cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2014)" : 6 Documents clear
DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK DI PERAIRAN ACEH Nazar Nurdin; Imelda R. Silalahi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.845 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.243

Abstract

Perairan Aceh termasuk Pulau Weh, Pulau Breuh dan Pulau Penasi merupakan area terluar di sisi barat Kepulauan Indonesia yang menghadap ke Samudera Hindia. Wilayah ini sangat menarik bagi para peneliti terutama setelah kejadian tsunami pada tahun 2004. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui distribusi foraminifera sebagai organisme yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Sebanyak 32 contoh sedimen diambil pada kedalaman 7- 170 meter dan terpilih 11 contoh untuk studi foraminifera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 45 spesies foraminifera bentik yang sangat berlimpah, terdiri atas 28 spesies anggota Subordo Rotaliina, Miliolina (7 spesies) dan Textulariina (10 spesies). Amphistegina papilosa dijumpai dalam jumlah sangat berlimpah dan tersebar merata yang memberi indikasi kondisi lingkungan terumbu karang baik. Ammonia tepida sangat dominan (47%) di sebelah utara Pulau Weh (S30) dibandingkan dengan spesies lain. Di bagian Timur Pulau Penasi, ditemukan cangkang foraminifera dalam kondisi rusak dalam jumlah berlimpah yang dapat dikaitkan dengan arus kuat di lokasi ini. Kata kunci : foraminifera bentik, distribusi, perairan Aceh The Aceh waters including Weh, Breuh and Penasi islands are the outer parts of northwestern Indonesia that facing the Indian Ocean. This area is interested for many scientists especially after tsunami in 2004. The purpose of this study is to establish the distribution of benthic foraminifera as a sensitive indicator of environmental changes. Thirty two (32) surface sediment samples were collected at the water depth of 7-170 m and eleven samples were selected for foraminiferal study. The results show 45 species of benthic foraminifera very abundantly and consists of 28 species belong to Suborder Rotaliina, Miliolina (7 species) and Textularia (10 species). Amphistegina papilosa is found abundantly and widely distribution that provide an indication of good reef environments. Ammonia tepida is very dominant(47%) in the northern part of Weh island compared with other species. Abnormal shells of foraminifera were found abundantly in the eastern part of Penasi Island that related to strong current in this area. Keywords: benthic foraminifera, distribution, Aceh waters
INDIKASI GAS BIOGENIK DI DELTA MUSI, KABUPATEN BANYUASIN, SUMATERA SELATAN Purnomo Raharjo; Hananto Kurnio; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.909 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.244

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui indikasi keterdapatan gas biogenik di Delta Musi, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Analisis contoh sedimen menunjukkan jumlah bakteri metanogenik dari jenis Methanobacterium bryantii, Methanoplanus endosimbiosus dan Methanobacterium ivanovii berkisar antara 3,2 x 104 - 1,0 x 105 (CFU/gram). Bakteri ini melimpah pada kedalaman pemboran 15-17 meter dalam sedimen yang terdiri dari lanau hingga lempung pasiran, pasir halus-sedang, fragmen kuarsa, mineral hitam, gambut dan material organik. Hasil analisis laboratorium dari dua titik bor memperlihatkan kandungan karbon organik berkisar 2,2-13,4 % berupa submaceral Detrovitrinite (Humodetrinite) yang menunjukkan bahwa sedimen di daerah penelitian berpotensi terbentuk gas biogenik pada kedalaman sedimen 6-17,5 meter. Kata Kunci : bakteri metanogenik, energi baru terbarukan, Delta Musi, Banyuasin Sumatera Selatan The aim of the study is to identify the indication of biogenic gas occurence in the Musi Delta, District of Banyuasin, South Sumatera. Sediment samples analysis indicate methanogenic bacteria Methanobacterium bryantii, Methanoplanus endosimbiosus and Methanobacterium ivanovii as much as 3.2 x 104 to 1.0 x 105 (CFU / g). These bacteria are abundant at the core depth of 15-17 meters which sediments consist of silt to sandy clay sediment, fine-medium sand, quartz fragments, dark minerals, peat and organic material. From the laboratory analysis of two cores indicates the organic carbon content of 2.2-13.4 % as Detrovitrinite (Humodetrinite) which indicate that the sediments in study area are potential to form biogenic gas at the depth between 6 to 17.5 meters. Keywords : metanogenic bacteria, renewable, Musi Delta, Banyuasin South Sumatera.
PENELITIAN GAYABERAT DAN GEOMAGNIT KEPULAUAN ARU, CEKUNGAN WOKAM Tatang Patmawidjaya; Subagio Subagio
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1278.822 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.241

Abstract

Paparan Arafura di bagian selatan Kepulauan Aru merupakan depresi Lempeng Indo-Australia yang ditunjukkan oleh anomali gayaberat dan geomagnet tinggi. Sedangkan depresi di bagian utara yang tertahan Palung Aru diperlihatkan oleh anomali gayaberat tinggi dan anomali geomagnet rendah. Anomali ini diduga sebagai penebalan batuan metamorf yang mengalami pangangkatan sebagai alas cekungan Wokam. Analisis data gayaberat dan geomagnet mengindikasikan penurunan cekungan ini ke arah utara. Penurunan anomali gayaberat ke arah Pulau Wokam yang berarah baratdaya-timurlaut di selatan dan baratlaut-tenggara di daerah utara ditafsirkan sebagai struktur sesar. Hal ini dicirikan oleh arah sungai atau selat sebagai pemisah pulau-pulau di Kepulauan Aru. Anomali gayaberat residual mengindikasikan cekungan dan punggungan berarah baratdaya-timurlaut yang membentuk antiklin dan sinklin. Sesar dan lipatan ini menerus sebagai struktur geologi dangkal bawah permukaan. Berdasarkan pemodelan gayaberat dan geomagnet dapat dikatakan bahwa Cekungan Wokam cenderung menurun ke arah utara akibat sesar normal. Kata Kunci : gayaberat, geomagnet, pemodelan geologi, Cekungan Wokam Arafura Shelf in the southern part of the Aru Islands is a depression of the Indo-Australian crust at the south that indicated by high gravity and geomagnetic anomalies. While the northern depression blocked by the Aru Trough indicated by high gravity anomaly and low geomagnetic anomaly. These anomalies presumed as a thickening of the metamorphic rocks due to uplifting and acting as the basement of Wokam Basin. Gravity and geomagnetic analyses indicate a northward subsidence of the basin. The decreasing of the southwest–northeast gravity anomaly in the south and the northwest-southeast in the north, interpreted as a fault. It this characterized by the river direction or strait as islands separation in Aru Archipilagoes. Residual gravity anomaly indicates a southwest-northeast basin and ridge form anticline and syncline. These faults and folds are continuous as the shallow subsurface geological structures. On the base gravity and geomagnetic models, it can be concluded that Wokam Basin tends to subside northward as the result of a normal fault. Keywords: gravity, geomagnetic, geological models, Wokam Basin
KEBERADAAN SESAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBENTUKAN GUNUNG BAWAH LAUT DI BUSUR BELAKANG PERAIRAN KOMBA, NUSA TENGGARA Lili Sarmili; Rainer Arief Troa
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1852.668 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.246

Abstract

Lokasi penelitian terletak di busur belakang perairan timurlaut pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di daerah ini terdapat gunung api Komba (Batutara) yang masih aktif yang letaknya agak ke utara dari jajaran gunung api aktif yang berada di sepanjang pulau-pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Pantar dan lainnya. Ke arah tenggara dari gunung api Komba ini ditemukan beberapa gunung bawahlaut. Gunung bawahlaut tersebut adalah Baruna, Abang dan Ibu Komba. Gunung bawah laut ini telah dipetakan dengan batimetri multibeam mulai dari tahun 2003 hingga tahun 2013 dan pada tahun 2010 dilengkapi dengan seismik refleksi. Berdasarkan kerangka tektonik, gunung bawah laut ini terletak di cekungan busur belakang dan sekitar 200 sampai 300 km dalamnya dari bidang penunjaman. Munculnya gunung bawah laut ini diduga disebabkan oleh sistim sesar yang dalam yang berarah barat laut – tenggara. Data seismik juga mengindikasikan bahwa gunung bawah laut tersebut terpotong oleh sesar yang lebih muda yang berarah timurlaut-baratdaya. Akibat dari sesar yang berarah barat daya – timur laut ini juga merubah arah dari sesar naik busur belakang yang umumnya berarah barat-timur. Kata Kunci : gunung bawah laut Baruna, Abang dan Ibu Komba, cekungan busur belakang, sesar-sesar dalam, Flores timur laut Nusa Tenggara Timur. The study area is located on the back arc basin of northeast Flores island, East Nusa Tenggara. The area that is an active volcano of Batutara (Komba) situated. The Komba volcano is located far to the north of normal volcanoes belt of Java, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Pantar, and others. To southeast of the Komba volcano, we found three submarine ridges. They are Baruna, Abang and Ibu Komba. These submarine ridges were mapped by multi beam bathymetry since 2003 and 2013 and at 2010 was completed by single and multi channel seismic reflection. According to their tectonic setting these ridges belong to the back arc basin and they are about 200 – 300 km depth of to the subduction slab. We interpret from the data of seismic reflection, these ridges are formed by a deeply NW-SE fault. Data from the seismic profiles also indicate that all the submarine ridges are cut by younger SW-NE faults. Inconsequently, the NE-SW faults have changed the direction of back arc thrusts those are normally E-W in direction. Keywords : Baruna, Abang and Ibu Komba submarine ridge, back arc basin, deep faults, North East Flores
INTERPRETASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN ATRIBUT ANOMALI MAGNETIK PERAIRAN WETAR, NUSA TENGGARA TIMUR Subarsyah Subarsyah; Lukman Arifin; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1532.35 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.242

Abstract

Struktur geologi yang berkembang di Perairan Wetar berupa Proto-Thrust-Zone, Frontal-Thrust dan Sesar Mendatar. Kelurusan anomali magnetik dikontrol oleh kontras suseptibilitas magnetik dari fenomena geologi. Interpretasi fenomena geologi berdasarkan anomali magnetik memperlihatkan Sesar Naik Wetar yang cukup jelas di bagian selatan, dan berpindah tidak menerus ke bagian timur daerah penelitian akibat Sesar Mendatar. Fenomena geologi lainnya berdasarkan metode horisontal derivatif orde 1 dan analisis sinyal terlihat jelas batas keberadaan tubuh batuan vulkanik. yang teridentifikasi dalam penampang seismik lintasan 5 dan 9. Metode ini cukup baik dalam memetakan struktur bawah permukaan. Di perairan Wetar sebagian anomali magnet tidak bisa diinterpretasikan jika dikorelasikan dengan penampang seismik. Hal ini terkait dengan hipotesis keberadaan paleomagnetik dan kerak Banda bagian selatan yang merupakan lempeng samudera yang terperangkap. Kata Kunci : magnet, horisontal derivatif, anomali, perairan Wetar Geological structures that develop in the Wetar waters are Proto Thrus Zone, Frontal Thrust Zone and Strike Slip Fault. Magnetic lineament controlled by sussceptibility contrast of geological phenomena. Interpretation of geological phenomena based on magnetic anomaly clearly show the strike-slip fault trending in the south, and move discontinuously eastward of the study area due to Strike-Slip Fault. Other geological phenomena clearly identified by horizontal derivative and signal analysis method such as the boundary of volcanic body as seen on seismic section line 5 and 9. These method quite usefull to map subsurface structure. Some part of the magnetic anomaly in the Wetar Waters cannot be interpreted since they are correlated with seismic section. It may be due to the hypothesis of the present of paleomagnetic southern Banda basin assumed as the trapped oceanic crust. Keywords: magnetic, derivative horizontal, anomaly, Wetar waters
MODEL PARSIAL HARI TENANG VARIASI MEDAN GEOMAGNET SEBAGAI FUNGSI HARI DALAM SETAHUN, USIA BULAN DAN WAKTU LOKAL DI STASION GEOMAGNET TONDANO John Maspupu; Setyanto C.D. Pranoto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.341 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.245

Abstract

Penentuan suatu model parsial hari tenang variasi medan geomagnet di stasion geomagnet Tondano merupakan fungsi Date of Year (DOY), Lunar Age (LA), dan Local Time (LT). Diperoleh tiga model parsial hari tenang variasi medan geomagnet yaitu = g(DOY), = h(LA), dan = m(LT). Kontribusi dari DOY terhadap hari tenang variasi medan geomagnet sangatlah kecil (sebesar 0,784.10-3 %). Kontribusi faktor fisis lainnya diduga berperan terhadap hari tenang variasi medan geomagnet . Informasi hasil analisis model parsial variasi hari tenang terhadap usia bulan menunjukkan adanya anomali di sekitar lokasi pengamatan. Model parsial hari tenang variasi medan geomagnet yang diperoleh akan membentuk model empiris dari hari tenang. Model empiris akan memberikan informasi gangguan geomagnet untuk kegiatan survei geofisika di perairan Sulawesi Utara. Kata kunci : Model parsial, hari tenang, variasi medan geomagnet, DOY, LA, LT, Tondano. Determination of partial model from quiet daily geomagnetic field variation ( ) at geomagnetic station in Tondano is a function of Day of Year (DOY), Lunar Age (LA) and Local Time (LT). It obtains three partial models of quiet daily geomagnetic field variation, those are = g(DOY), = h(LA), dan = m(LT). Contribution from DOY to the quiet daily geomagnetic field variation ( ) is very small (around 0,784.10-3 %). Another contribution of physical factor presumes to play role to quiet daily geomagnetic field ( ). Information of analysis result of quiet daily partial model to lunar age indicates anomaly occurrence around the observation location. Partial model of the obtained quite daily geomagnetic will form empirical model of quite day. This empirical model will provide any information about geomagnetic disturbance for geophysical survey in North Sulawesi Waters. Keywords: Partial model, the quiet daily variation, geomagnetic field variation, DOY, LA, LT, Tondano.

Page 1 of 1 | Total Record : 6