cover
Contact Name
Hayati Minarsih
Contact Email
menaraperkebunanppbbi@gmail.org
Phone
-
Journal Mail Official
menaraperkebunan@iribb.org
Editorial Address
Jalan Taman Kencana No.1 Bogor 16128, Jawa Barat
Location
Kab. bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Menara Perkebunan
ISSN : 01259318     EISSN : 18583768     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Menara Perkebunan as a communication medium for research in estate crops published articles covering original research result on the pre- and post-harvest biotechnology of estate crops. The contents of the articles should be directed for solving the problems of production and/or processing of estate crops of smallholder, private plantations and state-owned estates, based on the three dedications of plantation. Analyses of innovative research methods and techniques in biotechnology, which are important for advancing agricultural research. Critical scientific reviews of research result in agricultural and estate biotechnology.
Arjuna Subject : -
Articles 541 Documents
Biosorpsi ion merkuri menggunakan jamur pelapuk putih imobil [Biosorption of mercury ion using immobile white-rot fungi] Firda DIMAWARNITA; Tri PANJI; Suharyanto MULYOPRAWIRO
E-Journal Menara Perkebunan Vol 85, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.192 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v85i1.227

Abstract

Meningkatnya aktivitas pertambangan membawa dampak negatif bagi lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Merebaknya kasus-kasus kerusakan lingkungan mulai dari yang kecil sampai ke tahap yang bersifat serius di Indonesia merupakan dampak dari terakumulasinya kerusakan dalam jangka waktu yang relatif lama. Limbah pertambangan masih mengandung logam berat, salah satunya Hg(II). Limbah tersebut berpotensi mencemari perairan dan lahan pertanian bila tidak ditangani dengan baik.  Usaha untuk mengatasi limbah tailing dan sekaligus memekatkan (recovery) logam di dalamnya dapat dilakukan dengan proses biosorpsi menggunakan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan menetapkan kemampuan biomassa Jamur Pelapuk Putih(JPP) yang diamobilisasi dengan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dalam mengabsorpsi logam berat Hg (II).  Hasil seleksi JPP berdasarkan laju pertumbuhan dalam media mengandung logam berat Hg (II) dan penyerapan logam berat telah diperoleh kandidat JPP unggul yaitu Omphalina sp. Dalam media PDB,  Omphalina sp. toleran terhadap Hg (II) sampai dengan konsentrasi 5 ppm. Biomassa Omphalina sp. yang diamobilisasi dengan TKKS mampu menurunkan hingga 84-96% logam berat Hg (II) pada pH 4,0 selama 60 menit. Kapasitas biosorpsi Omphalina sp. amobil maksimum (q max) untuk Hg (II) sebesar 0,1619 mg/g sehingga berpotensi untuk bio-konsentrasi logam berat. 
Identifikasi isolat Phytophthora asal kakao Identification of isolates of Phytophthora from cocoa Abu UMAYAH; Agus PURWANTARA
E-Journal Menara Perkebunan Vol 74, No 2: Desember 2006
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.966 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v74i2.108

Abstract

Summary Phytophthora spp. are responsible for some serious diseases of cocoa including pod rot, stem canker, leaf blight, seedling blight, and chupon wilt. Eight species of Phytophthora have been isolated from diseased cocoa worldwide, even though only three species cause most losses in cocoa production.  Twenty isolates of  Phytophthora sp. were isolated from various parts of the cocoa tree collected from six cocoa producing provinces in Indonesia, viz. North Sumatera, Lampung, West Java, East Java, South Sulawesi and Southeast Sulawesi.  All isolates were then identified using their morphological charac-teristics and it was concluded that all of the isolates are Phytophthora palmivora. This identification was then confirmed with molecular identification by amplification of ITS of rDNA of the isolates with primers ITS 4 and ITS 5, followed by restriction of the amplicon with enzymes.  The molecular identification confirmed that all isolates are P. palmivora. Ringkasan Phytophthora spp. merupakan penyebab beberapa penyakit penting pada kakao, termasuk busuk buah, kanker batang, hawar daun, hawar bibit, dan layu tunas air.  Delapan spesies Phytophthora telah berhasil diisolasi dari tanaman kakao sakit di seluruh dunia, meskipun hanya tiga spesies yang meng-akibatkan kehilangan produksi kakao yang nyata.  Dua puluh isolat Phytophthora sp. telah diisolasi dari berbagai bagian tanaman kakao yang dikumpulkan dari enam provinsi sentra produksi kakao di Indonesia, yaitu Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.  Semua isolat diidentifikasi berdasarkan sifat-sifat morfologi dan dapat disimpulkan bahwa semua isolat adalah Phytophthora palmivora.  Identifikasi selanjutnya dilakukan secara molekuler dengan amplifikasi daerah ITS dari rDNA isolat menggunakan pasangan primer ITS 4 dan ITS 5, kemudian diikuti dengan pemotongan amplikon menggunakan enzim restriksi. Identifikasi molekuler juga menun-jukkan bahwa semua isolat Phytophthora penyebab penyakit pada kakao adalah P. palmivora.
Penetapan penambatan N 2 Rhizobacterium secara kuantitatif dengan teknik isotop 15 N Quantitative assessment of N 2 fixing Rhizobacterium using isotope 15 N technique Laksmita Prima SANTI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 81, No 2: Desember 2013
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.73 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v81i2.35

Abstract

AbstractAbility to quantify the amounts of N 2 fixed in agri-cultural land is critical to manage the N cycle for optimalfood and plantation crop production. Isotope and relatednuclear technique such as 15 N isotope dilution technique hasplayed a significant role in nutrient management analysis forquantification of biological N 2 fixation. The largest pool of Nin the environment is atmospheric N 2 and it has a constantnatural abundance of 0.3663 % atom15 N. 15 N is a stableisotope of N and used as a unique tracer to evaluate thepotential of N 2 fixing bacteria, especially symbiotic and non-symbiotic Rhizobacterium. A field experiment has beeninitiated at IBRIEC to assess the N 2 fixing capacity ofrhizobacterium isolated from sandy textured soil at CentralKalimantan and evaluate the potential of bacteria N 2 fixingon corn (Zea mays). Field experiment has been conducted atCiomas Research Station, IBRIEC-Bogor for four months.The field experiment has been organized according to themethod of Randomized Complete Blocks Design with sixtreatments and three replicates. The results of this studysuggested that the method was reliable for estimation of %Ndfa as well as quantitative analysis of the amount of N fixedfrom the atmosphare. The proportion of N 2 uptake derivedfrom the atmophere was estimated as 32% of the whole plantbasis which was equivalent to approximately 4.8 kg N/ha.The inoculation of Rhizobacterium increased dry matter ofcorn leaves, roots, and grains significantly.AbstrakKemampuan penetapan jumlah N 2 yang dapat ditambatpada lahan pertanian merupakan suatu hal yang penting untukmengatur siklus N sebagai upaya mencapai tingkat produk-tivitas yang optimal di tanaman pangan dan perkebunan.Teknik isotop atau yang berhubungan dengan teknologinuklir seperti isotop 15 N memiliki peran signifikan di dalammanagemen kebun berbasis nutrisi untuk mengkuantifikasipenambatan N 2 secara biologi. Cadangan N terbesar di dalamlingkungan adalah N 2 atmosfer. Cadangan ini memilikikelimpahan alami yang stabil pada 0,3663 % atom 15 N. 15 Nmerupakan isotop yang stabil dan digunakan sebagai pelacakyang bersifat spesifik untuk mengevaluasi bakteri penambatN 2 potensial, khususnya bakteri di daerah perakaran, baikyang bersifat simbiotik ataupun non simbiotik. Penelitianterkait dengan uraian di atas telah dilakukan di BalaiPenelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dengan tujuan untuk menetapkan kemampuan menambatnitrogen dari Rhizobacterium yang diisolasi dari tanahtekstur berpasir asal Kalimantan Tengah serta mengevaluasipotensi bakteri dalam menambat N 2 pada tanaman jagung(Zea mays). Percobaan lapang dilakukan di Kebun PercobaanCiomas, BPBPI selama empat bulan. Kegiatan di lapangdidesain dalam Rancangan Acak Kelompok dengan enamperlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkanbahwa metode isotop 15 N dapat diaplikasikan untuk mem-perkirakan persentase N 2 yang ditambat dari atmosfer (Ndfa).Proporsi N yang diambil dari atmosfer diperkirakan sebesar32% dari seluruh bagian tanaman jagung yang setara dengan4,8 kg N/ha. Perlakuan inokulasi dengan Rhizobacteriummeningkatkan bobot kering daun, akar, dan pipilan jagungsecara signifikan.
Solubilization of silicate from quartz mineral by potential silicate solubilizing bacteria (Pelarutan silika asal mineral kuarsa oleh bakteri pelarut silika potensial ) Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 85, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.584 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v85i2.247

Abstract

Silicon (Si) is the second most abundant materials, existing as a compound of several minerals in the soil varies from 50 to 400 g Si per kg of soil.  Silicon has positive influence on the plant resistance to various abiotic and biotic stressors such as salinity, drought, heavy metal toxicities and diseases. Although Si is abundant in soil, most of its sources are not available for plant uptake due to low solubility of Si compounds in soil.  To improve plant-available Si in the soil, silicate solubilizing bacteria (SSB) are potentially important in solubilizing insoluble forms of silicate. The objectives of this study were to determine: (i) biochemical characteristics of SSB, and (ii) silicate solubilizing activity of Burkholderia cenocepacia KTG, Aeromonas punctata RJM3020, and B. vietnamiensis ZEO3 in magnesium trisilicate (2MgO·3SiO2) and quartz mineral. A laboratory study was conducted at Microbiology and Environment Laboratory, the Indonesian Research Institute for Biotechnology and Bioindustry, Bogor, in 2016. All SSB were grown on Bunt and Rovira media containing 0.25% magnesium trisilicate or quartz mineral as substrate, respectively. Silica solubilizing activities by SSB were determined by using inductively coupled plasma-atomic emission spectrometry while organic acid concentration in the culture were measured by using high-performance liquid chromatography (HPLC).  The results indicate that no correlation between solubilizing silicate activity and clear zone on solid Bunt and Rovira media. B.cenocepacia KTG, A.punctata RJM 3020, and B. vietnamiensis  ZEO3 isolates were capable of producing citric, acetic, and oxalic acid in various optimum incubation time and accelerating the solubilization of SiO2 originated from quartz with Si solubility at 96-hour incubation time are 0.76; 0.86; and 0.70 ppm respectively. [Key words:  Silicate solubilizing bacteria (SSB); Burkholderia cenocepacia KTG, A. punctata RJM 3020, B. vietnamiensis ZEO3, and silisic acid]. Abstrak Silika (Si) merupakan unsur kedua paling banyak dijumpai di dalam tanah dengan  konsentrasi yang sangat beragam antara 50-400 g Si per kg tanah.  Silika memberikan pengaruh positif pada ketahanan tanaman terhadap berbagai cekaman abiotik dan biotik seperti salinitas, kekeringan, toksisitas logam berat, dan penyakit.  Meskipun berlimpah, sebagian besar sumber Si tidak tersedia bagi tanaman, karena kelarutan senyawa Si di dalam tanah cukup rendah. Untuk meningkatkan kelarutan Si di dalam tanah, bakteri pelarut silika berperan penting melarutkan silika dalam bentuk tidak larut.  Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan: (i)karakterisasi secara biokimia bakteri pelarut silika, dan (ii) kemampuan melarutkan silika dari sumber magnesium trisilika dan mineral kuarsa oleh Burkholderia cenocepacia KTG, Aeromonas punctata RJM3020, dan B. vietnamiensis ZEO3. Kegiatan penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Lingkungan, Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, Bogor, tahun 2016. Bakteri pelarut silika potensial ditumbuhkan di dalam medium Bunt dan Rovira yang mengandung masing-masing 0, 25% magnesium trisilikat atau kuarsa sebagai substrat. Aktivitas pelarutan silika oleh bakteri pelarut silika ditetapkan dengan spektrofotometer emisi atom dan produksi asam organik diukur dengan kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC).  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara aktivitas pelarutan silika dengan zona jernih yang terbentuk dalam medium padat Bunt dan Rovira. Isolat B. cenocepacia KTG, A. punctata RJM3020, dan B. vietnamiensis ZEO3 dapat menghasilkan asam sitrat, oksalat, dan asetat dengan waktu inkubasi optimum yang bervariasi. Ketiga isolat tersebut juga dapat melarutkan SiO2 yang berasal dari mineral kuarsa dengan nilai kelarutan Si pada inkubasi 96 jam masing-masing sebesar 0,76;0,86; dan 0,70 ppm. [Kata kunci:  bakteri pelarut silika, Burkholderia cenocepacia KTG, A. punctata RJM 3020, B. vietnamiensis ZEO3, asam silikat.]    
Aktivitas ACCase mesokarp kelapa sawit dan kloning fragmen gen penyandi ACCase subunit biotin karboksilase ACCase activity of oil palm mesocarp and cloning of gene fragment encoding biotin carboxylase subunit of ACCase Asmini BUDIANI; Djoko SANTOSO; Hajrial ASWIDINNOOR; Antonius SUWANTO
E-Journal Menara Perkebunan Vol 74, No 1: Juni 2006
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.725 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v74i1.119

Abstract

Summary Genetic engineering to produce high yielding oil palm might be done by over expressing gene encoding key enzyme for oil biosynthesis in the oil palm mesocarp, one of which is ACCase. The objective of this research was to analyze ACCase activity of mesocarp from several developmental stages of fruit and to clone conserved region cDNA of gene encoding biotin carboxylase subunit of ACCase (BC-htACCase) from oil palm mesocarp. Activity of ACCase was analyzed by HPLC. Amplification of cDNA was done by means of reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) using degenerate heterologous primer on several annealing temperature and MgCl2 concentration. The cDNA fragment of RT-PCR product was cloned, sequenced and analyzed to confirm that the cloned cDNA was conserved region of BC-htACCase. The result showed that ACCase activity increased from the 14 week to the 20 week-old fruit, and then decreased. Using heterologous degenerate primers, cDNA fragments of BC-htACCase conserved region (469 bp) can be specifically amplified at 60 oC annealing temperature with 2 mM MgCl2 concentration.The result of BlastX analysis showed that the sequence of cloned cDNA fragment was highly homologous with the conserved region of BC-htACCase from Glycine max, Arabidopsis thaliana, Nicotiana tabacum,  and Brassica napus with 243, 237, 236, 231 bit score, and E. value 2e-63, 1e-61, 2e-61 and 5e-60, respectively. Ringkasan Rekayasa genetika untuk menghasilkan bibit kelapa sawit berdaya hasil tinggi dapat ditempuh dengan meningkatkan ekspresi gen penyandi enzim kunci biosintesis minyak pada kelapa sawit, salah satunya adalah ACCase. Tujuan penelitian ini adalah menguji aktivitas ACCase mesokarp beberapa tahap perkem-bangan buah sawit dan mengklon fragmen cDNA daerah konservatif gen penyandi ACCase heteromerik subunit biotin karbok-silase (BC-htACCase) dari mesokarp buah sawit. Aktivitas ACCase dianalisis dengan HPLC. Amplifikasi cDNA dilakukan dengan teknik RT-PCR menggunakan primer degene-rate heterologus pada berbagai suhu penempelan dan konsentrasi MgCl2. Fragmen cDNA hasil RT-PCR diklon, disekuen dan dianalisis untuk mengkonfirmasi bahwa cDNA terklon adalah daerah konservatif BC-htACCase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ACCase meningkat dari buah berumur 14 minggu hingga buah berumur  20 minggu, kemudian menurun kembali Dengan primer degenerate heterologus, fragmen cDNA daerah konservatif BC-htACCase  (469 pb) dapat diamplifikasi secara spesifik pada suhu penempelan 60 oC dan konsentrasi MgCl2 2 mM. Hasil analisis BlastX dari sekuen DNA fragmen terklon menunjuk-kan bahwa sekuen tersebut mempunyai homologi tinggi antara lain dengan gen penyandi BC-htACCase dari Glycine max, Arabidopsis thaliana, Nicotiana tabacum dan Brassica napus, masing-masing dengan skor 243, 237, 236, 231 bit, dan E. value 2e-63, 1e-61, 2e-61 dan 5e-60.
Pola aktivitas enzim ligninolitik Pleurotus ostreatus pada limbah sludge pabrik kertas Activity pattern of ligninolytic enzyme of Pleurotus ostreatus in sludge waste of paper factory Happy WIDIASTUTI; . TRI-PANJI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 76, No 1: Juni 2008
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.108 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v76i1.95

Abstract

Summary Sludge is a solid waste abundantly available on paper factory that is economically unutilized and tends to pollute environment. This waste can be used as growth media for oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) as edible mushroom and ligninolytic enzymes production as well. A research has been conducted to study the activity pattern of ligninolytic enzymes of oyster mushroom grown on the sludge waste of recycle paper factory. Six treatments were examinated consisted of three media combinations (sawdust, sludge, sludge mixed with sawdust), with and without supplementing with rice bran, lime, and gypsum, and two mushroom strains Bogor oyster mushroom (JTB) and China Taipei oyster mushroom (JTT). Monitoring of ligninolytic enzyme activity consisting of laccase, mangan peroxidase (Mn-P) and lignin peroxidase (Li-P),  was subsequently regularly started since inoculation, at vegetative phase (four and six weeks), primordial formation, phase of fruiting body formation, and two weeks after formation of fruiting body. Each treatment was repeated three times, so that 216 bag logs of oyster mushroom cultures were performed. The results showed that laccase, Mn-P, and Li-P activities could be observed on sludge or mixture of sludge+sawdust media inoculated with P. ostreatus. Generally, the highest activity of ligninolytic enzymes especially for laccase and MnP were observed at the first vegetative growth phase i.e. before emerging primordial of fruiting body (1.697 & 2.113 U/mL, 4.394 & 2.314 U/mL  respectively for JTB and JTT laccase and JTB & JTT Mn-P). The highest Li-P activity was affected by the kind of media and strain of inoculum. In sludge medium, the highest Li-P activity was observed in  vegetative growth phase (2.706 & 4.014 U/mL respectively for JTB and JTT) while in a mixture of sludge + sawdust the highest activity of that enzyme was observed in primordial phase of growth (2.509 & 1.9 U/mL respectively for JTB and JTT). Addition of supplement to the sludge increased ligninolytic activity, while laccase activity of sludge was suggested could be more enhanced by mixing the sludge with sawdust and enrich with rice bran, gypsum and lime. Ringkasan                                                Sludge merupakan limbah padat yang tersedia melimpah di pabrik kertas dan belum dimanfaatkan secara ekonomis sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Limbah ini dapat dimanfaatkan sebagai medium tumbuh jamur konsumsi seperti jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dan penghasil enzim ligninolitik. Penelitian dilakukan untuk mempelajari pola aktivitas enzim ligninolitik jamur tiram pada limbah sludge pabrik kertas selama fase vegetatif sampai setelah fase generatif. Enam perlakuan yang diuji berupa tiga kombinasi komposisi medium (serbuk gergaji, sludge, campuran sludge dan serbuk gergaji), dengan dan tanpa pengayaan, yaitu penambahan dedak, kapur, dan gipsum,  serta dua strain jamur tiram Bogor (JTB) dan jamur tiram China Taipei (JTT). Pengamatan aktivitas enzim ligninolitik meliputi lakase, mangan peroksidase (Mn-P) dan lignin peroksidase  (Li-P) dilakukan sejak saat inokulasi, pada fase vegetatif (empat dan enam minggu), pada saat pembentukan primordia, fase tubuh buah, dan dua minggu setelah pembentukan tubuh buah. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 216 bag log jamur tiram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ligninolitik dijumpai pada medium sludge dan campuran sludge+serbuk gergaji yang diino-kulasi P. ostreatus. Aktivitas enzim ligninolitik tertinggi khususnya lakase dan MnP teramati pada fase pertumbuhan vegetatif pertama yaitu sebelum terbentuknya primordia (1,697 & 2,113 U/mL, 4,394 & 2,314 U/mL  masing-masing untuk lakase JTB dan JTT dan MnP  JTB & JTT). Aktivitas LiP tertinggi dipengaruhi oleh jenis medium dan strain inokulum. Pada medium sludge, aktivitas LiP tertinggi dijumpai pada fase vegetatif (2,706 & 4,014 U/ml masing-masing untuk JTB dan JTT) sedangkan pada medium campuran sludge+serbuk gergaji, aktivitas enzim  ter-tinggi dijumpai  pada fase primordia (2,509 & 1,9 U/ml berturut-turut untuk JTB dan JTT). Pengayaan sludge meningkatkan aktivitas ligninolitik, sedangkan aktivitas lakase pada sludge diduga dapat lebih ditingkatkan dengan menambahkan serbuk gergaji disertai pengayaan berupa gipsum, dedak, dan kapur.
Produksi dan karakterisasi lakase Omphalina sp. Production and characterization of Omphalina sp. laccase . SISWANTO; . SUHARYANTO; Rossy FITRIA
E-Journal Menara Perkebunan Vol 75, No 2: Desember 2007
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.919 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v75i2.177

Abstract

SummaryOmphalina sp. a white-rot fungi (WRF)originated from oil palm plantation has abilityto degrade empty fruit bunches of oil palm(EFBOP) so that it is expected to producelaccase with high activity. The ability ofOmphalina sp. to produce laccase enzyme onliquid fermentation will be studied. The enzymewill also be partially purified andcharacterized. The research result showed thatthe highest enzyme activity (1.162 U/mL) wasobtained using glucose malt yeast (GMY)medium at room temperature for four days.The addition of 2,5-xylidine as an inducerproduced laccase earlier i.e two days, but theactivity of laccase was less active afterprolonged incubation compared to that ofcontrol. The laccase produced on mediumcontaining 2% EFBOP reached optimumactivity as much as 0.38 U/mL after 10 th daysof incubation. Partial purification of laccaseon Sephacryl S-200 HR column resulted58.23% of yield recovery with twice purity thanbefore. The optimum pH of laccase was 4.5.Laccase activity was stable even after heatedon 50 o C for 30 minutes, but then decreasedwhen heated until 60 o C. The laccase has K Mand V max as much as 0.15 mM and 0.56 U/mLrespectively.RingkasanOmphalina sp., adalah fungi pelapuk putih(FPP) hasil isolasi dari kebun kelapa sawityang diketahui mampu mendegradasi tandankosong kelapa sawit (TKKS) dengan cepatsehingga diharapkan mampu menghasilkanlakase dengan aktivitas tinggi. KemampuanOmphalina sp. menghasilkan enzim lakasepada fermentasi cair akan dipelajari. Selain itu,lakase yang dihasilkan akan dimurnikan secaraparsial serta dilakukan karakterisasi pH, suhu,dan konsentrasi substrat optimum. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa Omphalina sp.menghasilkan lakase dengan aktivitas tertinggi(1,162 U/mL) pada medium glucose malt yeast(GMY) yang diinkubasikan pada suhu ruangselama empat hari. Penambahan 2,5-xilidinsebagai induser mempercepat produksi lakaselebih awal yaitu dalam waktu dua hari, namunaktivitasnya masih lebih rendah dibandingkandengan kontrol pada inkubasi lebih lanjut.Lakase dari Omphalina sp. juga dapatdiproduksi pada medium yang mengandung2% TKKS dan aktivitasnya mencapai0,38 U/mL yang diinkubasi dalam suhu ruangselama 10 hari. Pemurnian parsial pada kolomSephacryl S-200 HR menghasilkan rendemensebesar 58,23% dengan kemurnian dua kalinya.Aktivitas lakase optimum pada pH 4,5 dantetap stabil setelah pemanasan selama 30 menitpada suhu ruang hingga 50 o C dan menuruntajam pada suhu 60 o C. Lakase Omphalina sp.menghasilkan nilai K M dan V maks masing-masing sebesar 0,15 mM dan 0,56 U/mL.
Mikropropagasi planlet tebu menggunakan sistem perendaman sesaat (SPS) Micropropagation of sugarcane plantlets using temporary immersion system (TIS) Hayati MINARSIH; Imron RIYADI; . SUMARYONO; Asmini BUDIANI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 81, No 1: Juni 2013
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.502 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v81i1.53

Abstract

bstractTo achieve Indonesian sugar self-sufficiency in2014, the national production needs to be escalatedthrough land extensification that requires a largenumbers of cane planting materials. This can be achievedby mass propagation of sugarcane through in vitroculture. Solid medium is commonly used for callusproliferation in sugarcane tissue culture. However, solidmedium is considered inefficient in terms of plantletproduction level, labour and space. The use of liquidmedium may solve the problem by allowing automationto increase plantlet production scale and uniformity.Temporary immersion system (TIS) is based on a shortperiodic immersion of explants in a liquid medium for aspecific frequency and duration. Research on in vitromass propagation of sugarcane using TIS was conductedat the Indonesian Biotechnology Research Institute forEstate Crops. Callus initiated from immature unfoldedleaves of PSJT 941 and PS 881 was cultured on liquidMS medium in TIS with different frequencies (12 and24 h) and durations (1 and 3 min) of immersion. Eachtreatment was replicated three times. The callus biomassof two elite cane varieties (PSJT 941 and PS 881)cultured in TIS for six weeks was higher (2 – 4 times fold)than that of on solid medium. The PSJT 941 varietyreached the highest calli biomass with immersion forthree min every 24 h. However, PS 881 variety reachedits highest biomass with immersion for one minute every24 h. The propagation of sugarcane using TIS culturewas proven to produce higher calli biomass up to fourfolds and to form more numbers and uniform shootscompared to the solid medium culture. The callus wassuccesfully regenerated to shoots and plantlets.AbstrakUntuk mencapai swasembada gula, perlu dilakukanpeningkatan produksi gula nasional melalui perluasanareal pertanaman tebu sehingga diperlukan bibit dalamjumlah besar. Hal tersebut dapat diatasi antara laindengan perbanyakan tebu melalui kultur in vitro. Peng-gunaan medium padat pada perbanyakan kalus tebumelalui kultur in vitro merupakan teknik yang umumdigunakan saat ini. Akan tetapi penggunaan mediumpadat dianggap kurang efisien dalam hal jumlah planletyang diproduksi, tenaga kerja dan ruang digunakan.Penggunaan medium cair dapat mengatasi kelemahantersebut dengan dimungkinkannya otomatisasi sehinggadapat meningkatkan skala produksi secara massal dankeseragaman planlet. Sistem perendaman sesaat (SPS)merupakan teknik kultur in vitro dalam medium cairmenggunakan bejana bersekat dimana kontak antaraeksplan dan medium terjadi hanya secara sesaat danperiodik. Penelitian perbanyakan massal bibit tebumelalui SPS dilakukan di Balai Penelitian BioteknologiPerkebunan Indonesia. Kalus diinisiasi dari daun meng-gulung varietas PSJT 941 dan PS 881 yang ditumbuhkanpada media MS cair dalam kultur SPS dengan frekuensiyang berbeda (12 dan 24 jam) dan lama perendaman (1dan 3 menit). Setiap perlakuan diulang tiga kali. Bobotbasah (biomassa) kalus dari dua varietas tebu (PSJT 941dan PS 881) yang ditumbuhkan dengan metode SPSsetelah enam minggu menunjukkan pening-katan yanglebih tinggi yaitu antara 2 - 4 kali lipat dibandingkandengan kontrol (media padat). Peningkatan biomassatertinggi pada varietas PSJT 941 diperoleh pada per-lakuan SPS dengan interval perendaman 24 jam dan lamaperendaman tiga menit. Sedangkan pada PS 881,peningkatan tertinggi biomassa diperoleh pada intervalperendaman 24 jam dan lama perendaman satu menit.Perbanyakan dengan metode SPS terbukti dapat mening-katkan biomassa kalus lebih dari empat kali lipat danpembentukan tunas yang lebih seragam dibandingkandengan pada media padat. Kalus yang dihasilkan dapatdiregenerasikan menjadi tunas dan planlet.
Isolasi dan karakterisasi gen dehydrin dari tebu (Saccharum officinarumL.) yang terlibat dalam respon toleransi cekaman kekeringan (Isolation and characterization of dehydrin gene from sugarcane (Saccharum officinarum L.) involved in drought tolerance response) Hayati MINARSIH; . FANIAR; Tati KRISTANTI; Dian M AMANAH; . SUSTIPRIJATNO; Sony SUHANDONO
E-Journal Menara Perkebunan Vol 86, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (911.595 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v86i2.300

Abstract

Nowadays,the development of molecular biology techniques has enabled to engineer drought tolerant sugarcane to accelerate thebreeding program. Dehydrin(DHN)that belong to the group II late embryogenesis abundant (LEA) family is known to havean important role in plant response and adaptation to abiotic stresses (drought, high salinity, cold, heat, etc.). Literature study and bioinformatics analysis reported that DHN1gene on sugarcane showed high homology sequences with sorghum DHN. The expression of DHN1gene on sugarcane var. PSJT 941 treated with various periodof drought stress had been conducted using semi-quantitative reverse transcriptase (RT)-PCR method. The results showed that the expressionlevel of DHN1 geneincreased along withthe increased period of the treatment. The highest expression level of DHN1 gene was resulted from plants that had been subjected to drought for 25 days. Amplification of DHN1gene  from plants withthe highest gene expression, resulted an amplicon  with a size of 465 bp which representsa full length coding sequence (CDS) of DHN1. Identification using Blast analysis showed that DHN1sequences  from sugarcane var. PSJT 941 shared high homology with DHN gene on sugarcane and sorghum. The alignment results also revealed a conserved motif that characterized DHN genes.[Key words: drought stress, dehydrin, DHN1gene, sugarcane]Abstrak Dengan berkembangnya teknik biologi molekuler saat ini, maka perakitan tanaman tebu yang toleran kekeringan lebih diarahkan melalui teknik rekayasa genetika untuk mempercepat program pemuliaan tanaman.  Protein dehydrin (DHN) yang termasuk ke dalam kelompok II  famili LEA (Late Embryogenesis Abundant)diketahui berperan penting dalam respon dan adaptasi tanaman terhadap cekaman abiotik (kekeringan, salinitas tinggi, suhu dingin, panas, dll). Studi literatur dan analisis bioinformatika menunjukkan bahwa gen DHN1pada tanaman tebu memiliki homologi yang tinggi dengan gen DHNpada sorghum. Analisis ekspresi gen DHN1pada tanaman  tebu varietasPSJT 941yang diberi cekaman kekeringan telah dilakukan menggunakan semi-kuantitatifreverse transcriptase (RT)-PCR dan terlihat bahwa ekspresi gen DHN1meningkat secara nyata sejalan dengan semakin lamanya waktu pemberian cekaman. Tingkat ekspresi gen DHN1paling tinggi diperoleh dari tanaman yang mengalami cekaman kekeringan selama 25 hari.  Amplifikasi gen DHN1pada tanaman dengan tingkat ekspresi yang paling tinggi menunjukkan pita dengan ukuran 465 bp yang merepresentasikan full coding sequence(CDS) gen DHN1. Identifikasi menggunakan analisis Blast menunjukkan bahwa sekuen gen DHN1dari tanaman tebu varietas PSJT 941yang diperoleh memiliki homologi yang tinggi dengan gen DHNpada tanaman tebu dan sorghum. Hasil penjajaran sekuen protein juga menunjukkan adanya motif lestari yang mencirikan gen DHN. [Kata kunci: cekaman kekeringan, dehydrin, gen DHN1, tebu]
Physiological and biochemical changes in cocoa seed (Theobroma cacao L.) caused by desiccation Perubahan fisiologi dan biokimia benih kakao (Theobroma cacao L.) akibat desikasi Nurita TORUAN-MATHIUS; . RACHMAWATI-HASID; . NURHAIMI-HARIS; Tolhas HUTABARAT
E-Journal Menara Perkebunan Vol 68, No 1: Juni 2000
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.17 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v68i1.135

Abstract

 Ringkasan Benih kakao tergolong rekalsitran, benihnya sensitif terhadap desikasi dan apabila disimpan pada kondisi yang menyebabkan kehilangan air, benih akan kehilangan viabilitasnya. Viabilitas benih kakao hanya dapat dipertahankan beberapa hari saja dalam keadaan terbuka pada suhu kamar. Hal ini merupakan kendala dalam penyimpanan dan pengiriman benih kakao. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan pengaruh desikasi terhadap karakter fisiologis dan biokimia benih kakao. Benih ICS 60 (kakao lindak) dan DR2 (kakao mulia) diletakkan dalam cawan Petri kemudian disimpan pada suhu 25oC dan Rh 55-75% selama empat hari. Percobaan dilakukan dengan rancang­an petak terpisah, petak utama adalah kandungan air awal dan kritikal. Sebagai anak petak adalah jenis kakao, masing-masing diulang empat kali. Peubah fisiologis yang diukur adalah viabilitas benih mencakup kandungan air benih, potensi tumbuh maksimum, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal, dan laju pertumbuhan kecambah normal. Di samping itu juga dilakukan pengamatan pola pita protein benih yang dianalisis dengan SDS-PAGE. Kandungan asam absisik (ABA) dan gula stahiosa, raftnosa, glukosa, fruktosa, arabinosa, silosa, serta sukrosa dalam benih yang ditetapkan dengan HPLC Integritas membran benih ditetapkan berdasarkan daya hantar listrik air perendaman benih yang diukur dengan konduktometer. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa adanya interaksi yang nyata antara desikasi dengan seluruh tolok ukur fisiologis. Desikasi menyebabkan penurunan daya ber­kecambah, bobot kering dan laju pertumbuhan kecambah normal, potensi tumbuh maksimum dan kecepatan tumbuh. Sedang untuk, kandungan ABA, sukrosa, arabinosa dan rafinosa mengalami peningkatan. Di samping itu desikasi menyebabkan dibentuknya protein baru dengan BM 32,5; 47,0 dan 51,0 kDa (DR2); 47,0 dan 51,0 kD (ICS 60). Beberapa protein yang hilang oleh pengaruh desikasi yaitu dengan BM37, 0 (DR2), 19, 0 dan 37, 0 kD (ICS60). Benih ICS60 lebih tahan terhadap desikasi dibandingkan dengan benih DR2. Summary Seed of cocoa is recalcitrant and sensitive to desiccation. In open condition at room temperature, the viability of cocoa seed ultimately lost for several days. These characters are a problem for seed storage and delivery. The objectives of this study are to investigate the effect of desiccation on physi­ological and biochemical characters of cocoa seed. Seeds of ICS 60 (bulk cocoa) and DR2 (fine cocoa) were placed on Petri dishes and stored at 25oC, Rh 55-75% for four days (critical water content). The experiment was conducted with split plot analysis, (1) The main plot was the storage condition initial and critical seeds water content. (2) The sub plot was the variety of cocoa, with four replications of each treatment. The effect of desiccation on seeds viability was tested, based on seed water content, maximum growth potential, seed germination, germination rate, dry weight of normal seedling, and seedling growth rate. Besides, the changes of seed proteins band pattern were also analysed by SDS­PAGE. Abscisic acid, stachyose, raffnose, fructose, arabinose, xyllose, and sucrose seed content were determined by HPLC. The integrity of seed membrane based on the leakage of electrolytes from seeds was measured with a CM 100 multicell conductivity meter. The results showed that there is an interaction with highly significant correlation between desiccation and all of the physiological and biochemical parameters. Desiccation caused the decrease of seed germination, dry weight and growth rate'of normal seedling, maximum growth potential, and germination rate and while the leakage of electrolytes, ABA, sucrose, arabinose and raffinose increased. Besides, desiccation was also caused the formation of new proteins with MW 32.5, 47,0 and 51,0 kDa (DR2); 47,0 and 51,0 kD ICS 60) . On the other hand, several protein were disappeared i.e. MW 37,0 (DR2), 19,0 and 37,0 kD (ICS60). Seeds of ICS 60 are more tolerant to desiccation than seeds of DR2. 

Page 10 of 55 | Total Record : 541


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 93 No. 1 (2025): 93(1), 2025 Vol. 92 No. 2 (2024): 92(2), 2024 Vol. 92 No. 1 (2024): 92(1), 2024 Vol. 91 No. 2 (2023): 91 (2), 2023 Vol. 91 No. 1 (2023): 91 (1), 2023 Vol. 90 No. 2 (2022): 90 (2), 2022 Vol. 90 No. 1 (2022): 90 (1), 2022 Vol. 90 No. 2 (2022): Oktober, 2022 Vol 90, No 2 (2022): Oktober, 2022 Vol 90, No 1 (2022): April, 2022 Vol. 89 No. 2 (2021): 89 (2), 2021 Vol. 89 No. 1 (2021): 89 (1), 2021 Vol 89, No 2 (2021): Oktober, 2021 Vol 89, No 1 (2021): April, 2021 Vol. 88 No. 2 (2020): 88 (2), 2020 Vol. 88 No. 1 (2020): 88 (1), 2020 Vol 88, No 2 (2020): Oktober,2020 Vol 88, No 1 (2020): April, 2020 Vol. 87 No. 2 (2019): 87 (2), 2019 Vol. 87 No. 1 (2019): 87 (1), 2019 Vol 87, No 2 (2019): OKTOBER, 2019 Vol 87, No 1 (2019): April, 2019 Vol. 86 No. 2 (2018): 86 (2), 2018 Vol. 86 No. 1 (2018): 86 (1), 2018 Vol 86, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 86, No 1 (2018): April, 2018 Vol. 85 No. 2 (2017): 85 (2), 2017 Vol. 85 No. 1 (2017): 85 (1), 2017 Vol 85, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 85, No 1 (2017): April, 2017 Vol. 84 No. 2 (2016): 84 (2), 2016 Vol. 84 No. 1 (2016): 84 (1), 2016 Vol 84, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 84, No 1: Oktober 2016 Vol. 83 No. 2: 83 (2), 2015 Vol. 83 No. 1: 83 (1), 2015 Vol 83, No 2: Desember 2015 Vol 83, No 1: Juni 2015 Vol. 82 No. 2: 82 (2), 2014 Vol. 82 No. 1: 82 (1), 2014 Vol 82, No 2: Desember 2014 Vol 82, No 1: Juni 2014 Vol. 81 No. 2: 81 (2), 2013 Vol. 81 No. 1: 81 (1), 2013 Vol 81, No 2: Desember 2013 Vol 81, No 1: Juni 2013 Vol. 80 No. 2: 80 (2), 2012 Vol. 80 No. 1: 80 (1), 2012 Vol 80, No 2: Desember 2012 Vol 80, No 1: Juni 2012 Vol. 79 No. 2: 79 (2), 2011 Vol. 79 No. 1: 79 (1), 2011 Vol 79, No 2: Desember 2011 Vol 79, No 1: Juni 2011 Vol. 78 No. 2: 78 (2), 2010 Vol. 78 No. 1: 78 (1), 2010 Vol 78, No 2: Desember 2010 Vol 78, No 1: Juni 2010 Vol. 77 No. 2: 77 (2), 2009 Vol. 77 No. 1: 77 (1), 2009 Vol 77, No 2: Desember 2009 Vol 77, No 1: Juni 2009 Vol. 76 No. 2: 76 (2), 2008 Vol. 76 No. 1: 76 (1), 2008 Vol 76, No 2: Desember 2008 Vol 76, No 1: Juni 2008 Vol. 75 No. 2: 75 (2), 2007 Vol. 75 No. 1: 75 (1), 2007 Vol 75, No 2: Desember 2007 Vol 75, No 1: Juni 2007 Vol. 74 No. 2: 74 (2), 2006 Vol. 74 No. 1: 74 (1), 2006 Vol 74, No 2: Desember 2006 Vol 74, No 1: Juni 2006 Vol. 73 No. 2: 73 (2), 2005 Vol. 73 No. 1: 73 (1), 2005 Vol 73, No 2: Desember 2005 Vol 73, No 1: Juni 2005 Vol. 72 No. 2: 72 (2), 2004 Vol. 72 No. 1: 72 (1), 2004 Vol 72, No 2: Desember 2004 Vol 72, No 1: Juni 2004 Vol. 71 No. 2: 71 (2), 2003 Vol. 71 No. 1: 71 (1), 2003 Vol 71, No 2: Desember 2003 Vol 71, No 1: Juni 2003 Vol. 70 No. 2: 70 (2), 2002 Vol. 70 No. 1: 70 (1), 2002 Vol 70, No 2: Desember 2002 Vol 70, No 1: Juni 2002 Vol. 69 No. 2: 69 (2), 2001 Vol. 69 No. 1: 69 (1), 2001 Vol 69, No 2: Desember 2001 Vol 69, No 1: Juni 2001 Vol. 68 No. 2: 68 (2), 2000 Vol. 68 No. 1: 68(1), 2000 Vol 68, No 2: Desember 2000 Vol 68, No 1: Juni 2000 More Issue