cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014" : 12 Documents clear
Pemanfaatan Limbah Ekstraksi Alginat dan Silase Ikan sebagai Bahan Pupuk Organik Jamal Basmal; Adwin Widanarto; Rinta Kusumawati; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.104

Abstract

Percobaan pemanfaatan limbah padat ekstraksi alginat dengan tepung silase ikan (tepsil) menjadi bahan pupuk organik telah dilakukan. Perlakuan yang diberikan adalah rasio antara tepung limbah ekstraksi alginat : tepsil = 1:1; 2:1 dan 3:1. Sebagai pengikat antara tepung limbah ekstraksi dengan tepsil digunakan pasta Sargassum. Perlakuan rasio limbah padat ekstrasi alginat dengan tepsil mempengaruhi komposisi unsur hara makro dan mikro serta kadar hormon pemacu pertumbuhan dalam bahan pupuk. Ditinjau dari unsur hara makro maka perlakuan yang terbaik ditemukan pada perlakuan P11 yakni satu bagian limbah alginat dan satu bagian tepsil dengan komposisi P 34,56 mg/100g, N 3,01%, K 1,2 mg/100g, Ca 48,23 mg/100g, Corganik 21,31mg/100g, Mg 1,41 mg/100 g, kemampuan daya serap air 587,93% dengan unsur mikro Fe 217,01 ppm, Zn 8 ppm, Cu 0,02 ppm dan nilai hormon pertumbuhan giberelin 82,36 ppm, auksin 67,65 ppm, sitokinin-zeatin 36,86 ppm dan sitokinin-kinetin 28,71 ppm. Bahan pupuk yang dihasilkan dapat diproses lebih lanjut menjadi pupuk organik untuk kebutuhan pertanian setelah ditambah dengan unsur hara mikro dan makro dari bahan organik yang lain.
Karakteristik Udang Kupas Vannamei dengan Penambahan Edible Coating Berbahan Kitosan dan Ekstrak Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) Selama Penyimpanan Ema Hastarini; Indah Rosulva; Yadi Haryadi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.110

Abstract

Penggunaan edible coating merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk melindungi udang dari kerusakan selama penyimpanan, memperpanjang masa penyimpanan dan menjaga kualitas produk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi edible coating dari campuran kitosan dan ekstrak lindur (Bruguiera gymnorrhiza) dalam mempertahankan mutu udang vannamei kupas selama penyimpanan pada suhu dingin. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah variasi konsentrasi bahan edible coating yaitu sebesar 0 dan 1% untuk kitosan dan 0, 1, dan 2% untuk ekstrak lindur serta kombinasi antara keduanya. Parameter yang diuji dalam penelitian ini meliputi TVB, TPC, pH, dan warna selama penyimpanan 1, 4, dan 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kitosan 0%; lindur 2% mampu menghambat aktivitas bakteri,TVB, TPC, pH, dan warna udang vannamei kupas selama 1 minggu penyimpanan pada suhu 10 °C secara signifikan. Dengan demikian, ekstrak lindur dapat menjadi alternatif bahan antibakteri dan efektif sebagai pengawet alami pada udang vannamei kupas.
Kondisi Optimum Produksi Bioetanol Dari Rumput Laut Coklat (Sargassum duplicatum) Menggunakan trichoderma Viride dan Pichia angophorae Sari, Rodiah Nurbaya; Bandol Utomo, Bagus Sediadi; Tambunan, Armansyah H.
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.105

Abstract

Rumput laut coklat Sargassum duplicatum selain banyak digunakan untuk industri makananminuman, kosmetik, dan farmasi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produksi bioetanol karena kandungan selulosanya tinggi dan ligninnya rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi optimum hidrolisis enzimatis untuk produksi bioetanol dari rumput laut coklat S. duplicatum dengan menggunakan kapang Trichoderma viride dan kondisi optimum untuk fermentasi menggunakan khamir Pichia angophorae sehingga diperoleh rendemen etanol yang tinggi. Metode yang digunakan terdiri dari beberapa tahap yaitu karakterisasi S. duplicatum, hidrolisis enzimatis dengan menggunakan T. viride, dan fermentasi dengan P. angophorae. Etanol kasar (crude) yang dihasilkan berdasarkan waktu optimum dari hidrolisis enzimatis dan fermentasi kemudian didistilasi untuk meningkatkan kadar etanolnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimum untuk hidrolisis enzimatis adalah selama 4 hari pada suhu 28 oC dan pH 5,77 dengan aktivitas enzim CMCase 3,48 IU/ml yang menghasilkan gula total 3,01 g/L dan gula pereduksi total 4,26 mg/L. Sedangkan waktu optimum untuk fermentasi adalah selama 3 hari pada suhu 29 oC dan pH 4,17 dengan tingkat pertumbuhan (OD 600) P.angophorae 0,48; oksigen terlarut 13,4%; konsentrasi CO2 440,33 mg/L yang menghasilkan kadar etanol kasar 0,04 g/L. Proses distilasi dapat meningkatkan kadar etanol menjadi 10,50 g/L.
Uji Coba Peti Ikan Segar Berpendingin untuk Pedagang Ikan Keliling Tri Nugroho Widianto; Wawan Hermawan; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.111

Abstract

Uji coba peti ikan segar berpendingin untuk pedagang ikan keliling telah dilakukan. Percobaan diawali dengan pengamatan suhu ruang peti ikan dalam kondisi kosong (tanpa ikan) yang dilakukan tiap 10 menit selama 2 jam. Percobaan berikutnya dilakukan dengan cara pengamatan terhadap proses penjualan ikan menggunakan peti berpendingin oleh pedagang keliling selama 3 hingga 4 jam. Suhu ikan diukur tiap 10 menit, sedangkan mutu kesegaran ikan diamati pada awal dan akhir percobaan. Hasil uji coba peti dalam kondisi kosong menunjukkan bahwa suhu dapat mencapai 11,1–15,5 °C. Setelah diisi 30 kg ikan yang telah didinginkan hingga 0–1 °C dan dilakukan praktek penjualan ikan eceran selama 3–3,8 jam, suhu ikan mencapai sekitar 3 °C dengan nilai mutu organoleptik dan jumlah bakteri yang hampir tidak berubah. Dapat dikatakan bahwa peti ikan berpendingin mampu mempertahankan suhu dan mutu kesegaran ikan selama proses penjualan ikan eceran oleh pedagang ikan keliling.
Preface JPBKP Vol. 9 No. 2 Preface Preface
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.346

Abstract

Pengaruh Waktu dan Suhu Pengeringan terhadap Kualitas Permen Jeli Ellya Sinurat; Murniyati Murniyati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.106

Abstract

Telah dilakukan formulasi permen jeli yang terdiri atas komponen utama yaitu bahan pembentuk gel yang merupakan campuran dari karaginan murni, konjak, dekstrose dan KCl; ditambah dengan bahan-bahan lain dan air. Sebagai pembanding digunakan produk permen jeli transparan yang mengandung karaginan yang dibeli di pasaran. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama yaitu optimasi konsentrasi pembentuk gel, dengan variasi 2, 4, 6, dan 8%. Pembuatan permen jeli dilakukan dengan mencampur bahan-bahan kering (karaginan, konjak, dekstrosa dan KCl) dengan larutan gula kemudian ditambah air, dihomogenkan dan dimasak. Campuran yang sudah masak dituang ke dalam cetakan persegi, dan didiamkan pada suhu kamar. Setelah menjendal, dimasukkan ke dalam lemari pendingin pada suhu 10 oC selama 24 jam, kemudian dipotong berbentuk kotak, lalu dikeringkan menggunakan oven pada suhu 40 oC selama 36 jam. Pengamatan dilakukan terhadap kadar air, aktivitas air dan kekuatan gel. Tahap kedua adalah pengeringan permen jeli yang dilakukan pada tiga suhu yang berbeda (40, 50, dan 60 oC), dengan waktu pengeringan masing-masing 24, 36, 48, 60, dan 72 jam. Pada tahap ini permen jeli dibuat menggunakan persentase bahan pembentuk gel konsentrasi terbaik yang diperoleh dari penelitian tahap pertama. Untuk mengetahui kualitas produk permen jeli, parameter mutu yang diamati meliputi kadar air, aktivitas air, sifat fisik (kekerasan, kelengketan, dan elastisitas), uji organoleptik (kenampakan, bau, rasa, tekstur, elastisitas, transparansi dan kesukaan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pembentuk gel terbaik adalah 6%. Pengeringan optimum adalah pada suhu 60 oC selama 36 jam dilihat dari parameter kadar air (16,2%), aw (0,71), sifat fisik (kekuatan gel 341,6 g/cm2 ; kelengketan 6,2 g/cm2 dan elastisitas 7,3 mm) dan organoleptik (nilai skor 3) serta memenuhi persyaratan SNI 3547-2: 2008 (berdasarkan kadar air maksimum 20%).
Pembentukan Formaldehid Alami pada Beberapa Jenis Ikan Laut selama Penyimpanan dalam Es Curai Jovita Tri Murtini; Rudi Riyanto; Nandang Priyanto; Irma Hermana
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.107

Abstract

Penelitian kadar formaldehid alami pada beberapa jenis ikan laut selama penyimpanan dalam es curai telah dilakukan untuk mengetahui intensitas pembentukan formaldehid alami oleh ikan setelah mati. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk menduga kemungkinan dilakukannya penyalahgunaan formalin pada ikan. Penelitian dilakukan terhadap ikan laut hidup yang terdiri dari 6 jenis ikan yaitu bawal bintang (Trachinotus blochii), kakap putih (Lates calcarifer, bloch.), cobia (Rachycentron canadum), bandeng (Chanos chanos), kerapu cantrang Epinephelus fuscoguttatus-lanceolatus), dan kakap merah/jenaha (Lutjanus johnii). Pengambilan sampel di lapangan dilakukan secara bertahap dan setiap pengambilan terdiri dari dua jenis ikan. Ikan tersebut dibawa ke laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBP4BKP) dalam keadaan hidup, kemudian ikan dimatikan dengan cara hipotermal (dimasukkan dalam air es dengan suhu 0–4oC selama 30 menit). Setelah mati ikan dibagi menjadi 3 kelompok dan disimpan dalam peti insulasi yang berisi es dengan perbandingan ikan : es adalah 1 : 3. Pengamatan dilakukan setiap 3 hari selama 18 hari. Parameter yang diamati adalah kadar formaldehid, trimethil amin (TMA), trimethil amin oksida (TMAO) dan kadar total volatile base (TVB) serta komposisi proksimat pada hari pertama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan formaldehid alami pada hari ke 12 penyimpanan pada bawal bintang, kakap putih, cobia, bandeng, kakap merah, dan kerapu cantrang berturut-turut adalah 0.954; 1.572; 0.964; 0,715; 1.381; dan 1.303 ppm. Pada saat itu kondisi ikan masih segar dengan kandungan TVB di bawah 20 mN% kecuali ikan cobia (28,94 mgN%). Kandungan TMA berkisar 6,09–11,81 mgN% dan TMAO 3,22–11,3 mgN% dan selama penyimpanan cenderung meningkat.
Karakteristik Plastik Indikator sebagai Tanda Peringatan Dini Tingkat Kesegaran Ikan dalam Kemasan Plastik Rudi Riyanto; Irma Hermana; Singgih Wibowo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.108

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik tanda peringatan dini atau early warning indicators (EWI) yang dibuat dari beberapa jenis indikator pH untuk mendeteksi kesegaran ikan dalam kemasan plastik. Tiga jenis indikator pH dan campuran dua indikator pH digunakan dalam penelitian ini, yaitu bromothymol blue (BTB), bromocresol green (BCG), bromocresol purple (BCP), dan campuran BCG dan methyl red (MR). Sensitivitas masing-masing indikator diuji menggunakan NH4OH selama 15 menit dan filet ikan kurisi (Nemipterus nematophorus) selama 15 jam penyimpanan pada suhu ruang. Contoh ikan diambil setiap 3 jam untuk analisis kandungan TVB-N dan jumlah bakteri total (TPC). Hasilnya menunjukkan bahwa indikator BTB memberikan respon lemah terhadap NH4OH dan perubahan kesegaran filet ikan. Respon yang lebih baik ditunjukkan oleh BCG, BCP, dan campuran BCG dan MR. Perubahan warna pada indikator tersebut terjadi ketika kandungan TVB-N dan TPC pada filet ikan masing-masing mencapai 33,29 ± 4,24 mgN/100 g dan 106 cfu/gr. Perubahan warna dapat dengan mudah dikenali dan diidentifikasi secara visual. Untuk merancang EWI, biaya bahan yang diperlukan untuk membuat indikator kurang penting dibandingkan dengan pertimbangan sensitivitas indikator.
Sintesis Selulosa Asetat dari Limbah Pengolahan Agar Nurhayati Nurhayati; Rinta Kusumawati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.103

Abstract

Telah dilakukan sintesis selulosa asetat dari limbah pengolahan agar. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi NaOH yang optimum untuk isolasi selulosa dari limbah pengolahan agar dan rasio selulosa terhadap asam asetat anhidrida yang tepat untuk sintesis selulosa asetat dari selulosa limbah pengolahan agar. Selulosa dari limbah diisolasi menggunakan NaOH dengan konsentrasi 3, 6, dan 9% pada 95 °C selama 35 menit. Proses asetilasi dilakukan dengan rasio selulosa : asam asetat anhidrida 1:10; 1:20; dan 1:30 (b/v) pada 50 °C selama 35 menit dilanjutkan pada suhu ruang selama 14 jam. Terhadap produk selulosa diukur rendemen selulosa, kadar holoselulosa, dan alfa selulosa; sedangkan pada produk selulosa asetat diamati derajat putih (whiteness), identifikasi gugus fungsi, kadar asetil, kelarutan, dan uji termal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan NaOH 6% menghasilkan kadar holoselulosa (63,3%) dan -selulosa (53,33%) tertinggi dengan nilai rendemen selulosa sebesar 24,92%. Sintesis selulosa asetat dengan perlakuan rasio selulosa:asam asetat anhidrida 1:10 memberikan hasil terbaik, yaitu warna selulosa asetat lebih putih, dengan rendemen sebesar 26,19% dan kadar asetil  43,5%. Identifikasi gugus fungsi menggunakan FTIR terhadap selulosa asetat menunjukkan adanya serapan gugus karbonil (C=O) dan gugus ester (C-O) masingmasing pada bilangan gelombang 1.755 cm-1 dan 1.235 cm-1. Selulosa asetat dari semua perlakuan bersifat larut dalam diklorometan tapi tidak larut dalam aseton. Dengan demikian, selulosa asetat yang dihasilkan merupakan jenis selulosa triasetat. Hasil uji termal terhadap selulosa asetat perlakuan 1:10 menunjukkan bahwa selulosa triasetat yang diperoleh terdegradasipada temperatur 350 °C.
Aktivitas Antioksidan Padina sp. pada Berbagai Suhu dan Lama Pengeringan Amir Husni; Deffy R. Putra; Iwan Yusuf Bambang Lelana
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.109

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama pengeringan dalam oven terhadap aktivitas antioksidan Padina sp. Pengeringan dilakukan pada suhu 50, 55, dan 60 °C masing-masing selama 4, 6, dan 8 jam. Sebagai pembanding dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari selama 8 jam. Parameter yang diamati meliputi rendemen, kadar air, aktivitas antioksidan, total fenol, dan uji fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen Padina sp. berkisar antara 12,86–18,28%, kadar air 14,52–21,80%, IC50 antioksidan 37,68–48,03 ppm, total fenol 0,18–0,35 mg PGE/mg, dan hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa Padina sp. mengandung senyawa fenol. Pengeringan oven bersuhu 50 °C selama 4 jam menghasilkan aktivitas antioksidan dan total fenol tertinggi, dengan nilai IC50 37,68 ppm dan total fenol 0,35 mg PGE/mg.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue