cover
Contact Name
Puji Purwaningsih
Contact Email
pujipurwaningsih@unw.ac.id
Phone
+628164222138
Journal Mail Official
ijnr.fkep@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro186 Ungaran Kab Semarang Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR)
ISSN : 26569590     EISSN : 26156407     DOI : -
Core Subject : Health,
This journal is aimed at promoting a principled approach on health and nursing research by encouraging enquiry into relationship between theorycal and practical study.
Arjuna Subject : -
Articles 166 Documents
Analisis Asuhan Keperawatan pada Pasien Halusinasi Pendengaran dengan Penerapan Terapi Menghardik dan Berdzikir terhadap Penurunan Tingkat Halusinasi Defrilianda, Mardiangra; Kurnia Putri, Dewi; Pradessetya, Rezky; Akbar, Aulya
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i1.2651

Abstract

Auditory hallucinations or auditory-hearing voices or sounds are the most common type of hallucination. Clients who experience hallucinations have sensory disturbances or distortions, but the client responds to them as the real thing. Hallucinations must be the focus of our attention because if hallucinations are not handled properly, they can pose a risk to the patient's safety, other people, and the surrounding environment. The general hallucinatory intervention given is SP 1 – SP 4. Another additional therapy given to clients with auditory hallucinations is a combination of rebuking and dhikr to reduce the level of hallucinations. Hallucinations with rebuke can be used to control auditory hallucinations. Whereas psycho-religious therapy (dhikr and prayer) is a psychiatric therapy at a higher level than ordinary psychotherapy, this is because by dhikr or praying there is a spiritual element that can awaken one's hope and self-confidence. After implementing it for 7 consecutive days with a time of 15-30 minutes in 2 patients with auditory hallucinations, it was found that there was a decrease in the level of hallucinations as measured using the AHRS scale. Therefore, giving rebuke and dhikr therapy is able to reduce symptoms and the level of hallucinations in patients.   Abstrak Halusinasi pendengaran atau suara atau suara pendengaran adalah jenis halusinasi yang paling umum. Klien yang mengalami halusinasi mempunyai gangguan atau distorsi sensorik, namun klien menyikapinya sebagaimana adanya. Halusinasi harus menjadi fokus perhatian kita karena jika halusinasi tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan risiko bagi keselamatan pasien, orang lain, dan lingkungan sekitar. Intervensi halusinasi umum yang diberikan adalah SP 1 – SP 4. Terapi tambahan lain yang diberikan pada klien halusinasi pendengaran adalah kombinasi teguran dan dzikir untuk menurunkan tingkat halusinasi. Halusinasi dengan teguran dapat digunakan untuk mengendalikan halusinasi pendengaran. Sedangkan terapi psikoreligius (dzikir dan doa) merupakan terapi kejiwaan yang tingkatannya lebih tinggi dibandingkan psikoterapi biasa, hal ini dikarenakan dengan berdzikir atau berdoa terdapat unsur spiritual yang dapat membangkitkan harapan dan rasa percaya diri seseorang. Setelah dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut dengan waktu 15-30 menit pada 2 pasien halusinasi pendengaran ditemukan adanya penurunan tingkat halusinasi yang diukur menggunakan skala AHRS. Oleh karena itu pemberian terapi teguran dan dzikir mampu menurunkan gejala dan tingkat halusinasi pada pasien.
Hubungan Tingkat Keamanan Lingkungan dengan Risiko Jatuh pada Lansia di Panti Wredha Sutrisni, Septiani Tri; Muladi, Amik
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i1.3132

Abstract

Auditory hallucinations or auditory-hearing voices or sounds are the most common type of hallucination. Clients who experience hallucinations have sensory disturbances or distortions, but the client responds to them as the real thing. Hallucinations must be the focus of our attention because if hallucinations are not handled properly, they can pose a risk to the patient's safety, other people, and the surrounding environment. The general hallucinatory intervention given is SP 1 – SP 4. Another additional therapy given to clients with auditory hallucinations is a combination of rebuking and dhikr to reduce the level of hallucinations. Hallucinations with rebuke can be used to control auditory hallucinations. Whereas psycho-religious therapy (dhikr and prayer) is a psychiatric therapy at a higher level than ordinary psychotherapy, this is because by dhikr or praying there is a spiritual element that can awaken one's hope and self-confidence. After implementing it for 7 consecutive days with a time of 15-30 minutes in 2 patients with auditory hallucinations, it was found that there was a decrease in the level of hallucinations as measured using the AHRS scale. Therefore, giving rebuke and dhikr therapy is able to reduce symptoms and the level of hallucinations in patients. Abstrak Halusinasi pendengaran atau suara atau suara pendengaran adalah jenis halusinasi yang paling umum. Klien yang mengalami halusinasi mempunyai gangguan atau distorsi sensorik, namun klien menyikapinya sebagaimana adanya. Halusinasi harus menjadi fokus perhatian kita karena jika halusinasi tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan risiko bagi keselamatan pasien, orang lain, dan lingkungan sekitar. Intervensi halusinasi umum yang diberikan adalah SP 1 – SP 4. Terapi tambahan lain yang diberikan pada klien halusinasi pendengaran adalah kombinasi teguran dan dzikir untuk menurunkan tingkat halusinasi. Halusinasi dengan teguran dapat digunakan untuk mengendalikan halusinasi pendengaran. Sedangkan terapi psikoreligius (dzikir dan doa) merupakan terapi kejiwaan yang tingkatannya lebih tinggi dibandingkan psikoterapi biasa, hal ini dikarenakan dengan berdzikir atau berdoa terdapat unsur spiritual yang dapat membangkitkan harapan dan rasa percaya diri seseorang. Setelah dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut dengan waktu 15-30 menit pada 2 pasien halusinasi pendengaran ditemukan adanya penurunan tingkat halusinasi yang diukur menggunakan skala AHRS. Oleh karena itu pemberian terapi teguran dan dzikir mampu menurunkan gejala dan tingkat halusinasi pada pasien.
Perbedaan Tanda Neuropati Perifer Diabetik Sebelum dan Sesudah Dilakukan Senam Kaki Diabetik pada Penderita DM Tipe 2 di Desa Nglorog Setyoningrum, Umi; Dhani Setyani
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i1.3141

Abstract

Diabetes Melitus (DM) is a group of metabolic disease characterized by hyperglicemia resulting from defects in insulin secretion, insulin action, or both.the most common type of diabetes is type 2 of Diabetes Melitus. Type 2 of Diabetes Melitus has several complications, one of which is microvascular complication, that called neuropathy which result in decreased foot sensitivity. The appropriate diabetes management, one of wich is physical exercise with diabetic foot exercise. Diabetic foot exercise is a physical exercise that can be done by DM sufferers and non-DM sufferers with the aim of helping improve blood circulation in the legs. The aim To analyze different symptom of diabetic peripheral neuropathy before and after foot diabetic exercise on pasient with type 2 of Diabetes Melitus in Nglorog Village, Pringsurat District, Temanggung Regency. Research design with pre-experimental with one group pretest-posttest design with sampling technique using purposive sampling obtained 30 samples. Data analysis used the Wilcoxon statistical test. The result After the intervention of diabetic foot exercise, as many as 27 type 2 of DM patients experienced negative diabetic peripheral neuropathy. Bivariate analysis showed that there was an different symptom of diabetic peripheral neuropathy before and after foot diabetic exercise on type 2 of DM patients in Nglorog Village, Pringsurat District, Temanggung Regency with a p-value of 0.000. The results of this study can be used as input for the community, especially the residents of Nglorog Village to practice it independently in their respective homes to improve blood flow so that diabetic peripheral neuropathy does not occur. Abstrak Diabetes Melitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Diabetes yang paling sering terjadi adalah DM tipe 2. Diabetes Melitus tipe 2 memiliki beberapa komplikasi, salah satunya komplikasi mikrovaskuler yaitu neuropati yang mengakibatkan penurunan sensitivitas kaki. Manajemen diabetes yang baik, salah satunya adalah latihan fisik dengan senam kaki diabetik. Senam kaki diabetik adalah latihan fisik yang bisa dilakukan oleh penderita DM maupun bukan penderita DM dengan tujuan untuk membantu memperlancar peredaran darah bagian kaki. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan tanda neuropati perifer diabetik sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki diabetik pada penderita DM tipe 2 di Desa Nglorog, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Desain penelitian dengan pre eksperimental dengan rancangan one group pretest-postest dengan kuesioner skor Diabetic Neuropathy Symptoms (DNS) dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling didapatkan 30 sampel. Analisis data menggunakan uji statistik Wilcoxon. Hasil setelah dilakukan intervensi senam kaki diabetik, sebanyak 27 penderita DM tipe 2 mengalami negatif neuropati perifer diabetik. Analisa bivariat menunjukkan ada perbedaan tanda neuropati perifer diabetik sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki diabetik pada penderita DM tipe 2 di Desa Nglorog, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung dengan p value 0,000. Saran dari hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi mayarakat khususnya warga Desa Nglorog untuk mempraktikkanya secara mandiri di rumah masing-masing untuk memperlancar aliran darah sehingga tidak terjadi neuropati perifer.
Gambaran Pendekatan Keluarga Dalam Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan terhadap Tingkat Pengetahuan Perawatan Penyakit Kronis Fiktina Vifri Ismiriyam; Wulansari
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i1.3179

Abstract

The family approach is one form that can be taken by health workers to empower the potential of a family in increasing involvement in overcoming health problems. Family involvement in overcoming health problems is very necessary to increase the potential that exists within a family. Family potential will be optimal if the level of knowledge about care increases, and one way of increasing knowledge about health is obtained by providing health education. Family health problems will occur in families with a history of chronic disease in their family members. The aim of this research is to determine the level of knowledge of caring for a family with chronic disease health problems through health education using a family approach method. The method used is a pre-experimental research method, one group pretest-posttest. At the beginning of the activity, an assessment of family knowledge regarding caring for family members was carried out. Next, health education is carried out for the family and ends with a posttest assessment. The family approach chosen involves the involvement of some or all family members in health education activities. The results obtained from this activity were an increase in family knowledge about caring for family members with chronic illnesses. The conclusion is that health education with a family approach has an influence on increasing family knowledge. The suggestion is that the family approach be implemented sustainably and can use indirect face-to-face as well Abstrak Pendekatan keluarga merupakan salah satu bentuk yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk dapat memberdayakan potensi dari sebuah keluarga dalam meningkatkan keterlibatan dalam mengatasi masalah kesehatan. Keterlibatan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan potensi yang ada di dalam sebuah keluarga. Potensi keluarga akan optimal jika Tingkat pengetahuan tentang perawatan meningkat, dan peningkatan pengetahuan tentang kesehatan salah satunya didapatkan dengan cara pemberian Pendidikan kesehatan. Masalah kesehatan keluarga akan terjadi pada keluarga dengan Riwayat penyakit kronis pada anggota keluarganya. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Tingkat pengetahuan perawatan sebuah keluarga dengan masalah kesehatan penyakit kronis melalui pendidikan kesehatan dengan metode pendekatan keluarga. Metode yang digunakan adalah menggunakan metode penelitian pra eksperimen one group pretest-posttest. Pada awal kegiatan dilakukan penilaian pengetahuan keluarga tentang perawatan anggota keluarga. Selanjutnya dilakukan edukasi kesehatan pada keluarga dan diakhiri dengan penilaian posttest. Pendekatan keluarga yang dipilih melalui keterlibatan Sebagian atau seluruh anggota keluarga mengikuti kegiatan Pendidikan kesehatan. Hasil yang didapatkan dari kegiatan ini adalah terjadi peningkatan pengetahuan keluarga tentang perawatan anggota keluarga yang sakit penyakit kronis. Kesimpulannya bahwa pendidikan kesehatan dengan pendekatan keluarga memiliki pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan keluarga. Sarannya adalah pendekatan keluarga dilaksanakan keberlanjutan dan dapat menggunakan tatap muka tidak langsung juga.
Family-Based Diabetes Self-Management Education terhadap Self Care dan Self-Efficacy Ramadhani, Dwi Yuniar; Rukmini; Anggraeni, Sindy Maullina; Larasati, Diva Sukma; Intan Elisya; Vidia, Indri
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i1.3200

Abstract

Diabetes mellitus is caused by disorders of high blood glucose levels. Lack of self-care and self-efficacy will result in uncontrolled blood sugar levels, causing complications. This research aims to determine the effect of family-based Diabetes Self-Management Education on self-care and self-efficacy in diabetes mellitus sufferers in the Sidotoopo Wetan Region. This research is quantitative research with a Pre-Experimental approach with a one-group pretest Post-test design, with Family Based Diabetes Self-Management Education intervention. The population of elderly people suffering from diabetes mellitus is 30 people, the sample is the entire population, and the sampling technique used is the total population. Data was taken using the SDCSCA and DSMES questionnaires. The statistical tests used are the Wilcoxon test and paired T-test. Research Results show an influence of Family Based Diabetes Self-Management Education on Self-Care and Self-Efficacy with the results of self-care (p value=0.000) and self-efficacy (p value=0.000).Diabetes mellitus sufferers can maintain good self-care and self-efficacy to avoid complications, and the family also plays an important role in maintaining blood sugar stability by supporting and facilitating treatment, monitoring blood sugar, nutritional food consumed, and exercise.   Abstrak Diabetes melitus disebabkan oleh gangguan kadar glukosa darah yang tinggi. Kurangnya perawatan diri dan efikasi diri akan mengakibatkan kadar gula darah tidak terkontrol sehingga menimbulkan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan Self-Management Diabetes Berbasis Keluarga Terhadap Self Care dan Self-Efficacy Pada Penderita Diabetes Mellitus Di Wilayah Sidotoopo Wetan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Pre-Experimental dengan desain one-group pretest Post-test, dengan intervensi Family Based Diabetes Self-Management Education. Populasi lansia yang menderita diabetes melitus berjumlah 30 orang, sampelnya adalah seluruh populasi, dan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total populasi. Data diambil dengan menggunakan kuesioner SDCSCA dan DSMES. Uji statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon dan uji T berpasangan. Hasil Penelitian menunjukkan adanya pengaruh Family Based Diabetes Self-Management Education terhadap Self-Care dan Self-Efficacy dengan hasil perawatan diri (p value=0,000) dan self-eficacy (p value=0,000).Penderita diabetes melitus dapat mempertahankan perawatan diri dan efikasi diri yang baik agar terhindar dari komplikasi, dan keluarga juga berperan penting dalam menjaga kestabilan gula darah dengan mendukung dan memfasilitasi pengobatan, pemantauan gula darah, nutrisi makanan yang dikonsumsi, dan olah raga.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Rawat Inap Ulang pada Pasien CHF di RSUD Dr. Gunawan Mangunkusumo Devanda Ivo Teresia; Widodo, Gipta Galih; Ummu Muntamah; Zumrotul Chaerijah
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i1.3328

Abstract

CHF patients are often re-hospitalized due to recurrence causing despair and fear of death. Several factors that influence re-hospitalization are family support, adherence to medication therapy and adherence to a low-salt diet Objective: To determine the factors associated with the incidence of re-hospitalization in congestive heart failure patients. The design of this research uses descriptive correlational with a cross sectional approach. The population studied was CHF patients at RSUD Dr. Gunawan Mangunkusumo Ambarawa with a sample size of 34 people was taken using accidental sampling technique. Data analysis used chi square which was processed using the SPSS data processing program. Results: Family support was mostly in the good category (55.9%), medication therapy compliance was mostly in the low category (52.9%), low salt diet compliance was mostly in the low category (52.9%), the incidence of re-hospitalization was mostly in the high category. (64.7%). There was a significant relationship between family support (p-value = 0.006), adherence to medication therapy (p-value = 0.040) and low-salt diet adherence (p-value = 0.006) with the incidence of re-hospitalization. Family support, adherence to medication therapy and adherence to a low salt diet are associated with the incidence of re-hospitalization. Suggestion: CHF patients must comply with drug therapy and a low-salt diet that has been determined by showing an observation sheet at each check-up to avoid re-hospitalization   Abstrak Pasien-pasien CHF sering rawat inap ulang akibat adanya kekambuhan menyebabkan putus asa dan takut kematian. Beberapa faktor yang mempengaruhi rawat inap ulang adalah dukungan keluarga, kepatuhan terapi pengobatan dan kepatuhan diet rendah garam. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian rawat inap ulang pada pasien gagal jantung kongestif. Desain pada penelitian ini menggunakan deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang diteliti pasien CHF yang pernah menjalani rawat inap ulang di RSUD Dr. Gunawan Mangunkusumo Ambarawa dengan jumlah sampel 34 orang diambil dengan teknik accidental sampling. Analisis data yang digunakan chi square yang diolah dengan SPSS. Dukungan keluarga sebagian besar kategori baik (55,9%), kepatuhan terapi pengobatan sebagian besar kategori rendah (52,9%), kepatuhan diet rendah garam sebagian besar kategori rendah (52,9%), kejadian rawat inap ulang sebagian besar kategori tinggi (64,7%). Ada hubungan yang bermakna dukungan keluarga (p-value = 0,006), kepatuhan terapi pengobatan (p-value = 0,040) dan kepatuhan diet rendah garam (p-value = 0,006) dengan kejadian rawat inap ulang. dukungan keluarga, kepatuhan terapi pengobatan dan kepatuhan diet rendah garam berhubungan dengan kejadian rawat inap ulang. Pasien CHF harus mematuhi terapi obat dan diet rendah garam yang telah ditentukan dengan menunjukkan lembar observasi setiap kali kontrol agar tidak terjadi rawat inap ulang.
Gambaran Kinerja Perawat dalam Pendokumentasian Askep di Rawat Inap Rumah Sakit Indriati Solo Baru Anggita Yuliana Nugraheni; Atiek Murharyati; Setiyawan
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i2.3418

Abstract

The performance of nurses is a crucial indicator in achieving health service goals, including the stages of assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. The study aimed to describe the nurse's performance in documenting nursing care in the inpatient room of Indriati Solo Baru Hospital. The investigation employed a quantitative approach, with a sample of 18 nurses selected through the total sampling method. Data were collected utilizing a questionnaire and analyzed using the univariate method. The findings indicated that the overall performance of nurses in nursing care documentation within the Sakura inpatient room of Indriati Solo Baru Hospital was rated as good, achieving a score of 72.2%. An age analysis revealed that most nurses were aged between 20 and 30 years (88.9. Furthermore, all respondents werfe female (100%). Regarding educational qualifications, a significant proportion of the nurses held a Ners degree (66.7%). Regarding their professional experience, most nurses in the Sakura room had over one year of work experience (77.8%). The assessment results indicate a classification of "good" in the following categories: overall assessment (100%), diagnosis (100%), age-related interventions (100%), implementation (100%), and evaluation (88.9%).   Abstrak Kinerja perawat merupakan ukuran keberhasilan dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan dimulai dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implmentasi, dan evaluasi.  Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran kinerja perawat dalam pendokumentasian di rawat inap Rumah Sakit Indriati Solo Baru. Jenis penelitian ini kuantitatif. Sampel dalam penelitian adalah 18 perawat yang dipilih secara total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dan analisa data yang digunakan analisa univariate. Hasil penelitian menunjukkan pendokumentasian di rawat inap Sakura Rumah Sakit Indriati Solo Baru keseluruhan dalam kategori baik (72,2%), berdasarkan usia sebagian berusia 20-30 tahun (88,9%), berdasarkan jenis kelamin semua perawat berjenis kelamin perempuan(100%), berdasarkan pendidikan sebagian besar latar belakang pendidikan Ners (66,7%), berdasarkan lama kerja perawat di  ruang sakura memiliki pengalaman kerja >1 tahun (77,8%), berdasarkan pengkajian dalam kategori baik (100%), berdasarkan diagnosa dalam kategori baik (100%), berdasarkan usia berdasarkan intervensi dalam kategori baik (100%), berdasarkan implementasi dalam kategori baik (100%), berdasarkan evaluasi dalam kategori baik (88,9%). Implikasi praktis berdasarkan hasil penelitian digunakan sebagai masukan untuk instansi atau rumah sakit untuk dapat mempertahankan kinerja dalam melakukan pendokumentasian askep di ruangan sakura maupun ruang lain Rumah Sakit Indriati Solo Baru.
Pengaruh Terapi Rendam Kaki dengan Air Garam Hangat dan Foot Massage terhadap Kualitas Tidur Lansia Susanti, Eka Vebri; Widhowati, Siwi Sri; Hasanah, Nunung
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i2.3512

Abstract

One of the changes that is often found in the elderly is sleep disorders. Treatment of sleep disorders in the elderly should be done with non-pharmacological therapy because it does not cause detrimental side effects in the elderly. There are many non-pharmacological therapies such as soaking the feet in warm water and foot massage. This research was to determine the effect of warm salt water immersion therapy and foot massage on sleep quality in the elderly in Kluwih Village, Bandar District, Batang Regency. The method used in this research used a pre test and post test non equivalent control group design. The intervention in this study was soaking the feet in warm salt water and foot massage. The research was conducted on all elderly people in Kluwih village who experienced sleep disorders and 26 respondent. The results of this non-pharmacological intervention are that there is an effect of warm salt water immersion therapy on improving sleep quality in the elderly. The advice that can be given is to always motivate the implementation of non-pharmacological therapy for the elderly to overcome their health problems. Abstrak Salah  satu  perubahan yang  sering  dijumpai  pada  lansia  adalah  gangguan  tidur. Penanganan gangguan tidur pada lansia sebaiknya dilakukan dengan terapi non farmakologis dikarenakan tidak menimbulkan efek samping yang merugikan pada lansia. Banyak terapi non farmakologis seperti rendan kaki dengan air hangat dan foot massage. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi rendam air garam hangat dan foot massage terhadap kualitas tidur pada lansia di Desa Kluwih Kecamatan Bandar Kabupaten Batang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rancangan pre test and post test non equivalent control group design. Intervensi penelitian ini adalah rendam kaki dengan air garam hangat dan foot massage. Penelitian dilakukan kepada 26 lansia yang ada di desa kluwih yang mengalami gangguan tidur dan bersedia menjalankan terapi. Hasil dari intervensi non farmakologis ini adalah ada pengaruh terapi rendam air garam hangat terhadap peningkatan kualitas tidur pada lansia. Saran yang dapat diberikan adalah memotivasi selalu pelaksanaan terapi non farmakologis untuk lansia untuk mengatasi masalah kesehatannya.
Gambaran Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan di IGD Rumah Sakit Ken Saras Mei Melani; Setyoningrum, Umi
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i2.3515

Abstract

The Emergency Room (IGD) is one of the busiest installations in hospitals. The Emergency Room (IGD) must have high quality services so that it can meet good service quality. The quality of hospital services, one of which can be seen from patient satisfaction. Find out the description of patient satisfaction with services at the emergency room at Ken Saras Hospital .The research method was a total sampling quantitative study with a descriptive analytical design. The population used was all emergency room patients, with a sample size of 100 patients. The data collection tool uses a service satisfaction questionnaire in the emergency room. Data analysis uses simple univariate analysis.  Patient satisfaction with the services at the emergency room at Ken Saras Hospital, most of them were satisfied with the services at the emergency room, 98 respondents (98%) and 2% of respondents felt dissatisfied, where in the empathy dimension, the majority felt satisfied, 57 respondents (57%). the tangibles dimension was mostly satisfied with 70 respondents (70%), the responsiveness dimension was mostly satisfied with 54 respondents (54%), the reliability dimension was mostly satisfied with 62 respondents (62%), the assurance dimension was mostly satisfied with 58 respondents (58%). It is hoped that nurses will provide maximum service to all patients without distinguishing between race, ethnicity, economics and social status.   Abstrak Instalasi gawat darurat (IGD) menjadi salah satu instalasi di rumah sakit yang paling sibuk. Instalasi Gawat Darurat (IGD) harus mempunyai pelayanan dengan berkualitas tinggi sehingga dapat memenuhi mutu pelayanan yang baik. Kualitas pelayanan rumah sakit, salah satunya dapat dilihat dari kepuasan pasien. Mengetahui gambaran kepuasan pasien terhadap pelayanan di IGD Rumah Sakit Ken Saras. Metode penelitian studi kuantitatif dengan desain deskriptif analitik.Tehnik sampling total sampling, dengan jumlah sampel 100 pasien. Alat pengumpulan data menggunakan keusioner kepuasan pelayanan di IGD. Analisa data menggunakan analisa univariat sederhana. Kepuasan pasien terhadap pelayanan di IGD RS Ken Saras sebagian besar merasa puas dalam pelayanan di IGD sebanyak 100 responden (100%) ,dimana pada dimensi empati sebagian besar merasa puas sebanyak 100 responden (100%). dimensi tangibles sebagian besar merasa puas sebanyak 100 responden (100%), dimensi responsiveness sebagian besar merasa puas sebanyak 100 responden (100%), dimensi reliability sebagian besar merasa puas sebanyak 84 responden (84%), dimensi assurance sebagian besar merasa puas sebanyak 75 responden (75%). Diharapkan perawat memberikan pelayanan secara maksimal pada seluruh pasien tanpa membedakan ras, suku, ekonomi dan sosial.
Penerapan Metode Pembelajaran Deduktif pada Kegiatan Pendidikan Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Wulansari; Fiktina Vifri Ismiriyam
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i2.3517

Abstract

Increasing knowledge is one thing that must be done as a promotive effort to increase knowledge in order to achieve optimal public health. Increasing knowledge about health is obtained from health education activities. In health education activities, a learning method is needed so that public understanding of the health material presented is maximized. One of the existing learning methods is deductive learning. The purpose of this study was to determine the level of understanding of health education if using the deductive learning method. The research design used was non-equivalent without control group. The sampling method was by purposive sampling with a sample size of 72 respondents with calculations based on research that had been conducted with the same title. The method of data collection was by measuring 2 times, namely measuring knowledge at the beginning before health education was carried out with the deductive learning method and measuring after health education activities. Data analysis with the Independent T-test analysis technique. The results of the study showed that the sig. (2-Tailed) value was 0.01 so that 0.01 <0.5, which shows that there is a positive influence of the use of the deductive learning method on increasing understanding of health education material. The conclusion of this study is that the deductive learning method can be used during the implementation of health education. The recommendation given is that health workers, especially nurses, use learning methods, one of which is the deductive method during health education activities. The implication for nursing is to always use the right learning method during the implementation of health education.   Abstrak Peningkatan pengetahuan merupakan satu hal yang harus dilakukan sebagai Upaya promotif untuk meningkatkan pengetahuan agar tercapai derajat kesehatan Masyarakat yang optimal. Peningkatan pengetahuan tentang kesehatan didapat dari kegiatan Pendidikan kesehatan. Dalam kegiatan pendidikan kesehatan diperlukan suatu metode pembelajaran agar pemahaman masyarakat terkait materi kesehatan yang disampaikan maksimal. Salah satu metode pembelajaran yang ada adalah pembelajaran deduktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Tingkat pemahaman pendidikan kesehatan jika menggunakan metode pembelajaran deduktif. Desain penelitian yang digunakan non ekuivalen without control group. Cara pengambilan sampelnya adalah dengan cara purposive sampling dengan besaran sampel yang digunakan adalah 72 responden dengan penghitungan berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan dengan judul yang setipe. Cara pengumpulan data dengan melakukan pengukuran sebanyak 2 kali yaitu pengukukuran pengetahuan diawal sebelum dilakukan pendidikan kesehatan dengan metode pembelajaran deduktif dan pengukuran setelah kegiatan Pendidikan kesehatan. Analisa Data dengan tehnik analisis Independent T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh nilai sig. (2-Tailed) adalah 0,01 sehingga 0,01<0,5, dimana ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dari penggunaan metode pembelajaran deduktif terhadap peningkatan pemahaman materi pendidikan kesehatan. kesimpulan dari penetitian ini adalah metode pembelajaran deduktif dapat digunakan pada saat pelaksanaan Pendidikan kesehatan. Rekomendasi yang diberikan adalah tenaga kesehatan khususnya perawat adalah menggunakan metode pembelajaran, salah satunya metode deduktif pada saat kegiatan pendidikan kesehatan. implikasi untuk keperawatan yaitu gunakan selalu metode pembelajaran yang tepat pada saat pelaksanaan Pendidikan kesehatan.