cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus.annas551@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
silfia_hanani@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bukittinggi,
Sumatera barat
INDONESIA
HUMANISMA : Journal of Gender Studies
ISSN : 25806688     EISSN : 25807765     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Humanisma focus tentang issue-issue kesetaraan gender dan perlindungan terhadap anak di Indonesia baik dalam perspektif Islam maupun secara umum.
Arjuna Subject : -
Articles 88 Documents
KOMUNIKASI MATEMATIS DALAM PEMBELAJARAN BERDASARKAN GENDER Isna Isnaniah
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/jh.v1i2.254

Abstract

Abstrak Kemampuan komunikasi merupakan salah satu standar kompetensi lulusan bagi siswa sekolah dasar sampai menengah sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Olehkarenanya, komunikasi harus menjadi salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian. Komunikasi merupakan suatu aktivitas yang tidak mungkin lepas dari kehidupan manusia. Dengan komunikasi seseorang dapat mengekspresikan ide dan pemikirannya, saling bersosialisasi, serta menerima dan melakukan pembelajaran. Komunikasi matematis merupakan komunikasi berupa pengungkapan pikiran, gagasan dalam bentuk merefleksikan, membuat model situasi, menelaah, menginterpretasikan ide, simbol, istilah serta informasi matematika.Sebagai salah satu pelajaran yang diberikan di dunia pendidikan formal, matematika haruslah diajarkan dengan model pembelajaran yang tepat. Bukan saja tepat berdasarkan materi ajar, tetapi juga harus tepat dalam melihat perkembangan otak anak. Perkembangan stuktur otak anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan, perbedaan ini merupakan perbedaan gender. Salah satu perbedaan gender dalam pembelajaran adalah komunikasi matematis.Berdasarkan perbedaan struktur otak tersebut maka penerapan model pembelajaran yang tepat akan memaksimalkan hasil belajar yang diperoleh masing-masing termasuk kemampuan komunikasi matematis. Keywords:komunikasi, matematis, pembelajaran, gender The ability of communication includes to the standards competency of graduates for every level education as stated in the Regulation of the Minister of National Education Year 2006. Therefore, communication pays more attention. This is an activity that can not be separated from human life. By communicating, we are able to express the ideas and thoughts, socialize, and the others. Moreover, mathematical communication means a form of thoughts expression, reflection of ideas, modeling situations, reviewing, interpreting ideas, symbols, term and mathematical information. Mathematics, as one of the subject given in formal education, must be taught with the right model in learning. It is not only appropriate based on teaching materials, but also in seeing the structure development of the student's brain. There are a difference about the development of brain structures between male and female student which is familiar with gender. Consequently, one aspect of gender differences in learning can be seen from mathematical communication. Based on this reason, the usage of precise learning model will maximize the learning outcomes as well as the ability of mathematical communication. Keywords: communication, mathematical, learning, gender
POLA ASUH DEMOKRATIS SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF PENCEGAHAN TINDAK KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK Arjoni Arjoni
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 1, No 1 (2017): Januari-Juni 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.795 KB) | DOI: 10.30983/jh.v1i1.266

Abstract

Anak merupakan anugerah Allah yang diamanahkan kepada Orang tua. Anak hendaknya dijaga, diasuh dan dididik menjadi pribadi yang memiliki karakter cerdas, dan kekuatan spiritual keagamaan tangguh dan produktif. Beberapa ekade melalui berbagai media informasi yang tersebar diketahui marak terjadi kekerasan seksual terhadap anak-anak. PERMEN PPPA RI No 06 tahun 2011 tentang panduan pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan menegaskan;“upaya pencegahan kekerasan terhadap anak diantaran dilakukan oleh keluarga”.Tujuan penelitian dimaksudkan mengetahui solusi alternatif pencegah tindak kekerasan pada anak yang diantaranya melalui pola asuh demokratis. Metodologi penelitian ini studi kepustakaan dengan metode analisis deskrftif yakni mengumpulkan data, menyusun atau mengklasifikasi, menganalisis, dan menginterpretasi data bersumber dari hasil penelitian, jurnal, artikel, buku, ensklopedi, dan sumber kepustakaan lainya. Hasil penelitian mengungkapkan perlakuan orang tua melalui pola asuh demokratis berbasis kekuatan spiritual keagamaan sebagai solusi alternatif mencegah tindakan kekerasan seksual pada anak. Adapun perlakuan yang dimaksud yakni orang tua suka berdiskusi dengan anak, mendengarkan keluhan anak, memberi tanggapan, komunikasi yang baik, tidak kaku/luwes. Dengan demikian diharapkan implementasi pola asuh tersebut mampu mencegah terjadinya tindak kekerasan pada anak.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MUSLIM KEPULAUAN DENGAN PENGUATAN ACHIEVEMENT MOTIVATION UNTUK MENGATASI PRILAKU HEDONISME DALAM MASYARAKAT DENDUN KECAMATAN MANTANG KEPULAUAN BINTAN Yanti Elvita; Silfia Hanani; Helfi Helfi
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 2, No 1 (2018): Januari - Juni 2018
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.418 KB) | DOI: 10.30983/jh.v2i1.810

Abstract

Dendun merupakan salah satu desa di kecamatan Mantang Kepulauan Bintan Provinsi Kepulauan Riau. Jumlah pendudukanya pada tahun 2014 sebanyak 1035 jiwa dengan rincian laki-laki 656 orang dan perempuan 470 orang dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 273. Semua penduduk beragama Islam dan hanya ada satu masjid sebagai tempat ibadah masyarakat di desa ini.Dendun terdiri dari satu dusun, 2 RW dan 6 RT dengan luas wilayahnya 18 km2 dataran dan 67 km2 lautan.  Satu-satunya akses  transportasi ke desa ini adalah dengan transportasi laut dengan kapal kecil nelayan. Mata pencaharian secara mayoritas adalah sebagai nelayan, dengan penghasilan yang beragam mulai dari yang terendah Rp.85.000 sampai Rp.300.000,- perhari. Kota yang paling dekat dengan desa ini adalah kota Tanjung Pinang ibu kota dari Provinsi Kepulauan Riau, setiap hari ada satu kali kapal kecil pulang pergi kekota ini. Dari segi pendidikan, masyarakat Dendun masih memiliki tingkat pendidikan rendah dan sampai tahun 2015 ini belum ada penduduk Dendun yang sarjana. Masyarakat Dendun memiliki sala satu tradisi gaya hidup konsumerisme, yakni ada tradisi untuk menghabiskan tabungan pada waktu-waktu tertentu kekota, tradisi tersebut sudah berlangsung turun temurun. Saat turun ke kota itu, masyarakat Dendun tanpa perimbangan mengeluarkan uang mereka, mereka menghabiskan tabungannya dan pergi kekota untuk kepentingan tradisi ini merupakan prestise tersendiri bagi yang melakukannya. Tradisi ini mengalahkan orientasi masyarakat, sehingga mereka tidak mampu menyekolahkan anaknya pada jenjang yang lebih tinggi. Untuk menganggulangi prilaku tersebut, maka masyarakat Dendun perlu mendapatkan motivasi untuk berorientasi masa depan, salah satunya dengan melakukan apa yang disarankan oleh Mc Clelland dengan menebarkan virus need of achievement. Pembedayaan ini dilakukan untuk itu dengan mengembangkan program-program need of achievementmemotivasi dampingan untuk produktif.
Penalaran Siswa Laki-laki dan Perempuan dalam Proses Pembelajaran Matematika Pipit Firmanti
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.862 KB) | DOI: 10.30983/jh.v1i2.220

Abstract

Abstrak Dalam matematika proses bernalar menjadi salah satu komponen penting yang perlu diasah karena penalaran dapat berguna dalam memecahkan masalah yang tidak hanya bersifat matematis namun juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan bernalar seseorang dapat mencari penyelesaian dari masalah yang sedang dihadapinya. Proses penalaran dalam pembelajaran matematika dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya perbedaan jenis kelamin terutama dalam cara menyelesaikan masalah matematika dan penarikan kesimpulan. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa perempuan tidak cukup berhasil mempelajari matematika dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu perempuan hampir tidak pernah mempunyai ketertarikan yang menyeluruh pada soal-soal teoritis seperti laki-laki. Namun di lain pihak, tidak sedikit siswa perempuan yang memiliki keberhasilan dalam kemampuan matematika. Hal ini dipengaruhi oleh penalaran mereka masing-masing. Penulisan makalah ini bertujuan untuk menganalisis beberapa hasil penelitian tentang penalaran siswa laki-laki dan perempuan dalam pembelajaran matematika. Metodologi yang digunakan adalah studi kepustakaan. Makalah ini menemukan bahwa penalaran siswa perempuan dan laki-laki cenderung berbeda. Siswa laki-laki menggunakan penyelesaian yang lebih fleksibel dibandingkan perempuan. Sedangkan dalam penarikan kesimpulan siswa perempuan lebih cermat dan teliti serta cakap dalam mengkomunikasikan ide yang diperolehnya.
BIAS GENDER DALAM BUKU AJAR AL-ARABIYAH LINNAASYIIN Nur Hasnah
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 1, No 1 (2017): Januari-Juni 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.61 KB) | DOI: 10.30983/jh.v1i1.324

Abstract

Arabic has sex differences in its internal structure system. This brings influence to books written in Arabic, among them are books used to study Arabic that has spread in the world of education. Actually a lot of Arabic teaching books that have spread in education with various titles. One of them is quite familiar is the book of Al-Arabiyah Linnasyi'in. This book is one of the recommended textbooks for non-Arabic Arabic students. This research includes library research. Further data is analyzed by using content analysis method (content analysis). The author will directly examine the contents of the text of the book by looking at the contents of the communication qualitatively and interpret the contents of the communications. The results show that gender inequality is still found in the book in terms of word selection, in speech discourse, in pictures and illustrations as well as in the selection of sentence structure. Among the efforts that can be done is to improve the Arabic curriculum by providing a gender balance in the preparation of textbooks as well as educators can also adjust the content of teaching with the situation in the learning process related to gender. Bahasa Arab memiliki perbedaan jenis kelamin pada sistem struktur internalnya. Hal ini membawa pengaruh kepada buku-buku yang ditulis dengan bahasa Arab, diantaranya adalah buku-buku yang digunakan untuk belajar bahasa Arab yang sudah tersebar di dunia pendidikan. Sebenarnya banyak sekali buku-buku ajar Bahasa Arab yang telah tersebar di dunia pendidikan dengan berbagai macam judul. Salah satunya diantarnya yang cukup familiar adalah kitab Al-Arabiyah Linnasyi’in. Buku ini merupakan salah satu buku ajar yang direkomendasikan untuk para pelajar bahasa Arab yang non-Arab. Penelitian ini termasuk library research. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan metode content analysis (analisis isi). Penulis akan langsung meneliti isi teks buku tersebut dengan melihat isi komunikasinya secara kualitatif dan memaknai isi komunikasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan ketidakadilan gender dari buku tersebut dalam hal pemilihan kata, dalam wacana percakapan, dalam gambar dan ilustrasi serta dalam pemilihan struktur kalimat. Diantara upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki kurikulum bahasa Arab dengan memberikan keseimbangan gender dalam penyusunan buku teks serta pendidik juga bisa menyesuaikan isi buhan ajar dengan keadaan dalam proses belajar mengajar terkait gender.
FEMINISME : ANTARA OTORITER DAN OTORITATIF Endrizal Endrizal
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 2, No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.869 KB) | DOI: 10.30983/jh.v2i2.823

Abstract

This paper is a philosophical description of women's knowledge. Does gender affect the way and what knowledge will be obtained by someone. If we follow the thesis of historical materialism of Marxism, then the answer is "yes," because a person's position in the relations of production determines the way he knows, and what content he will acquire, and women, in patriarchal society, the disadvantaged position. Then, whether to provide a critical assessment of the way and content of gender-affected knowledge requires a certain universal rationality assessment criterion. If so, how to make that rationality no longer a new force of oppressors, as claimed by postmodern thinkers. Feminism, as a philosophical movement and reflection, must use certain universal rationality and criteria of judgment without falling on totalitarianism on the one hand, or relativism on the other. Feminism must be authoritative without being authoritarian
INISIASI POSISI DAN PERAN PEREMPUAN DALAM KONTEK BUDAYA MINANGKABAU Sri Yunarti
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 2, No 1 (2018): Januari - Juni 2018
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.583 KB) | DOI: 10.30983/jh.v2i1.808

Abstract

Perempuan adalah simbol dari eksistensi harmonisasi rumah tangga keterjaminan kualitas sumber daya manusia seperti halnya anak, dan keterjaminan pengetahuan dan ketersediaan pangan keluarga. Posisi perempuan dalam pengambilan keputusan dalam aset penentuan bidang pendidikan anak, ekonomi keluarga. dan dalam pembagian kerja serta posisi menajemen keuangan keluarga makin melemah. Bahkan posisi perempuan dalam melindungai kesehatan reproduksi juga terlihat menurun. Hal ini sebagai akibat kultur dan nilai-nilai budaya dalam struktural, solidaritas,eksistensi masyarakat. Institusi Bundo Kanduang di Nagari sebagai basis pemberdayaan perempuan secara empiris. hanyalah sub bagian dari lembaga yang menangani masalah sosial, anak, pemuda, dan perempuan dewasa.Realitas sosial dimana domistikasasi diskriminasi suatu implikasi terhadap perempuan. serta Masih kentalnya bias gender tokoh masyarakat. Sedikitnya tokoh-tokoh perempuan yang mampu bertindak sebagai agen bagi pemberdayaan perempuan dalam kajian budaya 
PEREMPUAN SHALAT DI MASJID (Tinjauan Syarah Hadis Ibn Hajar dan Ibn Rajab) Ilham Mustafa
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2079.186 KB) | DOI: 10.30983/jh.v1i2.237

Abstract

Shalat merupakan ibadah yang wahib bagi umat islam. Shalat menjadi salah satu rukun Islam yang harus di tegakkan. Secara syar’i dalam melaksanakan ibadah shalat, dalam hadits dijelaskan bahwa shalat seorang bila dilakukan berjama’ah lebih baik dari pada shalat sendiri-sendiri, dan shalat berjamaah di masjid lebih baik dari pada shalat di rumah atau dipasar. Di tambah lagi bahwa shalat fardhu di masjid lebih utama dari pada di tempat lain. Namun hadits lain terkhusus untuk perempuan bahwa shalatnya di rumahnya lebih baik dari di masjid, dan shalat di kamarnya lebih baik dari di rumahya, dan shalat di kamar khususnya lebih baik lagi dari pada di rumahnya. Dari sini timbullah pertayaan bagaimana jika perempuan shalat di masjid. Apakah juga mendapatkan keutamaan, atau shalat dirumahnya yang lebih utama. Dalam tulisan ini akan dijelaskan perspektif secara umum di kutubus sittah dan akan dibahas komprehensif dalam pandangan ibn hajar dan Ibn Rajab dalam mensyarah hadis Bukhari tentang perempuan shalat di Masjid. Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa perempuan dibolehkan untuk shalat di masjid setelah mendapatkan izin dari suaminya atau walinya dengan memperhatikan adab-adab yang diajarkan Rasulullah. Ini bertujuan untuk menjaga (baik laki-laki maupun perempuan) dari terjerumus kepada dosa. Hukum pembolehan ini akan berubah menjadi larangan apabila keluarnya perempuan berakibat terjadinya fitnah. Akan tetapi shalat mereka di rumah tetap lebih utama daripada shalat mereka di masjid. Sesuai dengan pendapat Ibn Rajab dan Ibn Hajar dalam syarahnya.
PENCULIKAN ANAK (ANTARA REALITAS DAN RESPONSIF NORMATIFNYA MENURUT PIDANA ISLAM) Dahyul Daipon
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 1, No 1 (2017): Januari-Juni 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.14 KB) | DOI: 10.30983/jh.v1i1.229

Abstract

Anak adalah amanah yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Kehadirannya selalu dinantikan oleh setiap pasangan. Oleh karenanya orang tua berkewajiban untuk melindungi dan menjaga anaknya secara fisik dan fisikis sehingga terwujud rasa aman pada diri si anak. Disamping itu orang tua juga berkewajiban mendidik anaknya sehingga bisa mengantarkan anaknya menjadi insan kamil. Namun akhir-akhir ini rasa keamanan si anak kembali terusik dengan maraknya kasus penculikan terhadap si anak itu sendiri, mulai dari yang berumur balita sampai belasan tahun. Bahkan kuantitasnya selalu meningkat tahun demi tahun. Menurut Ketua Umum Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan: “bahwa pada tahun 2014 terjadi sebanyak 51 Kasus. Pada tahun 2015, kasus penculikan anak yang masuk ke lembaganya sebanyak 87 kasus. Untuk tahun 2016, jumlah kasus penculikan anak menjadi 112 kasus. Menurut Seto Mulyadi ada beberapa motif penculikan anak, di antaranya adalah: karena uang, pemerasan, mungkin juga dendam, mungkin masalah politik, mungkin juga eksploitasi seksual kemudian perdagangan anak sampai kepada diambil organ tubuhnya untuk diperdagangkan. Bagi Penculiknya menurut hukum Islam harus dikenai hukuman ta’zir baik berupa pidana penjara, denda, dan lain-lain.
LIMITED GENDER KNOWLEDGE OF ELEMENTARY SCHOOL’S TEACHERS :A CASE STUDY OF 20 TEACHERS OF SDN 28 DAN 43 RAWANG TIMUR PADANG, WEST SUMATERA Selinaswati Selinaswati
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 2, No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.829 KB) | DOI: 10.30983/jh.v2i2.533

Abstract

This research aims to describe the lack of gender knowledge of 20 teachers in two primary schools in Padang. It is assumed that teachers in primary schools are important to have gender knowledge. This is because primary schools is the basic education for pupils in building their character and constructing their mindset, especially mindset with gender awareness and gender sensitivity attitude. Thus teachers without gender bias and lack of gender knowledge plays an important role for widely spread the gender sensitivity and gender awareness in order to fight the bias gender and discrimination against women.   The research takes qualitative method by using in-depth interview and distribute questioner toward 20 teachers in 2 primary schools. The result showed that most teacher in these two primary schools have lack of knowledge about gender concept and kind of difficult to make different among the definition of sex  and gender concept. This lack of knowledge to some extent affected the learning process with several gender biases in facing their pupils in the school activities. It is recommended in increasing the socialization process of gender knowledge around primary school’s teachers.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kurangnya pengetahuan gender dari 20 guru di dua sekolah dasar di Padang. Diasumsikan bahwa guru di sekolah dasar penting untuk memiliki pengetahuan gender. Ini karena sekolah dasar adalah pendidikan dasar bagi siswa dalam membangun karakter mereka dan membangun pola pikir mereka, terutama pola pikir dengan kesadaran gender dan sikap sensitivitas gender. Jadi guru tanpa bias gender dan kurangnya pengetahuan gender memainkan peran penting untuk menyebarkan kepekaan gender dan kesadaran gender secara luas untuk melawan bias gender dan diskriminasi terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam dan mendistribusikan kuesioner kepada 20 guru di 2 sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru di kedua sekolah dasar ini kurang memiliki pengetahuan tentang konsep gender dan agak sulit untuk membedakan antara definisi jenis kelamin dan konsep gender. Kurangnya pengetahuan sampai batas tertentu mempengaruhi proses pembelajaran dengan beberapa bias gender dalam menghadapi murid-murid mereka dalam kegiatan sekolah. Disarankan dalam meningkatkan proses sosialisasi pengetahuan gender di sekitar guru sekolah dasar.Keyword: Gender, knowledge, elementary school.