cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JFIOnline
ISSN : 14121107     EISSN : 2355696X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Indonesia yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia. Isi website memuat seluruh jurnal yang telah diterbitkan mencakup semua aspek dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kefarmasian antara lain farmakologi, farmakognosi, fitokimia,farmasetika, kimia farmasi, biologi molekuler, bioteknologi, farmasi klinik,farmasi komunitas, farmasi pendidikan, dan lain-lain.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2016)" : 24 Documents clear
Uji Akvitas dan Keamanan Hair Tonic Ekstrak Daun Kembang Sepatu pada Pertumbuhan Rambut Kelinci Febriani, Amelia; Elya, Berna; Jufri, Mahdi
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT :Hair loss affects one’s self image and emotional well-being. It is a very real and serious aesthetic concern for everyone. Leaves and flowers of Hibiscus are traditionally known to potentiate hair growth promotion. In this study we determine the hair growth promotion activity of hibiscus leaves using 2.5%, 5% and 10% of hibiscus leaf extract in the form of hair tonic. We also assessed the physical stability and safety of the hair tonic. Hair growth promotion activity assay was carried out by applying hair tonic on the rabbit’s back and measured hair length, hair thickness, hair weight and hair density. Physical stability assessment was performed at low (4°C ± 2°C), room (25°C ± 2°C) and high (40°C ± 2°C) temperature as well as the cycling test. Safety test was done by eye irritation test with HET-CAM and skin irritation test with patch test method. The results showed that hair tonic contains 10% of leaf extract have hair growth activity promotion better than the minoxidil 2%. Physical stability test showed extract of hibiscus leaf hair tonic has good physical stability. Results of safety test showed that there’s no skin irritation occurred while eye irritation test showed positive eyes iritation. Keywords: hibiscus leave, hair growth, hair tonic, HET-CAM, patch test  ABSTRAK: Kerontokan rambut yang sering diakhiri kebotakan merupakan problema estetis yang sangat dikhawatirkan setiap orang. Daun dan bunga kembang sepatu telah diakui memiliki aktivitas pertumbuhan rambut berdasarkan penggunaan tradisional. Pada penelitian ini, 2,5%, 5% dan 10%  ekstrak daun kembang sepatu diformulasikan dalam bentuk hair tonic karena penggunaannya lebih mudah dan tidak lengket seperti sediaan semisolid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas pertumbuhan rambut ektrak etanol daun kembang sepatu  stabilitas fisik dan keamanannya. Uji aktivitas pertumbuhan rambut dilakukan dengan mengoleskan sediaan hair tonic pada punggung kelinci dan diukur panjang rambut, ketebalan rambut (diameter rambut), kelebatan rambut (bobot rambut) dan kepadatan rambut (densitas rambut). Uji stabilitas fisik dilakukan pada penyimpanan suhu rendah (4oC±2oC), suhu ruang (25oC±2oC) dan suhu tinggi (40oC±2oC) serta  cycling test. Uji keamanan dilakukan dengan uji iritasi mata dengan metode HET-CAM dan uji iritasi kulit dengan metode patch test. Hasil menunjukkan bahwa sediaan hair tonic ekstrak daun kembang sepatu 10% memiliki aktivitas pertumbuhan rambut yang lebih baik dibandingkan kontrol positif minoksidil 2%. Hasil uji stabilitas fisik menunjukkan sediaan hair tonic ekstrak daun kembang sepatu memiliki stabilitas fisik yang baik. Dari hasil uji keamanan iritasi kulit  tidak terjadi iritasi, sedangkan hasil uji iritasi mata menunjukkan sediaan mengiritasi mata.Kata Kunci: daun kembang sepatu, pertumbuhan rambut, hair tonic, HET-CAM, patch test 
Preparation and Characterization of Ba-Alginate Microspheres Containing Ovalbumin Hariyadi, Dewi Melani; Hendradi, Esti; Irawan, Mukhlis Bayu
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of microspheres nowadays is important in the pharmaceuticals formulation. The aim of the present research was to evaluate physical characteristics of ovalbumin-loaded alginate microspheres using aerosolisation technique at various concentrations of alginate and BaCl2. Alginate microspheres were characterized in terms of encapsulation efficiency, yield, particle size, surface morphology and protein integrity. The comparative study between concentrations of BaCl2 and alginate polymer was investigated. Increasing concentration of alginate polymer from 2.5 to 3.5% reduced their particle size and formed smoother and spherical microspheres. Increasing Ba2+ concentration, simultaneous increased the encapsulation efficiency and yield. Scanning electron microscope (SEM) photomicrographs revealed that with the increase in the electrolyte concentration the density of the cross link is also increased. Smoother surface was demonstrated when the electrolyte concentration is increased from 0.5M to 0.75M. Formula prepared using 0.75M BaCl2 and 3.5% alginate polymer resulted the highest encapsulation efficiency (92%), the highest microspheres yield (73%) and the smallest microspheres size (3.73µm). Most of the formulations maintain the integrity of ovalbumin after 2 hours incubation in pH 1.2 followed by 8 hours incubation in pH 7.4. The different formulations produced different physical characteristics of ovalbumin-loaded alginate microspheres.
Efek Imunomodulator Kombinasi Susu Probiotik dan Ekstrak Daun Jambu Biji Isnaeni, .; Sugiyartono, .; Kusumawati, Idha; Rijal, Muh. Agus Syamsur
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT : This research studied the potential and action mechanism of probiotic milk-guava leaf extract combination as an immunomodulator using mice as an experimental animal. The mouse were given the combination of probiotic milk-guava leaf extract for 7 days, then the levels of TNF-α in serum and lymphocites proliferation were measured. The results showed that the extract of guava leaf can increase levels of TNF-α in serum and the number of lymphoblast, either in single preparation or in combination with probiotic milk. However, administration of probiotic milk cannot improve the TNF-α in serum or increase the number of lymphoblast. It can be concluded that the immunomodulatory effects of the probiotics- milk-guava leaf extract combination was caused by the substances in the extract of guava leaf rather than by the probiotic milk. Keywords: probiotic milk, guava leaf extract, immunomodulator ABSTRAK: Konsorsium mikroba probiotik yang dikembangkan dalam bentuk sediaan susu probiotik telah dilaporkan memiliki berbagai aktivitas, antara lain sebagai imunomodulator dan antimikroba. Jus buah jambu biji telah digunakan secara tradisional oleh masyarakat untuk membantu meningkatkan jumlah trombosit penderita demam berdarah dengue. Kombinasi susu probiotik-ekstrak daun jambu biji telah terbukti mempunyai efek anti bakteri penyebab diare, namun mekanisme kerjanya belum diketahui. Dalam penelitian ini dilakukan kajian potensi dan mekanisme kerja kombinasi susu probiotik-ekstrak daun jambu biji sebagai imunomodulator. Sejumlah mencit diberi perlakuan kombinasi susu probiotik-ekstrak daun jambu biji selama 7 hari, kemudian diukur kadar TNF-α dalam serum dan kecepatan proliferasi limfositnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu biji dapat meningkatkan kadar TNF-α dalam serum dan dapat meningkatkan jumlah limfoblast, baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasinya dengan susu probiotik. Pemberian susu probiotik saja tidak dapat meningkatkan TNF-α dalam serum ataupun meningkatkan jumlah limfoblast. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa efek imunomodulator kombinasi susu probiotik-ekstrak daun jambu biji lebih disebabkan oleh kandungan zat zat berkhasiat dalam ekstrak daun jambu biji dari pada oleh susu probiotik. Kata kunci: probiotik, Lactobacillus acidophilus, jambu biji, Psidium guajava, imunomodulator.  
Profil Hematologis Tikus Putih (Rattus novergicus sp.) Betina Setelah Pemberian Jamu Kesuburan Rosdianto, Aziiz Mardanarian; Manalu, Wasmen; Maheshwari, Hera
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The use of herbal preparations to improve fertility were empirically beneficial for reproductive health, however its use needs to be supported by scientific evidence. In this study we observed the effects of herbal preparations on haematological parameters, liver function and kidney function of female rats. The estrus cycle of the experimental female rats were previously synchronized by injection with prostaglandin twice in two days interval. The rats were randomly assigned into eight groups i.e., two negative control groups, two positive control groups (injected with pregnant mare serum gonadotropin with effective and double of effective doses), two groups were given herbal preparation A (with effective and double of effective doses), and two groups were given herbal preparation B (with effective and double of effective doses). The treatments were given for 3 consecutive estrous cycles. Parameters measured were hematological parameters (erythrocyte, leukocyte, and hemoglobin), liver functions (SGOT and SGPT concentrations), and renal function (serum ureum concentration). The results showed that the administration of herbal preparation for fertility improved erythrocyte, leukocyte, and hemoglobin parameters, improved liver functions, and optimized renal functions. It was concluded that the administration of herbal preparation for fertility for 3 consecutive estrous cycles did not disturb physiological functions, instead its improved hematological parameters as well as liver and renal functions.Keywords: hematological, herbal, liver function, renal function, female rats  ABSTRAK: Penggunaan jamu kesuburan secara empiris bermanfaat untuk kesehatan reproduksi, namun penggunaannya perlu didukung oleh data ilmiah. Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan efek pemberian jamu kesuburan terhadap parameter hematologis, fungsi hati dan fungsi ginjal dari tikus betina. Penelitian ini diawali dengan sikronisasi siklus estrus tikus percobaan dengan penyuntikan prostaglandin dua kali dalam selang waktu dua hari. Tikus-tikus percobaan secara acak dibagi ke dalam delapan kelompok, yaitu dua kelompok kontrol negatif yang hanya diberi pelarut persiapan jamu kesuburan, dua kelompok kontrol positif yang disuntik pregnant mare serum gonadotropin untuk dosis efektif dan 2x dosis efektif, dua kelompok diberi jamu kesuburan A dengan dosis efektif dan 2x dosis efektif, dan dua kelompok yang diberi jamu kesuburan B untuk dosis efektif dan 2x dosis efektif. Perlakuan diberikan selama 3 siklus estrus berturut-turut. Parameter yang diukur adalah status hematologi (eritrosit, hemoglobin, dan leukosit), fungsi hati (kadar SGOT dan SGPT), dan fungsi ginjal (kadar ureum). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jamu kesuburan memperbaiki parameter hematologis, memperbaiki fungsi hati, dan mengoptimalkan fungsi ginjal. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian jamu kesuburan selama tiga siklus estrus berturut-turut tidak mengganggu fungsi fisiologis tubuh bahkan terbukti memperbaiki parameter hematologis, fungsi hati, dan fungsi ginjal. Kata kunci: Jamu kesuburan, parameter hematologis, fungsi ginjal, fungsi hati, tikus betina 
Efek Perbandingan Surfaktan dan Kosurfaktan Terhadap Karakteristik dan Efisiensi Penjebakan Ovalbumin Dalam Mikroemulsi Hendradi, Esti; Yuwono, Mochammad
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The study was conducted to investigate the effect of composition of surfactant (Span 80 and Tween 80) and cosurfactant (butanol) on characteristics and ovalbumin entrapment in the microemulsion water in oil (w/o).The composition of surfactant (Span 80 and Tween 80) and cosurfactant (butanol) used were 6:3, 7:3 and 8:3. Evaluation was conducted on the surface tension, viscosity, droplet size, pH and the efficiency of ovalbumin trapping in microemulsion system. Results were analyzed by statistic using one way analysis of variance (ANOVA) with 95% confidence level (α = 0,05). From the results it was concluded that the composition of surfactant and cosurfactant 7:3 resulted in the best microemulsion. Keywords: microemulsion, surfactant, cosurfactant, butanol, ovalbumin ABSTRAK : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh komposisi surfaktan (Span 80 dan Tween 80) dan kosurfaktan (butanol) terhadap karakteristik dan penjebakan ovalbumin dalam mikroemulsi minyak dalamm air (w/o). Perbandingan surfaktan (Span 80 dan Tween 80) dan kosurfaktan (butanol) adalah 6:3, 7:3 dan 8:3. Evaluasi yang dilakukan meliputi tegangan permukaan, viskositas, ukuran droplet, pH dan efisiensi penjebakan ovalbumin dalam sistem mikroemulsi. Hasil dianalisis dengan statistik menggunakan ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa bahwa perbandingan surfaktan dan kosurfaktan sebesar 7:3 menghasilkan mikroemulsi yang terbaik. Kata Kunci: mikroemulsi, surfaktan, kosurfaktan, butanol, ovalbumin    
Aktivitas Antioksidan Daun Iler Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br. Moelyono, M W; Rochjana, Anna Uswatun Hasanah; Diantini, Ajeng; Musfiroh, Ida; Sumiwi, Sri Adi; Iskandar, Yoppi; Susilawati, Yasmiwar
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT : Antioxidants are the compounds capable to inhibit free radical reactions in the human body. This research was aimed to identify the antioxidant potency of ethanolic extract of Plectranthus scutellaroides leaves in vitro by using spectrophotometric methods with DPPH (1,1-diphenyl-2-picryl hydrazyl) using vitamin C as reference. Concentrations of samples used were 75, 100, 115, 125 and 135 ppm. The antioxidant activity was measured by visible spectrophotometry at three wavelengths of 498, 518 and 538 nm. The result showed that the n-hexane fraction gave the highest antioxidant activity with IC50 of 52.5 ppm, 15 times lower than that of vitamin C (IC50 of 3.33 ppm). Phytochemical screening of the Plectranthus scutellaroides leaves indicated the presence of flavonoids, polyphenolic, monoterpenoids, sesquiterpenoids, steroids and triterpenoids. Keywords: antioxidant, Plectranthus scutellaroides, leaves, DPPH ABSTRAK Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi radikal bebas dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya antioksidan dari daun Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br., secara in vitro dengan metode spektrofotometri menggunakan pereaksi 1,1-difenil 2-pikrilhidrazil (DPPH) dengan vitamin C sebagai pembanding. Daun diekstrak menggunakan etanol lalu difraksinasi dengan n-heksana, etil asetat dan air. Variasi konsentrasi sampel uji yang digunakan pada pengujian ini adalah 75, 100, 115, 125 dan 135 ppm. Aktivitas antioksidan diukur secara spektrofotometri pada tiga panjang gelombang yaitu 498, 518 dan 538 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksana pada konsentrasi tersebut memberikan aktivitas antioksidan paling kuat dengan nilai IC sebesar 52.5 ppm, 15 kali lebih lemah dibandingkan dengan vitamin C (IC50 = 3.33 ppm). Hasil penapisan fitokimia terhadap daun Plectranthus scutellaroides menunjukkan adanya senyawa golongan flavonoid, polifenolat, monoterpenoid, sesquiterpenoid, steroid dan tritertenoid. Kata kunci: antioksidan, Plectranthus scutellaroides, daun, DPPH
Formulasi Tablet Hisap Yang Mengandung Ekstrak Akar Ginseng Korea (Panax ginseng C. A. Meyer) Dan Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) Gozali, Dolih; Susilawati, Yasmiwar; Simorangkir, T.P.H.; Utami, Nadya Firdianna
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The aims of this research is to find the best organoleptically acceptable formula of lozenges that contain ginseng and curcuma extract. Lozenges were prepared using wet granulation method with variation in concentration of sweetener (aspartame) and citric acid, i.e. for formula I aspartame 1% and citric acid 3%, formula II aspartame 0,75% and citric acid 4%, formula III aspartame 0,5% and citric acid 5%, and formula IV without aspartame and citric acid. The result of quality test of the tablets showed that tablets have a good quality and complied with the requirement. Thin Layer Chromatography indicated that all formulas still contain active ingredients from ginseng and curcuma extract after formulation process. Organoleptic test showed that formula II is the most suitable compared to the other three formulas. Keywords: formulation, lozenges, ginseng, temulawak, Panax ginseng, Curcuma xanthorrhiza ABSTRAK : Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan formula tablet hisap yang mengandung ekstrak Ginseng Korea (Panax ginseng C. A. Meyer) dan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) yang dapat diterima oleh masyarakat. Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dengan variasi konsentrasi pemanis (aspartam) dan asam sitrat, yaitu untuk formula I aspartam 1% dan asam sitrat 3%, formula II aspartam 0,75% dan asam sitrat 4%, formula III aspartam 0,5% dan asam sitrat 5%, dan formula IV tanpa aspartam dan asam sitrat. Pengujian kualitas tablet menunjukan bahwa tablet memiliki kualitas yang baik dan memenuhi persyaratan. Hasil uji kromatografi lapis tipis menunjukan bahwa senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak ginseng dan temulawak masih terdapat dalam tablet hisap. Hasil uji kesukaan yang dilakukan terhadap 30 responden menunjukan bahwa formula II lebih disukai dibandingkan ketiga formula lainnya. Kata kunci: formula, tablet hisap, ginseng, temulawak, Panax ginseng, Curcuma xanthorrhiza 
Efek penambahan parasetamol pada terapi ketorolak terhadap nyeri akut pascaoperasi orthopedi Santoso, Agustinus; Huwae, Thomas Erwin CJ; Idha, Arofa; Suprapti, Budi
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT : The aim of this research is to analyze pain control of paracetamol addition to ketorolac compared with ketorolac alone on patient’s pain response. Ketorolac group (K group) recieved ketorolac 10 mg i.v every 8 hours and Ketorolac and Paracetamol group (KP group) recieved ketorolac 10 mg i.v and paracetamol 1,000 mg orally every 8 hours. Observation of pain intensity with Face Scale at ½ hours before and after administration at the first, the fourth and the seventh analgesics. Observation quality of pain management with QUIPS at ½ hours after administration the seventh analgesics. As the results, paracetamol addition to ketorolac provide better pain control, shown at the mean pain intensity KP group was lower at post to 4, pre to 7 and post to 7 than K group, and the QUIPS results were side effects of paracetamol additional well tolerated, reduce needs for additional analgesics, but no difference at patient satisfactions. These results suggest that paracetamol addition to ketorolac had better pain control than ketorolac alone in patients with orthopedic postoperative acute pain.Keywords : ketorolac, paracetamol, postoperative, face scale, QUIPS ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengendalian nyeri oleh penambahan parasetamol pada ketorolak dibandingkan dengan ketorolak tunggal berdasarkan respon nyeri pasien. Kelompok Ketorolak (Kelompok K) mendapatkan ketorolak 10 mg i.v setiap 8 jam dan kelompok Ketorolak dan Parasetamol (kelompok KP) mendapatkan ketorolak 10 mg i.v dan parasetamol 1000 mg per oral setiap 8 jam. Penilaian intensitas nyeri dengan Face Scale pada 30 menit sebelum (pre) dan sesudah (pasca) pemberian dosis analgesik pertama, ke empat dan ke tujuh. Pengamatan kualitas manajemen nyeri dengan QUIPS pada 30 menit setelah pemberian analgesik dosis ke tujuh. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penambahan parasetamol pada ketorolak memberikan kendali nyeri yang lebih baik, ditunjukkan oleh rerata intensitas nyeri kelompok KP pada pasca dosis ke 4, pre dosis ke 7 dan pasca dosis ke 7 lebih rendah dari kelompok K, serta hasil QUIPS bahwa efek samping penambahan parasetamol dapat ditoleransi, menurunkan kebutuhan analgesik tambahan, namun tidak berbeda pada kepuasan pasien. Hasil diatas menyatakan bahwa penambahan parasetamol pada ketorolak memberikan kendali nyeri lebih baik dari ketorolak tunggal pada pasien nyeri akut pascaoperasi orthopedi. Kata kunci: ketorolak, parasetamol, pascaoperasi, QUIPS  
Evaluasi Kuantitatif Penggunaan Antibiotik pada Pasien Caesarean Section di RSUD se-Kabupaten Banyumas Kusuma, Anjar Mahardian; Galistiani, Githa Fungie; Wijayanti, Dwi Nur; Umami, Muzayanatul; Nurdiyanti, .; Utaminingrum, Wahyu; Sudarso, .
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT : Antibiotics usage in woman having caesarean section is assumed 5-fold greater than woman having normal labor. The aim of the study is to count the antibiotics usage in patient having caesaren section in several hospitals in Banyumas, i.e. RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, RSUD Ajibarang, and RSUD Banyumas. This study use cross sectional study design, retrospective data collection of medical records and data were statistically analyzed with Mann- Whitney and Kruskal-Wallis. Results of the study showed that the greatest quantity of antibiotic use was in RSUD Ajibarang with 110.75 DDD/100 patient- days, followed by RSUD Prof. DR Margono Soekarjo and RSUD Banyumas respectively 76.20 DDD/100 patient-days and 46.07 DDD/100 patient-day. The comparison of DDD for each antibiotic in three hospitals showed a significant difference on antibiotic amoxicillin and cefotaxime usage. Keywords : antibiotics, DDD, caesarean section ABSTRAK : Penggunaan antibiotik pada pasien caesarean section diperkirakan 5 kali lipat lebih banyak dibandingkan pada persalinan normal. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kuantitas penggunaan antibiotik terapi pada pasien caesarean section di beberapa rumah sakit di kabupaten Banyumas, yaitu RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, RSUD Ajibarang, dan RSUD Banyumas. Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang (cross sectional), pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap rekam medik dan data dianalisis dengan analisis statistik Man-Whitney and Kruskal-Wallis. Dari hasil penelitian ini diperoleh data bahwa kuantitas penggunaan antibiotik terbesar terjadi di RSUD Ajibarang yakni 110,75 DDD/100 pasien-hari kemudian diikuti RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo dan RSUD Banyumas dengan masing-masing 76,20 DDD/100 pasien-hari dan 46,07 DDD/100 pasien-hari. Hasil perbandingan DDD tiap antibiotik di tiga rumah sakit menunjukkan adanya perbedaan bermakna nilai DDD antibiotik amoksisilin dan sefotaksim di tiga rumah sakit tersebut. Kata kunci: antibiotik, DDD, caesarean section
Penilaian Pelayanan Kefarmasian Program Rujuk Balik Jaminan Kesehatan Nasional di Kotamadya Denpasar Bersadarkan Sudut Pandang Pasien Wirasuta, I Made Agus Gelgel; Wistari, Ni Made Ayu; Kosasih, Diah Ayu Nirmala; Cahyadi, Maria Fiani; Sari, Ni Putu Latsartika; Sudarni, Ni Made Rai; Sarasmita, Made Ary; Larasanty, Luh Putu Febryana
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The aim of this study was to evaluate the implementation of pharmaceutical care in pharmacies from patient’s point of view. The questioner assessment based on expectations, perceptions and level of satisfaction of patients. The questions were grouped into universal pharmaceutical care aspect, infrastructure and medicine management, drug auditing practice and dispensary waiting time, dispensing practice, drug information and drug counseling, and drug monitoring. The patients have a very high expectation of the pharmaceutical care in aspects of universal pharmaceutical care, infrastructure and medicine management, drug auditing practice and dispensary waiting time, and dispensing practice. The patients expressed a high expectation of drug information and counseling care, and a medium expectation in the drug monitoring. The patients have very high perception only at universal pharmaceutical care along with the infrastructure and medicine management aspects, while the drug auditing practice and dispensary waiting time along with dispensing practice aspects have medium perception. The drug information and counseling care along with drug monitoring aspects have poor perception. The comprehensive assessment showed that patient satisfaction levels were low on pharmaceutical care on community practice. The high expectation of patients to pharmaceutical care was a challenge to pharmacist to improve their role in better patient care. Keywords: pharmaceutical care, pharmacy, patient expectation, perception, satisfaction ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menilai implementasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di apotek dari sudut pandang pasien. Penilaian didasarkan pada aspek harapan, persepsi dan tingkat kepuasan pasien terhadap praktek kefarmasian menggunakan kuisioner tertutup dengan penilaian berdasarkan skala Likert. Kuisioner disusun berdasarkan standar pelayanan kefarmasian di apotek tahun 2014. Pernyataan dalam kuisioner dikelompokkan ke dalam 6 aspek yaitu aspek layanan umum, sarana prasarana dan pengelolaan perbekalan Kefarmasian, pengkajian resep dan waktu tunggu, dispensing, layanan Pusat informasi obat (PIO) dan konseling, serta monitoring. Secara umum pasien memiliki harapan yang sangat tinggi pada aspek layanan umum, sarana prasarana dan perbekalan kefarmasian, pengkajian resep dan waktu tunggu, serta pada aspek dispensing, harapan pelayanan yang tinggi pada aspek layanan pusat informasi obat (PIO) dan konseling, serta harapan yang sedang pada aspek monitoring. Namun demikian, pasien memiliki persepsi yang tinggi hanya pada aspek layanan umum serta sarana prasarana dan perbekalan kefarmasian, sedangkan pada pelayanan pengkajian resep dan waktu tunggu serta dispensing memiliki tingkat persepsi sedang, serta persepsi yang sangat rendah pada pelayanan PIO dan konseling serta monitoring. Secara menyeluruh pasien memberikan tingkat kepuasan yang rendah pada pelayanan kefarmasian. Tingginya harapan pasien pada pelayanan kefarmasian yang sesuai dengan standar menunjukkan tuntutan dan peluang bagi apoteker khususnya dalam peningkatan praktek asuhan kefarmasian di apotek. Kata kunci: JKN, pasien rujuk balik, asuhan kefarmasian, apotek, persepsi, kepuasan .  

Page 1 of 3 | Total Record : 24