beragama Dalam Piagam Madinah Syafiin Mansur
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.034 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2061

Abstract

Piagam Madinah terbentuk sebagai dokumentasi politik yang paling istimewa dalam sejarah Islam. Piagam ini merupakan konstiusi Negara pertama yang ditulis dalam sejarah pada abad ke-tujuh Masehi yang memuat 47 pasal yang sangat sistematis uraianya dari muqadimah, pembahasan dan penutup. Piagam Madinah ini memuat nilai pembentukan umat, hak asasi, persatuan seagama, persatuan segenap warga negara, golongan minoritas, melindungi negara, pimpinan negara, politik perdamaian. Piagam Madinah sebagai dokumen yang berisi nilai, norma, hukum dan aturan hidup bermasyarakat yang majemuk. serta ajaran dasar akan pengakuan tinggi atas perbedaan etentitas sosial dan politik, perbedaan agama dan keyakinan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Piagam Madinah ini juga menjamin dan menlindungi semua elemen kehidupan umat beragama dalam menjalankan ajaran agamanya serta membangun hidup rukun dan damai, toleransi yang saling menghargai dan menghormati serta lemah lembut dan lapang dada sehingga menjadi nilai dasar kebebasan beragama yang toleransi tinggi.
Dinamika Perubahan Kebudayaan Manusia Berdasarkan Eksplorasi Pengetahuan Di Bidang Energi Wawaysadhya Agastya
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 2 (2019): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.433 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v10i2.2304

Abstract

Perubahan kebudayaan manusia adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari. Catatan-catatan sejarah menjadi kunci penjelas atas segala perubahan ini, bahkan beberapa penyebabnya bersifat mendalam dan kritis. Salah satu penyebab terpenting terpenting adalah penemuan di bidang energi. Secara linier, penemuan atau eksplorasi di bidang energi telah mengantarkan perspektif-perspektif baru ke hadapan peradaban manusia. Sebuah model eksplorasi baru akan segera mengambil tempat di dalam kebudayaan manusia, dan itu dalam beberapa sisinya merupakan perubahan yang fundamental. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan hermeneutis-filosofis. Filsafat sejarah melalui pendekatan spekulatifnya akan digunakan sebagai pisau analisis dan sekaligus objek formal penelitian. Penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara perubahan kebudayaan manusia dan perkembangan model eksplorasi di bidang energi terjadi dengan sangat erat. Secara spekulatif, perubahan model eksplorasi di bidang pengetahuan dan teknologi, khususnya pada perkembangan model eksplorasi energi menjadi kalender peradaban potensial manusia di masa depan. Secara meyakinkan, perubahan eksplorasi di bidang pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang energi bisa digunakan sebagai pembentuk masa depan melalui semangat kebebasan, optimalisasi waktu, efisiensi masa depan, dan pembentukan karakter bagi aktor-aktor yang dibutuhkan.
Relevansi Pemikiran Thomas Khun Terhadap Penerapan Ijma’ Mamnunah Mamnunah; Sufyan Sauri
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2642

Abstract

Pemikiran Thomas Khun yang terkenal adalah tentang paradigma, yang mana Khun menyatakan bahwa segala ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang pasti didasari denggan paradigma yang diyakini. Apabila terjadi suatu hal baru yang tidak bisa dipecahkan dengan paradigma tersebut, maka terjadilah yang oleh Thomas Khun dinamai dengan revolusi ilmiah. Pemikiran Thomas Khun tentang Revolusi Ilmiyah ini memiliki konsep dan ciri-ciri pemikiran serta model filsafat baru yang berujung dengan adanya ilmu pengetahuan baru. Dalam fase inilah Thomas Kuhn menyebutnya sebagai fase sejarah lahirnya ilmu pengetahuan baru, yaitu dimulai dengan normal science, kemudian terjadi anomaly dan crisis, setelah itu barulah muncul revolusi ilmiah sebagai bentuk lahirnya ilmu pengetahuan baru. Jika dikaji lebih dalam lagi, maka pemikiran Thomas Kuhn ini memiliki relevansi dengan ilmu keislaman khususnya dalam penerapan sumber hukum-hukum islam yaitu penerapan ijma’, yang mana paradigma yang dimiliki oleh umat muslimin dalam menjalankan amaliyah dan ubudiyah tentulah berdasarakan dengan alqu’an dan hadist, inilah yang disebut Kuhn dengan normal science. Namun, ketika ada masalah dalam kehidupan sehari hari dalam masalah ubudiyah dan amaliyah bagi umat islam yang tidak memiliki nash atau teks dalam alqur’an dan hadist maka dari sini akan terjadi anomaly dan crisis yang mana akan terjadi banyak perdebatan di antara para ulama sebelum memperoleh solusi dari masalah yang dihadapi kaum muslimin, dan kemuadian mereka melakukan ijma’ yang mana setelah hasil ijma’ itu sudah didapat maka terjadilah yang namanya revolusi ilmiyah, yang mencerminkan bergesernya paradigma kaum muslimin dari pada lama ke paradigma yang baru, dalm artian di mana kaum muslimin dalam menjalankan amaliyah ubudiyah apabila tidak terdapat nash atau teks dalam alqur’an mereka akan mencarinya dalam ijma’ ulama yang telah dilakukan.
Hubungan Ilmu Manthiq (Logika) dengan Ushul Fiqh Hasan Bhakti Nasution
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2693

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara ilmu Manthiq dan ilmu ushul fiqh. Objek yang dikaji adalah konsep al-qiyas yang dikemukakan oleh ilmu Manthiq dan ilmu ushul fiqh. Terdapat hubungan peredaan dan persamaan konsep al-qiyas. Persamaannya terjadi dalam enam hal, yaitu kesamaan bahasa, prinsip, proses menghasilkan, adanya penghubung (kaitan/had aushat, íllat), status kebenaran, dan kesamaan latar belakang perumus ilmu.Sedangkan perbedaannya terpusat pada empat hal, yaitu perbedaan dari segi tujuan, perbedaan cara kerja, perbedaan terminologi hubungan, dan perbedaan sumber. Adapun faktor terjadinya persamaan ialah karena tiga hal, yaitu menggunakan bahasa yang sama yakni bahasa Arab, pengguna yang sama, yaitu sama-sama pemikir Muslim. Kemudian dikembangkan di kawasan yang sama, yaitu kawasan Islam (dawlah Islamiyyah). Sedangkan faktor terjadinya perbedaan tidak terlepas dari tiga hal, yaitu karakter ilmu yang berbeda, sumber yang berbeda, dan kegunaan yang berbeda. Terjadinya integrasi di antara ilmu Manthiq dan ilmu Ushul Fiqh dalam bentuk klasifikasi al-qiyas kepada al-qiyas al-istinbathiy dan al-qiyas al-syar’iy. Dengan rumusan ini terintegrasilah makna al-qiyas dalam sebuah bangunan keilmuan Islam dalam rumpun ilmu-ilmu rasional (‘ulum al-‘aqliyyah). Upaya integrasi ini dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan ontologis, pendekatan epistemologis, dan pendekatan aksiologis, yaitu ilmu yang dikembangkan harus dijadikan sebagai media pengenalan Allah SWT, sebagai kata kunci dan membedakan ilmu-ilmu Islam dengan ilmu-ilmu Barat. Dalam ilmu Barat, aksiologi ilmu ialah untuk ilmu sendiri atau ilmu dikembangkan untuk ilmu sendiri (science for science). Sedangkan dalam Islam, ilmu dikembangkan agar manusia mampu mengenal Allah secara benar, sehingga merasa dalam pengawasan-Nya (tasawuf sunniy) atau bersatu dengan-Nya (tasawuf falsafiy) yang pada akhirnya mendapat keridhaan-Nya.