cover
Contact Name
aqlania
Contact Email
aqlania@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqlania@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Aqlania
ISSN : 20878613     EISSN : -     DOI : -
The Aqlania Journal is a scientific journal that focuses on the publication of research results in religious philosophy, humanitarian and environmental studies. This journal is published periodically twice a year in June and December. The Aqlania journal is open to researchers, practitioners and observers of religious, human and environmental philosophy studies. This journal is managed by the Department of Aqeedah and Islamic Philosophy Philosophy Faculty of Ushuluddin and Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Articles 80 Documents
Deskripsi dan Analisis Gerakan Salafiyah Samian Hadisaputra
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 2 (2018): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.775 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i2.1296

Abstract

Aliran Salaf ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad ibn Hanbal sehingga penganut aliran ini dapat juga disebut sebagai simpatisan Hanbali, tetapi penamaan Aliran Salaf ini lebih dekat dengan Ibnu Taimiyah. Kemudian ajaran-ajaran aliran Salaf diteruskan oleh Muhammad Abd al-Wahhab yang telah mempelopori kelahiran Gerakan Wahhabi. Aliran Salaf merupakan aliran dalam Islam yang menisbatkan nama alirannya pada Slaf as-Shalihin (generasi Islam terdahulu). Metode berpikir aliran salaf bersifat literal/tekstual, dan juga menjadi aliran kontekstual sehingga cenderung menjadi mazdhab kolektif atau mazdhab kutifan, terutama dalam bidang keagamaan.
Konsep Fitrah dan Bedanya Dari Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi Siti Fauziyah
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 8 No 1 (2017): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.881 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v8i01.1023

Abstract

Fitrah secara istilahi adalah tauhid (Islam) berupa agama yang lurus, baik, dan tidak berubah, dimana Allah telah menganugerakan potensi tauhid ini kepada seluruh manusia sejak lahirnya. Yang membedakan konsep fitrah dengan Nativisme, yaitu peniadaan faktor eksternal (lingkungan) sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan individu. Sedangkan yang membedakan konsep fitrah dari empirisme adalah pada masalah dasar yang dibawa manusia sejak lahir, dalam Empirisme manusia lahir sebagai tabularasa sedangkan pada konsep fitrah, manusia dilahirkan dengan membawa sejumlah bawaan atau kecenderungan diantaranya adalah potensi tauhid. Adapun yang membedakan konvergensi dengan fitrah adalah pada dasar yang dibawa manusia sejak lahir. Jika dasar atau potensi pada konvergensi adalah kosong dari tauhid maka dalam konsep fitrah manusia dilahirkan dengan membawa potensi tauhid.
Jender dalam Tradisi Yahudi, Kristen Dan Islam Syafiin Mansur
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 2 (2018): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v9i02.2067

Abstract

Agama Yahudi, Kristen dan Islam merupakan agama samawi yang sama-sama mempunyai kitab suci yang membicarakan tentang persoalan jender yang berkaitan dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Bahkan Tuhan menciptakan pertama kali adalah Adam dan Hawa sebagai manusia pertama. Ketiga agama tersebut, sepakat bahwa Hawa adalah perempuan pertama yang melanggar aturan Tuhan, istri pertama yang melahirkan putra dan putri Adam yang dapat memenuhi bumi hingga kini. Hawa sebagai simbol ibu sekalian kaum perempuan yang cantik, yanghebat, dan yang kuat menjaga anak-anaknya menjadi anak-anak yang baik. Hawa sebagai ibu pertama yang di pandang oleh ketiga agama tersebut, berbeda-berbeda pandangan antara Islam, Kristen dan Yahudi. Karena Yahudi memandang bahwa Hawa sebagai perempuan yang pertama mendapatkan kutukan dari Tuhan disebabkan melanggar larangan Tuhan sehingga kutukan itu masih dirasakan oleh kaum perempuan hingga saat ini, seperti sakit di saat menstruasi, payah disaat hamil, sakit di saat melahirkan, dan berat mengasuhnya anak-anaknya. Begitu pula, Kristenmemandang bahwa Hawa sebagai ibu yang telah mewariskan dosa hingga jatuh kebumi dan yang menyebabkan kematian Yesus Kristus sebagai penebus dosa. Sedangkan Islam memandang bahwa Hawa sebagai ibu yang telah disiapkan oleh Tuhan untuk mengisi bumi dengan jalan tergoda dengan Iblis dan kesalahannya diampuni oleh Tuhan.Ketiga agama tersebut yang paling merendah kedudukan dan kehormatan kaum Hawa atau kaum perempuan adalah agama Yahudi yang didukung oleh kitab sucinya, para Rahib dan hukumnya yang banyak menghina kaum perempuan. Sedangkan Kristen tidak terlalu radikal seperti Yahudi namun masih tetap merendahkan kedudukan kaum perempuan yang dianggap oleh para pendetanya sebagai penggoda dan pintu syaitan karena kitab sucinya tidak terlalu mengekang aturan yang berkaitan dengan perempuan. Hal ini, berbeda dengan Islam yang memandang kedudukan dan kehormatan perempuan dianggat derajatnya oleh Al-Qur’an sehingga ada nama khusus yang tercantum di dalamnya adalah surah “An-Nisa” , bahkan Nabi Muhammad Saw. menegkan untuk selalu menghormati ibu dan anak perempuannya sama dengan anak laki-laki.Jadi, lahirnya berbagai gerakan jender atau feminis di dunia Barat dan Eropa karena agama Yahudi dan Kristen yang tidak memberikan kesetaraan dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya, hingga gerakan itu juga muncul di dunia Islam yang terpengaruh dengan gerakan emansipasi wanita tetapi Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas bagi kaum perempuan.
Akal dan Wahyu Badlatul Muniroh
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.16 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2062

Abstract

Perbincangan menganai akal dan wahyu merupakan bagian terpenting dalam aliran teologi Islam, yaitu masalah mengetahui Tuhan dan masalah mengetahui baik dan jahat. Perbincangan tentang masalah ini ternyata menjadi perdebatan panjang di kalangan ulama sejak masa klasik hingga zaman kontemporer. Di antara tokoh ulama klasik yang pemikirannya masih dijadikan rujukan hingga kini ialah al Hujjaj Imam Al Ghazali, sementara di kalangan ulama kontemporer, yang di Indonesia disebut sebagai pakar filsafat Islam ialah Harun Nasution.Tulisan ini berusaha mencari titik singgung dan titik perbedaan antara kedua tokoh di atas, dengan fokus masalah: pengertian akal dan wahyu, pemikiran kedua mengenai akal dan wahyu, serta perbedaan dan persamaan pemikiran keduanya mengenai akal dan wahyu. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pemikiran dua tokoh yang berbeda budaya dan periode, yakni Imam al-Ghazali dan Harun Nasution mengenai akal dan wahyu serta persamaan dan perbedaan antara keduanya. Untuk tujuan itu, tulisan ini menggunakan metode deskriptifkomparatif dengan studi kepustakaan (library research).Pemikiran al-Ghazali lebih cenderung kepada pemikiran aliran Asy’ariyah, berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan hal lainnya diketahui manusia berdasarkan wahyu. Sementara itu Harun Nasution sependapat dengan pemikiran aliran Muktazilah yang lebih mengedepankan akal daripada wahyu. Menurut beliau akal mempunyai kemampuan mengetahui Tuhan, maupun baik dan buruk meski tanpa bimbingan agama.Akal dan wahyu merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dari kedua tokoh ini. Akal merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk binatang, sedangkan wahyu adalah petunjuk bagi akal. Keduanya sama-sama berpegang kepada wahyu, namun berbeda dalam interpretasi mengenai teks ayat-ayat Alquran dan hadits. Perbedaan dalam interpretasi inilah sebenarnya yang menimbulkan aliran-aliran yang berlainan itu tentang akal dan wahyu.
Konsep Islam Tentang Keadilan Hafidz Taqiyuddin
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 2 (2019): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.059 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v10i2.2311

Abstract

artikel ini hendak mengeksplorasi tentang keadilan yang dikonsepkan oleh Islam dalam dalam berbagai keilmuan. Dalam Islam, selain dikenal adanya kewajiban, terdapat pula apa yang dinamakan dengan hak. Terkait dengan hak tersebut, tentu tidak dapat dilepaskan dari apa yang disebut dengan keadilan atau rasa adil. Keadilan yang terdapat dalam ajaran Islam dikemukakan didoktrinkan oleh berbagai aspke keilmuan baik itu filsafat, akhlak, teologi maupun hukum. Penelitian ini membahas secara khusus mengenai hubungan antara hak dan keadilan yang dikonsepkan dan diajarkan dalam Islam. Hasilnya, bahwa dalam Islam pemberian dan ketentuan hak seseorang ataupun kelompok tidak dapat dilepaskan dengan keberadaan prinsip penting yakni keadilan.
Masyarakat dalam Perspektif Ibnu Khaldun Khoirul Umam
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 2 (2018): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.185 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i2.2068

Abstract

Masyarakat menurut Ibnu Khaldun merupakan sekumpulan manusia yang berkontribusi dalam menjalankan aktivitasnya sebagai penggerak di muka bumi. Fitrah manusia yang paling dasar adalah membentuk sebuah perkumpulan untuk saling membutuhkan satu sama lain dan kuat dalam menghadapi kehidupan, yang bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kejahatan dan penjajahan yang dilakukan oleh sekelompok orang. Ibnu Khaldun membagi masyarakat ke dalam dua jenis, yaitu masyarakat Badui, yang memiliki watak keras dan memiliki rasasolidaritas yang tinggi terhadap anggota keluarga, kelompok, dan golongannya, dan masyarakat kota, yang memiliki sifat menetap, tidak berpindah-pindah, dan malas.Tulisan ini berusaha menggali pokok persoalan sekitar latar belakang kehidupan Ibnu Khaldun, pandangannya tentang konsep masyarakat, serta hubungan agama dan negara dalam masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui konsep pemikiran Ibnu Khaldun, pandangannya tentang konsep masyarakat serta hubungan agama dan negara dalam masyarakat.Penulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriftif dengan mencoba memecahkan sebuah permasalahan yang masih belum jelas, bersifat sementara, bahkan cenderung dinamis. Terkait dengan pengumpulan data, penulis menggunakan penelitian kepustakaan (library reseach), yaitu mengumpulkan data-data yang berkaitan langsung dengan judul yang penulis bahas, baik berupa buku ilmiah maupun yang lainnya.Studi ini memperoleh kesimpulan bahwa masyarakat dalam perspektif Ibnu Khaldun merupakan sekumpulan manusia yang berkontribusi dalam menjalankan aktivitasnya sebagai penggerak di muka bumi. Ibnu Khaldun membagi masyarakat ke dalam dua bagian inti. Pertama, masyarakat Badui Kedua, masyarakat kota, yang memiliki sifat malas, menetap, berkembang. Di antara kedua masyarakat tersebut sering terjadi konflik yang diakibatkan adanya rasa solidaritas, faktor ekonomi, dan faktor politik.
Pemikiran al-Farabi Tentang Politik dan Negara Hesti Pancawati
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.315 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2063

Abstract

menurut Al-Farabi, politik berperan sebagai etika dan swakarsa yang terkait-erat dengan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Al-Farabi memulai pemikiran politiknya tatkala menyinggung asal-usul dan kemunculan negara atau kota. Menurutnya, masyarakat mucul dari keberadaan persatuan di antara individu-individu yang saling membutuhkan satu sama lain. Tidak seorang pun dapat mencukupi kebutuhannya sendiri-sendiri, baik itu kebutuhan primer maupun sekunder. Pemikiran politik Al-Farabi banyak mendapat pengaruh dari para Filosof Barat, terutama Plato dan Aristoteles. Penggambaran negara utama yang diterapkan oleh Al-Farabi sama dengan konsep Plato. konsep negara utama yang digambarkan Al-Farabi merupakan konsep sebuah negara yang di dalamnya terdapat kebahagiaan yang didapatkan dari hasil kerjasama antar penduduknya. Negara utama tersebut haruslah dipimpin oleh seseorang yang sempurna yang baik secara akhlakmaupun kecerdasannya. Selain Al-Farabi, tentunya banyak filsuf-filsuf Islam lain yang juga turut menyumbangkan pemikiran politiknya, seperti Ibnu Abi’Rabi, Al-Mawardi dan masih banyak yang lainnya, yang masing-masing memiliki konsep yang berbeda-beda.
Teologi Maturidiyyah Sebagai Moderasi antara Asy‘ariyyah dan Mu‘tazilah Muhammad Alif
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 1 (2019): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.894 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v10i1.2305

Abstract

artikel ini mencoba mengeksplorasi doktrin atau pemikiran al-Mâturîdiy dan pengaruhnya terhadap paham paham Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Maturidiyyah merupakan aliran rasionalis yang mewakili Ahlus-Sunnah wal Jama’ah. Meski demikian, rasionalitas mereka tidak menjadikan mereka berlebihan dalam menggunakan akal, sebab wahyu dalam pandangan mereka mempunyai otoritas yang tidak kecil dalam pemikiran-pemikiran teologis mereka. Ada beberapa faktor yang memberikan dampak kepada pengaruh al-Mâturîdiy tidak melebihi luasnya paham Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah ketimbang al-Asy'ariy, antara lain adalah faktor geografis, faktor etos moral dalam bermazhab dan faktor politik.
Hubungan antara Islam dan Demokrasi Hotmatua Paralihan
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 1 (2019): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.705 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v10i01.2109

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi hubungan demikrasi dan Islam. Demokrasi bukan saja tidak bertentangan dengan Islam, tetapi mewujudkan ajaran Islam itu wajib dalam kehidupan bernegara. Banyak ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang memerintahkan untuk bermusyawarah. Juga dicontohkan oleh para shahabat Nabi, bahkan Tuhan menyatakan bahwa pemerintahan yang Islami adalah khilafah. Dan khilafah ditandai antara lain dengan syura (musyawarah). Dunia yang semakin menggelobal menciptakan keterkaitan, dan ketergantungan satu dengan yang lain semakin kuat, namun kenyataannya di masyarakat kesenjangan semakin menganga, baik antar individu mapun kelompok atau Negara. Menurut Ronald F. Inglehart, peneliti bidang ekonomi dan politik Universitas Michigen, “populis terjadi dua faktor, kesenjangan sosial, dan benturan kebudayaan”. Inilah diantara pemicu munculnya politik identitas. Dalam konteks ke Indonesiaan Politik Identitas dipersubur antara lain: oleh kesenjangan sosial, lemahnya literasi, buruknya kelembagaan politik, polarisasi politik yang tidak merata. Politik identitas sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak sendi-sendi kehidupan bernegara bahkan bertentangan dengan nilai kemanusiaan, dan keadilan.
Hubungan Islam Dan Kristen Di Indonesia Dalam Pandangan Adian Husaini Jumhana Jumhana
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.073 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2064

Abstract

Tulisan ini menyoroti dua masalah utama, yaitu; Pertama, bagaimana hubungan Islam dan Kristen di Indonesia dalam pandangan Adian Husaini? Kedua, bagaimana cara membangun hubungan harmonis Islam dan Kristen di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Islam dan Kristen di Indonesia menurut Adian Husaini dan untuk mengetahui cara membangun hubungan harmonis Islam dan Kristen di Indonsia. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Library Research, yaitu cara pengumpulan data melalui buku-bukuyang releven dengan maslah yang diteliti dan dan literature yang ada kaitannya dengan yang penulis bahas.Dalam pengolahan data ini penulis menguraikan permasalahan dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu mengumpulkan data khusus yang kemudian diambil kesimpulannya yang bersifat umum. Selain itu penulis juga menggunakan metode komparatif, yaitu mengumpulkan data-data yang bersifat umum untuk selanjutnya dianalisis dan diambil kesimpulan yang bersifat khusus.Dari hasil penelusuran atas masalah ini, dapat disimpulkan bahwa menurut Adian Husaini untuk membangun hubungan harmonis Islam dan Kristen di Indonesia, kaum muslimin dan Kristen tetap harus berpegang teguh pada keyakinannya dan harus jujur terhadap ajarannya. Tanpa harus mengobarkan klaim kebenaran tersebut dengan menganggap semua agama sama atau semacamnya.