cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
ISSN : 19782365     EISSN : 25281917     DOI : -
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan merupakan jurnal ilmiah yang berisi hasil penelitian/kajian dibidang ketenagalistrikan, energi baru, terbarukan, dan konservasi energi. Diterbitkan melalui proses review oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi dalam 2 (dua) edisi Juni dan Desember setiap tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 147 Documents
ANALISIS KONSUMSI ENERGI LISTRIK PADA PROSES PEMBEKUAN DAN PENYIMPANAN IKAN ; ELECTRICAL ENERGY CONSUMPTION ANALYSIS ON PROCESS AND STORAGE OF FROZEN FISH Ahadi, Khalif; Setiadanu, Guntur Tri
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 18, No 1 (2019): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan segar mengandung hingga 80% air dan sangat mudah rusak sehingga memiliki masa simpan yang singkat. Untuk menjaga kualitas dan mencegah pembusukan, dilakukan beberapa perlakuan diantaranya menggunakan metode pendinginan. Pada industri penyimpanan ikan, hampir sebagian besar penggunaan energi dikonsumsi oleh peralatan pendingin. Dengan meningkatnya harga energi, produsen mencari peluang untuk mengurangi biaya produksi dengan menghemat penggunaan energi. Penggunaan peralatan, alur kerja, kondisi lingkungan, dan pemilihan peralatan dapat berpengaruh terhadap konsumsi energi. Penilaian hemat energi dapat dilihat dari konsumsi energi spesifik yang merupakan perbandingan jumlah energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk (kWh/ton produk). Pada tulisan ini akan dibahas pengumpulan data dan analisa untuk mendapatkan nilai konsumsi energi spesifik listrik pada pengolahan dan penyimpanan ikan di industri jasa pembekuan dan penyimpanan ikan. Nilai konsumsi energi spesifik listrik untuk cold storage adalah 4,2 kWh/ton. Nilai konsumsi energi spesifik listrik untuk air blast freezer (ABF) kapasitas 5 ton adalah 91 Wh/kg.  Konsumsi energi listrik pada ABF sangat dipengaruhi oleh kesesuaian antara spesifikasi kapasitas ABF dengan jumlah ikan yang didinginkan, pada ABF kapasitas 5 ton jika hanya diisi ikan dibawah 2 ton maka nilai konsumsi energi spesifik listriknya naik 50% mencapai hingga 145 Wh/kg. Fresh fish contain up to 80% water and very easily damaged so have a short shelf life. To maintain the quality and prevent spoilage, some treatments are done using the cooling method. In the fish storage industry, most of the energy use is consumed by refrigeration equipment. With rising energy prices, the opportunity to reduce production costs is done by saving energy use. Utilization of equipment, workflow, environmental conditions, and equipment selection may affect energy consumption. Energy saving assessment can be seen from the specific energy consumption which is the ratio of the energy consumption required and the number of products (kWh/tonne of products). This paper will be discussed data collection and analysis to get the value of specific energy consumption in processing and storage of fish in a storage service industry. The value of specific energy consumption in cold storage is 4,2 kWh/tonne. The value of energy consumption intensity in 5 tonnes capacity air blast freezer (ABF) is 91kWh/kg. The energy consumption in ABF is strongly influenced by the ABF capacity and the amount of fish cooled, 5 ton capacity of ABF if only filled with fish under 2 tonnes, the intensity value of its energy consumption rose 50% reach up to 145 Wh/kg.
Preface Ketjurnal Vol 18, No 1 (2019) KetJurnal, KetJurnal
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 18, No 1 (2019): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi Tenaga Angin Di Atas Bangunan Bertingkat di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau Azirudin, Tengku
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 18, No 1 (2019): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya bangunan bertingkat di Pangkalan Kerinci memberikan keuntungan dalam hal ketinggian lokasi untuk dibangun kincir angin, karena posisi yang lebih tinggi memiliki kecepatan angin yang lebih besar. Tujuan penelitian ini menghasilkan data besaran energi angin yang dapat dikonversi menjadi energi listrik di bangunan bertingkat di Pangkalan Kerinci. Untuk mendapatkan kecepatan angin di lokasi penelitian, telah dilakukan pengukuran menggunakan anemometer pada ketinggian 10 meter di atas permukaan tanah. Data hasil pengukuran di lapangan diolah untuk mendapatkan besaran energi listrik yang dihasilkan pada ketinggian tertentu. Perkiraan kecepatan angin rata-rata pada ketinggian 30 meter adalah 3.35 m/s, sedangkan daya listrik yang dihasilkan dengan diameter sapuan blade sebesar 5 meter adalah 225 watt per jam. Hal ini masih belum mencukupi kebutuhan listrik untuk rumah tangga kecil sebesar 450 – 2200 VA
Back Cover Vol 18, No 1 (2019) KetJurnal, KetJurnal
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 18, No 1 (2019): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PEMANFAATAN PANAS BUANG PLTG PESANGGARAN BALI UNTUK PENDINGIN RUANGAN MENGGUNAKAN ABSORPTION CHILLER Suntoro, Dedi; Konitat, Nina; Ahadi, Khalif; Dharma Susila, I Made Agus
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 18, No 1 (2019): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efisiensi termal Pembangkit Listrik Tenaga gas (PLTG) terbilang rendah karena sebagian besar panasnya terbuang lewat gas buang. Panas buang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk pendingin ruangan dengan suatu sistem yang disebut absorption chiller (chiller absorpsi). Pada tulisan ini akan dibahas identifikasi potensi sisa panas dari gas buang PLTG Pesanggaran, PT. Indonesia Power - Unit Pembangkitan dan Jasa Pembangkitan (UPJP) Bali, serta menentukan kapasitas dan konfigurasi chiller absorpsi yang akan digunakan sebagai pendingin ruangan untuk gedung di sekitar PLTG. Metoda yang dilakukan adalah dengan melakukan analisis kesetimbangan massa dan energi sistem pendingin gedung menggunakan absorption chiller dengan bantuan software Engineering Equation Softwaree (EES). Analisis dilakukan dengan dua scenario, skenario 1 adalah saat beban pendinginan 24 jam yaitu 912,54 kW dan skenario 2 adalah saat beban pendinginan pada pukul 07.00-17.00 yaitu 565,97 kW. Berdasarkan hasil perhitungan, untuk skenario 1 dibutuhkan 2 unit chiller absorpsi masing-masing dengan kapasitas pendinginan 1476 kW yang mampu memanfaatkan panas buang sebesar 1.917kW termal atau 3,1% dan untuk skenario 2 dibutuhkan 2 unit chiller absorpsi masing-masing dengan kapasitas pendinginan 824 kW yang mampu memanfaatkan panas buang sebesar 1.071kW termal atau 3,9%. 
KAJIAN TEKNO EKONOMI PEMBANGKIT LISTRIK PANAS BUMI SKALA KECIL: WELLHEAD GENERATING UNIT Putriyana, Lia
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 18, No 1 (2019): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengusahaan panas bumi di Indonesia masih didominasi penggunaan pembangkit listrik panas bumi konvensional dengan kapasitas besar, yang memerlukan proses lama dalam pengusahaannya. Disisi lain, energi panas bumi dalam RUEN ditargetkan untuk berkontribusi sebesar 7.242 MWe pada tahun 2025. Dengan sisa waktu yang dimiliki, masih ada sekitar 5400 MWe belum dibangkitkan. Kajian ini dilakukan untuk menunjukan seberapa efektif sebuah unit wellhead generator menggantikan pembangkit konvensional untuk mencegah kerugian akibat adanya sumur-sumur yang idle (belum digunakan) selama menunggu pengerjaan konstruksi pembangkit. Selain itu, memberikan gambaran keekonomian yang komprehensif mengenai revenue yang didapat lebih cepat, dan biaya investasi yang lebih rendah sehingga dapat menjadikan suatu proyek pembangkit panas bumi lebih feasible dan meminimalisasi hambatan pengambangan panas bumi terkait dengan nilai investasi. Analisis dalam penelitian ini difokuskan pada penjadwalan siklus proyek dan analisis keekonomian dari  total biaya investasi dari masing-masing teknologi dan tingkat pengembalian finansial yang dicapai. Dalam menentukan teknologi mana yang lebih baik digunakan analisis keekonomian menggunakan parameter Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Periode (PBP). Setelah dilakukan analisis cashflow didapatkan perbandingan nilai IRR, NPV dan Payback Periode untuk wellhead generating unit; IRR sebesar 11,66%, NPV sebesar US$ 8.271.825 dan PBP selama 15 tahun, sedangkan untuk pembangkit teknologi konvensional; IRR sebesar 19,8%, NPV sebesar US$ 34.553.087 dan PBP selama 9 tahun.
ANALISIS KINERJA SISTEM PV MIKROGRID 80 kWp (STUDI KASUS : PT. LEN INDUSTRI) Nurliyanti, Vetri; Pandin, Marlina; Rasyid, Harun Al
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 11, No 2 (2012): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu sistem PV mikrogrid kapasitas 80 kWp telah di pasang di PT. LEN Industri sebagai sistem percontohan untuk aplikasi di industri. Sistem ini dirancang untuk menjaga kestabilan suplai daya listrik ke beban penting saat terjadi gangguan tegangan atau pemadaman listrik dari jaringan utama / PLN. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efisiensi sistem, rasio kinerja, kontribusi energi, dan faktor-faktor kegagalan yang mempengaruhi kinerja sistem selama beroperasi. Berdasarkan data yang dikumpulkan selama tahun 2011, sistem PV mikrogrid tidak beroperasi dengan baik. Hasil analisa menunjukkan bahwa kinerja sistem PV mikrogrid tersebut sangat rendah dimana efisiensi sistem dan rasio kinerja rata-rata berturut-turut adalah 3,5% dan 26,3%. Sistem PV mikrogrid yang memiliki kinerja bagus akan mampu mencapai nilai rasio kinerja di atas 80%. Selain itu kontribusi energi sistem PV mikrogrid hanya sebesar 1,4% dari total konsumsi energi PT. LEN Industri. Rendahnya kinerja sistem PV mikrogrid ini disebabkan karena beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan operasional sistem, seperti: kegagalan penyamaan muatan baterai, malfungsi salah satu PV inverter low harmonic dan konfigurasi sistem saat tidak menggunakan baterai/inverter baterai. An 80 kW microgrid photovoltaic (PV) system has been installed at PT. LEN Industri for demonstration purposes. The system is designed to continuously supply stable power to define important loads when a voltage dip or a power system fault occurs on the PLN grid. This research is carried out to study the efficiency of the system, performance ratio, energy contribution and failure factors that affect the performance of Microgrid PV System during operation. Based on the one year data collected in 2011, the microgrid PV system performance is not good in operation. From the analysis it is shown that average efficiency and performance ratio are 3.5% and 26.3% respectively, while good performance microgrid PV system shall achieve performance ratio above 80%. Moreover, energy that contributes into total energy consumption at PT. LEN is only 1.4%. This low performance is due to some failure factors, such as: battery equalizing charge failures, malfunction of one of low harmonic PV inverter, and battery inverter non-used mode.