cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Uji Coba Proses Daur Ulang Limbah Cair ATC (Alkali Treated Cottonii) Dengan Teknik Koagulasi dan Filtrasi Bakti Berlyanto Sedayu; Jamal Basmal; Diini Fithriani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v2i2.454

Abstract

Industri pengolahan alkali treated cottonii (ATC) menghasilkan limbah cair yang sangat besar. Pendaur ulangan limbah cair akan mengefisienkan penggunaan air untuk pengolahan sekaligus mengurangi masalah pencemaran lingkungan. Untuk itu dilakukan ujicoba proses daur ulang limbah cair ATC menggunakan alat yang dirancang oleh Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan yang berkapasitas 360 liter/jam. Pengolahan limbah cair dilakukan dengan teknik koagulasi dan filtrasi. Proses koagulasi dilakukan dengan penambahan bahan koagulan tawas (Al 2(SO4)3 ) dan flokulan blok di dalam tangki koagulasi, sedangkan filtrasi dilakukan dengan melewatkan limbah melalui kolom zeolit‑arang aktif dan filter selulosa asetat. Pengamatan dilakukan terhadap limbah cair dan air hasil olahan yang meliputi total padatan terlarut (Total Dissolved Solids/TDS), total padatan anorganik terlarut (Total Inorganic Dissolved Solids/TIDS), Biological Oxygen Demand (BOD), pH, kekeruhan, bau, dan warna limbah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan limbah cair ATC dapat menurunkan jumlah TDS, TIDS dan BOD hingga 56,60%, 32,29%, dan 60,66%, meskipun kemampuan alat filtrasi menggunakan kolom zeolit‑arang aktif menurun seiring dengan banyaknya proses daur ulang yang dilakukan. Berdasarkan hasil analisis didapatkan juga bahwa proses daur ulang limbah cair ATC mampu menurunkan nilai pH, kekeruhan, bau, dan warna limbah. Dengan pengolahan tersebut limbah cair dapat didaur ulang hingga 5 kali untuk proses pengolahan ATC berikutnya.
Formulasi Hidrogel dari Polivinil Pirolidon dan k/i-Karaginan untuk Bahan Pembalut Luka Bagus Sediadi Bandol Utomo; Dina Fransiska; Muhamad Darmawan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i1.258

Abstract

Karaginan merupakan hidrokoloid yang dihasilkan dari rumput laut merah (Rhodophyceae), k-karaginan dihasilkan dari Eucheuma cottonii dan i-karaginan dari Eucheuma spinosum.  Kedua jenis karaginan tersebut sangat berlainan sifat fungsionalnya yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan hidrogel sebagai bahan pembalut luka. Sifat hidrogel yang dimanfaatkan adalah kemampuannya mengekang air dan biokompatibel terhadap tubuh yaitu bersifat lembut, memiliki fleksibilitas tinggi, tidak dapat ditembus mikroba, mudah dilalui oksigen dan mudah disterilkan terutama dengan radiasi sinar gamma. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi campuran i- dan k-karaginan dalam pembuatan hidrogel untuk bahan pembalut luka. Metoda yang dipakai meliputi ekstraksi dan karakterisasi i- dan k- karaginan, formulasi i- dan k- karaginan dalam pembuatan hidrogel dan karakterisasinya. Dari hasil penelitian diperoleh formulasi hidrogel terbaik dengan perbandingan i- dan k- karaginan 3:2 yang mempunyai daya serap air 3,40%, nilai elongasi 100%, tegangan tarik 0,33 kg/cm2, nilai fraksi gel 98,53% dan kelengketan terhadap kulit paling rendah. 
Daya Hambat Ekstrak Bahan Aktif Biji Picung (Pangium edule reinw.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Penghasil Histamin Arifah Kusmarwati; Ninoek Indriati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v3i1.7

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan ekstrak bahan aktif biji picung segar dan terfermentasi sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penghasil histamin. Bakteri penghasil histamin yang diuji daya hambatnya meliputi Morganella morganii, Raoultella terigena, Enterobacter sp., Microbacterium testaceum, Staphylococcus sp., dan Micrococcus diversus. Pengujian daya hambat dilakukan dengan metode difusi pada lempeng agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak akuades dan ekstrak etanol 50% dari biji picung segar mampu menghambat pertumbuhan bakteri penghasil histamin, sedangkan ekstrak n-heksana tidak memiliki daya hambat. Sementara itu, ekstrak akuades, etanol 50%, maupun n-heksana dari biji picung terfermentasi tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri penghasil histamin.
Pengaruh Konsentrasi Penyalut terhadap Viabilitas Bakteri dan Daya Larut Tablet Effervescent Probiotik Devi Ambarwaty Oktavia; Feliatra Feliatra; Lora Lestari Lubis
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i2.499

Abstract

AbstrakUpaya meningkatkan produksi udang dapat dilakukan melalui penggunaan probiotik. Untuk menjaga viabilitas bakteri probiotik, diperlukan usaha untuk melindungi bakteri dengan penyalut misalnya maltodekstrin. Perlindungan lebih lanjut dapat ditingkatkan dengan cara mengemas probiotik tersebut dalam tablet effervescent. Penelitian ini bertujuan untuk menguji viabilitas (jumlah bakteri) dan waktu larut probiotik yang sudah dicetak menjadi tablet effervescent dengan variasi konsentrasi penyalut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen; yaitu sampel air tambak udang diberi perlakuan 4 (empat) formula tablet effervescent (Formula I, II, III, IV) dengan 3 (tiga) konsentrasi penyalut yaitu 20%, 30% dan 40% maltodekstrin. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali. Pengujian Total Plate Count (TPC) dan waktu larut dilakukan untuk mengetahui konsentrasi penyalut tablet effervescent yang paling efektif.  Formula tablet effervescent yang paling efektif dalam menjaga kestabilan bakteri adalah formula IV dengan konsentrasi maltodekstrin sebanyak 30%. Formula ini menghasilkan tablet effervescent dengan jumlah bakteri sebanyak 6,46 log CFU/mL dan larut dalam waktu 20 menit. The Effect of Filler Concentration on Bacteria Viability and Solubility Rate of Probiotic Effervescent TabletsAbstractThe efforts to increase shrimp production can be done through the use of probiotics. To maintain the viability of probiotic bacteria, it is necessary to protect bacteria with coating agent; such as maltodextrin. Such protection can be further enhanced by packing the probiotics in effervescent tablets. This study aimed to test the cell viability (the number of bacteria) and dissolved time of probiotics that have been modified into effervescent tablets with various filler concentrations. The research method used was an experimental method; in which the samples of shrimp pond water were added with a treatment of 4 (four) effervescent tablet formulas (Formula I, II, III, IV) with 3 (three) filler concentrations of 20%, 30%, and 40% maltodextrin.Each treatment was repeated twice.  Total Plate Count (TPC) and dissolution time analysis were carried out to determine the most effective concentration of effervescent tablet filler. The most effective effervescent tablet formula for maintaining bacterial stability was formula IV with a concentration of maltodextrin as much as 30%. This formula formed the effervescent tablets with total bacteria of 6.46 log CFU/mL and dissolution in 20 minutes.
Preface JPBKP Vol. 9 No. 1 Preface Preface
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i1.349

Abstract

Optimalisasi Penggunaan Air pada Proses Pembuatan Semi-Refined Carrageenan (SRC) Bakti Berlyanto Sedayu; Jamal Basmal; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v3i2.23

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengurangan air pencucian rumput laut pada pembuatan SRC terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Pencucian rumput laut dilakukan setelah proses perebusan dengan KOH, yaitu dengan perlakuan tanpa pencucian dan dengan pencucian masing-masing sebanyak 1, 2, dan 3 kali diikuti dengan pengepresan, dibandingkan kontrol dengan 4 kali pencucian tanpa pengepresan. Perbandingan rumput laut kering dengan air adalah 1:15 (w/v) untuk setiap pencucian. Rumput laut hasil perlakuan dan kontrol kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari menjadi SRC. SRC disimpan selama 14 hari pada suhuruang dan diamati mutunya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pH SRC berkisar antara 9–9,5, gel strength 783–828 g/cm2, kadar abu tak larut asam 0,02–0,10%, kadar sulfat 15,37–15,50%, dan viskositas 48,75–74,37 cPs. Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa SRC hasil dari proses pencucian dua kali yang diikuti pengepresan memiliki kualitas baik ditinjau dari aspek kadar abu dan abu tak larut asam yang lebih rendah dibandingkan kontrol, serta kadar air, kadar sulfat, dan kekuatan gel produk yang sama dengan yang diolah dengan pencucian empat kali tanpa pengepresan, meskipun kekentalan dan derajat putihnya sedikit lebih rendah. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan pengepresan efektif dalam mengurangi penggunaan air pada proses pengolahan SRC melalui pengurangan jumlah pencucian.
Pengaruh Suhu Esterifikasi terhadap Karakteristik Karboksimetil Kitosan (Cmcts) Dwiyitno Dwiyitno; Jamal Basmal; Mulyasari Mulyasari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i3.373

Abstract

Sifat kitosan yang hanya larut dalam asarn lemah menjadi kendala pada pernanfaatannya secara luas. Seperti diketahui banyak produk aplikasi kitosan yang menuntut kitosan yang bersifat larut dalam air seperti pada produk‑produk kosmetik, pangan dan farmasi. Salah satu turunan kitosan yang bersifat larut dalarn air adalah karboksimetil kitosan (CMCts) yang merupakan salah satu bentuk modifikasi kitosan yang diperoleh melalui proses karboksimetilasi kitosan dengan monokloroasetat dalam kondisi alkali. Pada penelitian ini poses produksi CMCts dilakukan berdasarkan metode Bader & Birkholz (1997). Kitosan kasar direndam dalam NaOH, kernudian ditambah monokloroasetat, Selanjutnya dilakukan esterifikasi dengan perlakuan suhu yaitu 30, 50 dan 90 derajad Celcius selama 60 menit. Kernudian pH larutan diatur menjadi 5 dan dicuci dengan metanol. Produk dikeringkan dengan oven pada suhu 50 derajad Celcius Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh produk larut dalam air meskipun dengan tingkat kelarutan yang bervariasi, yaitu antara 65,7­97,9%. Viskositas CMCts bervariasi antara 45,6 sampai 65,2 cps dengan rendermen 57,0‑ 98, 1 %. CMCts yang dihasilkan dari seluruh perlakuan merniliki pH 5 dengan penampakan kuning keputihan sampai kuning kecoklatan. 
Kinerja Alat Pengering Mekanis Tipe Vertikal untuk Ikan Petek Leiognathus sp. Jamal Basmal; Bakti Berlyanto Sedayu; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.51

Abstract

Percobaan pengeringan ikan petek Leiognathus sp. telah dilakukan menggunakan alat pengering mekanis tipe vertikal dengan dimensi 60 cm x 60 cm x 270 cm yang dilengkapi penarik udara dari dalam ruang pengering dengan daya 150 watt (2.800 rpm). Dinding alat pengering terbuat dari lembaran akrilik dengan ketebalan 40 mm. Alat pengering ini menggunakan bahan bakar LPG. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja alat pengering dan untuk mengetahui laju kecepatan penurunan bobot ikan. Ikan petek sebelum dikeringkan telah direndam dalam larutan garam 3% selama 60 menit kemudian disusun di atas rak dengan kapasitas 1,74 kg/rak. Selanjutnya rak dimasukkan ke dalam ruang pengering. Percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali dan setiap ulangan menggunakan ikan petek sebanyak 10,44 kg. Lama pengeringan 720 menit yang menghabiskan LPG sebanyak 3,465 kg atau setara dengan 53,9 kkal/menit. Selama proses pengeringan diamati penurunan bobot ikan dan kadar air, serta kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban yang diamati setiap 30 menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa suhu dan kelembaban di dalam ruang pengeringan berkisar antara 26,03–55,86°C dan 22,3–78,05%. Jumlah bobot ikan yang hilang selama 720 menit proses pengeringan sebanyak 52%. Kecenderungan penurunan bobot ikan diperoleh persamaan garis logaritma y = -0,2 ln (x) + 1.006 dengan nilai r2 = 0,999. Kadar air diperoleh sebesar 47,94% dan nilai aw 0,483
Pendugaan Umur Simpan Kerupuk Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Panggang dalam Kemasan Plastik Metalik dan Polipropilen Diah Ikasari; Theresia Dwi Suryaningrum; Inti Mulyo Arti; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.342

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah menentukan umur simpan kerupuk ikan lele dumbo panggang menggunakan pendekatan model kadar air kritis dengan 2 jenis kemasan yakni plastik metalik dan polipropilen. Kerupuk ikan ditentukan kadar air awal, kadar air kritis, kadar air kesetimbangan beserta nilai aktifitas air untuk dapat dimasukkan dalam persamaan Labuza. Permeabilitas, ketebalan, dan luas kemasan juga dianalisis sebagai variabel pendukung yang digunakan dalam persamaan Labuza. Titik kritis ditentukan berdasarkan hasil uji skor yang dilakukan oleh 21 panelis terlatih terhadap nilai kerenyahan produk kerupuk hingga produk dinyatakan tidak renyah (skor 2). Hasil perhitungan pendugaan umur simpan berdasarkan persamaan Labuza menunjukkan bahwa kerupuk ikan lele dumbo panggang dengan kemasan plastik metalik memiliki umur simpan yang lebih lama (329 hari) dibandingkan dengan plastik polipropilen (231 hari). Shelf Life Determination of Roasted Catfish Crackers Stored with Metallic and Polypropylene PackagingAbstractStudy aimed to determine the shelf life of roasted catfish crackers using critical moisture content model packed with two plastic packaging, namely metalized plastic and polypropilen plastic. The crackers were determined for their initial moisture content, critical moisture content, equilibrium moisture content, and water activity to be included in the Labuza equation. Permeability, thickness, and area of packaging were also analyzed as additional variable needed by Labuza equation. The critical point was determined based on the scoring test result conducted by 21 welltrained panelists for the crispness value of roasted catfish crackers until the crackers were scored not crispy. Result of the shelf life calculation using Labuza equation showed that the shelf life of roasted catfish crackers packed with metalized plastic was longer (329 days) compared to the one that packed with polypropilen plastic (231 days).
Karakteristik Kappa Karaginan dari Kappaphycus alvarezii Pada Berbagai Umur Panen Max Robinson Wenno; Johanna Louretha Thenu; Cynthia Gracia Cristina Lopulalan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v7i1.69

Abstract

Karaginan adalah koloid hidrofilik yang diperlukan secara komersial dan materialnya terdapat dalam beberapa spesies rumput laut merah (Rhodophyta) termasuk didalamnya Kappaphycus alvarezii. Karaginan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri farmasi, kosmetik, makanan, pembentuk gel, bahan pengikat, bahan pengemulsi dan bahan penstabil. Kualitas karaginan dipengaruhi oleh beberapa faktor, satu di antaranya adalah umur panen dari rumput laut, yang berkaitan dengan lokasi dan parameter lingkungan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor utama yaitu umur panen dengan 4 taraf, yaitu 40, 45, 50, dan 55 hari. Data hasil pengamatan diolah dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda Duncan. Karaginan terbaik yang dihasilkan dari penelitian ini adalah yang diekstrak dari rumput laut dengan umur panen 50 hari. Karakteristik fisiko-kimia yang dihasilkan dari karaginan terbaik yaitu kekuatan gel 330 g/cm2, viskositas 30,73 cP, titik jendal 33,20oC, titik leleh 43,50oC, derajat putih 38,36%, kadar air 10,86%, kadar abu 22,76%, kadar abu tidak larut asam 0,88%, dan kadar sulfat 27,43%.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue