cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Aktivitas Antioksidan dan Antikolesterol Ekstrak Rusip Rinto Rinto; Shanti Dwita Lestari; Nanda Anggiani Putri
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i1.568

Abstract

AbstrakRusip merupakan produk fermentasi hasil perikanan yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat yang mengandung peptida bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rendemen, kadar peptida, serta aktivitas antioksidan dan antikolesterol ekstrak rusip. Penelitian ini menggunakan dua jenis rusip, yaitu rusip A yang memiliki aktivitas antioksidan terbaik dan rusip B yang memiliki aktivitas antikolesterol terbaik didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi tunggal menggunakan aquabides, dilanjutkan dengan fraksinasi berdasarkan perbedaan berat molekul. Uji antioksidan dilakukan dengan metode 2,2’-azino-bis (3-ethylbenzthiazoline-6-sulphonic acid) (ABTS) dan uji antikolesterol dilakukan dengan metode penghambatan aktivitas enzim HMG-KoA reduktase. Hasil penelitian memperlihatkan fraksi F1 (berat molekul > 10 kDa) memiliki rendemen yang paling tinggi baik pada rusip A maupun rusip B dengan rendemen berturut-turut sebesar 16,61% dan 14,14%. Kadar peptida tertinggi rusip A dan rusip B terdapat pada fraksi E (ekstrak utuh) yaitu masing-masing sebesar 1,22% dan 1,25%. Aktivitas antioksidan tertinggi pada rusip A terdapat pada fraksi F3 (berat molekul < 1 kDa) dengan nilai hambatan sebesar 62,90% pada dosis 1 mg/mL dan aktivitas antikolesterol tertinggi terdapat pada fraksi F2 (berat molekul 1-10 kDa) dengan nilai inhibisi sebesar 50% pada dosis 5 mg/mL. Aktivitas antikolesterol dan antioksidan fraksi rusip tersebut tergolong rendah dibanding produk fermentasi ikan lainnya. Antioxidant and Anticholesterol Activity of Rusip ExtractAbstractRusip is a fermented product which is produced by lactic acid bacteria containing bioactive peptide. The purpose of this research was to study the yield, peptide content, antioxidant and anticholesterol of rusip extract. This study used two types of rusip, i.e. rusip  A which had the best antioxidant activity and rusip B that had the best anticholesterol activity based on the results of previous studies. Rusip was extracted by single maceration methode used aquabidest and continued with fractionation based on differences in molecular weight. Antioxidant assay was conducted using 2,2’-azino-bis (3-ethylbenzthiazoline-6-sulphonic acid) (ABTS) methode and anticholesterol assay by inhibition of HMG-CoA reductase enzyme methode. The result showed that F1 fraction (molecular weight > 10 kDa) had the highest yield both in the rusip A and rusip B, i.e 16.61% and 14.14% respectively. The highest peptide content of the rusip A and rusip B was obtained from E fraction (whole extract), i.e. 1.22% and 1.25% respectively. The rusip fraction with highest antioxidant activity of rusip A was F3 fraction (molecular weight < 1 kDa) that had inhibition of 62.90% (concentration of 1 mg/mL) and the highest activity of anticholesterol was F2 fraction (molecular weight 1-10 kDa) with inhibition of 50% (concentration of 5 mg/mL). The antioxidant and anticholesterol activity of the rusip extract was low ompared to other fish fermented products.
Kajian Kesesuaian Standar Cemaran Kimia (Logam Berat dan PAH) pada Produk Perikanan di Indonesia dengan Standar Negara Lain dan Codex Oryssa Sathalica Pradianti; Winiati Pudji Rahayu; Ratih Dewanti- Hariyadi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i1.560

Abstract

AbstrakPangan dapat terkontaminasi oleh cemaran kimia karena penanganan dan pengolahan pangan yang tidak sesuai. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi mayoritas penyebab penolakan produk perikanan Indonesia, 2) menelaah standar cemaran kimia pada produk perikanan, khususnya logam berat yang ada di Indonesia, Codex  Alimentariurs Commision (CAC) dan negara-negara lain, serta 3) memberikan rekomendasi bagi pemerintah selaku regulator dalam proses perumusan suatu standar. Dokumen standar cemaran kimia pada produk perikanan dikumpulkan dari dokumen/peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Badan Standardisasi Nasional (BSN), CAC, dan 11 negara lain yaitu Uni Eropa, Kanada, China, Korea Selatan, Vietnam, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Australia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 164 notifikasi penolakan produk perikanan Indonesia di Uni Eropa, Kanada, dan Korea Selatan selama 10 tahun (2008-2017), penolakan produk perikanan tertinggi disebabkan oleh adanya cemaran kimia merkuri dan metilmerkuri pada ikan todak sebesar 27%, kadmium pada gurita sebesar 5% dan benzo[a]piren pada ikan asap sebesar 3%. Batas maksimum cemaran kimia untuk arsen, kadmium, dan timbal (pada ikan predator) di Indonesia yang terdapat pada Peraturan Kepala (Perka) BPOM Nomor 5 Tahun 2018 lebih rendah dibandingkan dengan yang terdapat di SNI 7387:2009 maupun yang ditetapkan oleh CAC serta negara lain. Indonesia telah menetapkan batas maksimum benzo[a]piren pada ikan asap, sementara itu CAC hanya menetapkan code of practice terhadap benzo[a]piren. Peraturan cemaran logam berat belum sepenuhnya dipedomani oleh para eksportir sehingga masih terdapat penolakan produk perikanan Indonesia. Hal ini menunjukkan masih perlu dilakukan pengawasan terkait kandungan logam berat yang terdapat pada produk perikanan di Indonesia. Code of practice terkait proses pengolahan pangan direkomendasikan untuk diterbitkan guna meminimalisir kandungan benzo[a]piren. Compliance Assessment of Chemical Contaminant Standard (Heavy Metal and PAH) for Fishery Products in Indonesia with those of Other Countries and CodexAbstractFood can be contaminated by chemical contamination through inappropriate food handling and processing. The purpose of this study aims to: 1) identify the chemical contamination caused majority of the rejection of Indonesia fishery products, 2) reviewing the chemical standards of contamination fishery products in Indonesia, Codex Alimentariurs Commision (CAC) and other countries, and 3) provide recommendations for the setting of chemical contamination standards in fishery products. Chemical contamination standards were collected from regulations issued by the Indonesia National Agency of Drug and Food Control (NADFC), National Standardization Agency of Indonesia, CAC, and 11 other countries: European Union/EU, Canada, China, South Korea, Vietnam, United States of America, Japan, Malaysia, Singapore, Thailand, and Australia. The results showed that in the 10 years period (2008-2017), there were 164 rejection notifications in EU, Canada, and South Korea and the highest rejection was caused by chemical contamination i.e. 27% caused by mercury and methylmercury in swordfish, 5% caused by cadmium in octopus and 3% caused by benzo[a]pyrene in smoked fish. The maximum limit of chemical contamination for arsenic, cadmium, and lead (predatory fish) in Indonesia as stated in the Regulation of the Head of NADFC Number 5 of 2018 lower than the maximum limit set in SNI 7387: 2009 and sets in CAC and other countries. Indonesia set the maximum limit for benzo[a]pyrene in smoked fish, whereas CAC published the code of practice to avoid a benzo[a]pyrene formation. Regulations of maximum limit for heavy metal contamination have not been fully guided by fisheries exporters, so that there was still rejection of Indonesian fishery products. The action needed is tightening the monitoring of heavy metal in fishery products in Indonesia. Code of practice to avoid benzo[a]pyrene formation is recommended to set up to minimize the benzo[a]pyrene formation on food processing.    
Peningkatan Kemurnian dan Toksisitas Ekstrak Pigmen C-Fikosianin dari Sianobakteria Laut Jaaginema sp. BTM-11 dengan menggunakan Kitosan dan Arang Aktif Swastika Praharyawan; Tri Setyaningsih; Dwi Susilaningsih; Yusraini Dian Inayati Siregar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i1.569

Abstract

AbstrakC-fikosianin adalah senyawa pigmen-aksesori fotosintetik berwarna biru yang terkandung dalam sianobakteria. Jaaginema sp. BTM-11 merupakan sianobakteria laut yang memiliki potensi sebagai penghasil pigmen C-fikosianin karena kandungannya yang tinggi. Nilai ekonomis pigmen C-fikosianin sangat ditentukan oleh rasio kemurnian yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemurnian pigmen C-fikosianin dari ekstrak sianobakteria laut Jaaginema sp. BTM-11 dengan menggunakan kitosan dan arang aktif. Variabel independen pada penelitian ini adalah konsentrasi kitosan (0,075-3,750 g/L) dan konsentrasi arang aktif (2,5-10 g/L). Toksisitas C-fikosianin diuji dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) untuk mendapatkan nilai Konsentrasi Letal-50 (LC50). Penggunaan kitosan konsentrasi 0,3 g/L yang dilanjutkan dengan penggunaan arang aktif konsentrasi 5,0 g/L berhasil meningkatkan rasio kemurnian pigmen C-fikosianin sebesar 57,5 dan 167,5%, secara berturut-turut. Kapasitas pengikatan kitosan dan kapasitas penjerapan arang aktif secara signifikan berhasil meningkatkan kemurnian C-fikosianin dari awalnya 0,900±0,067 menjadi 2,408±0,171. Peningkatan rasio kemurnian C-fikosianin juga diikuti dengan peningkatan toksisitas fraksi C-fikosianin sianobakteria laut Jaaginema sp. BTM-11. Nilai LC50 ekstrak Jaaginema sp. BTM-11 sebelum pemurnian yang sebesar 15,75 ppm meningkat menjadi 12,06 ppm setelah dimurnikan dengan kitosan dan arang aktif. Enhancement of Purity and Toxicity of C-Phycocyanin Pigment Extracted from Marine Cyanobacteria Jaaginema sp. BTM-11 Using Chitosan and Activated CarbonAbstractC-phycocyanin is a blue colored accessory photosynthetic pigment found in cyanobacteria. Jaaginema sp. BTM-11 is marine cyanobacteria which is potential to be used as C-phycocyanin producer due to its high contents. The economical value of the blue pigment, C-phycocyanin, is determined by its purity. This research aimed to enhancing the purity of C-phycocyanin extracted from marine cyanobacteria of Jaaginema sp. BTM-11 using chitosan and activated carbon. The independent variables of this research were chitosan concentration (0.075-3.750 g/L) and activated carbon concentration (2.50-10.0 g/L). The toxicity test of C-phycocyanin was carried out using Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method to obtain the Lethal Concentration-50 (LC50) value. The application of 0.3 g/L chitosan continued by of 5.0 g/L activated carbon was successfully increased the purity of C-phycocyanin by 57.5 and 167.5%, respectively. Binding capacity of chitosan and adsorption capacity of activated carbon succeed to significantly increase the purity ratio of C-phycocyanin from 0.900±0.067 to 2.408±0.171. The enhancement of purity ratio of C-phycocyanin fraction extracted from Jaaginema sp. BTM-11 was also followed by the enhancement of its toxicity. LC50 of C-phycocyanin extract before purification (15.75 ppm) was lower compared to the C-phycocyanin fraction (12.06 ppm) after being treated with chitosan and activated carbon. 
Ekstraksi Unsur Hara dari Rumput Laut Sargassum sp. Jamal Basmal; Radian Saputra; Rahman Karnila; Tjipto Leksono
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i1.547

Abstract

AbstrakPenelitian pengaruh suhu dan waktu esktraksi terhadap jumlah unsur hara makro yang ke luar dari rumput laut Sargassum sp. telah dilakukan dengan cara merendam rumput laut Sargassum sp. dalam larutan KOH 0,3% selama 5 hari, selanjutnya rumput laut diberi perlakuan waktu dan suhu ekstraksi yang berbeda yakni T1 (120 menit); T2 (180 menit); dan T3 (240 menit),  dengan suhu ekstraksi yaitu S1 (60 °C); S2 (70 °C); dan S3 (80 °C). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan unsur hara makro dan karakteristik fisik dan mikrobiologi yang optimal dari ekstrak cair rumput laut Sargassum sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suhu dan waktu ekstraksi berpengaruh signifikan terhadap jumlah unsur hara, viskositas, angka lempeng total (ALT), fosfat,  COrganik, dan EC dari cairan ekstraksi rumput laut Sargassum sp., namun tidak berpengaruh terhadap pH, kadar nitrogen, dan kadar kaliumnya. Hasil ekstraksi terbaik ditemukan pada kombinasi perlakuan lama waktu 240 menit (4 jam) dengan suhu 80 °C, yaitu dengan jumlah larutan ekstrak yang mengandung unsur hara  sebesar 97,5%; pH 9; viskositas 3,07 cPs; ALT 2,5 x 103 Cfu/mL;  nitrogen1,64%; fosfat 197,7 ppm; kalium 205,54 ppm;  COrganik 0,55 %; EC 3,52 mS/cm dan C/N rasio 0,34%. Nutrient Extraction from Seaweed Sargassum sp. AbstractNutrient extraction from seaweed (Sargassum sp.) was  done by soaking the seaweed  in a 0.3% KOH solution during 5 days. Furthermore,  the seaweed  was  treated at various extraction times (T1 = 120 min; T2 = 180 min; and T3 = 240 min) and temperatures (S1 = 60 0C; S2 = 70 0C; and S3 = 80 0C). This study aimed to obtain optimum macro nutrients value and the physical and microbiological characteristics of the liquid extracted from seaweed Sargassum sp. The results showed that the variation of temperature and extraction time was affected significantly on the yield, viscosity, total plate count (TPC), phosphorus, Corganic, and EC of the extracted liquid from seaweed Sargassum sp., but it did not affect the pH, nitrogen and  potassium contents. The best result was found in combination of 240 min extraction time at  80 °C temperature with the yield of 97.5%; pH 9; viscosity 3.07 cPs; ALT 2.5 x 103 Cfu/mL; nitrogen 1.64%; phospat 197.7 ppm; potassium 205.54 ppm; Corganic 0.55%; EC 3.52 mS/cm and C/N ratio 0.34%.
Identifikasi Molekuler Bakteri Endofit Penghasil L-asparaginase yang Diisolasi dari Mangrove Buta-Buta (Excoecaria agallocha) Asep Awaludin Prihanto; Randy Fahrudin Ardiansyah; Ken Audia Pradarameswari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i1.577

Abstract

AbstrakL-asparaginase (EC 3.5.1.1) adalah enzim yang menghidrolisis asam amino L-asparagin menjadi amonia dan asam aspartat. Enzim ini mempunyai manfaat utama dalam bidang farmasi dan industri pangan. Enzim L-asparaginase tersebar secara luas pada mikroorganisme. Mikroorganisme yang mempunyai potensi menghasilkan enzim ini adalah mikroorganisme endofit dari tumbuhan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri endofit penghasil L-asparaginase dari tumbuhan mangrove Buta-buta (E. agallocha). Skrining dilakukan dengan menggunakan medium selektif untuk mendapatkan bakteri penghasil enzim L-asparaginase. Identifikasi molekuler dilakukan dengan menggunakan analisis filogenetik berdasarkan data sekuen 16S rDNA. Dari hasil penelitian ini didapatkan lima isolat bakteri endofit penghasil enzim L-asparaginase, di mana isolat penghasil L-asparaginase tertinggi diidentifikasi secara molekuler. Hasil identifikasi filogenetik molekuler menunjukkan bahwa isolat kode D.104 teridentifikasi sebagai Enterobacter cloacae. Molecular Identification of L-asparaginase-Producing Endophytic Bacteria Isolated from Mangrove Buta-Buta (Excoecaria agallocha)AbstractL-asparaginase (EC 3.5.1.1) is an enzyme which hydrolyze amino acid L-asparagine to aspartate and ammonia. Two main applications of this enzyme are in the pharmaceutical and food industries. The enzyme is widely distributed on microorganism. A potential source of L-asparaginase-producing bacteria is an endophytic bacteria from mangrove plant. This study aimed to isolate and identify L-asparaginase-producing endophytic bacteria from a mangrove plant, E. agallocha (Buta-buta). A screening was carried out using a selective medium to obtain the L-asparaginase enzyme producing bacteria. Molecular identification was carried out using phylogenetic analysis based on 16S rDNA sequence data. In this study, five isolates of the L-asparaginase-producing endophytic bacteria were obtained. The molecular phylogenetic identification showed that the highest L-asparaginase-producing bacterial isolate (code D.104) was identified as Enterobacter cloacae.
Cover Depan JPBKP Vol. 14 No. 1 Tahun 2019 jpbkp jpbkp
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i1.608

Abstract

 
Penapisan Mikroalga Penghasil Karotenoid serta Studi Pengaruh Stres Nitrogen dan Fosfor terhadap Produksi B-Karoten pada Mikroalga Oocystis sp. Wahida Nia Elfiza; Abdi Dharma; Nasril Nasir
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i1.598

Abstract

Abstrakb-karoten merupakan karotenoid yang bermanfaat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan menapis mikroalga yang berpotensi  mengandung karotenoid tinggi dan mempelajari pengaruh nitrogen dan fosfor terhadap produktivitas biomassa, kandungan pigmen fotosintesis dan b-karoten, pada mikroalga yang diisolasi dari perairan Danau Atas, Sumatra Barat. Penapisan mikroalga penghasil karotenoid dilakukan  dengan memberikan  paparan UV-A 326 nm terhadap kultur campuran mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 dari 18 spesies mampu bertahan pada proses penapisan. Pengaruh 9 jenis medium pertumbuhan dengan kriteria: tanpa NaNO3, 3x NaNO3, 5x NaNO3, 10x NaNO3, Bold Basalt Medium (BBM) normal (kontrol), tanpa KH2PO4, 3x KH2PO4, 5x KH2PO4,dan10x KH2PO4 terhadap mikroalga terpilih (Oocystis sp.) diamati. Hasil menunjukkan kandungan b-karoten tertinggi  ditemukan pada perlakuan 5x KH2PO4  yaitu sebesar 0,22 % dari berat kering mikroalga, dengan produktivitas biomassa 0,0015 g/mL/hari, serta kandungan klorofil a, klorofil b dan karotenoid total yaitu 7,15 µg/mL, 0,81 µg/mL dan 6,67 µg/mL. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan medium pertumbuhan dengan kandungan 5x KH2PO4 merupakan medium yang cocok bagi pertumbuhan Oocystis sp. untuk mendapatkan biomassa dengan kandungan b-karoten dan karotenoid tinggi tanpa harus menurunkan produktivitas biomassanya. Screening of Carotenoid Producing Microalgae and Study of the Effect of Nitrogen and Phosphorus Stress on the Production of b-Carotene in Microalgae Oocystis sp.Abstractb-carotene is a carotenoid that is useful as an antioxidant. Present study aims to screening high microalgae which contain carotenoids from water of Danau Atas lake (West Sumatra Province), and study the effect of nitrogen and phosphorus on biomass productivity, photosynthetic and b-carotene pigment content. Screening of carotenoid-producing microalgae was carried out by exposing UV-A 326 nm to mixed microalgae cultures. The results showed that 5 of the 18 species were able to survive in the screening process. The effect of growth medium, i.e. without NaNO3, 3x NaNO3, 5x NaNO3, 10x NaNO3, normal Bold Basalt Medium (BBM) (control), without KH2PO4, 3x KH2PO4, 5x KH2PO4, and 10x KH2PO4 on of selected microalgae (Oocystis sp.) was carried out. The result showed that the highest content of b-carotene of Oocystis sp. was obtained with 5x KH2PO4 which was 0.22% of the dry weight of biomass. Biomass productivity was 0.0015 g/mL/day and the chlorophyll a, chlorophyll b and total carotenoids contents were 7.15 µg/mL, 0.81 µg/mL and 6.67 µg/mL, respectively. Based on this research, 5x KH2PO4 can be concluded as a suitable medium for Oocystis sp. to obtained high b -carotene and carotenoid of Oocystis sp. without  reducing biomass productivity.
Cover Belakang JPBKP Vol. 14 No. 1 Tahun 2019 JPBKP, JPBKP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i1.609

Abstract

Kandungan Logam Berat Merkuri pada Ikan Tuna (Yellowfin dan Bigeye) dan Tuna-Like (Swordfish) Hasil Tangkapan dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik Handayani, Tri; Maarif, Mohamad Syamsul; Riani, Etty; Djazuli, Nazori
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i1.572

Abstract

AbstrakKomoditi tuna dan tuna-like merupakan hasil perikanan yang memiliki nilai ekonomis bagi Indonesia. Namun, logam berat dapat terakumulasi di biota ini karena posisinya sebagai top predator.  Penelitian ini menganalisis 895 data sekunder hasil pengujian merkuri yellowfin tuna (Thunnus albacares), bigeye tuna (Thunnus obesus) dan swordfish (Xiphias gladius), yang merupakan data official control oleh Badan Karantina, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM). Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kandungan merkuri yellowfin tuna, bigeye tuna dan swordfish, serta korelasinya dengan berat ikan dan menganalisis data kontaminan merkuri yellowfin tuna, bigeye tuna dan swordfish terkait pencemaran habitat perairan asal bahan baku di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Metode analisis menggunakan regresi linier dan analisis t-test. Pengujian merkuri menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometric (AAS). Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan merkuri sangat bervariasi antar jenis, berat dan asal perairan. Dua jenis tuna dari kedua perairan mengandung merkuri <1,0 mg/kg, kandungan merkuri yellowfin tuna berkisar antara 0,06±0,06 mg/kg hingga 0,33±0,18 mg/kg, sedangkan bigeye tuna antara 0,05±0,02 mg/kg hingga 0,33±0,14 mg/kg. Berat kedua ikan tidak berkorelasi terhadap kandungan merkuri, namun pada bigeye tuna terdapat perbedaan konsentrasi merkuri yang signifikan antara kelompok berat 1-10 kg/ekor dengan ukuran yang lebih besar (>100 kg/ekor). Sebaliknya pada swordfish, kandungan merkuri meningkat dengan penambahan berat ikan, yang berkisar antara 0,08±0,01 mg/kg hingga 1,61±0,02 mg/kg. Terdapat 34% (>50 kg) swordfish dari Samudera Hindia yang kandungan merkuri nya melebihi batas 1,0 mg/kg. Kandungan merkuri tuna dan tuna-like hasil tangkapan di Samudera Hindia lebih tinggi dibandingkan Samudera Pasifik dan berbeda nyata, sehingga dapat mengindikasikan Samudera Hindia lebih tercemar merkuri. Study on Mercury Concentrations in Tuna (Yellowfin and Bigeye) and Tuna-like (swordfish) Caught from Indian and Pacific OceansAbstractTuna and tuna-like species are considered as highly economic fish species for Indonesia. However, as a high-tropic level predatory species, tuna may accumulate heavy metal contaminants. This study analyzed 895 secondary data of mercury levels in tuna and tuna-like species, based on official control conducted by Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM). The objectives of this study were to analyze correlations between mercury contents in yellowfin, bigeye and swordfish with fish weight and fish habitats (Indian and Pacific Oceans). Mercury was analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometric (AAS). The data was analyzed based on linear regression and t-test. The result found that mercury concentrations varied significantly among species, weight and fish habitats. Two tuna species from two habitats, have mercury concentration of <1.0 mg/kg. Mercury in yellowfin ranged from 0.06±0.06 mg/kg to 0.33±0.18 mg/kg, while in bigeye it ranged from 0.05±0.02 mg/kg to 0.33±0.14 mg/kg. For yellowfin and bigeye, mercury concentrations were weakly associated with fish weight, except in bigeye, there was a significant difference of mercury concentration between the fish at the group of 1-10 kg with the larger size (>100 kg). In contrast, a strong relationship between mercury content with fish weight was observed in swordfish, where mercury concentration increased with increasing fish weight. It ranged from 0.08±0.01 mg/kg to 1.60±0.02 mg/kg, and 34% of swordfish caught from the Indian Ocean (>50 kg of weight) have mercury content that exceeded 1.0 mg/kg. Mercury concentration of tuna and tuna-like caught from the Indian Ocean were significantly higher than those caught from the Pacific Ocean, which could indicate that the Indian Ocean was more polluted interm of mercury than the Pacific Ocean. 
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Karang Lunak Asal Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia Didit Kustantio Dewanto; Finarti Finarti; Roni Hermawan; Samliok Ndobe; Putut Har Riyadi; Wendy Alexander Tanod
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.812 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.583

Abstract

Bioaktif antioksidan merupakan substansi yang penting bagi kesehatan manusia. Karang lunak telah diketahui memproduksi bioaktif dengan keragaman struktur dan aktivitas biologi, termasuk memproduksi bioaktif antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bioprospeksi karang lunak dari perairan Teluk Palu sebagai penghasil antioksidan. Penelitian meliputi pengambilan sampel, identifikasi, ekstraksi (maserasi) karang lunak, skrining konstituen kimia, pengujian aktivitas antioksidan (penangkapan radikal DPPH), dan penentuan IC50. Pengambilan sampel dilakukan di Teluk Palu, pesisir desa Kabonga Besar, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Berdasarkan bentuk koloni monomorfik, tujuh sampel karang lunak yang digunakan pada penelitian ini termasuk dalam genus Sinularia, Dampia dan Sarcophyton. Analisis konstituen kimia mengindikasikan adanya senyawa saponin, fenolik, triterpenoid, dan alkaloid. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, menunjukkan ekstrak kasar karang lunak menunjukkan persentase inhibisi radikal DPPH yang lemah. Hasil pengujian aktivitas antioksidan (metode DPPH) dari fraksi hasil partisi tujuh ekstrak kasar karang lunak berpotensi sebagai antioksidan dengan kategori kuat sampai lemah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak karang lunak asal Teluk Palu berpotensi sebagai sumber antioksidan. Karang lunak di pesisir Desa Kabonga Besar didominasi oleh genus Sinularia. Antioxidant Activity of Soft Corals Extracts from Palu Bay, Central Sulawesi, IndonesiaAbstractThe antioxidants substances are important for human health. Soft corals have been known to produce compounds with a variety of structural and biological activities, including bioactive antioxidants. The aim of this research was to obtain information of soft coral bioprospection from Palu Bay as an antioxidant. The research included sampling, identification, extraction (maceration) of soft corals, screening of chemical constituents, antioxidant activity assay (DPPH’s radical scavenger), and determination of IC50. Soft coral samples were collected from Palu Bay, coastal village of Kabonga Besar, Donggala District, Central Sulawesi. Based on the shape of the monomorphic colony, seven soft coral samples that were used in this study belong to the genus Sinularia, Dampia and Sarcophyton. Analysis of chemical constituents indicated the presence of saponin compounds, phenolics, triterpenoids, and alkaloids. The results of the antioxidant activity by DPPH method showed that soft coral crude extracts have a weak percentage of DPPH’s radical inhibition, while the results of the fraction had potential to be antioxidants with strong to weak categories. From the results of this study, it concluded that the soft coral extracts from Palu Bay have the potential as a source of antioxidants. The genus Sinularia dominates soft coral on the coast of Kabonga Besar Village.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue