cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumbawa,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Articles 268 Documents
ALOKASI PENGGUNAAN REMITTANCE TENAGA KERJA WANITA (TKW) DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA JOROK KECAMATAN UTAN Permata Cita, Fitriah
Jurnal TAMBORA Vol 3 No 3 (2019): EDISI 8
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.556 KB) | DOI: 10.36761/jt.v3i3.400

Abstract

Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui alokasi pengunaan remitansi tenaga kerja wanita terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat dan dari alokasi tersebut jenis alokasi mana yang memberi dampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menggunakan dua metode analisis yaitu analisis kualitatif dengan pendekatan deskriftif dan analisis hirarki proses dengan pengumpulan data dengan cara wawancara. Objek penelitian berjumlah 50 orang dari mantan TKW atau keluarga TKW yang ditentukan dengan cara Convenience sampling. Objek ke dua berjumlah 15 orang pakar yaitu akademisi yang mengerti tentang kesejahteraan dan ditentukan dengan cara purposive sampling. Lokasi penelitian terletak di Desa Jorok Kecamatan Utan Kabupaten Sumbawa. Berdasarkan analisa data yang telah dilakukan didapatkan hasil penelitian bahwa ada dua jenis kategori penggunaan remittance yaitu konsumtif dan produktif, dari penggunaan produktif TKW mengalokasikan dana remittance untuk pendidikan, beli tanah, hewan ternak dan usaha. Sedangkan untuk penggunaan konsumtif yaitu pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kendaraan, bayar hutang dan renovasi rumah. Jika dibandingkan dari setiap kriteria penggunaan produktif, beli tanah merupakan penggunaan yang paling mempengaruhi TKW dalam menggunakan dana remittance dan bersifat jangka panjang. Untuk penggunaan konsumtif, kebutuhan sehari-hari merupakan penggunaan yang paling memberi dampak pada kesejahteraan TKW jangka pendek.
ANALISIS BEBAN KERJA MENTAL PADA STAF UNIT PELAKSANA TEKNIS DENGAN MENGGUNAKAN METODE NASA TLX (STUDI KASUS: UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA) Hudaningsih, Nurul
Jurnal TAMBORA Vol 3 No 3 (2019): EDISI 8
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.844 KB) | DOI: 10.36761/jt.v3i3.401

Abstract

Aktivitas fisik dan mental merupakan poin utama yang menjadi penyebab terjadinya beban kerja yang umumnya dialami oleh staf. Oleh karena itu, beban kerja dapat dikatakan sebagai suatu hubungan antara kemampuan pekerja dengan besarnya tekanan yang dialami dalam melakukan suatu pekerjaan. Umumnya beban kerja yang sering dialami oleh staf Unit Pelayanan Teknis (UPT) adalah beban kerja mental yang diakibatkan oleh kondisi lingkungan kerja (Universitas), toleransi dalam bekerja dan besarnya tekanan yang dialami dalam pekerjaan tersebut.  Lingkup yang menjadi fokus dalam penelitian ini yaitu Universitas Teknologi Sumbawa yang memiliki 10 UPT (UPT Perpustakaan, UPT Pusat Bahasa, UPT Penerimaan Mahasiswa Baru, UPT International Office, UPT Beasiswa, UPT Kerjasama, UPT Teknologi Informasi, UPT Humas dan Protokoler, UPT Ruang Publik Kreatif dan UPT Pengelolaan Hutan Pendidikan dan Penelitian) yang dimana setiap UPT memiliki beban kerja yang berbeda-beda. Pengukuran beban kerja mental dalam penelitian ini menggunakan metode NASA TLX (The National Aeronautics and Space Administration Task Load Index) dengan cara pemberian ratting dan pemberian bobot berupa pengisiaan kuisioner oleh staf di masing-masing UPT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UPT yang memiliki beban kerja mental paling rendah yaitu UPT Perpustakaan (54,5), beban kerja mental sedang yaitu UPT Pusat Bahasa (77,4) , beban kerja mental paling tinggi yaitu UPT Beasiswa (86,4).
UJI EFEKTIFITAS FESES TERNAK (SAPI, KERBAU DAN KUDA). TERHADAP PRODUKSI BIOGAS YANG DIHASILKAN Umam, Khotibul
Jurnal TAMBORA Vol 3 No 3 (2019): EDISI 8
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.271 KB) | DOI: 10.36761/jt.v3i3.402

Abstract

Sumbawa, dengan jumlah populasi yang tinggi dapat menjadi salah satu alternatif dalam pemenuhan kebutuhan energi di masyarakat, dengan memanfaatkan residu (feses) ternak sebagai biogas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis perlakuan yang efektif dalam menghasilkan biogas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan menggunakan sampah sayur (SS), Feses Sapi (FS), Feses Kerbau (FK), dan Feses Kuda (Fku). Fermentor berisi kotoran dan air dengan perbandingan 1:1 difermentasi selama 13 hari. Melalui penelitian ini dilakukan uji efektifitas dengan menggunakan 4 perlakuan yakni sampah sayuran (Kontrol/SS), Feses Sapi, Feses Kerbau, dan Feses Kuda. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa feses kerbau memiliki volume gas yang lebih tinggi yaitu sebesar 75 cm3 sedangkan dari waktu fermentasi kontrol sebagai/ sampah sayuran menujukkan hasil yang lebih cepat namun, tidak menghasilkan nyala api sebagai indikator kandungan biogas yang diharapkan dari penelitian ini. Secara berturut-turut volume gas yang dihasilkan yaitu sampah sayuran 35 cm3 Feses Sapi 45 cm3 Feses Kerbau 75 cm3 dan Feses Kuda 53 cm3 hasil analisis yang dilakukan menggunakan ANOVA One Way dengan uji lanjut Least Significance Different (LSD) menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan dari setiap perlakuan. Selain itu dilakukan juga uji nyala api yang hasilnya menunjukkan bahwa feses sapi yang memiliki waktu nyala terlama yaitu 13 detik dibandingkan dari perlakuan lainnya. oleh karena itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan feses sapi dalam produksi biogas lebih efektif dilihat dari uji nyala.
METODE PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA PROYEK KONSTRUKSI (STUDI KASUS PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MESIN GAS SUMBAWA) Susilawati, Tri; Dharmawansyah, Dedy
Jurnal TAMBORA Vol 3 No 3 (2019): EDISI 8
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.167 KB) | DOI: 10.36761/jt.v3i3.403

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat pekerja maupun perusahaan sebagai upaya mencegah timbulnya kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja dengan cara mengenali hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta tindakan antisipatif apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja dalam penelitian ini penerapan keselamatan dan kesehatan kerja pada proyek PLTMG Sumbawa masih belum maksimal seperti permasalahan alat pelindung diri masih belum dipergunakan sebagai mestinya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori-teori penerapan sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), lingkungan kerja dan kinerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian ini kuantitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi sederhana dan korelasi product moment. Populasi adalah karyawan PT. Wijaya Karya pada proyek kontruksi PLTMG sumbawa yang berjumlah 289 orang. Penentuan sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 158 orang menggunakan Cluster Sumpling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara serempak dapat diketahui penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap kinerja proyek kontruksi berpengaruh dan berhubungan sebesar 3,9 % dan dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,013 < 0,05 hasilnya data normal antara penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan kinerja proyek kontstruksi PLTMG sumbawa. Dari hasil perhitungan t hitung sebesar 2.519 dibandingkan dengan t table sebesar 1,975 taraf signifikansi 5% jadi t hitung > t table maka Ha diterima dan Ho ditolak. Dalam penelitian ini hasilnya bernilai positif yang artinya semakin tinggi penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja maka semakin tinggi kinerja proyek kontruksi. Ini memberi arti bahwa penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sangat menentukan dalam peningkatan kinerja karyawan pada proyek konstruksi PLTMG Sumbawa.
PEMETAAN DAN ANALISIS KOMPETENSI INTI PADA VALUE CHAIN KRE ALANG SEBAGAI PRODUK KHAS SUMBAWA Hudaningsih, Nurul
Jurnal TAMBORA Vol 3 No 3 (2019): EDISI 8
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.532 KB) | DOI: 10.36761/jt.v3i3.404

Abstract

Kre Alang merupakan kain khas Sumbawa yang menjadi identitas bagi masyarakat Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Perkembangan saat ini, Kre Alang tidak hanya dimiliki oleh penduduk Sumbawa. Pada saat ini, produksi 1 lembar Kre Alang memerlukan waktu di atas 1 bulan. Sedangkan harga jual satu lembar Kre Alang di atas 1,5 juta rupiah. Waktu pengerjaan dan harga jual yang cukup tinggi ini menjadi tantangan bagi UKM Kre Alang untuk memenuhi permintaan yang tinggi. Daya saing produk didapatkan melalui pengupayaan strategi yang tepat. Untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki UKM Kre Alang perlu dilakukan suatu perumusan strategi pengembangan yang dapat mengeliminir berbagai kendala yang dihadapi. Pendekatan strategi yang akan dipakai adalah analisis value chain, dimana dalam analisis value chain dapat digunakan sebagai alat analisis stratejik yang digunakan untuk memahami secara lebih baik terhadap keunggulan kompetitif, dimana perusahaan dapat meningkatkan nilai tambah (value added) maupun penurunan biaya sehingga dapat membuat usaha lebih kompetitif. Analisis value chain dilakukan dengan 4 tahapan utama yaitu pengumpulan data primer dan sekunder berhubungan dengan pelaku setiap rantai nilai, aktivitas yang dilakukan oleh pelaku pada setiap rantai nilai nilai tambah dan nilai akhir setiap rantai nilai. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil berupa mapping value chain terdiri pelaku utama adalah supplier, pengrajin Kre alang, wholeseller dan retailer. Berdasarkan analisis value chain, kompetensi inti yang dapat menjadi dasar bagi keunggulan bersaing pengrajin Kre alang di Sumbawa adalah kemampuan para pengrajin dalam proses tenun yang tidak mudah untuk ditiru oleh penenun lain.  
STUDI LAJU UMPAN PADA PROSES BIOKONVERSI DENGAN VARIASI JENIS SAMPAH YANG DIKELOLA PT. BIOMAGG SINERGI INTERNASIONAL MENGGUNAKAN LARVA BLACK SOLDIER FLY (HERMETIA ILLUCENS) ,
Jurnal TAMBORA Vol 4 No 1 (2020): EDISI 9
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1233.532 KB) | DOI: 10.36761/jt.v4i1.550

Abstract

Sampah organik adalah jenis sampah yang jumlahnya terbesar di Indonesia. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka sampah organik tersebut dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan. Salah satu teknologi untuk mengatasinya adalah dengan cara pengomposan menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF). Larva BSF (maggot) memiliki kemampuan dekomposisi yang lebih baik dibandingkan dengan organisme maupun mikroorganisme lainnya. PT. Biomagg Sinergi Internasional (BSI) sebagai lokasi penelitian merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan sampah organik menggunakan metode biokonversi BSF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh laju umpan dan jenis sampah terhadap kecepatan penguraian pada proses biokonversi menggunakan larva BSF di PT. BSI, serta untuk mengetahui hasil analisis mutu biokonversi sampah organik yang dikelola PT. BSI berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 70/Permentan/SR.140/10/ 2011 tentang pupuk organik. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa jenis sampah dan jumlah umpan berpengaruh nyata terhadap nilai biomassa larva. Kemudian, jenis sampah dan jumlah sampah berpengaruh nyata terhadap nilai konsumsi substrat, serta jenis sampah dan jumlah sampah berpengaruh nyata terhadap nilai indeks reduksi limbah. Sedangkan, jenis sampah berpengaruh nyata terhadap nilai tingkat ketahanan hidup larva. Penelitian ini juga membandingkan mutu pupuk hasil biokonversi pada sampel penelitian maupun sampel PT. BSI memenuhi standar persyaratan teknis pupuk organik padat berdasarkan Permentan No. 70/Permentan/SR.140/10/2011.
ANALISIS EDIBLE FILM DARI TEPUNG JAGUNG PUTIH (ZEA MAYS L.) TERMODIFIKASI GLISEROL DAN KARAGENEN ,
Jurnal TAMBORA Vol 4 No 1 (2020): EDISI 9
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.367 KB) | DOI: 10.36761/jt.v4i1.562

Abstract

Edible film berbahan dasar tebung jagung putih dimodifikasi dengan karagianan dan gliserol. Gel dari karagenan dapat meningkatkan kekuatan dan homogenitas suspensi edible film. Sementara gliserol dapat meningkatkan permeabilitas film, selain itu menjadikan film lebih halus dan tidak mudah retak. Tujuan penelitian antara lain mengetahui Kualitas edible film dari tepung jagung putih diketahui dengan cara: karakterisasi dan uji proksimat tepung jagung sebagai bahan baku, analisis sifat fisik dan mekanik edible film, optimasi konsentrasi optimal gliserol dan karagenan. Optimasi konsentrasi dilakukan dengan melakuakan variasi konsentrasi gliserol (5%, 10%, dan 15%) dan konsentrasi karagenan (1%, 2% dan 3%). Karaktistik dan kualitas tepung jagung putih dari Kabupaten Sumbawa menggunakan FTIR dan uji proksimat serta uji warna. Spektra IR menunjukkan bahwa tepung jagung Sumbawa tersusun dari gugus fungsi alkana, alkohol, keton/aldehid, hemiaketal dan hemiasetal yang merupakan gugus fungsi dari molekul karbohidrat. Sementara hasil uji proksimat menunjukkan bahwa tepung jagung Sumbawa memiliki kadar air, abu, lemak, protein, karbohidrat, amilosa, amilopektin serta pati berurut ? turut: 12,61%; 0,72%; 0,08% ;0,41% ;86,17% ;55,40%; 19,84% ;77,30%. Hasil uji warna tepung jagung menunjukkan bahwa tepung jagung tanpa perlakukan memiliki warna putih tulang dan gelap, sehingga dalam penggunaanya sebagai bahan edile film perlu dimodifikasi dengan cara perendaman dalam natrium metabisulfit kemudian difermentasi untuk mengurangi kadar asam fitat yang bersifat antinutrisi dalam tepung jagung. Sifat fisik dan mekanik dari edible film berbahan dasar tepung jagung putih diketahui menggunakan uji warna, kuat tarik dan persen pemanjangan film didukung oleh FTIR. Hasil FTIR menunjukkan pengaruh gliserol dan karagenan terlihat dari vibrasi ikatan O?H (3400-3300 cm-1), vibrasi ikatan CH2 (1465 ) overlap dengan vibrasi ikatan S?O, S?O pada karagenan, vibrasi ikatan C?O, C?O (1600 cm-1, 1200-1020 cm-1) yang terlihat pada spektra IR edibe film G5%K2%. Konsentrasi optimal gliserol dan karagenan dalam pembuatan edible film tepung jagung putih yakni: gliserol 5-10% dan karagenan 3% sebab memiliki elongasi dan kuat tarik optimum serta warna edible film yang cerah. Elongasi dan kuat tarik optimum berturut - turut : 40 ? 43.33%; 2,4 ? 3,6 N. Hasil uji warna sampel edible film dengan kandungan gliserol 5-10% dan karagenan 3% menunjukkan index keputihan 54-58.
PENGARUH VARIASI HEAT ABSORBER PLATE TERHADAP PERFORMANCE SOLAR DRYER KEMIRI ,; ,
Jurnal TAMBORA Vol 4 No 1 (2020): EDISI 9
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.33 KB) | DOI: 10.36761/jt.v4i1.565

Abstract

Indonesia salah satu tanaman yang tumbuh dan berbiji tumbuh memiliki banyak manfaat yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, yaitu kemiri. Penanganan kemiri pasca panen di tingkat petani umumnya masih dilakukan secara tradisional di mana kemiri dikeringkan di lantai atau oleh paparan langsung radiasi matahari. Mereka membutuhkan sekitar 7-9 hari untuk mendapatkan hasil pengeringan yang tepat. Pengeringan kemiri dipengaruhi oleh intensitas radiasi matahari pada suhu dan waktu pengeringan sesuai dengan kandungan hazelnut yang diperlukan. kemiri kering dapat menggunakan tenaga radiasi matahari yaitu pengering matahari. Plat penyerap adalah salah satu komponen yang sangat penting karena berfungsi menyerap intensitas radiasi matahari dan mengubahnya menjadi energi panas dan memindahkannya ke benda kerja (kemiri) di atasnya. Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan pada variasi pelat penyerap seng, aluminium dan besi serta variasi ketebalan pelat penyerap. Pengumpulan data dimulai pada pukul 09:00 hingga 15:00 WITA dalam kondisi cuaca cerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelat penyerap aluminium dengan ketebalan 0,04 mm lebih efektif dan efisien dalam mengeringkan kemiri untuk meningkatkan produktivitas kemiri. Suhu pelat penyerap tertinggi dan waktu pengeringan ditemukan pada pelat penyerap aluminium dengan ketebalan 0,4 mm yaitu 72,36 oC dan waktu pengeringan 6 jam dan memenuhi standar kadar air larutan kemiri, yaitu 5,3%.
PEMANFAATAN SERAT SISAL (AGAVE SISALANA L.) DAN LIMBAH PLASTIK PET UNTUK PEMBUATAN BATA RINGAN CLC (CELLULAR LIGHTWEIGHT CONCRETE) ,
Jurnal TAMBORA Vol 4 No 1 (2020): EDISI 9
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.349 KB) | DOI: 10.36761/jt.v4i1.566

Abstract

Beberapa waktu lalu di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami guncangan gempa yang sangat menggemparkan masyarakat sehingga banyak bangunan yang hancur dan rata dengan tanah. Sementara saat ini pemanfaatan limbah plastik sedang menjadi perhatian masyarakat maupun pemerintah terutama diwilayah NTB. Sehingga latar belakang inilah yang menjadi dasar penelitian untuk membuat bata ringan tahan gempa dengan memanfaatkan limbah plastik PET untuk menggantikan agregat kasar sebagai campuran dan memanfaatkan serat sisal sebagai penguat (reinforce) untuk meningkatkan kekuatan bata ringan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan bata ringan jenis CLC (Cellular Lightweight Concrete) dengan memanfaatkan limbah plastik PET dan serat sisal, untuk mengetahui pengaruh penambahan plastik PET maupun serat sisal terhadap sifat mekanik bata ringan, serta untuk mengetahui komposisi optimum dari penambahan plastik PET dan serat sisal pada pembuatan bata ringan CLC. Penggunaan plastik PET dan serat sisal menghasilkan bata dengan massa jenis rata-rata 1.830,419 kg/m3 untuk sampel variasi 1:1, 1.880 kg/m3 untuk sampel variasi 4 : 1, dan 1.887,654 kg/m3 untuk sampel variasi 1 : 4. Kekuatan tekan maksimum dicapai pada sampel variasi 1:4 yaitu sampel dengan penambahan serat sisal 4 kali lebih banyak dari plastik PET. Berdasarkan hasil pengukuran massa jenis bata, hanya sampel variasi 1:1 yang memenuhi standar SNI 2847-2013 bata ringan (1.140-1.840 kg/m3). Penambahan serat sisal yang lebih banyak 4 kali dari plastik PET (sampel variasi 1:4) memiliki nilai kekuatan tekan paling tinggi yaitu 8,5MPa dan masuk dalam kategori bata ringan mutu I.
ANALISIS KANDUNGAN ASAM ASKORBAT PADA TANAMAN KANGKUNG (IPOMOEA REPTANA POIR), BAYAM (AMARANTHUS SPINOSUS), DAN KETIMUN (CUCUMIS SATIVUS L) ,
Jurnal TAMBORA Vol 4 No 1 (2020): EDISI 9
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.722 KB) | DOI: 10.36761/jt.v4i1.567

Abstract

Tumbuhan memiliki mekanisme pertahanan terhadap peningkatan senyawa-senyawa oksidatif yang terbentuk akibat cekaman kekeringan. Pembentuk senyawa tersebut salah satunya asam askorbat. Askorbat merupakan senyawa metabolit utama pada tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai antioksidan, yang melindungi tanaman dari  kerusakan oksidatif yang dihasilkan dari metabolisme aerobik. Tujuan penelitian melakukan standarisasi dan menganalisis kandungan Askorbat (ASA) pada daun tanaman kangkung (Ipomoea reptana Poir), bayam (Amaranthus spinosus) dan ketimun (Cucumis sativus, L). Metode yamg digunakan Sampel daun sebanyak 0,5 g digerus dengan asam metafosforik 5%. Larutan yang diperoleh dititrasikan dengan dichlorophenol-indophenol (DCIP) 0,8 g/l.  Perlakuan analisis kandungan asam askorbat (ASA) pada jaringan tanaman ini yang memiliki kandungan asam askorbat terbesar pada tanaman ketimun (Cucumis sativus L) sebesar 69855,85; kemudian diikuti tanaman kangkung (Ipomoea reptana Poir) sebesar 66517,24 dan terakhir pada bayam (Amaranthus spinosus) sebesar 38859,13. Dan mg ASA standar 308.

Page 9 of 27 | Total Record : 268