cover
Contact Name
Hirowati Ali
Contact Email
hirowatiali@med.unand.ac.id
Phone
+6281276163526
Journal Mail Official
mka@med.unand.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine, Universitas Andalas
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : https://doi.org/10.25077
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines
Articles 792 Documents
PEMERIKSAAN DAYA HAMBAT EKTRAK METANOL DAUN TRISTANIA SUBAURICULATA KING TERHADAP PERTUMBUHAN KUMAN PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS Yustini Alioes; Benni Raymond
Majalah Kedokteran Andalas Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.33 KB) | DOI: 10.22338/mka.v35.i1.p37-42.2011

Abstract

AbstrakTristania subauriculata King dikenal oleh penduduk sekitar Kelok Sembilan, Payakumbuh sebagai obat untuk mengobati penyakit kulit. Diduga Tristania subauriculata King mengandung suatu senyawa bioaktif yang bersifat sebagai anti bakteri.Untuk melihat efektifitas ekstrak metanol daun Tristania subauriculata King dalam menghambat pertumbuhan kuman Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus, telah dilakukan penelitian secara invitro dengan menggunakan metode difusi agar, pengamatan dilakukan dengan mengukur diameter daerah hambat yang terbentuk pada agar.Dari penelitian didapatkan adanya daya hambat ekstrak metanol daun Tristania subauriculata King 15% b/v dalam menghambat pertumbuhan kuman Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Daya hambat ini meningkat pada konsentrasi 30% b/v, 45% b/v, dan daya hambat terbesar pada konsentrasi 60% b/v yang terlihat dengan semakin besarnya diameter daerah bebas kuman yang dihasilkan.Kata kunci : Ekstrak Metanol daun Tristania subauriculata King, Diameterhambat, Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureusAbstractTristania subauriculata King has been known by the people of Kelok Sembilan, Payakumbuh as the medicine to cure dermatopathy. It is thought that Tristania subauriculata King contains a bioactive constituent which acts as anti bacteria.To figure the effects of methanol extract of Tristania subauriculata King in holding the growth of Pseudomonas aeruginosa and Staphylococcus aureus,an invitro observation has been done using difusion agar method. The observation was done by measuring the diameter of inhibition area that has been formed.From the observation, it is found that there is inhibition capacity of methanol extract of Tristania subauriculata King 15% b/v in holding the growth ofARTIKEL PENELITIAN38Pseudomonas aeruginosa and Staphylococcus aureus. This inhibition capacity increase on the concentration of 30% b/v, 45% b/v, and the biggest inhibition capacity is on the concentration of 60% b/v which can be seen with the increase of inhibition zone.Key word: Folium Tristania subauriculata King extract metanol, Diameterhambat, Pseudomonas aeruginosa and Staphylococcus aureus
PENGUJIAN EFEKTIVITAS CAPSICUM SEBAGAI SUMBER CAPSAICIN KO-ANESTESI PADA ANESTESI LOKAL Aldian Mulyanto Lokaria; Muhammad Ridwan; Muhamad Febry; Fadil Oenzil
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.096 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i2.p73-79.2015

Abstract

AbstrakAnestesi lokal bekerja dengan memblok sel saraf sensorik rasa sakit (nosiseptor) dan sel saraf lain, sehingga diperlukan Capsaicin pada cabai sebagai ko-anestesi agar obat anestesi lokal bekerja spesifik pada nosiseptor. Beragam varietas cabai menuntut adanya penelitian untuk mengetahui jenis cabai yang tepat sebagai sumber Capsaicin ko-anestesi, hubungan dengan peningkaan kadar Capsaicin, dan pengaruh terhadap waktu kerja obat anestesi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain pre and post test design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biota Sumatera Universitas Andalas dan di Laboratorium Hewan Fakultas Kedokteran Unand selama 3 bulan. Sampel penelitian ini adalah tikus (Rattus novergicus) jantan dari galur Sprague Dawley dengan berat 250-350 gram, sebanyak 24 ekor dibagi 8 kelompok. Tiap kelompok mendapatkan perlakuan berupa pemberian Capsaicin dari jenis cabai dengan kadar yang berbeda. Hasil penelitian terdapat perbedaan waktu munculnya efek sensorik (p 0,020) dan motorik (p 0,001) antar kelompok perlakuan. Kelompok C.frutescens 5% tercepat dalam menghentikan bloking saraf motorik (3,33 menit), sedangkan kelompok C.frutescens 10% terbaik dalam mempengaruhi lama bloking saraf sensorik (53,67 menit). Dimana peningkatan kadar berbanding lurus dengan hasil anestesi dan jenis cabai dengan kadar yang berbeda juga mempengaruhi lama waktu kerja obat anestesi.Abstract Local anesthesia works by blocking pain sensory nerve cells (nociceptors) and other nerve cells, it's need capsaicin in chili as co-anesthesia so that local anesthesia specific work on nociceptors only. The diversity of chili, demand more research to determine the most appropriate type of chili as a source of capsaicin co-anesthesia. This is a pre and post test design experimental research. Which each groups is given of Capsaicin from different chili types and concentration. There are difference time in emergence of sensory effects (p 0.020) and motor effects (p 0.001) between groups. Group of C.frutescens 5% is the fastest group in stopping of the motor nerve blocking (3.33 minutes), while group of C.frutescens 10% is best group in influencing long-blocking sensory nerves (53.67 minutes). Thus the increased concentration is linear correlation to the results of anesthesia and the types of chili with different concentration affect the work time of anesthesia.
DETEKSI DAN MANAJEMEN REFEEDING SYNDROME Darmadi Darmadi; Riska Habriel Ruslie
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.584 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i2.p132-144.2012

Abstract

AbstrakRefeeding syndrome (RFS) dideskripsikan sebagai perubahan biokimiawi, manifestasi klinis dan komplikasi sebagai konsekuensi pemberian nutrisi pada pasien kurang gizi. Refeeding syndrome ini menyebabkan dampak buruk dan kematian. Sindroma ini lebih sering terjadi pada kelompok risiko. Refeeding syndrome merupakan suatu sindroma yang sering tak terdiagnosis oleh karena itu perlu peningkatan pengetahuan dan kesadaran dari tenaga medis untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas dari RFS. Karena alasan tersebut ditulis tinjauan pustaka ini yang akan membahas mengenai patofisiologi, faktor risiko, manifestasi klinis, dan manajemennya.Kata kunci : refeeding syndrome, kurang gizi, hipofosfatemia, dukungan nutrisiAbstractRefeeding syndrome (RFS) describel as biochemical changes, clinical manifestations, and complications that can occur as a consequence of feeding a malnourished individual. RFS can result in serious harm and death. RFS more commonly occurs in at-risk populations. Increased awareness amongst healthcare professionals is likely to reduce morbidity and mortality. This review examines the pathophysiology, risk factors, clinical manifestations, and management of RFS.Key word : refeeding syndrome, malnourished, hypophosphatemia, nutritional support
Hubungan status vitamin D dengan mortalitas dan lama rawatan pada anak sakit kritis Nice Rachmawati; Indra Ihsan
Majalah Kedokteran Andalas Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.857 KB) | DOI: 10.22338/mka.v40.i2.p82-89.2017

Abstract

Vitamin D memiliki peranan dalam pertahanan tubuh melawan infeksi. Vitamin D menghambat proliferasi sel otot polos vaskuler, melindungi endotel, dan memodulasi proses infeksi. Defisiensi vitamin D akan menyebabkan defek fungsi makrofag seperti kemotaksis, fagositosis, dan produksi sitokin pro-inflamasi. Defisiensi vitamin D akan memberikan luaran yang buruk pada anak sakit kritis. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kadar dan status vitamin D terhadap mortalitas dan lama rawatan pada anak sakit kritis. Metode: Studi potong lintang dilakukan di PICU RSUP M. Djamil Padang sejak Agustus sampai November 2016. Dilakukan penghitungan skor Pelod-2, pemeriksaan kadar serum vitamin D dan kalsium, dan dihubungkan dengan mortalitas serta lama rawatan. Hubungan antar variabel dianalisis statistik menggunakan t-Test, Mann-Whitney, Chi-square dan Kruskal-Wallis. Hasil: Diperoleh prevalensi insufisiensi dan defisiensi vitamin D pada anak sakit kritis adalah 37,50% dan 44,64%. Dari 56 subjek, 19 subjek meninggal dunia (33,92%). Skor Pelod 2 pada awal rawatan berhubungan dengan mortalitas (p=0,001). Tidak terdapat hubungan antara status vitamin D dengan mortalitas (p=0,732) dan lama rawatan (p=0,311) pada anak sakit kritis. Simpulan: Bahwa sebagian besar anak sakit kritis mengalami insufisiensi dan defisiensi vitamin D, namun status vitamin D tidak berhubungan dengan tingkat mortalitas dan lama rawatan.
KORELASI INDEKS 20/(C-PEPTIDE PUASA×GLUKOSA DARAH PUASA) DENGAN HOMA-IR UNTUK MENILAI RESISTENSI INSULIN DIABETES MELITUS TIPE 2 Elsi Kelana; Ellyza Nasrul; Rismawati Yaswir; Desywar Desywar
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.761 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i3.p155-164.2015

Abstract

AbstrakResistensi insulin merupakan penurunan respons biologis jaringan terhadap insulin dalam kadar normal. Pada DM tipe 2 terjadi resistensi dan gangguan sekresi insulin. Terdapat indeks baru 20/(C-peptide puasa x glukosa darah puasa) untuk menilai resistensi sekaligus gangguan sekresi insulin. Penelitian bertujuan membuktikan korelasi indeks 20/(C-peptide puasa x glukosa darah puasa) dengan HOMA-IR untuk menilai resistensi insulin pada DM tipe 2 di RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Dengan menggunakan sampel darah dari pasien, kadar glukosa darah puasa, insulin puasa dan C-peptide puasa ditentukan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar glukosa puasa 9,83 (3,53) mmol/L [177 (63,54) mg/dL], insulin puasa 10,58 (3,61) μU/L, dan C-peptide puasa 0,97 (0,29) nmol/L dan terdapat korelasi yang sangat kuat dan bermakna secara statistik (p<0,0001) antara indeks 20/(C-peptide puasa x glukosa darah puasa) dengan HOMA-IR (r= -0,838). Dapat disimpulkan bahwa indeks 20/(C-peptide puasa x glukosa darah puasa) dan HOMA–IR berkorelasi kuat untuk menilai resistensi insulin pada DM tipe 2 di RSUP. Dr. M. Djamil Padang.AbstractInsulin resistance is a decrease of biological response of the tissues to the normal level of insulin. In type 2 diabetes, there is resistance and impaired of insulin secretion. There is a new index available to assess resistance and impaired of insulin secretion all at once, with the formula 20/(fasting C-peptide x fasting blood glucose). This study aimed to prove the correlation of this new index to the HOMA-IR (Homeostasis model assesment of insulin resistance) in type 2 diabetes at Dr.M.Djamil Padang hospital. Level of fasting glucose, fasting insulin and fasting C-peptide of blood were measured, followed by statistical data analysis using Pearson correlation test.The result showed the mean of fasting blood glucose, fasting insulin and fasting C-peptide were 9.83 (3.53) mmol/L[177 (63.54) mg/dl], 10.58 (3.61) μU/L, and 0.97 (0.29) nmol/L respectively.There was a strong and statistically significant correlation (p<0.0001) found between the new index and the HOMA-IR ( r= -0.838). To be concluded, the index 20/(fasting C-peptide x fasting blood glucose) and HOMA-IR was strongly correlated to assess insulin resistance in type 2 diabetes at Dr. M. Djamil Padang hospital.
Outcome trabekulektomi terhadap kontrol tekanan intraokular Muhammad Syauqie; Fitratul Ilahi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.567 KB) | DOI: 10.25077/mka.v41.i3.p101-111.2018

Abstract

Tujuan: Membandingkan outcome pada tindakan trabekulektomi, trabekulektomi dengan MMC dan trabekulektomi dengan ekstraksi katarak. Metode:  Penelitian retrospektif dari rekam medis pasien poliklinik Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang. Hasil: Terdapat 64 kasus dari 46 pasien pada penelitian ini, dengan rasio laki-laki dan perempuan yaitu 1:1. Usia pasien berkisar antara 19 tahun hingga 90 tahun. Dari keseluruhan pasien didapatkan diagnosa POAG pada 67,2% kasus, PACG pada 18,8% kasus, glaukoma juvenile pada 6,2% kasus, dan glaukoma sekunder pada 7,8% kasus. Prosedur yang paling banyak dilakukan adalah trabekulektomi (28 mata) diikuti oleh trabekulektomi dikombinasikan dengan ekstraksi katarak (21 mata) dan trabekulektomi dengan MMC (15 mata). Trabekulektomi atau trabekulektomi dengan MMC menghasilkan efek pengendalian TIO yang lebih baik, yaitu 16,35±7,30 mmHg dan 13,23±6,46 mmHg, dibandingkan dengan trabekulektomi yang dikombinasikan dengan ekstraksi katarak (17,70±5,66 mmHg). Namun demikian, 42,85% kasus setelah trabekulektomi dan 50% kasus setelah trabekulektomi dikombinasikan dengan ekstraksi katarak masih memerlukan setidaknya satu obat untuk mencapai rentang TIO normal dibandingkan dengan hanya 7,14% kasus setelah trabekulektomi dengan MMC. Simpulan: Trabekulektomi dengan MMC lebih unggul daripada trabekulektomi atau trabekulektomi dikombinasikan dengan ekstraksi katarak dalam menurunkan tekanan intraokular (TIO) dan bermanfaat bagi kontrol TIO dalam jangka panjang.
PENGARUH OVARIEKTOMI TERHADAP KADAR VEGF,TGF-β, IGF, DAN CA15-3 PADA PASIEN KANKER PAYUDARA STADIUM LANJUT USIA MUDA Rini Suswita; Wirsma Arif; Edison Edison; Zelly Diarofinda
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.335 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i3.p189-200.2015

Abstract

AbstrakKanker payudara stadium lanjut pada usia muda dikaitkan dengan gambaran klinis, patologis dan prognosis yang lebih buruk dibanding usia tua. Ovariektomi merupakan terapi paliatif yang efektif pada pasien ini, dengan menurunkan kadar estradiol yang akan mempengaruhi gen yang terlibat dalam proses proliferasi, diferensiasi, metastasis, angiogenesis, invasi, dan apoptosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ovariektomi terhadap kadar VEGF, TGF β, IGF dan CA15-3 pada pasien kanker payudara stadium lanjut usia muda. Penelitian ini menggunakan desain pre dan post test pada 12 pasien kanker payudara stadium lanjut usia muda sebagai subyek penelitian. Pemeriksaan kadar VEGF, TGF β, IGF dan CA 15-3 dilakukan sebelum dan tiga bulan sesudah pasien dilakukan tindakan ovariektomi dengan menggunakan teknik ELISA, kemudian dilakukan analisis statistik dengan uji non parametrik. Penelitian menemukan peningkatan kadar VEGF, TGF β, IGF dan CA 15-3 dan menurun sesudah dilakukan ovariektomi. Analisis statistik menunjukkan pengaruh ovariektomi yang bermakna terhadap penurunan kadar VEGF (p=0,023), TGF β (p=0,02), dan CA 15-3 (p=0,002), tetapi tidak berpengaruh terhadap kadar IGF(p=875). Ovariektomi dapat menurunkan kadar VEGF, TGF β dan CA 15-3 serum, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai terapi pilihan pada kanker payudara stadium lanjut usia muda.AbstractAdvanced breast cancer in young age is associated with worse clinical features, pathology and prognosis than old age. Oophorectomy may be an effective palliative therapy in these patients, by decreasing estradiol concentration which will affect genes involved in proliferation, differentiation, metastasis, angiogenesis, invasion, and apoptosis. This research aimed at examining the effect of oophorectomy on the levels of VEGF, TGF-β, IGF and CA15-3 in patients with advanced breast cancer in young age. This study used a pre and post test design in twelve patients with advanced breast cancer in young age. The level of VEGF, TGF-β, IGF and CA 15-3 was measured before and three months after oophorectomy using the ELISA technique. Data was analyzed with non-parametric test. Of the twelve patients studied, there were increased levels of VEGF, TGF-β, IGF, and CA 15-3 before oophorectomy and there was a decrease after oophorectomy performed. Statistical analysis showed that oophorectomy significantly decreased levels of VEGF (p = 0,023), TGF-β (p = 0,02), and CA 15-3 (p = 0,002), but no significant effect on the decrease in IGF levels (p = 0,875 ). Oophorectomy reduces levels of VEGF, TGF β and CA 15-3 serum significantly in the first three months of observation. Thus, it could be considered for the management of advanced breast cancer in young age.
CORRELATION OF RENOGRAM WITH CYSTATIN-C LEVELS AND CREATININE CLEARANCE IN MEASURING GLOMERULAR FILTRATION RATE Aisyah Elliyanti; Iskandar Iskandar; Syaiful Azmi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.256 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i1.p1-6.2015

Abstract

AbstrakRenogram 99mTc-DTPA (diethylenetriamine pentacetic acid) memiliki beberapa kelebihan dalam mengukur laju filtrasi glomerulus (LFG). Cystatin-c digunakan sebagai petanda biologik baru untuk memperkirakan LFG. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan korelasi nilai LFG antara renogram dengan cystatin-c dan kliren kreatinin pada pasien dengan penyakit ginjal kronis (PGK). Subjek penelitian adalah pasien PGK stadium dua berdasarkan hasil estimasi LFG dengan rumus Cockroft-Gault. Pasien yang memenuhi kriteria diperiksa renogram, kadar kreatinin serum, cystatin-c dan klirens kreatinin.Rerata LFG dari 30 orang subjek yang diperiksa dengan renogram, cystatin-c, creatinine clearance, Cockroft-Gault’s formula berturut turut adalah 64.96 ml/min/1.73m2 (SD 28.047), 53.37 ml/min/1.73m2 (SD 21.29), 58.09 ml/min/1.73m2 (SD 35.45), 46.00 ml/min/1.73m2 (SD 12.06). Korelasi antara renogram dengan cystatin-c dengan nilai r = 0.585 dan p = 0.0007, antara renogram dengan klirens kreatinin dengan nilai r = 0.388 dan p = 0.03) dan antara renogram dengan rumus Cockroft-Gault’s dengan nilai r = -0.029 dan p=0.87. Pada penelitian ini didapatkan hasil korelasi yang lebih baik antara renogram dengan cystatin-c dari pada antara renogram dengan klirens kreatinin dan antara renogram dengan rumus Cockroft-Gault’s. Lebih lanjut, cystain-c merupakan alternatif yang lebih baik untuk memperkirakan LFG jika metode pemeriksaan LFG yang mendekati teknik pemeriksaan yang ideal tidak tersedia.AbstractRenogram using 99mTc-DTPA (diethylenetriamine pentacetic acid) has advantages in the measurement of glomerular filtration rate (GFR). Serum cystatin-c was recently projected to be the new marker of estimated GFR. The aim of this study is to establish correlation between GFRs, derived from renogram with cystatin-c levels and creatinine clearances in chronic kidney disease patients.We put to study thirty consecutive stage two of chronic kidney disease patients assigned based on GFR estimation by Cockroft-Gault’s formula, taking into account the serum creatinine. Cystatin-c and creatinine clearance were performed to determine of GFR and renogram was included in this study. A total of thirty subjects, the mean of GFRs were taken from renogram, cystatin-c, creatinine clearance, Cockroft-Gault’s formula were 64.96 ml/min/1.73m2 (SD 28.047), 53.37 ml/min/1.73m2 (SD 21.29), 58.09 ml/min/1.73m2 (SD 35.45), 46.00 ml/min/1.73m2 (SD 12.06) respectively. A correlation between renogram with cystatin-c (r = 0.585 and p = 0.0007) and renogram with creatinine clearance (r = 0.388 and p = 0.03) and renogram with Cockroft-Gault’s formula (r = -0.029 and p=0.87). This study has shown that a better correlation between renogram with cystatin-c than with creatinine clearance or Cockroft-Gault’s formula. Furthermore, cystain-c would be better alternative method incase having problems to obtain a closest ideal methods for GFR.
PENGARUH PEMBERIAN MONOSODIUM GLUTAMAT (MSG) PADA TIKUS JANTAN (Rattus Norvegicus) TERHADAP FSH DAN LH Zulkarnain Edward
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.187 KB) | DOI: 10.22338/mka.v34.i2.p160-166.2010

Abstract

AbstrakKemajuan teknologi informasi membawa dampak terhadap perubahan gaya hidup masyarakat, termasuk perubahan pola konsumsi makanan yang lebih banyak mengkonsumsi jenis makanan cepat saji, makanan kemasan dan makanan awetan yang belakangan ini semakin banyak dijual dipasar tradisional dan swalayan. Penggunaan bahan tambahan makanan sering dijumpai, salah satunya adalah bahan penyedap yang banyak sekali digunakan seperti senyawa L-asam glutamat yang digunakan dalam bentuk garam yaitu monosodium glutamat (MSG). Berbagai merk dagang MSG telah dikenal dimasyarakat secara luas seperti ajinomoto, vetsin, micin, sasa, miwon dan sebagainya.MSG adalah garam monosodium dengan asam glutamat yang sering digunakan sebagai bahan penyedap masakan untuk merangsang selera makan. Pemberian MSG mengakibatkan gangguan hormonal pada hewan coba, ion glutamat dalam sirkulasi portal akan mempengaruhi hipotalamus dalam memproduksi GnRH yang selanjutnya akan mengganggu hipofise anterior dalam memproduksi FSH dan LH. Fungsi FSH adalah untuk bekerja pada tubulus seminiferus terutama pada sel sertoli untuk meningkatkan spermatogenesis, sedangkan LH berfungsi pada sel Leydig untuk mengatur sekresi testosteron.Penelitian ini bersifat eksperimen dengan rancangan post only group design. Penelitian dilakukan di laboratorium Biologi dan laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Unand Padang dari tanggal 20 Desember 2009 sampai 30 Februari 2010. Populasi adalah tikus putih jantan strain Jepang (Rattus norvegicus) yang berasal dari laboratorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unand. Sampel berjumlah 20 ekor dibagi atas 4 kelompok dengan satu kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan. Dosis MSG yang digunakan yaitu P1= 4800 mg/kgbb/hari, P2=7200 mg/kgbb/hari dan P3= 9600 mg/kgbb/hari diberikan peroral sebanyak dua siklus epitel seminiferus. Analisa dengan uji Anova dengan derajat kepercayaan 95% dan jika bermakna dilanjutkan dengan uji Multiple Comparissons jenis Bonferroni.Hasil penelitian yang diperoleh bahwa pemberian MSG dengan dosis 4800 mg/kgbb/hari, 7200 mg/kgbb/hari dan 9600 mg/kgbb/hari menunjukkan pengaruh yang bermakna terhadap penurunan kadar FSH (p=0,000) dan LH (p=0,000), namun pada uji Multiple Comparissons Bonferroni didapatkan antar kelompok pada FSH belum menunjukan pengaruh yang bermakna (p˃0,05) sedangkan pada LH antar kelompok perlakuan, antara P1, P2 tidak didapatkan perbedaan yangARTIKEL PENELITIAN161bermakna (p˃0,05), P1 dan P3 didapatkan perbedaan yang bermakna (p˂0,05) dan P2 dengan P3 didapatkan perbedaan yang bermakna (p˂0,05).Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian MSG terhadap tikus jantan dapat menurunkan kadar FSH dan LH. Disarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan dosis minimal yang dapat memberikan perubahan kadar FSH dan LH.Kata kunci : MSG, FSH, LHAbstractThe progress of information and technology gave the influence in society and life styles, included the change of goods and provision system, which become more prefered to fast food, meal packaged and preserved, then firmly sells and found in traditional market and swalayan. The continously use of additional substance firmly seems everywhere, one of them is something used as flavoring, L-Glutamat acid which used in a mineral salt that is Monosodium Glutamat (MSG). Many kinds of MSG brand known by people as ajinomoto, vetsin, micin, sasa, miwon, etc.MSG is a mineral salt of monosodium with glutamat acid that firmly used as the food flavoring for appetizer. The distribution of MSG causing the hormonal interference for the animal trial, which the glutamat ion in portal sirculation will effect the hipotalamus in producting the GnRH which were next would effected the anterior hypofise in producting the FSH and LH. The FSH function is to do working for seminiferus tubular espeially for sertoli cells to increase the spermatogenesis, then LH functioned to Leydig to control the testosteron secretion.This research experimently done with post only group design, take place in Biology Laboratorium and Biochemistry, Faculty of Medicine Andalas University in December 20th, 2009 until Februari 30th, 2010. The population is the white rat strain Japan (Rattus Norvegicus) taken from Faculty of Mathematic and Natural Sciences Andalas University. There are 20 samples devided into 4 groups with 1 group controller and three treated groups. P1=4800 mg/kgbw/day, P2=7200 mg/kgbw/day and P3=9600 mg/kgbw/day used as MSG dose, given orally about two seminiferus epitel cycles. The analysis by Anova test with 95% of trust and if there would sense of in meaning, continued with Multiple Comparissons test, kind of Bonferroni.The result of the research taken that the MSG given with 4800 mg/kgbw/day, 7200 mg/kgbw/day and 9600 mg/kgbw/day showed the significant effect to FSH (p=0,000) and LH (p=0,000), but for the Multiple Comparissons Bonferroni test between groups in FSH, there were not yet have the meaning in effect (p>0,05) then to LH for the treated groups, between P1, P2 there were not any significant differences (p>0,05) P1 and P3 got the significant differenciates (p<0,05) and P2 with P3 got the significant effect (p<0,05).The research concluded that the MSG given for the male rat could decrease the FSH and LH. Suggested to do the following research to find the minimal dose change level FSH and LH.Key word : MSG, FSH, LH
PENGARUH MINYAK GORENG BEKAS YANG DIMURNIKAN DENGAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifotia) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR DAN JANTUNG TIKUS Susianti Susanti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6365.89 KB)

Abstract

Pemanasan minyak goreng secara berulang-ulang akan menyebabkan pembentukan radikalbebas. Metode pemurnian minyak goreng bekas dapat dilakukan dengan penambahanantioksidan ke dalam minyak. Salah satu tanaman yang kaya antioksidan adalah mengkudu.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh minyak goreng bekai yangdimurnikan dengan buah mengkudu (Morinda Citrifotia,) terhadap gambaran histopatologihepar dan jantung (miokardium dan arteri koronaria) tikus.Sampel penelitian sebanyak 20 ekor yang dipilih secara acak dibagi dalam 4 kelompok dandiberi perlakuan selama 1 bulan. Kl (kontrol) diberikan aquadest 1Oprl/gram BB,K2 diberikan1Opl/gram BB minyak goreng bekas penggorengan lele 3 jam, K3 diberikan 1gprl/gram BBminyak goreng bekas penggorengan lele 6 jam, dan K4 diberikan regenerasi minyak gorengbekas penggorengan lele 6 jam dengan buah mengkudu sebanyak 1Opl/gram BB.Pemberian minyak goreng bekas yang dimurnikan dengan buah mengkudu (Morinda citrifotia)menurunkan jumlah kerusakan hepatosit, menurunkan,jumlah persentase inTiltrasi lemak padasel otot jantung dan menurunkan ketebalan arteri koronaria tikus wistar jantan.ABSTRACTHeating cooking oil repeatly will result formation of free radicals. Purifying used cooking oil canbe done by giving antioxidant to the oil. Noni fruit is one of the ptant that be rich of antioxidants.The aim of this research is to investigate the effect of used cooking oit which purified by nonifruit to liver and heaft (myocardium and caronary artery) histopathology appearance heart ofrat.ln this study, 20 male Wistar rats divided randomly into 4 groups and given treatment for 4weeks. Kl (control) is given aquadest), K2 (given used cooking oit with 3 hours heating 10 mLlgram BW), K3 (given used cooking oil with 6 hours heating 10 ml/gram BW), K4 (given usedcooking oilwith 6 hours of heating which purified by nonifruit 10 mugram BW).Giving used coaking oil which purified by noni fruit decrease fhe damage of hepatocyte,decreased the fatty infiltration percentage in myocardium and decreased the thickness ofcoronary artery.

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025 Vol. 48 No. 3 (2025): MKA July 2025 Vol. 48 No. 2 (2025): MKA April 2025 Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025 Vol 46, No 12 (2024): Online Oktober 2024 Vol 46, No 11 (2024): July 2024 Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024 Vol 46, No 10 (2024): Online May 2024 Vol. 47 No. 4 (2024): MKA October 2024 Vol. 47 No. 3 (2024): MKA July 2024 Vol. 47 No. 2 (2024): MKA April 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024 Vol 46, No 9 (2024): Supplementary Januari 2024 Vol 46, No 8 (2024): Online Januari 2024 Vol 46, No 7 (2023): Supplementary December 2023 Vol 46, No 5 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 3 (2023): Supplementary May 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023 Vol 46, No 2 (2023): Online April 2023 Vol 46, No 1 (2023): Online Januari 2023 Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober Vol. 46 No. 4 (2023): Online Oktober Vol 45, No 4 (2022): Online October 2022 Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022 Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022 Vol 45, No 1 (2022): Online Januari 2022 Vol 44, No 7 (2021): Online Desember 2021 Vol 44, No 6 (2021): Online November 2021 Vol 44, No 5 (2021): Online Oktober 2021 Vol 44, No 4 (2021): Online September 2021 Vol 44, No 3 (2021): Online August 2021 Vol 44, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 44, No 1 (2021) Vol 43, No 2 (2020): Online Mei 2020 Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue