cover
Contact Name
Muhammad Nugraha
Contact Email
nugraha.muhammad@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
nugraha.muhammad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
TSAQAFAH
ISSN : 14110334     EISSN : 24600008     DOI : -
TSAQAFAH (pISSN: 1411-0334 | eISSN: 2460-0008) is journal of Islamic civilization published by University of Darussalam Gontor. It is semiannual journal published in May and November for the developing the scientific ethos. Editors accept scientific articles and result of research in accordance with its nature as a journal of Islamic Civilization, such as: Islamic Philosophy, Islam and Contemporary Issues, Religious Studies, Islamic Science, Islamic Economics, Islamic education, Qur’anic Studies, Islamic Law, and Islamic Ethics
Arjuna Subject : -
Articles 590 Documents
Dakwah Tauhid Muhammad Nafis al-Banjari (1150 H/1735 M) Maimunah Zarkasyi
TSAQAFAH Vol. 15 No. 1 (2019): Da'wah and Islamic Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i1.2978

Abstract

AbstractIn Islam, Tawheed is the primary foundation in getting closer to Allah and thus, every Muslim must have good understanding of it.  If the act of worshipping God is not based on right Tawheed, that act will have no value to Allah. According to Sufi masters, the quality of Muslims depends on how well his comprehension of Tawheed is, without which Muslims will never be able to become closer to Allah. Muhammad Nafis al Banjari (born 1150H / 1735) preached his knowledge by teaching the concept of Tawheed in Sufism. This Muslim scholar from South Kalimantan preached by employing bi al-kitÉb, through his work known by al-Durr al-Nafis (1200 H). This qualitative study utilizing the method of library research aimed at finding out and analyzing the thoughts of Muhammad Nafis regarding the concept of Tawheed written in his work. Muhammad Nafis taught Tawheed in Sufism, more specifically to believe and know Allah well by using the eyes of the heart (qalb). By understanding the concept of Tawheed in Sufism, one can reach the level of ma'rifatullÉh, especially to truly know God. Muhammad Nafis’ concept of Tawheed was aimed to straighten people's understanding in Nusantara, more importanly in South Kalimantan, which once was wrong in having thorough understanding of Tawheed. The concept of Tawheed taught in Sufism comprises tauÍid al-afÉ'l, tauÍid al-asma 'tauÍÊd al-SifÉt and tauÍÊd al-DzÉt. The highest knowledge of Tawheed will be achieved if someone has reached ‘fanÉ fÊ Tauhid’, while the highest Tawheed itself is fanÉ fi Allah and baqÉ bi Allah, the sÉlik is called ArÊf bi AllÉh. Muhammad Nafis’ view of the essence of tawheed is similar to the thoughts of prominent Sunni scholars such as al-Junaid, al-Qusyairiy, and al-Ghazali. Within the perspective of right Tawheed, people will achieve the level of ma'rifatullÉh after having arrived at such maqÉmKeywords: tawheed, Muhammad Nafis, al-Durr al-Nafis, fana, baka '. AbstrakDalam Islam ilmu tauhid merupakan landasan utama dalam ber-taqarrub kepada Allah, oleh karena setiap muslim harus memahami ilmu tauhid secara benar. Ibadah tanpa dilandasi tauhid yang benar, tidak ada nilainya dihadapan Allah SWT. Menurut ahli tasawuf kualitas seseorang tergantung pemahaman dalam ber-tauhid, tanpa demikian seseorang tidak akan dapat taqarrub kepada Allah secara hakiki. Muhammad Nafis al Banjari (lahir 1150H/1735) mendakwahkan ilmunya dengan mengajarkan konsep tauhid dalam tasawuf. Seorang ulama Kalimantan Selatan ini berdakwah dengan cara bi al-kitÉb, melalui karyanya al-Durr al-Nafis (1200 H). Kajian yang bersifat kualitatif dengan metode library research ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa pemikiran Muhammad Nafis mengenai konsep tauhid yang ditulis dalam karyanya itu. Muhammad Nafis mengajarkan ilmu tauhid dalam tasawuf, yaitu meyakini dan mengenal Allah secara hakiki dengan menggunakan matahati (qalb). Dengan memahami konsep tauhid dalam tasawuf, seseorang akan dapat mencapai tingkatan ma’rifatullÉh yaitu mengenal Allah secara hakiki. Dakwah Muhammad Nafis mengenai konsep tauhid itu bertujuan meluruskan pemahaman masyarakat di Nusantara khususnya di Kalimantan Selatan yang salah dalam memahami tauhid secara hakiki. Konsep tauhid dalam tasawuf yang diajarkan itu meliputi, tauÍid al-afÉ’l, tauÍid al-asma’ tauÍÊd al-SifÉt dan tauÍÊd al-DzÉt. Ilmu Tauhid tertinggi akan dicapai apabila seseorang telah mencapai ‘fanÉ fÊ Tauhid’ sedangkan punca tauhid tertinggi adalah fanÉ fi Allah dan baqÉ bi Allah, si sÉlik dinamakan ArÊf bi AllÉh. Pandangan Muhammad Nafis mengenai tauhid yang hakiki ini ada kesamaan dengan pemikiran para ulama-ulama Sunni yang masyhur seperti al-Junaid, al Qusyairiy dan al-Ghazali. Apabila telah sampai kepada maqÉm itu ia mendapatkan ma’rifatullÉh, inilah pandangan tauhid yang hakiki. Kata kunci: Tauhid, Muhammad Nafis, al-Durr al-Nafis, fana, baka’.
Penalaran Profetik Perspektif Ibnu Taimiyyah (Kritik Ibnu Taimiyyah Terhadap Silogisme Yunani) Isman Saleh
TSAQAFAH Vol. 15 No. 2 (2019): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i2.3006

Abstract

AbstractThe purpose of this study is to explore Ibnu Taymiya's critique of the speculative style of syllogistic rationality which is currently undergoing an epistemological disclaimer because it is alienate from transcendence and humanitarian values. The criticism is mainly for two things namely negative propositions in syllogism limiting the metaphysical dimension, and negative propositions are accept as procedural consensus truths not because of empirical facts. Syllogism in the view of Ibnu Taymiyya only produced hypothetical conceptual knowledge. In a syllogistic rule that is rely upon is the inferential procedure which results in statements that are not contradictory or tautological. However, Ibnu Taymiyya's view proved inaccurate, especially on the principle of implication, causality and consistency. Ibnu Taymiyya proposed analogical reasoning (qiyâs) which is one of the ushûliyyah reasoning models for constructing inferences based on axiomatic texts based on text (bayânî) and facts (burhani). Prophetic reasoning rules are construct in two steps, namely analogical assessment (tashdîq) and inference methods based on eliminative deduction.Keywords: Ibnu Taimiyya, Prophetic Reasoning, Syllogism Criticism, Analogical Assessment, Eliminative Deduction. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kritik Ibnu Taimiyyah terhadap corak rasionalitas spekulatif silogisme yang saat ini sedang mengalami gugatan epistemologis karena terasing dari nilai-nilai transendensi dan kemanusiaan. Kritik tersebut terutama ditujukan kepada dua hal yaitu proposisi negatif dalam silogisme membatasi komponen metafisik, dan proposisi negatif diterima sebagai kebenaran konsensus prosedural bukan karena fakta empiris. Silogisme dalam pandangan Ibnu Taimiyyah hanya menghasilkan pengetahuan konseptual yang hipotetik. Dalam prosedur silogisme yang diandalkan adalah prosedur inferensinya yang menghasilkan pernyataan yang tidak saling bertentangan atau tautologis. Namun keandalan tersebut dalam pandangan Ibnu Taimiyyah terbukti tidak akurat terutama pada prinsip implikasi, kausalitas dan konsistensi. Ibnu Taymiyyah mengusulkan penalaran analogis (qiyâs) yang merupakan salah satu model penalaran ushûliyyah untuk mengkonstruksikan inferensi berdasarkan argumentasi aksiomatik berbasis teks (bayâni) dan fakta (burhani). Prosedur penalaran profetik dikonstruksikan melalui dua langkah, yakni penilaian (tashdîq) analogis dan metode inferensi yang berbasis pada deduksi eliminatif.Kata Kunci: Ibnu Taimiyyah, Penalaran Profetik, Kritik Silogisme, Penilaian Analogis, Deduksi Eliminatif.
شخصية عيسى عليه السلام في القرآن والإنجيل: دراسة مقارنة Harda Armayanto; Maria Ulfa
TSAQAFAH Vol. 15 No. 1 (2019): Da'wah and Islamic Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i1.3089

Abstract

AbstractThis study is kind of Christology which examined the central figure in Christianity, Isa bin Maryam. In this article, the figure of Isa will be studied using a comparative study between the teachings of Islam and Christianity. This study is very significant because Isa is important figure in both religions. In Islam, Isa is considered the Messenger of Allah who spread the message of God to His creatures. He is also one of the chosen messenger with the title ululazmi, which has a great fortitude and patience in carrying out his duties. Whereas in Christianity, Isa is God. The study in this article refers directly to the two religious scriptures: the Qur'an and the Bible. It has to be done because the scriptures are the main source of teaching in every religion. In this article the authors focuse on the study of Isa al-Masih in three discussions: his birth, his death, and his divinity. From this study, the authors find that there are many fundamental differences in both Islam and Christianity.Keywords: Isa, Qur'an, Bible, Birth, Death, Divinity. AbstrakKajian ini masuk ke dalam studi Kristologi yang mengkaji sosok sentral dalam agama Kristen, yaitu Isa bin Maryam. Dalam artikel ini, sosok Isa akan dikaji dengan menggunakan studi perbandingan antara ajaran agama Islam dengan Kristen. Kajian ini sangat penting dilakukan mengingat sosok Isa adalah pribadi yang penting dalam kedua agama tersebut. Dalam Islam, Isa dianggap Rasulullah yang menyebarkan risalah Allah kepada makhluk-Nya. Ia juga merupakan salah satu rasul pilihan dengan gelar ululazmi, yaitu rasul yang memiliki ketabahan dan kesabaran yang luar biasa dalam menjalankan tugasnya. Sedangkan dalam Kristen, Isa adalah Tuhan. Kajian dalam artikel ini merujuk langsung kepada kitab suci kedua agama: al-Qur’an dan Alkitab. Hal ini dilakukan, karena kitab suci merupakan sumber ajaran utama dalam setiap agama. Dalam artikel ini penulis memfokuskan kajian terhadap Isa al-Masih pada tiga hal: kelahirannya, kematiannya, dan perihal ketuhanannya. Dari kajian terhadap ketiga hal tersebut ditemukan banyak sekali perbedaan mendasar yang ada pada agama Islam maupun Kristen.Kata Kunci: Isa, Kelahiran, Kematian, Ketuhanan, al-Qur’an, Alkitab.
Tawhid sebagai Prinsip Primordial Peradaban Islam: Studi Pemikiran Isma’il Raji al-Faruqi Fadhil Sofian Hadi
TSAQAFAH Vol. 15 No. 2 (2019): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i2.3289

Abstract

                                              Abstract Ismail Raji al-Faruqi is known as a contemporary Muslim scholar who played an important role and instigator the idea of the Islamization of contemporary science. To realize the idea of the Islamization of contemporary science, al-Faruqi sparked the founding of the International of Islamic Thought (IIIT) centered in the United States. Al-Faruqi is not only well known for his ideas in the arena of thought but also authored a book titled “Al-Tawḥîd: Its Implications for Thought and Life". In this book al-Faruqi describes the principle of tawhîd as the principle of the revival of the ummah. However, this principle began to be eroded and shaken by the understanding of a secular-liberal modern society. For al-Faruqi, the concept of tawḥîd is a primordial element as the true identity of civilization. Bearing in mind the identity of civilization, tawḥîd must be understood as a universal concept that is able to make a major contribution to the revival of Islamic civilization in the past. There are thirteen principles of tauhîd explained by al-Faruqi. All of these principles are inherently interrelated to one another. In connection with the writing of this paper, the author focuses his analysis and discussion on four main principles with the assumption that allows a deeper study. The four principles that the writer will describe are; first the principle of tawḥîd as a worldview. Second, tawḥîd as the principle of knowledge. Third, tawḥîd as a family principle that means the family in Islam has a support that is Islamic law which is determined by tawḥîd and Islamic religious experience. Fourth, tawḥîd as a metaphysical principle. This paper tries to explore the ideas of al-Faruqi in the frame of the analysis of the interrelation of the four principles in an effort to refresh the detention of Muslims in the path of realizing Islamic civilization. Keywords: Tawhid, Ismail Raji al-Faruqi, Islam, Knowledge, Civilization. AbstrakIsmail Raji al-Faruqi dikenal sebagai cendekiawan Muslim kontemporer yang berperan besar dalam menggagas ide Islamisasi Ilmu pengetahuan kontemporer. Untuk merealisasikan gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan kontemporer, al-Faruqi mencetus berdirinya International of Islamic Thought (IIIT) berpusat di Amerika Serikat. Tidak hanya itu, al-Faruqi juga mengarang sebuah buku dengan judul “Al-Tawhîd: Its Implications for Thought and Life”. Di dalam buku tersebut al-Faruqi mengurai prinsip tawḥîd sebagi asas kebangkitan ummah. Namun prinsip tersebut mulai tergerus dan tergoyah oleh paham masyarakat modern yang sekuler-liberal. Bagi al-Faruqi, konsep tawḥîd merupakan unsur primordial sebagai identitas peradaban yang sebenarnya. Mengingat sebagai identitas peradaban, maka tawḥîd harus dipahami sebagai konsep universal yang mampu memberikan kontribusi besar bagi tegaknya kembali peradaban Islam masa silam. Terdapat tiga belas prinsip tawḥîd yang dipaparkan al-Faruqi. Semua prinsip tersebut adalah inheren saling terkait satu sama lain. Kaitannya dengan penulisan makalah ini, penulis memfokuskan analisa dan pembahasan pada empat prinsip pokok dengan asumsi memungkinkan dilakukan kajian lebih mendalam. Keempat prinsip yang akan penulis urai ialah, pertama prinsip tawḥîd sebagai pandangan dunia (worldview). Kedua, tawḥîd sebagai prinsip pengetahuan. Ketiga, tawḥîd sebagai prinsip keluarga yang bermakna keluarga dalam Islam mempunyai penopang yaitu hukum Islam yang dideterminasi oleh tawḥîd dan pengalaman agama Islam. Keempat, tawḥîd sebagai prinsip metafisika. Makalah ini mencoba mengupas gagasan al-Faruqi dalam bingkai analisis keterkaitan empat prinsip tersebut dalam upaya menyegarkan pemahanan kaum Muslimin dalam meniti jalan mewujudkan kembali peradaban Islam. Kata Kunci: Tawhîd, Ismail Raji al-Faruqi, Islam, Pengetahuan, Peradaban.
Sentralisasi Islam Marginal: Konstribusi Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Melayu Nusantara Lukmanul Hakim; Ris'an Rusli; Danil Mahmud Chaniago; Aziza Meria
TSAQAFAH Vol. 15 No. 2 (2019): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i2.3332

Abstract

AbstractThe Historiography of Islam in the Nusantara Malay has been dominated by western scholars such as K.P. Lando, J.C. van Leur, R.O. Winstedt and J.j.de Graff. They claim that Islam in the Nusantara Malay region is a peripheral Islam that has no connection with Islam in the Middle East as the central. In the domination of these western authors, AzyumardiAzra emerges with contrasting idea and disagrees the claim. He states that Islam in the Nusantara Malay world cannot be separated from Islam in the Middle East which has strong connection and be a part of Islam in general. It belongs to one entity. He also states thatthe establishment and the development of Islam in a region must have connection with other regions. Therefore, this research tries to reconstruct and to analyze Azra’s contribution toward the Historiography of Islam in Nusantara Malay. The method use are historiography and content analysis. Azra’s contributions in the Historiography of Islam in the Nusantara Malay are to be determining the direction of its historiography, be approaching Islamic history in the Nusantara Malays as part of the world Islam and Muslim history,coloring Islam itself and offering consciousness on the history of Islam for muslim in the Nusantara Malay and introducing social history in the Historiography of Islam in the Nusantara Malay. Keywords: Centralization, Marginal Islam, Azyumardi Azra, Islamic Historiography, The Nusantara Malay. AbstrakHistoriografi Islam Melayu Nusantara selama ini didominasi oleh penulis Barat, di antaranya: K. P. Landon, J. C. van Leur, R. O. Winstedt dan H. J. De Graaf. Mereka berpendapat bahwa Islam di kawasan Melayu Nusantara adalah Islam pinggiran, Islam yang tidak ada hubungannya dengan Islam di pusatnya Timur Tengah. Di tengah dominasi penulis Barat tersebut muncullah Azyumardi Azra, ia tidak sependapat dengan kebanyakan penulis Barat tersebut. Menurut Azyumardi Azra, Islam di dunia Melayu Nusantara tidak bisa dipisahkan dari Islam yang ada di pusatnya Timur Tengah, dalam artian Islam di dunia Melayu Nusantara merupakan bagian dari Islam secara keseluruhan. Ia merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tumbuh dan berkembangnya Islam di suatu kawasan mesti terkait dengan Islam di kawasan lain. Tujuan penelitian ini untuk merekonstruksi dan menganalisis konstribusi Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Melayu Nusantara. Sedangkan metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode sejarah dengan pendekatan historiografi dan analisis isi. Konstribusi Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Melayu Nusantara adalah menentukan arah perjalanan sejarah Islam di Melayu Nusantara, mendekati sejarah Islam di Melayu Nusantara sebagai bagian dari sejarah umat Islam secara keseluruhan, memberi warna Islam dan kesadaran sejarah umat Islam di dunia Melayu Nusantara serta memperkenalkan sejarah sosial di dalam Historiografi Islam Melayu Nusantara.Kata Kunci:  Sentralisasi, Islam Marginal, Azyumardi Azra, Historiografi Islam, Melayu Nusantara.
The Criteria and Ethical Guidelines for Tax Officer in Islam: a Review of Some Traditional Literature Rahmad Hakim
TSAQAFAH Vol. 15 No. 2 (2019): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i2.3376

Abstract

AbstractTax occupies an important role as a source income of the state. With this role, there are several important regulations in taxation, including the obligation for citizens to pay taxes. To enhance the benefit of tax, the criteria and ethical guidelines are needed for tax officers in carrying out their duties, so that the tax collection mechanism runs fairly, more transparent and accountable. This paper aims to analyze the criteria and ethical guidelines for tax officers in Islamic civilization as recorded in some traditional literature. This is qualitative research using the method of documentation in the collection of data. This study concluded that the criteria of tax officer are: first, the free person (not slave). Second, amânah. Third, capable or expert (kafâ'ah). Fourth, meet the criteria of faqîh and mujtahîd (if serves as a determinant of the tax rate (kharâj)). On the other hand, the ethical guidelines for tax officer are: first, no excess conduct for the taxpayers. Second, no persecution. Third, avoid manipulating the value of gold. Fourth, no prize in the form of precious stones. Fifth, collect taxes properly and correctly (in accordance with sharia provisions). Sixth, no tax (kharâj) on people who convert to Muslim. Keywords: Ethics, Taxation, Islamic Taxation, Tax Officer, Islamic Civilization.   AbstrakPajak menempati peran penting sebagai sumber pendapatan dari negara. Dengan peran ini ada beberapa peraturan penting dalam perpajakan, termasuk kewajiban bagi warga negara untuk membayar pajak. Untuk meningkatkan manfaat pajak, kriteria dan pedoman etika diperlukan bagi petugas pajak dalam menjalankan tugasnya, sehingga mekanisme pengumpulan pajak berjalan dengan adil, lebih transparan, dan akuntabel. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis kriteria dan pedoman etika bagi petugas pajak dalam peradaban Islam sebagaimana dicatat dalam beberapa literatur tradisional. Ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode dokumentasi dalam pengumpulan data. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kriteria untuk petugas pajak adalah: pertama, orang bebas (bukan budak). Kedua, amanah. Ketiga, cakap atau ahli (kafâ’ah). Keempat, memenuhi kriteria faqih dan mujtahid (jika berfungsi sebagai penentu tarif pajak (kharâj)). Di sisi lain, pedoman etika untuk petugas pajak adalah: pertama tidak ada perilaku berlebihan untuk wajib pajak. Kedua, tidak ada penganiayaan. Ketiga, hindari memanipulasi nilai emas. Keempat,  tidak ada hadiah dalam bentuk batu mulia. Kelima, memungut pajak dengan benar (sesuai dengan ketentuan syariah). Keenam, tidak ada pajak (kharâj) pada orang-orang yang menyamar menjadi Muslim. Kata Kunci: Etika, Perpajakan, Perpajakan Islam, Petugas Pajak, Peradaban Islam.
Konsep Psikoterapi Badiuzzaman Said Nursi dalam Risale-i Nur Hamid Fahmy Zarkasyi; Jarman Arroisi; Amal Hizbullah Basa; Dahniar Maharani
TSAQAFAH Vol. 15 No. 2 (2019): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i2.3379

Abstract

AbstractThis study discusses faith in Islamic psychotherapy. This study departs from the fact of moral degradation that occurs in many parts of the world caused by psyche illness. Moral degradation causes the erosion of faith, especially for Muslims. For this reason, an effort is needed as faith can be maintained and the soul remains healthy. The cause of treating mental illness is more difficult than treating physical pain. In this context, a well-known Turkish scholar, Badiuzzaman Said Nursi, has an interesting concept to address the problem of moral degradation. Nursi said the best solution to overcome mental illness is to improve one's faith as if the faith is correct then the behaviour will be right, and vice versa. Islam is not only limited to intellectual contemplation, but also as a direct answer from the various discussions that he experienced personally as well as a response to the problem being discussed by the Turkish community compilation. This research is a qualitative study (literature) of Nursi's work, Risale-i Nur. His ideas about psychotherapy are distributed in the book. His views on Islamic psychotherapy produce a deep understanding of the concept of faith and its influence in life. The authors hope this study can make scientific contributions and be able to provide solutions to the problems that are currently being approved.Keywords: Badiuzzaman Said Nursi, Risale-i Nur, Psychotherapy, Faith, Islam.AbstrakArtikel ini membahas tentang iman dalam psikoterapi Islam. Penelitian ini berangkat ‎dari fakta degradasi moral yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia yang ‎disebabkan oleh penyakit hati. Khususnya bagi umat Islam, degradasi moral ‎menyebabkan terkikisnya iman. Untuk itu diperlukan sebuah upaya agar iman terjaga ‎dan jiwa tetap sehat. Sebab mengobati sakit jiwa lebih sulit dari mengobati sakit fisik. ‎Dalam konteks ini, seorang ulama kenamaan Turki, Badiuzzaman Said Nursi, memiliki ‎konsep yang menarik untuk menjawab problem degradasi moral. Nursi mengatakan ‎solusi terbaik dalam mengatasi penyakit jiwa adalah dengan memperbaiki keimanan ‎seseorang. Sebab jika keimanan sudah benar maka perilakunya pun akan benar, ‎demikian sebaliknya. Penting dicatat bahwa gagasannya mengenai psikoterapi Islam tidak hanya sebatas renungan intelektual semata, malainkan juga sebagai jawaban langsung dari berbagai persoalan yang dialaminya secara pribadi juga sebagai respon dari problem yang sedang dihadapi masyarakat Turki ketika itu. Penelitian ini merupakan salah satu kajian kualitatif (literatur) ‎terhadap karya Nursi, Risale-i Nur. Gagasannya mengenai psikoterapi tersebar dalam ‎buku tersebut. Pendekatannya dalam psikoterapi Islam melahirkan sebuah pemahaman yang mendalam terhadap konsep keimanan dan pengaruhnya dalam kehidupan. Besar harapan penulis, kajian ini dapat memberikan kontribusi ilmiah ‎dan mampu memberikan solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi saat ini.‎Kata Kunci: Badiuzzaman Said Nursi, Risale-i Nur, Psikoterapi, Iman, Islam.
Syed Muhammad Naquib al-Attas on Human Origin Fiqih Risallah; Tatiana Denisova
TSAQAFAH Vol. 15 No. 2 (2019): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i2.3382

Abstract

AbstractThis paper aims to reflect on al-Attas’ conception of human creation. It argues that human creation model in Islamic perspective differs from evolutionary and positivist model. The issue centers upon a question as to when Adam was initially present on earth. Al-Attas asserts that human knowledge of his origin is limited in such a way that only through revelation it is truly revealed. Divine information is crucial without which knowledge of his origin would be a matter of purely speculative presumption. By employing a tawḥîd approach, al-Attas managed to establish the time frame of Adam first appearance with a view to clarifying that his arrival along with his wife was in approximately between 7000 and 8000 years ago, not in terms of hundreds of thousands of years ago. This estimative calculation can only be done when the definition of human being is clearly justified. Al-Ḥayawân al-Nâṭiq is more than a mere rational animal, conceived as having a connection with prior organism. Al-Attas defines it a living being that speaks signifying his given power to apprehend what knowledge communicates and to communicate what it apprehends. This paper found that human being is a special and a new creation, and Adam is the Father of mankind nothing to do with biological evolutionary theory. This creation is a recent event in the history of time. Hence, human was created with purpose justifying that his existence on earth is a grace and his life historically is purposeful.Keywords: al-Attas, Human Being, Human Origin, Missing Link, Prophet Adam.   AbstrakArtikel ini bertujuan untuk merefleksikan konsepsi al-Attas tentang penciptaan manusia. Menyatakan bahwa model penciptaan manusia dari perspektif Islam bertentangan dengan model dari kelompok evolusionis dan positivis. Permasalahan utamanya berkaitan dengan pertanyaan kapan Adam hadir di bumi pertama kali. Al-Attas menegaskan bahwa pengetahuan manusia tentang asal-usulnya sangat terbatas sehingga hanya melalui perantaraan wahyu hal itu bisa terungkap. Informasi ilahi sangat krusial yang dengan tanpanya, pengetahuan manusia terhadap asal-usulnya akan menjadi anggapan yang bersifat spekulatif. Dengan menerapkan pendekatan tawḥîd, al-Attas berhasil menetapkan jangkaan waktu keberadaan Adam pertama kali di bumi yang bertujuan untuk mengklarifikasi bahwa kedatangannya bersama istrinya adalah berkisar antara 7000 sampai 8000 tahun yang lalu; bukan ratusan ribu tahun yang lalu. Kalkulasi ini hanya dapat dilakukan jika definisi tentang manusia telah diformulasikan dengan benar dan tepat. Al-Ḥayawân al-Nâṭiq tidak hanya sekedar bermaksud ‘hewan rasional’ yang dianggap memiliki keterkaitan dengan organisme sebelumnya. Al-Attas mendefinisikannya sebagai makhluk hidup yang bertutur-kata yang menunjukkan akan kekuatan yang dimilikinya untuk mampu memahami apa yang dikomunikasikan sebagai pengetahuan dan mampu mengkomunikasikan apa yang ditangkapnya. Artikel ini menemukan bahwa  asal-usul manusia adalah sebagai ciptaan khusus dan baru, dan Adam merupakan bapak umat manusia yang tidak ada hubungannya dengan teori evolusi biologis. Penciptaannya termasuk dalam kategori peristiwa baru dalam sejarah waktu. Karenanya, manusia diciptakan dengan tujuan yang bermaksud bahwa keberadaanmya di muka bumi adalah sebuah rahmat dan secara historis kehidupannya memiliki tujuan. Kata Kunci: al-Attas, Manusia, Asal-Usul Manusia, Missing Link, Nabi Adam.
Peta Religiositas berdasarkan Islamic Worldview pada Milenial Muslim di Yogyakarta Anita Anita; Badrun Kartowagiran; Ayub Ayub
TSAQAFAH Vol. 15 No. 2 (2019): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i2.3386

Abstract

AbstractIslamic civilization is built upon Islam as a distinctive religion and way of life (dîn). Therefore, the fate of this civilization depends on the religiosity of each Muslim individuals. In this context, an empirical study to map Muslim religiosity becomes necessary. However, studies of Muslim religiosity have been imbued with conceptual as well as epistemological bias due to the adaptation of instruments that were developed based on the Judeo-Christian traditions. This article presents a mapping of Muslim millennial religiosity (306 respondents) using The Muslim Religiosity-Personality Inventory (MRPI), an instrument developed based on the concept of Islamic Worldview. Muslim millennials were chosen because of their strategic demographic position in the development of Islamic civilization. The religiosity of the respondents would be analyzed by referring to two dimensions of Islamic religiosity, namely Islamic Worldview and Religious Personality. Regarding the first dimension, this research revealed that millennials Muslims in Yogyakarta strongly believe in God's active involvement in the affairs of His creatures. However, they lack the understanding of the nature of the involvement. They also have a low score in some crucial aspects of Islamic worldview such as the universality of Islamic teachings and the concept of fithrah (human nature). Regarding the second dimension, they have a high score on personal religiosity, medium score on social religiosity (mu’âmalât), and a low score in ritual religiosity (‘ibâdah mahdhah). This article will further discuss the implications of the findings to the development of Islamic civilization.  Keywords: Religiosity, Millennial Muslim, Islamic Worldview, Religious Personality.    AbstrakPeradaban Islam dibangun di atas fondasi Islam sebagai agama (dîn) yang distingtif dan unggul. Oleh karena itu, nasib peradaban ini tergantung kepada sejauh mana tiap Muslim menghayati agamanya. Dalam konteks ini, kajian religiositas yang empiris untuk memetakan keberagamaan ini menjadi perlu. Namun, selama ini kajian religiositas masih bias secara konseptual dan epistemologis, sebab kebanyakan instrumen yang digunakan berasal dari tradisi Yahudi atau Kristen. Artikel ini menyajikan pemetaan religiositas milenial Muslim (sampel 306 orang) dengan menggunakan The Muslim Religiosity-Personality Inventory (MRPI), sebuah instrumen yang dikembangkan berasaskan konsep Islamic Worldview. Milenial Muslim dipilih sebab posisi demografis mereka yang strategis dalam pembangunan peradaban. Data religiositas responden dipetakan dengan dengan merujuk kepada dua dimensi yaitu Islamic Worldview (IW) dan Religious Personality (RP). Dari dimensi IW,  ditemukan bahwa milenial Muslim di Yogyakarta meyakini keterlibatan mutlak Allah di alam, tapi belum memahami dengan baik mekanisme hubungan Allah dengan ciptaan-Nya. Mereka juga memperoleh skor rendah dalam aspek krusial seperti tentang keuniversalan ajaran Islam dan pandangan tentang fitrah manusia. Pada dimensi RP milenial Muslim memiliki skor kesalehan personal yang tinggi disusul kesalehan sosial (mu’âmalât). Namun skor mereka rendah dalam ranah ritual (‘ibâdah mahdhah). Artikel ini juga akan mendiskusikan signifikansi skor yang diperoleh responden pada tiap indikator di atas terhadap upaya pembangunan peradaban Islam.Kata Kunci: Religiositas, Milenial Muslim, Worldview Islam, Kepribadian Religius.
Worldview Islam sebagai Basis Pengembangan Ilmu Fisika Aldy Pradhana; Yongki Sutoyo
TSAQAFAH Vol. 15 No. 2 (2019): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v15i2.3387

Abstract

AbstractThe development and progress of science and technology today cannot be separated from physics. Through physics, various benefits have been presented to human life, for example in the fields of industry, transportation of information and communication. However, behind the variety of benefits that have been presented it turns out to contain serious problems, namely the crisis of morality and spirituality. The emergence and development of the problem is rooted in the secular physicist worldview, where God and religion are not central and influential in scientific activity. This is diametrically different from the Worldview of Islam which makes God the basis for the development of science. Thus, Islam does not experience problems regarding the relationship of religion and science. This includes physics which has been proven factually by previous Islamic scientists. That is, worldview so designate how physics is developed. So, in this article will be described the variant of problems related to worldview, which are believed and used by physicists, in developing physics and technology and how the worldview of Islam responds to these problems as an alternative to the development of physics. The worldview of Islam, if held consistently by Muslim scientists as a basis for the development of physics, will have the following implications: First, the shift in physicists' worldview; Second, giving orientation to physicists' scientific works; Third, encourage improvement, refinement, re-formulation of physics theory and how technology is produced and its actualization; Fourth, if the first to third points are actualized to physicists on a broad scale, then the scientific culture nowadays is most likely to shift; Fifth, it is possible to shift the scientific paradigm.Keywords: Worldview, Tawhid, Physics, Secular, Implications. AbstrakPerkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi yang begitu pesat dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari ilmu fisika. Lewat ilmu fisika, ragam kebermanfaatan telah dihadirkan bagi kehidupan manusia, misalnya dalam bidang industri, transportasi informasi dan komunikasi. Namun dibalik ragam kebermanfaatan yang telah dihadirkan itu ternyata mengandung problem serius, yakni krisis moralitas dan spiritualitas. Muncul dan berkembangnya problem tersebut berakar dari worldview Fisikawan yang sekuler, dimana Tuhan dan agama menjadi tidak sentral dan berpengaruh dalam aktivitas ilmiah (scientific activity). Hal ini berbeda secara diametris dengan pandangan hidup Islam yang menjadikan Tuhan sebagai basis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sehingga Islam tidak mengalami persoalan perihal relasi agama dan ilmu pengetahuan. Hal ini termasuk ilmu fisika yang telah dibuktikan secara faktual oleh para ilmuwan Islam terdahulu. Artinya, pandangan hidup begitu menentukan bagaimana ilmu fisika dikembangkan. Maka dalam artikel ini akan dipaparkan varian persoalan terkait worldview yang diyakini dan digunakan oleh para fisikawan dalam mengembangkan ilmu fisika dan teknologi, serta bagaimana the worldview of Islam merespon persoalan itu sebagai sebuah alternatif bagi pengembangan ilmu fisika. The worldview of Islam, jika dipegang secara konsisten oleh ilmuwan Muslim sebagai dasar pengembagan ilmu fisika, maka akan menghadirkan implikasi-implikasi sebagai berikut: Pertama, pergeseran pandangan hidup fisikawan; Kedua, memberikan orientasi pada kerja-kerja saintifik fisikawan; Ketiga, mendorong terjadinya perbaikan, penyempurnaan, perumusan ulang teori ilmu fisika serta bagaimana teknologi diproduksi dan aktualisasinya; Keempat, apabila poin pertama sampai ketiga teraktualisasi pada fisikawan dengan skala yang luas, maka berpotensi menggeser budaya ilmiah yang ada saat ini; Kelima, memungkinkan terjadinya pergeseran paradigma keilmuan.Kata Kunci: Worldview, Tauhid, Ilmu Fisika, Sekuler, Implikasi.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol. 20 No. 2 (2024): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol. 20 No. 1 (2024): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol. 19 No. 2 (2023): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol. 19 No. 1 (2023): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol 18, No 2 (2022) Vol. 18 No. 2 (2022): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol. 18 No. 1 (2022): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol 18, No 1 (2022): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol. 17 No. 2 (2021): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol 17, No 2 (2021): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam Vol 17, No 1 (2021): Islamic Education Vol. 17 No. 1 (2021): Islamic Education Vol. 16 No. 2 (2020): Islamic Theology Vol 16, No 2 (2020): Islamic Theology Vol. 16 No. 1 (2020): Islamic Economics Vol 16, No 1 (2020): Islamic Economics Vol. 15 No. 2 (2019): Islamic Civilization Vol 15, No 2 (2019): Islamic Civilization Vol. 15 No. 1 (2019): Da'wah and Islamic Communication Vol 15, No 1 (2019): Da'wah and Islamic Communication Vol. 14 No. 2 (2018): Islam and Spirituality Vol 14, No 2 (2018): Islam and Spirituality Vol 14, No 1 (2018): Contemporary Islamic Discourses Vol. 14 No. 1 (2018): Contemporary Islamic Discourses Vol 13, No 2 (2017): Islamic Jurisprudence Vol. 13 No. 2 (2017): Islamic Jurisprudence Vol 13, No 1 (2017): Islamic Political Thought Vol. 13 No. 1 (2017): Islamic Political Thought Vol 12, No 2 (2016): Qur'anic Studies Vol. 12 No. 2 (2016): Qur'anic Studies Vol 12, No 1 (2016): Islamic Economics Vol. 12 No. 1 (2016): Islamic Economics Vol. 11 No. 2 (2015): Islamic Education Vol 11, No 2 (2015): Islamic Education Vol. 11 No. 1 (2015): Islamic Civilization Vol 11, No 1 (2015): Islamic Civilization Vol 10, No 2 (2014): Religious Studies Vol. 10 No. 2 (2014): Religious Studies Vol. 10 No. 1 (2014): Islamic Philosophy Vol 10, No 1 (2014): Islamic Philosophy Vol. 9 No. 2 (2013): Islamic Ethics Vol 9, No 2 (2013): Islamic Ethics Vol. 9 No. 1 (2013): Islamic Economics Vol 9, No 1 (2013): Islamic Economics Vol. 8 No. 2 (2012): Islamic Jurisprudence Vol 8, No 2 (2012): Islamic Jurisprudence Vol 8, No 1 (2012): Islamic Education Vol. 8 No. 1 (2012): Islamic Education Vol 7, No 2 (2011): Islamic Theology Vol. 7 No. 2 (2011): Islamic Theology Vol 7, No 1 (2011): Qur'anic Studies Vol. 7 No. 1 (2011): Qur'anic Studies Vol 6, No 2 (2010) Vol. 6 No. 2 (2010) Vol 6, No 1 (2010) Vol. 6 No. 1 (2010) Vol 5, No 2 (2009) Vol. 5 No. 2 (2009) Vol. 5 No. 1 (2009) Vol 5, No 1 (2009) More Issue