cover
Contact Name
Dr. Deris Stiawan
Contact Email
deris@unsri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Seminar Nasional Keperawatan
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 250 Documents
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL/ KOMPLEMENTER PADA KELUARGA DENGAN PENYAKIT TIDAK MENULAR Arie Kusumaningrum; Hikayati Hikayati; Vivop Marti Lengga
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 3, No 1 (2017): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2017
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.645 KB)

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM)/Non Communicable Desease (NCDs) telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar. Terdapat beberapa kecenderungan dari masyarakat dalam melakukan pengobatan dan perawatan pada pasien NCDS salah satunya adalah melakukan pengobatan tradisional dengan cara herbal dan/atau komplementer. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pengobatan tradisional dan komplementer pada keluarga dengan NCDs di Indonesia menggunakan data RISKESDAS tahun 2013. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi yaitu data RISKESDAS2013. Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh rumah tangga yang beranggotakan pasien NCDS yang ada di Indonesia. Sampel penelitian yaitu rumah tangga yang mempunyai anggota pasien NCDS.. Kriteria inklusi yaitu: Rumah tangga mempunyai 1 atau lebih anggota keluarga penderita NCDS. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Chi-Square dengan derajat kemaknaan () sebesar 5%. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jumlah responden yang menderita diabetes mellitus sebanyak 12717 (1.8%). Jumlah responden yang menderita hipertensi sebanyak 70359 (9.7%) Jumlah responden yang menderita penyakit jantung sebanyak 4067 (0,6%). Jumlah responden yang menderita stroke sebanyak 5887 (0,8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik sosiodemografi (umur
TIMBANG TERIMA PASIEN DI RUMAH SAKIT DI KABUPATEN CIAMIS Rudi Kurniawan; Nur Ayu Yulirocita; Nur Hidayat
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 4, No 1 (2018): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2018
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.875 KB)

Abstract

Kegagalan dalam melakukan komunikasi pada saat timbang terima pasien akan menyebabkan kesalahan dalam kesinambungan pelayanan keperawatan serta keselamatan pasien di Rumah Sakit. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui gambaran pelaksanaan timbang terima di Instalasi Rawat Inap RSUD Ciamis Tahun 2018 yang meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap post timbang terima. Jenis penelitian ini adalah deskriptif menggunakan survey observational. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah sample sebanyak 72 responden dari populasi sebanyak 262 perawat. Hasil penelitian keterlaksanaan timbang terima shift sore-malam sebesar 55%. Dengan kategori tahap persiapan sebesar 51.4%, tahap pelaksanaan sebesar 59.4%, dan tahap post timbang terima sebesar 38.8%. Gambaran timbang terima secara keseluruhan belum mencapai keterlaksanaan 100% sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO). Perlu adanya kebijakan maupun sosialisasi sebagai upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan perawat untuk melaksanakan timbang terima yang sesuai dengan SPO yang telah ditetapkan.Kata kunci: Perawat, Timbang Terima.
PERBANDINGAN GLASGOW COMA SCALE DENGAN FULL OUTLINE OF UNRESPONSIVENESS SCORE DALAM MENGUKUR TINGKAT KESADARAN PASIEN TERINTUBASI ENDOTRACHEAL TUBE DI INTENSIVE CARE UNI Yosi Oktarina; Charles A Simajuntak
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 3, No 1 (2017): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2017
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.601 KB)

Abstract

Penilaian tingkat kesadaran merupakan suatu kemampuan dasar yang harus dimiliki tenaga medis khususnya dokter maupun perawat. Hal ini dikarenakan penilaian kesadaran merupakan dasar dari pengambilan keputusan klinis serta menentukan prognosis pasien. Terdapat berbagai jenis skala untuk mengukur tingkat kesadaran pasien. Salah satu yang paling terkenal dan paling banyak digunakan adalah Glasgow Coma Scale (GCS). Namun demikian, penggunaan GCS dirasa kurang tepat dalam mengukur tingkat kesadaran pasien khususnya pada pasien yang terintubasi Endotracheal Tube (ETT). Alat ukur penilaian kesadaran lainnya adalah FOUR Score. Berbeda dengan GCS, penggunaan FOUR Score sebagai alat ukur penilaian kesadaran masih belum familiar khususnya di Indonesia sendiri.Four Score memiliki komponen yang berbeda dengan GCS dimana pada komponen FOUR Score tidak memiliki penilaian respon verbal namun FOUR score memiliki komponen penilaian batang otak dan pola pernapasan. Tujuan penelitian ini membandingkan efektivitas GCS dengan FOUR Score sebagai alat ukur penilaian kesadaran pada pasien terintubasi ETT. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan pendekatan prospective non experimental.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling dengan besar sampel 33 orang. Pengamatan sampel dilakukan pada waktu yang bersamaan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi GCS dan FOUR Score. Analisis data dilakukan dengan mengukur senstivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif, nilai prediksi negatif dan ROC. Four Score memiliki sensitivitas 86,7 spesifisitas 83,3, predictive positive value 81,3 dan negative predictive value 88,2, dan area under curve 0,848. Sedangkan, GCS memiliki sensitivitas 80.0, spesifisitas 77.8, predictive positive value 75, dan negative predictive value 82.4, dan area under curve 0.819. Four score memiliki penilaian yang lebih baik dalam menilai tingkat kesadaran pasien terintubasi ETT.
PENGARUH TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK (TAK) KETAWA TERHADAP SKALA NYERI SENDI (REUMATHOID ARTHRITIS) PADA LANSIA Jaji Jaji; Jum Natosba; M. Zainal Fikri
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 4, No 1 (2018): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2018
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.929 KB)

Abstract

Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi fisiologis. Data Riskesdas 2007, prevalensi nasional penyakit sendi adalah 30,3%. Perawatan palliative bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien dengan nyeri dan masalah-masalah lain. Terapi nonfarmakologi dalam mengurangi nyeri rheumatoid yaitu terapi tertawa. Terapi tertawa merangsang tubuh menghasilkan hormon endorpin sebagai zat pembunuh nyeri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi aktifitas kelompok ketawa terhadap skala nyeri sendi (reumathoid arthritis) pada lansia. Penelitian ini menggunakan pre experimental design tanpa kelompok kontrol dengan metode pendekatan one group pretest-posttest design. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat. Hasil analisis univariat variable jenis kelamin terbanyak perempuan yaitu 11 lansia (52,4%). Variable usia, terbanyak kategori Elderly/lanjut usia (60-74 tahun) yaitu 12 lansia (57,1%). Skala nyeri sendi sebelum TAK ketawa yaitu 14 (66,7%) skala nyeri sedang. Skala nyeri sendi setelah TAK ketawa yaitu Ringan 15 (71.4%). Hasil uji analisis didapat p value 0,001 lebih kecil dari nilai alpa 0,005, artinya ada perbedaan bermakna skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukannya TAK ketawa. Saran untuk panti, menerapkan therapy komplementer ketawa secara rutin, sebulan maupun seminggu sekali. Bagi penelitian selanjutnya, output penelitiannya berbasis lab. Bagi institusi pendidikan, dapat dijadikan modul bahan ajar keperawatan komunitas, terapi komplementer paliatif care.Kata kunci: Nyeri sendi, reumathoid arthritis, TAK ketawa, lansia.
KOMPARASI KUALITAS HIDUP WANITA PENDERITA KANKER SERVIKS DAN KANKER OVARIUM BERDASARKAN SIKLUS KEMOTERAPI Made Ririn Sri Wulandari
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 3, No 1 (2017): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2017
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.363 KB)

Abstract

Kanker ginekologi merupakan salah satu penyakit yang paling berkembang diseluruh dunia berkembang. Insiden kanker dan tingkat kematian semakin meningkat secara luas dan khususnya daerah Yogyakarta, perawat sangat berperan penting untuk pemilihan rejimen terapeutik yang tepat. Tujuan penelitian untuk menganalisa perbedaan kualitas hidup penderita kanker serviks dan kenker ovarium stadium lanjut berdasarkan siklus kemoterapi. Metode yang dipakai adalah menggunakan desain analitik komparatif rencangan cross sectional. Populasi sampel adalah seluruh pasien kanker serviks dan ovarium stadium lanjutyang berobat bulan September hingga November 2016 di RSUP Dr. Sardjito, menggunakan teknik purposive sampling dengan total pasien 75, masing-masing 34 responden pasien kanker serviksdan 41 pasien kanker ovarium. Instrumen menggunakan EORTC QLQ-C30 versi bahasa Indonesia untuk mengukur kualitas hidup pasien yang sebelumnya sudah diskrining menggunakan PPS. Pasien diukur kualitas hidupnya setelah menyelesaikan kemoterapi minimal siklus pertama. Hasilnya kualitas hidup pasien kanker serviks dan pasien kanker ovarium secara umum tidak ada perbedaan bermakna namun terdapat perbedaan bermakna pada fungsi sosial di siklus kemoterapi 4-6 (p=0,035) dengan nilai rerata 65,65±34,61 vs 86,08±22,92. Efek samping dari pemberian kemoterapi yang sangat bervariasi tergantung dari jenis, dosis pengobatan, status kesehatan dan stadium kanker, sehingga beberapa hal tersebut dapat sebagai faktor utama memperparah gejala yang dialami pasien dan sangat mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Kesimpulannya tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kualitas hidup secara umum, namun pada domain tertentu terdapat perbedaan bermakna yang mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI IBU DENGAN KEMAMPUAN TOILET TRAINING PADA ANAK DI PAUD PEMBINA 2 PALEMBANG Erike Septa Prautami
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 4, No 1 (2018): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2018
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.262 KB)

Abstract

Toilet training merupakan aspek penting dalam perkembangan anak usia toddler yang harus mendapatperhatian orang tua dalam berkemih dan defekasi. Tujuan penelitian adalah diketahuinya hubungankarakteristik demografi ibu dengan kemampuan toilet training pada anak. Metode penelitian Crosssectional serta pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 82responden ibu yang memiliki anak di PAUD Pembina 2 Palembang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal3 Mei 2018 dengan menggunakan instrument penelitian berupa kuesioner dan check list. Hasil peneltianmenggunakan uji Chi Square didapatkan Ada hubungan antara antara umur (p = 0.20), pendidikan (p =0,015), pengetahuan (p = 0,013), dan pekerjaan (p = 0,023) dengan kemampuan toilet training pada anak.Kepada tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah tentangpentingnya toilet training pada anak usia dini.Kata Kunci : Demografi Ibu, Toilet Training
PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI DENGAN KEBERHASILAN MENYUSUI BAYI DI BPM APRI OGAN ILIR Asnilawati Asnilawati
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 3, No 1 (2017): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2017
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.439 KB)

Abstract

Inisiasi menyusu dini (Early Initiation) merupakan suatu cara memberikan kesempatan pada bayi baru lahir untuk menyusu pada ibunya dalam satu jam pertama kehidupannya, karena sentuhan bayi melalui refleks hisapnya yang timbul mulai 30-40 menit setelah lahir akan menimbulkan rangsangan sensorik pada otak ibu untuk memproduksi hormon prolaktin dan memberikan rasa aman pada bayi. Masa-masa belajar menyusu dalam satu jam pertama hidup bayi diluar kandungan disebut inisiasi menyusu dini (IMD). Pelaksanaan inisiasi menyusu dini sudah dilakukan namun masih banyak yang dilakukan kurang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD) dengan tingkat keberhasilan menyusui bayi di BPM APRI Tanjung Batu Ogan Ilir Tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu pasca bersalin yang ada di BPM Apri sebanyak 34 responden yang diambil dengan menggunakan tehnik Accidental Sampling serta memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis univariat dan analisis bivariate. Ada hubungan antara pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD) dengan tingkat keberhasilan menyusui bayi dengan nilai p value 0,042. Diharapkan kepada tenaga kesehatan yang melaksanakan kegiatan inisiasi menyusu dini (IMD) agar dapat mengoptimalkan kegiatan tersebut serta melakukannya dengan tepat sehingga dapat mencapai tujuan yang harus dicapai pada pelaksanaannya yaitu keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada bayi.
PENGARUH PENERAPAN TERAPI MUSIKAL PADA PASIEN ISOLASI SOSIAL TERHADAP KEMAMPUAN BERSOSIALISASI DIRUMAH SAKIT ERNALDI BAHAR PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2017 Widya Arisandy
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 3, No 1 (2017): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2017
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.057 KB)

Abstract

Kasus pasien gangguan jiwa yang mengalami gejala isolasi sosial sendiri tergolong tinggi yaitu 72%,klien yang mengalami isolasi sosial: sebesar 72% dari keseluruhan jumlah kasus skizofrenia. Jadi dapat disimpulkan bahwa gejala terbanyak dari pasien skizofrenia adalah isolasi sosial. Diketahuinya perbedaan sebelum dan sesudah penerapan terapi musikal terhadap pasien isolasi sosial dalam meningkatkan kemampuan bersosialisasi diruangan rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2017. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan Desain Experiment Pre Posttest. Sampel yang digunakan 10 partisipan dengan tehnik total sampel. Pengumpulan data menggunakan check list untuk memberi nilai partisipan sesuai kemampuanya masing-masing. Data diolah menggunakan uji T, hasil uji T didapatkan bahwa pengaruh penerapan terapi musikal terhadap pasien isolasi sosial sebelum diberikan terapi musikal adalah 3,25 dengan standar devisiasi 1,682 dan pengaruh ratarata setelah diberikan terapi musik adalah 7,55 dengan standar devisiasi 2,544. Hasil uji statistik diperoleh nilai P Value 0,001 yang berarti ada pengaruh penerapan terapi musikal pada pasien isolasi sosial terhadap kemampuan bersosialisasi di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2017
DUKUNGAN SUAMI, KELUARGA DAN TENAGA KESEHATAN DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI Putri Widita Muharyani; Mutia Nadra Maulida; Erizka Rivani; Aresta Agustarini
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 4, No 1 (2018): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2018
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.557 KB)

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik pada bayi 0 sampai 6 bulan. ASI dapat meningkatkan imunitas bayi sehingga menurunkan resiko bayi mengalami berbagai penyakit. Dukungan dari lingkungan sangat menentukan keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dukungan suami, keluarga dan tenaga kesehatan dalam pemberian ASI pada bayi di wilayah kerja Puskesmas 23 Ilir. Desain penelitian yang digunakan adalah survey analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia 0-2 tahun yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas 23 Ilir. Analisis data statistik dalam penelitian ini menggunakan aplikasi komputer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 14% ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif. Lebih lanjut, hanya sekitar 27% ibu yang mendapat dukungan suami, 34% ibu mendapat dukungan keluarga dan 51% ibu yang mendapat dukungan tenaga kesehatan dalam pemberian ASI pada bayi. Lingkungan sekitar ibu dalam hal ini suami, keluarga dan tenaga kesehatan selayaknya menjadi support system terbesar bagi ibu dalam menyusui bayinya.Kata Kunci: ASI eksklusif, dukungan, suami, keluarga, tenaga kesehatan
HUBUNGAN DAMPAK PERPISAHAN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN HOSPITALISASI DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT BUNDA PALEMBANG Ersita Ersita
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 3, No 1 (2017): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2017
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.457 KB)

Abstract

Hospitalisasi merupakan pengalaman penuh stress baik bagi anak maupun keluarganya. Stressor utama yang dialami dapat berupa perpisahan dengan keluarga. Reaksi anak dapat dipengaruhi oleh : perkembangan usia anak, pengalaman terhadap sakit, perpisahan, diagnose penyakit, system dukungan, dan koping terhadap stress. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan dampak perpisahan terhadap dengan tingkat kecemasan hospitalisasi pada anak. Metode penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif survey analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien anak di Ruang Rawat Inap Anak Rumah di RS Bunda Palembang. Pengambilan sampelnya dengan cara Accidental Sampling dengan sampel penelitian berjumlah 38 sampel. Analisa data penelitian ini dilakukan dengan 2 cara yaitu analisa univariat dan analisa bivariat melalui uji chi square dengan instrument yaitu kuesioner. Penelitian ini dilaksanakan di RS Bunda Palembang. Berdasarkan penelitian dari 38 responden diketahui tingkat kecemasan kategori ringan sebanyak 13 responden (34,2%), cemas sedang sebanyak 25 responden (65,8%). Hasil bivariat menunjukan bahwa untuk variabel dampak perpisahan diperoleh p value = 0,006, variabel yang berarti ada hubungan antara variabel dampak perpisahan, dengan tingkat kecemasan. Diharapkan bagi pihak Rumah Sakit Bunda Palembang untuk dapat modifikasi ruang perawatan dengan cara membuat situasi ruang rawat seperti rumah, diantaranya dengan membuat dekorasi ruangan yang bernuansa serta menyediakan fasilitas untuk bermain bagi anak dengan perlu memperhatikan anak, prinsip – prinsip bermain dan permainan yang sesuai dengan usia atau tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga tujuan bermain, yaitu untuk mempertahankan proses tumbuh kembang dapat dicapai secara optimal.

Page 7 of 25 | Total Record : 250